Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN EVALUASI PROGRAM POKOK PUSKESMAS

CAKUPAN TEMPAT SAMPAH SEHAT DI RUMAH


TANGGA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS II TAMBAK

Pembimbing :
dr. Kuntoro

Disusun oleh: RR Fera Pratiwi (G4A016073)

KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


JURUSAN KEDOKTERAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

2018
PENDAHULUAN

• Fenomena sampah di Indonesia sangat sukar dihilangkan, 60-70%


dari total sampah yang dihasilkan merupakan sampah organik
dengan kadar air antara 65-75%. Sumber sampah terbanyak berasal
dari pasar tradisional dan pemukiman.
• Sampah di pemukiman akan berpengaruh terhadap kesehatan
masayarakat. Penyakit berbasis sanitasi/lingkungan seperti
pes/sampar, malaria, filariasis, DBD, dll akan meningkat jika perilaku
masyarakat tidak bersih, sehat, dan ramah lingkungan.
• Program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM)
mengedepankan pemberdayaan masyarakat dan perubahan
perilaku, tujuannya untuk mewujudkan perilaku masyarakat yang
higienis dan saniter secara mandiri dalam rangka meningkatkan
derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.
PENDAHULUAN

• Puskesmas perlu melakukan evaluasi program pelayanan


kesehatan, keberhasilannya dinilai berdasarkan angka
pencapaiannya, program tempat sampah sehat merupakan
program yang belum mencapai target bidang pelayanan
kesehatan lingkungan di Puskesmas II Tambak.
• Menurut profil kesehatan Puskesmas II Tambak, target untuk
program tempat sampah sehat di Rumah Tangga adalah 76%
untuk satu tahun atau setara dengan 4855 KK yang sudah
memiliki tempat sampah sehat, pada tahun 2017 capaian
target belum terpenuhi secara maksimal.
PENDAHULUAN
Pemerintah

STBM

SBS CTPS PAMM-RT PS-RT PLC-RT

Evaluasi Program  Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat  Menurunkan angka kesakitan penyakit menular akibat lingkungan
ANALISIS POTENSI

1. Man
INPUT  2 DU, 2 Sanitarian

2. Money
 Sumber dana
PROSES
1) BOK
2) Iuran warga

OUTPUT 3. Material
1) satu ruangan konsultasi, 4) modul penyuluhan
2) Proyektor 5) borang ceklist kriteria tempat
3) Laptop sampah sehat
OUTCOME
ANALISIS POTENSI

4. Method
INPUT
 Di luar puskesmas
1) Penyuluhan (pemberdayaan masyarakat dalam rangka pemicu
STBM) 14x/desa selama 1 thn
2) Inspeksi (Identifikasi masalah dan analisis situasi/IMAS perilaku
PROSES kesehatan)  6x/desa selama 1 thn

5. Minute
• Inspeksi (6x selama satu tahun)
OUTPUT • Penyuluhan (14x selama satu tahun)

6. Market
• Seluruh masyarakat di wilayah kerja Puskesmas II Tambak
OUTCOME
ANALISIS POTENSI

1. Perencanaan (P1)
INPUT • Inspeksi tempat sampah sehat (6x dlm 1 tahun)
• Penyuluhan pemicu STBM (14x dlm 1 tahun)
• program 3 R yaitu Reduce, Reuse dan Recycle.

PROSES 2. Pengorganisasian (P2)


• Kerjasama dengan kader desa dalam pencatatan tempat sampah per KK
setiap desa
• Kerjasama lintas sektor dengan Dinas Lingkungan Hidup dalam pelaksanaan
OUTPUT program tempat sampah sehat

3. Penggerakkan dan Pelaksanaan Program (P3)


• penggerak dan pelaksanaan yaitu sanitarian puskesmas dan sanitarian
OUTCOME kontrak dibantu tim kader dan bekerjasama dg masyarakat untuk
penyediaan tempat sampah sehat.
ANALISIS POTENSI

INPUT
4. Pengawasan dan penilaian (P3) untuk kelancaran kegiatan
• Badan pengawasan dan pengendalian untuk kelancaran
kegiatan dilakukan oleh :
• Dinas Kesehatan wilayah Banyumas
PROSES
• Puskesmas II Tambak khususnya bagian program kesehatan
lingkungan
• Kader atau perangkat desa setempat
• Masyarakat
OUTPUT

OUTCOME
ANALISIS POTENSI

• Tahun 2017 capaian tempat sampah sehat adalah 4,9%


INPUT
(target :76%)

• Juli 2018  jumlah tempat sampah sehat yang sudah


PROSES
terpenuhi 315 KK (4,9%) dari 6.383 KK (76%)

OUTPUT

OUTCOME
ANALISIS POTENSI

INPUT
• Kejadian malaria kecil (1 kasus pada 2016 & 2017, tidak ada kasus pada
2014 & 2015) dan tidak menunjukkan endemis malaria di wilayah kerja
Puskesmas II Tambak

PROSES
• Penurunan kasus DBD dari 7 kasus (2016) hingga 3 kasus (2017).

OUTPUT

OUTCOME
ANALISIS Strength, Weakness, Opportunity, Threat (SWOT)

STRENGTH WEAKNESS OPPORTUNITY THREAT

Input:
•Man
2 orang sanitarian yang memiliki kompetensi dan kemampuan u/ meningkatkan upaya masyarakat agar
sadar akan pentingnya tempat sampah sehat.
•Money
Dana dari BOK (Bantuan Operasional Kesehatan)
 dana retribusi yang berasal dari iuran warga
•Method
 Penyuluhan 14 kali/desa selama satu tahun berpedoman pada modul dari Dinas Lingkungan Hidup
@memanfaatkan kegiatan ibu-ibu PKK dan pertemuan bulanan tingat desa
 Inspeksi 6 kali/desa selama satu tahun bersamaan dengan sanitasi dasar seperti jamban dan rumah
sehat  ke setiap rumah warga
Minute
 Adanya inspeksi dan penyuluhan yang dijadwalkan sudah cukup baik.
ANALISIS Strength, Weakness, Opportunity, Threat (SWOT)

STRENGTH WEAKNESS OPPORTUNITY THREAT

Input:
•Man
•Sanitarian Puskesmas  1 orang, Sanitarian Kontrak  1 orang, standard IIS 2010 yaitu 40/100.000
sehingga seharusnya terdapat 5 sanitarian.
•SDM belum maksimal dan terbatas.
•Material
•Sarana dan prasarana kurang memadai (belum adanya TPS di setiap desa)
•Money
•Diperlukan anggaran untuk sarana dan prasarana seperti disediakannya TPS (Tempat Pembuangan
Sementara) atau bank sampah di setiap desa
•Method
•Metode penyuluhan dan promosi kesehatan masih kurang inovatif (menggunakan PPT & Proyektor
saja)
ANALISIS Strength, Weakness, Opportunity, Threat (SWOT)

STRENGTH WEAKNESS OPPORTUNITY THREAT

1. Adanya program pemicuan STBM dari pemerintah


2. Adanya perhatian dan dukungan dari pemerintah daerah setempat.
3. Adanya warga yang bersedia rumahnya dilakukan inspeksi program kesehatan lingkungan.
4. Adanya warga yang bersedia menjadi kader desa untuk program kesehatan lingkungan
khususnya secara sukarela.
5. Adanya kerjasama dengan lintas sectoral yaitu Dinas Lingkungan Hidup terkait modul
panduan penyuluhan.
ANALISIS Strength, Weakness, Opportunity, Threat (SWOT)

STRENGTH WEAKNESS OPPORTUNITY THREAT

1. Kurangnya kesadaran dan pengetahuan masyarakat sehingga menjadi pasif unuk


memperbaiki masalah kesehatan lingkungan, hal ini dilihat dari belum tercapainya
program tempat sampah sehat.
2. Tingkat pemahaman keluarga akan manfaat tempat sampah sehat masih rendah, hal ini
di lihat dari data profil kesehatan, dimana prosentase tertinggi adalah tamatan SD/MI
yaitu 6.317 (30,44%).
3. Terdapat beberapa kader desa yang kurang aktif dalam mengikuti kegiatan program
kesehatan lingkungan ini.
PERMASALAHAN

• SDM yang kurang memadai.


• Anggaran belum mencakup sarana/prasarana.
• Tidak adanya sarana TPS / Bank Sampah untuk mengurangi
penumpukan sampah dan pengolahan sampah yang tidak tepat.
• Metode penyuluhan kurang inovatif.
• Kesadaran masyarakat terkait pengolahan sampah yang masih rendah.
ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH

1) Menambah SDM di bidang kesehatan lingkungan (sanitarian dan kader desa)


2) Meningkatkan kerjasama lintas sectoral.
3) Alokasi dana pendukung.
4) Mengubah strategi perilaku pembuangan sampah dengan pendidikan sejak dini di
sekolah.
5) Petugas kesehatan lingkungan lebih aktif dalam menciptakan suasana yang menarik
dalam kegiatan penyuluhan atau pembinaan langsung.
6) Memberikan perhatian dalam bentuk penghargaan atau hadiah sederhana kepada
kader kesehatan yang rutin berpartisipasi dalam kegian program kesehatan
lingkungan
7) Meningkatkan partisipasi masyarakat seperti memberikan penghargaan khusus bagi
rumah tangga yang telah memenuhi kriteria tempat sampah sehat.
8) Pengelolaan sampah terpadu mengedepankan konsep 3 R (Reduce, Reuse, dan
Recycle), sehingga produk sampah anorganik dapat dimanfaatkan sebagai sumber
dana atau kas desa atau RT setempat.
Kesimpulan dan Saran

• Tercapainya program merupakan salah satu sasaran dalam 6 program pokok Puskesmas.
• Kekuatan : sanitarian yang kompeten, metode penyuluhan dan inspeksi yang sistematis,
frekuensi inspeksi dan penyuluhan terjadwalkan, dana retribusi dari iuran warga setiap
bulannya.
• Kelemahan : keterbatasan SDM, kurangnya sarana prasarana, pengalokasian anggaran BOK
Kesimpulan yang belum tepat, metode penyuluhan kurang inovatif
• Kesempatan : warga yang bersedia dilakukan inspeksi, pemicuan STBM dari pemerintah,
perhatian dan dukungan pemerintah daerah , warga yang bersedia menjadi kader sukarela.
• Ancaman berpendidikan rendah, kader yang kurang aktif berpartisipasi.

•alokasi dana dan sarana prasarana untuk sarana pembuangan sampah dan pengelolaan
sampah seperti membangun TPS disetiap desa..
•Mendukung kegiatan kesehatan lingkungan untuk proses perencanaan, pelaksanaan
Saran dan pelaporan.
•Pembinaan kepada tenaga non kesehatan seperti kader desa memberikan edukasi
kepada masyarakat.
Terima kasih…