Anda di halaman 1dari 41

ASPEK HUKUM

PENERTIBAN PEMAKAIAN
TENAGA LISTRIK (P2TL)

PLN UDIKLAT PANDAAN, 28 FEBRUARI 2017

Simple, Inspiring, Performance, Phenomenal


Simple, Inspiring, Performance, Phenomenal
DASAR HUKUM (1)
• Undang-undang No. 30 Tahun 2009 tentang KETENAGALISTRIKAN.
• Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Republik Indonesia.
• Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.
• Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No. 33 Tahun 2014
tentang KETENTUAN PELAKSANAAN TARIF TENAGA LISTRIK YANG
DISEDIAKAN OLEH PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT PERUSAHAAN
LISTRIK NEGARA.
• Keputusan Direksi PT PLN (Persero) No. 088-Z.P/DIR/2016 tanggal 06 Juni
2016 tentang PENERTIBAN PEMAKAIAN TENAGA LISTRIK yang disahkan
oleh Keputusan Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Keenterian ESDM
Republik Indonesia No. 1541/20/DLB.4/2016 tanggal 30 Juni 2016.
• Keputusan Direksi PT PLN (Persero) No. 163-1.K/DIR/2012 tanggal 09 April
2012 tentang PENYESUAIAN REKENING PEMAKAIAN TENAGA LISTRIK
(PRPTL).

Simple, Inspiring, Performance, Phenomenal


DASAR HUKUM (2)
• Edaran Direksi PT PLN (Persero) No. 005.E/DIR/2013 tanggal 31 Mei 2013
tentang PEDOMAN PELAKSANAAN PEMBORONGAN PEKERJAAN
PEMAKAIAN TENAGA LISTRIK.
• Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia
Nomor 19 Tahun 2012 Tentang Syarat-syarat Penyerahan Sebagian
Pelaksanaan Pekerjaan Kepada Perusahaan Lain.
• Keputusan Direksi PT PLN (Persero) No. : 500.K/DIR/2013 Tentang
Penyerahan Sebagian Pelaksanaan Pekerjaan kepada Perusahaan lain di
Lingkungan PT PLN (Persero).
• Keputusan Direksi PT PLN (Persero) No. : 050.K/DIR/2014 Tentang
Perubahan atas Keputusan Direksi PT PLN (Persero) Nomor
500.K/DIR/2013 TentangPenyerahan Sebagian Pelaksanaan Pekerjaan
kepada Perusahaan lain di Lingkungan PT PLN (Persero).
• Keputusan Pengurus Asosiasi Perusahaan Pengusaha Listrik Nasional
Nomor : 01/X/KEP/APPELIN/2013 Tentang Alur Proses Pelasanaan
Pekerjaan. Simple, Inspiring, Performance, Phenomenal
UU NO. 30 TH. 2009

Pasal 51 ayat (3) :


Setiap orang yang menggunakan tenaga listrik bukan haknya
secara melawan hukum dipidana dengan pidana penjara
paling lama (7) tahun dan denda paling banyak Rp
2.500.000.000,00 (dua milyar lima ratus juta rupiah).

Simple, Inspiring, Performance, Phenomenal


PERMEN ESDM NO. 33 TH. 2014
Pasal 13 :
(1) Perusahaan Perseroan (Persero) PT Perusahaan Listrik Negara melaksanakan
Penertiban Pemakaian Tenaga Listrik (P2TL) terhadap konsumen maupun bukan
konsumen yang melakukan pemakaian tenaga listrik secara tidak sah.
(2) Pemakaian tenaga listrik secara tidak sah berupa pelanggaran pemakaian tenaga
listrik, terdiri atas :
a. Pelanggaran Golongan I (P I) merupakan pelanggaran yang mempengaruhi
batas daya tetapi tidak mempengaruhi pengukuran energi;
b. Pelanggaran Golongan II (P II) merupakan pelanggaran yang mempengaruhi
pengukuran energi tetapi tidak mempengaruhi batas daya;
c. Pelanggaran Golongan III (P III) merupakan pelanggaran yang mempengaruhi
batas daya dan mempengaruhi pengukuran energi; dan
d. Pelanggaran Golongan IV (P IV) merupakan pelanggaran yang dilakukan oleh
bukan konsumen.

Simple, Inspiring, Performance, Phenomenal


PERMEN ESDM NO. 33 TH. 2014

Pasal 14 :

Konsumen dan bukan konsumen yang melakukan pelanggaran pemakalan


tenaga listrik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 dikenakan sanksi
berupa tagihan susulan, pemutusan sementara dan/atau pembongkaran
rampung.

Pasal 16 :

Ketentuan lebih lanjut mengenai P2TL dan Tagihan Susulan ditetapkan oleh
Direksi Perusahaan Perseroan (Persero) PT Perusahaan Listrik Negara dan
disahkan oleh Direktur Jenderal.

Simple, Inspiring, Performance, Phenomenal


MASUK KE TEMPAT
UMUM/PERORANGGAN
UU NO. 30 TH 2009 Pasal 27 (1) dan (2) :
Untuk kepentingan umum pemegang izin usaha penyediaan tenaga listrik dalam menyediakan
tenaga listrik berhak untuk masuk ke tempat umum atau perorangan dan menggunakannya
untuk sementara waktu dan harus berdasarkan peraturan perundang-undangan.

Pasal 167 KUHP (MASUK PAKSA) :

(1) Barangsiapa dengan melawan hukum masuk dengan paksa ke dalam, atau dengan melawan
hukum ada di dalam rumah atau tempat yang tertutup atau pekarangan yang tertutup, yang
dipakai oleh orang lain dan tidak dengan segera pergi dari tempat itu, atas permintaan orang
yang berhak atau permintaan atas nama yang berhak, dipidana dengan Pidana Penjara selama-
lamanya 9 bulan atau dengan sebanyak-banyaknya Rp.4.500,-.

(2) Barang siapa masuk dengan merusak atau memanjat, dengan menggunakan anak kunci palsu,
perintah palsu atau pakaian pejabat palsu, atau barang siapa tidak setahu yang berhak lebih
dahulu serta bukan karena kekhilafan masuk dan kedapatan disitu pada waktu malam, dianggap
memaksa masuk.

(3) Jika mengeluarkan ancaman atau menggunakan sarana yang dapat menakutkan orang, diancam
dengan pidana penjara paling lama 1 tahun 4 bulan.

(4) Pidana tersebut dalam ayat 1 dan 3 dapat ditambah sepertiga jika yang melakukan kejahatan 2
orang atau lebih dengan bersekutu.

Simple, Inspiring, Performance, Phenomenal


PENGHINAAN (PASAL 310 KUHP)

(1) Barang siapa sengaja menyerang kehormatan atau nama baik


seseorang dengan menuduhkan sesuatu hal, yang maksudnya terang
supaya hal itu diketahui umum, diancam karena pencemaran dengan
pidana penjara paling lama 9 bulan atau pidana denda paling banyak
Rp.4.500,-.
(2) Jika hal itu dilakukan dengan tulisan atau gambaran yang disiarkan,
dipertunjukkan atau ditempelkan di muka umum, maka diancam
karena pencemaran tertulis dengan pidana penjara paling lama 1
tahun 4 bulan atau pidana denda paling banyak Rp.4.500,-.
(3) Tidak merupakan pencemaran atau pencemaran tertulis, jika
perbuatan jelas dilakukan demi kepentingan umum atau karena
terpaksa untuk membela diri.

Simple, Inspiring, Performance, Phenomenal


PERBUATAN TIDAK MENYENANGKAN
(PASAL 335 KUHP)
(1) Diancam dengan pidana penjara paling lama 1 tahun atau denda paling banyak
Rp.4.500,- :
1. barang siapa secara melawan hukum memaksa orang lain supaya melakukan,
tidak melakukan atau membiarkan sesuatu, dengan memakai kekerasan,
sesuatu perbuatan lain maupun perlakuan yang tak menyenangkan atau
dengan memakai ancaman kekerasan, sesuatu perbuatalan lain maupun
perlakuan yang tak menyenangkan, baik terhadap orang itu sendiri maupun
orang lain;
2. barang siapa memaksa orang lain supaya melakukan, tidak melakukan atau
membiarkan sesuatu dengan ancaman pencemaran atau pencemaran tertulis.
(2) Dalam hal sebagaimana dirumuskan dalam butir 2, kejahatan hanya dituntut atas
pengaduan orang yang terkena.

Simple, Inspiring, Performance, Phenomenal


P2TL = PENEGAKAN HUKUM

1. Tindakan PLN dalam pelaksanan P2TL adalah TINDAKAN HUKUM


PUBLIK dalam rangka Penegakan Hukum berdasarkan peraturan
perundang-undangan.

2. Tindakan PLN berupa pengenaan Tagihan Susulan dan Pemutusan


Sementara / Rampung dalam P2TL adalah melaksanakan ketentuan
peraturan perundangan-undangan sehingga TIDAK HARUS MENUNGGU
PUTUSAN PENGADILAN untuk pelaksanaannya.

Simple, Inspiring, Performance, Phenomenal


PERLINDUNGAN HUKUM
UNTUK PETUGAS
• Pasal 48 KUHP :
“Barangsiapa melakukan perbuatan karena pengaruh daya paksa, tidak dipidana.”

• Pasal 49 ayat (1) KUHP :


“Tidak dipidana, barangsiapa melakukan perbuatan pembelaan terpaksa untuk diri
sendiri maupun untuk orang lain, kehormatan kesusilaan atau harta benda sendiri
maupun orang lain, karena ada serangan atau ancaman serangan yang sangat dekat
pada saat itu yang melawan hukum.”

• Pasal 50 KUHP :
“Barangsiapa melakukan perbuatan untuk melaksanakan ketentuan undang-undang,
tidak dipidana.”

• Pasal 51 ayat (1) KUHP


“Barangsiapa melakukan perbuatan untuk melaksanakan perintah jabatan yang
diberikan oleh penguasa yang berwenang, tidak dipidana.”

DENGAN KETENTUAN : P2TL TELAH DILAKSANAKAN SESUAI KETENTUAN (SOP) DAN TIDAK
MELANGGAR NORMA (KESUSILAAN, KESOPANAN, AGAMA DAN HUKUM).

Simple, Inspiring, Performance, Phenomenal


ALAT BUKTI

Simple, Inspiring, Performance, Phenomenal


ALAT BUKTI PIDANA

1. Keterangan saksi : petugas P2TL, polisi, dan lain-lain.

2. Keterangan ahli : saksi ahli independen (institusi / akademisi dan lain-


lain).

3. Surat : SPJBTL, surat tugas, Berita Acara Pemeriksaan P2TL / Berita


Acara Pengambilan Barang Bukti / Berita Acara Pemeriksaan di
Laboratorium, DIL, dan lain-lain.

4. Petunjuk.

5. Keterangan terdakwa.

Simple, Inspiring, Performance, Phenomenal


ALAT BUKTI PERDATA

1. Surat / tulisan : SPJBTL, surat tugas, Berita Acara Pemeriksaan P2TL / Berita
Acara Pengambilan Barang Bukti / Berita Acara Pemeriksaan di Laboratorium,
DIL, dan lain-lain.

2. Saksi : petugas P2TL, polisi, saksi ahli yang independen, dan lain-lain.

3. Persangkaan : penyesuaian antara fakta di lapangan dan alat bukti yang


ditemukan.

4. Pengakuan : pengakuan pelanggan / penghuni, dan lain-lain.

5. Sumpah.

Simple, Inspiring, Performance, Phenomenal


ALAT BUKTI PADA
PERADILAN TATA USAHA NEGARA

1. Surat / tulisan : SPJBTL, surat tugas, Berita Acara Pemeriksaan P2TL / Berita
Acara Pengambilan Barang Bukti / Berita Acara Pemeriksaan di Laboratorium,
DIL, dan lain-lain.

2. Keterangan ahli : saksi ahli independen (institusi / akademisi dan lain-lain).

3. Keterangan saksi : petugas P2TL, polisi, dan lain-lain.

4. Pengakuan para pihak.

5. Pengetahuan hakim.

Simple, Inspiring, Performance, Phenomenal


ALAT BUKTI
PADA SENGKETA KONSUMEN

1. Barang /Jasa.
2. Keterangan para pihak yang bersengketa.
3. Keterangan saksi/saksi ahli : petugas P2TL, polisi, saksi ahli yang
independen, dan lain-lain.
4. Surat atau dokumen : SPJBTL, surat tugas, Berita Acara Pemeriksaan
P2TL / Berita Acara Pengambilan Barang Bukti / Berita Acara
Pemeriksaan di Laboratorium, DIL, dan lain-lain.
5. Bukti lain yang mendukung.

Simple, Inspiring, Performance, Phenomenal


UU NO. 8 TH. 1999
TENTANG
PERLINDUNGAN KONSUMEN

Simple, Inspiring, Performance, Phenomenal


HAK KONSUMEN (Pasal 4)
1. Hak atas kenyamanan, keamanan dan keselamatan.
2. Hak untuk memilih, serta mendapatkan barang atau jasa yang sesuai nilai tukar dan
kondisi serta jaminan yang telah dijanjikan.
3. Hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang
dan/atau jasa.
4. Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang
digunakan.
5. Hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan, dan upaya penyelesaian
sengketa perlindungan konsumen secara patut.
6. Hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen.
7. Hak unduk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif.
8. Hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian, apabila
barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak
sebagaimana mestinya.
9. Hakhak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundangundangan lainnya.

Simple, Inspiring, Performance, Phenomenal


KEWAJIBAN KONSUMEN (Pasal 5)

1. membaca atau mengikuti petunjuk informasi dan prosedur pemakaian atau


pemanfaatan barang dan/atau jasa, demi keamanan dan keselamatan;
2. beritikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang dan/atau jasa;
3. membayar sesuai dengan nilai tukar yang disepakati;
4. mengikuti upaya penyelesaian hukum sengketa perlindungan konsumen secara
patut.

Simple, Inspiring, Performance, Phenomenal


HAK PELAKU USAHA (Pasal 6)

1. hak untuk menerima pembayaran yang sesuai dengan kesepakatan mengenai


kondisi dan nilai tukar barang dan/atau jasa yang diperdagangkan;
2. hak untuk mendapat perlindungan hukum dari tindakan konsumen yang
beritikad tidak baik;
3. hak untuk melakukan pembelaan diri sepatutnya di dalam penyelesaian hukum
sengketa konsumen;
4. hak untuk rehabilitasi nama baik apabila terbukti secara hukum bahwa kerugian
konsumen tidak diakibatkan oleh barang dan/atau jasa yang diperdagangkan;
5. hakhak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundangundangan lainnya.

Simple, Inspiring, Performance, Phenomenal


KEWAJIBAN PELAKU USAHA (Pasal 7)
1. Beritikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya;
2. Memberikan informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan
barang dan/atau jasa serta memberi penjelasan penggunaan, perbaikan dan
pemeliharaan;
3. Memperlakukan atau melayani konsumen secara benar dan jujur serta
tidak diskriminatif;
4. Menjamin mutu barang dan/atau jasa yang diproduksi dan/atau diperdagangkan
berdasarkan ketentuan standar mutu barang dan/atau jasa yang berlaku;
5. Memberi kesempatan kepada konsumen untuk menguji, dan/atau mencoba
barang dan/atau jasa tertentu serta memberi jaminan dan/atau garansi atas
barang yang dibuat dan/atau diperdagangkan;
6. Memberi kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian atas kerugian akibat
penggunaan, pemakaian, dan pemanfaatan barang dan/atau jasa yang
diperdagangkan;
7. Memberi kompensasi , ganti rugi dan/atau penggantian apabila barang dan/atau
jasa yang diterima atau dimanfaatkan tidak sesuai dengan perjanjian.

Simple, Inspiring, Performance, Phenomenal


SENGKETA KASUS P2TL

PENGADILAN NEGERI PENGADILAN TATA USAHA NEGARA

PERDATA PIDANA
Pasal 51 ayat (3) UU NO. 30 TH KEPUTUSAN PENETAPAN
PERBUATAN
2009 TAGIHAN SUSULAN
MELAWAN HUKUM / PEMUTUSAN TENAGA
(pencurian tenaga listrik) /
(1365 KUHPdt) Pasal 362 KUHPidana (pencurian) LISTRIK DIANGGAP
atau SEBAGAI
ATAU
Pasal 167 KUHP (masuk paksa) KEPUTUSAN
WANPRESTASI atau TATA USAHA NEGARA
Pasal 310 KUHP (penghinaan)
DITUNTUT GANTI atau
Pasal 335 KUHP PEMBATALAN KEPUTUSAN
RUGI
(perbuatan tidak menyenangkan)

22
Simple, Inspiring, Performance, Phenomenal
ASPEK
HUKUM PIDANA

23 Simple, Inspiring, Performance, Phenomenal


PERMENTAMBEN No. 02.P/451/MPE/1991, Pasal 2 ayat (1) :

g. Menetapkan tindakan penertiban atas pemakaian


tenaga listrik secara tidak sah dan melaporkannya
kepada instansi yang berwajib sebagai tindak pidana
pencurian.

KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA (KUHP), Pasal 362 :

“Barangsiapa mengambil barang, yang sama sekali atau


sebagian kepunyaan orang lain, dengan maksud untuk
memiliki barang itu dengan melawan hukum dipidana
karena mencuri selama-lamanya 5 tahun atau denda
sebanyak-banyaknya Rp.9.000,-.
24 Simple, Inspiring, Performance, Phenomenal
UU NO. 30 TH 2009 :
Pasal 27 ayat (1) Untuk Kepent.Umum PIUPTL dalam menyediakan tenaga listrik
sbgm dimaksud Pasal 10 ayat (1) Kit, Trans, Dist dan Penjualan berhak untuk :
a……
b……
c……
d. masuk ke tempat umum atau perorangan dan menggunakannya untuk
sementara waktu;
e……

Pasal 167 KUHP

(1) Barangsiapa dengan melawan hukum masuk dengan paksa ke dalam, atau
dengan melawan hukum ada di dalam rumah atau tempat yang tertutup atau
pekarangan yang tertutup, yang dipakai oleh orang lain dan tidak dengan
segera pergi dari tempat itu, atas permintaan orang yang berhak atau
permintaan atas nama yang berhak, dipidana dengan Pidana Penjara selama-
lamanya 9 (sembilan) bulan atau dengan sebanyak-banyaknya Rp.4.500,-
(empat ribu lima ratus rupiah).

25 Simple, Inspiring, Performance, Phenomenal


Pasal 167 Kitab Undang - undang Hukum Pidana
(lanjutan)

(2) Barang siapa masuk dengan merusak atau memanjat,


dengan menggunakan anak kunci palsu, perintah palsu atau
pakaian pejabat palsu, atau barang siapa tidak setahu yang
berhak lebih dahulu serta bukan karena kekhilafan masuk dan
kedapatan disitu pada waktu malam, dianggap memaksa
masuk.
(3) Jika mengeluarkan ancaman atau menggunakan sarana yang
dapat menakutkan orang, diancam dengan pidana penjara
paling lama 1 tahun 4 bulan.
(4) Pidana tersebut dalam ayat 1 dan 3 dapat ditambah
sepertiga jika yang melakukan kejahatan 2 orang atau lebih
dengan bersekutu.

26 Simple, Inspiring, Performance, Phenomenal


PERDATA

Simple, Inspiring, Performance, Phenomenal


HUBUNGAN HUKUM
Hubungan antara dua subjek hukum atau lebih dimana hak dan
kewajiban di satu pihak berhadapan dengan hak dan kewajiban
di pihak lain.

Hubungan Hukum PLN dengan Pelanggan :


JUAL BELI TENAGA LISTRIK

Pasal 1338 ayat (1) KUHPerdata :

Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku


sebagai UU bagi mereka yang membuatnya.
28 Simple, Inspiring, Performance, Phenomenal
Surat Perjanjian Jual Beli Tenaga
Listrik
• Harus ditandatangani oleh pihak
konsumen atau kuasanya dengan
Surat Kuasa Khusus dan juga Pejabat
PLN yang berwenang untuk
membuktikan terciptanya suatu
kesepakatan.
• Harus disimpan dengan baik oleh PLN

29 Simple, Inspiring, Performance, Phenomenal


AZAS-AZAS PERJANJIAN

KEKUATAN
KONSENSUALISME KEBEBASAN BERKONTRAK
MENGIKAT
1320 KUHPerdata 1338 (1) KUHPerdata
1338 (1) KUHPerdata

Semua Perjanjian
Perjanjian sah dan Setiap orang / pihak diberi yang dibuat secara
mengikat sejak kebebasan membuat sah berlaku
tercapai kata Perjanjian sesuai sebagai UU bagi
sepakat antara dengan kesepakatan mereka yang
para pihak diantara para pihak membuatnya

Pembatasan  tidak boleh bertentangan dengan


undang-undang, ketertiban umum & kesusilaan

30 Simple, Inspiring, Performance, Phenomenal


SYARAT-SYARAT SAH PERJANJIAN
(Pasal 1320 KUHPerdata)

SEPAKAT MEREKA KECAKAPAN UNTUK


SUATU HAL SUATU SEBAB
YG MENGIKATKAN MEMBUAT SUATU
TERTENTU YG HALAL
DIRINYA PERIKATAN

SYARAT SYARAT
SUBJEKTIF OBJEKTIF

AKIBAT HUKUM PASAL 1320 TIDAK TERPENUHI

PERJANJIAN DAPAT PERJANJIAN BATAL


DIBATALKAN DEMI HUKUM

31 Simple, Inspiring, Performance, Phenomenal


PMH DAN JAMINAN

• PASAL 1365 KUHPerdata :


Tiap Perbuatan Melanggar Hukum (PMH)
yang merugikan satu pihak, mewajibkan pihak
yang karena salahnya menerbitkan kerugian
tersebut mengganti kerugian.

• PASAL 1131 KUHPerdata :


Seluruh harta benda yang ada dan yang akan
ada menjadi jaminan atas perikatan yang
dibuatnya.

32 Simple, Inspiring, Performance, Phenomenal


TATA USAHA NEGARA (TUN)

 TUN : administrasi negara yang melaksanakan fungsi untuk


menyelenggarakan urusan pemerintahan baik di pusat maupun
di daerah (PLN  BUMN yang mendapat tugas sesuai UU untuk
menyelenggarakan urusan pemerintahan dalam usaha
penyediaan tenaga listrik sebagai PiIUPTL dianggap sebagai
Badan Tata Usaha Negara).
 Objek Gugatan : Keputusan TUN  penetapan tertulis yang
dikeluarkan Badan / Pejabat TUN yang berisi tindakan hukum
TUN berdasarkan perundangan yang berlaku, bersifat konkret,
individual, dan final, yang berakibat hukum bagi seseorang /
badan hukum perdata (Surat Penetapan Tagihan Susulan /
Pemutusan dll).
 Batas waktu pengajuan gugatan : 90 hari sejak diterimanya /
diumumkannya Keputusan Badan / Pejabat TUN.

33 Simple, Inspiring, Performance, Phenomenal


PENGAMANAAN DAN PENYIDIKAN
Pelaksanaan P2TL dilakukan 2 Pola yaitu :

1. Penyelesaian secara PERDATA yaitu hubungan bisnis atara


Pembeli Tenaga Listrik (Pelanggan) dan Pengusaha Tenaga Listrik
(PLN).
2. Penyelesaian secara PIDANA untuk tujuan “shock therapy” yaitu
hubungan bisnis atara Pembeli Tenaga Listrik (Pelanggan) dan
Pengusaha Tenaga Listrik (PLN).

Pola 1 : (sebagian besar pelaksanaan P2TL dengan Pola 1).


a. Pengamanan P2TL dilakukan oleh PLN dan Polisi bagian
Pembinaan Masyarakat (bukan Polisi Penyidik).
b. Umumnya petugas Polisi bagian Pembinaan Masyarakat disuatu
Unit PLN sangat terbatas, maka Petugas Polisi stand by di suatu
tempat, dan apabila diperlukan diundang ke lokasi.
c. Pelaksanaan P2TL dilakukan sesuai Prosedur yang dituangkan
dalam Keputusan Direksi PT PLN (Persero) No. : 088-Z.P/DIR/2016.
d. Perihitungan Tagihan Susulan (TS) sesuai Keputusan Direksi PT
PLN (Persero) No. : 088-Z.P/DIR/2016.
Simple, Inspiring, Performance, Phenomenal
PENGAMANAAN DAN PENYIDIKAN
Pola 2 : (pelaksanaan P2TL untuk “shock therapy” dan
penyelesaian kasus P2TL yang tidak kunjung terselesaikan)

a. Pengamanan P2TL dilakukan oleh PLN dan Polisi Penyidik atau


PPNS atau Petugas Kejaksaan.
b. Umumnya petugas Polisi Penyidik disuatu Unit PLN sangat
terbatas, maka Pelasanaan P2TL hanya dilakukan sesuai jumlah
Polisi Penyidik.
c. Pelaksanaan P2TL dilakukan mengikuti Prosedur yang ditetapkan
oleh Polisi Penyidik.
d. Perihitungan Tagihan Susulan (TS) sebesar Kerugian Negara
karena Pencurian.

Simple, Inspiring, Performance, Phenomenal


PERATURAN PEMBORONGAN PEKERJAAN ALIH DAYA
P2TL

PERMEN NAKERTRANS No. 19 Tahun 2012

Pasal 3 Ayat (1) :


Perusahaan pemberi pekerjaan dapat menyerahkan
sebagian pelaksanaan pekerjaan kepada perusahaan
penerima pemborongan.

Pasal 3 Ayat (2) c :


merupakan kegiatan penunjang perusahaan secara
keseluruhan, artinya kegiatan tersebut merupakan kegiatan
yang mendukung dan memperlancar pelaksanaan kegiatan
utama sesuai dengan alur kegiatan proses pelaksanaan
pekerjaan yang ditetapkan oleh asosiasi sektor usaha
yang dibentuk sesuai peraturan perundang-undangan;
Simple, Inspiring, Performance, Phenomenal
PERMEN NAKERTRANS No. 19 Tahun 2012
Pasal 4 :
1) Asosiasi sektor usaha, harus membuat alur kegiatan
proses pelaksanaan pekerjaan sesuai sektor usaha
masing-masing.

2) Alur sebagaimana dimaksud pada ayat 1) harus


menggambarkan proses pelaksanaan pekerjaan dari
awal sampai akhir serta memuat kegiatan utama dan
kegiatan penunjang

3) Alur sebagaimana dimaksud pada ayat 2)


dipergunakan sebagai dasar bagi perusahaan
pemberi pekerjaan dalam penyerahan sebagian
pelaksanaan pekerjaan melalui pemborongan
pekerjaan.
Simple, Inspiring, Performance, Phenomenal
KEPDIR PLN No. 500.K/DIR/2013
Pasal 2, ayat 1 :

Maksud ditetapkan Keputusan ini adalah sebagai


pedoman penyerahan sebagian pelaksanaan pekerjaan
kepada perusahaan lain agar terlaksana secara tertib dan
memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan
yang berlaku.

Pasal 9, ayat 1) :

Perjanjian Penyerahan Sebagian Pelaksanaan Pekerjaan


Kepada Perusahaan Lain dilaksanaan selama 5 (lima)
tahun yang dievaluasi secara periodik dan dapat
diperpanjang kembali.

Simple, Inspiring, Performance, Phenomenal


KEPDIR PLN No. 050.K/DIR/2014
Pasal 3, ayat 3)
Jenis-jenis kegiatan penunjang yang dapat diserahkan.
kepada Perusahaan Lain sebagai Perusahaan
penerlma pemborongan adalah mengacu padi Alur Kegiatan
Proses Pelaksanaan Pekerjaan yang
ditetapkan oleh Asosiasi Perusahaan Penyediaan Listrik
Nasional (APPELIN).

Pasal 10A : Pekerjaan Pemborongan Yang Bersifat


Proyek (Project Based)
Ayat 1 :
Jangka waktu perjanjian pemborongan penyerahan sebagian
pelaksanaan pekeriaan yang bersifat
proyek (Project Base) kepada Perusahaan Lain dilaksanikan
maksimal sama dengan umur proyek yang dievaluasi secara
periodik.
Simple, Inspiring, Performance, Phenomenal
Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia RI
No. AHU-213.AH.01.07.Tahun 2013 tentang Pengesahan
Badan
. Hukum Perkumpulan – (Pendirian Asosiasi
Perusahaan Penyediaan Listrik Nasional (APPELIN).

Keputusan Pengurus Asosiasi Perusahaan Penyediaan


Listrik Nasional No. : 01/X/KEP/APPELIN/2013 Tentang
Alur Kegiatan Proses Pelaksanaan Pekerjaan.

Simple, Inspiring, Performance, Phenomenal


TERIMA KASIH

Simple, Inspiring, Performance, Phenomenal