Anda di halaman 1dari 17

ANALISIS FUNGSIONAL

TMJ
OLEH
DRG. KORNIALIA, M.BIOMED
Analisis fungsional TMJ terdiri atas :

1. Pemeriksaan Free Way Space


2. Path of Closure
3. Sendi Temporo Mandibular
4. Pola Atrisi
1. Pemeriksaan free way space

 Free way space merupakan celah yang terdapat antara rahang atas dan
rahang bawah dalam keadaan istirahat yang merupakan selisih antara relasi
vertikal pada saat istirahat dan relasi vertikal pada saat oklusi sentrik
 Relasi vertikal posisi istirahat adalah suatu hubungan rahang atas dimana
otot-otot membuka dan menutup mulut dalam keadaan seimbang. Ini diukur
pada waktu rahang bawah dalam keadaan istirahat fisiologis
 Relasi vertikal oklusi adalah suatu hubungan rahang bawah terhadap rahang
atas, gigi geligi atau oklusal saat dioklusikan. Diukur sewaktu gigi dalam oklusi
sentrik
Cara pengukuran relasi vertikal

1. Relasi vertikal posisi istirahat :


Tentukan 2 titik pada wajah penderita sejajar dengan median line yaitu pada
dagu dan diatas bibir/hidung. Pengukuran dilakukan dengan menggunaakan
jangka dan penggaris.
2. Relasi vertikal oklusi
Juga menggunakan 2 titik pada wajah yang sejajar dengan median line, lalu
pasien diinstruksikan untuk memposisikan pada oklusi sentris yaitu posisi
kontak maksimal dari gigi geligi pada waktu mandibula dalam keadaan
sentrik, yaitu kedua kondilus berada dalam posisi bilateral simetris di dalam
fossanya. Sentris atau tidaknya posisi mandibula ini ditentukan oleh panduan
yang diberikan oleh kontak antara gigi pada saat pertama berkontak.
Kemudian diukur kembali jarak antara kedua titik tersebut. Pada umumnya
terjadi pengurangan relasi vertikal 2-4 mm dari relasi vertikal istirahat
2. Path of Closure

 Merupakan gerakan mandibula dari posisi istrirahat


menuju posisi oklusi sentris. Operator memeriksa gerakan
mandibula dan ada tidaknya pergeseran garis median pada
saat mandibula digerakkan dari posisi istirahat menuju
posisi oklusi sentris, dikatakan tidak normal apabila :
1. Terdapat gerakan mandibula yang tidak normal bisa
disebabkan adanya deviasi mandibula atau displacement
mandibula
2. Pergeseran garis median yang menandakan adanya
gangguan path of closure
 Perlu dibedakan antara deviasi mandibula dan
displacement mandibula karena perawatannya
berbeda. Deviasi biasanya tidak menyebabkan rasa sakit,
keausan pada gigi atau rusaknya jaringan periodontal.
Displacement mandibula pada jangka panjang dapat
menyebabkan terjadinya ketiga hal di atas
Deviasi Mandibula
 Keadaan ini berhubungan dengan posisi keadaan
mandibula. Bila mandibula dalam posisi kebiasaan, maka
jarak antaroklusal akan bertambah sedangkan kondili
terletak lebih maju di dalam fosa glenoides. Arah path of
closure adalah ke atas dan ke belakang akan tetapi bila
gigi telah mencapai oklusi mandibula terletak dalam relasi
sentrik.
Displacement Mandibula
 Displacement dapat terjadi dalam jurusan sagital dan
transversal. Kontak prematur dapat menyebabkan
displacement mandibula untuk mendapatkan hubungan
antartonjol gigi yang maksimum.
 Dalam jangka panjang displacement dapat terjadi
selama pertumbuhan gigi. Dalam beberapa keadaan
displacement terjadi pada fase gigi sulung, kemudian
pada saat gigi permanen erupsi gigi tersebut akan
diarahkan oleh kekuatan otot ke letak yang memperparah
terjadinya displacement.
 Displacement dapat terjadi pada usia lanjut karena gigi
yang maju dan tidak terkontrol yang disebabkan karena
hilangnya posterior akibat pencabutan.
 Displacement dalam jurusan transversal sering berhubungan dengan adanya
gigitan silang posterior.
 Bila lengkung geligi atas dan bawah sama lebarnya, suatu displacement
mandibula ke transversal diperlukan untuk mencapai posisi oklusi maksimum.
Bila hal tersebut terjadi maka akan didapatkan relasi gigitan silang gigi
posterior pada satu sisi.
 Displacement ke transversal tidak berhubungan dengan bertambahnya jarak
antaroklusal.
 Adanya gigitan silang unilateral gigi posterior yang disertai adanya garis
median atas dan bawah yang tidak segaris akan menimbulkan dugaan
adanya displacement ke transversal. Keadaan ini perlu diperiksa dengan
seksama dengan memperhatikan pasien pada saat menutup mandibula dari
posisi istirahat ke posisi oklusi.
 Keadaan yang perlu diperhatikan adalah letak garis median baik pada posisi
istirahat maupun pada posisi oklusi.
 Bila terdapat gigitan silang unilateral pada keadaan ini, perlu dilakukan
ekspansi regio posterior rahang atas ke arah transversal.
 Tidak semua gigitan silang unilateral berhubungan dengan dispacement.
Kadang-kadang didapatkan asimetri rahang atas dan bawah. Bila tidak
terdapat displacement tetapi terdapat gigitan silang unilateral maka perlu
dipertimbangkan apakah perlu dirawat atau tidaknya.
 Displacement ke arah sagital dapat terjadi karena adanya kontak prematur
pada daerah insisiv. Pada keadaan ini biasanya daidapatkan over
closure mandibula.
 Pada kasus kelas III ringan terdapat gigitan edge to edge pada insisivi,
mandibula bergeser ke anterior untuk mendapatkan oklusi di daerah bukal
 Displacement ke posterior kadang juga dapat terjadi. Perlu diperhatikan
perbedaandisplacement mandibula ke posterior yang sering terjadi pada relasi
inisisivi kelas II dengan displacement ke posterior pada pasien dengan
gigi yang masih lengkap.
 Displacement ke posterior sering terjadi pada pasien yang kehilangan gigi
posterior.
 Cara pemeriksaan path of closure adalah penderita didudukkan pada posisi
istirahat.
 Dilihat posisi garis mediannya, penderita diinstruksikan uktuk oklusi sentris dari
posisi
 istirahat dan dilihat kembali posisi garis mediannya. Apabila posisi garis median
pada saat
 posisi istirahat menuju oklusi sentris tidak terdapat pergeseran BERARTI
tidak ada
 gangguan path of closure dan apabila posisi garis media pada saat posisi istirahat
menuju
 oklusi sentris terdapat pergeseran berarti terdapat gangguan path of closur
Sendi Temporo Mandibula

 Pemeriksaan sendi temporomandibula Tdd :


A. Auskultasi :
Dengan menggunakan stetoskop untuk mendengar adanya krepitasi atau klicking
pada area depan telinga yang akan diperiksa. Selanjutnya diinstruksikan pasien untuk
membuka dan menutup mulut
Kliking’ adalah bunyi singkat yang terjadi pada saat membuka atau menutup mulut,
bahkan keduanya. ‘Krepitus’ adalah bersifat difus, yang biasanya berupa suara yang
dirasakan menyeluruh pada saat membuka atau menutup mulut bahkan keduanya.
’Krepitus’ menandakan perubahan dari kontur tulang seperti pada osteoartrosis.
’Kliking’ dapat terjadi pada awal, pertengahan, dan akhir membuka dan menutup
mulut. Bunyi ‘klik’ yang terjadi pada akhir membuka mulut menandakan adanya suatu
pergeseran yang berat. TMJ ‘kliking’ sulit didengar karena bunyinya halus, maka dapat
didengar dengan menggunakan stetoskop.
b. Palpasi :
Cara 1 : Dengan palpasi bimanual pada area depan telinga kanan dan kiri selanjutnya
diinstruksikan pasien untuk membuka dan menutup mulut, periksa kelancaran
pergerakan TMJ
Cara 2 : operator meletakkan kedua jari dibagian depan dari meatus acusticus
externus kiri dan kanan penderita kemudian pasien diinstruksikan untuk membuka dan
menutup mulut secara berkelanjutan. Apabila tidak terasa adanya krepitasi saat
palpasi atau bunyi klicking berarti pola pergerakan TMJ normal
Pola atrisi

 Adalah permukaan oklusal gigi yang datar atau rata karena faktor pemakaian
atau oleh karena kebiasaan jelek seperti bruxism sehingga menyebabkan
bentuk wajah yang lebih pendek dan fungsi kunyah akan menjadi terganggu.
Bila hal tersebut tidak dirawat, maka akan dapat menimbulkan ngilu pada gigi
serta rasa sakit pada sendi rahang.

 Pada pemeriksaan pola atrisi dilakukan pemeriksaan pada model studi dari
pasien. Yang diamati operator adalah ada tidaknya atrisi pada model dan
apabila ada bagaimana pola atrisinya
 Pola atrisi dikatakan normal apabila terjadinya atrisi gigi yang disebabkan
oleh karena pemakaian gigi yang telah lama, misalnya gigi atrisi pada orang
yang telah lanjut dan atrisi gigi susu pada anak-anak yang telah memasuki
fase gigi permanen.
 dikatakan pola atrisi tidak normal apabila terjadinya atrisi gigi oleh karena
adanyA kebiasaan jelek, misalnya bruxism. Contohnya atrisi gigi permanen
pada penderita usia muda atau pada anak-anak pada fase gigi pergantian
 Abrasi merupakan ausnya jaringan gigi akibat proses mekanik, misalnya
karena pemakaian pasta gigi yang bersifat abrasif (mengikis gigi) atau sikat
gigi yang terlalu keras. Abrasi gigi biasanya mengenai bagian serviks gigi
(leher gigi) sebelah mukosa pipi, gigi anterior (gigi depan) maupun posterior
(gigi belakang).
 Sedangkan atrisi adalah suatu gesekan fisik antara permukaan suatu gigi
terhadap gigi lainnya sehingga pada permukaan yang saling berkontak akan
timbul keausan, umumnya terjadi pada gigi di daerah oklusal (bagian gigi yang
saling kontak antara gigi atas dan bawah) dan insisal (gigi insisivus atau gigi
depan). Keausan jenis ini kebanyakan bersifat fisiologis (gigi masih bisa
berfungsi dan tidak menimbulkan keluhan serta bentuknya masih wajar) oleh
karena pemakaian dan kejadiannya meningkat seiring bertambahnya usia.
 Hanya sebagian kecil atrisi yang bersifat patologis (muncul bentuk yang tidak
memuaskan serta adanya gangguan berupa , hipersensitivitas atau masalah
mekanik) misalnya karena bruxism.