Anda di halaman 1dari 20

CASE BASED DISCUSSION

DERMATITIS VENENATA

Oleh :
Hannydita Lutfi Buana Adji
012095918
Pendahuluan
• Dalam kehidupan sehari-hari kita selalu
berinteraksi dengan bahan-bahan yang mungkin
dapat menimbulkan iritan maupun alergi bagi
seseorang dan belum tentu bagi individu lain.
• Bahan-bahan ini dapat menimbulkan kelainan
pada kulit sesuai dengan kontak yang terjadi.
Kelainan ini disebut dermatitis kontak.
• Dermatitis kontak ini dibagi menjadi Dermatitis
Kontak Iritan dan Dermatitis Kontak Alergi.
• Dermatitis Venenata adalah penyakit alergi dan
imunologik yang bermanifestasi pada kulit
termasuk masalah yang paling sering dijumpai
• Dermatitis Venenata sering dikenal dengan
sebutan Tom Cat.
• Dermatitis Venenata merupakan gambaran
spesifik, disebabkan oleh sekret/debris serangga
terutama dari genus Paederus, serta getah
tumbuhan dengan bentuk lesi linier.
• Kulit yang terkena penyakit ini akan menjadi
merah dan melepuh, disertai rasa panas seperti
terbakar. Fase merah, melepuh, dan terasa panas
ini berlangsung 1-3 hari. Bila lesi ini digaruk, maka
lesi ini dapat menyebar dan meluas.
• Bila penyakit ini sudah mendekati sembuh, maka
kulit akan berwarna coklat, dan menimbulkan
bekas seperti luka bakar dan herpes.
• Kelenjar Hemolympha pada Paedrus ini
mengandung Paederine yang akan mengenai kulit
apabila serangga ini remuk akibat refleks
menyingkirkan serangga ini.
• Paederine dapat memicu epidermal necrosis dan
acantholisys sehingga timbul dermatitis. Serangga
ini sebenarnya tidak menyengat dan tidak
menggigit, apabila serangga tersebut tidak
remuk, maka Paederine yang tersimpan dalam
hemolympha tidak berbahaya bagi manusia.
Gejala dari dermatitis venenata adalah
• Tidak ada gejala prodormal (lesu, lemas, nafsu makan
menurun).
• Lesi muncul tiba-tiba di pagi hari.
• Lesi berbentuk garis linear dan berwarna merah.
• Lesi hanya pada tempat yang tidak tertutup pakaian.
• Tidur dengan lampu menyala.
• Kissing effect atau kissing lesion, kulit yang tertempel
atau terkena lesi akan berubah menjadi lesi baru.
• Serangga (Insecta) merupakan kelas dari filum
Arthropoda. Ordo yang paling sering
mengakibatkan masalah kulit adalah klas
Lepidoptera (kupu-kupu), hemiptera (bed bug),
Anoplura (Pediculus sp.), Diptera (nyamuk),
Coleoptera (blister beetle), Hymenoptera (lebah,
tawon, semut), Shiponaptera (flea). Kelas
arthropoda lain yang bermakna secara
dermatologis adalah myriapoda (kelabang) dan
arachnida (laba-laba, tick, mite, kalajengking).
TINJAUAN PUSTAKA
• DEFINISI
• Dermatitis adalah peradangan kulit (epidermis
dan dermis) sebagai respons terhadap
pengaruh faktor eksogen dan atau faktor
endogen, menimbulkan kelainan klinis berupa
efloresensi polimorfik (eritema, edema, papul,
vesikel, skuama, likenifikasi) dan keluhan gatal.
• Dermatitis Kontak Iritan adalah peradangan
kulit yang disebabkan terpaparnya kulit
dengan bahan dari luar yang bersifat iritan
yang menimbulkan kelainan klinis efloresensi
polimorfik berupa eritema, vesikula, edema,
papul, vesikel, dan keluhan gatal, perih serta
panas. Tanda polimorfik tidak selalu timbul
bersamaan, bahkan hanya beberapa saja.
• Dermatitis Venenata adalah Dermatitis Kontak
Iritan yang disebabkan oleh terpaparnya
bahan iritan dari beberapa tanaman seperti
rumput, bunga, pohon mahoni, kopi, mangga,
serta sayuran seperti tomat, wortel dan
bawang. Bahan aktif dari serangga juga dapat
menjadi penyebab.
• EPIDEMIOLOGI
• DKI adalah penyakit kulit akibat kerja yang
paling sering ditemukan, diperkirakan sekitar
70%-80% dari semua penyakit kulit akibat
kerja. DKI dapat diderita oleh semua orang
dari berbagai golongan umur, ras dan jenis
kelamin. Jumlah penderita DKI diperkirakan
cukup banyak terutama yang berhubungan
dengan pekerjaan (DKI akibat kerja).
• Insiden dari penyakit kulit akibat kerja di
beberapa negara adalah sama, yaitu 50-70
kasus per 100.000 pekerja pertahun.Pekerjaan
dengan resiko besar untuk terpapar bahan
iritan yaitu pemborong, pekerja
industrimebel, pekerja rumah sakit (perawat,
cleaning services, tukang masak), penata
rambut, pekerjaindustri kimia, pekerja logam,
penanam bunga, pekerja di gedung.
• ETIOLOGI
• Penyebab munculnya dermatitis jenis ini
adalah bahan yang bersifat iritan, misalnya
bahan pelarut, deterjen, minyak pelumas,
asam, alkali, dan serbuk kayu.(3) Bahan aktif
dari serangga juga dapat menjadi penyebab
• KLASIFIKASI
• Berdasarkan penyebab dan pengaruh faktor-
faktor tersebut ada yang mengklasifikasi DKI
menjadi sepuluh macam, yaitu: DKI akut,
lambat akut, reaksi iritan, kumulatif,
traumateratif, eksikasi ekzematik, pustular dan
akneformis, noneritematosa, dan subyektif
• DKI Akut
• Luka bakar oleh bahan kimia juga termasuk dermatitis
kontak iritan akut. Penyebab DKI akut adalah iritan
kuat, misalnya larutan asal sulfat dan asam hidroklorid
atau basa kuat, misalnya natrium dan kalium
hidroksida. Biasanya terjadi karena kecelakaan, dan
reaksi segera timbul. Intensitas reaksi sebanding
dengan konsentrasi dan lamanya kontak dengan iritan,
terbatas pada tempat kontak. Kulit terasa pedih, panas,
rasa terbakar, kelainan yang terlihat berupa eritema
edema, bula, mungkin juga nekrosis. Pinggir kelainan
kulit berbatas tegas, dan pada umumnya asimetris.
• DKI Akut Lambat
• Gambaran klinis dan gejala sama dengan DKI akut,
tetapi baru muncul 8 sampai 24 jam atau lebih setelah
kontak. Bahan iritan dapat menyebabkan DKI akut
lambat, misalnya podofilin, antralin, tretinoin, etilen
oksida, benzalkonium klorida, asam hidrofluorat.
Contohnya ialah dermatitis yang disebabkan oleh bulu
serangga yang terbang pada malam hari (dermatitis
venenata); penderita baru merasa pedih esok harinya,
pada awalnya terlihat eritema dan sore harinya sudah
menjadi vesikel atau bahkan nekrosis.
• DKI Kumulatif
• Dermatitis ini adalah jenis dermatitis yang paling sering
terjadi; nama lain ialah DKI kronis. Penyebabnya ialah
kontak berulang-ulang dengan iritan lemah (Faktor fisik,
misalnya gesekan, trauma mikro, dan kelembaban rendah,
panas atau dingin; juga bahan, misalnya deterjen, sabun,
pelarut, tanah, bahkan juga air). DKI kumulatif mungkin
terjadi karena kerjasama berbagai faktor. Bisa jadi suatu
bahan secara sendiri tidak cukup kuat menyebabkan
dermatitis iritan, tetapi baru mampu bila bergabung
dengan faktor lain. Kelainan baru nyata setelah kontak
berminggu-minggu atau bulan, bahkan bisa bertahun-tahun
kemudian, sehingga waktu dan rentetan kontak merupakan
faktor penting.
• PATOGENESIS
• Kelainan kulit timbul akibat kerusakan sel yang
disebabkan oleh bahan iritan melalui kerja
kimiawi atau fisis.(1) Ada 4 mekanisme yang
berhubungan dengan DKI.
• Hilangnya membran lemak (Lipid Membrane)
• Kerusakan dari sel lemak
• Denaturasi keratin epidermal
• Efek sitotoksik secara langsung(4)
• Kerusakan membran mengaktifkan fosfolipase
dan melepaskan asam arakidonat (AA),
diasilgliserida (DAG), platelet activating factor
(PAF), dan inositida (IP3). AA dirubah menjadi
prostaglandin (PG) dan leukotrien (LT). PG dan LT
menginduksi vasodilatasi, dan meningkatkan
permeabilitas vaskular sehingga mempermudah
transudasi komplemen dan kinin. PG dan LT juga
bertindak sebagai kemoaktraktan kuat untuk
limfosit dan neutrofil, serta mengaktifasi sel mas
melepaskan histamin, LT dan PG lain, dan PAF,
sehingga memperkuat perubahan vaskular.
• DAG dan second messengers lain menstimulasi ekspresi
gen dan sintesis protein, misalnya interleukin-1 (IL-1)
dan granulocyte-macrophage colony stimulating factor
(GMCSF). IL-1 mengaktifkan sel T-helper mengeluarkan
IL-2 dan mengekspresi reseptor IL-2, yang
menimbulkan stimulasi autokrin dan proliferasi sel
tersebut.
• Keratinosit juga membuat molekul permukaan HLA-DR
dan adesi intrasel-1 (ICAM-1). Pada kontak dengan
iritan, keratinosit juga melepaskan TNFα, suatu sitokin
proinflamasi yang dapat mengaktifasi sel T, makrofag
dan granulosit, menginduksi ekspresi molekul adesi sel
dan pelepasan sitokin.
• Rentetan kejadian tersebut menimbulkan
gejala peradangan klasik di tempat terjadinya
kontak di kulit berupa eritema, edema, panas,
nyeri, bila iritan kuat. Bahan iritan lemah akan
menimbulkan kelainan kulit setelah berulang
kali kontak, dimulai dengan kerusakan stratum
korneum oleh karena delipidasi yang
menyebabkan desikasi dan kehilangan fungsi
sawarnya, sehingga mempermudah kerusakan
sel dibawahnya oleh iritan