Anda di halaman 1dari 25

Pneumonia pada Anak

PNEUMONIA
Pneumonia adalah infeksi Pneumonia merupakan penyebab
Tahun
akut 2008, secara
parenkim global
paru prevalensi
yang meliputi utama morbiditas dan mortalitas anak
hipertensi
alveolus dan pada oranginterstitial
jaringan dewasa ( >yang
25 berusia di bawah lima tahun.
dapat tahun) padasekitar
terjadiadalah segala 40%
usia dan Diperkirakan 20% dari seluruh kematian
merupakan salah satu penyebab pada anak di bawah lima tahun .90% di
kematian pada anak antaranya disebabkan oleh pneumonia
WHO memperkirakan insidens pneumonia anak-balita di
negara berkembang adalah 0,29 episode per anak-tahun
atau 151,8 juta kasus pneumonia/ tahun, 8,7% (13, 1
juta). Lebih dari setengahnya terkonsentrasi di 6 negara,
mencakup 44% populasi anak-balita di dunia. Ke 6 negara
tersebut adalah India 43 juta, China 21 juta, Pakistan, 10
juta, Bangladesh, Indonesia dan Nigeria masing-masing 6
juta kasus per tahun.
Epidemiologi

Indonesia menduduki urutan keenam dengan


insidensi per tahunnya sekitar 6 juta. Pada tahun 2010,
SKN menyebutkan 22,6% kematian bayi dan 22,8%
kematian balita di Indonesia disebabkan oleh penyakit
respiratori terutama pneumonia.7
Provinsi NTB, menurut Depkes RI tahun 2008, menduduki
urutan pertama kejadian pneumonia anak di Indonesia.
Yaitu sekitar 56,6%.
ETIOLOGI
Usia pasien merupakan factor yang memegang peran penting pada perbedaan dan
kekhasan pneumonia anak, terutama dalam spektrum etiologi, gambaran klinis, dan
strategi pengobatan
Usia Etiologi yang serius Etiologi yang jarang
Bakteri Bakteri
E. coli Bakteri anaerob
Streptococcus group B Streptococcus group D
Listeria monocytogenes Haemophillus influenza
Lahir-20 hari Streptococcus pneumonia
Ureaplasma urealyticum
Virus
Virus sitomegalo
Virus herpes simpleks
Bakteri Bakteri
Chlamydia trachomatis Bordetella pertusis
Streptococcus pneumonia virus Haemophillus influenza tipe B

Moraxella catharalis

3 minggu-3 bulan Virus adeno Staphylococcus aureus


Virus influenza Ureaplasma urealyticum
Virus parainfluenza 1,2,3 Virus
Respiratory syncytial virus Virus sitomegalo
Bakteri Bakteri

Chlamydia pneumoniae Haemophillus influenza tipe B

Mycloplasma pneumoniae Moraxella catharalis

Streptococcus pneumoniae Neisseria meningitides

4 bulan-5 tahun
virus Staphylococcus aureus

Virus adeno Virus

Virus influenza Virus Varisella-zooster

Virus parainfluenza

Virus rino

Respiratory syncytial virus


Bakteri Bakteri

Chlamydia pneumoniae Haemophillus influenza

Mycloplasma pneumonia Legionella sp

Streptococcus pneumonia Staphylococcus aureus

5 tahun-remaja Virus

Virus adeno

Virus Epstein-barr

Virus influenza

Virus parainfluemza

Virus rino

Respiratory syncytial virus

Virus Varisella-zooster
FAKTOR RESIKO

Bayi yang tidak mendapat air susu ibu (ASI)


Anak yang kurang gizi
Anak-anak dengan HIV
Anak yang terkena infeksi campak
Tidak mendapatkan imunisasi
Terjadi infeksi dalam
kuman melalui alveoli, membran paru
Pneumonia
inhalasi, aspirasi mengalami peradangan
dan berlubanglubang
sehingga cairan dan
Kadang-kadang seluruh bahkan sel darah merah
lobus bahkan seluruh dan sel darah putih keluar
paru menjadi padat dari darah masuk ke
(consolidated) yang dalam alveoli
berarti bahwa paru terisi
cairan dan sisa sisa sel.
Proses radang dapat dibagi atas 4 stadium

 Stadium I (4 – 12 jam pertama/kongesti)  Disebut hiperemia

 Stadium II (48 jam berikutnya)  Disebut hepatisasi


merah

 Stadium III (3 – 8 hari)  Disebut hepatisasi


kelabu

 Stadium IV (7 – 11 hari)  Disebut juga


stadium resolusi
Berdasarkan Lokasi Infeksi
Manifestasi Klinis
Pneumonia

Gejala infeksi umum: demam, sakit kepala, gelisah, malaise,


penurunan nafsu makan, mual, muntah, diare
Gejala ggn respiratori: batuk sesak napas, retraksi dada, takipnea,
napas cuping hidung, air hunger, merintih, sianosis.
Menegakkan diagnosis
 <2 bulan ; Tanda Bahaya Umum  malas minum, kejang,
kesadaran menurun, stridor, mengi, dan demam/badan
terasa dingin.

• Bila ada tanda bahaya umum atau napas


Pneumonia cepat (>60 x/menit) atau sesak napas
• Harus dirawat dan diberikan antibiotik

• Tidak ada napas cepat atau sesak napas


Bukan
• Tidak perlu dirawat, cukup diberikan
pneumonia pengobatan simptomatis

Pediatri Rumah Sakit Islam Pondok Kopi


 2 bulan – 5 tahun ; Tanda Bahaya Umum  tidak dapat minum,
kejang, kesadaran menurun, stridor, dan gizi buruk

Pneumonia • Bila ada tanda bahaya umum atau tarikan dinding


dada ke dalam (sesak napas) atau stridor
berat • Harus dirawat dan diberikan antibiotik

• Bila tidak ada sesak napas


Pneumonia • Ada napas cepat dengan laju napas:
• >50 x/menit untuk anak usia 2 bulan – 1 tahun
ringan • >40 x/menit untuk anak usia >1 – 5 tahun
• Tidak perlu dirawat, diberikan antibiotik oral.

• Bila tidak ada napas cepat dan sesak napas


Bukan • Tidak perlu dirawat dan tidak perlu antibiotik, hanya
pneumonia diberikan pengobatan simptomatis seperti penurun
panas.
RSIJ Sukapura - Coass Stase Pediatri - 2013
Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan Laboratorium

• Pneumonia bakteri didapatkan leukositosis yang berkisar


antara >10.000-30.000/mm3
• LED
• Pemeriksaan Dahak
• Pemeriksaan Kultur darah
• Analisis Gas Darah
Pemeriksaan Radiologis

• Perselubungan homogen atau inhomogen sesuai dengan


lobus atau segment paru secara anatomis.

• Volume paru tidak berubah, tidak seperti atelektasis dimana


paru mengecil. Tidak tampak deviasi trachea/septum/fissure/
seperti pada atelektasis.

• Seringkali terjadi komplikasi efusi pleura.

• Bila terjadinya pada lobus inferior, maka sinus


phrenicocostalis yang paling akhir terkena.
• Pneumonia Lobaris
• Foto Thorax
• Bronchopneumonia (Pneumonia Lobularis)
• Foto Thorax
• Pneumonia Interstisial
• Foto Thorax
Kriteria Rawat Inap
• Bayi:
 Saturasi oksigen ≤92%, sianosis
 Frekuensi apas >60 x/menit
 Distres pernapasan, apnea, intermiten, grunting
 Tidak mau minum/menyusui
 Keluarga tidak bisa merawat di rumah
• balita dan Anak:
 Saturasi oksigen <92%, sianosis
 Frekuensi apas >50 x/menit
 Distres pernapasan, grunting
 Terdapat tanda dehidrasi
 Keluarga tidak bisa merawat di rumah
Penatalaksanaan rawat inap
Pilihan antibiotika lini pertama
• Ampisilini (25-50 mg/kgBB/kali IV setiap 6 jam )
• kloramfenikol ( 25 mg/kgBB/kali IV atau IM setiap 8 jam ).
• Seftriakson (80-100 mg/kgBB/ IM atau IV 1 kali sehari )
• Pada pneumonia yang tidak responsif terhadap obat diatas,
dapat diberikan antibiotik lain seperti
• gentamisin (7,5 mg/kgBB IM sekali sehari )
• Terapi antibiotik diteruskan selama 7-10 hari pada pasien
dengan pneumonia tanpa komplikasi
Beri Oksigen pada semua anak dengan pneumonia berat
Penatalaksanaan rawat jalan

• Pada pneumonia rawat jalan diberikan antibiotik lini pertama


secara oral misalnya amoksisilin atau kotrimoksazol.
• Dosis amoksisilin yang diberikan adalah 25 mg/KgBB.
• Dosis kotrimoksazol adalah 4 mg/kgBB
 Efusi pleura dan empiema.
Terjadi pada sekitar 45% kasus
 Komplikasi sistemik. Dapat
terjadi akibat invasi kuman
Komplikasi atau bakteriemia berupa
meningitis
 Hipoksemia akibat gangguan
difusi
 Bronkiektasis

i
Pencegahan
• Penilaian status nutrisi yang tepat dan pembatasan pemakaian cara
pemberian nutrisi enteral dapat mengurangi resiko pneomonia.
• Imunisasi terhadap kuman haemoinphilusinfluenzae tipe b (Hib),
pneomokokus,campak,difteri,pertusis,adalah cara paling efektif
dalam pencegahan pneumonia.
• Memberikan ASI ekslusif selama enam bulan pertama untuk
membentuk kekebalan tubuh alamiah.
• Menjauhkan balita dari penderita batuk.
Prognosis
Progosis Pneumonia adalah baik, tetapi jika
infeksi legionella angka kematian sekitar 15 %
pada orang dewasa, sedangkan pada anak
belum terserdia data yang pasti