Anda di halaman 1dari 36

Kelompok 3

Psikodiagnostik
Tes Baku dalam Bidang Pendidikan, Pelayanan Publik, dan
Militer
Tes Kemampuan Perbandingan individual dan
untuk Kelompok

Tes individual memutuhkan seorang pengawas untuk stiap subjek . pengawas memberi intruksi

sesuai dengan prosedur standar dalam buku manual tes. Seorang pengawas dapat mengadakan

tes kelompok untuk lebih dari satu orang dalam waktu yang bersamaan jika ada masalah yang

mungkin dapa menghambat tercapainya nilai tersebut misalnya peserta merasa ketakutan

gugup sulit bekerja sama atau tidak bersemangat maka pegawas dapat mengambil tindakan

yang perlu untuk mengatasinya


1. Keuntungan tes individual

Tes individual dapat memberikan informasi yang kaya mengenai peserta di luar tes.

Dalam tes ini, intruksi dan metode administrasi di upayakan semirp mungkin, sehingga peserta

manapun akan selalu mengalami kondisi yang sama,. Oleh karna itu, perbedaan dan sikap pada

prilaku dapat di pastikan bersifat personal. Satu peserta mungkin dapat menjawab degan cepat

dan atusias saat menjawabnya benar, atau ragu-ragu saat salah. Peserta lain dapat bereaksi

berbeda, gigi, daan tekun saat menjawab atau yang lainya.


2. Keuntungan tes kelompok

Tes kelompok juga menawarkan keuntungan tersendiri. Tes kelompok bersifat hemat

karna mengurangi waktu yang di butuhkan untuk addministrasi dan penilain tes. Tes ini butuh

lebih sedikit material serta biasanya tidak membutuhkan keahlian dan pelatihan khusus

pengawas, seperti dalam tes individual, system penilainan dalam tes kelompok lebih objektif ,

sehingga umumnya lebih dapat diandalkn dari pada penilain subjektif dari banyak tes

individual. Jika di kombinasikan dengan data dari sumber lain, tes kelompok dapat

menghasilkann informasi yang berguna dan berarti seperti halnya informasi dari tes

individual. Tes kelompok digunakan I sekolah dalam segala tingkatan, militer, dan penelitian
Tinjauan atas Tes Kelompok

 Karakteristik tes kelompok

Secara umum, tes kelompok dapat di rincikan dengan menggunakan kertas dan pensil

buklet dan dan pensil ujian karna satu-satunya pensil material yang di buthkan adalah

bahan ujian dalam bentuk buklet tercetak., buku manal ujian, kunci penilaian, lembar

jawaban, dan sebuah pensil. Kebanyakan tes kelompokberbentuk tes pilihan ganda, tetapi

beberapa membutuhkan jawaban bebas seperti menlengkapi kalimat atau gambar, atau

menulis esai.
 Memilih tes kelompok

Penggunaan tes dapat memeilih tes yang baik secara psikometri dan terdokumentasi

dengan baik. Seperti yang terlihat pada tes kemampuan yang di gunakan di sekolah-sekolah

pada umumnya.
 Menggunakan tes kelompok

Secara keseluruhan tes yang di bahas di sini sama dengan ke andalanya dan

terstandardisasi dengan baik, sama halnya dengan tes individual terbaik. Penggunaan tes

adalah isu penting dalam tes kelompok karna hasil dari prosedur ini akan di gunakan oleh

lebih banyak orang di bandingan dengan tes individual, penggunaan setia tes in ribuan guru,

pendidik, pengelolah sekolah staf personal an sebagainya, dan juga pengguna lainya dari

informasi yang di hasilkan tes kelompok dapat menarik keuntungan dri saran-saran berikut:
a. Gunakan hasil tes dengan hati- hati

Jangan pernah berfikir bawa hasil tes merupakan nilai absolut. Cobalah menganggap hasil tes

sebagai satu bagian ari data, diterima sementara kecuali ada data lain yang lebih relevan,.

Ekstra hati- hati dlam menggunakan hasil tes sebagai bahan untuk melakukan prediksi, kecuali

bila meramalkan factor yang relative terbatas dalam kurung waktu yang singkat.
b. Pertanyakan hasil tes yang rendah

Penggunaan tes kelompok harus berasumsi bahawa pesta memahami tujuan dari tes dan ingin

melakukanya dengan baik, serta relative tidak mengalami masalah emsional. Banyak tes

kelompok yang menuntut kemampuan membaca juga kemampuan dalam mememcahkan

masalah. Kegagalan dalam memenuhi asumsi dan persyaratan tersebut dapat berakibat pada

skor yang rendah (bukan skor sebenarnya).


c. Pertimbangkan besarnya kesejahteraan skor sebagai tanda bahaya.

Ketika satu orang menampilkan perbedaab skor yag besar, baik pada hasil tesnya maupun antar

hasil tes dengan data lalin, bisa saja terjadi sesuatu pada individu tersebut (dengan asumsi tidak

ada kesalahan teknis). Adanya kesejahteraan berarti adanya masalah emosional atau sters

berlebihan.
d. Mencari acuan lain ketika ragu

Dengan skor yang rendah, besarnya kesenjangan skor, atau alas an yang cukup untuk

meragukan validitas ata kelayanan dari hasil tes, langka paling aman adalah merujuk peserta

untuk melakukan tes individual. Dilengkapi dengan alasan dilakukanya rujukan tersebut,

sorang prepisional yang terlatih dalam tes individual dapat memastikan penyebab keraguan

tersebut serta memberikan saran yang sesuai dan memang di butuhkan pada kasus- kasus

semacam ini. Hal yang berbaya dan ceroboh untuk mengambil alih tanggung jawab yang

seharusnya dipegang seorang spesialis yang terlatih.


Tes Kemampuan Mental (Intelegensi) untuk
Kelompok

1). Kuhlman-Anderson Test (KAT)-Edisi Kedelapan

KAT adalah tes intelegensi untuk kelompok dengan delapan tingkatan terpisah yang mencakup TK

hingga kelas 12.

KAT terfokus pada kemampuan nonverbal pada tingkat rendah yang tidak terlalu menuntut

k.emampuan membaca dan berbahasa. Namun, berbeda dengan kebanyakan rangkaian banyak-

tingkat rendah yang semakin tinggi verbal seiring dengan meningkatnya usia atau tingkat, KAT

bersifat nonverbal. Oleh karena itu, KAT sangat cocok tidak hanya bagi anak-anak , juga mereka

yang mengalami kesulitan mengikuti perintah verbal. Bahkan sistem ini dapat sangat cocok untuk

diadaptasi bagi populasi yang yang tidak berbahasa Inggris, tentunya dengan beberapa penyesuaian
2). Helmon-Nelson Test (H-NT)

Tes baku kedua yang baik, banyak digunakan, dan dirancang dengan hati-hati untuk semua
tingkatan adalah H-NT untuk kemampuan mental. Meskipun hanya menghasilkan skor tunggal
yang dipercaya mencerminkan intelegensi umum, dua deret norma tersedia. Satu deret diolah
menurut distribusi skor mentah berdsarkan usia, sedangkan deret lainnya berdasarkan
tingkatan.

H-NT adalah instrumen test yang sangat baik. Test tersebeut dapat membantu memprediksi
kesuksesan akademis dengan cepat. Bagaimanapun H-NT memiliki beberapa keterbatasan
yang harus diperhatikan saat digunakan sebagai satu-satunya instrumen penyaringan ketika
menyeleksi bakat atau mengidentifikasi kesulitan belajar di kalangan anak minoritas yang
berbeda budaya dan kurang beruntung secara ekonomi.
3). Cognitive Abilities Test (COGAT)
Dari sisi rehabilitas dan validitas, COGAT dapat dibandingkan dengan H-NT. Namun tidak seperti
H-NT, COGAT menyediakan tiga skor yang berbeda.
Seleksi item COGAT mengungguli H-NT dalam hal bagaimana menyeleksi anak-anak minoritas,
dengan keragaman budaya, dan tidak beruntung secara ekonomi. Tidak seperti H-NT, COGAT secara
khusus dirancang untuk orang-orang yang jarang membaca, kurang berpendidikan, dan tingga di
negara yang bahasa Inggris merupakan bahasa kedua. Seperti, halnya KAT, tes ini berpotensi untuk
diadopsi ke negara-negara di luar Amerika Serikat
Pencipta dari tes COGAT mengambil langkah khusus untuk mengurangi sumber-sumberkesulitan
dalam tes yang tidak relevan, terutama yang menunjukkan bias budaya.
COGAT menawarkan keuntungan melebihi H-NT dalam hal mengevaluasi anak-anak minoritas,
dari budaya yang beragam, dan kurang beruntung secara ekonomi.
Kelemahan COGAT adalah masing-masing tiga subtes COGAT membutuhkan 32-34 menit waktu
untuk waktu pengerjaan aktual, di mana buku petunjuk disarankan untuk disebar dalam 2-3 hari.
Kesimpulan dari Tes Kelompok K-12

Stanford Achievment Test, MAT, KAT, H-NT, & COGAT merupakan instrumen yang baik dan

dapat digunakan. Stanfor Achievment Test & MAT menyediakan sistem pengukuran prestasi

yang unggul. Hal yang menjadikan kekuatan khusus KAT dalam mengevaluasi intelegensi

adalah rangkaian item verbalnya. H-NT menawarkan cara cepat memperkirakan g

(intelegensidasar) bagi kebanyakan anak, namun masih kurang valid dibanding COGAT jika

populasi yang diukur adalah anak-anak minoritas atau berlatar belakang budaya yang beragam.

Setiap tes harus digunakan oleh mereka yang memahami karakter, kekuatan, dan

keterbatasannya secara spesifik.


Tes Masuk Sekolah Tinggi

Tiga tes masuk yang terkenal dan paling banyak digunakan adalah SAT Reasoning Test

(sebelumnya dikenal dengan Scholastic Aptitude Test), Cooperative School and College Ability

Test (SCAT), dan American CollageTest (ACT).

1. SAT Reasoning Test

Hingga maret tahun 1995, SAT Reasoning Test (SAT-I) hingga saat ini merupakan tes yang
paling banyak digunakan sebagai tes masuk sekolah tinggi.

SAT Reasoning Test dilakukan setiap tahun dengan 1,5 juta pelajar di 5.000 tempat ujian di
seluruh negara. Pengguna tes saat ini cenderung memperoleh skor lebih rendah kira-kira 20-80
poin untuk setiap dari dua bagian pokok tes.
2. Tes Kemampuan Sekolah dan Perguruan Tinggi yang Kooperatif

Kedua setelah SAT dalam hal penggunaan adalah SCAT yang dikembangkan pada tahun 1955.

Selain tingkat perguruan tinggi, SCAT mencakup tiga tingkat pra-perguruan tinggi dimulai dari

tingkat keempat. SCAT bertujuan untuk mengukur kemampuan yang dipelajari di sekolah serta

potensi individu untuk melakukan pendidikan tambahan..

3. American College Test (ACT)

Tes masuk perguruan tinggi lain yang telah banyak digunakan dan populer adalah ACT. Di

beberapa negara bagaian (misalnya Alabama), sebagian besar siswa mengikuti tes tersebut.

ACT memberikan skor yang spesifik dan tersusun. Skor mencakup penilaian dalam bahasa

Inggris, penggunaan matematika, membaca studi sosial, dan membaca ilmu pengetahuan alam
TES MASUK SEKOLAH PASCASARJANA DAN
SEKOLAH PROFESI

 A. Graduete Record Examination Aptitude Test

Graduete Record Examination Aptitude Test atau GRE adalah salah satu tes yang paling sering
di gunakan untuk masuk sekolah pascasajarna. GRE merupakan tes yang bertujuan untuk meng
ukur kemampuan verbal, kuantitatif, critical thinking, dan analytical writing yang kesemuanya
dilakukan dalam Bahasa inggris. GRE ini dikelola oleh sebuah lembaga komersial yang berna
ma ETS atau Educational Testing Service. Test GRE diambil oleh mereka yang mendaftar ke p
rogram-program pascasarjana di bidang ilmu alam, teknik mesin, ilmu-ilmu sosial, bisnis, pend
idikan, seni, psikologi. Tes ini berlangsung kurang lebih sekitar selama empat jam dan terbagi
ke dalam lima sesi.
 Bentuk Ujian Paper Based GRE

1. Verbal Section

Verbal section terdiri dari dua bagian untuk mengerjakan GRE test pada sesi ini. Masing-masin

g terdiri dari 20 soal. Untuk menyelesaikannya disediakan waktu 35 menit tiap bagiannya.

2. Quantitative Section

Terdiri dari dua bagian untuk mengerjakan GRE test pada sesi ini. Masing-masing terdiri dari 2

0 soal. Untuk menyelesaikannya disediakan waktu 35 menit tiap bagiannya.

3. Analytical Writing

Terdiri dari dua bagian untuk mengerjakan GRE test pada sesi ini. Analisa issue disediakan wa

ktu 30 menit dan argumentasi diberikan waktu 30 menit untuk mengerjakannya


 Jenis-Jenis Ujian Computer Based GRE

1. Verbal Section

Memang GRE tak ubahnya seperti tes potensi Akademik berbahasa Inggris dan pada jenis jenis

ujian GRE Verbal Section misalnya, digunakan untuk mengukur kemampuan menganalisa dan

mengevaluasi materi tertulis.

Dan digunakan untuk menyatukan informai yang berhubungan antar komponen-komponen

kalimatnya dan mengenal hubungan antara kata-kata dan konsep.

Maka, pertanyaan dititik beratkan seputar sinonim, antonim dan lain sebagainya dan biasanya

disediakan waktu kurang lebih 30 menit dan terdiri dari 20 soal.


 2. Quantitative Section

Kemudian GRE test untuk Quantitative Section digunakan untuk mengukur kemampuan

matematika, namun bukan soal matematika tingkat tinggi, melainkan matematika tingkat dasar

Serta mengemukakan nalar secara kuantitatif dan memecahkan masalah-masalah yang

dibutuhkan antara lain: aritmetik, aljabar, geometri, dan analisa data dan biasanya disediakan

waktu 30 menit dalam 20 soal, terdiri dari dua bagian.

 3. Analytical Writing

Analytical Writing dalam GRE test dilakukan guna mengukur kemampuan mengartikulasikan

dan mendukung ide-ide kompleks, menganalisa pendapat, dan mendorong diskusi yang fokus d

an masuk akal.
 B. Miller Analogies Test ( MAT )

Miller Analogies Tesadalah tes standar yang digunakan untuk mengkur bakat skolastik untuk studi
pascasarjana .Dibuat dan masih diterbitkan oleh Harcourt Assessment (sekarang merupakan divisi da
ri Pearson Education ), MAT terdiri dari 120 pertanyaan dalam 60 menit (sebelumnya 100 pertanyaa
n dalam 50 menit). Tidak seperti ujian penerimaan sekolah pascasarjana lainnya seperti GRE , Miller
Analogies Test berbasis verbal atau komputer. Dari 120 pertanyaan, hanya 100 yang dihitung dalam
skor peserta tes. 20 pertanyaan yang tersisa bersifat eksperimental. Tidak ada cara bagi peserta tes un
tuk mengidentifikasi salah satu dari 20 pertanyaan eksperimental pada formulir tes yang diberikan,
karena kedua jenis pertanyaan itu berbaur. Seperti GRE , Miller analogies tes memilki bias usia. skor
MAT berlebihan dalam meperkirakan GPA untuk kelompok usia 25-34 tahun dan kurang mempredi
ksikan GPA untuk kelompok usia 35-44 tahun. penelitian yang sama telah membuktikan bahwa
Miller analogies test kurang memprediksi GPa perempun dan berlebihan dalam memprediksi pada
laki-laki.

secara umum, psikometri MAT adalah wajar apabila dibandingkan dengan uji kemampuan pada umu
mnya, namun skor GRE dan GPA tetap berkorelasi utama. Selanjutnya, MAT tidak memprediksi ke
mampuan penelitian ,kreativitas, dan faktor lainya yang juga penting bagi perfroma lulusan sekolah
profesional. Namun, sebagai bantusn dalam membedakan antara pelamar lulusan sekolah terhadap
orang dewasa pada tingat tertinggi pada kemampuan verbal, MAT merupkan cara terbaik selama
masih dalam satu pemikiran
 C. Law School Admission Test

Law school admission test (LSAT) merupakan contoh tes yang cukup baik pada program

profesi hukum. soal LSAT hampir tidak memerlukan pengetahuan khusus. siswa dari berbagai

jurusan dapat mengambil ujian tersebut tanpa ragu. Namun hanya sebagian siswa yang mampu

menyelesaikan semua bagian, karena ada beberapa bagian yang merupakan bagian tersulit.

LSAT terdapat tiga soal: mmembaca, pemahaman , penalaran logis, dan penalaran analitis.

Tujuan dari LSAT adalah untuk membantu dalam memprediksi keberhasilan siswa di sekolah

hukum
Tes Kemampuan Nonverbal untuk Kelompok

1. Raven Progressive Matrices


RPM (Raven’s Progressive Matrices) merupakan salah satu bentuk test inteligensi yang tidak
membutuhkan kemampuan verbal ataupun kemampuan dalam berhitung sama sekali. RPM
menggunakan kemampuan spasial, yaitu kemampuan dalam merangkai bentuk dan juga ruang
dalam mengerjakannya. RPM merupakan bentuk test inteligensi yang sifatnya supplementary,
atau bisa disebut sebagai test tambahan dalam rangkaian test inteligensi.
Test RPM ini bisa diberikan secara indivudal, maupun klasikan atau kelompok. Sama seperti
beberapa test inteligensi lainnya, RPM (Raven’s Progressive Matrices) merupakan bentuk test
inteligensi yang sifatnya battery test, yang artinya, pengerjaannya diberi batasan waktu. RPM
merupakan test yang cenderung umum dan universal, dan banyak digunakan untuk mengetes
kapasitas atau kategori inteligensi pada usia 16 hingga 60 tahun.
Terdapat 3 bentuk RPM, yaitu APM (Advanced Progressive Matrices, CPM atau Colored
Progressive Matriced (Untuk usia anak – anak), dan juga SPM atau Standard Progressive
Matrices (untuk usia remaja). Semua test tersebut memiliki administrasi yang sama, dan hanya
berbeda dari sisi soal dan juga warna saja.
 Gambaran test RPM mengenai

Secara umum, test RPM ini terdiri dari dua buah buku soal, yaitu buku set 1 dan set 2. Buku

soal set 1 terdiri dari 12 soal, dan set 2 memiliki jumlah 36 soal. Dalam test RPM, terdapat

sebuah gambar di dalam bentuk persegi besar (bisa dianggap sebagai taplak meja, kain,

ataupun pola) dimana satu bagian dari persegi tersebut kosong (tidak memiliki pola). Tugas

dari peserta atau klien adalah mengisi pola atau bagian yang kosong tersebut, dengan memilih

satu dari 8 buah pilihan potongan pola, yang cocok dan membuat persegi atau kain tersebut

memiliki pola yang utuh. Kemampuan dalam mempersepsikan dan juga kemampuan melihat

kelangsungandari suatu pola sangat dibutuhkan dalam mengerjakan test ini. selain itu,

konsentrasi, focus dan juga problem solving juga turut berperan dalam suksesnya test ini.
2. Goodenough-Harris Drawing Test (G-HDT)

Tes kecerdasan nonverbal yang luar biasa yang dapat dilakukan secara individual atau kelompok

adalah G-HDT. Walaupun bukanlah tes buku dalam pengertian yang kaku, G-HDT merupakan tes

yang paling cepat, paling mudah, dan paling terjangkau yang dapat dilakukan diantara semua tes

kemampuan. Oleh karena itu tes ini banyak digunakan dalam lingkup pendidikan dan lainnya,

termasuk klinis. Satu-satunya alat yang dibutuhkan dalam tes ini adalah pensil dan kertas putih

polos. Subjek diminta untuk menggambar manusia secara utuh dan diminta melakukannya sebaik

mungkin. G-HDT distandardisasi dengan menentukan karakteristik gambar bentuk manusia yang

membedakan kisaran usia subjek dari objek lainnya. Subjek akan mendapatkan nilai dari setiap

bagian (bagian diinstruksikan untuk digambar) yang terdapat digambarnya. Aturan dalam tes ini

adalah memberikan satu poin dalam setiap detail dengan pon maksimal 70 poin. Sebagai contoh, jika

subjek hanya menggambar sebuah muka polos tanpa adanya pelengkapnya, maka subjek akan

mendapatkan satu poin. Poin ditambahkan untuk setiap pelengkap atau fitur pada muka dan pakaian

yang berhasil digambar.


 G-HDT pertama kali distandardisasi pada tahun 1926 dan kemuadian distandardisasi ulang

pada tahun 1963 (Harris, 1963). Penilaian pada G-HDT didasarkan pada prinsip perbedaan

usia anak-anak yang lebih tua usianya akan mendapatkan poin lebih untuk keakuratan dan

detail pada gambar. Oleh karena itu, seseoran dapat menetukan usia mental dengan

membandingkan skor pada sampel normative yang tersedia. Skor besar dapat

dikonversasikan ke skor standar dengan rerata 100 dan simpanan buku 15.

 Karena mudahnya administrasi dan singkatnya waktu administrasi, G-HDT dan tes

menggambar menggunkan bentuk manusia lainnya digunakan secara luas dalam rangkaian

tes. Tes ini memungkinkan penguji untuk mendapatkan estimasi kasar intelegensi seorang

anak dalam waktu singkat. G-HDT sangat cocok digunakan bersama informasi lainnya

yang diperoleh dari tes yang lain.Penggunaan G-HDT ini sendiri tanpa didukung dengan

tes lainnya tidak dianjurkan karena hasilnya dapat menyesatkan


3. Culture Fair Intelligence test

CFIT atau yang merupakan kependekan dari Culture Fair Intelligence Test merupakan test

yang dikembangkan oleh salah satu tokoh inteligensi terkenal, yaitu Raymond Cattel. Test

CFIT ini dibuat dengan latar belakang test – test inteligensi lainnya yang tidak bebas nilai dan

masih terpengaruh oleh budaya budaya dan juga norma pada masing – masing Negara. Norma

dan juga nilai – nilai pada suatu kebudayaan ini, dapat mempengaruhi hasil dari pengukuran IQ

atau Inteligensi individu. Karena itu, diperlukan sebuah test inteligensi universal, yang

sifatnya:

 Bebas nilai

 Tidak terikat pada kebudayaan tertentu

 Dipahami oleh semua orang secara universal


Sedangkan di dalam tes CFIT ini Raymond ingin menciptakan instrumen yang secara

psikometrika sehat dan di dasarkan pada teori yang komprehensif dan juga memiliki nilai

reliabilitas dan validitas yang tinggi. Nilai Reliabitiasnya untuk skala 1 memiliki nilai .91 dan

untuk skala 2 memiliki nilai .87 dan skala 3 miliki .85 Untuk SMA keatas. Sedangkan untuk

Validitas konsep sebesar .92 dan validitas konkrit sebesar .69.

Test CFIT ini merupakan tes psikologi yang mana ia mengukur apa yang dikenal sebagai fluid

intelligence, yaitu kecerdasan yang meliputi kemampuan analisis dan penalaran. Terdapat tiga

jenis CFIT, yaitu :

 CFIT skala 1, yang ditujukan untuk mereka yang mengalami retardasi mental

 CFIT Skala 2, yang ditujukan untuk usia 8 hingga 13 tahun

 CFIT skala 3, yang ditujukan untuk dewasa


Administrasi dari Test CFIT
CFIT sendiri (Skala 3) terdiri dari 4 macam subtest. Berikut ini adalah ke empat macam subtest

pada CFIT:

 Subtest 1 – Series

Peserta atau klien diminta untuk melanjutkan pola yang sudah ada, dan memilih 1 dari 6

pilihan pola yang ada.

 Subtest 2 – Classification

Peserta atau klien diminta untuk memilih 2 dari 5 pilihan gambar, dengan pola ataupun

karakteristik yang sama atau memiliki kemiripan


 Subtest 3 – Matrices

Peserta atau klien diminta untuk memilih 1 dari 5 pilihan jawaban, yang mampu

melengkapi gambar utama yang tersaji. Subtest ini memiliki cara kerja yang mirip dengan

APM, SPM, dan juga CPM.

 Subtest 4 – Condition / Typologi

Peserta atau klien diminta untuk memilih 1 dari 5 jawaban dimana jawaban tersebut

memiliki kondisi, tekstur ataupun situasi yang sama seperti pada soal yang tersaji.

CFIT merupakan bentuk battery test, karena itu membutuhkan waktu, dan peserta atau

klien dituntut untuk mampu menjawab soal pada masing – masing subtest dalam waktu

tertentu. Masing – masing subtest pada CFIT memiliki karekteristik yang berbeda – beda,

sehingga peserta atau klien nantinya harus konsentrasi dan juga focus terhadap instruksi yang

diberikan oleh tester pada saat pelaksanaan test.


4. General Aptitude Test Battery (GATB)

The general aptitude test battery (GATB) dikembangkan dalam tahun 1940 oleh united state

employment servise untuk memenuhi kebutuhan tes yang bisa dipergunakan untuk berbagai

tujuan. Tes ini adalah hasil dari penelitian yang dilaksanakan beberapa tahun dalam

karakteristik pekerja dan pengembangan tes.

Tes bakat baterai umum (GATB) adalah suatu tes yang berhubungan dengan jabatan yang

berorientasi pada beberapa tes bakat baterai yang mengukur sembilan bakat dalam delapan

tertulis serta empat perangkat tes.

 Penggunaan the general aptitude test battery (GABT)

Hasil-hasil tes GATB bermanfaat dalam bermacam-macam hal untuk membantu koselor

(guru pembimbing) dalam memberikan bantuan terhadap klien, terutama untuk:


a) Pemahaman diri klien yang lebih mendalam dalam hubungannya dengan kekuatan dan

kelemahan bakatnya.

b) Menentukan di mana klien berada, yang berhubungan dengan bakat-bakatnya, dalam

berhubungan dengan orang lainnya dalam angkatan kerja (menggunakan norma-norma

populasi pekerjaan umum).

c) Menentukan potensi bakat klien untuk jabatan khusus (menggunakan norma-norma tes

bakat baterai khusus).

d) Menentukan potensi bakat-bakat klien untuk mengelompokkan jabatan (menggunakan

norma-norma pola tes bakat jabatan).

e) Menentukan potensi bakat klien dalam pendidikan dan pelatihan tertentu (menggunakan

semua norma yang telah dikemukakan dalam b,c,dan d di atas)


 Karakteristik teknis tes bakat GATB

a) Kepraktisan

 · Waktu pelaksanaan relative singkat dengan memperoleh informasi yang cukup banyak.

 · Pelaksanaan dan penskoran dapat dipelajari dengan mudah.

 · Dua papan perlengkapan adalah kompak, mudah dibawa, dan relative murah.

 . Buku tes dan papan perlengkapan dapat dipergunakan kembali.

b) Reliabilitas

Karakteristik studi ini sebagian besar memperhaitkan stabilitas atau konsistensi pengukuran
dan secara langsung dapat diperbandingkan dengan bentuk pengganti.

c) Validitas

Studi validitas telah dilaksanakan pada tes GATB lebih dari dua puluh lima tahun.
d) Standarisasi

Catatan:

 Tes ini sangat coocok untuk pekerjaan yang membutuhkan kemampuan psikomotor yaitu

koordinasi kecekatan jemari, misalnya : pekerjaan melinting rokok, permen, memasak,

merakit komponen – komponen dalam bidang mekanik, dan semacamnya.

 Perlu dilakukan penelitian ulang terutama variabel umur perlu dimasukkan sehubungan

dengan kemampuan psikomotor tersebut.

 Perlu juga standarisasi dilakukan untuk sampel jenis kelamin laki – laki.

 Alat tes ini berguna bagi calon karyawan yang belum terlatih sebab faktor latihan memiliki

peranan yang sangat besar.

 Ada kemungkinan tes individual ini dapat dilakukan secara klasikal.


5. Armend Service Vocational Aptitude Battery
Baterai Aptitude Kejuruan Layanan Bersenjata ( ASVAB ) adalah tes pilihan ganda , yang
dikelola oleh Komando Pemrosesan Pintu Masuk Militer Amerika Serikat , yang digunakan
untuk menentukan kualifikasi untuk mendaftar di Angkatan Bersenjata

ASVAB pertama kali diperkenalkan pada tahun 1968 dan diadopsi oleh semua cabang
militer pada tahun 1976. ASVAB mengalami revisi besar pada tahun 2002. Pada tahun 2004,
sistem penilaian peringkat persentil tes dinormalkan ulang , untuk memastikan bahwa skor
50% benar-benar mewakili melakukan lebih baik daripada tepat 50% dari peserta tes.

ASVAB saat ini berisi 9 bagian (kecuali tes tertulis, yang berisi 8 bagian). Durasi masing-
masing tes bervariasi mulai dari sepuluh menit hingga 36 menit untuk Penalaran
Aritmatika; seluruh ASVAB adalah tiga jam. Tes ini biasanya dilakukan dalam format
komputer di Stasiun Pemrosesan Pintu Masuk Militer, yang dikenal sebagai MEPS, atau di
lokasi satelit yang disebut situs Tes Masuk Militer (MET). ASVAB dikelola oleh komputer di
MEPS, sementara versi tertulis diberikan di sebagian besar situs MET. Prosedur pengujian
bervariasi tergantung pada mode administrasi.