Anda di halaman 1dari 36

PROFIL PELAYANAN PROGRAM POSBINDU

LANSIA DI WILAYAH LAYANA SOSIAL


PUSKESMAS TALISE TAHUN 2017

OLEH:
FIRYAL AMYRAH D./ MIRATUNNISA ALJARU
PEMBIMBING : dr. I NJOMAN WIDAJADNJA, M.Kes
ALLPPT.com _ Free PowerPoint Templates, Diagrams and Charts
PENDAHULUAN
Pembangunan kesehatan pada periode 2015 – 2019
adalah Program Indonesia Sehat dengna sasaran
meningkatkan derajat kesehatan dan status gizi
masyarakat melalui derajat kesehatan dan
pemberdayaan masyarakat yang didukung dengan
perlindungan finansial dan pemerataan pelayanan
kesehatan

Salah Satu indikator keberhasilan pembangunan adalah


semakin meningkatnya usia harapan hidup penduduk.

Struktur penduduk dunia termasuk Indonesia saat ini


menuju proses penuaan yang ditandai dengan
meningkatnya jumlah dan proporsi penduduk lanjut
usia (lansia). Proporsi penduduk lansia di Indonesia
mengalami peningkatan cukup signifikan selama 30
tahun terakhir dengan populasi 21,7 juta jiwa (5,51
persen dari total keseluruhan penduduk Indonesia)
pada tahun 2015.
RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang masalah


tersebut, maka rumusan masalah pada
penelitian ini yaitu “Bagaimanakah
pelayanan program posbindu lansia di
wilayah layana sosial Puskesmas Talise
Tahun 2017?”.
TUJUAN PENELITIAN
Tujuan Umum
• Mengetahui profil pelayanan program posbindu
lansia berdasarkan kepatuhan kunjungan lansia di
wilayah Layana sosial Puskesmas Talise.
Tujuan Khusus
• Mengetahui gambaran lansia dalam
memanfaatkan pelayanan posbindu lansia di
wilayah Layana sosial Puskesmas Talise tahun
2017.
MANFAAT
• BAGI PENELITI
– Penelitian ini dapat menambah wawasan dan
pengetahuan penulis mengenai peran Posbindu lansia
dalam meningkatkan derajat kesehatan lansia
• BAGI PUSKESMAS
– Memberikan acuan dan masukan untuk meningkatkan
pengembangan informasi kepada lansia dan juga
dapat menjadi bahan evaluasi dalam pelaksanaan
posbindu lansia.
• BAGI PENDIDIKAN
– Meningkatkan kajian keilmuan bagi mahasiswa
kedokteran tentang pelaksaan Posbindu lansia.
KEASLIAN PENELITIAN
• Asman, N., dkk, 2017, Gambaran Persepsi Lansia yang
Berkunjung tentang Tugas Kader Posbindu Lansia di Wilayah
Kerja Puskesmas Kaleke Bulan Juni Tahun 2017, Sigi.

• Rizkinuary, H., 2014, Gambaran Persepsi Lansia Tentang


Tugas Kader Di Posyandu Lansia Mawar Kelurahan Sukamaju
Baru Kecamatan Tapos, Jakarta.

• Astuti, dkk, 2016, Gambaran Proses Kegiatan Pos Pembinaan


Terpadu Penyakit Tidak Menular Di Puskesmas Sempu
Kabupaten Banyuwangi, Jember.
TINJAUAN PUSTAKA
• Pengertian
– Posbindu lansia merupakan salah satu Upaya Kesehatan Bersumber Daya
Masyarakat (UKBM) yang di kelola di selenggarakan dari, oleh, untuk dan
bersama masyarakat dalam upaya pembangunan kesehatan guna
memberdayakan pelayanan kesehatan dasar.
• Tujuan
– Tujuan Posbindu lansia yaitu untuk meningkatkan kemudahan bagi para lansia
untuk mendapatkan berbagai pelayanan.
• Sasaran Posbindu
– Secara langsung, yaitu kelompok pra usia lanjut 45-59 tahun, kelompok usia
lanjut (60 tahun ke atas), dan kelompok usia lanjut dengan resiko tinggi (70
tahun ke atas)
– Secara tidak langsung, yaitu keluarga dimana lansia berada, organisasi social
yang bergerak dalam pembinaan usia lanjut masyarakat luas.
POS PEMBINAAN TERPADU LANSIA
 Pemeriksaan aktivitas kegiatan sehari-hari (activity of daily living)
 Pemeriksaan status mental
 Pemeriksaan status gizi
 Pengukuran tekanan darah menggunakan tensimeter dan stetoskop serta
perhitungan denyut nadi selama satu menit.
 Pemeriksaan hemoglobin
 Pemeriksaan adanya gula dalam air seni
 Pemeriksaan adanya zat putih telur (protein) dalam air seni
 Pelaksanaan rujukan ke puskesmas bilamana ada keluhan dan atau
ditemukan kelainan pada pemeiksaan
 Penyuluhan biasa dilakukan di dalam maupun di luar kelompok dalam
rangka kunjungan rumah dan konseling kesehatan dan gizi sesuai dengan
masalah yang dihadapi oleh individu dan atau kelompok lanjut usia.
 Kunjungan rumah oleh kader disertai petugas bagi anggota kelompok
lanjut usia yang tidak datang,
Mekanisme Pelaksanaan Kegiatan
Untuk meberikan pelayanan yang prima terhadap lansia di
posbindu lansia maka sebaiknya menggunakan mekanisme
kegiatan 5 sistem meja yaitu :
– Tahap pertama
• Pendaftaran anggota kelompok lanjut usia sebelum pelaksanaan
pelayanan
– Tahap kedua
• Pencatatan kegiatan sehari-hari yang dilakukan lansia srerta penimbangan
berat badan dan pengukuran tinggi badan.
– Tahap ketiga
• Pengukuran tekanan darah, pemeriksaan kesehatan dan pemeriksaan
status mental.
– Tahap keempat
• Pemeriksaan laboratorium
– Tahap kelima
• Pemberian penyuluhan dan konseling
Kader Posbindu Lansia
• Kader adalah tenaga sukarela yang dipilih oleh masyarakat
dan bertugas mengembangkan masyarakat. Didefinisikan
kader secara umum yaitu tenaga yang berasal dari
masyarakat, dipilih oleh masyarakat itu sendiri dan bekerja
secara sukarela
No Tenaga Peranan

1 Koordinator Ketua dari perkumpulan dan penanggungjawab


kegiatan serta berkoordinasi terhadap
Puskesmas dan Para Pembina terkait di
wilayahnya.
2 Kader Anggota perkumpulan yang aktif, berpengaruh
Penggerak dan komunikatif bertugas menggerakkan
masyarakat, sekaligus melakukan wawancara
dalam penggalian informasi
3 Kader Anggota Perkumpulan yang aktif dan
Pemantau komunikatif bertugas melakukan pengukuran
Faktor risiko PTM
4 Kader Anggota Perkumpulan yang aktif, komunikatif
Konselor/ dan telah menjadi panutan dalam penerapan
Edukator gaya hidup sehat, bertugas melakukan
konseling, edukasi, motivasi serta
menindaklanjuti rujukan dari Puskesmas
5 Kader Anggota perkumpulan yang aktif dan
Pencatat komunikatif bertugas melakukan pencatatan
hasil kegiatan Posbindu PTM dan melaporkan
kepada koordinator Posbindu PTM.
KERANGKA TEORI
PENELITIAN

LANSIA KADER
LANSIA

Input
POSBINDU Proses
LANSIA Output
KERANGKA KONSEP

PROGRAM
LANSIA
POSBINDU
LANSIA
METODE PENELITIAN
•Rancangan Penelitian :
• Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah
kualitatif deskriptif. Penelitian ini menggambarkan,
mengungkapkan, menceritakan dan meringkas berbagai kondisi dan
situasi yang ada.
•Subjektivitas Penelitian
• Peneliti berperan aktif dalam pengumpulan data dengan
melakukan wawancara langsung dengan bertatap muka.
•Lokasi dan Waktu Penelitian
– Lokasi penelitian
• Penelitian ini dilakukan di wilayah layana sosial yang merupakan daerah
kerja dari Puskesmas Talise Kota Palu.
– Waktu penelitian
• Waktu yang penelitian ialah dimulai dari 22 September -24 September
2017.
•Subjek / Informan Penelitian
• Subjek atau informan dalam penelitian ini adalah stakeholder
program posbindu lansia Puskesmas Talise, yaitu Kepala Puskesmas
Talise , Penanggung jawab program Posbindu Lansia, kader dan
lansia yang ada di wilayah layana sosial.
METODE PENELITIAN
Instrumen Penelitian
Dalam melakukan wawancara mendalam digunakan pedoman wawancara yang
berisi pertanyaan terbuka. Alat bantu yang digunakan oleh peneliti adalah sebagai
berikut:
(a) buku catatan dan alat tulis untuk mencatat semua percakapan dengan sumber
data,
(b) alat perekam yang berfungsi untuk merekam semua percakapan setelah
mendapatkan izin dari informan bahwa hasil wawancara akan direkam, (c)
kamera, untuk memotret kalau peneliti sedang melakukan pembicaraan selama
di lapangan.dak terstruktur yang dapat mengeksplorasi lebih mendalam
tentang program posbindu lansia.

Cara Penumpulan Data


Pada penelitian ini cara pengumpulan data adalah dengan wawancara mendalam dan
observasi.
Observasi dilakukan pada teknis pelayanan program posbindu lansia. Teknik observasi yang
dipergunakan adalah observasi non-partisipatif artinya peneliti tidak akan terlibat hubungan
emosi dengan obyek penelitian.
DEFINISI OPERASIONAL
POSBINDU LANSIA
• Pos pembinaan terpadu lansia, dimana sasaran
dari program ini adalah kelompok masyarakat
sehat, beresiko, penyandang ptm atau orang
dewasa yang berumur >15 tahun ke atas.

LANSIA
• Manusia lanjut usia, dengan klasifikasi:
– Pre Lansia : 45-59 tahun
– Lansia : > 60 tahun
– Lansia Faktor Resiko Tinggi : > 70 tahun
TEKNIK ANALISIS DATA
• Pengorganisasi data
– Peneliti membaca kembali hasil wawancara dan observasi
langsung yang telah dilakukan. Kemudian dilakukan pemilahan
data. Data yang sesuai dengan panduan wawancara diambil dan
data yang tidak sesuai dibuang.
• Pengelompokkan data
– Hasil wawancara yang telah sesuai dengan panduan wawancara
dikelompokkan menjadi satu kategori yang memiliki kemiripan
jawaban dari responden sehingga terbentuk pola keteraturan
data yang semakin jelas.
• Penulisan laporan
– Data yang telah dikelompokkan dan telah jelas polanya
dituliskan kembali dalam suatu pembahasan yang dikaitkan
dengan teori-teori tentang Partisipasi.
KESULITAN PENELITIAN DAN
KETERBATASAN PENELITIAN
• Kesulitan Peneliti
– Peneliti menemui hambatan dalam melakukan
penelitian dikarenakan sulitnya untuk mengatur
jadwal wawancara dengan informan. Selain itu, ada
beberapa informan yang tidak mengerti untuk
berbahasa Indonesia.
• Keterbatasan Penelitian
– Penelitian ini hanya dilakukan melalui jejak pendapat
yaitu wawancara dengan beberapa informan yang
dipilih, sehingga data yang diperoleh tidak begitu
akurat.
HASIL

Karakteristik Informan
Informan dalam penelitian ini sebanyak 11 orang,
yang terdiri dari Kepala Puskesmas Talise,
penanggung jawab program posbindu lansia, 4
orang kader, 5 orang lansia. Pengambilan informasi
dilakukan dengan metode in depht interview atau
wawancara mendalam, serta dilakukan observasi
langsung dan dokumentasi.
INPUT
1. Hasil wawancara mendalam peneliti kepada kepala puskesmas dan
penanggung jawab program posbindu lansia, kedua informan
mengemukakan bahwa tenaga kesehatan dalam penyelenggaraan program
posbindu lansia terdapat 1 orang yakni selaku penanggung jawab program
adalah seorang Ahli Madya Kebidanan
2. Informan juga mengemukakan bahwa petugas program posbindu lansia
mendapat pelatihan dari dinas kesehatan mengenai geriatri. Sedangkan
kader mendapatkan pelatihan tentang pemeriksaan dasar, seperti tensi
3. Informan juga mengatakan bahwa cukup hanya satu orang dalam
mengelola atau menjalankan program posyandu lansia, upaya
penambahan perlu dilakukan untuk tim yang akan turun pada pelaksanaan
program tersebut dan dana yang didapatkan berasal dari BOK (Bantuan
Operasional Kesehatan) dan APBD (Anggaran Pendapatan Belanja Daerah),
sedangkan informan lainnya mengemukakan bahwa sumber dana berasal
dari sumbangan masyarakat
PROSES
Menurut informan perencanaanya itu meliputi pembiayaan dan
waktu pelaksanaan, penyelenggaraan sudah sesuai dengan
perencanaan dan mendapat dukungan dari masyarakat,
informan juga mengemukakan bahwa mendapatkan dukungan
dari keluarga dan masyarakat untuk kegiatan posyandu

“teknisnya, jadi begini yaaa kita tentukan dulu berpa petugas


dan berapa posbindu, kemudian kita biayai, kita rencanakan
baru kita biayai dengan BOK baru tentukan titik – titiknya
dimana maksudnya lokasinya, tapi itu masyarakat yang tentukan
kalo lokasi pelaksanaan posbindu contoh masyarakat maunya di
kelurahan ya sudah kita bikinnya di kelurahan, karena nanti kan
berhubungan dengan akses masyarakat, kalau kita yang tntukan
baru masyarakat tidak suka kan tidak ada gunanya juga, yang
utama itu masyarakatnya mau berkumpul” (RM, 22 September
2017)
“Untuk evaluasi biasanya dari dinas kesehatan ada,
dilakukan setiap tahun, jadi kami pemegang program
dari setiap puskesmas berkumpul untuk sharing
tentang keberhasilan program, (NU, 23 September
2017)

“ yaaa biasa kita evaluasi kita lakukan sehabis


kegiatan posyandu, kita kumpul sama-sama kader
kita bahas semua berapa orang ini yang tidak
datang, baru siapa yang dekat dengan lansia yang
tidak datang itu rumahnya supaya sebentar di
datangi itu lansianya ditanya kenapa tidak datang
baru di suruh mereka datang lagi untuk posyandu
selanjutnya, (A, 23 September 2017)
OUTPUT
Rutin mengikuti, karena jaraknya sangat dekat, di
sebelah rumah, dan pengobatannya gratis, cocok
memang buat nenek pergi berobat, apa nenek sdh
tidak sanggup kalo mau jalan jauh – jauh” (N, 23
Septermber 201)

“Tidak juga selalu pergi, kalo ada kesempatan saya


pergi, soalnya saya masih bekerja, jadi tidak bisa
pergi ke posbindu, apalagi posbindu pelayanannya
setiap hari kerja, jadi tidak bisa saya sempatkan
datang” (KS, 23 September 2017)
PEMBAHASAN
Posbindu lansia merupakan salah satu Upaya
Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat
(UKBM) yang di kelola di selenggarakan dari,
oleh, untuk dan bersama masyarakat dalam
upaya pembangunan kesehatan guna
memberdayakan pelayanan kesehatan dasar
yang bertujuan untuk meningkatkan
kemudahan bagi para lansia untuk
mendapatkan berbagai pelayanan, baik
pelayanan kesehatan maupun pelayanan yang
dilaksanakan oleh berbagai unsur terkait
INPUT

Berdasarkan hasil tersebut, maka


disimpulkan input pelaksanaan program
Posbindu Lansia meliputi tenaga
kesehatan (sumber daya manusia), dan
fasilitas kesehatan (sarana dan
prasarana).
PROSES
Evaluasi proses bertujuan untuk mengidentifikasi atau
memprediksi hambatan-hambatan dalam pelaksanaan
kegiatan atau implementasi program.
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti,
perencanaan program Posbindu Lansia di Puskesmas Talise
dibuat berdasarkan program yang ditanggung dalam alokasi
dana BOK. Selanjutnya setelah ditentukan kegiatan apa saja
yang akan dijalankan, kegiatan tersebut akan didiskusikan
bersama kepala puskesmas.
Dalam upaya meningkatkan kepatuhan lansia dalam mengikuti
posbindu, penanggung jawab program Posbindu Lansia telah
berencana untuk bekerja sama dengan program lain, terutama
bidang PTM (penanggulangan penyakit tidak menular) dan
promosi kesehatan. Secara umum, untuk perencanaan dari
program Posbindu Lansia sudah cukup baik.
Hasil wawancara yang telah dilakukan oleh
peneliti, proses pelaksanaan program Posbindu
Lansia di Puskesmas Talise telah berjalan sesuai
dengan peraturan yang berlaku. Mutu Posbindu
Lansia akan tercapai antara lain melalui penyediaan
pelayanan kesehatan yang bermutu dan profesional
di semua institusi pelayanan kesehatan.
Untuk monitoring dan evaluasi yang diadakan
Dinas Kesehatan Kota Palu tergantung jadwal dari
Dinas, hasil wawancara peneliti mendapatkan
informasi bahwa jadwal pelaksanaan monitoring dan
evaluasi biasanya satu tahun dua kali dan evaluasi
biasanya diadakan setiap enam bulan.
OUTPUT

Dari segi pengetahuan masyarakat,


berdasarkan hasil wawancara, dapat
dikatakan bahwa tingkat pengetahuan
masyarakat mengenai posyandu pada
umumnya masih rendah. Masih ada
masyarakat yang belum mengetahui apa
yang dilakukan selama posbindu dan apa
manfaatnya.
Berdasarkan hasil wawancara, hamper semua
responden yang menyatakan bahwa tempat
pelaksanaan posyandu cukup mudah di akses, karena
jaraknya yang cukup dekat dari rumah setiap warga,
kendala yang biasa dihadapi adalah kurangnya
informasi bagi masyarakat yang jarang tinggal
dirumah atau memiliki pekerjaan yang menuntut
masyarakat tersebut harus selalu berada di luar
rumaH.
Semua responden menyatakan bahwa
keluarga mendukung adanya kegiatan
posbindu. Adanya upaya dari kader untuk
selalu mengingatkan masyarakat tentang
pelaksanaan posbindu di desa juga sangat
membantu dalam meningkatkan partisipasi
masyarakat.
PENUTUP
KESIMPULAN
Input pelaksanaan program Posbindu Lansia di
Puskesmas Talise terdiri atas tenaga kesehatan dan
sarana-prasarana kesehatan. Tenaga kesehatan
khususnya pada program Posbindu Lansia di Puskesmas
Talise terdiri dari 1 orang yakni selaku penanggung jawab
program adalah seorang Ahli Madya Kebidanan, hanya
saja pada saat pelaksaan program yang ikut serta
biasanya hanya bidan penanggung jawab program, tidak
ada dokter maupun petugas farmasi yang ikut turun
mengikut kegiatan tersebut. Dana yang digunakan berasal
dari BOK (Bantuan Operasional Kesehatan), dana yang
tersedia sudah cukup untuk pelaksanaan program
tersebut. Sarana prasarana (fasilitas) posyandu pada
program Posbindu Lansiadi Puskesmas Talise masih
kurang seperti microtoice, meja dan kursi.
Process dalam pelaksanaan program Posbindu Lansia terdiri atas
perencanaan, teknis pelaksanaan, dan kontrol (pencatatan,
pelaporan, monitoring, dan evaluasi). Secara umum sudah berjalan
baik. Namun, kendala yang dihadapi selama pelaksanaan program
Posbindu Lansia di lapangan yaitu pada sisi masyarakat dengan
kurangnya kepatuhan kunjungannya diakibatkan kurangnya
informasi mengenai waktu pelaksanaan dan lansia yang lebih
mementingkan melakukan pekerjaan sehari – harinya dibandingkan
berkunjung ke Posbindu Lansia.
Output pelaksanaan program Posbindu Lansiadi Puskesmas
Talise, partisipasi masyarakat yang berkunjung ke Posbindu Lansia
Sudah cukup baik, karena berdasarkan hasil wawancara bahwa jarak
posbindu dari rumah pasien cukup mudah di akses dan hamper
semua lansia yang di wawancara mendapatkan dukungan dari
keluraganya untuk datang ke palayanan Posbindu Lansia.
SARAN
1. Bagi Dinas Kesehatan untuk dapat melengkapi sarana prasarana dalam
yang dibutuhkan untuk pelayanan Posbindu Lansia. Selain melengkapi
sarana prasana, diharapkan juga dapat meningkatkan jumlah sarana
prasarana yang ada sehingga dapat dibuka pos baru untuk daerah-daerah
yang berada cukup jauh dari tempat posbindu yang telah ada sebelumnya.
2 Bagi petugas kesehatan diharapkan dapat meningkatkan lagi kinerjanya,
dalam hal ini untuk promosi kesehatan. Kerjasama lintas program dan
lintas sektor dapat lebih ditingkatkan lagi. Bagi Puskesmas diharapkan
untuk menambah tenaga kesehatan yang ada khususnya dokter dan
petugas farmasi agar bisa ikut serta dalam kegiatan Posbindu lansia
3. Bagi Kader diharapkan lebih aktif lagi dalam mengingatkan lansia untuk
selalu rutin mengunjungi kegiatan Posbindu Lansia
4. Bagi Peneliti menyarankan bagi peneliti selanjutnya untuk melakukan
penelitian terkait faktor-faktor yang mempengaruhi lansia memanfaatkan
posbindu lansia, karena dengan itu informasi yang didapat lebih bervariasi
dan banyak hal yang dapat dipelajari.
TERIMA KASIH
DOKUMENTASI PENELITIAN

WAWANCARA PJ
WAWANCARA KEPALA
PUSKESMAS PROGRAM