Anda di halaman 1dari 18

Analisis Minimalisasi Biaya Terapi Antihipertensi dengan Kaptopril-

Hidroklorotiazid dan Amlodipin-Hidroklorotiazid di Salah Satu Rumah


Sakit Kota Bandung

Anggota Kelompok :
DEBI RIZKI AJANA
ARIES WOERIJANTI
IDAH MULYATI
METRO BAITURAHMI

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI APOTEKER


INSTITUT SAINS TEKNOLOGI NASIONAL
JAKARTA
2019
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Perubahan gaya hidup masyarakat Berdasarkan prevalensi hipertensi yang terjadi di dunia maupun
beriringan dengan perubahan pada Indonesia, maka dikeluarkan laporan Joint National Committee
pola penyakit, yaitu perubahan on Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High
dari penyakit menular ke penyakit Blood Pressure mengenai kriteria hipertensi yang dibagi ke
tidak menular, salah satunya yaitu dalam tiga kategori, yaitu;
hipertensi Tekanan Darah Sistolik Tekanan Darah Diastolik

Berbagai faktor risiko dapat Stage 1 140-158 mmHg 90-99 mmHg

dikaitkan dengan kejadian


Stage 2 160-179 mmHg 100-109 mmHg
hipertensi, antara lain usia,
jenis kelamin, ras, aktivitas Stage 3 ≥180 mmHg ≥110 mmHg
fisik, status gizi dan tingkat
sosial-ekonomi
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Alternatif pemilihan obat yang sangat beragam, Salah satu pertimbangan dalam pemilihan obat-obat yang
baik dari segi jenis maupun merek, menyebabkan mempunyai hasil terapi yang sama adalah dengan cara
ilmu/pengetahuan mengenai farmakologi harus meninjau biayanya. Analisis yang digunakan untuk
diiringi pula dengan aspek ekonomi yang berperan membandingkan biaya dari dua buah atau lebih program yang
dalam pemilihan obat yang terjangkau sehingga tujuannya adalah untuk mengidentifikasi alternatif biaya yang
memberikan hasil terapi yang optimal. paling rendah dengan outcome sama adalah Cost
Minimization Analysis (CMA)

Penatalaksanaan terapi berperan penting dalam hal biaya dan


hasil terapi yang optimal. Berdasarkan algoritma hipertensi,
terapi kombinasi pada hipertensi stage 2 yaitu kombinasi dua
macam obat antara lain golongan diuretik (tiazid) dan golongan
Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor (ACEI) atau
Angiotensin Receptor Blocker (ARB) atau beta-blocker atau
Calcium Channel Blocker (CCB).
TINJAUAN PUSTAKA
Definisi

Analisis biaya (AB—cost analysis, CA) Analisis efektivitas-biaya (AEB—cost-effectiveness analysis,


adalah metode atau cara untuk menghitung CEA) adalah teknik analisis ekonomi untuk membandingkan
besarnya pengorbanan (biaya, cost) dalam biaya dan hasil (outcomes) relatif dari dua atau lebih intervensi
unit moneter (rupiah), baik yang langsung kesehatan. Pada AEB, hasil diukur dalam unit non-moneter,
(direct cost) maupun tidak langsung seperti jumlah kematian yang dapat dicegah atau penurunan mm
(indirect cost), untuk mencapai tujuan Hg tekanan darah diastolik.

Analisis manfaat-biaya (AMB—cost-


Analisis minimalisasi-biaya (AMiB—cost-minimization
benefit analysis, CBA) adalah teknik
analysis, CMA ) adalah teknik analisis ekonomi untuk
untuk menghitung rasio antara biaya
membandingkan dua pilihan (opsi, option) intervensi atau lebih
intervensi kesehatan dan manfaat (benefit)
yang memberikan hasil (outcomes) kesehatan setara untuk
yang diperoleh, dimana outcome (manfaat)
mengidentifikasi pilihan yang menawarkan biaya lebih rendah.
diukur dengan unit moneter (rupiah).
TINJAUAN PUSTAKA
Definisi

Analisis sensitivitas (sensitivity analysis)


adalah teknik analisis yang digunakan untuk Analisis utilitas-biaya (AUB—cost-utility analysis, CUA)
mengukur ketidakpastian (uncertainty) dari adalah teknik analisis ekonomi untuk menilai “utilitas (daya
berbagai data yang digunakan maupun guna)” atau kepuasan atas kualitas hidup yang diperoleh dari
dihasilkan dalam kajian farmakoekonomi. suatu intervensi kesehatan. Kegunaan diukur dalam jumlah
tahun dalam keadaan sehat sempurna, bebas dari kecacatan,
yang dapat dinikmati umumnya diekspresikan dalam
qualityadjusted life years (QALY), atau ‘jumlah tahun
berkualitas yang disesuaikan’.
TINJAUAN PUSTAKA
Metode Analisis Minimalisasi-Biaya (AMiB)
/ Cost Minimize Analysis (CMA)
Merupakan metode kajian farmakoekonomi paling sederhana, analisis minimalisasi-biaya (AMiB) hanya dapat
digunakan untuk membandingkan dua atau lebih intervensi kesehatan, termasuk obat, yang memberikan hasil
yang sama, serupa, atau setara atau dapat diasumsikan setara. Karena hasil pengobatan dari intervensi
(diasumsikan) sama, yang perlu dibandingkan hanya satu sisi, yaitu biaya.
TINJAUAN PUSTAKA
Dengan demikian, langkah terpenting yang harus dilakukan sebelum menggunakan AMiB adalah menentukan
kesetaraan (equivalence) dari intervensi (misalnya obat) yang akan dikaji. Tetapi, karena jarang ditemukan dua terapi,
termasuk obat, yang setara atau dapat dengan mudah dibuktikan setara, penggunaan AMiB agak terbatas. misalnya
untuk:

Membandingkan obat generik berlogo


Membandingkan obat standar dengan obat
(OGB) dengan obat generik bermerek
baru yang memiliki efek setara. Terdapat
dengan bahan kimia obat sejenis dan telah
banyak jenis biaya dan jenis biaya yang
dibuktikan kesetaraannya melalui uji
harus dimasukkan berbeda untuk setiap
bioavailabilitas/bioekuivalen (BA/BE).
perspektif analisis. Untuk menggunakan
Jika tidak ada hasil uji BA/BE yang
metode AMiB secara baik tetap diperlukan
membuktikan kesetaraan hasil
keahlian dan ketelitian.
pengobatan, AMiB tidak layak untuk
digunakan
METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini berupa analisis minimalisasi biaya yang
Desain Penelitian dilakukan melalui studi populasi dengan pengambilan data
secara retrospektif terhadap suatu populasi. Data diambil dari
Instalasi Rekam Medis dan data biaya dari Instalasi Farmasi
Rumah Sakit, bagian akuntansi dan administrasi di salah satu
rumah sakit swasta kota Bandung.

Populasi penelitian ini terdiri dari:


• Populasi target adalah pasien dewasa yang didiagnosis
hipertensi dan dirawat inap di salah satu rumah sakit swasta
Populasi kota Bandung;
• Populasi terjangkau adalah pasien dewasa yang didiagnosis
hipertensi stage 2 yang mendapat terapi kombinasi
antihipertensi kaptopril dan hidroklorotiazid atau amlodipin
dan hidroklorotiazid yang dirawat inap di salah satu rumah
sakit swasta kota Bandung pada periode penelitian tahun
2011–2013.
Kriteria Inklusi dan Esklusi

Kriteria Inklusi Kriteria Ekslusi


1. Pasien yang dirawat inap di salah satu rumah 1. Pasien hipertensi dengan outcome meninggal;
sakit swasta kota Bandung tahun 2011–2013; 2. Pasien hipertensi rujukan rumah sakit lain;
2. Pasien dewasa yang berusia di atas 18 tahun; 3. Pasien hipertensi dengan data-data medis yang
3. Pasien yang didiagnosis hipertensi stage 2; tidak lengkap dan tidak dapat ditelusuri lebih
4. Pasien hipertensi yang diberi terapi kombinasi lanjut;
antihipertensi kaptopril dan hidroklorotiazid atau 4. Obat-obatan antihipertensi lainnya.
amlodipin dan hidroklorotiazid minimal tiga hari;
5. Pasien yang baru pertama kali mendapat terapi
kombinasi antihipertensi kaptopril-
hidroklorotiazid atau amlodipinhidroklorotiazid;
6. Pasien hipertensi dengan outcome yang stabil
(tekanan darah stabil).
Prosedur Pengumpulan Data Analisis Data

Pengambilan data yang dilakukan dengan penelusuran data Analisis statistik menggunakan student t-test untuk
rekam medis dan data biaya dari Instalasi Farmasi Rumah membandingkan signifikasi variabel secara statistik
Sakit, bagian akuntansi dan administrasi di salah satu rumah (melihat perbedaan yang bermakna antara kedua
sakit swasta kota Bandung. Data yang diambil meliputi: kombinasi tersebut).

Data karakteristik pasien


meliputi nomor rekam Data klinis pasien
medis, jenis kelamin, berupa diagnosis
umur, dan kejadian hipertensi stage 2;
hipertensi;

Data penggunaan Data biaya keseluruhan


antihipertensi yang meliputi biaya
digunakan selama antihipertensi selama
dirawat meliputi jenis, dirawat, alat kesehatan
dosis, interval lain yang berhubungan
pemberian dan cara dengan antihipertensi
pemberian; selama dirawat,
HASIL PENELITIAN
Karakteristik Responden
Karakteristik Responden
Perhitungan Biaya
Perhitungan biaya dan analisis minimalisasi biaya Data biaya seperti penggunaan antihipertensi, biaya penunjang, biaya
tindakan, rawat inap dan administrasi serta biaya total perawatan diperoleh dari perhitungan rata-rata total biaya tersebut
per pasien. Perhitungan biaya dilakukan dengan asumsi tidak ada kenaikan harga dan penurunan daya beli oleh pasien.
Diskon tidak diperhitungkan, karena dalam hal ini hanya ingin mengetahui mana yang memiliki biaya terendah, bukan
manfaatnya (benefit). Hasil perhitungan biaya tercantum pada Tabel 1 dan 2.
PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil perhitungan analisis Perbedaan rata-rata total biaya perawatan tersebut dikarenakan
minimalisasi biaya, diperoleh bahwa rata-rata terdapat perbedaan biaya antihipertensi generik antara amlodipin
biaya total perawatan per pasien kelompok dan kaptopril, di mana amlodipin memiliki biaya yang lebih mahal
kombinasi antihipertensi kaptopril dan dibandingkan kaptopril. Selain itu, perbedaan terapi penunjang yang
hidroklorotiazid lebih murah dibandingkan diberikan pada kelompok kombinasi dari amlodipin dan
dengan kelompok kombinasi antihipertensi hidroklorotoazid, yaitu mengatasi efek samping mual/muntah dan
amlodipin dan hidroklorotiazid. Rata-rata nyeri kepala. Pada kelompok kombinasi amlodipin dan
biaya total perawatan kelompok kombinasi hidroklorotiazid, 57,14% pasien mengalami mual dan 42,86%
antihipertensi kaptopril dan hidroklorotiazid pasien mengalami nyeri, sehingga dibutuhkan biaya tambahan
sebesar Rp2.315.532, sedangkan rata-rata untuk mengatasi efek samping yang disebabkan oleh kelompok
biaya total perawatan kelompok kombinasi terapi antihipertensi tersebut. Selain itu, biaya tindakan yang
antihipertensi amlodipin dan hidroklorotiazid dikeluarkan pada kombinasi amlodipin-hidroklorotiazid juga lebih
sebesar Rp2.442.330. tinggi. Hal ini disebabkan terapi penunjang yang digunakan juga
lebih banyak dibandingkan kombinasi dari kaptopril dan
hidroklorotiazid.
PEMBAHASAN
Dari analisis statistik dengan menggunakan Hal ini disebabkan pada biaya antihipertensi, harga satuan
independent sample t-test student, terlihat bahwa amlodipin generik lebih mahal dibandingkan kaptopril,
hanya rata-rata biaya penggunaan antihipertensi di sehingga memiliki perbedaan yang signifikan di antara kedua
antara kedua kelompok terapi kombinasi kaptopril- kombinasi tersebut. Namun, pada total biaya tidak terjadi
hidroklorotiazid dan amlodipin-hidroklorotiazid perbedaan yang signifikan antara kedua kombinasi tersebut,
yang memiliki perbedaan bermakna atau signifikan hal ini disebabkan adanya perbedaan antara rata-rata lama
secara statistik (p0,05). rawat kelompok terapi kombinasi antihipertensi kaptopril-
hidroklorotiazid dan kelompok amlodipin-hidroklorotiazid,
dengan rata-rata lama rawat masing-masing adalah 5 hari dan
4 hari. Selain itu, pada biaya penunjang dan tindakan juga
tidak memiliki perbedaan yang berarti.
SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap pasien hipertensi stage 2 di suatu instalasi rawat inap di salah
satu rumah sakit swasta kota Bandung periode tahun 2011 hingga 2013, diperoleh simpulan yaitu total biaya
kelompok kombinasi antihipertensi kaptopril-hidroklorotiazid lebih efisien total biaya perawatannya dibandingkan
kelompok antihipertensi amlodipin-hidroklorotiazid dengan selisih biaya sebesar Rp126.798.
TERIMA KASIH ☺

Anda mungkin juga menyukai