Anda di halaman 1dari 31

KOMUNIKASI ANTAR PPA

(PROFESIONAL PEMBERI ASUHAN)

MAYA FAUZI,NS,MM
METODE SBAR
DR PRW

RO LAB
PASIEN
FAR
GZ
APA ITU METODE SBAR….?
• Kerangka komunikasi efektif yang digunakan di
rumah sakit yang terdiri dari Situation,
Background, Assessment, Recommendation.
• Metoda komunikasi ini digunakan pada saat
perawat melakukan timbang terima
(handover) ke pasien, saat melaporkan pasien
ke dokter atau pada saat melakukan
pemindahan pasien
KOMUNIKASI TENTANG PASIEN
KEPADA DPJP DENGAN METODE SBAR
• SITUATION

• BACKGROUND

• ASSESSMENT

• RECOMMEDATION
No Jenis kegiatan
Situation
 Mengidentifikasi diri, unit/ ruangan ,
1.  Menyebutkan nama pasien dan umur, nomor kamar.
 Secara singkat menyatakan masalahnya, apa itu, ketika hal itu terjadi atau dimulai, dan
seberapa parah.
Background/ Latar Belakang (1)
 Diagnosis masuk/ diagnosis sekarang, masalah-masalah lain
2.
 tanggal masuk
 riwayat medis (anamnesa) yang penting termasuk alergi

Background/ Latar Belakang (2)


 Keadaan umum, kesadaran dan tanda-tanda vital terbaru
 Pemeriksaan fisik yang penting dan menunjang
3.
 Hasil pemeriksaan penunjang yang penting: dan memberikan tanggal dan waktu tes
dilakukan dan hasil tes sebelumnya untuk perbandingan
 Tindakan dan obat yang diberikan termasuk infuse.
Assessment/ Penilaian
4.  Sebutkan masalah apa yang anda pikirkan

Rekomendasi
 Usul tindakan yang mungkin diperlukan atau pindah ke ICU, kepada dokter konsultan
5. (DPJP)
 Usul perlu tidaknya pemeriksaan tambahan?
 Jika DPJP memberikan instruksi : terima informasi dengan metode TBAK
Contoh Skenario SBAR
Tn Ari, 45 tahun, Ruang Anggrek, 2 hari yang lalu masuk rumah sakit
dengan diagnosis Pneumothorax Dextra . Riwayat pasien adalah
penderita PPOK yang sering MRS karena sesak, juga terdapat
riwayat hipertensi. Tidak ada riwayat alergi.
Pasien sudah dipasang chest tube water sealed drainage (WSD). Telah
diberikan antibiotic Levofloxacin infuse 750 mg/24 jam. Dua jam
terakhir Tn Ari, mengalami gangguan pernafasan kembali .
Keadaan umum gelisah, tampak sesak, kesadaran kompos mentis,
kooperatif. Tensi 140/ 80 mmHg, nadi 102x/menit, RR: 26 x/menit,
suhu 38,50C. Pada Auskultasi, suara pernafasan menurun di
sebelah kanan. Dengan oksigen nasal kanul 4 liter/min saturasi O2
turun dari 95% menjadi 85%. Pasien sudah dipasang WSD 2 hari
yang lalu. Terpasang infuse RL 20 tetes per menit. Telah diberikan
antibiotik levofloxacin infuse 750 mg/ 24 jam.
Kemungkinan sesak dikarenakan: pneumothorax nya memberat akibat
ada masalah dengan WSD nya? Atau mungkin terjadi infeksi
sekunder pada parunya. Pasien ini sepertinya memerlukan foto
thoraks ulang, analisa gas darah, dan pengecekan ulang WSD nya.
SBAR
S Saya Budi, perawat jaga ruang Anggrek, melaporkan Tn Ari, di ruang Anggrek
Kamar 6, dalam 2 jam terakhir ini mengeluh sesak yang semakin memberat .

B (1) Pasien MRS 2 hari yang lalu dengan diagnosis Pneumothorax Dextra. .
Riwayat pasien adalah penderita PPOK yang sering MRS karena sesak, juga
terdapat riwayat hipertensi. Tidak ada riwayat alergi. Dua jam terakhir Tn
Ari, mengalami gangguan pernafasan kembali .

B (2) Keadaan umum gelisah, tampak sesak, kesadaran kompos mentis,


kooperatif. Tensi 140/ 80 mmHg, nadi 102x/menit, RR: 26 x/menit, suhu
38,50C. Pada Auskultasi, suara pernafasan menurun di sebelah kanan.
Dengan oksigen nasal kanul 4 liter/min saturasi O2 turun dari 95%
menjadi 85%. Pasien sudah dipasang WSD 2 hari yang lalu. Telah diberikan
antibiotik levofloxacin infuse 750 mg/ 24 jam.

A Kemungkinan sesak dikarenakan: pneumothorax nya memberat akibat ada


masalah dengan WSD nya? Atau mungkin terjadi infeksi sekunder pada
parunya?

R Saran dok, Pasien ini sepertinya memerlukan foto thoraks ulang, analisa gas
darah, dan pengecekan ulang WSD nya.
KETRAMPILAN MENERIMA
INFORMASI DENGAN METODA TBAK

• Tulis

• Baca

• Konfirmasi kembali
No Jenis kegiatan

Penerima informasi: mengangkat telpon, mengucapkan salam, menyebutkan nama dan


1.
tempat bekerja/ menerima telpon, dan mengucapkan: ada yang bisa saya bantu?
Bila penelpon tidak memberitahukan identitasnya, penerima informasi harus
2.
menanyakannya.
Mendengarkan informasi atau instruksi dengan seksama, lalu mencatat kelengkapan
3.
instruksi atau hasil pemeriksaan ke dalam catatan rekam medis pasien
Penerima informasi juga harus mencatat:
- Tanggal dan jam menerima telpon
4.
- Siapa yang menerima (nama lengkap)
- Siapa yang menelpon (nama lengkap)
Membacakan kembali secara lengkap informasi atau instruksi yang diterima, dan
3. konfirmasi kembali apakah yang dimaksud oleh pemberi informasi/ instruksi sudah
sesuai.
Eja ulang suku kata, untuk obat-obat dan tindakan yang namanya terdengar mirip atau
4.
tidak jelas.
Beri tanda tangan dan nama jelas petugas yang menerima instruksi atau informasi serta
5.
perawat saksi, catat jam prosedur terjadi.

Lakukan verifikasi kepada dokter yang memberi instruksi atau informasi pada saat
6. datang berkunjung dengan memberi tanda tangan dan nama jelas, tanggal dan jam
verifikasi pada catatan sebelumnya. dalam waktu 1x24 jam setelah instruksi diberikan.
Contoh skenario TBAK
Dokter Julia via telpon :
“Saya dokter Julia, Pasien saya yang bernama
Nona X, 20 tahun, dengan diagnosa DHF, di
kamar no 1, mohon untuk dilakukan
pemeriksaan DL setiap hari, serta diberikan
Parasetamol 500mg bila panas. Bila
leukositnya naik > 12.000, tolong diberikan
injeksi Ceftriakson 2 x 1 gram iv.”
Informasi/ instruksi pada skenario
TBAK di atas yang perlu dikonfirmasi
• Nona X di kamar berapa?
• DL maksudnya?
• Pemberian parasetamol secara?
• Bila panas itu maksudnya ?
• Berapa kali sehari Paracetamol nya ?
• Iv atau im? (terdengar kurang jelas). Jika iv,
maksudnya intravena?
• Ceftriakson perlu dilakukan skin test dulu?
KETRAMPILAN MENERIMA INFORMASI
DENGAN METODA TBAK (TULBAKON)

• Tulis

• Baca

• Konfirmasi kembali
S : panas
O: KU : lemah
Kesadaran CM
TD : 130/70 mmHg; Nadi : 88 x/mnt;
RR : 20x/mnt; Suhu : 39,8⁰C.
A : ....
P : Mengatasi panas s/d Suhu < 38⁰C.

Advis Dr. Julia via telpon pukul ........... :


Paracetamol 500mg 3x sehari bila suhu > 38⁰C.
Bila leukosit > 12.000, injeksi Ceftriakson 2 x 1 gram intravena,
skin test dulu.
Telah dibacakan ulang dan dikonfirmasi.
(Nama dan tanda tangan perawat)
PENYAMPAIAN NILAI KRITIS
Pengertian :
1. Proses penyampaian hasil kritis kepada dokter yang
merawat pasien
2. Nilai Hasil Kritis adalah hasil pemeriksaan diagnostik
penunjang yang memerlukan penanganan segera.
3. Pelaporan Hasil Kritis adalah proses penyampaian
nilai hasil pemeriksaan yang memerlukan
penanganan segera dan harus dilaporkan kepada
DPJP dalam waktu kurang dari 1 (satu) jam.
Tujuan
1. Terlaksananya proses pelaporan nilai-nilai
yang perlu diwaspadai (alert value
interpretasi hasil laboratorium, kardiologi,
dan radiologi untuk tenaga kesehatan).
2. Mencegah keterlambatan penatalaksanaan
pasien dengan hasil nilai kritis,
3. Hasil kritis dapat diterima oleh DPJP yang
merawat dan dinformasikan pada pasien
tepat waktu.
Kebijakan
1. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor
1691/Menkes/Per/VIII/2011 tentang
Keselamatan Pasien Rumah Sakit,
2. SK Direktur RSUD Ulin Banjarmasin tentang
Keselamatan Pasien di RSUD Ulin
Banjarmasin.
Prosedur
• Dokter, perawat, petugas lab, petugas radiologi, petugas
EKG yang melakukan perekaman mendapatkan hasil nilai
kritis, segera menyampaikan hasil nilai kritis kepada DPJP.
Bila DPJP tidak bisa dihubungi, dokter/perawat/petugas
yang melakukan perekaman segera menghubungi unit
rawat inap/rawat jalan atau IGD.
• Dokter/perawat/petugas yang melaporkan hasil kritis
harus mencatat TANGGAL dan WAKTU menelpon, NAMA
LENGKAP petugas yang dihubungi, dan NAMA LENGKAP
yang menelpon.
Prosedur
• Dokter / Perawat ruangan yang menerima laporan hasil kritis
menggunakan teknik komunikasi TULIS (write back)- BACA (read
back) – KONFIRMASI (confirmation), proses pelaporan ini ditulis di
dalam rekam medis pada form CPPT.
• Dokter / Perawat ruangan yang menerima laporan hasil kritis
langsung menghubungi DPJP / Residen Senior (PPDS Senior) yang
merawat pasien, dan harus dilaporkan kepada DPJP dalam waktu
kurang dari 1 (satu) jam.
• Dalam keadaan emergensi, Petugas boleh tidak melakukan BACA
(read back) dengan pertimbangan keselamatan pasien.
CPPT

Catatan Perkembangan Pasien Terintegrasi/


Integrated Progress Notes
Semua PPA mencatat pd form ini dengan format
SOAP, merupakan sarana komunikasi yang efektif.
Pencatatan secara kronologis, sesuai urutan
waktu
DPJP mereview, untuk koordinasi, komunikasi,
bagian dari asuhan terintegrasi
Perintah/ Plan pada suatu lokasi
Komunikasi dalam pola SBAR
CATATAN PERKEMBANGAN PASIEN TERINTEGRASI
VERIFIKASI
HASIL ASESMEN INSTRUKSI PPA DPJP
PROFESION PENATALAKSANAAN PASIEN TERMASUK (Tulis Nama, beri
TGL - AL PASCA BEDAH Paraf, Tgl, Jam)
JAM PEMBERI (Tulis dengan format SOAP/ADIME, disertai (Instruksi ditulis (DPJP harus
ASUHAN Sasaran. Tulis Nama, beri Paraf pada akhir dgn rinci dan membaca/merev
catatan) jelas) iew seluruh
Rencana Asuhan)

2/9/2016 Perawat S : Nyeri akut lutut kiri sejak 1-2 jam - Monitoring
Jm 8.00 O : skala nyeri VAS : 7 nyeri tiap 30’
- Lapor DPJP
TD 165/90, N 115/m, Frek Nafas : 30/m
- Kolaborasi
A : Nyeri akut
pemberian
P : Mengatasi nyeri dalam 2 jam dgn target VAS <4 anti nyeri
Paraf Perawat..
2/9/2016 S : Nyeri lutut kiri akut sejak pagi Paraf DPJP
Jm 8.30 O : Lutut kiri agak merah, nyeri tekan, skala NRS 7- -inj steroid xx mg ,
Dokter 8, hangat pd palpasi. tab colchicine 2 X
A : Gouty Arthritis - flare Genu Sinistra 0,6 mg/hr
P : Anti inflamasi, terapi Gout, konfirmasi D/ Lapor 2 jam lagi
skala nyeri
Paraf DPJP
-Foto Ro Lutut bila
nyeri mereda
/toleransi cukup
27
CATATAN CTERINTEGRASI

HASIL ASESMEN INSTRUKSI PPA VERIFIKASI


PROFESIO PENATALAKSANAAN PASIEN TERMASUK DPJP
(Tulis Nama, beri
TGL - NAL PASCA BEDAH Paraf, Tgl, Jam)
JAM PEMBERI (Tulis dengan format SOAP/ADIME, disertai (Instruksi (DPJP harus
ASUHAN Sasaran. Tulis Nama, beri Paraf pada akhir ditulis dgn membaca/merevie
w seluruh Rencana
catatan) rinci dan jelas) Asuhan)

5/9/16 Dietesen S : pasien mengeluh mual dan kembung


Jam O : asupan kalori < 60 % lapor DPJP
8.30 A : intake kalori tidak cukup untuk terapi
P : usul pada DPJP untuk diet lambung gastritis dan paraf DPJP
perlu kompensasi parenteral nutrisi
paraf dietesen perenteral
S : mual dan kembung
5/9/16 Dokter O : nyeri tekan epigastrium,
Jam hyperperistaltik
9.00 A : gastritis ec side efek steroid
Infus
P : diet lambung, porsi 50 % kebutuhan harian,
parenteral 50%
aminofusin
Paraf dokter 1000cc/hari

28
CATATAN PERKEMBANGAN PASIEN TERINTEGRASI
5/9/2016 Perawat S : mual,nyeri perut , muntah 2 kali - Monitoring
Jm 10.00 O: skala nyeri VAS : 4, dehidrasi ringan - infus amino
A : gangguan intake makanan, dan fusin
keseimbangan cairan Bantu pasien
P : kolaborasi dengan DPJP untuk menghabiskan
pemenuhan kebutuhan kalori & cairan makanan
Paraf perawat Paraf DPJP

S : mual dan kembung 2 hari, monitoring


5/9/2016 Farmasis O : pasien dapat steroid dosis tinggi dosis
Jm 12.30 A : iritasi mukosa lambung sebagai side akumulatif
efek pemberian steroid dosis tinggi steroid
P : usul pada DPJP menurunkan dosis
steroid
Paraf Farmasis Paraf DPJP

29
CATATAN PERKEMBANGAN PASIEN TERINTEGRASI
5/9/2016 Dokter S : dilaporkan bab warna hitam Periksa
Jm 22.00 jaga O: colok dubur melena +, mual + PT,APTT
A : melena ec perdarahan lambung lapor DPJP pro
P : intake 100 % parenteral, sementara endoskopy
puasa, clysma rendah infus :
Paraf dr jaga D 10 % 2, Rl 2
Aminofusin 2
ij Tranexamat Paraf
3x1 ampul DPJP

6/9/2016 DPJP S : bab masih hitam, sedikit Dietesen buat


Jm 8.30 O : PT/APTT dalam batas normal diet cair
A : pendarahan lambung ec efek steroid 1000 kalori
P : Dosis Steroid tapering off Infus D 10% 2
Diet cair RL 1,
Rencana Endoskopy Aminofuscin 1
Paraf DPJP Daftar untuk
Endoskopy

30
Terimakasih