Anda di halaman 1dari 27

KEMENTERIAN PERHUBUNGAN

DIREKTORAT JENDERAL PERHUBUNGAN LAUT


DIREKTORAT KEPELABUHANAN

PENGEMBANGAN PELABUHAN
(KERANGKA HUKUM/KEBIJAKAN – ASPEK PERENCANAAN DAN
PENGEMBANGAN PELABUHAN)

DIKLAT AHLI KEPELABUHANAN ANGKATAN XXIV - 2018


ORGANISASI KEMENTERIAN PERHUBUNGAN
(DIREKTORAT JENDERAL PERHUBUNGAN LAUT – DIREKTORAT KEPELABUHANAN)

DIKLAT AHLI KEPELABUHANAN ANGKATAN XXIV- 2018 2


DASAR HUKUM DAN ISU STRATEGIS
PENYELENGGARAAN PELAYARAN

DIKLAT AHLI KEPELABUHANAN ANGKATAN XXIV- 2018 3


PERENCANAAN PENGEMBANGAN PELABUHAN

RENCANA LOKASI & RENCANA INDUK PEMBANGUNAN


INDUK PENETAPAN PELABUHAN DAN PENGEMBANGAN
PELABUHAN HIERARKHI DILENGKAPI PENGOPERASIAN PELABUHAN
NASIONAL PELABUHAN DLKr/DLKp PELABUHAN

DIKLAT AHLI KEPELABUHANAN ANGKATAN XXIV- 2018 4


RENCANA INDUK PELABUHAN NASIONAL

PEDOMAN DALAM PENETAPAN LOKASI,


PEMBANGUNAN, PENGOPERASIAN, RENCANA
PENGEMBANGAN PELABUHAN, DAN
PENYUSUNAN RIP

MEMUAT :
A. KEBIJAKAN PELABUHAN NASIONAL
B. RENCANA LOKASI DAN HIRARKI PELABUHAN

- DITETAPKAN MENTERI UNTUK JANGKA WAKTU 20 TAHUN


- DAPAT DITINJAU KEMBALI 1 KALI DALAM 5 TAHUN
- DALAM HAL TERJADI PERUBAHAN KONDISI LINGKUNGAN
STRATEGIS AKIBAT BENCANA DAPAT DITINJAU KEMBALI LEBIH
DARI 1 KALI DALAM 5 TAHUN

DIKLAT AHLI KEPELABUHANAN ANGKATAN XXIV- 2018 5


RENCANA INDUK PELABUHAN NASIONAL
LOKASI & HIERARKI - KEBIJAKAN UTAMA

SAMPAI 2037

PELABUHAN YG DIGUNAKAN UNTUK MELAYANI


636
ANGKUTAN LAUT

1321 RENCANA LOKASI PELABUHAN

55 TERMINAL (BAGIAN DARI PELABUHAN)

SESUAI KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KP 432 TAHUN 2018


TENTANG RENCANA INDUK PELABUHAN NASIONAL

KEBIJAKAN PELABUHAN NASIONAL diarahkan dalam upaya:


1. MENDORONG INVESTASI SWASTA 5. MENCIPTAKAN KERANGKA KERJA HUKUM DAN PERATURAN YANG TEPAT SERTA FLEKSIBEL
2. MENDORONG PERSAINGAN 6. MEWUJUDKAN SISTEM OPERASI PELABUHAN YANG AMAN, TERJAMIN SERTA OPTIMAL
3. PEMBERDAYAAN PERAN PENYELENGGARA PELABUHAN 7. MENINGKATKAN PERLINDUNGAN LINGKUNGAN MARITIM
4. TERWUJUDNYA INTEGRASI PERENCANAAN 8. MENGEMBANGKAN SUMBERDAYA MANUSIA

DIKLAT AHLI KEPELABUHANAN ANGKATAN XXIV- 2018 6


PROFIL PELABUHAN DI INDONESIA
S.D. TAHUN 2022
3672
PELABUHAN &
28 PELB UTAMA
636 PELB TERMINAL
UNT 164 PELB PENGUMPUL
MELAYANI 166 PELB PENGUMPAN REG
ANGK LAUT 2012 1394
278 PELB PENGUMPAN LOK PELABUHAN/TERMINAL TERSUS & TUKS
UMUM (Januari 2018)
1321 RENC LOKASI (LOKAL) (Sampai 2022)

55 TERMINAL UMUM 111 PELB KOMERSIAL


DIOPERASIKAN OLEH:
- PT. PELINDO I - IV
- BP SABANG
- BP BATAM

1846 PELB NON


KOMERSIAL
DIKELOLA OLEH
PEMERINTAH

55 TERMINAL UMUM
DIKELOLA OLEH BUP

Sumber: Rencana Induk Pelabuhan Nasional - 2018


DIKLAT AHLI KEPELABUHANAN ANGKATAN XXIV- 2018 7
PEDOMAN PROSES PERENCANAAN DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN PERHUBUNGAN
1) SISTRANAS (SISTEM TRANSPORTASI NASIONAL)
TATANAN MAKRO
2) TATRANAS (TATANAN TRANSPORTASI NASIONAL)
STRATEGIS
3) TATRAWIL (TATANAN TRANSPORTASI WILAYAH)
PERHUBUNGAN (TMSP)
4) TATRALOK (TATANAN TRANSPORTASI LOKAL)

TRANSPORTASI LAUT :
DOKUMEN 1) CETAK BIRU PENGEMBANGAN TRANSPORTASI LAUT,
RENCANA UMUM
PERENCANAAN 2) CETAK BIRU PENGEMBANGAN JARINGAN PELAYANAN ANGKUTAN LAUT
PENGEMBANGAN
SESUAI 3) CETAK BIRU PENGEMBANGAN KAPASITAS DAN ARMADA KAPAL NASIONAL
PERHUBUNGAN (RUPP)
KM 31 4) CETAK BIRU TATANAN KEPELABUHANAN NASIONAL
TAHUN 2006 5) CETAK BIRU PENGEMBANGAN KESELAMATAN DAN KEAMANAN PELAYARAN

RENCANA TEKNIS TRANSPORTASI LAUT :


PENGEMBANGAN 1) PRA FS PELABUHAN
PERHUBUNGAN (RTPP) 2) FS PELABUHAN
3) RIP (RENCANA INDUK PELABUHAN)
4) AMDAL KEPELABUHANAN
5) SID PELABUHAN/DERMAGA NAVIGASI/SBNP
PETUNJUK, PEDOMAN & 6) BASIC DESIGN PELABUHAN
STANDAR TEKNIS 7) DED PELABUHAN
PERHUBUNGAN 8) STUDI EVALUASI HASIL/MANFAAT PROYEK PELABUHAN/ANGKUTAN LAUT
9) RENCANA TEKNIS PENUNJANG KEGIATAN PEMERIKSAAN KELAIKLAUTAN KAPAL
10) RENCANA TEKNIS PEMBUATAN SEAFEARER IDENTIFICATION DOCUMENT
RENCANA DALAM SISTEM 11) SID PERENCANAAN DAN PENATAAN ALUR PELAYARAN,
PERENCANAAN 12) KRITERIA PERENCANAAN FASILITAS SBNP
PEMBANGUNAN 13) SURVEY PEMBANGUNAN SROP
PERHUBUNGAN 14) RECOVERY & MAINTENANCE PLAN SARANA DAN PRASARANA KENAVIGASIAN

DIKLAT AHLI KEPELABUHANAN ANGKATAN XXIV- 2018 8


RENCANA TEKNIS PENGEMBANGAN PELABUHAN
BERDASARKAN KEPMENHUB NO PM. 112 TH 2017 TENTANG PEDOMAN & PROSES PERENCANAAN PEMBANGUNAN DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN PERHUBUNGAN

Tahap
Tahap Pra Tahap Pasca
Tahap Desain Konstruksi/
Desain Konstruksi
Fisik

Pra Studi Kelayakan Dokumen Rencana


Survai, Investigasi Dokumen Evaluasi
(Preliminary Kerja dan Syarat –
dan Rancangan Dasar Manfaat Proyek
Feasibility Study) Syarat (RKS)

Studi Kelayakan Rancangan Rinci


(Feasibility Study) (Detailed Desgin/
Engineering Design)

Rencana Induk
(Master Plan)

Studi Amdal

DIKLAT AHLI KEPELABUHANAN ANGKATAN XXIV- 2018 9


ALUR PENYUSUNAN PRA DASAR 1 PROSES SELEKSI
STUDI KELAYAKAN (PRA-FS) HASIL
PEMILIHAN LOKASI LOKASI
PENILAIAN LOKASI
PEMBANGUNAN (LONG LIST) (LONG LIST  SHORT LIST)
PELABUHAN LAUT Data Dukung berupa Dokumen Penilaian lokasi Long List  Short List • Lokasi terpilih merupakan lokasi
Perencanaan baik Pusat maupun 1. Pola Ruang (Kawasan Lindung) yang potensial dan prioritas untuk
Daerah. 2. Skala Pelayanan (Jarak Antar Pelabuhan) dikembangkan sebagai calon lokasi
2 3
• Pusat : Rencana Induk Pelabuhan 3. Kinerja Pelabuhan Eksisting
pelabuhan baru.
MENGINDETIFIKASIKAN SUATU Nasional (RIPN), Daerah tertinggal dan 4. Kondisi Akses Jalan
• Selanjutnya ditindaklanjuti sebagai
KAWASAN/REGION YANG SESUAI Kawasan Perbatasan, Wilayah 5. Topografi Wilayah
6. Perilaku Masyarakat (Pola Pergerakan) pertimbangan untuk kegiatan Studi
UNTUK PEMBANGUNAN Kepulauan, Kawasan Strategi
Kelayakan (FS)
PELABUHAN BARU DENGAN Pariwisata Nasional (KSPN)
• Daerah : PROSES
MEMPERHATIKAN ASPEK TATA • Lokasi yang tidak terpilih artinya
- Rencana Tata Ruang Wilayah
RUANG, TRANSPORTASI WILAYAH, (RTRW) Provinsi dan
PENILAIAN LOKASI bukan kawasan yang tepat untuk
EKONOMI WILAYAH, SOSIAL Kabupaten/Kota PRIORITAS dibangun pelabuhan baru sehingga
KEPENDUDUKAN, LINGKUNGAN - Tataran Transportasi Wilayah tidak direkomendasikan untuk
Penilaian terhadap lokasi short list tahapan selanjutnya.
DAN TEKNIS SEHINGGA DAPAT (Tatrawil)/Tataran Transportasi Lokal
 Aspek Tata Ruang dan Kebijakan
TERPETAKAN KESESUAIAN LOKASI (Tatralok)
 Transportasi Wilayah (ketersediaan akses
DAN PRIORITAS LOKASI darat, laut, bangkitan-tarikan, sebaran
Usulan lokasi juga berasal dari
PEMBANGUNAN PELABUHAN BARU pergerakan)
Pemerintah Daerah
 Ekonomi Wilayah (potensi komoditas,
Pertimbangan lain berupa telah pertumbuhan wilayah)
berkembangnya aktivitas angkutan laut  Sosial Kependudukan (jumlah penduduk,
seperti Angkutan Laut Perintis namun IPM)
belum didukung penyediaan prasarana  Lingkungan (rawan bencana, rona
infrastruktur pelabuhan lingkungan hidup)
 Teknis (topografi lokasi,
bathymetri/kedalaman, iklim, gelombang,
arus, angin, pasang-surut)

DIKLAT AHLI KEPELABUHANAN ANGKATAN XXIV- 2018 10


ALUR STUDI KELAYAKAN DASAR PROSES HASIL
(FS) PERTIMBANGAN PEMILIHAN PENILAIAN PENILAIAN
PEMBANGUNAN LOKASI KAWASAN POTENSIAL KAWASAN PENILAIAN
PELABUHAN LAUT Penilaian terhadap alternatif
Merupakan rekomendasi dari • Lokasi terpilih merupakan
kegiatan Pra Studi Kelayakan (Pra FS) lokasi dalam satu kawasan
lokasi yang paling ideal
berdasarkan
Data Dukung berupa Dokumen  Analisis Tata Ruang berdasarkan perbandingan
GUNA MENILAI KELAYAKAN Perencanaan baik Pusat maupun terhadap alternatif lokasi
Wilayah Studi
PEMBANGUNAN PELABUHAN DARI Daerah.  Analisis Potensi Hinterland terbaik sesuai dengan
ASPEK TEKNIS, EKONOMI, • Pusat : Rencana Induk Pelabuhan  Analisis Potensi
LINGKUNGAN, PERTUMBUHAN Nasional (RIPN), Daerah tertinggal aspek penilaian kelayakan
Pergerakan
EKONOMI DAN PERKEMBANGAN dan Kawasan Perbatasan, Wilayah • Penetapan Lokasi
 Kajian Teknis terhadap
SOSIAL DAERAH SETEMPAT, Kepulauan
Kebutuhan Prasarana ditetapkan oleh Menteri
KETERPADUAN INTRA DAN • Daerah : Perhubungan.
Pelabuhan
ANTARMODA, AKSESIBILITAS - Rencana Tata Ruang Wilayah
(RTRW) Provinsi dan
 Analisis Kelayakan Teknis
TERHADAP HINTERLAND,  Analisis Kelayakan
Kabupaten/Kota
KEAMANAN DAN KESELAMATAN Ekonomi
- Tataran Transportasi Wilayah
PELAYARAN SERTA KETERSEDIAAN  Analisis Kelayakan
(Tatrawil)/Tataran Transportasi
LAHAN Lokal (Tatralok) Finansial
 Analisis Kelayakan
Usulan lokasi juga berasal dari Lingkungan
Pemerintah Daerah  Analisis Keamanan dan
Keselamatan Pelayaran
Dukungan Lahan dan Akses Jalan oleh  Analisis Proyeksi
Pemerintah Daerah Kemanfaatan Pelabuhan

DIKLAT AHLI KEPELABUHANAN ANGKATAN XXIV- 2018 11


TINJAUAN UMUM

SETIAP PELABUHAN WAJIB MEMILIKI RENCANA INDUK PELABUHAN

PENGATURAN RUANG PELABUHAN BERUPA PERUNTUKAN RENCANA


TATA GUNA TANAH DAN PERAIRAN DI DLKr & DLKp, dan
PENTAHAPAN PENGEMBANGAN PELABUHAN
BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 17
TAHUN 2008 TENTANG PELAYARAN DAN DISUSUN OLEH PENYELENGGARA PELABUHAN DENGAN
PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 61 TAHUN BERPEDOMAN PADA RENCANA INDUK PELABUHAN NASIONAL DAN
2009 TENTANG KEPELABUHANAN RENCANA TERKAIT LAINNYA

a. RIPN; RTRW PROPINSI DAN RTRW KABUPATEN/KOTA;


JANGKA WAKTU PERENCANAAN :
b. KESERASIAN DAN KESEIMBANGAN DENGAN KEGIATAN LAIN TERKAIT LOKASI
- PANJANG : 15 – 20 THN
PELABUHAN;
- MENENGAH : 10 – 15 THN
c. KELAYAKAN TEKNIS, EKONOMIS DAN LINGKUNGAN; DAN
- PENDEK : 5 – 10 THN
d. KEAMANAN DAN KESELAMATAN LALU LINTAS KAPAL.

PELABUHAN PENETAPAN REKOMENDASI


UTAMA MENHUB GUBERNUR & BUPATI/WALIKOTA
PENGUMPUL MENHUB GUBERNUR & BUPATI/WALIKOTA
PENGUMPAN REGIONAL GUBERNUR BUPATI/WALIKOTA + REKOMENDASI TEKNIS
DARI DJPL
PENGUMPAN LOKAL BUPATI/WALIKOTA REKOMENDASI TEKNIS DARI DJPL

DIKLAT AHLI KEPELABUHANAN ANGKATAN XXIV- 2018 12


DIKLAT AHLI KEPELABUHANAN ANGKATAN XXIV- 2018 13
Pengumpulan
Data Eksisting Kebutuhan Zonasi dan
Analisa dan Pengembangan Layout Per Rancangan
(melalui survey Proyeksi Data Fasilitas Tahapan DLKr/P
data primer dan Pelabuhan Pengembangan
sekunder)

- Gambaran umum - Analisis - Kebutuhan fasilitas - Layout pengemb. Jk - Rancangan DLKr


wilayah perkembangan darat pendek darat
- Data Operasional wilayah - Kebutuhan fasilitas - Layout pengemb. Jk. - Rancangan DLkr
- Fasilitas Eksisting - Proyeksi arus barang perairan menengah perairan
- Survey Batimetri, - Proyeksi arus - Rekapitulasi - Layout pengemb. Jk. - Rancangan DLKp
topografi, rona penumpang pengembangan per Panjang
lingkungan - Proyeksi kunjungan tahapan - Layout zonasi
- dll kapal perairan

DIKLAT AHLI KEPELABUHANAN ANGKATAN XXIV- 2018 14


DIKLAT AHLI KEPELABUHANAN ANGKATAN XXIV- 2018 15
DIKLAT AHLI KEPELABUHANAN ANGKATAN XXIV- 2018 16
DIKLAT AHLI KEPELABUHANAN ANGKATAN XXIV- 2018 17
STUDI LINGKUNGAN
DASAR PROSES HASIL
PEMBANGUNAN
PELAKSANAAN PELAKSANAAN PELAKSANAAN
PELABUHAN LAUT AMDAL – UKL/UPL AMDAL – UKL/UPL AMDAL – UKL/UPL
Merupakan tindaklanjut RIP Kriteria pelaksanaan studi lingkungan Penerbitan ijin lingkungan yaitu :
berdasarkan peraturan perundang-
khususnya berkaitan dengan • AMDAL diterbitkan oleh KLH
undangan sebagai berikut :
identifikasi terhadap dampak  PM. Menteri Lingkungan Hidup Nomor • UKL-UPL diterbitkan oleh
yang ditimbulkan terhadap 5/2012 terkait AMDAL dengan BPLHD
lingkungan hidup akibat ketentuan untuk pembangunan
rencana pembangunan pelabuhan dermaga bentuk konstruksi
pelabuhan serta langkah sheet on pile/open pile dengan ukuran
≥200 m atau ≥6000 m2, dermaga masif,
pencegahan, penanggulan
penahan gelombang ≥200 m,
dan pengelolaan serta pengerukan ≥500.000 m3
pemantauannya baik dampak  PM. Menteri Lingkungan13/2010
negatif maupun dampak terkait UKL-ULP dengan ketentuan
positif yang dihasilkan untuk pembangunan pelabuhan
dermaga bentuk konstruksi sheet on
Usulan penyusunan SID juga pile/open pile dengan ukuran ≥200 m
dapat berasal dari Pemerintah atau ≥6000 m2, dermaga masif,
Daerah dengan dilengkapi penahan gelombang ≥200 m
dukungan penyediaan lahan
Dalam proses penyusunannya secara aktif
dan pembangunan akses jalan
melibatkan peran serta Kementerian
Lingkungan Hidup (KLH) dan Badan
Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah
(BPLHD)

DIKLAT AHLI KEPELABUHANAN ANGKATAN XXIV- 2018 18


SURVEI INVESTIGASI DAN DASAR PROSES HASIL
DESAIN (SID)/ DETAIL PELAKSANAAN PELAKSANAAN PELAKSANAAN
ENGINEERING DESIGN KEGIATAN KEGIATAN KEGIATAN
(DED) Tahapan penyusunan terdiri dari :
Merupakan tindaklanjut Dokumen Tender dan Gambar
• Survei Reconnaissance ( Pelaksanaan
penyusunan kegiatan penggambaran detail posisi geografis, • Gambar kontsruksi
Rencana Induk kondisi akses jalan) • Rencana kerja dan syarat-syarat
Pelabuhan yang • Survei Hidrografi dan Topografi • spesifikasi umum dan khusus
(konfigurasi dasar laut/sungai, pasang • Bill of Quantity (BoQ)
menekankan pada surut, arus, gelombang, kondisi air • Rencana Anggaran Biaya (RAB)
penyusunan laut, erosi dan sedimentasi, kondisi • Analisa Harga Satuan
perhitungan konstruksi, topografi)
• Survei dan Penyelidikan Tanah Pengesahan desain oleh Direktur
Rencana Kerja dan Jenderal Perhubungan Laut melalui
(perencanaan sistem pondasi, analisa
Syarat-syarat (RKS), Bill daya dukung pondasi, analisa Direktur Pelabuhan dan Pengerukan
of Quantity (BQ), penurunan tanah, analisa perbaikan
Rencana Anggaran dan tanah)
• Desain Perencanaan Konstruksi
Biaya (RAB) serta (Dermaga, fasilitas terminal
gambar rencana penumoang gudang, jalan, lapangan
pelabuhan baru. penumpukan, kantor pelabuhan,
trestle/causeway)

DIKLAT AHLI KEPELABUHANAN ANGKATAN XXIV- 2018 19


TANTANGAN PENGEMBANGAN PELABUHAN DI INDONESIA
GEOSPASIAL KEBIJAKAN-INSTITUSIONAL
 7,8 Juta km2 Area Yuridis  Tumpang tindih kebijakan
 5,9 Juta km2 Area Yuridis Laut  Integrasi antar stakeholder
 34 Provinsi  Transportasi laut bersifat
 17.504 Pulau multidimensi
 94.156 km Garis Pantai  Ego Sektoral

SOSIAL-EKONOMI VARIABEL TRANSPORTASI


 255,5 Juta Penduduk  Integrasi intra dan antar moda
 Disparitas wilayah (KBI dan  Konektifitas antar infrastruktur
KTI) transportasi
 Biaya logistik tinggi  Industri pelayaran
 Pendanaan/Pembiayaan  Sumber Daya Manusia

SINGAPURA TANTANGAN GEOSTRATEGIS - GEOPOLITIK MALAYSIA

MISAL :
- PERKEMBANGAN TEKNOLOGI
- PERKEMBANGAN INDUSTRI PERKAPALAN (UKURAN KAPAL)
- RENCANA STRATEGIS MARITIM NEGARA LAIN

DIKLAT AHLI KEPELABUHANAN ANGKATAN XXIV- 2018 20


KONSTELASI NEGARA INDONESIA
 Populasi : 255.5 Juta  Area Yuridis : 7,8 Juta Km²
 Pertumbuhan Pend : 1.38%  Area Yuridis Laut : 5,9 Juta Km²
 IPM : 69,55 • Laut Nusantara : 2,9 Juta Km²
 PDRB : 8.976,93 Triliun • Laut Teritorial : 0,3 Juta Km²
 PDRB Per Kapita : 35,14 Juta • ZEE : 2,7 Juta Km²
 Pertumbuhan Eko : 5,02%  Luas Daratan : 1,9 Juta Km²
 Provinsi : 34 Provinsi
 Jumlah Pulau : 17.504 Pulau
SOSIAL-EKONOMI  Garis pantai 94.156 km (No 4 terpanjang
setelah Kanada, AS dan Rusia)
 Strategis antara 2 benua (Asia dan
Australia
 Memiliki 3 ALKI
GEOSPASIAL

Sumber: Buku Statistik Indonesia – 2015 dan BPS - 2018


DIKLAT AHLI KEPELABUHANAN ANGKATAN XXIV- 2018 21
LOGISTIC COMPETITIVENESS NEGARA INDONESIA

GLOBAL COMPETITIVENESS INDEX (GCI) LOGISTIC PERFORMANCE INDEX (LPI)

TAHUN PERINGKAT (Dari 40) PERINGKAT SESUAI INDIKATOR


PERINGKAT
TAHUN PELAYARAN KUALITAS LOGISTIK
(Dari) INFRASTRUKTUR
2014 - 2015 34 INTERNASIONAL & KOMPETENSI

2015 - 2016 37 2012 59 (155) 85 57 62

2016 - 2018 41 2014 53 (160) 56 74 41

TERDIRI DARI 12 PILAR: 2016 63 (160) 73 71 55


Institusi, Infrastruktur, Lingk
Makroekonomi, Kesehatan & Pend Dasar, LPI DITETAPKAN BERDASARKAN 6 KOMPONEN:
Pend Tinggi, Efisiensi Pasar Barang, Efisiensi dari customs dan border management clearance, Kualitas perdagangan
Efisiensi Pasar Tenaga Kerja, Pasar & infrastruktur transportasi, Kemudahan dalam menentukan biaya
Finansial, Kesiapan Teknologi, Skala Pasar, pengangkutan melalui laut yang kompetitif, Kompetensi dan kualitas pelayanan
Kepuasan Berbisnis, dan Inovasi di bidang logistik, Kemampuan dalam melacak dan memonitor pengiriman
barang dan Frekuensi pelayaran yang memuaskan pengguna jasa

Sumber: World Bank and World Economic Forum - 2018


DIKLAT AHLI KEPELABUHANAN ANGKATAN XXIV- 2018 22
COMPETITIVENESS INDONESIA
BERDASARKAN INDIKATOR BIDANG MARITIM

PENGARUH INDONESIA SECARA GLOBAL - 2015 VOLUME PETI KEMAS INDONESIA - 2015
THROUGHPUT PETI KEMAS 1.74% 9.638.607 TEUs
2012
PEMBANGUNAN KAPAL 0.14%
2013 11.273.450 TEUs
KEPEMILIKAN KAPAL 1.00%

KAPAL BERBENDERA INDONESIA 1.00% 2014 11.900.763 TEUs


IMPOR BARANG 0.86%
2015 12.031.671 TEUs
EKSPOR BARANG 0.91%
1,74% dari total volume secara global - Peringkat 12 (2015)
PDRB (US$) 1.17%

POPULASI 3.50%
PROYEKSI KARGO DI INDONESIA (JUTA TON)
VOLUME PETI KEMAS DUNIA - 2015 599,0 214,5 182,1 126,6 960,2 413,2 293,2 477,7
Curah Kering
698,329,000
691,957,719
684,429,000 Curah Cair

General Cargo
651,201,000
Peti Kemas

624,480,000

2012 2013 2014 2015 2016


2012 2030
Sumber: UNCTAD, World Bank, RIPN - 2018
DIKLAT AHLI KEPELABUHANAN ANGKATAN XXIV- 2018 23
KUALA TANJUNG BEBERAPA BITUNG
 DIRENCANAKAN SEBAGAI PELABUHAN HUB  DIRENCANAKAN SEBAGAI PELABUHAN HUB
INTERNASIONAL (WILAYAH BARAT INDONESIA)
PELABUHAN/TERMINAL INTERNASIONAL (WILAYAH TIMUR INDONESIA)
 DEKAT DENGAN SELAT MALAKA DAN JALUR STRATEGIS PENDUKUNG  DIDUKUNG OLEH PENGEMBANGAN KAWASAN
PERDAGANGAN UTAMA DUNIA POROS MARITIM EKONOMI KHUSUS (KEK)
 PELABUHAN DENGAN KEDALAMAN MEMADAI  PELABUHAN DENGAN KEDALAMAN MEMADAI
(MAMPU MENGAKOMODIR ULCC) (MAMPU MENGAKOMODIR ULCC)

BELAWAN MAKASSAR NEW PORT


 TAHAP 1: DERMAGA 350 M, CONTAINER YARD  TAHAP 1 FASE 1: DILAKSANAKAN OLEH PT.
12 HA DAN TAHAP 2 : DERMAGA 350 M, PELINDO IV (TERMINAL PETI KEMAS DENGAN
CONTAINER YARD 12 HA PANJANG DERMAGA 320 M)
 MAMPU MENINGKATKAN VOLUME PETI KEMAS  TAHAP 1 FASE 2 DAN 3 (TERMINAL PETI KEMAS
DARI 1 JUTA TEUS MENJADI 2,2 JUTA TEUS DENGAN PANJANG DERMAGA 680 M)

TERMINAL KIJING PELABUHAN


PONTIANAK
NPCT 1 – TANJUNG PRIOK  DILAKSANAKAN OLEH PT. PELABUHAN TELUK LAMONG – TANJUNG PERAK
OPERATOR : PT. NPCT 1 INDONESIA II (PERSERO)  TAHAP 1 :
KAPASITAS : 1,5 Juta TEUs  KAPASITAS ULTIMATE 1,95 JUTA TEUS, • OPERATOR PT. PELINDO III
FASILITAS : 12 JUTA TON/TAHUN CURAH CAIR DAN • TERMINAL PETI KEMAS DENGAN LUAS AREA
 DERMAGA : 850 M 15 JUTA/TAHUN TON CURAH KERING 38,86 HA
 CY : 32 Ha  TARGET OPERASI (INITIAL PHASE) DI • PANJANG DERMAGA 950 M
 KEDALAMAN : -16 M Lws TAHUN 2019 • CY SELUAS 23,86 HA

DIKLAT AHLI KEPELABUHANAN ANGKATAN XXIV- 2018 24


ARAHAN STRATEGI PERTIMBANGAN IMPLEMENTASI RENCANA PENGEMBANGAN PELABUHAN DARI SISI
PENGEMBANGAN PELABUHAN PERAN SWASTA DAN KECENDERUNGAN GLOBAL

BERORIENTASI TERHADAP DEMAND


GLOBAL (MARKET) RENCANA PENGEMBANGAN TERINTEGRASI -
TANGGAP TERHADAP KECENDERUNGAN PERMINTAAN
(SHIPPERS PERSPECTIVE/ GLOBAL MARKET OF COMPREHENSIVE PLANNING PENURUNAN TARIF - PENINGKATAN KINERJA –
SHIPPING INDUSTRIES) TERMASUK PERKEMBANGAN PENGEMBANGAN FASILITAS SESUAI DEMAND PASAR
KAPAL

KERJASAMA DENGAN GLOBAL PORT


OPERATORS - SHIPOWNERS/SHIPPING
LINES - POTENTIAL INDUSTRIES
TRANSFER OF KNOWLEDGE, TRANSFER OF MENGGANDENG PELAKU UTAMA DI INDUSTRI
TECHNOLOGY ATAU KESEPAKATAN INVESTASI ATAU SKEMA B-To-B PELAYARAN GLOBAL DAN PENGUATAN INDUSTRI
KERJASAMA OPERASI (BUKAN TRANSFER KONSESI) PELAYARAN NASIONAL

PENINGKATAN KOORDINASI ANTAR


PEMANGKU KEPENTINGAN
ANTAR REGULATOR - ANTARA REGULATOR DENGAN REGULASI/KEBIJAKAN: G-TO-G AGREEMENT-
OPERATOR - ANTAR REGULATOR, OPERATOR DAN INTERVENSI PEMERINTAH PENGUATAN KOORDINASI ANTAR PEMANGKU
STAKEHOLDER LAIN TERKAIT TERMASUK PENGGUNA KEPENTINGAN DI PELABUHAN
JASA

KEMBANGKAN UNIQUE SELLING


PROPOTITION (USP) UNTUK STRATEGI
PENINGKATAN KAPASITAS BUSINESS PLAN, PENYIAPAN SDM, PENDEKATAN
PEMASARAN OPERASIONAL BERBASIS TEKNOLOGI (TERINTEGRASI)
PENGEMBANGAN GCG - ORIENTASI TEKNOLOGI - OPERATOR
PENINGKATAN LAYANAN

DIKLAT AHLI KEPELABUHANAN ANGKATAN XXIV- 2018 25


12 PILAR UTAMA PENGEMBANGAN PELABUHAN
BERDASARKAN KECENDERUNGAN PERKEMBANGAN GLOBAL DAN INDUSTRI MARITIM

PERENCANAAN PENGEMBANGAN PELABUHAN (KHUSUSNYA OLEH SWASTA) HARUS BERORIENTASI KEPADA KECENDERUNGAN DEMAND SECARA GLOBAL

PERLU PERENCANAAN YANG MATANG DENGAN BERORIENTASI KEPADA POTENSI DAN PERHITUNGAN KELAYAKAN (FINANSIAL DAN EKONOMI) YANG
TEPAT (MEMERLUKAN OUTLINE BUSSINESS CASE DAN FINANCIAL BUSSINESS CASE YANG DITETAPKAN SECARA KOMPREHENSIF)

PORT INDUSTRIES SHIPPING INDUSTRIES SUPPORTING INDUSTRIES


Investasi untuk pelabuhan (khususnya Investasi industri perkapalan untuk Pengembangan logistic centers/dry ports
1 pelabuhan baru dengan kedalaman 5 menjawab tantangan perkembangan 8 sebagai penguatan konsep konektivitas
memadai sesuai perkembangan kapal) teknologi perkapalan dalam rangka efektifitas dan efisiensi
World-class Operation diperlukan Penguatan integrasi bidang perkapalan Penguatan dan pengembangan
untuk meningkatkan kinerja dan dengan pelabuhan melalui konektivitas melalui:
2 pelayanan pelabuhan 6 pengembangan sistem jaringan dan pola 9 - Konektivitas infrastruktur (pelabuhan
pengembangan yang terpadu ke pusat logistic dsb)
- Teknologi informasi
Regulasi harus mendukung 2 hal Pengembangan industri galangan kapal Harmonisasi regulasi
utama: sebagai komponen pendukung industri
3 7 10
- Landlord dan konsesi perkapalan
- Proses distribusi kargo
Tarif Pelabuhan harus kompetitif Penguatan profesionalisme dan
4 11
koordinasi antar stakeholders
12 Peningkatan SDM

DIKLAT AHLI KEPELABUHANAN ANGKATAN XXIV- 2018 26


KEMENTERIAN PERHUBUNGAN
DIREKTORAT JENDERAL PERHUBUNGAN LAUT
DIREKTORAT KEPELABUHANAN

TERIMA KASIH