Anda di halaman 1dari 67

PENGERTIAN DAN UNSUR-

UNSUR MALPRAKTIK MEDIS


Pengertian PH Law
 Medikolegal/legal
 Menggunakan peraturan yg sudah ada (dibuat oleh
penguasa/pejabat sah masa lalu) sbg “payung hukum”

 Etikolegal
 Membuat peraturan baru berbasis etika (oleh penguasa/pejabat
sah masa kini utk kepentingan masa depan), krn peraturan lama
sdh tak memadai akibat perkembangan iptek, masyarakat
dunia/lokal, kapital, dll
 Bila telah disahkan : menjadi medikolegal masa depan
BLACK’S LAW DICTIONARY

MALPRACTICE
 PROFESSIONAL MISCONDUCT OR
UNREASONABLE LACK OF SKILL.

 FAILURE OF ONE RENDERING PROFESSIONAL


ARTINYA
SERVICES TO EXERCISE : DEGREE OF SKILL
THAT
AND LEARNING COMMONLY APPLIED UNDER ALL
LALAI MENGAKIBATKAN
THE CIRCUMSTANCES IN THE COMMUNITY BY THE
AVERAGE PRUDENT REPUTABLE MEMBER OF THE
CEDERA/
PROFESSION KERUGIAN
WITH THE RESULT OF INJURY, LOSS
OR DAMAGE TO THE RECIPIENT OF THOSE
SERVICES OR TO THOSE ENTITLED TO RELY UPON
THEM.
PENGERTIAN
MALPRAKTIK
 KATA MALPRAKTIK TIDAK ADA DALAM
PERATURAN PER-UU-AN DI INDONESIA

 Pasal 55 ayat (1) UU No 23 tahun 1992 tentang


Kesehatan : “setiap orang berhak atas ganti rugi
akibat kesalahan atau kelalaian yang dilakukan
tenaga kesehatan”.
 Pasal 50 UU No 29 tahun 2004 tentang Praktik
Kedokteran : “dokter dan dokter gigi berhak
memperoleh perlindungan hukum sepanjang
melaksanakan tugas sesuai dengan standar profesi
dan standar prosedur operasional”.

JADI, ……
MALPRAKTIK BILA “KESALAHAN”, “KELALAIAN”,
“TAK SESUAI STANDAR PROFESI”, “TAK SESUAI
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL” ????
Unsur malpraktik
1. Ada kesalahan dokter
2. Terjadi krn tidak menggunakan lmu dan ketrampilan
yg seharusnya dilakukan

3. Berdasarkan standar profesi


4. Mengakibatkan pasien terluka /cacat/ meninggal
MALPRAKTEK
 “INTENTIONAL” (secara sadar)
 PROFESSIONAL MISCONDUCTS
 NEGLIGENCE
 MALFEASANCE, MISFEASANCE,
NONFEASANCE

 LACK OF SKILL
 DI BAWAH STANDAR KOMPETENSI
 DI LUAR KOMPETENSI
PROFESSIONAL
MISCONDUCT
 PELANGGARAN DISIPLIN PROFESI
 PELANGGARAN STANDAR SECARA SENGAJA
(DELIBERATE VIOLATION)
 PELANGGARAN PERILAKU PROFESI
 PIDANA UMUM:
 PEMBOHONGAN (FRAUD /
MISREPRESENTASI)
 KETERANGAN PALSU
 PENAHANAN PASIEN
 BUKA RAHASIA KEDOKTERAN TANPA HAK
 ABORSI ILEGAL
 EUTHANASIA
 PENYERANGAN SEKSUAL
LACK OF SKILL
 KOMPETENSI KURANG ATAU DI LUAR
KOMPETENSI / KEWENANGAN
 SERING MENJADI PENYEBAB ERROR ATAU
KELALAIAN
 SERING DIKAITKAN DENGAN KOMPETENSI
INSTITUSI
 KADANG DAPAT DIBENARKAN PADA SITUASI-
KONDISI LOKAL TERTENTU (LOCALITY RULE,
LIMITED RESOURCES)

 TUNTUTAN DAPAT BERUPA KELALAIAN


Tingkatan malpraktik
(ringan – berat)
1. Eror of jugdment (kesalahan penilaian)
2. Slight negligence (kelalaian ringan)
3. Gross negligence (kelalaian berat)
4. Intentional wrongdoing atau criminal intent (tindakan
dengan sengaja yg bernafas kriminal)
KELALAIAN MEDIK

 JENIS MALPRAKTIK TERSERING


 BUKAN KESENGAJAAN
 TIDAK MELAKUKAN YG SEHARUSNYA
DILAKUKAN, MELAKUKAN YG SEHARUSNYA
TIDAK DILAKUKAN OLEH ORANG2 YG
SEKUALIFIKASI PADA SITUASI DAN KONDISI YG
IDENTIK
SYARAT KELALAIAN (4D)
 DUTY (Duty of care)
 KEWAJIBAN PROFESI
 KEWAJIBAN AKIBAT KONTRAK DG PASIEN
 DERELICTION / BREACH OF DUTY
 PELANGGARAN KEWAJIBAN TSB
 DAMAGES
 CEDERA, MATI ATAU KERUGIAN
 DIRECT CAUSALSHIP
 HUBUNGAN SEBAB-AKIBAT, SETIDAKNYA
PROXIMATE CAUSE
MEDICAL MALPRACTICE

 Medical malpractice involvesD2the


physician’s failure to conform to the
D1
standard of care for treatment of the
D2
patient’s condition, or lack of skill, or
D2
negligence in providing care to the
D4
patient, which is the direct cause of
an injury to the patient.
D3
World Medical Association, 1992
NEAR MISS
Adalah tindakan yg dapat mencederai pasien,
tetapi tidak mengakibatkan cedera karena
faktor kebetulan, pencegahan atau mitigasi
ERRORS
VIOLATION Setiap cedera yang lebih disebabkan oleh
manajemen medis drpd akibat penyakitnya

ADVERSE
EVENTS

UNPREVENTABLE

ACCEPTABLE UNFORESEEABLE DISEASE /


RISKS RISKS COMPLICATION
kelalaian
TERSERING DILAKUKAN
 Melakukan sesuatu yang seharusnya tidak
dilakukan
 Tidak melakukan sesuatu yang seharusnya
dilakukan

OLEH ORANG2 YG SEKUALIFIKASI PADA SITUASI DAN KONDISI YG IDENTIK

 Implikasi : ada standar profesi (sebagian mengatur


standar kompetensi Dr) sbg tolok ukur
 Ini sejalan dgn hukum disiplin : mengukur kurva
normal (rata2).
MISCONDUCT
SENGAJA, TERCELA
 FRAUD / MISREPRESENTASI
 PENAHANAN PASIEN
 BUKA RAHASIA KEDOKTERAN TANPA HAK
 ABORSI ILEGAL,
 EUTHANASIA
 PENYERANGAN SEKSUAL
 KETERANGAN PALSU
 PRAKTEK TANPA IJIN / TANPA KOMPETENSI
 SENGAJA TIDAK MEMATUHI STANDAR

Lebih ke arah DELIBERATE VIOLATION


BERKAITAN DENGAN MOTIVASI
3 jenis OPZET (Kesengajaan)
a. Dari awal = maksud mencapai tujuan
b. Sebagai keharusan :
a. Perbuatan bukan tujuan ttp “suatu antara” utk mencapai
tujuan = keharusan

c. Sebagai Kemungkinan ( Dolus Eventualis )


a. Mengerti
b. Insaf akibatnya
c. Berani ambil tindakan itu
Mis : Ngebut di jalan yg ada peringatan banyak orang
LACK OF SKILL
 KOMPETENSI KURANG ATAU DI LUAR
KOMPETENSI / KEWENANGAN

 SERING MENJADI PENYEBAB ERROR


 SERING DIKAITKAN DENGAN KOMPETENSI
INSTITUSI / SARANA

 KADANG DAPAT DIBENARKAN PADA SITUASI-


KONDISI LOKAL TERTENTU

Lebih ke arah ERRORS


BERKAITAN DENGAN INFORMASI

Mistakes = kekeliruan
Occurs at a conscious level = berkesadaran
 Causes
 Lack of knowledge
 Didn’t ask for help
 Inadequate/ineffective orientation - & understanding of others healthcare
team mate needs
 Didn’t know, afraid to help, difficult to ask
 Miscommunication
 Verbal orders & illegible orders (just clear enough to make a guess)
 Application of “rules” that doesn’t work
 High dose opioid are OK in patient with severe longstanding pain
MALPRAKTIK vs BAD OUTCOME

UNDERLYING PERJALANAN PENYAKIT


DISEASE DAN KOMPLIKASI

NO
ERROR ACCEPTABLE ADVERSE
RISKS EVENTS
UNFORESEEABLE (Kejadian yg tak
RISKS diharapkan)

PREVENTABLE
PREVENTABLE
ACTIVE ERRORS ADVERSE
ADVERSE EVENTS
EVENTS
LATENT
ERRORS (Error of planning &
error of execution) NEGLIGENT
ADVERSE EVENTS
DUTY + BREACH OF DUTY (KELALAIAN MEDIS)
+ DAMAGE
+ CAUSAL
JADI, MALPRAKTIK:
 DINILAI BUKAN DARI “HASIL”
PERBUATANNYA, MELAINKAN DARI
“PROSES” PERBUATANNYA.

 Dugaan adanya malpraktik kedokteran harus


ditelusuri dan dianalisis terlebih dahulu untuk
dapat dipastikan ada atau tidaknya malpraktik,
kecuali apabila faktanya sudah membuktikan
bahwa telah terdapat kelalaian – yaitu pada res
ipsa loquitur (the thing speaks for itself)
MENYEBABKAN MATI ATAU LUKA
KARENA KELALAIAN
 PASAL 359
BARANGSIAPA KARENA KESALAHANNYA (KEALPAAANNYA)
MENYEBABKAN ORANG LAIN MATI, DIANCAM DENGAN
PIDANA PENJARA PALING LAMA LIMA TAHUN ATAU
PIDANA KURUNGAN PALING LAMA SATU TAHUN.

 PASAL 360
(1) BARANGSIAPA KARENA
KESALAHANNYA(KEALPAANNYA)
MENYEBABKAN ORANGLAIN MENDAPAT LUKA-LUKA
BERAT DIANCAM DENGAN PIDANA PENJARA
PALINGLAMA LIMA TAHUN ATAU PIDANA
KURUNGAN PALING LAMA SATU TAHUN.
RISIKO MEDIS
 INHEREN PADA SETIAP TINDAKAN MEDIS
 SEBAGIAN DIANGGAP ACCEPTABLE:
1. TINGKAT PROBABILITAS DAN KEPARAHANNYA
MINIMAL (UMUMNYA BERSIFAT FORESEEABLE BUT
UNAVOIDABLE: CALCULATED, CONTROLLABLE)
2. RISIKO “BERMAKNA” TETAPI HARUS DIAMBIL KARENA
“THE ONLY WAY” (UNAVOIDABLE, UNPREVENTABLE))
3. RISIKO YG UNFORESEEABLE = UNTOWARD RESULTS

1 DAN 2 PERLU INFORMED CONSENT, SEHINGGA BILA TERJADI,


DOKTER TIDAK BERTANGGUNGJAWAB SECARA HUKUM
Risiko Medik (Anny
Isfandyarie)
 Dalam tindakan medik ada resiko yg tidak sesuai dng
harapan pasien  tuntutan ke pengadilan

 Dalam tindakan medis ada tindakan yg beresiko tinggi


 Bahwa resiko tinggi tsb berkaitan dng keselamatan jiwa
pasien
Gradasi Sanksi Pidana Kedokteran
 PASCA JUDICIAL REVIEW
Korporasi (+ 1/3 & cabut ijin)

80(2)

80 (1)
Bohir – DR ilegal : 10 th/Rp.300 jt
77 & 78 DR palsu&tiru2 DR: 5th/Rp.150 jt
75 & 76 WNA STR(-) WNI SIP(-) 100 JT

74 DR STR (-) : 100 JT


79 jo 41, 46, 51 Papan nama (-), RM (-); lege artis (-)

69 (2) Sanksi Disiplin

68 Sanksi Etis via MKEK


PS 79 : PIDANA KURUNGAN (-) TANPA PAPAN & TDK CME
“Risiko DR/G Diadili/diperiksa” (UU Pradok)

Komite Etik/Medik MKEK


Komplin RS “sisa langgar etis” MKDKI Mediasi
MAKERSI PS 68 Ps 29 UU Kes 36/09
Dewan Dosen/KPS
Kolegium
Pan.Adhoc Disiplin Dik PPDS
Peer group/Senat PPDS

MKDKI
PN Pidana
DR Merasa dirugikan
Ps 66 (3) PS 55

PN Perdata “Peradilan Pers”


Adverse event =
malpractice
DIR RS : PS 80
PIDANA BPSK-Kesehatan
ATURAN PRAKTEK
KEDOKTERAN
UU PRAKTEK ATURAN
KEDOKTERAN KHUSUS

KUHP,KUHPERD UU TENTANG RS
ATURAN
PELENGK
UU TENTANG AP
KESEHATAN
ATURAN PRAKTEK
KEDOKTERAN
ATURAN KKI

ATURAN
PELAKSANA
ATURAN IDI

ATURAN KEMENKES
Hak Pasien (psl 52)
a. mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang
tindakan medis

F:\rsij\PERSETUJUAN TINDAKAN MEDIS.docx

b. meminta pendapat dokter atau dokter gigi lain;

c. mendapatkan pelayanan sesuai dengan kebutuhan


medis;

d. menolak tindakan medis; dan

e. mendapatkan isi rekam medis.


SENGKETA MEDIS
1.REKAM
 DOKTER –PASIEN MEDIS
2.INFORM
ADMINISTRASI
 RUMAH SAKIT –PASIEN CONSENT

HUKUM

1. PIDANA

2. PERDATA
ADR

3. ETIKA

4. DISIPLIN
TANGGUNGJAWAB HUKUM

Disiplin Pidana Perdata Etika

Polisi,jaksa
MKDKI Hakim IDI
hakim

Pencabutan STR/ Denda/Kurungan Cabut Reko


Ganti Rugi mendasi
SIP Penjara

DOKTER
DUGAAN MALPRAKTEK

MASYARAKAT/MEDIA
MASSA

SETIAP KERUGIAN BAIK LUKA/KEMATIAN MAUPUN


CACAT AKIBAT TINDAKAN DOKTER

MALPRAKTEK
Apakah dokter dapat dihukum
??
 NIAT BERBUAT JAHAT
 PERBUATAN MELANGGAR HUKUM
 AKIBAT YANG MERUGIKAN
 HUBUNGAN KAUSAL
PRAKTEK KEDOKTERAN

MKDKI
Kriminal kedokteran

1. RAHASIA KEDOKTERAN(KUHP 322)


2. EUTHANASIA (344 KUHP)
3. ABORTUS TANPA INDIKASI(346,347,348
KUHP)
4. KETERANGAN PALSU( 263,267 KUHP)
TUNTUTAN PIDANA
MEDIS
 DALAM AZAS HUKUM PIDANA, PASAL 1 KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM
PIDANA (KUHP) MENYATAKAN TIADA SUATU PERBUATAN YANG DAPAT
DIPIDANA KECUALI ATAS KEKUATAN ATURAN PIDANA DALAM PERATURAN
PERUNDANG-UNDANGAN YANG TELAH ADA, SEBELUM PERBUATAN
DILAKUKAN.

 IKTIKAD BAIK

 PIDANA KARENA KESALAHAN /KEALPAAN : DITIK BERATKAN PADA AKIBAT

1. Kelalaian/kesalahan menyebabkan mati (KUHPid ps 359)


2. Kelalaian/kesalahan meyebabkan luka berat (KUHPid ps 360
ayat 1)

3. Kelalaian menyebabkan luka sementara (KUHPid ps 360 ayat


2)
LUKa BERAT Pasal 90 KUHP
1. JATUH SAKIT ATAU MENDAPAT LUKA YANG TIDAK
MEMBERI HARAPAN AKAN SEMBUH SAMA SEKALI, ATAU
YANG MENIMBULKAN BAHAYA MAUT;

2. TIDAK MAMPU TERUS MENERUS UNTUK MENJALANKAN


TUGAS JABATAN ATAU PEKERJAAN PENCARIAN;

3. KEHILANGAN SALAH SATU PANCAINDERA;


4. MENDAPAT CACAT BERAT (VERMINKING);
5. MENDERITA SAKIT LUMPUH;
6. TERGANGGUNYA DAYA PIKIR SELAMA EMPAT MINGGU
LEBIH;

7. GUGURNYA ATAU MATINYA KANDUNGAN SEORANG


PEREMPUAN
BEBAN PEMBUKTIAN
 . Azas utama suatu Negara hukum adalah Rule of law
dimana salah satuprinsipnya adalah “Praduga tidak
bersalah” (presumption of innocence). Seorang terdakwa
harus dianggap tidak bersalah sampai dapat dibuktikan
kesalahannya. Azas ini antara lain dapat dilihat/tercermin
didalam:

 KUHAP Pasal 66: “Tersangka atau terdakwa tidak dibebani


kewajiban pembuktian”

 KUHAP pasal 158: “Hakim dilarang menunjukkan sikap atau


mengeluarkan pernyataan di sidang tentang keyakinan
mengenai salah atau tidaknya terdakwa
 Dengan demikian maka jelaslah bahwa didalam
Hukum Pidana seseorang yang dituduhkan
sesuatu tidak dibebani pembuktiannya. Kewajiban
untuk membuktikan terletak pada penuntut umum.
Dokter yang didakwa melakukan dugaan
malpraktek tidak dibebani kewajiban pembuktian
 Pasien yang diwakili penuntut umum adalah
seorang yang awam dalam bidang kedokteran.
Bagaimana ia bisa memberikan bukti-bukti bahwa
misalnya seorang dokter telah berbuat kelalaian
(negligence)? Disini memang terletak kesulitan
pada Hukum Kedokteran, karena pasien atau
penuntut umum tidak mengetahui seluk beluk ilmu
kedokteran. Untuk itu biasanya akan dimintakan
pendapatnya SAKSI AHLI DARI PROFESI
KEDOKTERAN.
 Dugaan Malpraktek (Pidana)

DOKTER PASIEN

Informed
Rekam medis MATI/LUKA consent
BERAT/ringan

KUHP 359/360 dugaan kelalaian


POLISI SAKSI AHLI IDI
DAN KPTSN MKEK

JAKSA SP3 PENGADILAN SP/SEBA


TDK SESUAI SPM SESUAI SPM B AKIBAT
KAPAN DOKTER BISA
DIGUGAT?
a. melakukan wanprestasi (Pasal 1239
KUHPerdata);
b. melakukan perbuatan melawan
hukum(Kesalahan) (Pasal 1365 KUHPerdata);
c. melakukan kelalaian sehingga mengakibatkan
kerugian (Pasal 1366 KUHPerdata);
d. melalaikan pekerjaan sebagai penanggung
jawab (Pasal 1367 ay at(3) KUHPerdata
(PASAL 46 RS)
SALAH /KEALPAAN

 TINDAKAN MEDIS DILAKUKAN TIDAK SESUAI


STANDART PROFESI MEDIS
STANDART PROFESI
 Standar profesi Medis menurut Oemar Seno Adji yang
mengambil ukuran:

1. Dokter memiliki kemampuan rata-rata atau "average",


2. Equal Category and Condition (Kategori dan keadaan yang
sama), kategori Dokter di Puskesmas akan berlainan
dengan Dokter di rumah sakit modern dengan sarana dan
prasarana yang lengkap.

3. Asas Proporsionslitas dan Subsidiaritas yaitu adanya


keseimbangan yang wajar dengan tujuan untuk menangani
pasiennya
 Menurut Undang undang Praktik Kedokteran no.29
tahun 2004 Standar Profesi : batasan kemampuan
(knowledge, skill and professional attitude) minimal
yang harus dikuasai oleh seorang individu untuk dapat
melakukan kegiatan profesionalnya pada masyarakat
secara mandiri yang dibuat oleh organisasi profesi
 Menurut Undang undang Praktik Kedokteran no.29
tahun 2004 Standar Profesi : batasan kemampuan
(knowledge, skill and professional attitude) minimal
yang harus dikuasai oleh seorang individu untuk dapat
melakukan kegiatan profesionalnya pada masyarakat
secara mandiri yang dibuat oleh organisasi profesi
TIDAK SALAH /TIDAK
KEALPAAN

 TINDAKAN MEDIS DILAKUKAN SESUAI STANDART


PROFESI MEDIS
Hubungan sebab akibat

 KESALAHAN MENYEBABKAN KERUGIAN (HARUS


BERHUBUNGAN)
Tanggungjawab hukum
PERDATA

 AZAS HUKUM PERDATA


 BARANG SIAPA YANG MENGGUGAT, MAKA HARUS
MEMBUKTIKAN

 KECUALI FAKTA YANG BERBICARA


KAPAN ADA TANGGJWB HUKUM
?
 Hub Dokter---Pasien
KONSULTASI
DOKTER PASIEN

ADA KERUGIAN

TANGGUNGJWB HUKUM
HUB. HUKUM
INFORM CONSENT/RM
MKEK

Pengadilan
SYARAT TINDAKAN MEDIS
DAPAT DIGUGAT

UNSUR 1365/1366 KUHPerd

1. ADA KESALAHAN (TIDAK SESUAI STANDART


PROFESI)

2. ADA KERUGIAN----MATERIAL, IMATERIAL?


3. ADA HUBUNGAN SEBAB AKIBAT ANTARA
PERBUATAN MELAWAN HUKUM DAN KERUGIAN
 TANGGUNGJAWAB HUKUM PERDATA

IDI
DOKTER

MELAKUKAN KESALAHAN/ TDK SESUAI


KELALAIAN SPM

ADA KERUGIAN

DAPAT DIMINTA TGGJWB HUKUMNYA


 RESIKO MEDIS
DOKTER IDI

TDK SALAH/LALAI SESUAI SPM

KERUGIAN RESIKO MEDIS

TDK DPT DIMINTA TANGGUNGJWB HUKUMNYA


KESIMPULAN

 99 % PENGGUGAT TIDAK BISA MEMBUKTIKAN


KESALAHAN DOKTER

 99% HAKIM MEMPERTIMBANGKAN PUTUSAN


MKEK

 99% PUTUSAN BEBAS


Tanggungjawab administrasi
1. Dengan sengaja melakukan praktek kedokteran tanpa
memiliki STR ,dipidana denda 100jt ( pasal 75 (1) )

2. Tanpa SIP ,dipidana denda 100jt (pasal 76) Kecuali :


diminta untuk memberikan pelayanan medis oleh suatu
sarana pelayanan kesehatan, bakti sosial, penanganan
korban bencana, atau tugas kenegaraan
 yang bersifat insidentil tidak memerlukan surat izin praktik,
tetapi harus memberitahukan kepada dinas kesehatan
kabupaten/kota tempat kegiatan dilakukan.
TANGGUNG JAWAB HUKUM
RS
 (1) Setiap orang yang dengan sengaja mempekerjakan
dokter atau dokter gigi sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 42, dipidana dengan pidana penjara paling lama
10 (sepuluh) tahun atau denda paling banyak
Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).
TANGGUNGJAWAB HUKUM PIDANA DI RS

DSP/KONSULEN Residen DU Paramedis

Diri sendiri Diri sendiri Diri sendiri Du/dsp

SESUAI
SESUAI KEWENANGANNYA SESUAI KEWENANGANNYA SESUAI KEWENANGANNYA KEWENANGANNYA
TANGGUNGJAWAB HUKUM PERDATA DI RS
Dsp RESIDEN DU PARAMEDIS

PASAL 46 UU RS

RS
BERTANGGUNGJAWAB
CONTOH KASUS
SEBAGAI BAHAN PEMAHAMAN
Kelalaian sistem
 Seorang anak perempuan menunggu
untuk di CT-Scan karena kecelakaan. Dia
dipanggil masuk ke OK dan kemudian di
operasi pengangkatan usus buntu.
Ternyata keliru, seharusnya anak laki-laki
lain yang akan dioperasi.
 Seorang pasien akan dioperasi telinga kiri,
disiapkan oleh perawat kepercayaan,
dokter tinggal operasi. Ternyata yg
dioperasi telinga kanan
wrong person and wrong site surgery
Kelalaian manajemen
 Dua orang pasien meninggal ketika dioperasi di RS
pada dua hari yang berbeda, menggunakan mesin
anestesi yg berbeda.
 Ternyata gas N2O tertukar dengan gas CO2
 RS tidak pernah menggunakan gas CO2

Dokter bukan yg bertanggungjawab atas pengadaan gas


medik, melainkan manajemen rumah sakit
Malpraktik tenaga medis
 Seorang perempuan menjalani operasi
pengangkatan tumor rongga hidung-mulut yg sangat
invasif.
 Jaringan diperiksa histopatologi, dinyatakan tidak
ganas.
 Ternyata beberapa bulan kemudian terbukti ganas
 Preparat histopatologi dibaca ahli-ahli lain di kota
lain: terdapat tanda ganas

Kelalaian ataukah Ketidak-kompetensian ?


Risiko Tindakan / Penyakit
 Seorang ibu menderita Ca mamma dioperasi
pengangkatan jaringan tumor untuk “de-bulking”,
dan radioterapi.

 Kemudian terjadi pembengkakan lengan

Pembengkakan akibat sumbatan saluran


getah bening di ketiak: apakah oleh massa
kanker, operasi ataukah radioterapi ?
Risiko yg unforeseeable
 Seorang perempuan disiapkan untuk di SC atas
indikasi KPD.

 Saat operator sedang cuci tangan, SpAn


memberikan anestesi (umum), terjadi apnoe dan
bradikardi. Upaya resusitasi dilakukan tetapi tidak
berhasil.

 D: anafilaktik thd obat anestesi

Unforeseeable risk ???


Fraud

 Seorang laki-laki datang dengan keluhan pilek dan


sengau. Foto rontgen menunjukkan “perselubungan”

 Direncanakan besok pagi CT-Scan dan siangnya


dioperasi sinusnya.

 Hasil CT-Scan tidak ada kelainan, tetapi operasi


tetap berjalan

Professional misconduct
Tak menolong keadaan
gawat
 Seorang ibu datang dengan perdarahan per-
vaginam post-partum (HPP), ditangani dokter UGD.

 Dikonsulkan ke SpOG yg sedang melakukan


kuretase, tetapi ia tidak mau dengan alasan “akan ke
RS lain karena sudah waktunya dan sudah ditelpon”

Professional misconduct
CONTOH KETIDAK-KOMPETENSIAN
DAPAT DIANGGAP PMH ATAUPUN KELALAIAN

 Tidak memiliki sertifikat kompetensi


 Berpraktik bukan pada bidang kompetensinya
 Melakukan tindakan yg bukan kompetensinya
 Mendelegasikan tindakan kepada orang yang tidak
kompeten

Tanpa alasan pembenar atau alasan pemaaf


CONTOH KELALAIAN LAIN
BERMASALAH BILA TERJADI CEDERA

 KETERLAMBATAN HADIR PADA SAAT


DIBUTUHKAN PD KEDARURATAN
 KEGAGALAN MEMONITOR KONDISI PASIEN
ATAU FOLLOW-UP HASIL PEMERIKSAAN
 KETERLAMBATAN DIAGNOSIS / TERAPI
 KEGAGALAN MENGINGATKAN /
MENGANJURKAN
 KEGAGALAN MEMENUHI PROSEDUR (error of
planning dan error of execution)
 Diambil dari
 Slide Prof Budi Sampurna
 Slide Prof Agus Purwadianto
 Slide