Anda di halaman 1dari 47

APENDISITIS

SHANIA HASINA SIDIKI


1710711023
PENGERTIAN

• Penyakit usus buntu atau apendisitis adalah saluran usus yang terjadinya
pembusukan dan menonjol dari bagian awal usus besar atau seku. Penyakit
usus buntu timbul ketika usus buntu tersumbat benda keras di dalam tinja
atau bengkaknya cabang ke kelenjar getah bening pada usus yang dapat
terjadi oleh berbagai maccam infeksi. Apendisitis adalah penyakit
pembedahan abdominal yang paling umum dan merupakan inflamasi
apendiks vermiform akibat adanya obstruksi. Usus buntu berukuran 5-10 cm
yang terhubung di usus besar.
KLASIFIKASI

Menurut samsuhidayat (2003), apendisitis terdiri dari limabagian antara lain:


• Apendisitis akut
Adalah peradangan apendiks yang timbul meluas dan
mengenai peritoneum pariental setempat sehingga menimbulkan rasa sakit di
abdomen kanan bawah
• Apendisitis infiltrat (masa peri pendikuler)
Apendisitis infiltrat atau masa periapendikuler terjadi bila apendisitis
ganggrenosa di tutupi pendinginan oleh omentum
• Apendisitis perforata
Ada fekalit didalam lumen, umur (orang tua atau anak muda)
dan keterlambatan diagnosa merupakan faktor yang
berperan dalam terjadinya perforasi apendiks
• Apendisitis rekuren
kelainan ini terjadi bila serangan apendisitis akut pertama kali
sembuh spontan, namun apendiks tidak pernah kembali kebentuk aslinya karen
a terjadi fibrosis dan jaringan parut. Resikonya untuk terjadinya serangan lagi
sekitar 50%
• Apendisitis kronis
fiibrosis menyeluruh dinding apendiks, sumbatan parsial atau total lumen
apendiks, adanya jaringan parut dan ulkus lama dimukosa dan infiltrasi sel
inflamasi kronik
PREVELENSI
• Kejadian apendisitis di indonesia menurut data yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan RI
pada tahun 2009 sebesar 596.132 orang dengan persentase 3.36% dan meningkat pada
tahun 2010 menjadi 621.435 orang dengan persentase 3.53%. Apendisitis merupakan
penyakit tidak menular tertinggi kedua di Indonesia pada rawat inap di rumah sakit pada
tahun 2009 dan 2010.
• Penelitian Indri U, dkk (2014), mengatakan risiko jenis kelamin pada kejadian penyakit
apendisitis terbanyak berjenis kelamin laki-laki dengan presentase 72,2% sedangkan berjenis
kelamin perempuan hanya 27,8% [6] . Hal ini dikarenakan laki-laki lebih banyak
menghabiskan waktu diluar rumah untuk bekerja dan lebih cenderung mengkonsumsi
makanan cepat saji, sehingga hal ini dapat menyebabkan beberapa komplikasi atau obstruksi
pada usus yang bisa menimbulkan masalah pada sistem pencernaan salah satunya yaitu
apendisitis.
• Angka kejadian apendisitis di Indonesia dilaporkan sekitar 95/1000 penduduk dengan jumlah
kasus sekitar 10 juta setiap tahunnya dan merupakan kejadian tertinggi di ASEAN.[1,2] Di
rumah sakit di Bali dilaporkan kejadian apendisitis cukup tinggi dengan variasi antara 159-470
kasus per tahun.[3] Permasalahan yang sering terjadi pada kasus apendisitis akut adalah
adanya komplikasi seperti perforasi dengan prevalensi sekitar 30-70% dari kasus apendisitis
akut.
ETIOLOGI DAN FAKTOR RESIKO
APPENDISITIS
KMB II

DESI ANA RACHMAWATI 1710711038


NURHIDAYAH P 1710711113
ETIOLOGI DAN FAKTOR RISIKO

Apendisitis dapat disebabkan hal berikut :


• Fekalit (batu feses) yang mengoklusi lumen apendiks
• Apendiks yang terpuntir.
• Pembengkakan dinding usus.
• Kondisi fibrosa di dinding usus.
• Oklusi eksternal usus akibat adesi.
• Infeksi organisme yersinia telah ditemukan pada 30% kasus.
• Tidak ada faktor resiko tertentu untuk apendisitis. Oleh karena
itu tidak dapat dicegah, deteksi dini sangat penting.
Appendiksitis disebabkan oleh penyumbatan lumen
appendik oleh hyperplasia Folikel lympoid Fecalit, benda
asingstriktur karena Fibrasi karena adanya peradangan
sebelumnya atau neoplasma. Obstruksi tersebut
menyebabkan mucus yang memproduksi mukosa
mengalami bendungan. Namun elastisitas dinding
appendik mempunyai keterbatasan sehingga
menyebabkan tekanan intra lumen. Tekanan yang
meningkat tersebut akan menghambat aliran limfe yang
akan menyebabkan edema dan ulserasi mukosa.
Pada saat inilah terjadi Appendiksitis akut local yang ditandai oleh adanya
nyeri epigastrium. Penyebab lain yang muncul :

1. Adanya benda asing seperti biji – bijian, Seperti biji Lombok, biji jeruk dll
2. Infeksi kuman dari colon yang paling sering adalah E. Coli dan
streptococcus
3. Laki – laki lebih banyak dari wanita. Yang terbanyak pada umur 15 – 30
tahun (remaja dewasa). Ini disebabkan oleh karena peningkatan jaringan
limpoid pada masa tersebut.
4. Tergantung pada bentuk appendiks
5. Appendik yang terlalu panjang
6. Messo appendiks yang pendek
7. Penonjolan jaringan limpoid dalam lumen appendiks
8. Kelainan katup di pangkal appendiks
DAFTAR PUSTAKA

• Price, Sylvia Anderson.


2005.PATOFISIOLOGI : konsep klinis proses-proses penyakit.
• Jakarta : EGC.R. Sjamsuhidajat, Wim de Jong. 2004. Buku-
Ajar Ilmu Bedah. Jakarta : EGC.Syaifuddin. 2006.
• Anatomi Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan.Jakarta:
EGC
• Sloane, Ethel. 2004.Anatomi Dan Fisiologi
Untuk Pemula.Jakarta : EGC
Tanda dan Gejala
Tanda : Gejala :
1. Demam 1. Nyeri samar-samar dan tumpul di
2. Kembung daerah epigastrium sekitar
3. Mc. Burney sign umbilikalis
4. Obturatur sign 2. Mual dan muntah
5. Rovsing sign 3. Nafsu makan berkurang
6. Psoas sign 4. Malaise
5. Konstipasi atau diare
6. Anoreksia
Ayu Nuraini Soleha 1710711030
Lilis Mulyani 1710711073

TATALAKSANA MEDIS APENDISITIS


Penanggulangan konservatif
Penanggulangan konservatif terutama diberikan pada
penderita yang tidak mempunyai akses ke pelayanan bedah berupa
pemberian antibiotik. Pemberian antibiotik berguna untuk
mencegah infeksi. Pada penderita Apendisitis perforasi, sebelum
operasi dilakukan penggantian cairan dan elektrolit, serta pemberian
antibiotik sistemik.
Operasi

Bila diagnosa sudah tepat dan jelas ditemukan Apendisitis


maka tindakan yang dilakukan adalah operasi membuang
appendiks (appendektomi). Penundaan appendektomi dengan
pemberian antibiotik dapat mengakibatkan abses dan perforasi.
Pada abses appendiks dilakukan drainage (mengeluarkan
nanah).
Pencegahan Tersier

 Tujuan utama dari pencegahan tersier yaitu mencegah


terjadinya komplikasi yang lebih berat seperti komplikasi
intra-abdomen.
 Komplikasi utama adalah infeksi luka dan abses
intraperitonium. Bila diperkirakan terjadi perforasi maka
abdomen dicuci dengan garam fisiologis atau antibiotik.
 Pasca appendektomi diperlukan perawatan intensif dan
pemberian antibiotik dengan lama terapi disesuaikan dengan
besar infeksi intra-abdomen.
Apendiktomy operasi pengambilan usus buntu adalah
satu-satunya cara pengobatan yang efektif. Laparoskopi
apendiktomy dilakukan melalui irisan sangat kecil ,
mempercepat waktu penyembuhan . Jika infeksi telah menyebar
dan terbentuk radang selaput perut dokter akan menggunakan
antibiotik untuk mengobatinya dan menggunakan selang untuk
mengeluarkan isi rongga perut.
 Menurut Arief Mansjoer (2000), penatalaksanaan apendisitis adalah sebagai
berikut:
 Tindakan medis:
 Observasi terhadap diagnosa
 Dalam 8 – 12 jam pertama setelah timbul gejala dan tanda apendisitis, sering tidak
terdiagnosa, dalam hal ini sangat penting dilakukan observasi yang cermat.
 Penderita dibaringkan ditempat tidur dan tidak diberi apapun melalui mulut. Bila
diperlukan maka dapat diberikan cairan aperviteral.
 Hindarkan pemberian narkotik jika memungkinkan, tetapi obat sedatif seperti
barbitural atau penenang tidak karena merupakan kontra indikasi.
 Pemeriksaan abdomen dan rektum, sel darah putih dan hitung jenis di ulangi
secara periodik.
 Perlu dilakukan foto abdomen dan thorak posisi tegak pada semua kasus
apendisitis, diagnosa dapat jadi jelas dari tanda lokalisasi kuadran kanan bawah
dalam waktu 24 jam setelah timbul gejala.
 Intubasi
Dimasukkan pipa naso gastrik preoperatif jika terjadi peritonitis atau
toksitas yang menandakan bahwa ileus pasca operatif yang sangat
menggangu. Pada penderita ini dilakukan aspirasi kubah lambung jika
diperlukan. Penderita dibawa kekamar operasi dengan pipa tetap terpasang.
 Antibiotik
Pemberian antibiotik preoperatif dianjurkan pada reaksi sistematik
dengan toksitas yang berat dan demam yang tinggi .
 Terapi bedah
 Pada apendisitis tanpa komplikasi, apendiktomi dilakukan segera setelah
terkontrol ketidakseimbangan cairan dalam tubuh dan gangguan sistematik
lainnya. Biasanya hanya diperlukan sedikit persiapan.
 Pembedahan yang direncanakan secara dini baik mempunyai praksi
mortalitas 1 % secara primer angka morbiditas dan mortalitas penyakit ini
tampaknya disebabkan oleh komplikasi ganggren dan perforasi yang terjadi
akibat yang tertunda.
 Terapi pasca operasi
 Perlu dilakukan obstruksi tanda-tanda vital untuk mengetahui terjadinya
perdarahan didalam, syok hipertermia, atau gangguan pernapasan angket
sonde lambung bila pasien telah sadar, sehingga aspirasi cairan lambung
dapat dicegah.
 Baringkan pasien dalam posisi fowler. Pasien dikatakan baik bila dalam 12 jam
tidak terjadi gangguan. Selama itu pasien dipuasakan.
 Bila tindakan operasi lebih besar, misalnya pada perforasi atau peritonitis
umum, puasa diteruskan sampai fungsi usus kembali normal.
 Kemudian berikan minum mulai 15 ml/jam selama 4-5 jam lalu naikkan
menjadi 30 ml/jam. Keesokan harinya diberikan makan saring, dan hari
berikutnya diberikan makanan lunak.
 Satu hari pasca operasi pasien dianjurkan untuk duduk tegak ditempat tidur
selama 2 x 30 menit. Pada hari kedua pasien dapat berdiri dan duduk diluar
kamar. Hari ketujuh jahitan dapat diangkat dan pasien diperbolehkan pulang.
Pemeriksaan Penunjang
Nada Mutiara 1710711028
Nur Fitriah E 1710711049
1. Laboratorium
Jumlah leukosit diatas 10.000 ditemukan pada lebih dari 90% anak dengan
appendicitis akuta. Jumlah leukosit pada penderita appendicitis berkisar antara
12.000- 18.000/mm3. Peningkatan persentase jumlah neutrofil (shift to the left)
dengan jumlah normal leukosit menunjang diagnosis klinis appendicitis. Jumlah
leukosit yang normal jarang ditemukan pada pasien dengan appendicitis.

2. Pemeriksaan urinalisis
Membantu untuk membedakan appendicitis dengan pyelonephritis atau batu
ginjal. Meskipun demikian, hematuria ringan dan pyuria dapat terjadi jika
inflamasi appendiks terjadi di dekat ureter.

22
3. Ultrasonografi
Ultrasonografi sering dipakai sebagai salah satu pemeriksaan untuk menunjang diagnosis pada kebanyakan
pasien dengan gejala appendicitis. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa sensitifitas USG lebih dari 85%
dan spesifitasnya lebih dari 90%. Gambaran USG yang merupakan kriteria diagnosis appendicitis akut adalah
appendix dengan diameter anteroposterior 7 mm atau lebih, didapatkan suatu appendicolith, adanya cairan
atau massa periappendix1. False positif dapat muncul dikarenakan infeksi sekunder appendix sebagai hasil
dari salphingitis atau inflammatory bowel disease.

4. CT-Scan
CT scan merupakan pemeriksaan yang dapat digunakan untuk mendiagnosis appendicitis akut jika
diagnosisnya tidak jelas.sensitifitas dan spesifisitasnya kira-kira 95-98%. Pasien-pasien yang obesitas,
presentasi klinis tidak jelas, dan curiga adanya abses, maka CT-scan dapat digunakan sebagai pilihan test
diagnostik. Diagnosis appendicitis dengan CT-scan ditegakkan jika appendiks dilatasi lebih dari 5-7 mm pada
diameternya. Dinding pada appendix yang terinfeksi akan mengecil.

23
5. Pengukuran enzim hati dan tingkatan amilase membantu mendiagnosa
peradangan hati, kandung empedu, dan pankreas.

6. Pemeriksaan barium enema untuk menentukan lokasi sekum. Pemeriksaan


Barium enema dan Colonoscopy merupakan pemeriksaan awal untuk
kemungkinan karsinoma kolon.

7. Pemeriksaan foto polos abdomen tidak menunjukkan tanda pasti Apendisitis,


tetapi mempunyai arti penting dalam membedakan Apendisitis dengan
obstruksi usus halus.

24
KOMPLIKASI
RANI MUTRIKA 1710711045
GITA EKAWATI 1710711007
DILA SARI PUTRI 1710711071
KOMPLIKASI

• Komplikasi yang paling sering ditemukan adalah perforasi, baik berupa perforasi bebas maupun
perforasi pada apendiks yang telah mengalami perdindingan sehingga berupa massa yang terdiri atas
kumpulan apendiks, sekum, dan letak usus halus (Sjamsuhidajat, De Jong, 2004).
• Komplikasi usus buntu juga dapat meliputi infeksi luka, perlengketan, obstruksi usus, abses
abdomen/pelvis, dan jarang sekali dapat menimbulkan kematian (Craig, 2011). Selain itu, terdapat
komplikasi akibat tidakan operatif. Kebanyakan komplikasi yang mengikuti apendisektomi adalah
komplikasi prosedur intraabdomen dan ditemukan di tempat-tempat yang sesuai, seperti: infeksi luka,
abses residual, sumbatan usus akut, ileus paralitik, fistula tinja eksternal, fistula tinja internal, dan
perdarahan dari mesenterium apendiks (Bailey, 1992).
• Komplikasi utama apendisitis adalah perforasi apendiks yang dapat berkembang menjadi peritonitis
atau abses. Insidens perforasi adalah 10% sampai 32%. Insidens lebih tinggi pada anak kecil dan lansia.
Perforasi secara umum terjadi 24 jam setelah awitan nyeri. Gejala mencakup demam dengan suhu
37,70C atau lebih tinggi, penampilan toksik, dan nyeri atau nyeri tekan abdomen yang kontinyu
(Smeltzer C.Suzanne, 2002).
NORMA AMALIA 1710711057
SITI ALIFAH NADIA PUTRI 1710711120
NIR ASHMAH 1710711122
KASUS
• Seorang pasien di rawat di RS dengan keluhan nyeri pada area
abdomen kuadran kanan bawah. TTV, TD: 120/70mmHg, nadi
88x/menit, RR 20X/menit, suhu 380C. Pasien mengatakan skala nyeri
sekitar 8. Hasil USG abdomen terdapat inflamasi pada area apendiks
dan berisiko perforasi. Leukosit meningkat hingga 11.500/mm. Pasien
didiagnosa apendistis dan akan direncanakan operasi cito.
DATA FOKUS
- Pasien mengatakan
kuadran bawah
nyeri pada area abdomen - Hasil USG abdomen terdpat inflamasi pada area
apendiks dan beresiko tervorasi
- Leukosit 11.500/mm
- Pasien mengatakan skala nyeri sekitar 8
- Pasien di diagnose apendistis dan akan di
lakukan operasi cito
- TTV
a. TD: 120/70 mmHg
b. HR:88X/menit
c. RR:20X/menit
d. Suhu:38 C
- Hasil USG abdomen terdapat inflamasi pada
area apendiks dan berisiko perforasi
ANALISA DATA
No Data Masalah Etiologi
1. DS: Nyeri Akut Agen cedera
 Pasien mengatakan nyeri pada area abdomen kuadran kanan biologis(infeksi)
bawah
 Pasien mengatakan skala nyeri sekitar 8
Do:

 Hasil USG abdomen terdapat inflamasi pada area apendiks dan


beresiko terforasi
 Leukosit 11.500/mm
 Pasien di diagnose apendiks danakan dilakukan operasi cito
 TTV :
TD : 120/70 mmHg Suhu : 38 C
HR: 88X/menit RR:20X/menit

2. DS:- Hipertermi Proses penyakit


DO:

 Leukosit 11.500/mm

 TTV
TD : 120/70 mmHg HR: 88x/menit
RR: 20X/menit Suhu : 38 C
3. Ds :- Risiko infeksi Inflamasi pada area
Do : apendiks dan
beresiko perforasi
 Hasil USG abdomen terdapat inflamasi pada area
apendiks dan beresiko tervorasi
 Leukosit 11.500/mm
 TTV
TD: 120/70 mmHg HR: 88x/menit
RR:20x/menit Suhu : 38 C
Diagnosa Keperawatan
• Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis (infeksi)
• Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit
• Risiko infeksi berhubungan dengan Inflamasi pada area apendiks dan
beresiko perforasi
INTERVENSI
Hari/Tgl No.Dx Tujuan dan Rencana Tindakan Paraf &
Kriteria Hasil Nama
1 Setelah dilakukan tindakan keperawatan - Lakukan pengkajian nyeri yang meliputi
selama 3x24 jam, diharapkan masalah lokasi,karekteristik,onset/durasi,frekuensi,kualitas,intensitas
Nyeri Akut dapat teratasi, dengan kriteria atau beratnya nyeri dan factor pencetus
hasil : - Observasi adanya petunjuk nonverbal mengenai
1. Nyeri pada area abdomen kuadran ketidaknyamanan
kanan bawah berkurang - Berikan pasien penurun nyeri yang optimal dengan peresepan
2. Pada area apendiks tidak ada inflamasi analgesik
3. Leukosit menurun dan dalam batas - Kendalikan factor lingkungan yang dapat mempengaruhi
normal keidaknyamanan pasien
4. Tanda-Tanda Vital : - Kurangi factor-faktor yang dapat meninngkatkan rasa nyer(misal
TD Normal :kelelahan,ketakutan,keadaan monoton dan kurang
HR Normal pengetahuan)
RR Normal - Bantu keluarga dalam mencari dan menyediakan dukungan
Suhu Normal - Dukung istirahat/tidur yang adekuat untuk membantu
2 Setelah dilakukan tindakan - Pantau suhu dan tanda-tanda vital
keperawatan selama 3x24 jam, - Monitor warna kulit
diharapkan masalah - Tutup pasien dengan selimut atau pakaian
Hipertermi dapat teratasi, ringan
dengan kriteria hasil : - Dorong pasien untuk konsumsi cairan
Tanda-Tanda Vital : - Lembabkan bibir dan mukosa hidung yang
1. TD Normal kering
2. HR Normal - Fasilitasi istirahat,terapkan pembatasan
3. RR Normal aktivitas jika diperlukan
4. Suhu Normal
3 Setelah dilakukan tindakan - Alokasikan kesesuaian luas ruang per pasien seperti
keperawatan selama 3x24 jam, yang di inndikasikan oleh pedoman pusat
diharapkan masalah Risiko Infeksi pengendalian pencegahan penyakit
dapat teratasi, dengan kriteria hasil - Ganti peralatan perawatan per pasien sesuai protokal
: institusi
- Hasil USG abdomen tidak - Anjurkan pasien meminum antibiotic seperti yang
terdapat inflamasi pada area diresepkan
apendiks dan tidak beresiko - Ajarkan pasien dan anggota keluarga mengenai
tervorasi bagaimana menghindari infeksi
- Leukosit Normal - Anjurkan pengunjung ,tenaga kesehatan dan pasien
- TTV untuk mencuci tangan pada saat memasuki dan
TD Normal meninggalakan ruangan
HR Normal - Tingkatkan intake nutrisi yang tepat
RR Normal - Dorong intake cairan yang sesuai
Suhu Normal
HASIL PENELITIAN JURNAL
APENDISITIS
Isfia Aunillah RS 1710711031
Dwi Arini 1710711034
1. Judul Jurnal : Hubungan Jumlah Leukosit Pre Operasi dengan Kejadian
Komplikasi Pasca Operasi Apendektomi pada Pasien Apendisitis Perforasi di
RSUP Dr. M. Djamil Padang
Korespondensi : Annisa Amalina, Avit Suchitra, Deddy Saputra

Hasil penelitian :
 Diperoleh data bahwa usia penderita apendisitis peforasi terbanyak pada usia 1224 tahun yaitu
sebanyak 29 orang (55,8%), usia 25-44 tahun yaitu sebanyak 17 orang (32,7%), sedangkan untuk
usia 45-64 tahun sebanyak 5 orang (9,6%) dan untuk usia diatas 65 tahun hanya 1 orang (1,9%).
 Dari 52 kasus apendisitis perforasi sebagian besar berjenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 29 orang
(55,8%), sisanya 23 orang (44,2%) berjenis kelamin perempuan.
 Terdapat hampir setengah kasus apendisitis perforasi mengalami komplikasi pasca operasi yaitu
sebanyak 24 orang (46,2%), dan sebanyak 28 orang (53,8%) tidak mengalami komplikasi pasca
operasi.
 Pengelolaan terhadap 52 sampel, diperoleh hasil nilai terendah jumlah leukosit pada seluruh
sampel pasien apendisitis perforasi yaitu 6800 sel/µl dan nilai tertinggi adalah 43600 sel/µl.
Rerata jumlah leukosit pada sampel sebesar 18966,64 sel/µl dengan nilai standar deviasi (SD)
sebesar 8254,83 sel/µl.
 Pada penelitian ini didapatkan pada pasien apendisitis perforasi dengan leukosit >15.000
frekuensi paling banyak terjadinya komplikasi pasca operasi yaitu sebanyak 22 orang (66,66%)
sementara kejadian tidak adanya komplikasi pasca operasi paling banyak pada pasien apendisitis
perforasi dengan leukosit 500015.000 yaitu 17 orang (89,48%).
 Pada penelitian ini didapatkan bahwa hampir setengah kasus apendisitis perforasi mengalami
komplikasi pasca operasi yaitu sebanyak 24 orang (46,2%) dari jumlah sampel 52 orang. Hasil ini
hampir sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Puspasari di RSUD Undata Palu yang
mendapatkan hasil kasus komplikasi pada apendisitis perforasi sebanyak 35 orang (51,5 %).
Perbedaan ini dikarenakan jumlah sampel penelitian yang digunakan lebih banyak yaitu 68 orang
dengan desain penelitian cross sectional menggunakan metode penelitian yang sama denan
peneliti yaitu rekam medis.
2. Judul Jurnal :Perbedaan Penggunaan Drain Dan Tanpa Penggunaan Drain Intra
Abdomen Terhadap Lama Perawatan Pascaoperasi Laparotomi Apendisitis
Perforasi

Korespondensi : Rahmadi Indra, Ida Bagus B.S.A, UntungAlfianto


Hasil Penelitian :
 Karakteristik responden berdasarkan umur mayoritas responden berumur antara 40-60 tahun (45%).
Jenis kelamin pasien apendisitis perforasi mayoritas berjenis kelamin laki-laki (55%).
 Pasien pascaoperasi apendisitis perforasi baik yang dipasang drain maupun yang tidak dipasang drain
semuanya tidak mengalami komplikasi pada luka (100%).
 Penyembuhan luka pascaoperasi apendisitis perforasi baik yang dipasang drain maupun
yang tidak dipasang drain semuanya mengalami proses penyembuhan luka dengan baik
(100%).
 Lama rawat inap pasien operasi apendisitis perforasi tanpa dipasang drain lama rawat
inap terendah adalah 4 hari dan paling lama 6 hari, sedangkan yang dipasang drain
cenderung lebih lama, yaitu tercepat 5 hari dan terlama 8 hari. Jika dilihat dari nilai
meannya juga terlihat bahwa pasien yang dipasang drain lebih lama dibandingkan
dengan pasien yang tidak dipasang drain.
 Dilihat dari nilai rank mean-nya pada kelompok tanpa dipasang drain rerata peringkatnya 6,30
lebih rendah daripada rerata peringkat kelompok yang dipasang drain, yaitu 14,70, selisih 8,4.
Hasil uji analisis dengan nilai p= 0,001, sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa Ho ditolak, ada
perbedaan lama perawatan yang signifikan antara pasien pascaoperasi apendisitis perforasi
dengan yang dipasang drain dan yang tidak dipasang drain.
 Apendisitis perforasi berhubungan dengan tingkat mortalitas yang tinggi. Peradangan akut pada
apendiks memerlukan tindakan pembedahan segera untuk mencegah terjadinya komplikasi
berbahaya (Schwartz et al. 2014). Apendisitis yang tidak tertangani segera akan meningkatkan
risiko terjadinya perforasi dan pembentukan masa peri apendikular (Tzanakis, 2005; Vasser, 2012;
Riwanto et al., 2010; Brunner & Suddarth, 2014).
 Abses intra-abdominal merupakan komplikasi yang paling umum setelah apendisitis perforasi.
Drain intraabdomen banyak digunakan oleh ahli bedah di praktik klinis saat ini (Curran dan
Muenchow 1993; Lund dan Murphy 1994; Fishman et al. 2000). Namun demikian, drain
intraabdomen setelah operasi apendisitis dalam kasus apendisitis perforasi masih kontroversi
(Akoyun, 2012).
3. Judul jurnal : Faktor Risiko Kejadian Apendisitis Di Bagian Rawat
Inap Rumah Sakit Umum Anutapura Palu
Korespondensi : Adhar Arifuddin, Lusia Salmawati, Andi Prasetyo
Hasil penelitian :
 Risiko Usia Terhadap Kejadian Apendisitis
 Berdasarkan hasil analisis bivariat diperoleh data responden bahwa dari 54 responden yang
mengalami kejadian apendisitis, 31 responden (57,4 %) yang berusia 15-25 tahun dan 23
responden (42,6 %) berusia <15 tahun dan >25 tahun, sedangkan dari 108 responden yang
tidak apendisitis, terdapat 24 responden (22,2 %) yang berusia 15-25 tahun dan 84 responden
(77,8%) berusia <15 tahun dan >25 tahun. Berdasarkan hasil uji statistik didapat OR yaitu
4,717 pada CI 95% 2,331 - 9,545, artinya risiko usia 15-25 tahun yang menderita penyakit
apendisitis sebesar 4,717 kali lebih besar dibandingkan dengan yang berusia <15 tahun dan
>25 tahun dan bermakna secara signifikan.
 Risiko Jenis Kelamin Terhadap Kejadian Apendisitis
 Berdasarkan hasil analisis bivariat diperoleh data responden bahwa dari 54 responden yang
mengalami kejadian apendisitis, 20 responden (37,0 %) yang dengan jenis kelamin laki-laki
dan 34 responden (63,0 %) dengan jenis kelamin perempuan, sedangkan dari 108 responden
yang m tidak apendisitis, terdapat 51 responden (47,2 %) dengan jenis kelamin laki-laki dan 57
responden (52,8%) bdengan jenis kelamin perempuan. Berdasarkan hasil uji statistik didapat
OR yaitu 0,657 pada CI 95% 0,337 – 1,284, artinya risiko responden berjenis kelamin lakilaki
menderita penyakit apendisitis sebesar 0,657 kali lebih besar dibandingkan dengan responden
berjenis kelamin perempuan dan secara signifikan tidak bermakna.
 Risiko Pola Makan Terhadap Kejadian Apendisitis
 Berdasarkan hasil analisis bivariat pada tabel 5.11 diperoleh data responden bahwa dari 54
responden yang mengalami kejadian apendisitis, 38 responden (70,4 %) yang mempunyai pola
makan buruk dan 16 responden (29,6 %) mempunyai pola makan baik, sedangkan dari 108
responden yang m tidak apendisitis, terdapat 44 responden (40,7 %) yang mempunyai pola
makan buruk dan 64 responden (59,3%) mempunyai pola makan baik. Berdasarkan hasil uji
statistik didapat OR yaitu 3,455 pada CI 95% 1,717 – 6,949, artinya risiko responden yang
mempunyai pola makan buruk untuk menderita penyakit apendisitis sebesar 3,455 kali lebih
besar dibandingkan dengan responden yang mempunyai pola makan baik dan bermakna
secara signifikan.
Referensi
https://ejournal.unisba.ac.id/index.php/gmhc/article/viewFile/1 844/pdf
http://journals.ums.ac.id/index.php/biomedika/article/download/5852/3818
http://jurnal.untad.ac.id/jurnal/index.php/Preventif/article/download/8344/6624