Anda di halaman 1dari 54

Homiletika

Seni Mewartakan Kitab suci


Definisi
• Homili
• Kotbah
• Renungan
• Midrash
• Targum
Homili
• Homiletik adalah seni berkotbah atau ilmu tentang
berkotbah, yakni bagaimana mempersiapkan kotbah
secara sistematis dan ilmiah serta membuat strategi
supaya kotbah itu dapat berhasil.
• Homiletik berasal dari bahasa Yunani homilein, yang
berarti pembicaraan antara orang yang bersahabat dalam
lingkup kekeluargaan. Biasanya pembicaraan itu lebih
diartikan sebagai pembicaraan dari hati ke hati. Dalam
terjemahan Indonesia yang kita gunakan sehari-hari, kata
ini tetap dipakai ‘homili’ untuk menyatakan seseorang
yang berbicara untuk menguraikan sesuatu dalam rangka
upacara liturgis.
Sambungan...
• Dalam kerangka liturgi homili dimengerti sebagai suatu
kursus (uraian) singkat yang ditujukan kepada suatu
perkumpulan tertentu. Biasanya isi uraian tersebut
bersifat pendidikan spiritual. Homili selalu dimengerti
secara dekat sebagai suatu uraian singkat tentang Kitab
Suci yang direnungkan bersama di dalam perkumpulan
itu.
Kotbah
• Kotbah merupakan terjemahan dari kata Inggris
preaching. Kata ini, yang biasanya diartikan oleh umat
(Jawa) sebagai prek, merupakan terjemahan langsung
dari kata Belanda preek. Dalam bahasa Jerman dikenal
dengan istilah predigen.
• Seluruh kata itu merupakan terjemahan dari kata Yunani,
kerussein (kata bendanya kerux berarti bentara), yang
diterjemahkan sebagai evangelizare, Istilah-istilah itu
berarti memproklamasikan, mewartakan, mengumumkan.
Bahasa Indonesia mengungkapkannya dengan kata
‘kotbah’ atau khotbah, yang berarti suatu uraian tentang
agama.
Sambungan...
• Kotbah di dalam Gereja selalu berada dalam
lingkup upacara liturgis. Ia dimengerti sebagai
suatu pengajaran tentang iman sehingga
pendengar dapat memahami suatu masalah
secara jelas. Dalam pengajarannya si
pengkotbah harus menggunakan kata yang dapat
masuk akal (diterima dengan enak), materi
ilustrasinya dapat ditangkap dan mengharapkan
tanggapan balik dari anggota yang mengikuti
upacara itu.
Renungan…
• Renungan: refleksi tentang iman yang bersifat meditatif.
Renungan ini juga bertujuan membangun suatu
kehidupan spiritual seseorang
• Sifatnya: bisa diambil dari kumpulan renungan atau
kotbah orang lain dibacakan
• Lebih bersifat nasihat rohani agar orang setia kepada
imannya.
Kotbah dalam KSPL
• Basar. Dalam Teks Yes 61:1 “Roh Tuhan ALLAH ada padaku, oleh
karena TUHAN telah mengurapi aku; Ia telah mengutus aku untuk
menyampaikan kabar baik (basar) kepada orang-orang sengsara,
dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberitakan
pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan kepada orang-orang
yang terkurung kelepasan dari penjara…” Kata “basar” (to preach)
ada pada kata meyampaikan kabar baik. kata “basar “ dapat pula
diterjemahkan dengan kata, “membawa kabar baik” (bringing good
news), “mengumumkan” (to publish) agar orang mengetahuinya,
“mewartakan kabar gembira” (to announce), “mewartakan” (to
proclaim). Karena itu kata “basar” bukan sekedar pembicaraan biasa-
biasa saja melainkan pembicaraan yang menekankan isi dari
pembiaraan. Tekanan kata “basar” terletak pada apanya yang dimau
diwartakan. Obyek pembicaraan menjadi titik penting dari kata
“basar”.
Sambungan…
• Qara. Kata ini tersimpan dalam Kitab Nabi Yunus 3:2. “Bangunlah, pergilah ke
Niniwe, kota yang besar itu, dan sampaikanlah (qara) kepadanya seruan yang
Kufirmankan kepadamu.” Kata “qara” dapat diterjemahkan pula dengan kata
“berteriak” (to call out), “memanggil” (to summon), “berteriak dan menjerit” (to
cry out), “menceritakan” (to recite), “mewartakan” (to proclaim). Kata “qara”
bernuansa kuat pada perjumpaan dengan orang. Jadi yang pokok adalah
bukan pewartaan melainkan perjumpaan dengan orang lain. Rupanya kata
“qara” ini yang lebih terpakai dalam tradisi Yahudi untuk menggambarkan kata
“kotbah” seperti kita mengerti sekarang ini.
• Nagad. Kata nagad ini tersimpan dalam Kitab Kejadian 41:24, “Bulir yang kurus
itu memakan ketujuh bulir yang baik tadi. Telah kuceritakan (nagad) hal ini
kepada semua ahli, tetapi seorang pun tidak ada yang dapat menerangkannya
kepadaku.” Kata ini dapat diterjemahkan pula dengan kata: “menceritakan” (to
tell), “menunjukkan” (to show), “menyatakan” (to declare) dan “mewartakan” (to
announce). Kata nagad ingin menjelaskan pewahyuan Allah agar dapat
dimengerti oleh orang yang mendengarnya.. Kata nagad ini bisa dilihat dalam
Mazmur 54:4 atau dalam Kitab Keluaran 19:3 yang berarti ingin
menyingkapkan sesuatu yang tersembunyi agar nyata dan dimengerti orang.
Kotbah dalam KSPB
• Kerusso. Kata ini adalah kata yang lazim dipakai untuk
menunjukkan “kotbah”. Ada sekitar 61 kali kata ini dipakai di
dalam teks Perjanjian Baru untuk menunjukkan kotbah dari
Yesus, para rasul dan Yohanes Pembaptis. Nuasa kuat yang
mengalir dari kata ini adalah bahwa kotbah itu disampaikan itu
datang dari seorang yang mempunyai otoritas tertentu dan
menuntut ketaatan dari yang mendengarnya.
• Euaggelizzo. Kata ini mirip dengan kata “basar’ di dalam Kitab
suci Perjanjian Lama, yakni membawa kabar gembira bagi
orang yang mendengarkannya.
• Kataggelo. Kata ini digunakan 17 kali di dalam Kitab Suci
Perjanjian baru dan dihubungkan dengan kata “menjadi seorang
pembawa berita” atau menjadi “duta” untuk membawa kabar
tertentu.
Apa Kata Paus Fransiskus
Dari satu pihak,
homili itu merupakan alat uji untuk menilai
kedekatan dan kemampuan pastor untuk
berkomunikasi dengan umatnya.
Di lain pihak,
homili tidak jarang dialami sebagai pokok derita.
Kalau begitu, bagaimana harus dipahami???
HOMILI
1. Konteks liturgi
• Homili mengangkat kembali dialog yang sudah dibuka antara
Tuhan dengan umat-Nya
• Homili harus singkat dan menghindari kemiripan dengan
pidato atau ceramah. Hal itu berarti kata-kata pengkotbah
harus diupayakan sedemikian rupa, sehingga Tuhan akan
menjadi pusat perhatian
HOMILI
2. Percakapan seorang ibu
• Kotbah kristiani menemukan di dalam kebudayaan umat
sumber air hidup, yang membantu pengkotbah untuk
mengetahui apa yang harus dikatakan dan bagaimana
mengatakan-nya.
• Seperti halnya kita semua senang berbicara dalam bahasa ibu
kita sendiri, demikian juga dalam iman kita senang kalau orang
berbicara dalam bahasa “budaya ibu” kita, bahasa daerah kita.
• Tuhan sungguh menyukai dialog nyata dengan umat-Nya;
pengkotbah perlu berusaha agar pendengarnya dapat
merasakan rasa suka Tuhan itu kepada umat-Nya.
HOMILI
3. Kata-kata yang mengobarkan hati
a). Dialog jauh lebih dari komunikasi kebenaran. Ingatan umat
beriman, sama seperti ingatan Maria, perlu terus dibanjiri
dengan hal2 ajaib yang dilakukan Tuhan
b). Selama homily, hati orang beriman diam dan membiarkan
Allah berbicara.
c). Membantu umat untuk merasakan bahwa mereka hidup
dalam pelukan Allah merupakan tugas yang sulit tetapi indah
bagi orang yang mewartakan Injil
Sejarah Kotbah
• Pemakluman Sabda Tuhan dan penjelasannya (midrash)
merupakan unsur penting dalam proses pembentukan
komunitas bangsa terpilih yaitu Israel.
• Bila bangsa Israel mendengar pemakluman dan
penjelasannya, persekutuan mereka jadi kuat dan mereka
menghayati jati dirinya sebagai bangsa pilihan
• Hal ini ditegaskan dalam shema, Israel: hai Israel
dengarlah…
PB
• Dalam Yohanes 6:31-56 dapat ditemukan bentuk homili dengan
susunan yang mirip dengan midrash.
• Lukas 4:15 juga menceriterakan bagaimana Yesus
menyampaikan penjelasan tentang bacaan Kitab Suci dengan
menekankan bahwa isinya sedang dialami dalam situasi nyata
para pendengar hic et nunc (sekarang dan di sini).
• Menolak kenyataan yang dimaklumkan itu berarti menolak
datangnya Kerajaan Allah. Selanjutnya Lukas menceriterakan
peristiwa Yesus yang telah bangkit berusaha menjelaskan isi
Kitab Suci kepada dua orang murid dalam perjalanan mereka
ke Emaus dan kemudian kepada kesebelas rasul (Luk 24:44).
• Amat jelas bahwa penjelasan dan tafsiran Yesus berkaitan erat
dengan kehadiran dan karya-Nya untuk menyelamatkan
manusia atau mewujudkn Kerajaan Allah.
Sambungan…
• Mengikuti contoh Yesus yang juga telah memberi mereka perintah untuk
melakukannya, para rasul membuat homili di Sinagoga-sinagoga untuk
mewartakan Kabar Sukacita (Kis 13:15). Kemana saja mereka pergi
mereka berusaha mewartakan Sabda Tuhan (Mrk 16:20).
• Mereka mengenangkan peristiwa, kata-kata dan tindakan Yesus seraya
menafsirkan dan menghimbau pendengar untuk menjabarkannya dalam
situasi khusus yang dialami anggota persekutuan beriman.
• Komunikasi lisan dalam pertemuan-pertemuan seperti ini terjadi dalam
bentuk monolog atau dialog. Paulus dalam penjelasan-pejelasannya
mengingatkan agar para pewarta (pembawa homili) melakukan tugasnya
demi membangun persekutuan (1 Kor 14:12.26).
• Penjelasan dan tafsiran para rasul juga merupakan homili yang mengikuti
contoh dari midrash tetapi dengan keistimewaan ini: selalu dikaitkan
dengan kehadiran dan karya Yesus sebagai Sabda Allah yang menjelma
menjadi manusia untuk menyelamatkan seluruh makluk ciptaan.
Zaman Patristik
• Setelah masa para rasul, bentuk homili paling tua adalah surat
ke-dua dari Klemens (150) yang isinya sederhana dan
mengandung nasihat untuk hidup baik sesudah perayaan.
• Istilah “omelia” dipakai dan jadi populer pada masa Origenes.
• Sementara itu Bapa-bapa Gereja lain menggunakan istilah
bahasa Latin: tractatus atau sermo. Kedua istilah itu merupakan
terjemahan dari kata Yunani “omelia”, dan pada masa Patristik
istilah tractatus atau sermo itu mengacu pada pewartaan Sabda
Allah yang dilaksanakan khususnya oleh pemimpin perayaan
liturgi sebagai salah satu tugas dari Gereja: mengajar umat
beriman.
• Origenes yang menulis banyak penjelasan tentang Kitab Suci,
walaupun dia sendiri bukan imam, telah menegaskan bahwa
imam adalah seorang doktor, dan sebagai doktor seorang imam
mempunyai tugas kewajiban menjelaskan Kitab Suci untuk
memberi makanan rohani kepada setiap orang yang
membutuhkannya
Sambungan…
• Yohanes Krisostomus menggunakan metode “antiochia”
dalam menulis teks homili yang dibawakan dalam
perayaan, yaitu memberi perhatian pada makna harafiah
dari teks Kitab Suci dan terus menerus mengaktualisir
Sabda Allah dalam berbagai situasi dari komunitas-
komunitas Kristiani.
• Terkadang wejangan-wejangan praktis yang ia sampaikan
tidak mengacu pada makna harafiah dari teks-teks biblis.
Ia menegaskan bahwa kebiasaan memberikan tepuk
tangan kepada pembawa homili adalah suatu bentuk
entertainment.
Kotbah menurut Agustinus
• Sementara itu Agustinus menegaskan bahwa para pembawa
homili sebagai penafsir tidak boleh hanya berpegang pada arti
harafiah dari teks Kitab Suci, sebab makna teks sebenarnya
amat kaya dan kekayaannya itu terkadang tersembunyi
sehingga perlu dicari dan digali. Dalam homili, Agustinus
menafsirkan isi teks Kitab Suci yang dibacakan dengan
menggunakan kekayaan teks Kitab Suci itu sendiri.
• Namun bagi Agustinus keahlian tafsiran tidak berarti apa-apa
kalau tidak diarahkan kepada pembentukan dan pembangunan
hidup beriman. Maka bagi Agustinus, pembawa homili haruslah
seorang pendengar setia Sabda Allah sekaligus pendengar
setia harapan para pendengarnya.
• Meskipun Agustinus adalah ahli retorika, namun ia tidak
mengharuskan para pembawa homili untuk menggunakan
semua metode dan keahlian seorang orator
Sambungan…
• Baginya, lebih berguna bila pembawa homili berbicara dengan
“bijaksana” dari pada dengan “fasih” hanya untuk
menyenangkan hati para pendengar. Setelah membandingkan
“kefasihan” orator profan seperti Cicero dengan “kefasihan”
pembawa homili dalam persekutuan beriman seperti Paulus,
Siprianus dan Ambrosius, maka Agustinus menyimpulkan
bahwa “kefasihan” pembawa homili adalah kemampuan
menggunakan budi, perasaan dan kelembutan untuk
menggerakkan para pendengar agar dapat memahami dan
melaksanakan pesan-pesan yang disampaikan.
• Belajar dari Agustinus, pembawa homili perlu memperhatikan
dasar dan tujuan dari homili: mendengar dan memahami
kehendak Allah dan situasi serta harapan pendengar agar
mampu menggerakkan mereka untuk dengan setia dan penuh
sukacita melaksanakannya dalam hidup. Kefasihan seorang
orator bukanlah tujuan tetapi sarana untuk mencapai tujuan
sebenarnya dari homili.
Kotbah menurut Leo Agung
• Paus Leo Agung sangat keras melarang orang yang tak
tertahbis untuk membawakan homili, meskipun orang itu
seorang biarawan yang sangat mampu. Hanya orang
tertahbis yang mempunyai wewenang untuk
membawakan homili. Hal ini diungkapkan juga oleh
Hironimus.
• Bahkan ia memandang sebagai suatu kebiasaan tidak
baik bila para imam yang berkonselebrasi dengan uskup,
diam saja dan hanya mendengarkan homili dari uskup.
Kotbah menurut Gregorius Agung
• Paus Gregorius Agung menggarisbawahi aspek pastoral dari
homili. Ia memahami pelayanan kegembalaannya sebagai
pewarta Kabar Sukacita. Sambil memperhatikan “bacaan-
bersambung” dalam liturgi, Gregorius menaruh perhatian pada
keadaan politik dan sosial-kultural dari para pendengarnya.
• Pada masanya, homili merupakan tugas khusus pada uskup.
Seperti Agustinus, Gregorius Agung juga tidak mengandalkan
keahlian para orator. Meskipun demikian, Gregorius Agung
menerima perlunya homili sebagai bentuk pewartaan di depan
publik.
• Oleh karena itu harus diperhatikan rasa seni berbicara dan
rasa anggun serta sifat komunikatif dalam menyampaikan
pesan. Dengan cara ini si pembawa homili menumbuhkan iman
dan kasih baik terhadap Allah maupun terhadap sesama.
Tractatus
• Homili (tractatus atau sermo) dari para Bapa Gereja ditulis dan
dikumpulkan dalam homiliari. Tulisan-tulisan ini selanjutnya
sering dibacakan sebagai homili oleh para imam, terutama oleh
mereka yang kurang mampu atau terlalu sibuk untuk
menyiapkan sendiri homilinya.
• Uskup Cesarius dari Arles mengatakan bahwa tidak hanya
imam-imam tetapi juga uskup-uskup dapat membacakan homili
dari para Bapa Gereja dalam perayaan liturgi. Waktu yang
dipergunakan untuk membaca homili-homili ini sekitar 10-20
menit.
• Kebiasaan ini akan berdampak positif karena meneruskan
pandangan-pandangan para Bapa Gereja, telah turut
mengurangkan kepekaan para pembawa homili untuk
memperhatikan situasi konkrit dari para pendengar dan
menggunakan ungkapan-ungkapan yang relevan untuk
menyampaikan pesan yang lebih menyentuh dan
menggerakkan.
Kotbah Abad Pertengahan
• Pada abad pertengahan, terutama pada masa Scolastik,
berkembanglah khotbah-khotbah tematis. Dipilih salah satu
pokok pikiran berdasarkan satu kata, frase atau kalimat lalu
diuraikan secara sistematis dengan langkah-langkah yang
kurang lebih kompleks. Umumnya penjelasan yang sistematis
dan rinci ini tidak mempunyai rujukan biblis dan kurang
menyentuh situasi nyata para pendengar.
• Sebagai rekasi terhadap metode sistematis dari kaum Scolastik
ini muncullah khotbah populer yang lebih memperhatikan hidup
rohani dan moral para pendengar dengan menggunakan cerita-
cerita contoh atau legende-legende.
• Karena kekurangan orang-orang yang tertahbis dan kesulitan
bahasa, orang-orang awam yang mampu mendapat
kesempatan untuk menyampaikan khotbah dalam perayaan
liturgi hanya setelah mendapat ijin dari pastor yang
bertanggungjawab.
Sambungan…
• Kemungkinan ini diberikan dalam Konsili Lateran III (1179) oleh
paus Aleksander III kepada kaum awam yang teguh imannya di
wilayah Valdese.
• Bahkan para pentobat mendapat kemungkinan yang sama
dengan memberi kesaksian tentang proses pertobatan mereka.
Teks dari 1Tes. 5:19 dijadikan dasar untuk praktek ini. Paus
Inocentius III dan pengikut Fransiskus Assisi mendukung hal
ini.
• Namun dalam Konsili Lateran IV (1215) semua orang yang
tidak mendapat wewenang dari uskup dilarang membawakan
homili, bahkan mereka diekskomunikasikan bila tidak
mengindahkan larangan ini. Larangan ini diberlakukan oleh
paus Gregorius IX (1228) untuk semua awam dari kelompok
mana saja.
Zaman Reformasi
• Ketika Martin Luther dan pengikut-pengikutnya berupaya membarui
Gereja, mulai dipraktekkan liturgi dalam bahasa jemaat setempat dan
semua anggota jemaat diberi kesempatan seluas-luasnya untuk
membaca dan mendalami Kitab Suci.
• Khotbah-khotbah para pembaru Gereja menjadi lebih setia pada teks-
teks biblis. Maka Gereja Katolik dalam Konsili Trento sesi V (17-6-1546)
mengumumkan dekrit tentang bacaan dan khotbah (Super lectione et
predicatione).
• Dekrit ini menegaskan keunggulan bacaan Kitab Suci dalam liturgi dan
kewajiban untuk membawakan homili pada Hari Minggu dan Hari Raya.
Namun dekrit ini kurang mendapat tanggapan karena kebiasaan-
kebiasaan masa itu yang sulit diubah.
• Metode homili Scolastik yang lebih tematis-kateketik menjadi kesukaan
para peembawa homili. Bahkan pada masa Barok berkembanglah
bentuk homili yang lebih mirip orasi retoris dengan isi yang
diinspirasikan lebih oleh mitologi-mitologi, kesusteraan dan filsafat dan
bukan terutama bersumber pada Sabda Allah dalam Kitab Suci.
• Bahkan Sabda Allah hanya digunakan sebagai penunjang atau unsur
tambahan bila perlu. Yang inti dan pokok dijadikan unsur tambahan.
Konsili Trente
• Kembali ditegaskan pada masa reformasi oleh Konsili Trento (sesi XXIV
can. 5) bahwa kaum awam dilarang membawakan homili. Akan tetapi
karena kebiasaan yang sulit diubah, penegasan ini tidak dengan segera
diperhatikan oleh semua kalangan. Masih ada juga praktek homili oleh
kaum awam.
• Menghadapi kenyataan ini dikeluarkan motu proprio Sacrorum antistitum
(31-7-1894) oleh paus Leo XIII yang mendesak agar dihentikan kebiasaan
yang keliru dalam memilih tema dan metode penyampaian homili. Paus
Benediktus XV dalam ensiklik Humani generis redemptionem (15-6-1917)
mengedepankan St. Paulus Rasul para bangsa sebagai model pembawa
homili baik dalam hal persiapan batin, maupun dalam isi dan metode
penyampaian homili.
• KHK 1917 can. 1344-1345 menegaskan bahwa setiap pastor mempunyai
kewajiban memberikan homili pada Hari Minggu dan Hari Raya, dalam
misa yang dihadiri banyak umat. Bila ada umat yang menghadiri Misa di
gereja, dihimbau agar diberikan suatu penjelasan singkat mengenai Injil
atau pokok tertentu tentang ajaran Gereja.
• Hal ini kembali dirumuskan oleh para Bapa Konsili Vatikan II dalam
Konstitusi Liturgi Sacrosanctum concilium dan dalam dokumen-dokumen
sesudah Konsili khususnya mengenai tempat homili dalam liturgi.
Setelah Trente
• Selama abad gelap dari Gereja, sejumlah faktor ikut
menurunkan ‘kewibawaan’ kotbah.
• Faktor-faktor itu misalnya, misa yang sering berubah-
ubah, multiplikasinya jumlah misa, menurunnya kualitas
pendidikan imam, berkembangnya di Barat misa yang
sederhana dst. Sehingga kotbah yang semula menjadi
bagian integral dari Ekaristi ditempatkan di luar kerangka
liturgi.
• Kotbah pada waktu itu ditempatkan sesudah seluruh
perayaan Ekaristi.
Sambungan…
• Situasi di atas diperburuk lagi ketika bahasa Latin pada abad XII
dijadikan bahasa resmi Gereja yang otomatis menjadi bahasa liturgis
juga. Jelaslah pula bahwa Kitab Suci dibacakan dalam bahasa Latin
yang bisa diduga bahwa bahasa itu tidak sepenuhnya (untuk tidak
mengatakan tidak dimengerti sama sekali) dimengerti oleh umat.
• Akibatnya bisa diduga: liturgi menjadi asing bagi umat. Ibadat liturgis
menjadi ibadat yang dijalankan oleh imam saja. Umat menjadi
penonton. Bahkan lebih parah lagi umat dilarang membaca Kitab
Suci, selain dalam bahasa Latin.
• Kotbah menjadi tidak penting: kalau imam mau berkotbah tentu baik;
tetapi kalau tidak, juga tidak apa. Yang penting bukan kotbahnya
melainkan seluruh jalannya upacara ritual itu mengikuti seluruh
peraturan atau tidak.
Kotbah Abad Pertengahan
• Pada abad pertengahan terjadi pembaharuan liturgi.
• Kotbah ditempatkan kembali sebagai bagian dari seluruh perayaan
Ekaristi walaupun harus diakui pula bahwa kebanyakan kotbah lebih
bersifat moral atau nasihat yang saleh-saleh untuk tujuan devosional
dari pada suatu uraian tertentu mengenai suatu masalah.
• Langkah berani dan tepat diambil oleh Gereja Protestan yang
dipimpin oleh Luther dengan mendudukkan kembali kotbah sebagai
bagian yang sangat penting di dalam perayaan liturgis karena di sana
terjadi penjelasan tentang Kitab Suci yang merupakan dasar
kehidupan umat beriman.
• Langkah yang sama juga diambil oleh Gereja Anglikan pada abad ke-
19 yang menegaskan bahwa kotbah adalah bagian tak terpisahkan
dari perayaan liturgis dan kotbah harus benar-benar dipersiapkan
secara matang.
Pembaharuan Liturgi
• Pembaharuan liturgi yang sudah berjalan sebelum tahun 1965 akhirnya
mendapat pengukuhan di dalam Konsili Vatikan II lewat Sacrosanctum
Concilium yang menegaskan bahwa kotbah adalah bagian integral dari
perayaan liturgis dan ia merupakan penjelasan yang singkat dan jelas tentang
bacaan Kitab Suci yang diperdengar hari itu (bdk. SC 24).
• Selanjutnya Konsili menegaskan bahwa “Dalam rubrik-rubrik hendaknya
dicatat juga, sejauh tata upacara mengijinkan, saat yang lebih tepat untuk
kotbah, sebagai bagian perayaan liturgi. Dan pelayanan pewartaan
hendaknya dilaksanakan dengan amat tekun dan saksama. Bahannya
terutama hendaklah bersumber pada Kitab Suci dan Liturgi, sebab kotbah
merupakan pewartaan keajaiban-keajaiban Allah dalam sejarah keselamatan
atau misteri Kristus, yang selalu hadir dan berkarya di tengah kita, teristimewa
dalam perayaan-perayaan Liturgi” (SC 35).
• Dalam nada yang sama SC 52 yang berbicara khusus tentang homili
menggarisbawahi arti penting kotbah. “Homili janganlah ditiadakan” karena ia
merupakan uraian tentang “misteri-misteri iman dan kaidah-kaidah hidup
kristiani berdasarkan teks Kitab Suci”
Reaksi atas KV II ttg Kotbah
• Reaksi dari para teolog cukup positif berkenaan dengan penempatan kembali
kotbah di dalam perayaan liturgis.
• P.T. Forsyth memandang kotbah sebagai bagian integral dari tindakan Tuhan
yang abadi di dalam Kristus.
• Kotbah alat Tuhan untuk berbicara dan bertindak di dalam seluruh karyaNya
sehingga tidak ada lagi momentum yang paling decisive dari pada kotbah itu
(Karl Barth). Kotbah adalah setting yang menggambarkan peristiwa salib dan
kebangkitan Yesus sehingga melalui kotbah itu (dan hanya melalui kotbah)
orang dapat diselamatkan (Rudolf Bultmann).
• Kotbah adalah tindakan esensial dari Gereja, sambil membaharui dirinya
sendiri, mewartakan Kerajaan Allah (C.H. Dodd). Dari pendapat para teolog
ini dapat disimpulkan bahwa Kotbah adalah pewartaan yang tidak bisa tidak
harus ada di dalam seluruh upacara liturgis karena kotbah adalah penguraian
tentang peristiwa penyelamatan Tuhan terhadap umat manusia. Bahkan
kotbah adalah bagian integral dari seluruh hidup menggereja karena melalui
kotbah itulah Gereja mewartakan wafat dan kebangkitan Kristus Yesus.
Kotbah Berakar dalam Liturgi
• Sejak semula agama Kristen bertumbuh dalam adat istiadat orang Yahudi.
Fakta sejarah ini memberi gambaran pula bahwa liturgi kristen berakar dalam
ibadat orang Yahudi. Yesus pun semasa hidupNya melakukan ibadat
keagamaan berdasarkan ibadat yang dilakukan oleh orang Yahudi. Di sisi lain
Yesus mengkritik ibadat yang bersifat pemenuhan hukum saja. Ia
menekankan suatu ibadat yang datang dari hati, yang mengalir dari cinta.
• Ibadat orang Yahudi biasanya dirayakan pada hari Sabat. Karena itu
penghargaan dan penghormatan pada hari Sabat menjadi hukum yang
sangat mutlak di dalam kehidupan iman umat, mengingat bahwa hari itu
dibaktikan kepada Yahwe (bdk. Kej 2:3; Kel 20:11). Sebagai catatan, Yesus
berseberangan dengan orang Yahudi soal hari Sabat ini bukan soal
kedudukan hari Sabat melainkan soal penghayatan dan pelaksanaan hari
Sabat yang bersifat legalistis. Yesus lebih melihat bahwa hari Sabat itu
dimaksudkan sebagai hari penyelamatan (bdk. Mrk 3:4; Yoh 5:1-18) dan
karena itu dihayati sebagai hari yang diperuntukkan bagi Tuhan dan bukan
dihayati sebagai pemenuhan hokum belaka.
Siapa Pengkotbah?
• Sebelum terangkat ke Surga, Yesus meninggalkan pesan untuk
mewartakan Injil kepada murid-muridNya dengan berkata, “Pergilah
ke seluruh dunia dan beritakanlah Injil kepada segala makhluk” (Mk
16:15). Di bawah pesan inilah, para murid pergi ke segala penjuru
dunia untuk mewartakan Khabar Gembira itu kepada segala bangsa.
• Para murid melihat bahwa Khabar Gembira itu telah terpenuhi dalam
diri Yesus. Kotbah pertama para murid di Yerusalem pada peristiwa
Pentakosta, sangat jelas menegaskan hal itu, “Yesus, yang kamu
salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus” (Kis 2:36). Kerajaan Allah
yang dijanjikan Yesus telah nampak dalam Pribadi Yesus Kristus.
• Lewat wafat dan kebangkitanNya, Ia menebus dosa manusia dan
memberi hidup baru kepada manusia. Para murid terus berkotbah
tentang hal itu, “Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar
itu, kami beritakan kepada kamu juga supaya kamupun beroleh
persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan
dengan Bapa dan dengan AnakNya, Yesus Kristus” (1Yoh 1:3).
Klerus Sbg Pengkotbah Utama
• Gereja melanjutkan tugas para murid Yesus dengan menahbiskan orang-orang
yang layak untuk menjadi pewarta Khabar Gembira tentang keselamatan
manusia. Dengan penahbisan itu dimaklumkan bahwa tugas utama dari para
tertahbis adalah berkotbah sebab “kotbah merupakan pewartaan keajaiban-
keajaiban Allah dalam sejarah keselamatan atau misteri Kristus, yang selalu
hadir dan berkarya di tengah kita, teristimewa dalam perayaan-perayaan
liturgis” (SC 35).
• Karena itu fungsi utama dari kotbah yang dilakukan oleh para tertahbis adalah:
membawa Khabar Gembira itu agar orang sadar bahwa Allah dalam Yesus
Kristus sedang berkarya di dalam dunia sekarang ini dan menuntut pertobatan
dari manusia agar memperoleh keselamatan.
• Rekonsiliasi berarti suatu perubahan di mana terjadi perbaikan hubungan
antara seorang individu dengan Allah, Gereja dan sesama. Lewat kotbah,
orang disadarkan akan apa yang telah ia buat: kalau baik ia menjadi bahagia,
kalau jahat ia harus minta maaf. Namun harus hati-hati agar kotbah tidak
bersifat pujian yang menjadikan orang sombong karena berbuat baik;
sebaliknya tidak juga merupakan kecaman-kecaman pedas karena orang
berbuat dosa.
Kotbah dalam KHK
• Kitab Hukum Kanonik no. 762-767 mengatur tentang apa, siapa dan
bagaimana berkotbah. Kanon 762 memberi gambaran secara umum tentang
tugas berkotbah sebagai tugas utama dari para pelayan rohani. Sementara
kanon 763-764 mengatur tentang tugas utama dan pertama dari para klerus
(uskup, imam dan diakon) untuk berkotbah.
• Bahasa kanon di atas tidak lain adalah implementasi dari pernyataan Bapa-
Bapa Gereja sebagaimana tertuang di dalam LG 25-29, yang menganggap
bahwa tugas berkotbah (tugas pewartaan Injil) adalah tugas utama mereka.
Mereka telah dipilih oleh Yesus Kristus sendiri dari antara umat untuk
memberitakan karya keselamatan Allah. Karena pilihan dan jabatan itu,
mereka menerima perutusan untuk mengajar “semua bangsa dan
mewartakan Injil kepada segenap makhluk, supaya semua orang, karena
iman, ….memperoleh keselamatan” (LG 24). Karena pemilihan dan
pengutusan inilah maka kata-kata dan tindakan dari para klerus, termasuk
berkotbah, dianggap sebagai tindakan Kristus sendiri sebab kesatuan mereka
dengan Kristus. Kesatuan ini memberi jaminan bahwa kotbah para klerus
adalah kotbah Kristus sendiri yang sedang menguduskan umat
Awam Berkotbah
• Dari dokumen-dokumen di atas jelaslah bahwa awam dituntut juga
untuk berperan aktif dalam hidup menggereja karena mereka
mengambil bagian dalam imamat umum. Peran aktif itu diterima lewat
sakramen Baptis dan Krisma untuk secara penuh ambil bagian dalam
tugas kerasulan Gereja. Dalam nada yang sama pembaharuan liturgi
yang dihembuskan oleh Konsili Vatikan II mendorong peran aktif umat
(baca: awam) di dalam liturgi karena liturgi yang sedang dirayakan
adalah liturgi umat. Peran aktif umat itu diterima juga dalam hal
berkotbah. Kanon 766 mengatur tentang peran mereka untuk
berkotbah.
• Kemungkinan bagi awam untuk berkotbah akhir-akhir ini menjadi
sangat kentara khususnya di daerah yang mengalami kekurangan
imam. Di tempat-tempat terpencil, seorang awam entah dalam
kapasitasnya sebagai ketua lingkungan (stasi) atau guru agama harus
memimpin ibadat liturgis yang tentu saja pada kesempatan itu, ia
harus menyampaikan kotbah.
Kepribadian Pengkotbah
• Seorang pengkotbah berbeda dengan seorang bintang
film atau pemain teater. Pengkotbah harus betul-betul
menjaga image sebagai seorang gembala yang akan
menyampaikan pesan-pesan Tuhan bagi umatNya.
• Pendengar akan langsung menghubungkan
pewartaannya dengan kepribadian dari si pengkotbah.
Verifikasi dari kotbah akan langsung berhadapan dengan
kehidupan si pengkotbah. Ini berbeda dengan bintang
film.
• Seorang aktor bisa berperan sebagai seorang suami yang
setia dan jujur dalam sebuah film dan karena itu disayangi
oleh penonton dalam lakonnya padahal dalam kehidupan
sehari-hari bisa jadi ia adalah seorang playboy.
Sambungan…
• Kotbah yang disampaikan adalah sebuah refleksi pribadi yang
datang dari hati yang penuh cinta. Kotbah harus lahir dari hati
yang penuh kasih (1Kor 13:1) di mana setiap saat pengkotbah
membina hubungannya dengan Allah dan sesama. Kalau hati
tidak mempunyai cinta maka kotbah itu ibarat “gong yang
berkumandang atau canang yang gemerincing” (1Kor 13:1).
• Bagaimana mungkin ia seorang pendendam namun pada saat
yang sama mewartakan sebuah kotbah tentang pengampunan
Bapa di Surga? Pendengar akan langsung merasakan
kejanggalan kotbah itu karena kotbah itu tidak berasal dari hati
yang penuh kasih.
• pengkotbah juga akan merasakan sendiri bahwa kotbahnya
kurang sreg karena hatinya tidak tenang: ia mewartakan
sesuatu yang lain dari hatinya.
Kerangka Kotbah
• Pada umumnya gagasan kotbah dituangkan
dalam satu skema yang klasik, yakni ada: 1)
pembukaan, 2) isi, 3) Penutup
• Pembukaan bermaksud menarik minat pendengar
pada gagasan yang mau disampaikan sehingga
pendengar masuk ke dalam dinamika kotbah
yang ditawarkan. Sejalan dengan itu pembukaan
sangat penting dari sudut pengkotbah karena
lewat kata pembukaan ini ia menyatakan
persahabatannya (hubungannya) dengan
pendengar. Ia menyatakan diri sebagai seorang
gembala yang dekat dengan dombanya
(umatnya).
Sambungan...
• Biasanya pembukaan yang baik bisa berisikan:
ide dasar dari kotbah (menampilkan gagasan
dasar dari kotbah dalam satu kalimat tesis),
ungkapan-ungkapan yang hidup di dalam umat
(misalnya, pepatah, adat-kebiasaan), cerita atau
kejadian yang sedang aktual (misalnya, badai
tsunami), pertanyaan retorik (misalnya, apa yang
menarik dari bacaan Kitab Suci hari ini?), cerita
pengalaman dari si pengkotbah, cerita fabel dslb.
Namun harus tetap dijaga agar pembukaan
berada pada satu jalur ide dengan inti kotbah.
Isi Kotbah
• Isi kotbah adalah gagasan pokok yang mau disampaikan
kepada para pendengar. Buku-buku standard homiletik
banyak memuat tentang model-model kotbah. model-
model itu akan menentukan kotbah macam apa yang mau
dibangun kelak. Model-model kotbah itu biasanya
dikategorikan sebagai berikut:
• Kita akan membahas bagian lebih detil.
Penutup
• Penutup merupakan rangkuman dari seluruh isi kotbah. Ia
juga bisa berupa ajakan untuk meresapkan dan
mengamalkan gagasan yang telah dikemukan pada
bagian inti kotbah. maka biasanya penutup disebut juga
sebagai kesimpulan atau perintah praksis yang harus
dijalankan oleh pendengar. Durasi waktu bagi penutup
biasanya 2-3 menit.
Eksposisi
• model kotbah ini akan menafsirkan dan membahas ayat per ayat dari
kitab suci yang dibacakan pada hari itu. Aplikasi bagi pendengar akan
langsung ditarik setelah pembahasan setiap ayat.
• Contoh, bacaan dari Mt 5:13-16: tentang garam dan terang dunia. Kotbah
eksposisi akan berbunyi, “Saudara-saudari, (bahasannya) Yesus berkata,
‘kamu adalah garam dunia dan terang dunia’. Garam berfungsi untuk
mengenakkan makanan dan bisa pula dipakai untuk mengawetkan
makanan. Namun bagi tradisi Yahudi, khususnya bagi para rabi, garam
berarti hikmat (bdk. Kol 4:6).
• Semuanya fungsi garam itu bermuara pada satu arti: garam memberi
rasa pada makanan dan masyarakat dengan melarutkan dirinya sendiri
tanpa diketahui lagi siapa dan di mana ia berada. (Aplikasinya) Nah,
hidup dan perkataan serta tingkah laku orang kristen akan
mempengaruhi masyarakat sekitarnya di mana ia berada. Maka
hendaknya ia memberi rasa yang mengenakkan masyarakat”.
Tekstual
• kotbah model ini berusaha menguraikan bacaan kitab suci
hari itu secara singkat (biasanya satu ayat atau sebagian
saja dari bacaan) dan mengaplikasikannya bagi pendengar.
Contoh, masih dari teks Mt 5: 13-16 di atas. Kotbah ini akan
berbunyi kira-kira, “Saudara-saudari, Yesus mengajarkan kita
hari ini bahwa kita adalah garam dan terang dunia (bacaan
kitab suci). Ajaran Yesus ini bermaksud untuk menyadarkan
kita supaya kita berperan aktif di dalam kehidupan
bermasyarakat. Sebagai muridNya kita harus menjadi garam
dan terang dunia. Maksudnya hidup kita harus memberi cita
rasa yang menyejukkan masyarakat dan sekaligus memberi
contoh teladan yang baik supaya dilihat dan diikuti orang lain
(aplikasi)”.
Topik
• Topik: kotbah model ini tidak memulai kotbahnya
dengan uraian kitab suci dari hari itu melainkan dengan
mengetengahkan subyek teologis tertentu yang mau
dibahas berdasarkan bacaan kitab suci hari itu.
• Subyek teologis itu misalnya dosa, rahmat, penebusan
Kristus, perdamaian dunia, gerakan oikumenis,
perkawinan kristiani dlsb. Yang diuraikan dalam kotbah
adalah subyek-subyek itu. Contoh, “Saudara-saudari
hari kita mendengar bersama bacaan dari Penginjil
Mateus 19:1-12. karena itu saya ingin berkotbah
mengenai perkawinan kristiani. Dalam pandangan kita
orang kristen, perkawinan kristiani adalah perkawinan
yang monogame dan tak terceraikan....dst.”
Problem Centered
• Pembahasan masalah (problem-centered): kotbah model ini
akan membicarakan masalah-masalah sosial sebagai
masalah bersama atau masalah-masalah pribadi yang
diproyeksikan sebagai masalah bersama atau masalah
nasional.
• Masalah-masalah itu ditinjau dari sudut iman kristiani dan
mempunyai relevansinya dengan komunitas pendengar
kotbah. kotbah model ini dianggap sebagai kotbah yang
paling tua dan sering dipraktekkan oleh pengkotbah-
pengkotbah.
• Contoh, “Saudara-saudari, masalah kita bersama saat ini
adalah narkoba. Karena itu saya ingin berkotbah saat ini
tentang hal itu karena narkoba telah masuk ke dalam
komunitas paroki kita. Narkoba tidak dibolehkan karena akan
menggangu kesadaran kita....dst.”
5 hal pokok dalam Kotbah
1. Ide
• Ide merupakan gagasan-gagasan dasar yang
disampaikan kepada pendengar. Maka ia harus
ditampilkan secara runtun dan jelas agar dapat
dimengerti pendengar.
• Rasionalitas dari kotbah harus dapat dilihat dari
“nyambung” tidaknya gagasan-gagasan yang
dilontarkan oleh pengkotbah. Ide yang baik akan
terlihat tatkala Anda berkotbah dan pendengar
dapat menangkap benang merah dari seluruh
kotbah.
2. Bahasa
• Bahasa adalah alat komunikasi untuk
menyampaikan ide-ide maka bahasa yang
dipakai haruslah bahasa yang dapat ditangkap
oleh pendengar.
• Pengkotbah jangan sibuk dengan pengertian
bahasanya sendiri. Ia harus “taat” pada pada
bahasa pendengarnya. Artinya pengyampaian
kotbah haruslah benar-benar menggunakan
bahasa yang dipakai oleh umat.
3. Bentuk
• Ide yang mau disampaikan dibentuk dalam skema yang
jelas dan teratur, tidak disampaikan ‘semau gue’.
• Bentuk kotbah yang baik haruslah mempunyai alur
pemikiran yang logis dan jelas serta disampaikan dalam
skema-skema yang jelas. Gagasan yang disampaikan
harus mengikuti alur pemikiran yang logis dan jelas.
4. Penyajian
• Penyajian harus menarik perhatian pendengar
(misalnya soal wajah, penampilan). Ibarat Anda
menyajikan makanan untuk costumer, Anda
harus melihat penampilan Anda sebaik-baiknya
dan menyajikan makanan (Kotbah) dengan baik.
• Maka Anda harus memperhatikan suara, mimik,
intonasi yang digunakan, gerak-gerik dalam
penyajian, penggunaan alat-alat komunikasi,
5. Kontak
• Kontak dengan pendengar menolong untuk
melihat feedback dari pendengar tentang kotbah.
Berkotbah tidak sekedar menyampaikan gagasan
melainkan Anda menyapa umat.
• Anda mempunyai relasi dengan umat dan relasi
itu terjadi minimal Anda mempunyai kontak mata
dengan mereka untuk melihat keberadan dan
hidup mereka. Dalam kotbah kontak mata
sebagai wujud dari memberi perhatian kepada
pendengar akan menolong pengkotbah juga
untuk “membaca” apakah kotbahnya diterima
dengan baik atau tidak.