Anda di halaman 1dari 32

MANAJEMEN PERSEDIAAN

A Konsep-Konsep Dasar Persediaan

Manajemen B Pentingnya Manajemen Persediaan

Persediaan C Model Manajemen Kerja

D Contoh Soal dan Pembahasan


Konsep-Konsep Dasar Persediaan

Persediaan merupakan barang habis pakai yang dimiliki oleh perus


ahaan untuk memenuhi kebutuhannya Persediaan dapat diklasifikasi atas b
erbagai bentuk :
• Persediaan bahan baku (raw material inventory)
• Persediaan barang dalam proses (work-in-process goods inven
tory)
• Persediaan barang jadi (finished goods inventory).
• Persediaan barang dagangan (merchandise inventory).
• Perlengkapan (supplies)
• Persediaan suku cadang (spare 04parts inventory)
Pentingnya Manajemen Persediaan

01 Menentukan tingkat investasi persediaan secara optimal


sehingga tingkat persediaan tidak kelebihan maupun kekura
ngan
Ditinjau dari aspek biaya, apabila persediaan terlalu besar
02
maka biaya penyimpanan (holding cost) persediaan menjadi
lebih besar sedangkan apabila persediaan terlalu sedikit ma
ka biaya pemesanan (ordering cost) akan menjadi lebih bes
ar.
Biaya persediaan (inventory cost)
• Biaya-biaya penyimpanan (carrying costs)
• Biaya-biaya pemesanan (ordering costs)
• Biaya-biaya kekurangan persediaan (costs of ru
nning short)
Biaya-biaya penyimpanan (carrying costs)

Biaya penyimpanan persediaan secara grafis ditunjukkan pada Gambar:


(1) Biaya modal, (2) Biaya gudang dan penanganan, (3) Asuransi, (4) Pajak property, dan (5) Depresiasi

25%
Biaya (Rp)

50%
30% Total Biaya Penyimpanan

25%
Jumlah Persediaan (unit)
20%

15% 10%
Biaya-biaya pemesanan (ordering costs)

Biaya pemesanan persediaan secara grafis ditunjukkan pada Gambar :


(1) Biaya-biaya untuk melakukan pemesanan, seperti biaya administrasi, dll, dan (2) Biaya pengiriman dan
penanganan
25%

Biaya (Rp)

50%
30%
Total Biaya Penyimpanan
25%
Jumlah Persediaan (unit)
20%
25%
15% 10%
Biaya-biaya Kekurangan Persediaan (costs of running short)

25%
Biaya-biaya kekurangan persediaan (costs of running short), seperti
(1) Kehilangan penjualan,
(2) Kehilangan
50% nama baik dari pelanggan
30%
(3) Mengganggu jadwal produksi.
25%
20%
25%
15% 10%
Model Manajemen Persediaan
Model-model yang digunakan dalam manajemen p
ersediaan dimaksudkan untuk menentukan jumlah
persediaan secara optimal. Model-model yang bias
a digunakan dalam02 mengendalikan persediaan anta
ra lain:
(1)Economical Order Quantity (EOQ)
(2)ABC System (Pareto Analysis)
(3)Just-in-Time (JIT), dan
(4) Out-Sourcing.
Model Manajemen Persediaan

Economical Order Quantity (EOQ) Model

• Model ini dapat digunakan apabila kebutuhan persediaan relati


f konstan setiap waktu
• Model ini ditentukan bahwa tingkat persediaan optimal dapat d
icapai apabila total biaya persediaan minimal dan ini dapat
dicapai apabila total biaya penyimpanan sama dengan total bi
aya pemesanan
Biaya (Rp)

Total Biaya Persediaan


Total Biaya Penyimpanan

50% Total Biaya Pemesanan


30%

0 Q* Jumlah Persediaan (unit)


25%
__________________________
20%
Gambar 6.3. Biaya Persediaan dan Tingkat Persediaan Optimal
25%
15% 10%
Untuk menghitung besarnya persediaan optimal (Q*) dapat digunakan
Persamaan
2(O)(S)
Q* 
C
Keterangan:
Q* adalah tingkat pemesanan persediaan yang paling ekonomis (unit)
O adalah biaya pemesanan setiap kali pesan (Rp per pesanan)
S adalah besarnya kebutuhan persediaan selama periode waktu tertentu (unit per
periode)
C adalah50%biaya penyimpanan
30%
persediaan per unit setiap periode tertentu (Rp/unit
per periode)
Selanjutnya,
25% total biaya persediaan (total inventory cost = TIC) dapat dihitung
dengan menggunakan Persamaan20%
25%
15% Q  
  S 10%
TIC C   O 
2 Q
 
Setelah menentukan berapa banyak yang harus dipesan
(persediaan optimal), perusahaan juga perlu mengetahui kapan
harus memesan (order point-OP). Reorder Point penting
diperhitungkan karena dapat mempengaruhi kelangsungan operasi
perusahaan25% dan menghindari kelebihan persediaan. Untuk
menghitung besarnya ROP dapat digunakan

ROP  LT DU   SS


30%

25%
Keterangan: 20%
ROP = Reorder
25%Point
15% LT = Jangka waktu pemesanan (lead time)
10%
DU = Kebutuhan persediaan per hari (daily usage)
SS = Persediaan pengaman (safety stock)
Model Manajemen Persediaan
Analisis Pareto (Metode ABC)

• Model ini dapat digunakan pada perusahaan yang mempunyai jumlah item persediaan yang sanga
t besar, misalnya 100 jenis persediaan.
• Pada metode ini, seluruh item persediaan diklasifikasi menjadi tiga kelompok sebagai berikut:
 Kelompok A adalah kelompok persediaan yang jumlah sekitar 15% dari seluruh jenis persedi
aan tetapi nilai investasinya mencapai 70% dari seluruh persediaan.
 Kelompok B adalah kelompok persediaan yang jumlah sekitar 30% dari seluruh jenis persedi
aan tetapi nilai investasinya mencapai 20% dari seluruh persediaan.
 Kelompok C adalah kelompok persediaan yang jumlahnya sangat besar yaitu sekitar 55% da
ri seluruh jenis persediaan tetapi nilai investasinya mencapai 10% dari seluruh persediaan
.
Model Manajemen Persediaan
Just In Time (JIT )
Just In Time yaitu pendekatan manajemen dan
pengendalian persediaan di mana persediaan di
peroleh dan dimaksukkan ke bagian produksi
tepat saat persediaan dibutuhkan . Hal ini
membutuhkan sistem informasi produksi dan
persediaan yang sangat akurat, pembelian yang
sangat efisien, pemasok yang sangat dapat
diandalkan, dan sistem penanganan persediaan
yang efisien. Tujuan dari sistem Just In Time
bukan hanya mengurangi persediaan tetapi juga
memperbaiki produktivitas, kualitas produk, dan
fleksibilitas produksi secara berkelanjutan
Model Manajemen Persediaan
Model Outsourcing

Pengendalian persediaan ini adalah dengan cara membeli dari pihak l


uar. Dengan cara ini maka perusahaan tidak perlu memproduksi send
iri input yang diperlukan dalam proses produksi. Pembelian input dari
luar yakni semata-mata karena mungkin cara ini lebih murah dibandin
gkan dengan memproduksi sendiri inpu yang diperlukan
Contoh Soal
PT Jebus menginginkan barang 3000 unit/bulan dengan biaya pemesanan Rp.
6000/unit , sedangkan biaya penyimpanan sebesar Rp. 100/unit Kebutuhan ini akan
dikirim oleh pengantar 3 hari setelah perusahaan memesan atau menelpon.
Ditetapkan bahwa persediaan pengamanan sebesar kebutuhan adalah 1 hari.
Hitunglah besarnya pemesanan bahan baku yang paling ekonomis untuk setiap kali
pesan dan jumlah biaya yang dikeluarkan serta juga besarnya ReOrder Point
(pemesanan kembali )

Dik = S = 3000 unit/bulan


O = Rp. 6000/unit
C = Rp.100/unit
DU = 3000 unit/bulan = 100 unit/perhari
LT = 3 hari
Contoh Soal
Penyelesaian :
1. Menghitung besarnya pemesanan bahan baku paling ekonomis

2(O)(S)
Q* 
C
2(6000)(3000)
Q= 100

Q = 600 unit

Jadi, pesanan paling ekonomis adalah 600 unit . Ini berarti bahwa jumlah bahan
baku yang dipesan untuk setiap kali pemesanan sebanyak 600 unit dengan
frekuensi pemesanan sebanyak 5 kali dalam sebulan atau setiap 6 hari dilakukan
pemesanan
Contoh Soal
2. Jumlah biaya yang dikeluarkan
Q S
TIC  
 C    O 
2 Q
   
600 3000
TIC = 100 + 6000
2 600

TIC = Rp 30.000 + Rp 30.000


TIC = Rp.60.000

Jadi jumlah biaya yang dikeluarkan untuk pesanan 600 unit adalah Rp 60.000
Contoh Soal
3. Menentukan ReOrder Point

Langkah 1 , menghitung safety stock terlebih dahulu

SS = 1 hari × 3000 unit/30)


SS = 100 unit

Langkah 2, menentukan ReOrder Point


ROP  LT DU   SS

ROP = [(3hari)(3000 unit/30)]+ 100 unit


= 300 + 100
= 400 unit
Contoh Soal
Dari soal diatas dapat dilihat bahwa ROP pada jumlah 400 unit, yang
berarti pesanan harus dilakukan ketika jumlah persediaan sisa 400 unit
termaksud persediaan pengamanan yaitu 100. Dengan demikian,
pemesanan ekonomis sebanyak 600 unit tersebut, apabila sudah terpakai
sebanyak 300 unit, sudah harus dilakukan pemesanan kembali
Tingkat Persediaan (unit)

700

400

100

0 3 6 Waktu (hari)
CONTOH SOAL
No Kode barang volume penjualan(unit/bulan) harga /unit
1 AA 53 Rp 12.000
2 AB 52 Rp 12.000
3 BB 50 Rp 12.000
4 BC 49 Rp 12.000
5 CC 45 Rp 12.000
6 CD 43 Rp 12.000
7 DD 38 Rp 9.000
8 DE 34 Rp 9.000
9 EE 31 Rp 9.000
10 EF 27 Rp 9.000
11 FF 24 Rp 9.000
12 GH 20 Rp 5.000
13 HH 19 Rp 5.000
14 HI 18 Rp 5.000
15 II 15 Rp 5.000
16 JK 12 Rp 5.000
17 KK 9 Rp 5.000
18 LM 7 Rp 5.000
19 MM 6 Rp 5.000
20 NO 3 Rp 5.000
1. Hitung nilai investasi
No Kode barang volume penjualan(unit/bulan) harga /unit Nilai Investasi
1 AA 53 Rp 12.000 Rp 636.000
2 AB 52 Rp 12.000 Rp 624.000
3 BB 50 Rp 12.000 Rp 600.000
4 BC 49 Rp 12.000 Rp 588.000
5 CC 45 Rp 12.000 Rp 540.000
6 CD 43 Rp 12.000 Rp 516.000
7 DD 38 Rp 9.000 Rp 342.000
8 DE 34 Rp 9.000 Rp 306.000
9 EE 31 Rp 9.000 Rp 279.000
10 EF 27 Rp 9.000 Rp 243.000
11 FF 24 Rp 9.000 Rp 216.000
12 GH 20 Rp 5.000 Rp 100.000
13 HH 19 Rp 5.000 Rp 95.000
14 HI 18 Rp 5.000 Rp 90.000
15 II 15 Rp 5.000 Rp 75.000
16 JK 12 Rp 5.000 Rp 60.000
17 KK 9 Rp 5.000 Rp 45.000
18 LM 7 Rp 5.000 Rp 35.000
19 MM 6 Rp 5.000 Rp 30.000
20 NO 3 Rp 5.000 Rp 15.000
2. Hitung nilai kumulatif
No Kode barang volume penjualan(unit/bulan) harga /unit Nilai Investasi Nilai Kumulatif
1 AA 53 Rp 12.000 Rp 636.000 Rp 636.000
2 AB 52 Rp 12.000 Rp 624.000 Rp 1.260.000
3 BB 50 Rp 12.000 Rp 600.000 Rp 1.860.000
4 BC 49 Rp 12.000 Rp 588.000 Rp 2.448.000
5 CC 45 Rp 12.000 Rp 540.000 Rp 2.988.000
6 CD 43 Rp 12.000 Rp 516.000 Rp 3.504.000
7 DD 38 Rp 9.000 Rp 342.000 Rp 3.846.000
8 DE 34 Rp 9.000 Rp 306.000 Rp 4.152.000
9 EE 31 Rp 9.000 Rp 279.000 Rp 4.431.000
10 EF 27 Rp 9.000 Rp 243.000 Rp 4.674.000
11 FF 24 Rp 9.000 Rp 216.000 Rp 4.890.000
12 GH 20 Rp 5.000 Rp 100.000 Rp 4.990.000
13 HH 19 Rp 5.000 Rp 95.000 Rp 5.085.000
14 HI 18 Rp 5.000 Rp 90.000 Rp 5.175.000
15 II 15 Rp 5.000 Rp 75.000 Rp 5.250.000
16 JK 12 Rp 5.000 Rp 60.000 Rp 5.310.000
17 KK 9 Rp 5.000 Rp 45.000 Rp 5.355.000
18 LM 7 Rp 5.000 Rp 35.000 Rp 5.390.000
19 MM 6 Rp 5.000 Rp 30.000 Rp 5.420.000
20 NO 3 Rp 5.000 Rp 15.000 Rp 5.435.000
3. Hitung presentasi nilai kumulatif dari investasi
volume penjualan(unit/bulan Nilai Investa Presentasi Nilai kumulatif dari investasi (
No Kode barang harga /unit Nilai Kumulatif
) si %)

1 AA 53 Rp 12.000 Rp 636.000 Rp 636.000 12


2 AB 52 Rp 12.000 Rp 624.000 Rp 1.260.000 23
3 BB 50 Rp 12.000 Rp 600.000 Rp 1.860.000 34
4 BC 49 Rp 12.000 Rp 588.000 Rp 2.448.000 45
5 CC 45 Rp 12.000 Rp 540.000 Rp 2.988.000 55
6 CD 43 Rp 12.000 Rp 516.000 Rp 3.504.000 64
7 DD 38 Rp 9.000 Rp 342.000 Rp 3.846.000 71
8 DE 34 Rp 9.000 Rp 306.000 Rp 4.152.000 76
9 EE 31 Rp 9.000 Rp 279.000 Rp 4.431.000 82
10 EF 27 Rp 9.000 Rp 243.000 Rp 4.674.000 86
11 FF 24 Rp 9.000 Rp 216.000 Rp 4.890.000 90
12 GH 20 Rp 5.000 Rp 100.000 Rp 4.990.000 92
13 HH 19 Rp 5.000 Rp 95.000 Rp 5.085.000 94
14 HI 18 Rp 5.000 Rp 90.000 Rp 5.175.000 95
15 II 15 Rp 5.000 Rp 75.000 Rp 5.250.000 97
16 JK 12 Rp 5.000 Rp 60.000 Rp 5.310.000 98
17 KK 9 Rp 5.000 Rp 45.000 Rp 5.355.000 99
18 LM 7 Rp 5.000 Rp 35.000 Rp 5.390.000 99
19 MM 6 Rp 5.000 Rp 30.000 Rp 5.420.000 100
20 NO 3 Rp 5.000 Rp 15.000 Rp 5.435.000 100
Kode bara Presentasi Nilai kumulatif dari in
No volume penjualan(unit/bulan) harga /unit Nilai Investasi Nilai Kumulatif
ng vestasi (%)

1 AA 53 Rp 12.000 Rp 636.000 Rp 636.000 12


2 AB 52 Rp 12.000 Rp 624.000 Rp 1.260.000 23
3 BB 50 Rp 12.000 Rp 600.000 Rp 1.860.000 34
4 BC 49 Rp 12.000 Rp 588.000 Rp 2.448.000 45
5 CC 45 Rp 12.000 Rp 540.000 Rp 2.988.000 55
6 CD 43 Rp 12.000 Rp 516.000 Rp 3.504.000 64
7 DD 38 Rp 9.000 Rp 342.000 Rp 3.846.000 71
8 DE 34 Rp 9.000 Rp 306.000 Rp 4.152.000 76
9 EE 31 Rp 9.000 Rp 279.000 Rp 4.431.000 82
10 EF 27 Rp 9.000 Rp 243.000 Rp 4.674.000 86
11 FF 24 Rp 9.000 Rp 216.000 Rp 4.890.000 90
12 GH 20 Rp 5.000 Rp 100.000 Rp 4.990.000 92
13 HH 19 Rp 5.000 Rp 95.000 Rp 5.085.000 94
14 HI 18 Rp 5.000 Rp 90.000 Rp 5.175.000 95
15 II 15 Rp 5.000 Rp 75.000 Rp 5.250.000 97
16 JK 12 Rp 5.000 Rp 60.000 Rp 5.310.000 98
17 KK 9 Rp 5.000 Rp 45.000 Rp 5.355.000 99
18 LM 7 Rp 5.000 Rp 35.000 Rp 5.390.000 99
19 MM 6 Rp 5.000 Rp 30.000 Rp 5.420.000 100
20 NO 3 Rp 5.000 Rp 15.000 Rp 5.435.000 100
volume penjualan(unit/b Presentasi Nilai kumulatif Presentase Nilai Kumulat
No Kode barang harga /unit Nilai Investasi Nilai Kumulatif
ulan) dari investasi (%) if dari Item persediaan

1 AA 53 Rp12.000 Rp636.000 Rp636.000 12 5

2 AB 52 Rp12.000 Rp624.000 Rp1.260.000 23 10

3 BB 50 Rp12.000 Rp600.000 Rp1.860.000 34 15

4 BC 49 Rp12.000 Rp588.000 Rp2.448.000 45 20

5 CC 45 Rp12.000 Rp540.000 Rp2.988.000 55 25

6 CD 43 Rp12.000 Rp516.000 Rp3.504.000 64 30

7 DD 38 Rp9.000 Rp342.000 Rp3.846.000 71 35

8 DE 34 Rp9.000 Rp306.000 Rp4.152.000 76 40

9 EE 31 Rp9.000 Rp279.000 Rp4.431.000 82 45

10 EF 27 Rp9.000 Rp243.000 Rp4.674.000 86 50

11 FF 24 Rp9.000 Rp216.000 Rp4.890.000 90 55

12 GH 20 Rp5.000 Rp100.000 Rp4.990.000 92 60

13 HH 19 Rp5.000 Rp95.000 Rp5.085.000 94 65

14 HI 18 Rp5.000 Rp90.000 Rp5.175.000 95 70

15 II 15 Rp5.000 Rp75.000 Rp5.250.000 97 75

16 JK 12 Rp5.000 Rp60.000 Rp5.310.000 98 80

17 KK 9 Rp5.000 Rp45.000 Rp5.355.000 99 85

18 LM 7 Rp5.000 Rp35.000 Rp5.390.000 99 90

19 MM 6 Rp5.000 Rp30.000 Rp5.420.000 100 95

20 NO 3 Rp5.000 Rp15.000 Rp5.435.000 100 100


Presentase Nilai Kumul
volume penjualan(unit/bulan Presentasi Nilai kumula
No Kode barang harga /unit Nilai Investasi Nilai Kumulatif atif dari Item persediaa Kelompok
) tif dari investasi (%)
n

1 AA 53 Rp12.000 Rp636.000 Rp636.000 12 5 A


52
2 AB Rp12.000 Rp624.000 Rp1.260.000 23 10 A
50
3 BB Rp12.000 Rp600.000 Rp1.860.000 34 15 A
49
4 BC Rp12.000 Rp588.000 Rp2.448.000 45 20 A
45
5 CC Rp12.000 Rp540.000 Rp2.988.000 55 25 A
43
6 CD Rp12.000 Rp516.000 Rp3.504.000 64 30 A
38
7 DD Rp9.000 Rp342.000 Rp3.846.000 71 35 B
34
8 DE Rp9.000 Rp306.000 Rp4.152.000 76 40 B

9 EE 31 Rp9.000 Rp279.000 Rp4.431.000 82 45 B

10 EF 27 Rp9.000 Rp243.000 Rp4.674.000 86 50 B

11 FF 24 Rp9.000 Rp216.000 Rp4.890.000 90 55 B

12 GH 20 Rp5.000 Rp100.000 Rp4.990.000 92 60 C

13 HH 19 Rp5.000 Rp95.000 Rp5.085.000 94 65 C

14 HI 18 Rp5.000 Rp90.000 Rp5.175.000 95 70 C

15 II 15 Rp5.000 Rp75.000 Rp5.250.000 97 75 C

16 JK 12 Rp5.000 Rp60.000 Rp5.310.000 98 80 C

17 KK 9 Rp5.000 Rp45.000 Rp5.355.000 99 85 C

18 LM 7 Rp5.000 Rp35.000 Rp5.390.000 99 90 C

19 MM 6 Rp5.000 Rp30.000 Rp5.420.000 100 95 C

20 NO 3 Rp5.000 Rp15.000 Rp5.435.000 100 100 C


JAWABAN
Penyelesaian :
1. Menghitung besarnya pemesanan bahan baku paling ekonomis

2(60.000)(1200)
Q= 1

Q = 12.000 unit

Jadi, pesanan paling ekonomis adalah 12.000 unit . Ini berarti bahwa jumlah
bahan baku yang dipesan untuk setiap kali pemesanan sebanyak 12.000 unit
dengan frekuensi pemesanan sebanyak 0.1 kali dalam sebulan atau setiap 300
hari dilakukan pemesanan
2. Jumlah biaya yang dikeluarkan

12.000 1.200
TIC = 1 + 60.000
2 12.000

TIC = Rp 6.000 + Rp 6.000

TIC = Rp. 12.000


3. Menentukan ReOrder Point

Langkah 1 , menghitung safety stock terlebih dahulu

SS = 4 hari × (1.200 unit/30 hari)


SS = 160 unit

Langkah 2, menentukan ReOrder Point

ROP = [(7hari)(12.000 unit/30hari)]+ 160 unit


= 280 unit + 160 unit
= 440
Presentase Nilai Presentase Nilai
Nilai Kumulatif dari
No Kode Barang Penjualan(unit) Harga/Unit Investasi Kumulatif dari Kumulatif dari Kelompok
investasi
Investasi Item Persediaan

1 FF 32 Rp9.000 Rp288.000 Rp288.000 19 10 A


2 GH 30 Rp9.000 Rp270.000 Rp558.000 37 20 A
3 HH 27 Rp9.000 Rp243.000 Rp801.000 52 30 A
4 HI 24 Rp9.000 Rp216.000 Rp1.017.000 67 40 A
5 II 19 Rp7.000 Rp133.000 Rp1.150.000 75 50 B
6 JK 16 Rp7.000 Rp112.000 Rp1.262.000 83 60 B
7 KK 15 Rp7.000 Rp105.000 Rp1.367.000 90 70 B
8 LM 10 Rp7.000 Rp70.000 Rp1.437.000 94 80 C
9 MM 9 Rp5.000 Rp45.000 Rp1.482.000 97 90 C
10 NO 9 Rp5.000 Rp45.000 Rp1.527.000 100 100 C