Anda di halaman 1dari 60

PROSES TERJADINYA

GANGGUAN JIWA
Veny Elita, SKp, MN
KJFD JIWA-KOMUNITAS
FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS RIAU
KASUS
Bandingkan 2 orang berikut ini:
■ Tn. A dan Tn. B sama-sama bekerja di sebuah instansi pemerintahan
■ Pada suatu hari Tn. A dan Tn. B mendapat teguran dari atasan mereka.
■ Respon Tn. A adalah sebagai berikut:
 Memperbaiki kesalahannya dan berusaha agar tidak terulang lagi di lain waktu
 Menganggap teguran tersebut sebagai salah satu umpan balik bahwa dirinya
belum berprestasi secara optimal.
 Tn. A terpacu untuk meningkatkan kinerjanya
 Tn. A menjadi matang dan kuat jiwanya
■ Tn. B
 Tidak mau mengakui dan memperbaiki kesalahan
 Melampiaskan kekesalannya dengan memarahi istri dan
anak2nya di rumah
 Menilai atasannya bukan pemimpin yang baik
 Menghindar bertemu atasan
 Menangis tersedu-sedu
 Berubah sikap menjadi sangat sopan dan sangat takut kepada atasan, tetapi
dihatinya sangat benci kepada atasan tersebut
 Lama kelamaan karena tidak mau memperbaiki kesalahan, karir Tn. B menjadi
terhambat
■ Respons Tn. A merupakan respon orang yang
sehat jiwa sedangkan respons Tn. B
merupakan respon orang yang rapuh jiwanya
■ Bagaimana proses terbentuknya jiwa yang
rapuh??
KESEHATAN JIWA
• Sehat : Suatu kondisi sejahtera, baik fisik, mental maupun sosial
bukan hanya bebas dari penyakit dan kecacatan (WHO)
• Kesehatan :
• Fisik (Biologi)
• Mental
• Sosial
• Spiritual
• Tidak hanya tidak sakit dan tidak cacat

TIDAK ADA KESEHATAN TANPA SEHAT JIWA


Menurut Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992
“Kesehatan” adalah: “Kesehatan adalah keadaan
sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan
setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis”.
■ Atas dasar definisi Kesehatan tersebut, maka manusia
selalu dilihat sebagai
– satu kesatuan yang utuh (holistik). dari unsur “badan”
(organobiologik), “jiwa” (psiko-edukatif) dan “sosial”
(sosio-kultural),
– yang tidak dititik beratkan pada “penyakit” tetapi pada
kualitas hidup yang terdiri dan “kesejahteraan” dan
“produktivitas sosial ekonomi”.
■Dari definisi tersebut juga tersirat
bahwa “Kesehatan Jiwa” merupakan
bagian yang tidak terpisahkan
(integral) dari “Kesehatan” dan unsur
utama dalam menunjang terwujudnya
kualitas hidup manusia yang utuh.
Orang sehat jiwa (OSJ)
■ Pengertian kesehatan jiwa : Kondisi dimana seorang
individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual,
dan sosial sehingga individu tersebut menyadari
kemampuan sendiri, dapat mengatasi tekanan, dapat
bekerja secara produktif, dan mampu memberikan
kontribusi untuk komunitasnya. (UU Kesehatan Jiwa no 18
tahun 2014)
Ciri-ciri orang sehat jiwa:
1. Bersikap positif terhadap diri sendiri
2. Mampu tumbuh, berkembang & mencapai aktualisasi
diri
3. Integritas
4. Otonomi
5. Persepsi realistic
6. Menyesuaikan diri dengan lingkungan
1. Perilaku positif terhadap diri sendiri

a.Menerima diri dan adanya kesadaran diri


b.Memiliki objektifitas terhradap diri dan memiliki
aspirasi yang realistis dan fleksibel, yang dapat
berubah seiring pertambahan usia
c. Memiliki rasa identitas, keutuhan diri, rasa
memiliki, rasa aman dan rasa berarti
2. Tumbuh, berkembang dan mampu
mencapai aktualisasi diri
■ Memiliki arti : individu mencari pengalaman2 baru untuk
lebih menggali aspek yang ada dalam dirinya
■ Memiliki kriteria :
1. Menggunakan seluruh potensi yang dimiliki
2. Merasa nyaman berhubungan dengan perasaan-perasaan pribadi
dan dapat mengintegrasikannya dengan pikiran dan perilaku
3. Dapat berinteraksi secara bebas dan terbuka dengan
lingkungannya
4. Dapat berbagi dengan orang lain dan bertumbuh berdasarkan
pengalaman yang dialaminya
3. Integritas
a. Keseimbangan antara apa yang diekspresikan dan apa
yang direpresikan antar konflik-konflik “outer “ dan
“inner”
b. Dapat diukur melalui kemampuan seseorang untuk
bertahan terhadap stres dan menangani kecemasan
c. Ego yang kuat namun tidak kaku memampukan
seseorang untuk mengatasi perubahan dan bertumbuh
melalui hal tersebut
4. Autonomy
a. Meliputi `self-determination` : suatu keseimbangan
antara ketergantungan dan kemandirian dan
penerimaan konsekuensi dari tindakan seseorang
b. Individu bertanggungjawab untuk keputusan dan
tindakan yang diambil juga terhadap pikiran dan
perasaannya.
c. Akibatnya : dapat menghargai otonomi dan
kebebasan orang lain
5. Mampu mempersepsikan realita secara tepat
a. Merupakan kemampuan untuk menguji asumsi
tentang dunia melalui pemikiran empiris
b. Seseorang yang sehat jiwa dapat mengubah
persepsinya berdasarkan informasi baru yang
diterimanya
c. Meliputi empati atau sensitivitas sosial, seperti
penghargaan terhadap perasaan dan perilaku
orang lain
6. Kemampuan menguasai lingkungan
a. Dapat berhubungan secara efektif dengan dunia luar,
menyelesaikan masalah personal dan memperoleh
kepuasan dari kehidupannya
b. Mampu menghadapi kesepian, kemarahan dan
frustasi dengan cara yang sehat
c. Dapat berespons terhadap orang lain, mencintai dan
dicintai dan menghadapi hubungan timbal balik
d. Dapat membangun persahabatan baru dan memiliki
kepuasan dalam keterlibatannya di kelompok sosial
Pemeliharaan kesehatan jiwa diri sendiri
Penilaian diri
 Berkaitan erat dengan: cara berpikir, cara berperan dan cara
bertindak
Penilaian diri Positif
Menemukan kepuasan hidup
a. Membina hubungan erat dan sehat
b. Menetapkan tujuan dan mencapainya
c. Menghadapi maju mundurnya kehidupan
d. Mempunyai keyakinan untuk menyelesaikan masalah
Penilaian diri negatif

a. Merasa hidup ini sulit dikendalikan


b. Merasa stres
c. Menghindari tantangan hidup
d. Memikirkan kegagalan
Upaya untuk membangun penilaian diri:
1. Seseorang harus jujur terhadap diri sendiri
a. Berupaya mengenali diri sendiri dan belajar menerima
kekurangan dan kelebihannya
b. Bersedia memperbaiki diri sendiri untuk mengatasi
kekurangan
c. Menetapkan tujuan dan berusaha mencapainya dengan
tidak membandingkan diri sendiri dan orang lain
d. Selalu berusaha untuk mencapai yang terbaik sesuai
dengan kemampuan tetapi tidak boleh terlalu memaksakan
diri
Rentang sehat – sakit jiwa

Respons Adaptif  Respons Maladaftif

Sehat Jiwa Masalah Psikososial Gangguan Jiwa

 Pikiran logis • Waham


•Pikiran kadang menyimpang
 Persepsi akurat
• Ilusi • Halusinasi
 Emosi konsisten
•Reaksi emosional • Ketidakmampuan
mengendalikan emosi
 Perilaku sesuai
•Perilaku kadang tidak sesuai • Ketidakteraturan perilaku
 Hub. sosial memuaskan •Isolasi sosial
•Menarik diri
MASALAH PSIKOSOSIAL
■ Masalah psikologis yang timbul dari setiap perubahan dalam
kehidupan individu baik yang bersifat psikologis ataupun
sosial
■ Mempunyai pengaruh timbal balik
■ Berpotensi cukup besar sebagai faktor penyebab terjadinya
gangguan jiwa/kesehatan secara nyata
■ Masalah kesehatan jiwa yang berdampak pada lingk. sosial
CIRI-CIRI Masalah Psikososial :

■ Cemas, khawatir berlebihan & takut


■ Mudah tersinggung
■ Sulit konsentrasi
■ Bersifat ragu-ragu/merasa rendah diri
■ Kecewa
■ Pemarah & agresif
■ Reaksi fisik: jantung berdebar, otot tegang, sakit kepala
Orang dengan masalah kejiwaan (ODMK)

■ Pengertian : Orang yang mempunyai masalah fisik, mental, sosial,


pertumbuhan dan perkembangan, dan atau kualitas hidup sehingga
memiliki resiko mengalami gangguan jiwa (UU Kesehatan jiwa no 18
tahun 2014).
■ Ciri-ciri ODMK:
– Fisik: stroke, hipertensi, diabetes mellitus, jantung,dll
– Mental : galau, khawatir berlebihan
– Sosial : putus sekolah, berhenti sekolah, perceraian, KDRT
– Pertumbuhan dan perkembangan : kurang gizi, kenakalan
remaja, bullying
■ Sehingga memiliki resiko mengalami gangguan jiwa
Gangguan jiwa
Menurut PPDGJ III:
Sindrom pola perilaku seseorang yang scr khas
berkaitan dengan suatu gejala penderitaan
(distress) atau hendaya (impairment) di dalam
satu atau lebih fungsi yang penting dari
manusia, yaitu fungsi psikologik, prilaku, biologik
dan gangguan itu tidak hanya terletak di dalam
hubungan antara orang itu tetapi juga dengna
masyarakat
Sumber Penyebab gangguan Jiwa
Ciri- ciri Gangguan Jiwa :
■ Marah tanpa sebab
■ Mengurung diri
■ Tidak mengenali orang
■ Bicara kacau
■ Bicara sendiri
■ Tidak mampu merawat diri
Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ)
■ Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) adalah orang yang mengalami
gangguan dalam
– pikiran
– perilaku
– perasaan
■ Yang terlihat dalam bentuk sekumpulan gejala dan atau perubahan
perilaku yang bermakna, serta dapat menimbulkan penderitaan dan
hambatan dalam menjalankan fungsi orang sebagai manusia ( UU
Kesehatan Jiwa no 18 tahun 2014)

ODGJ :
a. Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) Berat
b. Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) Ringan
Ciri ODGJ
 Berat  Schizofrenia
◦ Marah tanpa sebab,
◦ Mengurung diri,
◦ Tidak mengenali orang lain,
◦ Bicara kacau, bicara sendiri, teriak
◦ Tidak mampu merawat diri sendiri.
 Ringan  Cemas dan Depresi
◦ Was was
◦ Tidak mau makan
◦ Tidak bisa tidur
◦ sedih berkepanjangan,
◦ Tidak semangat cenderung malas
29
Proses terjadinya gangguan jiwa
■ Masa Kanak-kanak
3 kebutuhan emosional inti paling mendasar :
 1) rasa aman, 2) dukungan, bimbingan dan asuhan, 3)
penerimaan dan kasih sayang
 Bila hal tersebut tidak didapatkan, misal, orang tua sibuk bekerja,
keluarga hidup dalam pengungsian, sering pindah tempat tinggal,
terkena PHK, hidup yang bergejolak membuat anak merasa
dirinya tidak aman (insecure) dan ketakutan
 Bila salah satu dari kebutuhan emosional tsb tidak terpenuhi,
anak akan menjadi stress.
 Untuk menguranginya, anak akan memilihi salah satu dari
berbagai cara mengatasi stress tsb disebut sebagai Koping.
Stress
 Secara formal, stress adalah :
 Suatu respon yang adaptif
 Dihubungkan oleh karakteristik dan/atau proses psikologis
individu
 Yang merupakan suatu konsekuensi dari suatu tindakan
eksternal, situasi atau peristiwa yang menempatkan
 Dimensi stress
 Tuntutan lingkungan, diartikan sebagai penyebab stress,
yang menghasilkan
 Suatu respon yang adaptif yang dipengaruhi oleh
perbedaan individual
Definition of Stress

■ Stes adalah suatu keadaan yang dihasilkan oleh perubahan lingkungan yang
diterima sebagai suatu hal yang menantang, mengancam atau merusak terhadap
keseimbangan atau equilibrium dinamis seseorang
■ Hans Selye mendefinisikan stres sebagai respon nonspesifik tubuh terhadap setiap
kebutuhan, tanpa memperhatikan sifatnya
■ Faktor pencetus stres disebut stresor
■ Ada individu yang melihat stress sebagai suatu
stimulus atau suatu kesemapatan untuk
berkembang, tapi ada sebagian yang menganggap
sebagai kesulitan yang harus dihindari
Macam-macam stres

■ Stres Fisik
■ Stres Kimiawi
■ Stres Mikrobiologi
■ Stres Fisiologik
■ Stres Proses Pertumbuhan dan Perkembangan
■ Stres psikis atau emosional
Sumber Stresor

■ a. Sumber stres dalam diri


■ b. Sumber stres dalam keluarga
■ c. Sumber stres dapat terjadi di lingkungan atau
masyarakat
Faktor Pengaruh Respon terhadap Stresor
1. Sifat stresor
o Sifat stresor dapat berubah tiba2 atau berangsur-angsur, sifat ini pada
setiap individu dapat berbeda tergantung dari pemahaman tentang arti
stresor
2. Durasi stresor
o Lamanya stresor yang dilami klien akan mempengaruhi respon tubuh.
Apabila stresor yang dialami lebih lama, maka respon yang dialaminya juga
akan lebih lama dan dapat mempengaruhi dari fungsi tubuh yang lain
3. Jumlah stresor
o Semakin banyak stresor yang dialami seseorang dapat menentukan respon
tubuh. Semakin banyak stresor yang dilami pada seseorang, dapat
menimbulkan dampakyang besar bagi fungsi tubuhjuga sebaliknya dengan
jumlah stresor yang dialami banyak dan kemampuan adaptasi baik, maka
seseorang akan memeliki kemampuan dalam mengatasinya
Faktor Pengaruh Respon terhadap Stresor
4. Pengalaman masa lalu
o Semakin banyak stresor dan pengalaman yang dialami
dan mampu mengahadapinya, maka semakin baik dalam
mengatasinya sehingga kemampuan adaptifnya akan
semakin baik pula
5. Tipe Kepribadian
o Apabila seseorang yang memiliki tipe kepribadian A,
maka lebih rentan terkena stres dibandingkan dengan tipe
kepribadian B
Kepribadian Tipe A
■ Ambisius,agresif,kompetitif, kurang sabar,mudah
tegang, mudah tersinggung,mudah
marah,memiliki kewaspadaan yg berlbhn,bicara
cepat, bekerja tdk kenal waktu,pandai
berorganisasi,memimpin/ memerintah,lbh suka
bekerja sendirian bl ada tantangan,kaku terhdp
waktu,ramah, tdk mdh dipengaruhi, bila berlibur
pikirannya lbh kepekerjaan
Kepribadian Tipe B

■Tidak agresif,ambisi yg wajar,


penyabar, ceria, tdk mdh
tersinggung,tdk pemarah,bicara tidak
tergesa2,,lbh suka kerjasama,mudah
bergaul
Faktor Pengaruh Respon terhadap Stresor
6. Tingkat perkembangan
o Anak : Konflik mandiri dan ketergantungan orang tua, Mulai sekolah,
Kompetisi dengan teman
o Remaja : Perubahan tubuh, Hubungan dengan teman, Seksualitas,
Mandiri
o Dewasa muda : Menikah, Meninggalkan Rumah, Mulai bekerja,
Melanjutkan Pendidikan, Membesarkan anak
o Dewasa Tengah : Menerima proses menua, Status social
o Dewasa Tua : Usia lanjut, Perubahan tempat tinggal, Penyesuaian diri
masa pensiun, Proses Kematian
Tahapan Stres
1. Tahapan Pertama
■ Merupakan tahap ringan dari stress yang ditandai dengan adanya
semangat bekerja besar, penglihatannya tajam tidak seperti pada
umumnya, merasa mampu menyelesaikan pekerjaan seperti biasanya,
kemudian merasa senang akan pekerjaan akan tetapi kemampuan yang
dimilikinya semakin berkurang
2. Tahapan Kedua
■ Pada stres tahap kedua ini seseorang memiliki ciri adanya perasaan letih
sewaktu bangun pagi yang semestinya segar, terasa lelah sesudah makan
siang, cepat lelah menjelang sore, serung mengeluh lambung atau perut
tidak nyaman, denyut jantung berdebar-debar lebih dari biasanya, otot2
punggung dan tengkuk semakin tegang dan tidak bisa santai
Tahapan Stres
3. Tahapan Ketiga
■ Pada tahap ketiga ini, seseorang memiliki ciri mengalami gangguan
seperti pada lambung dan usus, ketegangan otot akan semakin terasa,
perasaan tidak tenang, gangguan pola tidur seperti sukar mulai untuk
tidur, terbangun tengah malam dan sukar kembali tidur, lemah
4. Tahapan Keempat
■ Tahap ini seseorang akan mengalami gejala seperti segala pekerjaan yang
menyenangkan terasa membosankan, semula tanggap terhadap situasi
menjadi kehilangan kemampuan untuk merespons secara adekuat, tidak
mampu melaksanakan kegiatan sehari-hari, adanya gangguan pola tidur,
sering menolak ajakan karena tidak bergairah, kemampuan mengingat
dan konsentrasi menurun karena adanya perasaan ketakutan dan
kecemasan yang tidak diketahui penyebabnya
Tahapan Stres
5. Tahapan Kelima
■ Stres tahap ini ditandai dengan adanya kelelahan fisik secara
mendalam, tidak mampu menyelesaikan pekerjaan yang
ringan dan sederhana, gangguan pada system pencernaan
semakin berat dan perasaan ketakutan dan kecemasan
semakin meningkat
6. Tahapan Keenam
■ Tahap ini merupakan tahap puncak dan seseorang mengalami
panik dan perasaan takut mati dengan ditemukan gejala
seperti detak jantung semakin keras, susah bernafas, terasa
gemetar seluruh tubuh dan berkeringat, kemungkinan terjadi
kolaps atau pingsan
Hal2 yg menybbkn Stress
1. Frustrasi
Individu terhbt dlm usaha mencpi tujuan mk timbul
frustrasi
■ Sumber Frustrasi
 Dalam diri : Penyakit, Cacat, idea dll
 Luar : Bencana alam, kehlgn org yg dicintai,
peperangan,goncangan ekonomi dll.
2. Konflik
Bl individu tdk dpt memilih antara 2 atau lbh keb atau
tujuan.
a. Konflik pendekatan- penolakan
- Individu hrs menntkn st kep tp ia tdk mampu.
o Maju tdk berani
o Mundur tdk menyengkn
b. Konflik pendekatan ganda
- Individu berusaha mencapai kedua tujuan tp sukar, ia hrs mlpskn
salah satunya.
c Konflik penolakan ganda
- Individun tdk menghendaki kedua tujuan oleh krn keduanya tdk
menyenangkan atau memilih salah satu.
Cth : Hrs mlkkn hal yg berbahaya atau dicap sbg pengecut
- Jd pengangguran atau melkkn suatu pekerjaan yg yg tdk disenangi
3 Tekanan

■ Tekanan sehari2 walaupun ringan, atau bertumpuk, suatu saat dpt timbul stress
■ Tekanan dr luar/lingkungan (selalu dicela)
■ Tekanan dr dlm : Penyesalan, mlkkn perbuatan salah/ berdosa
4. Krisis

■ Krisis ekonomi
■ Penyakit berat yg tiba2
■ Tiba2 kena bencana
PHYSIOLOGIC
MANIFESTATIONS OF STRESS
1. ANXIETY
2. FEAR
3. ANGER
4. DEPRESSION
• Adalah proses yg dilalui individu dalam
m’selesaikan situasi yg stressful.
• Koping merupakan respon indiv. terhadap situasi yg
mengancam.
• Strategi Koping adalah cara yg dilakukan individu
untuk merubah lingkungan atau situasi atau
menyelesaikan masalah.
• Koping Efektif  ADAPTASI (ADAPTIF)
• Koping yg tidak efektif  MALDAPTIF
• Koping yg dilakukan individu bervariasi & tidak
hanya satu strategi koping yg dapat digunakan
untuk menyelesaikan masalah. .
Jenis-jenis koping
■ Menerima apa adanya
■ Menyerah dengan keadaan
■ Kompensasi berlebihan
■ Menghindar
■ Menyerang balik
■ dst
Adaptasi adalah hasil akhir dari koping. Adaptasi
merupakan dasar keseimbangan dan pertahanan
terhadap stress. Beradaptasi artinya memodifikasi
situasi untuk mendapatkan yg baru, berubah,berbeda.

STRESSOR stimulus

masalah
STRESS

KOPING ADAPTASI hasil akhir


ADAPTASI FISIOLOGIS
Atau adaptasi biologis  terjadi respon
peningkatan atau gangguan tubuh dan usaha
yg dihasilkan berupa kompensasi yaitu
perubahan fisik.
Misal : meningkatnya kekuatan otot setelah
lat.fisik, meningkat kapasitas jantung, paru.

ADAPTASI PSIKOLOGIS
Termasuk perubahan sikap & perilaku, misal :
strategi koping, Life style, berhenti merokok,
maladaptif seperti minum alkhohol, merokok,
obat, dll.
ADAPTASI SOSIAL BUDAYA
Termasuk perubahan perilaku
berkaitan dengan norma, keyakinan,
bahasa, keputusan, dll.

21
Hubungan antara taraf berat stresor dengan
gangguan jiwa
■ Suatu peristiwa dalam kehidupan seseorang dapat dilewati oleh
orang itu sebagai peristiwa yang wajar dalam kehidupannya,
sedangkan peristiwa yang sama oleh orang lain dapat menjadi suatu
problem sesaat; sedangkan untuk orang lain lagi, peristiwa yang
sama itu dapat menjadi sumber konflik yang berkepanjangan,
sehingga peristiwa itu menjadi suatu stresor yang bermakna
■ Tidak semua orang yang mengalami stresor akan mengalami
gangguan jiwa; demikian pula stresor yang sama yang dialami oleh
beberapa orang, dapat menimbulkan gangguan jiwa yang berbeda.
■ Gangguan jiwa yang sama pada beberapa orang, belum tentu
disebabkan oleh stresor yang sama: ada orang yang gangguan
jiwanya timbul tanpa stresor, sedangkan pada orang lain timbulnya
oleh satu atau lebih strseor , dan pada orang lain lagi gangguan jiwa
yang sama timbul oleh stresor yang berbeda.
■ Dengan perkataan lain: Suatu stresor tidak secara linear (dalam
artikata hubungan sebab–akibat) akan menimbulkan suatu
gangguan jiwa tertentu.
■ Perlu diperhatikan bahwa Diagnosis Gangguan Jiwa tidak
bergantung dari ada/tidak ada atau jenis stresor, tetapi dari
Gambaran Klinis yang ada.
Kesimpulan
Timbulnya suatu gangguan jiwa bergantung dari dua
faktor:
■ taraf berat stresor secara objektif
■ kemampuan adaptasi ( kemampuan mengontrol
atau merasa dikontrol oleh problem itu) daya tahan
(baik fisik maupun psikologis), motivasi,
kepribadian, dan persepsi subjektif seseorang
Contoh
■ Stresor yang ringan pada orang dengan daya tahan /
kemampuan adaptasi / kepribadian / persepsi subjektif
yang lemah /rentan, menimbulkan gangguan jiwa
■ Stresor yang sama ringannya pada orang yang berdaya
tahan / kemampuan adaptasi / kepribadian / persepsi
subjektif kuat, tidak menimbulkan gangguan jiwa
■ Stresor yang berat pada orang yang berdaya tahan /
kemampuan adaptasi / kepribadian / persepsi subjektif
kuat dapat menimbulkan gangguan jiwa.