Anda di halaman 1dari 30

PRESENTASI

Konjungtivitis Bakteri

Disusun Oleh
Annisa Ulkhairiyah
1102014034
Anatomi Konjungtiva
Konjungtiva
 Membran mukosa yang transparan dan tipis.
 Membungkus permukaan posterior kelopak mata
(konjungtiva palpebralis) dan permukaan anterior
sklera (konjungtiva bulbaris).
 Konjungtiva bersambungan dengan kulit pada tepi
kelopak (persambungan mukokutan) dan dengan
epitel kornea di limbus.
Terdiri dari 3 bagian
1. Konjungtiva palpebralis/tarsalis
Melapisi permukaan posterior kelopak mata dan
melekat erat pada tarsus
2. Konjungtiva bulbaris
Melekat longgar ke septum orbitale di fornices dan
melipat berkali-kali
3. Konjungtiva forniks
Merupakan tempat peralihan konjungtiva tarsal
dengan konjungtiva bulbi
Histologi Konjungtiva
 Lapisan epitel konjungtiva terdiri dari dua hingga lima
lapisan sel epitel silinder bertingkat, superfisial dan basal.
 di dekat limbus,di atas karunkula, dan di dekat
persambungan mukokutan pada tepi kelopak mata  sel-
sel epitel skuamosa.
 Sel-sel epitel superfisial mengandung sel-sel goblet 
sekresi mukus. Mukus  untuk dispersi

 Stroma konjungtiva dibagi lapisan adenoid (superfisial)


dan lapisan fibrosa (profunda).
 Lapisan adenoid mengandung jaringan limfoid dan
struktur semacam folikel tanpa sentrum germinativum
 Lapisan fibrosa tersusun dari jaringan penyambung yang
melekat pada lempeng tarsus, tersusun longgar pada bola
mata.
 Kelenjar air mata asesori (kelenjar Krause dan
Wolfringterletak di dalam stroma konjungtiva.
Vaskularisasi, Aliran limfe, Persarafan
 Arteri-arteri konjungtiva berasal dari arteri siliaris
anterior dan arteri palpebralis.
Kedua arteri ini  beranastomosis bebas dan
bersama dengan banyak vena konjungtiva 
membentuk jaring-jaring vaskuler konjungtiva
yang sangat banyak

 Pembuluh limfe konjungtiva tersusun dalam


lapisan superfisial dan lapisan profunda 
bersambung dengan pembuluh limfe kelopak
mata membentuk  pleksus limfatikus yang kaya.

 Konjungtiva menerima persarafan dari


percabangan (oftalmik) pertama nervus V.
Definisi

 Menurut Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI),


Konjungtivitis adalah “suatu inflamasi atau peradangan pada konjungtiva yang
dapat disebabkan oleh infeksi, iritasi, atau reaksi alergi (hipersensitivitas)”

 Konjungtivitis bakteri adalah suatu proses inflamasi pada konjungtiva yang

disebabkan oleh infeksi bakteri.


 Konjungtivitis bakteri terjadi akibat pertumbuhan dan infiltrasi bakteri pada

permukaan epitelial konjungtiva


 Biasanya penyakit ini dapat sembuh dengan sendirinya (self limiting
disease)
 Hal ini disebabkan oleh faktor-faktor :
1. Konjungtiva selalu dilapisi oleh tears film yang mengandung zat-zat anti
microbial.
2. Stroma konjungtiva pada lapisan adenoid mengandung banyak kelenjar
limfoid
3. Epitel konjungtiva terus menerus diganti.
4.Temperatur yang relatif rendah karena penguapan air mata, sehingga
perkembangbiakan mikroorganisme terhambat.
5. Penggelontoran mikroorganisme oleh aliran air mata.
6. Mikroorganisme tertangkap oleh mukus konjungtiva hasil sekresi sel-sel
goblet kemudian akan digelontor oleh aliran airmata.
Etiologi dan Klasifikasi
 Konjungtivitis bakteri  infeksi yg sering terjadi, wabah musiman
 Faktor predisposisi berhubungan dengan iklim lembab, higienitas dan sanitasi kurang
bersih  permudah penyebaran infeksi.
 Klasifikasi berdasarkan onset
 Hiperakut (purulen)
 Neisseria gonorrhoeae
 Neisseria meningitidis
 Akut (mukopurulen)
 Pneumococcus (Streptococcus pneumoniae) (iklim sedang)
 Haemophilus aegyptius (Koch-Weeks bacillus) (iklim tropik)
 Subakut
 Haemophilus influenzae (iklim sedang)
 Menahun, termasuk blefarokonjungtivitis
 Staphylococcus aureus
 Moraxella lacunata (diplobacillus dari Morax-Axenfeld)
 Streptococcus
 Moraxella catarrhalis
 Proteus
 Corynebacterium diptheriae
 Mycobacterium tuberculosis
Patofisiologi

 Jaringan pada permukaan mata dikolonisasi oleh flora normal seperti


streptococci, staphylococci dan jenis Corynebacterium.
 Perubahan pada mekanisme pertahanan tubuh ataupun pada jumlah
koloni flora normal tersebut dapat menyebabkan infeksi klinis
 Mekanisme pertahanan primer terhadap infeksi adalah lapisan epitel yang
meliputi konjungtiva ,mekanisme pertahanan sekundernya adalah sistem
imun yang berasal dari perdarahan konjungtiva, lisozim dan
imunoglobulin yang terdapat pada lapisan air mata, mekanisme
pembersihan oleh lakrimasi dan berkedip
Manifestasi Klinis
 Konjungtivitis bakteri bisa dicurigai pada setiap pasien dengan inflamasi
konjungtiva bilateral dan sekret purulen.

 Biasanya keluhan konjungtivitis yang disebabkan bakteri 


iritasi dan kemerahan kedua mata, kelopak mata menempel sehingga
mengakibatkan sulit dibuka di pagi hari, keluar kotoran pus kekuningan,
kadang-kadang kelopak mata bengkak.

 Tanda klinis  inflamasi konjungtiva bilateral, injeksi konjungtiva, sekret


purulen, dan edema palpebra.

 Onset dan keparahan inflamasi konjungtiva serta sekret yang keluar 


memprediksi kemungkinan bakteri penyebab konjungtivitis.
Pada konjungtivitis bakteri hiperakut
 onset injeksi konjungtiva yang cepat, edema palpebra, sekret purulen banyak,
kemosis, dan rasa tidak nyaman atau nyeri.
 Agen penyebab biasanya N gonorrhoeae atau N meningitidis.
 Konjungtivitis gonokokus dapat juga terjadi pada neonatus dengan tanda khas
munculnya sekret konjungtiva purulen pada kedua mata 3 – 5 hari setelah
persalinan per vaginam.

Sekret Purulen pada Konjungtivitis Gonorrhoeae


 Konjungtivitis bakteri akut sering terdapat dalam bentuk epidemik dan disebut “mata merah”
oleh orang awam.
 Penyakit ini ditandai dengan dengan hiperemia konjungtiva secara akut dan biasanya sembuh
sendiri.
 Penyebab tersering adalah S pneumoniae, S aureus, dan H influenzae. S pneumoniae merupakan
penyebab
 manifestasi klinis sekret purulen, edema palpebra, kemosis, perdarahan konjungtiva
 Konjungtivitis bakteri kronis terjadi pada pasien dengan riwayat obstruksi duktus nasolakrimalis,
dakriosistitis menahun yang biasanya unilateral.
 Infeksi ini juga dapat menyertai bleparitis bakterial menahun, atau disfungsi kelenjar meibom
 Pasien dengan sindrom palpebra lemas atau ektropion dapat berkembang menjadi konjungtivitis
bakteri sekunder

Injeksi Konjungtiva pada Konjungtivitis Bakteri Sekret Mukopurulen pada Konjungtivitis Bakteri
Konjungtivitis bakterial akut
• Onset akut dari discharge unilateral
• Hiperemia konjungtiva
• Mukopurulen/purulent
• Limfadenopati preaurikuler biasanya tidak ditemukan
• Pada anak-anak 6 bulan- 3 tahun disertai warna kebiruan curigai
Haemophilus influenza
Konjungtivitis Bakterial Kronik
• Variasi dari gejala yang non spesifik dan temuan klinis
• Pasien mengalamis iritasi kronik yaitu lebih dari 4 minguu
• sensai benda asing dan hiperemis yang tidak begitu jelas
• Reaksi folikel dan papiler dapat terjadi dan mukoid discharge dapat
terjadi
• Konjungtivitis kronik sering disertasi hiperemis kelopak dan krusta
pada kelopak yang terdapat pada pagi hari.
Penegakan Diagnosis
 Penegakkan konjungtivitis bakteri  anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang yang tepat.
 Keluhan  mata merah, keluar kotoran pus kekuningan yang terjadi dalam 1
atau 2 hari, kelopak mata bengkak, dan menempel susah dibuka saat pagi hari,
gatal dan terasa seperti ada sensasi benda asing pada mata.
 Pemeriksaan fisik  edema palpebra, palpebra saling melekat saat baru
bangun, hiperemi konjungtiva sering pada ke dua mata dan sekret purulen
adanya papil pada kelopak mata.
 Pemeriksaan penunjang dilakukan swab pada konjungtiva kemudian dilakukan
pengecatan gram
 Ditemukan adanya diplokocus extra maupun intrasesular  Neisseria
gonorrhoe
 Giemsa ditemukan inclusion bodies  clamidya.
Diagnosis Banding
Bakteri Virus Alergi

Purulen Nonpurulen

Sekret Banyak Sedikit Sedikit Sedikit

Air mata Sedang Sedang Banyak Sedang

Gatal Sedikit Tidak ada Sedikit Hebat

Injeksi Umum Lokal Umum Umum

Nodul Jarang Sering Sering Tidak ada


preaurikular

Pewarnaan Bakteri Bakteri Monosit Eosinofil


usapan PMN PMN Limfosit

Sakit Kadang-kadang Tidak ada Kadang-kadang Tidak ada


tenggorokan dan
panas yang
menyertai
Tanda Bakterial Viral Alergik

Injeksi konjungtiva Mencolok Sedang Ringan-sedang

Hemoragi + + -

Kemosis ++ +/- ++

Eksudat Purulen atau Jarang, air Berserabut (lengket)


mukopurulen putih

Pseudomembran +/- +/- -

Papil +/- - +

Folikel - + -

Nodus preaurikular + ++ -

Panus - - - (kecuali vernal)


Klinis dan Sitologi Bakterial Viral Alergi

Gatal Minim Minim Minim

Hiperemia Umum Umum Umum

Air mata Sedang Profuse Sedang

Eksudasi Mengucur Minim Mengucur

Adenopati- Jarang Lazim Lazim hanya


preaurikular konjungtivitis inklusi

Pewarnaan kerokan Bakteri, PMN Monosit PMN, plasma sel


dan eksudat badan inklusi

Sakit tenggorok, panas Kadang-kadang Kadang-kadang Tidak pernah


yang menyertai
Penatalaksanaan

Non Farmakologi
Bila konjungtivitis disebabkan oleh mikroorganisme, pasien harus diajari bagaimana cara
menghindari kontaminasi mata yang sehat atau mata orang lain. Dokter dapat
memberikan edukasi pada pasien untuk tidak menggosok mata yang sakit dan kemudian
menyentuh mata yang sehat, mencuci tangan setelah setiap kali memegang mata yang
sakit, dan menggunakan kain lap, handuk, dan sapu tangan baru yang terpisah untuk
membersihkan mata yang sakit.
Penatalaksanaan

 Terapi spesifik terhadap konjungtivitis bakteri tergantung pada agen


mikrobiologinya.
 Sambil menunggu hasil laboratorium, dokter dapat memberikan terapi
awal dengan antimikrobial topikal.

Terapi konjungtivitis bakteri hiperakut


 Jika didapatkan hasil diplokokus gram negatif dicurigai agen penyebab
adalah Neisseria
  CDC merekomendasikan terapi konjungtivitis bakteri hiperakut dengan
antiobiotik sistemik
ceftriaxone 1 gram dosis tunggal injeksi IM dikombinasikan dengan eye
lavage menggunakan saline 4 kali sehari sampai sekretnya habis terbuang.
Terapi konjungtivitis bakteri akut atau subakut, dan kronis
 Konjugtivitis bakteri akut atau subakut biasanya sembuh spontan, sembuh
sendiri dalam 8 hari.

 Pengobatan dengan antibiotik mempercepat penyembuhan, mengurangi


kemungkinan terjadinya komplikasi dan mengurangi penyebaran.

 Terapi yang dianjurkan adalah


 Tetes mata antibiotik spektrum luas: neomisin, polimiksin, ciprofloxasin,
ofloxasin, atau levofloxasin selama kurang lebih 4-5 hari.
 Vitamin C 500 mg 1 x sehari.
 Antiinflamasi 2x1 sehari bila disertai dengan edema palpebra.
 Tidak perlu antibiotika sistemik dan analgesik.

• Konjungtivitis bakteri kronis dapat diterapi seperti diatas, namun harus juga
dihilangkan fokal infeksi yang menjadi sumber infeksi.
Indikasi Rujuk

 Reds Flags seperti adanya nyeri hebat pada mata atau sakit kepala, fotofobia,
penurunan visus, atau penggunaan lensa kontak menunjukkan pasien dalam
kondisi yang mengancam penglihatan sehingga merupakan indikasi rujukan
segera ke dokter spesialis mata.

 Pasien dengan konjungtivitis bakteri hiperakut harus juga dirujuk untuk menilai
apakah terjadi kerusakan pada kornea.

 Pada pasien konjungtivitis bakteri yang tidak membaik dalam 24 jam setelah
pemberian antibiotik dipertimbangkan juga untuk di rujuk ke dokter spesialis
mata
Komplikasi
 Keratitis punctata superfisialis dan Dakriosistitis akut.
 Blefaritis marginal menahun sering menyertai konjungtivitis stafilokokus
kecuali pada pasien sangat muda yang bukan sasaran blefaritis.
 Parut konjungtiva dapat terjadi pada konjungtivitis pseudomembranosa
dan membranosa dan pada kasus tertentu yang dikuti ulserasi kornea dan
perforasi sampai endoftalmos.
 Ulserasi kornea marginal dapat terjadi pada infeksi N gonorrhoeae, N
kochii, N meningitidis, H aegyptius, S aureus, dan M catarrhalis.
 Jika produk toksik dari N gonorrhoeae berdifusi melalui kornea masuk
camera anterior, dapat timbul iritis toksik

Ulkus kornea dan Perforasi pada Konjungtivitis Hiperakut oleh karena N. Gonorhoeae
Prognosis

 Prognosis konjungtivitis bakterial akut umumnya baik dan hampir selalu


sembuh sendiri.

 Tanpa diobati, infeksi dapat berlangsung selama 10 - 14 hari

 Jika diobati dengan memadai sembuh dalam 1-3 hari, kecuali konjungtivitis
bakteri karena stafilokokus (yang dapat berlanjut menjadi blefarokonjungtivitis
dan memasuki tahap menahun) dan konjungtivitis bakteri hiperakut (yang bila
tidak dapat diobati dapat berakibat perforasi kornea dan endoftalmitis).

 Karena konjungtiva  gerbang masuk bagi meningokokus ke dalam darah dan


meninges, hasil akhir konjungtivitis meningokokus  septikemia dan
meningitis