Anda di halaman 1dari 24

“Management of complicated multirecurrent

pterygia using multimicroporous expanded


polytetrafluoroethylene”
Kyoung woo kim, Jae chan kim, jun hyung moon, hyun koo, tae hyung kim, nam ju moon. Department of
ophtalmology, chung-ang university hospital, seoul, south korea. Published online first 15 march 2013

Budi Sukmawijaya
2011730016
Pembimbing : dr. Abizar Iskandar, Sp.M
Pendahuluan
• Jaringan fibrovaskular berbentuk segitiga
yang tumbuh dari arah konjungtiva menuju
Pterigium kornea pada daerah intrapalpebra.

• Iklim panas (daerah terlalu berdebu dan


kering)
Epidemiologi • Usia 20 -49 tahun
• Laki >>

• Sinar UV
• Genetik
Faktor Risiko • Faktor lain
Pendahuluan
• Pada pterigium kambuhan, pertumbuhan fibrovaskular lebih
panjang ketimbang pterigium primer. Sebagai hasil, terdapat
kecenderungan untuk lebih agresif atau metode yang dikombinasi
untuk penghilangan pterigium termasuk penggunaan mitomycin C
(MMC), autograft konjungtiva. Transplantasi membran amniotik
yang dikombinasi dengan autograft konjungtiva limbus. Meskipun
begitu banyak usaha yang dilakukan bagaimanapun juga sulit untuk
menerima hasil memuaskan dengan kambuhan yang agresif dan
kecenderungan pertumbuhan fibrovaskuler.

• Studi sebelumnya menunjukkan bahwa e-PTFE dapat menunjukkan


epitelisasi, sedikit menimbulkan respon inflamasi, dan membuktikan
kekambuhan symblepharon pada sikatriks permukaan okular.
Pendekatan saat ini untuk manajemen pterigium kambuhan adalah
melakukan eksisi pterigium dengan operasi penyisipan dari
multimicroporous e-PTFE didalam ruang subkonjungtiva nasal.
Tujuan Penelitian

• Untuk mengevaluasi efisiensi dari penyisipan


multimicroporous expanded
polytetrafluoroethylene (e-PTFE) pada
pterygia multirekuren kompleks.
Metode
• Subjek terdiri dari 62 mata dari 62 pasien.
• Group A  Multimicroporous e-PFTE yang disisipkan
secara operatif pada 30 pasang mata diantara
transplantasi membran amniotik
• Group B  tapi tidak disisipkan pada 32 pasang mata
lainnya
• Kriteria inklusi
– pterigium multirekuren (≥ 2 kali kambuh),
– manifestasi seperti symblepharon atau hambatan
motilitas-binokular diplopia
– Yang telah menandatangani persetujuan dilakukan
penyisipan e-PTFE.
Metode

• Sebelum operasi dilakukan, setiap pasien


menjalani pemeriksaan okular lengkap, dan
pasien dengan glaukoma, skleromalacia atau
riwayat bedah yang lama sembuhnya pada
mata yang sama tidak termasuk dalam sampel
ini.
Prosedur Pembedahan
• Semua pasien yang dianastesi dengan memblok retrobulbar.
Pelepasan symblepharon dan jaringan fibrotik secara extensif
dibedah untuk membuka sklera dan stroma kornea.
• Jaringan fibrovaskular konjungtiva, termasuk kapsul Tenon,
yang di buang menggunakan gunting dari sklera dan otot
rektus medial pada forniks superior dan inferior dan karunkel
nasal.
• Kemudian cryopreserved human amniotic membrane
diletakkan dan diarahkan masuk sklera dan otot rekstus
medial dengan epitel menghadap keatas, dan dijahit dengan
benang nylon 10-0.
• Spons weckel direndam dengan 0.33% MMC yang disisipkan
pada area forniks selama minimal 2 menit, lalu irigasi dengan
200 ml larutan garam fisiologis. Hal ini dilakukan pada sampel
grup A.
Intraoperative insertion e-PTFE
Manajemen Pascaoperasi dan Evaluasi
• Obat topikal yang diberikan pascaoperasi adalah
– levofloxacin tetes 0,1% 4 x / hari,
– dexamethasone salep 0,1% dicampur dengan
0.35% neomycin sulfate 2 x/ hari.
– Serta 40% autoserum tetes setiap akan dan
bangun tidur (2 kali sehari) selama 4 minggu.
• Setelah 4 minggu, levofloxacin dihentikan, dan salep
serta autoserum diturunkan dosisnya secara
bertahap menjadi satu kali sehari.
lanjutan
• Kemudian, membran amniotic dilepas setelah
satu minggu, dan jahitan autograft konjungtiva
limbus dibuka setelah dua minggu pascaoperasi.
• Setelah tiga sampai empat minggu, pada sampel
grup A sisipan multimicroporous e-PTFE
diekstraksi menggunakan forsep setelah jahitan
dibuka.
• Analisis Statistik menggunakan software SPSS
versi 19, dengan p value > 0.05 menunjukkan
hasil signifikan.
Hasil
• Dengan demikian, yang
menunjukkan hasil signifikan
pada percobaan klinis
multimicroporous e-PTFE
dengan 62 sampel ini adalah
bentukan symblepharon,
hambatan motilitas okular,
hiperemia konjungtiva, dan
kamburan pterigium pada
kornea. Hanya satu variabel
yang tidak menunjukkan hasil
yang signifikan yaitu diplopia.
• Pada hasil follow-up, bentukan symblepharon,
keterbatasan motilitas, diplopia, dan
hiperemia konjungtiva terbukti membaik
secara signifikan.
• Setelah pembedahan pada sampel grup A
(p=0.000, 0.000, 0.008 dan 0.000).
• Bentukan symblepharon pasca operasi, keterbatasan
motilitas dan hiperemia konjungtiva secara signifikan
lebih sedikit pada kelompok A dibanding kelompok B
(p=0.024, 0.027, 0.000).
• Setelah pembedahan, kambuhan kornea mulai
berkembang pada satu mata di grup A (3.3%),
dimana jauh lebih rendah dibandingkan dengan
delapan mata pada grup B (p=0.027)
Diskusi
• Pada studi ini, memiliki keterbatasan karena tidak
dilakukan follow-up lanjutan yang dibutuhkan untuk
evaluasi komplikasi lanjutan dari penggunaan MMC
yaitu skleritis nekrotik.
• Namun bagaimanapun juga studi ini merupakan
laporan pertama dari penggunaan e-PTFE pada
pterigium multirekuren kompleks dengan maksud
memperbaiki komplikasi dan menurunkan
kambuhan.
Diskusi lanjutan
• Idealnya dilakukan follow-up selama 14 bulan
atau lebih, dimana membutuhkan waktu yang
panjang.
• Meskipun beberapa tahapan teknik
pembedahan dan pasca operasi tidak popular
pada beberapa ahli bedah, hasil dari
pembedahan metode ini baik dan signifikan
dalam memunculkan teknik pengobatan baru
pada pterigium multirekuren kompleks.
Kesimpulan dan Saran
• Operasi penyisipan dengan multimicroporous e-PTFE,
yang dapat mengembalikan karakteristik karunkel
dengan efektif, tampaknya memberikan ide baru untuk
mengatasi pterigium multirekuren kompleks, terlebih
lagi ketika didampingi dengan metode konvensional
seperti penggunaan mitomycin C, transplantasi
membran amniotik, dan autograft limbus konjungtiva.
• Saran untuk kedepannya penggunaan sisipan
multimicroporous e-PTFE mungkin dapat digunakan
untuk berbagai kelainan permukaan okular dengan
bentukan skar yang berat seperti sindrom Steven-
Johnson, sikatrik okular pemfigoid, atau karena bahan
kimia.
• Jaringan fibrovaskular berbentuk segitiga
yang tumbuh dari arah konjungtiva menuju
Pterigium kornea pada daerah intrapalpebra.

• Iklim panas (daerah terlalu berdebu dan


kering)
Epidemiologi • Usia 20 -49 tahun
• Laki >>

• Sinar UV
• Genetik
Faktor Risiko • Faktor lain
Gambaran klinik
• Lesi biasanya terdapat di sisi nasal konjungtiva bulbi.
• Bisa dijumpai di sisi nasal dan temporal pada satu mata
(pterigium dupleks) atau pada kedua mata (pterigium
bilateral).

• Gejala subyektif :
Rasa perih, terganjal, sensasi benda asing; silau, berair,
gangguan visus, masalah kosmetik.
• Gejala Obyektif :
Konjungtiva bulbi ( fisura palp )  jar. fibrovaskuler berbentuk
segitiga (apeks menuju kornea atau di kornea)
- Di depan apeks kdg dijumpai :
- Yellow brown line = Pigmented iron line = Stocker’s line
- Grey cap (Grey zone)
dibagi ke dalam 4 derajat yaitu

• Derajat 1 : jika pterygium hanya terbatas pada limbus kornea.


• Derajat 2 : jika sudah melewati limbus kornea tetapi tidak
lebih dari 2 mm melewati kornea.
• Derajat 3 : sudah melebihi derajat 2 tetapi tidak melebihi
pinggiran pupil mata dalam keadaan cahaya normal (pupil
dalam keadaan normal sekitar 3 – 4 mm)
• Derajat 4 : pertumbuhan pterygium melewati pupil sehingga
mengganggu penglihatan.
Diagnosis
• Ditegakkan berdasarkan gejala klinik

• Diagnosis Banding
1. Pinguekula (pterigium stadium I)
2. Pseudopterigium (pterigium stadium II & III)

Pterigium Pseudopterigium
Lokasi Selalu di fissura Sembarang lokasi
palpebra
Progresifitas Progressif atau Stasioner
Stasioner
Riwayat Penyakit Ulkus kornea (-) Ulkus kornea (+)
Tes Sonde Negatif Positif
Beberapa tehnik operasi yang dapat menjadi
pilihan yaitu Penatalaksanaan
:
1. Bare sclera : tidak ada jahitan atau jahitan, benang absorbable digunakan
untuk melekatkan konjungtiva ke sklera di depan insersi tendon rektus. 2.
•2. Beberapa obat: tepi
Simple closure topikal sepertiyang
konjungtiva lubrikans, vasokonstriktor
bebas dijahit dan
bersama (efektif jika
hanya defek konjungtiva
kortikosteroid digunakan sangat kecil).menghilangkan gejala
untuk
3. terutama
Sliding flapspada
: suatu insisi bentuk
derajat 1 danLderajat
dibuat sekitar
2. luka kemudian flap
konjungtiva digeser untuk menutupi defek.
•4. Untuk mencegah
Rotational progresifitas,
flap : insisi bentuk U dibuat beberapa peneliti
sekitar luka untuk membentuk
menganjurkan
lidah konjungtivapenggunaan kacamata
yang dirotasi pada pelindung ultraviolet.
tempatnya.
5. Conjunctival graft : suatu free graft biasanya dari konjungtiva superior,
• Bedah
dieksisi sesuai dengan besar luka dan kemudian dipindahkan dan dijahit.
6. AmnionEksisi dilakukan
membrane pada kondisi
transplantation adanya ketidaknyamanan
: mengurangi frekuensi rekuren
yangpterygium,
menetap, gangguan
mengurangi penglihatan
fibrosis atau skar bila
padaukuran 3-4bola
permukaan mmmata
dandan
penelitian baru mengungkapkan menekan TGF-β pada konjungtiva dan
pertumbuhan yang progresif ke tengah kornea atau aksis visual,
fibroblast pterygium. Pemberian mytomicin C dan beta irradiation dapat
adanya gangguan
diberikan pergerakan
untuk mengurangi bola mata.
rekuren tetapi jarang digunakan.
7. Lamellar keratoplasty, excimer laser phototherapeutic keratectomy dan
terapi baru dengan menggunakan gabungan angiostatik dan steroid.