Anda di halaman 1dari 14

AUDIT ATAS FUNGSI PENGADAAN

NAMA KELOMPOK 7

1. AIZATUL AULIA (201512134)

2. ISA PUJI LESTARI (201512155)

3. ANGGA RESTI H. (201512173)

4. NANA PITA AMALIA (201512263)

5. BIMA ALKHAKIM (201512267)

6. HERU EHSANUDIN (201512273)

7. LAILY MIRA SUSANTI (201512283)


TUJUAN AUDIT

1. Untuk mencapai tujuan, sesuai dengan visi dan misi organisasi


2. menilai ekonomisasi,efisien,dan efektifitas pengadaan; serta melindungi aset
(dana) perusahaan dari pemborosan,kesalahan pengelolaan,penyalahgunaan
dan berbagai bentuk penyimpangan lainnya
3. mendorong pengembangan dan pemeliharaan manajemen informasi
pengadaan yang dapat diandalkan serta pengungkapan informasi tersebut
dalam laporan periode, termasuk pemenuhan kewajiban akuntanbilitas
4. memastikan bahwa aktifitas pengadaan telah sesuai dengan ketentuan dan
peraturan yang berlaku.
MANFAAT AUDIT

Dari hasil audit fungsi ini, perusahaan mendapatkan laporan yang menyajikan hasil
penilaian atas organisasi, peraturan dan aktifitas pengadaan yang telah dilakukan
maupun temuan-temuan audit serta rekomendasi yang dapat dijadikan dasar untuk
melakukan perbaikan atas kekurangan (kelemahan) proses pengadaan yang masih
terjadi.

C. Ruang Lingkup Audit

Audit atas fungsi pengadaan melakukan penilaian atas keseluruhan fungsi pengadaan
baik organisasinya pedoman atau peraturan yang menjadi panduan
pengadaan,perencanaan,proses,dan penyelesaian pengadaan (penerimaan barang atau
jasa). Secara terperinci ruang lingkup audit fungsi pengadaan mengikuti:
1. organisasi pengadaan
2. proses pengadaan yang terdiri atas
a. Perencanaan pengadaan
b. Pelaksanaan pengadaan,dan
c. Pembayaran dan pelaporan
Langkah-Langkah Audit

Audit atas fungsi pengadaan adalah untuk menilai apakah proses pengadaan telah
sesuai dengan prinsip-prinsip tata kelola yang baik. Sesuai dengan tujuan tersebut,
proses audit harus mampu mendapatkan bukti yang cukup, relevan,dan dapat
dipercaya,serta melakukan penilaian atas kesesuaian praktik yang terjadi dengan
pedoman yang menjadi kriterianya.secara umum, proses audit pengadaan barang / jasa
meliputi beberapa langkah yang meliputi hal-hal berikut.
1. Perencanaan audit
Audit atas fungsi pengadaan barang atau jasa harus direncanakan untuk
memastikan audit berjalan dengan kualitas tinggi dalam menilai ekonomisasi,
efisiensi,dan efektifitas pengadaan barang atau jasa. Perencanaan audit menyakup;
a. Penilaian resiko dan penentuan ruang lingkup audit
b. Penentuan jadwal audit
c. Menentukan kebutuhan sumber daya dalam melaksanakan audit
dalam membuat rencana detail audit,ketua tim audit harus
mempertimbangkan beberapa hal termasuk;
a. Resiko,tingkat materialitas dan prioritas pada setiap aktifitas audit
b. Area audit yang signifikan
2. Pengumpulan dan evaluasi temuan audit
3. laporan
4. tindak lanjut hasil audit
PROSES PENGADAAN BARANG / JASA

Proses pengadaan barang dan jasa harus mencerminkan keinginan organisasi


untuk mendapatkan barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhannya secara
ekonomis, efisien,dan efektif. Secara umum proses pengadaan diawali dengan
perencanaan, pelaksanaan,pelaporan dan efaluasi atas aktifitas pengadaan.
Setiap aktifitas pada masing-masing tahap tersebut dipandu oleh
sistem,prosedur dan kebijakan sebagai pedoman tetap kelola pengadaan yang
baik
1. Perencanaan pengadaan
2. pelaksanaan pengadaan
3. pelaksanaan kontrak penyerahan barang
4. pembayaran dan pelaporan
KECURANGAN DALAM PENGADAAN

Fungsi pembelian merupakan area yang sangat sensitif dan menjadi sorotan
banyak pihak dikarenakan beberapa aktifitas pada fungsi ini. Disamping
melibatkan uang dalam jumlah yang besar,fungsi pembelian juga rawan dari
berbagai godaan atau celah-celah untuk melakukan korupsi.pengadaan
melibatkan pembeli dan penjual, dimana masing-masing pihak memiliki
berbagai cara untuk melakukan korupsi pada setiap tahapan proses
pengadaan.pihak pemasok berkepentingan dengan penjualan produknya dan
mengharapkan keuntungan dari penjualan tersebut. Untuk mencapai tujuan
tersebut, berbagai perilaku menyimpang berikut ini mungkin dilakukan.
1. berkolusi dengan pihak pembeli dalam menentukan harga penawaran
2. secara diskriminatif meningkatkan standar teknis, sehingga pemasok lain
sulit untuk memenuhinya
3. mencampuri secara tidak beretika pekerjaan evaluator baik dalam proses
tender maupun dalam serah terima barang atau jasa
4. memberi sogokan
Berbagai godaan, baik yang timbul dari perilaku buruknya maupun yang datang dari
pemasok, mendorong pihak pembeli terjebak pada perilaku menyimpang seperti ;
1. menentukan spesifikasi yang menguntungkan pemasok tertentu
2. membatasi penyebaran informasi berkaitan dengan kesempatan melakukan tender
3. berdalih pada kepentingan yang mendesah untuk melakukan penunjukan terhadap
pemasok tertentu tanpa melalui tender untuk pengadaan yang seharusnya melalui
tender
4. melanggar kerahasiaan penawaran pemasok
5. mendiskualifikasi pemasok potensial melalui prakualifikasi yang tidak benar
6. menerima sogokan
7. gagal dalam memenuhi standar kualitas , kuantitas,dan standar kinerja pengadaan
lainnya
8. mengalihkaan pengiriman barang untuk dijual kembali atau digunakan secara pribadi
9. meminta keuntungan pribadi dari pemasok
10. memalsukan kualitas atau standar sertifikasi
11. meningkatkan atau menurunkan nilai faktur
Berbagai penyimpangan lain yang mungkin terjadi dalam pengadaan dapat berupa;
1. pengadaan barang fiktif
2. harga pengadaan barang di mark up
3. pajak / PNBP sehubungan dengan pengadaan barang tidak dipungut dan atau tidak
disetorkan
4. kuantitas / volume hasil pengadaan barang dikurangi
5. kualitas hasil pengadaan barang direndahkan
6. keterlambatan penyelesaian pekerjaan pengadaan barang
7. hasil pengadaan barang tidak bermanfaat / tidak dimanfaatkan (misalnya berlebihan,
tidak sesuai kebutuhan, kualitas rendah, rusak)
8. pelanggaran ketentuan / peraturan pengadaan barang yang terindikasi praktik KKN

Untuk mencegah adanya kesempatan penyimpangan (korupsi) dalam pengadaan ini,


sistem pengadaan yang dibuat perusahaan harus transparan dan efisien berdasarkan
prinsip-prinsip pengadaan berikut ini
1. nilai uang
2. kejujuran dan keadilan
3. akuntabel dan transparan
4. efisiensi
5. kompetensi dan integritas
AUDIT ATAS ORGANISASI
PENGADAAN

Audit atas organisasi pengadaan melakukan penilaian atas efektivitas


organisasi pengadaan dalam melakukan pengadaan barang / jasa secara efisien.
Pada audit ini, auditor menilai ketepatan :
1. penempatan organisasi pengadaan dalam struktur organisasi perusahaan
2. luas wewenang dan tanggung jawab yang dimiliki fungsi pengadaan dalam
memenuhi kebutuhan barang / jasa secara efektif dan efisien.
3. kompetensi personalia yang menangani dan bertanggung jawab terhadap
pengadaan barang / jasa
4. kecukupan prosedur pengadaan dalam memandu proses pengadaan dalam
kerangka tata kelola pengadaan barang / jasa yang baik
AUDIT ATAS PERENCANAAN
PENGADAAN

Audit atas perencanaan pengadaan melakukan penilaian terhadap ketepatan


rencana pengadaan dalam memenuhi kebutuhan barang / jasa unit-unit
pengguna didalam perusahaan. Pada audit ini, auditor menekankan
penilaiannya terhadap ketepatan hubungan antara rencana pembelian
(sprsifikasi,kuantitas,waktu) dengan rencana penggunaan barang / jasa pada
masing-masing unit pengguna. Untuk perusahaan perdagangan, disamping
penilaian terhadap ketepatan hubungan antara rencana pembelian dengan
rencana pejualan,juga dilakukan penilaian terhadap ketepatan jumlah
persediaan dalam menjaga stabilitas bisnis.
AUDIT ATAS PELAKSANAAN
PENGADAAN
Untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat rutin,banyak perusahaan saat ini hanya
melakukan transaksi dengan pemasok tertentu dalam pengadaan barang / jasanya. Dari
daftar pemasok terpilih yang dimiliki, perusahaan memperoleh keyakinan bahwa
pemasok tersebut mampu memenuhi kebutuhan barang atau jasanya secara tepat baik
kuantitas, kualitas,maupun waktu pada harga yang relatif lebih murah dari pemasok
lain. Hal ini adalah bagian dari strategi pengadaan yang efisien karena proses
pengadaan berjalan lebih singkat dan tidak melibatkan banyak pemasok. Perusahaan
yang menerapkan metode just intime (JIT) dalam proses produksinya,
mengintegrasikan kekuatan pemasok dalam strategi bisnisnya.

Pada pengadaan barang / jasa yang tidak bersifat rutin atau merupakan investasi dan
melibatkan sumber daya keuangan yang besar, perusahaan mungkin melakukannya
melalui tender terbatas atau tender terbuka, sesuai dengan besarnya nilai pengadaan dan
spesifikasi barang atau jasa yang dibutuhkan. Pedoman pengadaan barang / jasa yang
dimiliki perusahaan seharusnya mengatur batas-batas pengadaan yang harus dilakukan
melalui penunjukan langsung,tender terbatas,tender terbuka,berdasarkan spesifikasi
barang atau jasa yang dibutuhkan dan besarnya dana yang terlibat dalam pengadaan
tersebut.
AUDIT ATAS INSPEKSI DAN PENERIMAAN
BARANG ATAU JASA

Penanganan atas penerimaan barang/jasa harus berjalan dengan sangat hati-


hati.petugas yang melakukan inspeksi harus memiliki kemampuan teknis yang
memadai tentang spesifikasi barang/jasa yang dibeli dan menggunakan
keahlian profesionalnya secara saksama. Ketentuan penerimaan barang
sepertiyang tercamtum dalam pedoman pengadaan barang/jasa adalah panduan
utama bagi petugas inspeksi dalam melakukan tugas wewenang dan tanggung
jawabnya.maka dari itu seluruh aktivitasnya dalam inspeksi penerimaan
barang/jasa harus mencerminkan implementasi ketentuan peraturan
tersebut.titik kritis pada tahap ini adalah kecermatan dari petugas penerima dan
penilai dalam memastikan bahwa barang/jasa yang diterima telah memenuhi
seluruh spesifikasi dan waktu penyerahan yang dipersyaratkan.
AUDIT ATAS PEMBAYARAN DAN
PELAPORAN

Pembayaran dan pelaporan adalah bagian terahir dalam proses pengadaan.


Tahapan ini menyangkut penyelesaian kewajiban organisasi kepada pihak
pemasok dan pertanggung jawaban komite pengadaan atas
tugas,wewenang,dan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.
TERIMA KASIH

Anda mungkin juga menyukai