Anda di halaman 1dari 52

Kelainan Plasenta

dan Amnion
Kelompok 5
Anggota kelompok :
Alya Yomi Sari G1A116009
Tiwi Lestari G1A116011
Puji Rahmi G1A116012
M Ravi Dasman G1A116013
Sindhi Yulizawirta G1A116016
Ayu Herlina G1A116017
Della Rafika Sari G1A116019
Fatma Aperta Daswat G1A116020
Vanesa Oktaria G1A116022
Lily Sabet G1A116023
Plasenta
Plasenta

• Merupakan organ fetomaternal yang menghubungkan ibu


dengan janin yang berperan dalam transportasi zat secara
difusi dari ibu ke janin dan penghasil hormon yang berguna
selama kehamilan. Janin dan plasenta dihubungkan dengan
tali pusat yang berisi 2 arteri dan satu vena. Vena berisi darah
penuh oksigen, sedangkan arteri yang kembali dari janin berisi
darah kotor
Fungsi Plasenta
• PERTUKARAN GAS RESPIRASI
• SEBAGAI ALAT YANG MEMBERI MAKANAN PADA JANIN
(NUTRITIF)
• SEBAGAI ALAT YANG MEMBERI ZAT ASAM
• SEBAGAI ALAT UNTUK MENGELUARKAN SISA METABOLISME
(EKSRESI)
• SEBAGAI ALAT YANG MEMBENTUK HORMON
• SEBAGAI ALAT UNTUK MENYALURKAN ANTIBODI KE JANIN
Kelainan Plasenta
1. Kelainan bentuk plasenta
2. Kalsifikasi plasenta
3. Solutio plasenta
4. Plasenta previa
5. Tumor plasenta
Kelainan bentuk plasenta

1. Plasenta membranasea
Pertumbuhan plasenta tipis dan melebar sehingga dapat
menimbulkan gangguan tertentu yaitu terjadi plasenta previa, dan
sulit dapat melepaskan diri sehingga dapat terjadi perdarahan
primer atau sekunder post partum dan retensio plasenta.
Kelainan bentuk plasenta

2. Plasenta Suksenturiata

• Terdapat satu atau lebih lobus tambahan yang


berjauhan dengan plasenta utama
• biasanya lobus ini memiliki koneksi vaskularisasi dari
janin
• Lobus tambahan ini terkadang tertahan di dalam
uterus setelah kelahiran dan dapat menyebabkan
perdarahan yang serius
Kelainan bentuk plasenta
3. Plasenta Sirkumvalata
Plasenta yang terdapat cincin putih yang terdiri dari
desidua pada pars fetalis plasenta. akibat korion
frondusum tak dapat memberi nutrisi memadai
pada janin sehingga terjadi pertumbuhan vili perifer
seccara berlebihan. dapat menyebabkan abortus,
perdarahan antepartum, persalinan preterm dan
intra uterine fetal death.
Kelainan bentuk plasenta

4. Plasenta Bilobata
Plasenta terdiri dari 2 lobus yang
terhubung dengan jaringan plasenta.
Kelainan bentuk plasenta
5. Plasenta Bipartita
Plasenta terdiri dari 2 baguan yang sama besar yang
dihubungkan dengan selaput ketuban. Talipusat
mengadakan insersi di salah satu lobus dan cabang
cabang pembuluh talipusat berjalan didalam selaput
ketuban menuju ke lobus yang lain.
Kalsifikasi plasenta

• proses penuaan dari plasenta


• terjadi penimbunan garam-garam kalsium
seperti kalsium karbonat, kalsium fosfat
bercampur dengan magnesium fosfat pada
permukaan basal dari plasenta
• penimbunan kalsium pada lapisan atas decidua
basalis, terutama ditempat sekitar tertanamnya
villi, dan di tempat-tempat yang telah terjadi
degenerasi fibrin.
• Garam kalsium dapat terendap diseluruh bagian
plasenta, tetapi lebih sering di lempeng basal
• Peristiwa kalsifikasi plasenta biasanya
berhubungan dengan usia kehamilan, dan
menjadi jelas kelihatan setelah usia kehamilan
36 minggu
• terlihat sebelum usia kehamilan 36 minggu,
maka dipertimbangkan sebagai kalsifasi plasenta
prematur.
• Dampak kalsifikasi plasenta pada maternal
antara lain perdarahan post partum (total
perdarahan 500 ml atau lebih selama
persalinan), solution plasenta dan perawatan ibu
pada ICU.

• dampak kalsifikasi plasenta pada janin antara


lain kelahiran premature (kelahiran sebelum usia
kehamilan 37 minggu), berat bayi lahir rendah (<
2500 gram), nilai Apgar score yang rendah ( <7
selama 5 menit) dan kematian neonates
Solutio Plasenta
Definisi
Lepasnya sebagian atau seluruh plasenta dari tempat melekatnya /
implantasinya (terjadi perdarahan di belakang plasenta)

Etiologi (belum jelas)


• Umur ibu
• Paritas tinggi
• Penyakit hipertensi menahun
• Tali pusat yang pendek
• Tekanan pada vena kava inferior
• Defisiensi asam folik.
Solutio plasenta
Klasifikasi
• Solusio plasenta ringan
• Solusio plasenta sedang
• Solusio plasenta berat

Tanda dan gejala


• nyeri abdomen
• uterus tegang terus-menerus
• perdarahan pervaginam ± kehitaman
• pasien mudah syok
• gawat janin atau bayi meni
• Tatalaksana
- Solusio plasenta ringan: tirah baring dan observasi ketat,
kemudian tunggu persalinan. Bila janin hidup, lakukan seksio
sesaria, bila janin mati lakukan amniotomi disusulin fusoksitosin
untuk mempercepat persalinan.
- Solusio plasenta sedang dan berat: transfusi darah, infus oksitosin
dan jika perlu seksio sesaria. Jika perdarahan tidak dapat
dikendalikan setelah dilakukan seksio sesaria maka tindakan his
terektomi perlu dilakukan.
• Komplikasi
- Syok perdarahan
- Gagal ginjal
- Kelainan pembekuan darah
- Apoplexi utero plasenta (uterus couvelaire)

• Prognosis
Prognosis ibu tergantung luasnya plasenta yang terlepas dari dinding
uterus, banyaknya perdarahan, ada atau tidak hipertensi menahun
atau preeclampsia, tersembunyi tidaknya perdarahan, dan selisih
waktu terjadinya solusio plasenta sampai selesainya persalinan.
Plasenta previa
Definisi
plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah rahim sedemikia
rupa sehingga berdekatan atau menutupi ostium uteri internum secara
partial maupun total

Etiologi (belum pasti); faktor resiko


• Hamil usia tua
• Multiparitas
• Kehamilan ganda
• Riwayat aborsi
• Riwayat operasi pada uterus
• Riwayat plasenta previa pada kehamilan sebelumnya
• IVF
Patofisiologi
• Perdarahan antepartum akibat plasenta previa terjadi sejak
kehamilan 20 minggu saat segmen bawah uterus telah
terbentuk dan mulai melebar serta menipis. Umumnya terjadi
pada trimester ketiga karena segmen bawah uterus lebih
banyak mengalami perubahan. Pelebaran segmen bawah
uterus dan pembukaan serviks menyebabkan sinus uterus
robek karena lepasnya plasenta dari dinding uterus atau
karena robekan sinus marginalis dari plasenta.
KLASIFIKASI

• Plasenta previa – Ostium uteri internum tertutup


sebagaian atau seluruhnya oleh plasenta (total atau
partial previa)

• Plasenta letak rendah – implantasi plasenta pada segmen


bawah rahim dimana pinggir plasenta tidak mencapai
ostium uteri internum dan berjarak kurang lebih 2 cm
dari pinggir ostium uteri
Plasenta previa
Klasifikasi
DIAGNOSIS

• Berdasarkan derajat abnormalitasnya, plasenta previa dibagi:


• Plasenta previa totalis. Ostium internum serviks tertutup
sama sekali.
• Plasenta previa parsialis. Ostium intenum serviks tertutup
jaringan plasenta sebagian.
• Plasenta previa marginalis. Tepi plasenta terletak pada
jaringan pinggir ostium internum serviks.
TATALAKSANA
• Sebelum dirujuk, anjurkan pasien untuk tirah baring total
dengan menghadap ke kiri, tidak melakukan senggama,
menghindari peningkatan tekanan rongga perut (misal batuk,
mengedan karena sulit buang air besar)
• Pasang infus cairan NaCL fisiologis. Bila tidak memungkinkan,
beri cairan peroral. Pantau tekanan darah dan frekuensi nadi
pasien secara teratur tiap 15 menit untuk mendeteksi adanya
hipotensi atau syok akibat perdarahan. Pantau pula BJJ dan
pergerakan janin.
• Bila terdapat renjatan, usia gestasi < 37 minggu,
taksiran berat janin < 2.500 gr, maka:
• Bila perdarahan sedikit, rawat sampai usia
kehamilan 37 minggu, lalu lakukan mobilisasi
bertahap. Beri kortikosteroid 12 mg intravena per
hari selama 3 hari.
• Bila perdarahan berulan, lakukan PDMO. Bila ada
kontraksi, tangani seperti persalinan preterm.
• Bila tidak ada renjatan, usia gestasi 37 minggu atau
lebih, taksiran berat janin 2.500 gr atau lebih,
lakukan PDMO. Bila ternyata plasenta previa,
lakukan persalinan perabdominam. Bila bukan,
usahakan partus pervaginam.
Tumor plasenta
Yang termasuk tumor plasenta:
• Korioangioma
• Miksoma fibrosum
• Hemangioma
• Mola hidatidosa
• Korokarsinoma

Sepertiga dari tumor plasenta berkaitan dengan hidramnion dan


prematuries sehingga angka kematian perinatal tinggi.
Korioangioma

• Tumor jinak ini mempunya komponen yang mirip


dengan pembuluh darah dan stroma pada vili
korialis
• angka kejadian sekitar 1 persen
• serum alfa-fetoprotein (AFT) maternal meningkat
• Chorioangioma yang kecil biasanya asimptomatik
• Perdarahan, kelahiran premature, cairan ketuban
yang abnormal, dan pertumbuhan janin
terhambat dapat merupakan komplikasi dari
tumor yang besar
hemangioma
• Hemangioma merupakan tanda lahir berupa tonjolan kenyal
berwarna merah terang pada kulit hasil adanya pertumbuhan
berlebih (proliferasi) dari pembuluh darah.

• Hemangioma kerap ditemukan di kulit kepala, punggung, dada,


atau wajah.
• Penyakit ini tercatat bentuk tumor pembuluh darah yang tidak
ganas serta langka menimbulkan komplikasi.
• Kemunculan hemangioma kebanyakan terjadi beberapa bulan
setelah bayi lahir. Sekitar 50% hemangioma menyusut ketika anak
berumur 5 tahun dan walhasil memudar selesai umur 10 tahun.
• Hemangioma umumnya tidak memerlukan pengobatan,
melainkan bila progresnya amat besar dan mengganggu.
Mola hidatidosa
• Mola hidatidosa merupakan penyakit trofoblas gestational yang
ditandai dengan abnormalitas vili korialis yang mengalami
degenerasi hidropik sehingga terlihat seperti buah anggur yang
bergerombol.

• Ditandai dengan,Perdarahan pervaginam , Keluar jaringan mola


seperti buah anggur atau mata ikan namun tidak selalu
,Hipertiroidisme ,Hiperemesis gravidarum , Preeklampsia
,Perdarahan baik sedikit maupun banyak yang berwarana merah
kecoklatan, Amenorea dengan durasi berbeda-beda diikuti
perdarahan ireguler
korokarsinoma
• Merupakan bentuk ganas dari mola hidatidosa
• Gejala nya berupa perdarahan dan syok volemik
Kelainan Amnion

1. Polihidramnion/Hidramnion
2. Oligohidramnion

34
35
Hidramnion/Polihidramnion

• Hidramnion merupakan suatu keadaan dimana jumlah air ketuban


jauh lebih banyak dari normal biasanya lebih dari 2 liter.

Etiologi :
1. Produksi air ketuban bertambah
2. Pengaliran air ketuban terganggu
3. Pada atresia oesophagei hidramnion terjadi karena anak tidak
menelan

Tanda dan Gejala


a. Ukuran uterus lebih besar dibanding yang seharusnya,
b. Identifikasi janin dan bagian janin melalui pemeriksaan palpasi sulit di
lakukan,
c. Denyut jantung janin (DJJ sulit terdengar)
d. Balotemen janin jelas. 36
Gejala pada ibu hamil yang meliputi :
a. Dispnea (sesak napas) dan rasa tidak nyaman di perut karena
tekanan pada diafargma
b. Gangguan pencernaan karena konstipasi maupun obstipasi, edema
karena tekanan pada pembuluh darah vena karena pembesaran
dari uterus, varises dan hemoroid, (nyeri abdomen ).
c. Kandungan cepat sekali membesar.
d. Pembesaran TFU disertai kesulitan dalam meraba bagian-bagian
kecil janin.

Klasifikasi Hidramnion
Berdasarkan waktu terjadinya hydramnion terbagi 2 yaitu:
1. Hidramnion akut / mendadak: dimana penambahan air ketuban
terjadi dalam waktu yg cepat, hanya dalam beberapa hari. Biasanya
terjadi pada kehamilan muda pada bulan ke 4 atau 5.
2. Hidramnion kronis (menahun) : penambahan air ketuban perlahan-
lahan, berangsur-angsur, Ini bentuk yang paling umun / sering
terjadi. 37
Diagnosa

1. Anamnesisa
a) Perut lebih besar dan teras lebih berat dari biasa
b) Pada yang ringan keluhan-keluhan subyektif tidak banyak
c) Pada yang akut dan pada pada pembesaran uterus yang cepat maka
terdapat keluhan - keluhan yang disebabkan karena tekanan pada organ
terutama pada diafargma, seperti sesak, nyeri ulu hati, dan diagnosis,
d) Nyeri perut karena tegangnya uterus,mual dan muntah
e) Edema pada tungkai,vulva,dinding perut.
f) Pada proses akut dan perut besar sekali,bisa syok,berkeringat dingin dan
sesak

38
2. Inpeksi
a) perut sangat buncit dan tegang,
b) kulit perut berkilat, retak-retak dan kadang-kadang umbilicus mendatar
c) Jika akut si ibu terlihat sesak dan sianosis, serta terlihat payah membawa
kandungannya

3. Palpasi
a) Perut tegang dan nyeri tekan serta terjadi edema pada dinding perut valve
dan tungkai
b) Fundus uteri lebih tinggi dari tuanya kehamilan sesungguhnya
c) Bagian-bagian janin sukar dikenali karena banyaknya cairan
d) Kalau pada letak kepala, kepala janin bisa diraba, maka ballottement jelas
Sekali
e) Karena bebasnya jann bergerak dan kepala tidak terfiksir, maka dapat
terjadi kesalahan-kesalahan letak janin

4. Auskultasi
Denyut jantung janin tidak terdengar atau jika terdengar sangat halus sekali
39
Tatalaksana

Terapi hidromnion dibagi dalam tiga fase:


 Waktu hamil
 Waktu bersalin
 Post partum

40
Komplikasi
• Persalinan premature,
• Malpresentasi janin,
• Abrupsio plasenta,
• Bila ketuban pecah dapat menimbulkan prolapsus bagian kecil dan
prolapsus fenikuli. komplikasi hidramnion pada posisi janin intra uterin
ditemukan kelainan letak janin.
• Saat persalinan dapat terjadi selusio plasenta,
• Perdarahan pasca partus, dan
• Kelainan letak mungkin memerlukan tindakan operasi

41
Oligohidramnion

• adalah suatu keadaan dimana air ketuban kurang dari normal


yaitu kurang dari 500 mL.

Etiologi
Penyebab pasti terjadinya oligohidramnion masih belum diketahui.

Beberapa keadaan yang berhubungan dengan oligohidramnion,


antaranya:
a. Pada janin : kelainan kromosom, hambatan
pertumbuhan,kematian, kehamilan
postterm
b. Pada placenta : solusio plasenta
c. Pada ibu : hipertensi, preeklamsi, diabetes dalam kehamilan
d. Pengaruh obat : NSAIDs, ACE inhibitor
42
• Tabel. Keadaan yang berkaitan dengan Oligohidramnion
43
Tanda dan Gejala Klinis

 Pada saat inspeksi uterus terlihat lebih kecil dan tidak sesuai dengan usia
kehamilan yang seharusnya. I
 Ibu yang sebelumnya pernah hamil dan normal, akan mengeluhkan
adanya penurunan gerakan janin.
 Saat dilakukan palpasi abdomen, uterus akan teraba lebih kecil dari
ukuran normal dan bagian-bagian janin mudah diraba.
 Presentasi bokong dapat terjadi.
 Pemeriksaan auskultasi normal, denyut jantung janin sudah terdengar
lebih dini dan lebih jelas,
 Ibu merasa nyeri di perut pada setiap gerakan anak,
 Persalinan lebih lama dari biasanya, sewaktu his/mules akan terasa sakit
sekali,
 Bila ketuban pecah, air ketuban akan sedikit sekali bahkan tidak ada yang
keluar.
44
Diagnosis

• Harus dilakukan pemeriksaan ultrasonografi untuk


memperkirakan jumlah cairan amnion
• Oligohidramnion dapat dicurigai bila terdapat kantong
amnion yang kurang dari 2x2 cm, atau indeks cairan
pada 4 kuadran kurang dari 5 cm. setelah 38 minggu
volume akan berkurang, tetapi pada postterm
oligohidramnion merupakan penanda serius apalagi
bila bercampur mekonium

45
• Tabel. Kategori Diagnostik Amnionic Fluid Index (AFI)

Volume Cairan Nilai AFI (cm)


Amnion
Severe ≤5
Oligohydramnion
Moderate 5.1-8.0 Penilaian jumlah cairan
amnion melalui pemeriksaan
Oligohydramnion ultrasonografi dapat
Normal 8.1-24.0 dilakukan dengan cara
Polyhydramnion >24 subjektif ataupun
semikuantitatif

46
Gambar. Penilaian semikuantitatif (1)
Pengukuran diameter vertikal yang terbesar
pada salah satu kantong amnion

Gambar . Penilaian
semikuantitatif (2)
pengukuran indeks cairan
amnion (ICA) 47
Komplikasi

• Infeksi Selaput Ketuban/Chorioamnionitis


adalah keadaan pada perempuan hamil dimana korion,
amnion dan cairan ketuban terkena infeksi bakteri.
Korioamnionitis merupakan komplikasi paling serius
bagi ibu dan janin, bahkan dapat berlanjut menjadi
sepsis

48
Terapi

Pertimbangkan untuk hospitalisasi pada kasus yang


didiagnosa setelah usia kehamilan 26-33 minggu.
Jika fetus tidak memiliki anomali, persalinan sebaiknya
dilakukan.
 Ibu disarankan untuk tirah baring dan hidrasi guna
meningkatkan produksi cairan ketuban dengan
meningkatkan ruang intravaskular ibu .
Amnioinfusion adalah pemberian infuse normal salin 0,9%
ke dalam uterus selama persalinan untuk menghindari
kompresi pada tali pusat atau untuk melarutkan mekonium
yang bercampur dengan cairan amnion.

49
Diagnosis

 Korioamnionitis adalah diagnosis klinis yang ditegakkan


bila ditemukan demam >380C dengan 2 atau lebih tanda
berikut ini:
1.Leukositosis >15.000 sel/mm3
2.Denyut jantung janin >160 kali/menit
3.Frekuensi nadi ibu >100 kali/menit
4.Nyeri tekan fundus saat tidak berkontraksi
5.Cairan amnion berbau

50
Daftar Pustaka
• Wiknjosastro, Hanifa . Plasenta dan Likour Amnii. Di : Prawiroharjo, Sarwono. Ilmu Kebidanan edisi 3.
Jakarta : PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.2006
• Wiknjosastro, Gulardi H. Plasenta dan Cairan Amnion. Di: Sarwono prawirohardjo. Ilmu Kebidanan edisi 4.
Jakarta : P.T. Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2016.
• Sastrawinta, sudirman dkk. Obstetri Patologi Ilmu Kesehatan Reproduksi Universitas Padjajaran Ed.4.EGC:
Jakarta.2005
• Martaadisoebrata, Djamhoer SS. Penyakit serta Kelainan Plasenta dan Selaput janin. Di : Prawiroharjo,
Sarwono. Ilmu Kebidanan edisi 3. Jakarta : PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.2006
• Rachimhabdhi, Trijatmo BW. Perdarahan Antepartum. Di : Prawiroharjo, Sarwono. Ilmu Kebidanan edisi 3.
Jakarta : PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.2006
• Tinjung. 2011. Perdarahan Antepartum. (di akses pada tanggal 10 februari 2018) URL:
http://eprints.undip.ac.id/46235/5/TINJUNG_JATININGRUM_22010111130088_Lap.KTI_Bab_II.pdf
• Norwitz, ER.Schorge, JO. 2001. Obstetrics and Gynecology at a Glance. Blackwell science. p 102-103
• Charter, Barter. Polyhydramnios and Oligohydramnions. Available at
http://reference.medscape.com/article/975821-overview [Accesed 10th February 2018]
• Prawirohardjo, Sarwono. 2009. Ilmu Kebidanan. Jakarta : PT Bina Pustaka. Hal 155-156,267-269,277
• Chamberlain, G. 1997. Obstetrics by 10 Teachers, 16th ed. Oxford University press. p 13-14
• Sastrawinata, S. 2005. obsetri patologi. bandung:bagian obsetri dan gynekologi. FK.UNPAD.Edisi ke-
2.jakarta: ECG
• Mochtar, Rustam. Sinopsis obstetrik. Ed. 2. Jakarta: EGC, 1998.
• Manuaba, Ida Bagus Gede. Ilmu kebidanan, penyakit kandungan dan keluarga berencana. Jakarta: EGC,
1998.
• Overton T, Fisk N. Amniocentesis. In: James D, Steer P, Weiner C, Gonik B, editors. High risk pregnancy
management option. 2 nd ed. New York: W.B Saunders; 2000. p. 215-23.
Terima kasih