Anda di halaman 1dari 27

PEMAJAKAN ATAS LABA PERUSAHAAN

(BUSINESS PROFIT)
Perpajakan Internasional - A
Kelompok 5
Melisa Livana 16312269
Yuliana Hi Rajuna 16312270

2
1

Objek Pajak BUT


Let’s start with the first set of slides
Dijelaskan dalam Pasal 5 ayat 1 UU nomor 7 Tahun 1983
sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan UU nomor 36
Tahun 2008 tentang UU Pajak Penghasilan, bahwa yang menjadi Objek
Pajak bentuk usaha tetap adalah sebagai berikut.

1 2 3
Penghasilan kantor pusat dari Penghasilan sebagaimana tersebut
Penghasilan dari usaha atau usaha atau kegiatan, penjualan dalam Pasal 26 yang diterima atau
kegiatan bentuk usaha tetap barang, atau pemberian jasa di diperoleh kantor pusat, sepanjang
Indonesia yang sejenis dengan terdapat hubungan efektif antara
tersebut dan dari harta yang yang dijalankan atau dilakukan oleh bentuk usaha tetap dengan harta
dimiliki atau dikuasai bentuk usaha tetap di Indonesia atau kegiatan yang memberikan
(attribution by fact). (force of attraction atau penarikan penghasilan dimaksud (effectively
paksa). connected income).

4
2
Ketentuan Atribusi Laba
pada BUT
Let’s start with the first set of slides
Pada umumnya Ketentuan Atribusi Laba Usaha pada BUT diatur dalam Pasal
7 ayat (1) Tax Treaty Indonesia dengan negara mitra lainnya, seperti terlihat dalam table
14.1 (466)

Untuk memberikan gambaran tentang ketentuan bagaimana pemajakan atas


Atribusi Laba pada BUT, berikut kutipan Klausul Pasal 7 ayat (1) Tax Treaty Indonesia
dengan Finlandia tentang Business Profit.

The profits of an enterprise of a Contracting State shall be taxable only in that


State unless the enterprise carries on business in the other Contracting State through a
permanent establishment situated therein. If the enterprise carries on business as
aforesaid, the profits of the enterprise may be taxed in the other State but only so much of
them as is attributable to (a) that permanent establishment; (b) sales in that other
State of goods or merchandise of the same or similar kind as those sold through
that permanent establishment; or (c) other business activities carried on in that
other State of the same or similar kind as those effected through that permanent
establishment. 6
Klausul Tax Treaty Indonesia-Finlandia kelihatan berbeda dengan Pasal
7 ayat (1) Tax Treaty Indonesia dengan negara Malaysia tentang Business Profit
sebagai berikut.

The profits of an enterprise of a Contracting State shall be taxable only in


that State unless the enterprise carries on business in the other Contracting State
through a permanent establishment situated therein. If the enterprise carries on
business as aforesaid, the profits of the enterprise may be taxed in the other State
but only on so much thereof as is attributable to that permanent establishment.

Berdasarkan dua contoh tersebut, klausul Pasal 7 ayat (1) TT Indonesia-


Finlandia menjabarkan laba BUT ke dalam 3 (tiga) macam Atribusi Laba Usaha
pada BUT, sedangkan TT Indonesia-Malaysia hanya menyatakan satu macam
saja, yakni atribusi ke “Permanent establishment in the other State”.

7
3
Withholding Tax PPh
Pasal 26
Let’s start with the first set of slides

Dilihat dari cara pemotongannya, jenis penghasilan yang menjadi objek
withholding tax PPh Pasal 26 adalah sebagai berikut.
1. Penghasilan dengan tarif 20% dari bruto. Penghasilan yang termasuk
kelompok ini adalah dividen, bunga, sewa, royalti, imbalan sehubungan
dengan pekerjaan, jasa dan kegiatan, hadiah dan penghargaan, uang
pensiun, premi swap, dan keuntungan pembebasan utang.
2. Penghasilan dengan tarif 20% dari Perkiraan Penghasilan Neto. Termasuk
dalam kelompok ini adalah capital gain atas penjualan atau pengalihan
harta di Indonesia dan premi asuransi yang dibayarkan kepada
perusahaan asuransi luar negeri. Termasuk dalam kelompok ini adalah
penghasilan dari penjualan atau pengalihan saham sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 18 ayat (3c) UU PPh.
3. Penghasilan Branch Profit Tax dari BUT. Penghasilan Kena Pajak
sesudah dikurangi pajak dari suatu bentuk usaha tetap di Indonesia
dikenai pajak sebesar 20%, kecuali penghasilan tersebut ditanamkan
kembali di Indonesia.
9
4

Branch Profit Tax


Let’s start with the first set of slides
Branch Profit Tax adalah pajak yang
dikenakan atas net income after tax dari suatu
BUT. Besarnya adalah bervariasi sesuai
dengan tax treaty masing-masing negara.

11
“ Ketentuan tentang Branch Profit Tax di Indonesia diatur dalam PMK Nomor
14/PMK.03/2011 tentang Perlakuan Perpajakan atas Penanaman Kembali
Penghasilan Kena Pajak Sesudah Dikurangi Pajak Penghasilan dari Suatu BUT.
Dalam P3B/Tax Treaty, pada umumnya di sebagian besar P3B Indonesia, klausul
Tarif Branch Profit Tax (BPT) & Pengecualiannya untuk Perusahaan Kontrak
Bagi Hasil (KBH) diatur dalam Pasal 10 ayat (6) Tax Treaty Indonesia dengan
negara mitra lainnya, seperti terlihat dalam table 14.2 (476)
Tidak ada besar tarif maksimum yang dapat diterapkan, namun hal yang lazim
ditempuh dalam menetapkan besarnya tarif BPT adalah menyamakan dengan tarif
dividen dari investasi langsung. Namun demikian, dalam beberapa P3B, tarif
maksimum BPT mengikuti tarif maksimum dividen dari portofolio investment, dan
pada beberapa P3B lainnya tarif BPT lebih rendah daripada tarif dividen direct
investment. Jika suatu negara tidak memiliki tax treaty dengan Indonesia maka
dikenakan tarif sebesar 20% (Pasal 26 ayat 4 UU PPh).

12
5
Biaya-Biaya BUT yang Berkenan dengan
Penghasilan Force of Attraction Income dan
Effectively Connected Income Boleh
Dikurangkan dari Penghasilan BUT
Let’s start with the first set of slides
Biaya-biaya administrasi yang dikeluarkan oleh kantor pusat
sepanjang digunakan untuk menunjang usaha atau kegiatan bentuk
usaha tetap di Indonesia, boleh dikurangkan dari penghasilan bentuk
usaha tetap tersebut.

Jenis serta besarnya biaya yang boleh dikurangkan tersebut


ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak. Dalam menentukan besarnya
laba suatu bentuk usaha tetap, Pasal 5 ayat (3) UU Nomor 7 Tahun 1983
tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah diubah terakhir dengan
UU Nomor 36 Tahun 2008 mengatur bahwa dalam menentukan
besarnya laba suatu BUT:

14
• Biaya administrasi kantor pusat yang diperbolehkan untuk dibebankan adalah biaya
yang berkaitan dengan usaha atau kegiatan BUT di Indonesia, yang jenis serta
1 besarnya biaya ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak

• Pembayaran kepada kantor pusat yang tidak diperbolehkan dibebankan sebagai biaya
adalah: a) royalti atau imbalan lainnya sehubungan penggunaan harta, paten, atau
hak-hak lainnya; b) imbalan sehubungan dengan jasa manajemen dan jasa lainnya; c)
2 bunga, kecuali bunga yang berkenaan dengan usaha perbankan;

• Pembayaran sebagaimana tersebut pada huruf b yang diterima atau diperoleh dari
kantor pusat tidak dianggap sebagai Objek Pajak, kecuali bunga yang berkenaan
3 dengan usaha perbankan.

15
6

Perlakuan Perpajakan terhadap BUT


Let’s start with the first set of slides
1. Perlakuan Perpajakan Atas Penghasilan 2. Perlakuan Perpajakan Khusus BUT yang
Kena Pajak Sesudah Dikurangi Pajak dari Menggunakan Norma Perhitungan Khusus
Suatu BUT Penghasilan Neto
Perlakuan Perpajakan Atas PKP Sesudah Berdasarkan regulasi perpajakan di Indonesia,
Dikurangi Pajak dari Suatu BUT sesuai terdapat beberapa perusahaan BUT yang
Peraturan Menteri Keuangan Nomor penghitungan PPh nya dihitung dengan
14/PMK.03/2011 adalah sebagai berikut. menggunakan Norma Perhitungan Khusus
Penghasilan Neto, antara lain yakni:
a. Atas Penghasilan Kena Pajak sesudah
dikurangi PPh dari suatu BUT di Indonesia a. BUT Perusahaan Perwakilan Dagang Asing;
dikenai PPh dengan tarif 20%. b. BUT Perusahaan Pelayaran dan
b. Dalam hal PKP sesudah dikurangi PPh dari Penerbangan Asing;
suatu BUT ditanamkan kembali di Indonesia,
penghasilan dimaksud dikecualikan dari
c. BUT Perusahaan Jasa Konstruksi/Jasa
Konsultan yang Dikenakan PPh Final;
pengenaan PPh.
d. BUT Perusahaan Pengeboran (Drilling)
Minyak dan Gas Bumi.

17
7
BUT Perusahaan Jasa Konstruksi/Jasa
Konsultan yang Dikenakan PPh Final
Let’s start with the first set of slides
Jasa Konstruksi adalah layanan jasa
konsultasi perencanaan pekerjaan konstruksi,
layanan jasa pelaksanaan pekerjaan
konstruksi, dan layanan jasa konsultasi
pengawasan pekerjaan konstruksi.

19
Tarif PPh atas Jasa Konstruksi (PPh
Final)
Kualifikasi Penyedia
Jenis Kegiatan Tarif
Jasa

1 Pelaksanaan Konstruksi Kualifikasi usaha kecil 2%


Tidak memiliki kualifikasi
2 Pelaksanaan Konstruksi
usaha 4%
Pelaksanaan Konstruksi
selain angka 1 dan 2 Kualifikasi usaha
3 menengah dan besar 3%

Perencanaan dan Memiliki kualifikasi


4 pengawasan konstruksi usaha 4%

Perencanaan dan
pengawasan konstruksi Tidak memiliki kualifikasi
5 usaha 6%

20
8
BUT Perusahaan Perwakilan Dagang
Asing (Representative Office/Liaison
Office)
Let’s start with the first set of slides
Pasal 2 ayat (5) huruf c UU PPh Nomor 36 Tahun 2008
menyatakan bahwa yang termasuk BUT salah satunya adalah Kantor
Perwakilan. Demikian pula halnya dengan Tax Treaty Indonesia dengan
Negara mitra luar negeri, dalam Pasal 5 ayat (2) menyatakan bahwa
yang termasuk BUT salah satunya adalah "office". WPLN yang
mempunyai Kantor Perwakilan Dagang di Indonesia diatur dalam KMK
Nomor 634/KMK.04/1994 dan Kep-667/PJ/2001 dan terakhir ditegaskan
dengan Surat Edaran Dirjen Pajak Nomor 2/PJ.03/2008 tanggal 31 Juli
2008 yang menetapkan pajak atas penghasilan yang di peroleh di
Indonesia ditetapkan berdasarkan Norma Perhitungan Khusus
Penghasilan Neto sebesar 0,44% dari Nilai Ekspor Bruto, bersifat final.

22
9
BUT Perusahaan Pengeboran (Drilling)
Minyak dan Gas Bumi
Wajib Pajak BUT yang melakukan kegiatan usaha pengeboran (drilling)
minyak dan gas bumi diatur dalam KMK Nomor 628/KMK.04/1991 tentang Norma
Perhitungan Khusus Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak Badan yang
melakukan kegiatan usaha di bidang pengeboran minyak dan gas bumi secara
internasional, sukar dilaksanakan dengan seksama karena adanya kesulitan untuk
menghitung besarnya penyusutan atas peralatan pengeboran (drilling rings) dan
biaya operasional lainnya, sehingga pajak atas penghasilan yang diperoleh di
Indonesia ditetapkan berdasarkan Norma Penghitungan Khusus Penghasilan Neto,
yakni sebesar 15% x penghasilan bruto, bersifat tidak final.
Sementara itu, besarnya angsuran PPh Pasal 25 setiap bulan bagi Wajib
Pajak BUT di bidang usaha ini adalah jumlah yang dihasilkan dari penetapan tarif
menurut Pasal 17 UU Pajak Penghasilan Tahun 1984 atas Penghasilan Neto dari
usaha di bidang pengeboran minyak dan gas bumi yang dihitung dengan
menggunakan Norma Penghitungan Khusus diatas ditambah penghasilan neto dari
kegiatan usaha lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 ayat (3) yang
disetahunkan, dibagi 12 (dua belas).
Dalam praktik, besarnya angsuran PPh yang harus dilunasi setiap
bulannya adalah sebesar 4,5% dari peredaran bruto (yakni sebagai hasil penerapan
tarif tertinggi sebesar 30% terhadap penghasilan neto sebesar 15% dari bruto).
24

Kesimpulan
Klausul yang mengatur tentang Business Profit pada umumnya ada
di Pasal 7 Tax Treaty Indonesia.
Berdasarkan Pasal 5 ayat 1 UU nomor 7 Tahun 1983 sebagaimana
telah beberapa kali diubah terakhir dengan UU nomor 36 Tahun 2008 tentang
UU Pajak Penghasilan, bahwa yang menjadi Objek Pajak bentuk usaha tetap
adalah penghasilan dari usaha atau kegiatan bentuk usaha tetap tersebut dan
dari harta yang dimiliki atau dikuasai (attribution by fact), penghasilan kantor
pusat dari usaha atau kegiatan, penjualan barang, atau pemberian jasa di
Indonesia yang sejenis dengan yang dijalankan atau dilakukan oleh bentuk
usaha tetap di Indonesia (force of attraction atau penarikan paksa), dan
penghasilan sebagaimana tersebut dalam Pasal 26 yang diterima atau
diperoleh kantor pusat, sepanjang terdapat hubungan efektif antara bentuk
usaha tetap dengan harta atau kegiatan yang memberikan penghasilan
dimaksud (effectively connected income).

25

Kesimpulan

Ketentuan Atribusi Laba Usaha pada BUT diatur dalam Pasal 7 ayat
(1) Tax Treaty Indonesia dengan negara mitra lainnya. Dilihat dari cara
pemotongannya, jenis penghasilan yang menjadi objek withholding tax PPh
Pasal 26 adalah penghasilan dengan tarif 20% dari bruto, penghasilan dengan
tarif 20% dari Perkiraan Penghasilan Neto, dan penghasilan Branch Profit Tax
dari BUT.
Dalam P3B/Tax Treaty, pada umumnya di sebagian besar P3B
Indonesia, klausul Tarif Branch Profit Tax (BPT) & Pengecualiannya untuk
Perusahaan Kontrak Bagi Hasil (KBH) diatur dalam Pasal 10 ayat (6) Tax
Treaty Indonesia dengan negara mitra lainnya. Besar BPT bervariasi sesuai
dengan tax treaty masing-masing negara.

26
Thank you!
Any questions?

27