Anda di halaman 1dari 28

PSIKOLOGI

BELAJAR
DISUSUN OLEH :
• A A N K U R N I AWA N
• B A G U S P E R M A N A A D I PA
• J U L I A N A LW A N
• M U H A M M A D R A F I M U S TA F A
• S A D DA M F I R M A N
PENGERTIAN
KONSEP
BELAJAR

HUKUM CIRI CIRI


BELAJAR BELAJAR

PSIKOLOGI
BELAJAR

FAKTOR YANG
TEORI-TEORI
MEMPENGARUHI
BELAJAR
BELAJAR
PENGERTIAN KONSEP BELAJAR

Belajar adalah kunci yang paling vital dalam setiap usaha


pendidikan, sehingga tanpa belajar sesungguhnya tak pernah ada
pendidikan. Sebagai suatu proses, belajar hampir selalu mendapat
tempat yang luas dalam berbagai disiplin ilmu yang berkaitan dengan
upaya kependidikan. Karena demikian pentingnya arti belajar, maka
bagian terbesar upaya riset dan eksperimen psikologi belajarpun
diarahkan pada tercapainya pemahaman yang lebih luas dan mendalam
mengenai proses perubahan manusia itu.
Pengertian Belajar Menurut Para Ahli :

• Bell-Gredler
“Belajar adalah proses yang dilakukan oleh manusia untuk mendapatkan aneka ragam
competencies, skills, and attitude. Kemampuan (competencies), keterampilan (skills), dan
sikap (attitude) tersebut diperoleh secara bertahap dan berkelanjutan mulai dari masa
bayi sampai masa tua melalui rangkaian proses belajar sepanjang hayat.
• Witherington
“Belajar merupakan perubahan dalam kepribadian yang dimanifestasikan sebagai pola-
pola respons yang baru berbentuk keterampilan, sikap, kebiasaan, pengetahuan dan
kecakapan”.
• Crow & Crow
“Belajar adalah diperolehnya kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan dan sikap baru”.
• Hilgard
“Belajar adalah proses dimana suatu perilaku muncul perilaku muncul atau berubah
karena adanya respons terhadap sesuatu situasi”
• Di Vesta dan Thompson
“Belajar adalah perubahan perilaku yang relatif menetap sebagai hasil dari pengalaman”.
• Gage & Berliner
“Belajar adalah suatu proses perubahan perilaku yang yang muncul karena pengalaman”
• James Owhittaker
“Belajar adalah proses dimana tingkah laku (dalam arti luas ditimbulkan atau diubah
melalui praktek atau latihan).
• Syai’ful Bahri Djamarah
pengertian belajar adalah serangkai kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu
perubahan tingkah laku sebagai hasil pengalaman individu dalam interaksi dengan
lingkungannya.
• Berbagai definisi (rumusan) tentang belajar telah dikemukakan oleh para ahli,
yang semuanya sepakat bahwa belajar itu bertujuan untuk mengadakan
perubahan. Jelasnya belajar dapat didefenisikan yaitu: Suatu usaha atau kegiatan
yang bertujuan untuk mengadakan perubahan di dalam diri seseorang,
mencakup; perubahan tingkah laku, sikap, kebiasaan, ilmu pengetahuan,
keterampilan dan sebagainya.
• Menurut para pakar psikologi belajar bahwa pengalaman hidup sehari-hari
dalam bentuk apa pun sangat memungkinkan untuk diartikan sebagai belajar.
Alasannya, sampai batas tertentu pengalaman hidup juga berpengaruh besar
terhadap pembentukan kepribadian organisme yang bersangkutan.
Maka bisa diaktakan Belajar dilakukan dengan sengaja atau tidak sengaja dengan
guru atau tanpa guru, dengan bantuan orang lain, atau tanpa dibantu dengan
siapapun. Belajar juga diartikan sebagai usaha untuk membentuk hubungan antara
perangsang atau reaksi.
CIRI – CIRI BELAJAR
Moh Surya (1997) mengemukakan ciri-ciri dari perubahan perilaku, yaitu:

• Perubahan yang disadari dan disengaja (intensional).


Perubahan perilaku yang terjadi merupakan usaha sadar dan disengaja dari individu yang
bersangkutan. Begitu juga dengan hasil-hasilnya, individu yang bersangkutan menyadari
bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan, misalnya pengetahuannya semakin
bertambah atau keterampilannya semakin meningkat, dibandingkan sebelum dia
mengikuti suatu proses belajar.
• Perubahan yang berkesinambungan (kontinyu).
Bertambahnya pengetahuan atau keterampilan yang dimiliki pada dasarnya merupakan
kelanjutan dari pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh sebelumnya. Begitu
juga, pengetahuan, sikap dan keterampilan yang telah diperoleh itu, akan menjadi dasar
bagi pengembangan pengetahuan, sikap dan keterampilan berikutnya.
• Perubahan yang fungsional
Setiap perubahan perilaku yang terjadi dapat dimanfaatkan untuk kepentingan hidup
individu yang bersangkutan, baik untuk kepentingan masa sekarang maupun masa
mendatang. Contoh seorang mahasiswa belajar tentang psikologi pendidikan, maka
pengetahuan dan keterampilannya dalam psikologi pendidikan dapat dimanfaatkan untuk
mempelajari dan mengembangkan perilaku dirinya sendiri maupun mempelajari dan
mengembangkan perilaku para peserta didiknya kelak ketika dia menjadi guru.
• Perubahan yang bersifat positif.
Perubahan perilaku yang terjadi bersifat normatif dan menujukkan ke arah kemajuan
Misalnya, seorang mahasiswa sebelum belajar tentang Psikologi Pendidikan menganggap
bahwa dalam dalam Prose Belajar Mengajar tidak perlu mempertimbangkan perbedaan-
perbedaan individual atau perkembangan perilaku dan pribadi peserta didiknya, namun
setelah mengikuti pembelajaran Psikologi Pendidikan, dia memahami dan berkeinginan
untuk menerapkan prinsip – prinsip perbedaan individual maupun prinsip-prinsip
perkembangan individu jika dia kelak menjadi guru
• Perubahan yang bersifat aktif.
Untuk memperoleh perilaku baru, individu yang bersangkutan aktif berupaya melakukan
perubahan. Misalnya, mahasiswa ingin memperoleh pengetahuan baru tentang psikologi
pendidikan, maka mahasiswa tersebut aktif melakukan kegiatan membaca dan mengkaji buku-buku
psikologi pendidikan, berdiskusi dengan teman tentang psikologi pendidikan dan sebagainya.
• Perubahan yang bersifat pemanen.
Perubahan perilaku yang diperoleh dari proses belajar cenderung menetap dan menjadi bagian
yang melekat dalam dirinya. Misalnya, mahasiswa belajar mengoperasikan komputer, maka
penguasaan keterampilan mengoperasikan komputer tersebut akan menetap dan melekat dalam
diri mahasiswa tersebut.
• Perubahan yang bertujuan dan terarah.
Individu melakukan kegiatan belajar pasti ada tujuan yang ingin dicapai, baik tujuan jangka pendek,
jangka menengah maupun jangka panjang. Misalnya, seorang mahasiswa belajar psikologi
pendidikan, tujuan yang ingin dicapai dalam panjang pendek mungkin dia ingin memperoleh
pengetahuan, sikap dan keterampilan tentang psikologi pendidikan yang diwujudkan dalam bentuk
kelulusan dengan memperoleh nilai A. Sedangkan tujuan jangka panjangnya dia ingin menjadi guru
yang efektif dengan memiliki kompetensi yang memadai tentang Psikologi Pendidikan. Berbagai
aktivitas dilakukan dan diarahkan untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut.
• Perubahan perilaku secara keseluruhan.
Perubahan perilaku belajar bukan hanya sekedar memperoleh pengetahuan semata,
tetapi termasuk memperoleh pula perubahan dalam sikap dan keterampilannya. Misalnya,
mahasiswa belajar tentang “Teori-Teori Belajar”, disamping memperoleh informasi atau
pengetahuan tentang “Teori-Teori Belajar”, dia juga memperoleh sikap tentang
pentingnya seorang guru menguasai “Teori-Teori Belajar”. Begitu juga, dia memperoleh
keterampilan dalam menerapkan “Teori-Teori Belajar”.
Belajar juga tidak hanya berkenaan dengan jumlah pengetahuan tetapi juga
meliputi seluruh kemampuan individu. maka ciri-ciri belajar juga dapat dirumuskan
sebagai berikut :
1. belajar harus memungkinkan terjadinya perubahan perilaku pada diri individu.
Perubahan tersebut tidak hanya pada aspek pengetahuan atau kognitif saja tetapi juga
meliputi aspek sikap dan nilai (afektif) serta keterampilan (psikomotor).
2. perubahan itu harus merupakan buah dari pengalaman. Perubahan prilaku yang
terjadi pada diri individu karena adanya interaksi antara dirinya dengan lingkungan.
Interaksi ini dapat berupa interaksi fisik maupun psikis
3. Perubahan yang relative tetap
TEORI – TEORI BELAJAR
Teori belajar sangat banyak dan beraneka ragam. Setiap teori menjelaskan aspek-
aspek tertentu dalam belajar, dan setiap teori yang dijadikan dasar akan mewarnai proses
pembelajaran yang berlangsung

• Teori Belajar Behavioristik


Behavioristik berasal dari Behavior yang artinya tingkah laku. Semakin seseorang
diberikan penguatan dalam belajar, ia akan semakin menunjukkan tingkah laku yang sesuai
dengan informasi yang ia dapatkan. Bila teori behavioristik inidikaitkan dengan
pembelajaran, tingkahlaku ini merupakan wujud capaian atau hasil belajar. Teori
behavioristik mulanya, teori belajar psikologi yang muncul sejak 1940-an sampai sampai
dengan awal 1950 dan John B. Watson dianggap sebagai pelapor.
• Teori Belajar Kognitif
Kognitif Yang berarti berfikir, arti dari kognitif itu sendiri adalah tindakan mengenal atau
memikirkan situasi dimana tingkah laku itu terjadi. Bila teori kognitif ini dikaitkan dengan
pembelajaran, dengan kognitif semua melibatkan pikiran karena dengan belajar individu
tersebut sengan memikirkan sesuatu untuk merubah tingkah laku yang terjadi, lebih
menekankan pada perkembangan berfikir peserta didik. Adapun ciri-ciri pembelajaran
kognitif, antara lain sebagai berikut :
Dalam proses pembelajaran lebih menghendaki pada pengertian dari pada
hafalan, hukuman dan ganjaran dan juga dalam pembelajaran lebih menggunakan insting
untuk memecahkan masalah. Teori kognitif memiliki banyak kelompok aliran yang
diplopori oleh para psikolog, diantaranya yaitu teori belajar Gestalt, teori belajar
Cognitive Field dan teori belajar Cognitive Developmental. Pakar teori Kognitif ini lebih
terkenal yaitu John Piaget dan Vigotsky.
• Teori Belajar Humanistik
Human yang berarti manusia, teori ini adalah suatu teori dalam pembelajaran yang
mengedepankan bagaimana memanusiakan manusia. Dalam pembelajaran lebih
mengutamakan pengembangan potensi diri peserta didik, dalam teori ini belajar dianggap
berhasil jika peserta didik memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Teori belajar ini
berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut
pandang pengamatnya. Tokoh-tokoh Teori Belajar Humanistik antara lain : Abraham
maslow, Arthur Combs, Carl Ransom Rogers.
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
BELAJAR
Faktor-faktor psikologis adalah keadaan psikologis seseorang yang dapat
mempengaruhi proses belajar. Beberapa faktor psikologis yang utama mempengaruhi
proses belajar adalah kecerdasan siswa, motivasi, minat, sikap, bakat, konsentersi, percaya
diri, kebiasaan dan cita-cita.
• Kecerdasan/intelegensi siswa
Tingkat kecerdasan siswa sangat menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa. Ini
berarti, semakin tinggi kemampuan intelijensi siswa maka semakin besar peluangnya
untuk meraih sukses, sebaliknya, semakin rendah kemampuan intelijensi siswa maka
semakin kecil peluangnya untuk memperoleh kesuksesan.
Para ahli membagi tingkatan IQ bermacam-macam, salah satunya adalah
penggolongan tingkat IQ berdasarkan tes Stanford-Biner yang telah direvisi oleh Terman
dan Merill sebagai berikut:

• Kelompok kecerdasan amat superior yaitu antara IQ 140–169


• Kelompok kecerdasan superior yaitu antara IQ 120–139
• Kelompok rata-rata tinggi (high average) yaitu antara IQ 110–119
• Kelompok rata-rata (average) yaitu antara IQ 90–109
• Kelompok rata-rata rendah (low average) yaitu antara IQ 80–89
• Kelompok batas lemah mental (borderline defective) berada pada IQ 70–79
• Kelompok kecerdasan lemah mental (mentally defective) berada pada IQ 20–69, yang
termasuk dalam kecerdasan tingkat ini antara lain debil, imbisil, dan idiot.
• Motivasi
Motivasi adalah kondisi fisiologis dan psikologis yang terdapat dala diri seseorang yang
mendorong untuk melakukan aktivitas tertentu guna mencapai suat tujuan (kebutuhan).
motivasi dibagi menjadi dua :
1. Motivasi intrinsik
• adalah semua faktor yang berasal dari dalam diri individu dan memberikan dorongan
untuk melakukan sesuatu. Seperti seorang siswa yang gemar membaca, maka ia tidak
perlu disuruh-suruh untuk membaca karena membaca tidak hanya menjadi aktivitas
kesenangannyatetapi sudah mejadi kebutuhannya Menurut Arden N. Frandsen, yang
termasuk dalam motivasi intrinsik untuk belajar anatara lain adalah:
• Dorongan ingin tahu dan ingin menyelisiki dunia yang lebih luas
• Adanya sifat positif dan kreatif yang ada pada manusia dan keinginan untuk maju
• Adanya keinginan untuk mencapai prestasi sehingga mendapat dukungan dari orang-
orang penting, misalkan orang tua, saudara, guru, dan teman-teman.
• Adanya kebutuhan untuk menguasai ilmu atau pengetahuan yang berguna baginya.
2. Motivasi ekstrinsik
adalah faktor yang datang dari luar diri individu tetapi memberikan pengaruh terhadap
kemauan untuk belajar. Seperti pujian, peraturan, tata tertib, teladan guru, orangtua,
danlain sebagainya. Kurangnya respons dari lingkungansecara positif akan mempengaruhi
semangat belajar seseorang menjadi lemah.

• Ingatan
Secara teoritis, ada 3 aspek yang berkaitan dengan berfungsinya ingatan, yakni: (1)
Menerima kesan, (2) Menyimpan kesan, dan (3) Memproduksi kesan
• Minat
Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa
kegiatan. Kegiatan yang diminati seseorang, diperhatikan terus menerus yang disertai rasa
senang. Secara sederhana, minat (interest) berarti kecenderungan dan kegairahan yang
tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu.
• Sikap
Dalam proses belajar, sikap individu dapat mempengaruhi keberhasilan proses belajarnya.
Sikap adalah gejala internal yang mendimensi afektif berupa kecenderungan untuk
mereaksi atau merespons dangan cara yang relatif tetap terhadap obyek, orang, peristiwa
dan sebagainya, baik secara positif maupun negative. Dari Sikap maka adanya penilaian
tentang sesuatu yang mengakibatkan terjadinya sikap menerima, menolak, atau
mengabaikan.
• Bakat
Bakat atau aptitude merupakan kecakapan potensial yang bersifat khusus, yaitu khusus
dalam suatu bidang atau kemampuan tertentu. bakat juga diartikan sebagai kemampuan
dasar individu untuk melakukan tugas tertentu tanpa tergantung upaya pendidikan dan
latihan. Apabila bakat seseorang sesuai dengan bidang yang sedang dipelajarinya, maka
bakat itu akan mendukung proses belajarnya sehingga kemungkinan besar ia akan
berhasil
• Konsentrasi Belajar
Konsentrasi belajar merupakan kemampuan memusatkan perhatian pada pelajaran.
Pemusatan perhatian tersebut tertuju pada isi bahan belajar maupun proses
memperolehnya.
• Rasa Percaya Diri
Rasa percaya diri timbul dari keinginan mewujudkan diri bertindak dan berhasil. Dalam
proses belajar diketahui bahwa unjuk prestasi merupakan tahap pembuktian
“perwujudan diri” yang diakui oleh guru dan teman- temannya. Semakin sering berhasil
menyelesaikan tugas, maka semakin besar pula memperoleh pengakuan dari umum dan
selanjutnya rasa percaya diri semakin kuat.
• Kebiasaan Belajar
Dalam kegiatan sehari-hari ditemukan adanya kebiasaan belajar yang kurang baik.
Kebiasaan belajar tersebut antara lain:
– Belajar pada akhir semester
– Belajar tidak teratur
– Menyia-nyiakan kesempatan belajar
– Bersekolah hanya untuk bergengsi
– Bergaya minta “belas kasihan” tanpa belajar.
Untuk sebagian orang, kebiasaan belajar tersebut disebabkan oleh ketidak mengertian
siswa pada arti belajar bagi diri sendiri. Hal seperti ini dapat diperbaiki dengan
pembinaan disiplin membelajarkan diri.
• Cita – Cita Siswa
Cita-cita merupakan wujud eksplorasi dan emansipasi diri siswa. Penanaman pemilikan
dan pencapaian cita-cita sudah sebaiknya berpangkal dari kemampuan berprestasi,
dimulai dari hal yang sederhana ke yang semakin sulit. Dengan mengaitkan pemilikan cita-
cita dengan kemampuan berprestasi, maka siswa diharapkan berani bereksplorasi sesuai
dengan kemampuan dirinya sendiri.
HUKUM – HUKUM BELAJAR

Menurut Thorndike, belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi


antara peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus (S) dengan respon (R). Stimulus adalah
suatu perubahan dari lingkungan eksternal yang menjadi tanda untuk mengaktifkan
organisme untuk beraksi atau berbuat, sedangkan respon adalah tingkah laku yang
muncul dikarenakan adanya stimulus. Teori belajar yang dikemukakan oleh Thorndike ini
disebut dengan teori belajar koneksionisme.
Thorndike menemukan hukum-hukum belajar, yaitu :
• Hukum kesiapan (Law of Readiness)
Jika suatu organisme didukung oleh kesiapan yang kuat untuk memperoleh stimulus
maka pelaksanaan tingkah laku akan menimbulkan kepuasan individu sehingga asosiasi
cenderung diperkuat. Menurut Thorndike, ada beberapa kondisi yang akan muncul pada
hukum kesiapan ini, diantaranya :
– jika individu siap untuk bertindak dan mau melakukannya, maka ia akan merasa
puas
– jika individu siap untuk bertindak, tetapi ia tidak mau melakukannya, maka
timbullah rasa ketidakpuasan
– jika belum ada kecenderungan bertindak, namun ia dipaksa melakukannya, maka
melakukannya akan menjengkelkan.
• Hukum latihan (Law of Exercise)
Hukum latihan akan menyebabkan makin kuat atau makin lemah hubungan S-R. Dalam
hal ini, hukum latihan mengandung dua hal :
– The Law of Use
hubungan-hubungan atau koneksi-koneksi akan menjadi bertambah kuat, kalau ada
latihan antara situasi yang menstimulasi dengan suatu respons.
– The Law of Disuse
hubungan-hubungan atau koneksi-koneksi akan menjadi bertambah lemah atau terlupa
kalau latihan-latihan dihentikan, karena sifatnya yang melemahkan hubungan tersebut
• Hukum efek (Law of Effect)
Hubungan stimulus dan respon cenderung diperkuat bila keadaan yang menyenangkan
atau memuaskan keadaan dan cenderung diperlemah jika keadaan yang menjengkelkan
atau keadaan yang menyebalkan. Rumusan tingkat hukum efek adalah, bahwa suatu
tindakan yang disertai hasil menyenangkan cenderung untuk dipertahankan dan pada
waktu lain akan diulangi.

Selain ketiga hukum tersebut konsep belajar Thorndike yaitu belajar yang
inkremental yaitu belajar secara bertahap bukan yang insighful. (berwawasan)
KESIMPULAN

Dapat disimpulkan bahwa konsep belajar adalah perubahan tingkah laku yang
terjadi melalui proses dan menghasilkan perubahan seperti kemampuan membedakan,
nilai, aturan, dan pengetahuan dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang tidak bisa
menjadi bisa.
TERIMA KASIH