Anda di halaman 1dari 25

a.

Pelecehan Seksual
b. Permekosaan
c. Dating Violence

1. ADRI ROSANDRI
2. ANDRE PANGESTU
3. CICI PRAMITA ARISKA
4. RIEO PRIYONO
Pelecehan seksual adalah segala tindakan seksual yang
tidak diinginkan, permintaan untuk melakukan perbuatan seksual,
tindakan lisan atau fisik atau isyarat yang bersifat seksual, atau
perilaku lain apapun yang bersifat seksual, yang membuat
seseorang merasa tersinggung, dipermalukan dan/atau
terintimidasi dimana reaksi seperti itu adalah masuk akal dalam
situasi dan kondisi yang ada, dan tindakan tersebut mengganggu
kerja, dijadikan persyaratan kerja atau menciptakan lingkungan
kerja yang mengintimidasi, bermusuhan atau tidak sopan.
Jenis-jenis Pelecehan Seksual

Pelecehan seksual memiliki berbagai jenis. Secara luas, terdapat lima


bentuk pelecehan seksual yaitu:

1. Pelecehan fisik termasuk sentuhan yang tidak diinginkan mengarah


ke perbuatan seksual seperti mencium, menepuk, mencubit,
melirik atau menatap penuh nafsu.
2. Pelecehan lisan termasuk ucapan verbal/ komentar yang tidak
diinginkan tentang kehidupan pribadi atau bagian tubuh atau
penampilan seseorang, lelucon dan komentar bernada seksual
3. Pelecehan isyarat termasuk bahasa tubuh dan atau gerakan tubuh
bernada seksual, kerlingan yang dilakukan berulang-ulang, isyarat
dengan jari, dan menjilat bibir
4. Pelecehan tertulis atau gambar termasuk menampilkan bahan
pornografi , gambar, screensaver atau poster seksual, atau
pelecehan lewat email dan moda komunikasi elektronik lainnya
5. Pelecehan psikologis/emosional terdiri atas permintaan-
permintaan dan ajakan-ajakan yang terus menerus dan tidak
diinginkan, ajakan kencan yang tidak diharapkan, penghinaan atau
celaan yang bersifat seksual
PELECEHAN SEKSUAL TERHADAP PEREMPUAN

Kaum perempuan menjadi jenis kelamin yang lebih banyak


menerima pelecehan seksual. Menurut sebuah studi yang
dilakukan oleh Organisasi Buruh Internasional (ILO),
"Pelecehan seksual berkaitan erat dengan kekuasaan dan
sering terjadi dalam masyarakat yang memperlakukan
perempuan sebagai objek seks dan warga kelas dua.“

Akhir 2017 lalu tercatat terdapat 65 kasus yang dilaporkan


ke Unit Pengaduan untuk Rujukan (UPR) Komnas
Perempuan. Yang menyedihkan, sebagian besar dilakukan
oleh orang yang dekat dengan korban seperti pacar,
mantan pacar, dan suami. (https://nasional.tempo.co)
Penyebab terjadinya pelecehan seksual
1. Korban mudah ditaklukkan. Pria menganggap bahwa wanita lebih lemah,
sehingga ditempatkan dalam posisi subordinasi yang harus dikuasai.
2. Hasrat seks yang tidak bisa disalurkan dengan pasangannya. Hal ini
menyebabkan pelaku menyalurkan nafsunya dengan melakukan pelecehan
seksual.
3. Mempunyai riwayat kekerasan seksual saat masih kecil. Adanya trauma ini
membuat pelaku ingin membalasnya ketika ia dewasa.
4. Pernah menyaksikan kekerasan seksual terhadap anggota keluarga lain saat
masih kecil.
5. Pelaku memiliki otoritas atas korban. Misalnya, pelaku merupakan atasan
korban. Terdapat suatu penelitian yang menghubungkan seks dengan
kekuasaan, sehingga pelaku merasa lebih mudah untuk melakukan
dominasi
6. Pelaku berada dalam keluarga atau lingkungan dengan ideologi patriarki
yang kuat.
7. Ketergantungan obat-obatan terlarang dan minuman keras.
8. Memiliki fantasi seksual yang mendukung adanya kekerasan seksual.
9. Sering membaca atau menonton konten-konten porno.
10. Tidak dekat secara emosional dengan keluarga.
11. Faktor kemiskinan.
DAMPAK PELECEHAN SEKSUAL TERHADAP PEREMPUAN

1. Korban kekerasan seksual mengalami banyak


tekanan
2. Mengalami perubahan hidup yang ekstrem
3. Trauma berat bisa berpotensi bunuh diri
4. Para korban akan merasa ketakutan, hancur
dan bahkan mereka sangat enggan untuk
memberitahu orang tua atau orang terdekat.
5. Gangguan makan yang paling umum bagi
para korban adalah anoreksia dan bulimia
Tempat Pelecehan Seksual

Pelecehan seksual dapat


berlangsung di mana saja - di
tempat kerja, di universitas, di
jalan, di toko, di sebuah klub, saat
menggunakan angkutan umum, di
bandara, bahkan di rumah. Pada
dasarnya, pelecehan seksual
adalah perhatian seksual yang
tidak diinginkan yang dapat terjadi
di tempat umum, dan juga di
ruang-ruang pribadi.
Undang-undang Pelecehan Seksual
Adapun dalam KUHP, pasal- pasal yang mengatur tentang hukuman bagi pelaku
pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur terdapat dalam pasal 287, dan 292
KUHP:
1. Pasal 287 ayat (1) KUHP berbunyi:
“Barang siapa bersetubuh dengan seorang perempuan di luar perkawinan, padahal
diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya bahwa umurnya belum lima belas tahun,
atau umurnya tidak jelas, bahwa ia belum waktunya untuk dikawin, diancam dengan
pidana penjara paling lama sembilan tahun”.
Tapi apabila perbuatan persetubuhan itu menimbulkan luka-luka atau kematian maka
bagi sipelaku dijatuhkan hukuman penjara lima belas tahun, sebagai mana yang telah
ditetapakan dalam pasal 291 KUHP.
2. Pasal 292 KUHP
“Orang dewasa yang melakukan perbuatan cabul dengan orang lain sesama kelamin,
yang diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya belum dewasa, diancam dengan
pidana penjara paling lama lima tahun.”
UPAYA PENANGANAN YANG DILAKUKAN
1. Komunikasi : dilakukan dengan sosialisasi tentang pelecehan seksual
melalui LKS Bipartit, LKS Tripartit dan berbagai media cetak dan
elektronik.
2. Edukasi : dilakukan melalui program orientasi dan pengenalan kepada
staff baru, ceramah agama, atau kegiatan-kegiatan tertentu seperti yang
terprogram.
3. Pelatihan : menyediakan pelatihan khusus di tingkat penyelia dan
managerial dan pelatih untuk mengenali masalah-masalah pelecehan
dan pencegahan, pelatihan bagi Tim Penanggulangan Pelecahan Seksual.
4. Pemerintah baik pusat maupun pemerintah daerah memastikan adanya
petunjuk tentang pedoman ini dan contoh-contoh kebijakan penanganan
pelecehan seksual di perusahaan yang dapat diakses oleh para pemberi
kerja. Sementara itu, pemberi kerja perlu menyertakan informasi
tentang pelecehan seksual dalam program-program orientasi,
pendidikan dan pelatihan bagi pekerja/buruh. Sedangkan Serikat Pekerja
harus menyampaikan informasi tentang pelecehan seksual dalam
program-program pendidikan dan latihan yang dimilik bagi anggotanya.
INTERVENSI PEKERJAAN SOSIAL YANG MUNGKIN DILAKUKAN

1. Pekerja Sosial dapat mendorong perusahaan/ lembaga


untuk membangun komitmen pelaksanaan pencegahan
pelecehan Seksual di lingkungan kerja, sekolah, masyarakat
termasuk pemberian sanksi dan tindakan disiplin.
2. Pekerja sosial dapat membantu korban pelecehan sosial
agar kembali pulih.
3. Pekerja sosial dapat penyebar luasan informasi mengenai
kebijakan dan mekanisme pencegahan pelecehan seksual.
4. Menyediakan suatu program untuk pekerja/buruh dan
penyelia agar dapat diberi edukasi mengenai pelecehan
seksual.
Pemerkosaan

Pengertian Pemerkosaan adalah penetrasi alat kelamin


wanita oleh penis dengan paksaan, baik oleh satumaupun
oleh beberapa orang pria atau dengan ancaman. Pekosaan
yang dilakukan dengankekerasan dan sepenuhnya tidak
dikehendaki secara sadar oleh korban jarang
terjadiPerkosaan adalah bentuk hubungan seksual yang
dilangsungkan bukan berdasarkan kehendakbersama.
Karena bukan berdasarkan kehendak bersama, hubungan
seksual didahului olehancaman dan kekerasan fisik atau
dilakukan terhadap korban yang tidak berdaya, di
bawahumur, atau yang mengalami keterbelakangan
mental.
JENIS-JENIS PERKOSAAN
1. Seductive rape. Pemerkosaan yang terjadi karena
pelaku merasa terangsang nafsu birahi, dan ini bersifat
sangat subyektif.
2. Sadistic rape. Pemerkosaan yang dilakukan secara
sadis.
3. Anger rape. Perkosaan yang dilakukan sebagai
ungkapan kemarahan pelaku. Perkosaan jenis ini
biasanya disertai tindakan brutal secara fisik.
4. Domination rape. Dalam hal ini pelaku ingin
menunjukkan dominasinya pada korban.
5. Exploitation rape. Perkosaan jenis ini dapat terjadi
karena ketergantungan korban pada pelaku, baik secara
ekonomis maupun sosial.
Dampak Perkosaan
1. Dampak fisik
Perkosaan yang dilakukan dengan menggunakan kekerasan fisik jelas akan
menimbulkan dampak secara fisik pada korban. Penyakit menular seksual (PMS)
Penyakit menular seksual, seperti clamidia, herpes dan hepatitis, bisa saja dialami
oleh korban pemerkosaan. Penting untuk segera mendapatkan pertolongan medis
dan pemeriksaan pasca mengalami pemerkosaan, untuk mencegah terjangkitnya
penyakit menular seksual, termasuk HIV.
2. Dampak psikologis
Korban merasa memiliki beban secara psikologis berhubungan dengan peristiwa
tersebut. Ia tidak konsentrasi dalam belajar, merasa malu dengan teman-temannya,
dan memiliki perasaan takut jika tidak ada laki-laki yang mau menerimanya. Korban
merasa sudah tidak berharga. Ia sempat merasa putus asa dan ingin bunuh diri.
3. Dampak sosial-psikologis
Pemikiran dan mitos-mitos mengenai perkosaan menjadi stressor
tersendiri bagi korban. Ketakutan korban mengenai penerimaan dari masyarakat
menjadi salah satu beban bagi korban. Ketakutan ini meliputi penerimaan dari
masyarakat sekitar, penerimaan dari pihak sekolah, serta hubungan korban dengan
laki-laki secara umum maupun secara khusus.
Undang-undang Pemerkosaan
a. Pasal 285 KUHP
Berbunyi: Barangsiapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa
seseorang perempuan bersetubuh dengan dia di luar perkawinan, diancam karena
melakukan perkosaan, dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun.
b. Pasal 286 KUHP
Berbunyi: Barangsiapa bersetubuh dengan seorang perempuan di luar perkawinan,
padahal diketahui perempuan itu dalam keadaan pingsan atau tidak berdaya, diancam
dengan pidana penjara paling lama Sembilan tahun.

c. Pasal 287 KUHP


Berbunyi:
Barangsiapa bersetubuh dengan seorang perempuan di luar perkawinan, yang
diketahui atau sepatutnya harus diduganya, bahwa umurnya belum lima belas
tahun atau jika umurnya tidak jelas, bahwa belum waktunya untuk dikawini,
diancam pidana penjara paling lama Sembilan tahun.
Penuntutan hanya berdasarkan pengaduan, kecuali jika perempuannya belum
sampai dua belas tahun atau jika salah satu hal berdasarkan pasal 291 dan pasal
294.
Undang-undang Pemerkosaan

d. Pasal 288 KUHP


Berbunyi:
Barangsiapa dalam perkawinan bersetubuh dengan seorang
perempuan yang diketahui nya atau sepatutnya harus
diduganya bahwa yang bersangkutan belum waktunya untuk
dikawini, apabila perbuatan itu mengakibatkan luka-luka,
diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun.
Jika perbuatannya mengakibatkan luka berat, dijatuhkan
pidana penjara paling lama delapan tahun.
Jika mengakibatkan mati, dijatuhi pidana penjara paling lama
dua belas tahun.
UPAYA PENANGANAN YANG DILAKUKAN
1. Biasakan berdoa untuk memohon perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
2. Berbusana sopan. Berpakaian menggoda acapkali menjadi magnet dan
membahayakan. Sebaiknya dihindari.
3. Sebaiknya tidak bepergian sendiri. Apalagi jika lokasi yang dituju cukup jauh dan
malam hari.
4. Jika terpaksa pergi sendiri, sebaiknya hindari tempat yang sepi dan rawan.
5. Jangan mudah tergoda dengan rayuan dan iming-iming orang yang baru di kenal.
6. Selektif dan hati-hati terhadap orang yang meminta bantuan. Seringkali niat baik
kita justru dimanfaatkan orang lain. Tidak sedikit orang yang berpura-pura
meminta pertolongan, tetapi ternyata justru mengarahkan korban ke tempat
yang sepi.
7. Ada baiknya juga bagi para perempuan untuk belajar Bela diri. Bela diri bisa
menjadi pelindung yang cukup bisa diandalkan kaum perempuan disaat-saat
darurat.
8. Jikapun tidak dapat Bela diri, kaum perempuan bisa menyimpan alat-alat
perlindungan diri seperti jarum pentul, peniti, bubuk merica / cabai atau alat
kejut.
9. Sebaiknya jangan terlalu sering memainkan gadget dan memakai earphone.
Karena akan membuat kita kurang peka terhadap kondisi lingkungan. Perhatian
terhadap gadget akan membuat kita kurang peka jika ada orang yang
menunjukan gelagat kurang baik dan mencurigakan.
INTERVENSI PEKERJAAN SOSIAL YANG MUNGKIN DILAKUKAN

1. Seorang pekerja sosial harus bisa menciptakan kondisi


masyarakat yang baik dan teratur dan menciptakan
kondisi masyarakat yang kondusif.
2. Negara telah memiliki aturan mengenai pekerja sosial,
yang mengatur tentang standarisisasi pekerja sosial
dengan memiliki perspektif terhadap korban, namun
pada kenyataanya banyak pekerja sosial yang tidak
memiliki perspektif terhadap korban.
3. kehadiran Pekerja sosial seharusnya dapat memberikan
rasa nyaman bagi korban untuk memudahkan proses
penyembuhan bagi korban agar rasa trauma, depresi,
kehilangan kepercayaan diri dapat terpulihkan kembali.
Dating Violence

Dating Violence adalah kekerasan yang yang dilakukan oleh orang yang berada
dalam hubungan yang romantis atau berpacaran. Hubungan ini bisa terjadi
antar sesama gender dan beda gender, tinggal bersama ataupun tidak.

Korban Dating Violence


Dating violence banyak terjadi di antara usia remaja, yang paling banyak adalah
wanita. Setengah dari 500.000 kasus perkosaan dan kekerasan seksual dilaporkan
polisi oleh para wanita. Kekerasan dalam berkencan ini bisa dimulai dari usia 11
tahun dan dibawa hingga 20 tahun. Wanita dalam usia 16-24 tahun mengalami
tingkat tertinggi dalam hubungan kekerasan ini.
Bentuk – Bentuk Kekerasan dalam Berpacaran.

Kekerasan dalam hubungan berpacaran bisa meliputi fisik, pelecehan seksual maupun
emosional (kejiwaan). Bentuk-bentuk kekerasan mencakup banyak perilaku seperti:
a. Kekerasan Fisik: mendorong, memukul, menendang, menjambak rambut,
mencubit, menyambar dan menampar, intimidasi fisik (melempar benda dan
penggunaan senjata), dan membawa ke tempat yang membahayakan
keselamatan korban.
b. Pelecehan Seksual: diinginkan menyentuh, pemaksaan dan ancaman dalam
seksual, tekanan dalam berhubungan seksual, dan perkosaan.
c. Kekerasan Emosional: Ejekan, penghinaan, rumor penghinaan (gossip buruk),
tuduhan, ancaman, posesif, bersikap dingin (cuek), isolasi dari teman dan
keluarga, curiga berlebihan, selalu menyalahkan pacar, mengekang, melarang atau
membatasi aktifitas kita, melarang kita untuk menegur orang lain
d. Kekerasan secara ekonomi: peminjaman uang dan/atau barang yang pada ketika
ingin ditagih maka si peminjam beralasan yang macam-macam, pengendalian
terhadap pengeluaran dari salah satu pihak, misal: selalu minta ditraktir dan
belanja barang yang mewah, ketika tidak dituruti kemauannya maka akan
berimbas kepada kekerasan yang lain, bisa fisik maupun psikis.
Dampak Dating Violence

Berbagai dampak yang ditimbulkan dari kekerasan dalam pacaran dintaranya


yaitu :
1. terjadi gangguan kesehatan dan psikis perempuan yang menjadi korban.
Perempuan korban kekerasan fisik atau seksual dalam berpacaran beresiko
mengalami keluhan kesehatan 1,5 kali lebih banyak.
2. Dampak fisik bisa berupa memar, patah tulang, dan yang paling berbahaya
dapat menyebabkan kecacatan permanen,.
3. Dampak psikologis berupa sakit hati, jatuhnya harga diri, malu dan merasa
hina, menyalahkan diri sendiri, ketakutan akan bayang-bayang kekerasan,
bingung, cemas, tidak mempercayai diri sendiri dan orang lain, merasa
bersalah, memiliki tingkat depresi yang lebih tinggi hingga munculnya
keinginan untuk bunuh diri.
Undang-Undang Dating Violence
Hukum Positif terkait Perlindungan Anak
Hukum Positif terkait Perlindungan Anak
Hukum Positif terkait Perlindungan Anak
UPAYA PENANGANAN YANG DILAKUKAN

1. Jika Anda seorang remaja yang terlibat dalam hubungan kekerasan, Anda
perlu ingat bahwa tidak ada yang pantas untuk disalahgunakan atau
terancam.
2. Ingat Anda tidak dapat terus diam dan berharap kekerasan akan hilang
dan pasangan anda akan berubah. Dengan berjalannya waktu, kekerasan
akan semakin parah. Anda harus mengurus diri sendiri.
3. Berbicara dengan orang dewasa yang dipercaya atau mencari bantuan
atau lembaga yang melayani korban kekerasan.
4. Untuk mencegah dan menangani berbagai kasus kekerasan yang dialami
perempuan, pemerintah (dalam hal ini Kementerian PPPA) telah
melakukan berbagai upaya diantaranya dengan menyusun dan
menetapkan berbagai peraturan perundang-undangan,
dan mempertegas misi untuk mempersempit peluang terjadinya
kekerasan melalui pencanangan “Three Ends” yaitu : Akhiri kekerasan
terhadap perempuan dan anak; Akhiri perdagangan orang; dan Akhiri
kesenjangan ekonomi bagi perempuan.
INTERVENSI PEKERJAAN SOSIAL YANG MUNGKIN DILAKUKAN

1. Upaya penanganan bagi perempuan korban kekerasan dalam pacaran dapat


dilakukan dengan memberikan dukungan serta menyakinkan korban untuk berani
berkata tidak serta menentang segala bentuk tindak kekerasan yang dilakukan oleh
pasangannya, membantu untuk menumbuhkan rasa percaya diri. Untuk korban
yang mengalami trauma dibutuhkan penanganan khusus oleh psikiater atau
psikolog atau melalui pendampingan korban untuk tahap awal.
2. Upaya penanganan bagi pelaku kekerasan yaitu menelusuri apa yang menyebabkan
pelaku melakukan kekerasan, apakah ada peristiwa buruk atau trauma sehingga
lebih memilih menyelesaikan suatu konflik dan hal lainnya dengan kekerasan. Selain
itu memberikan konseling ataupun psikoterapi dari psikolog atau psikiater, kepada
pelaku agar sadar akan bahaya dampak perbuatannya, baik bagi dirinya sendiri
ataupun bagi pasangannya.