Anda di halaman 1dari 21

KELOMPOK 1

1. HENDIK OKTAVIAN
2. LUKI ERDIANA
3. M AGUNG GUMELAR
4. NELI SAADAH
5. NILAM ASTRINI
6. NOVI URMILATSANI A
7. RIRIN WIJAYANTI
PEMURNIAN DAN PEMBAHARUAN
DI DUNIA MUSLIM
1. BIDANG AKIDAH
Pemikiran-pemikiran Muhammad Abdul Wahab yang mempunyai pengaruh pada
perkembangan pemikiran di abad ke 19 adalah sebagai berikut:
1. hanya al-Quran dan Hadis yang merupakan sumber asli ajaran Islam
2. taklid kepada ulama tidak dibenarkan
3. pintu ijtihad senantiasa terbuka.
Muhammad Abdul Wahab merupakan pemimpin yang aktif dan berusaha
mewujudkan pemikirannya. Ia mendapat dukungan dari Muhammad Ibn Su’ud dan
putranya Abdul Aziz di Nejed. Paham-pahamnya tersebar luas dan pengikutnya bertambah
banyak, sehingga di tahun 1773M mereka dapat menjadi mayoritas di Riyadh. Pada tahun
1787, beliau wafat tetapi ajaran tetap dan mengambil bentuk aliran yang dikenal dengan
nama Wahabiyah.18
2. BIDANG ILMU PENGETAHUAN
• Dalam bidang ilmu pengetahuan, di Turki Usmani mengalami kemajuan dengan
• usaha-usaha dari Sultan Muhammad II yang melakukan terhadap umat Islam di
negaranya
• untuk dapat menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi dengan upaya melakukan
• pembaharuan di bidang pendidikan dan pengajaran, lembaga-lembaga Islam diberikan
• muatan pelajaran umum dan upaya mendirikan “Mektebi Ma’arif” guna menghasilkan
• tenaga ahli dalam bidang administrasi dan “Mektebi Ulumil Edebiyet” guna
menghasilkan
• tenaga penterjemah yang handal serta upaya mendirikan perguruan tinggi dengan
berbagai
• jurusan seperti kedokteran, teknologi dan militer.
3. BIDANG POLITIK
• Pada masa sekarang ini kepemimpinan politik dan budaya muslim benar-benar
• menghadapi berbagai tantangan dari budaya luar. Tentu saja budaya-budaya
tersebut
• sangatlah berbeda dengan budaya yang ada pada zaman nabi Muhammad. Sejarah
muslim
• juga memiliki kesamaan proses pasang surut seperti halnya dalam dunia Kristen
barat. Jadi
• tidaklah tepat jika mengatakan bahwa sejarah Islam ternyata diatandai dengan
adanya
• penurunan pada beberapa abad paling awal. Cerita-cerita kemerosotan Islam pada
masa
• awal hanyalah karangan dari beberapa orientalis
• Bidang-bidang Peradaban yang Berkembangan Selain yang tersebut di
atas, dalam hal perkembangan peradabaan pada masa modern juga
mengalami kemajuan di berbagai Negara Islam artinya Negara yang
mayoritas berpenduduk Islam seperti Mesir, Arab Saudi, Irak, Iran,
Malaysia, Brunai Darussalam, Kuwait dan indonesia
• 1. Bidang arsitek
• Di Arab Saudi mengalami perkembangan yang pesat. Pembangunan-
pembagunan fisik
• sangat dahsyat dari pembangunan jalan raya, jalan kereta, pelabuhan
sampai Maskapai
• penerbangan Internasional, perhotelan, peribadatan seperti Masjidil
Haram yang ditengah
• masjid terdapat Kakbah dan baitul Atiq, Hajar Aswad, Hijr Ismail, Makam
Ibrahim dan
• sumur Zam-Zam yang letaknya berdekatan dengan Kakbah
• 2 Bidang Sastra
• Pada masa pembaharuan terdapat nama-nama sastrawan yang Islami di berbagai
Negara
• seperti sastrawan dan pemikir ulung yang lahir di Pakistan tahun 1877 dan wafat
tahun
• 1938 bernama Muhammad Iqbal, Mustafa Lutfi Al Manfaluti tahun 1876-1926 yaitu
• sastrawan dan ulama al Azhar Mesir, Muhammad Husain Haekal tahun 1888-1956
ia
• adalah seorang pengarang Mesir yang menulis Hayatu Muhammad, Jamil Sidi Az
Zahawi
• tahun 1863-1936 di Irak daln lain-lain
• 3. Bidang kaligrafi
• Di abad modern juga berkembang yaitu biasanya digunakan sebagai
hiasan di masjid,
• hiasan di rumah, perabotan rumah tangga dan lain-lain dengan media
seperti kertas, kayu,
• kain, kulit, keramik dan lain-lain
B. SEBAB-SEBAB KEMUNDARANNYA
Setelah peradaban Islam mencapai puncaknya, kemudian mengalami kemunduran- bagaikan
rembulan yang telah menjadi purnama, maka malam-malam berikutnya cahayanya perlahan-lahan redup
dan hilang ditelan keremangan malam yang pekat. Sedangkan sebab-sebab kehancuran dunia Islam itu
antara lain;
A. Menurunnya Kreativitas Keilmuan Umat Islam
Pemikiran rasional dipengaruhi oleh persepsi tentang bagaimana tingginya kedudukan akal seperti
terdapat dalam al-Qur’an dan hadits. Persepsi ini bertemu dengan persepsi yang sama dari Yunani
melalui filsafat dan sains
Yunani yang berada di kota-kota pusat peradaban Yunani di dunia Islam zaman klasik, seperti Aleksandria
(Mesir), Jundisyapur (Irak), Antakia (Syria) dan Bactra (Persia). Di sana memang telah berkembang
pemikiran rasional Yunani.
Pertemuan Islam dan peradaban Yunani pada masa awal Islam- melahirkan pemikiran rasional di
kalangan ulama Islam zaman klasik. Tapi, perlu ditegaskan di sini bahwa ada perbedaan antara pemikiran
rasional Yunani dan pemikiran rasional Islam zaman klasik. Di Yunani tidak dikenal agama Samawi, maka
pemikiran bebas, tanpa terikat pada ajaran-ajaran agama, tumbuh, dan berkembang. Sementara pada
masa Islam klasik pemikiran rasional ulama terikat pada ajaran-ajaran agama Islam sebagaimana yang
terdapat dalam al-Qur’an dan hadits
B. Kesatuan Integral; antara Agama dan Negara dalam Islam
Islam tidak memisahkan antara agama dan negara. Sebagaimana al-Qur’an
membicarakan tentang Allah dan keesaannya, surga dan neraka, pahala
dan dosa, juga menetapkan puasa dan shalat, serta menganjurkan umat
Islam untuk berakhlak mulia. Ajaran Islam juga mensyariatkan tentang
undang-undang jual beli, ijarah, hudud, hukum waris, masalah peperangan,
problem solving rumah tangga, dan lain-lain.[8]
Ketidakterpisahan itu, tergambar jelas pada keseharian Rasulullah, selain
menjadi pemimpin umat, beliau juga memimpin pasukan, membuat
perjanjian, melakukan pengiriman delegasi-delegasi negaranya ke wilayah
lain. Demikian juga yang dilakukan oleh para khalifah sesudah beliau.[9]
C. Islam Agama yang Sesuai dalam setiap Zaman dan Tempat
Dalam ajaran Islam ada adagium yang menyatakan bahwa Islam adalah agama yang selalu
sesuai dalam setiap zaman dan tempat. Tetapi dalam prakteknya ada yang beranggapan-
bahwa ajaran Islam itu tidak mungkin di praktekkan umat Islam selalu sesuai dengan zaman
dan tempat di mana mereka hidup.
Padahal, sebagaimana yang dikemukakan ulama, bahwasanya ajaran tauhid dan akhlak yang
baik adalah mutlak- dan tentu termasuk keberadaan akal yang sehat- karena sangat berguna
bagi umat manusia. Sebagaimana yang sudah dijelaskan bahwa agama Islam adalah agama
yang diperuntukkan bagi kebahagiaan umat manusia di dunia dan akhirat. [13]
Oleh karena itu, Islam sangat menghargai posisi akal dan mengajak umat manusia untuk
mempergunakannya sebaik mungkin. Seperti yang disinyalir Allah Swt, dalam al-Qur’an Surat,
Yasiin [36]: 68, sebagai berikut;

“Dan Barangsiapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan Dia kepada
kejadian(nya). Maka Apakah mereka tidak memikirkan?,” (QS. Yasiin [36]: 68).
D. Hancurnya ketahanan moral umat Islam
Hancurnya ketahanan moral umat Islam, lebih disebabkan- karena umat Islam
dihinggapi “penyakit” wahn (hubbundunya wa karahiyatul mauwt). Umat Islam dilanda
sikap hidup berfoya-foya, korup, dan tidak dekat lagi dengan kehidupan para
mustadh’afin dan nasib yang menimpa para dhu’afa. Ibnu khaldun mengemukakan,
“Kemewahan itu merupakan pertanda bahwa peradaban suatu bangsa yang dibangun
akan mengalami kehancuran.[17]
Hal yang penting bahwa banyak cendekiawan Muslim masa itu yang menentang
penguasa Baghdad, bahkan bergabung dengan bangsa Mongol. Khawaja Nashiruddin
Thusi, salah seorang cendekiawan Syi’ah termasyhur (1201-1274) dan dihormati oleh
Imam Khomeini, juga bergabung dengan penakluk dari Mongol, Hulaghu, ketika dia
melewati Iran dalam perjalanannya ke Baghdad. Ini menimbulkan tuduhan keterlibatan
dalam penaklukan
E. Berkembangnya Sikap hidup Fatalistis
Berkembangnya sikap hidup fatalis umat Islam- yang bergantung dan mengembalikan segala
keuntungan dan penderitaan kepada Tuhan. Sikap hidup yang fatalis ini ditandai dengan tidak lagi
percaya kepada kemampuannya untuk maju atau mengatasi problem keagamaan dan
kemasyarakatan. Mereka lari dari kenyataan dan hanya mendekatkan diri kepada Tuhan`
 
F. Sikap Hidup Umat Islam yang kurang Toleran
Sikap-sikap tidak toleran dan fanatik kepada madzhab atau golongan sendiri itulah yang
menyebabkan umat Islam mundur. Tidak saja karena sikap-sikap itu menyedot energi masyarakat,
tapi juga memalingkan perhatian orang dari hal-hal yang lebih mendasar dan menentukan
perkembangan dan kemajuan peradaban. Syeikh Muhammad Rasyid Ridla, seorang tokoh pemikir
Islam Zaman Modern dari Mesir (murid dan teman Syeikh Muhammad ‘Abduh), dalam
mukaddimahnya untuk penerbitan kitab al-Mughni (oleh Ibn Qudamah) menggambarkan sikap-sikap
tidak toleran itu demikian
G. Jatuhnya Kekhalifahan Abbasiyah
Jatuhnya kerajaan Abbasiyah oleh serangan orang-orang Tartar dan Mongol pada masa
pertengahan abad ke-13 M., ketika kota Baghdad sebagai pusat ilmu dan kebudayaan hancur
sama sekali. Sekitar 800. 000 penduduk Baghdad dibunuh. Perpustakaan dihancurkan, ribuan
rumah penduduk diratakan. Dalam peristiwa tersebut, umat Islam kehilangan lembaga-
lembaga pendidikan dan buku-buku ilmu pengetahuan yang sangat berharga nilainya.
Musnahnya beribu-ribu buku, baik buku-buku tentang keagamaan maupun ilmu-ilmu sains-
mempengaruhi perkembangan intelektualisme Islam, apalagi yang menyangkut kelestarian
ilmu-ilmu pengetahuan dan sains dalam Islam. Berbagai literatur sains telah lenyap.
Sedangkan di kalangan masyarakat yang bebas dari bencana kaum Mongol tidak ada yang
menguasai berbagai bidang sains dan filsafat. Inilah salah-satunya yang mempersulit umat
Islam untuk mengembalikan kekayaan intelektual yang berharga seperti pada masa kejayaan
semula.
H. Dikuasainya Sektor Prekonomian oleh Eropa
Eropa yang telah menemukan kebangkitan intelektual, mulai meninggalkan
umat Islam. Bangkitnya rasionalisme dan intelektual telah menuntun
orang-orang Eropa menemukan sumber-sumber kekayaan di luar Eropa,
seperti Amerika, Australia, dan Timur Jauh.[22]Penemuan Tanjung Harapan
pada abad ke-15 M, oleh pelaut-pelaut Eropa Barat sangat memukul
prekonomian Islam. Jalur perdagangan Timur Jauh dan Barat yang dahulu
dikuasai oleh Islam karena harus melewati jalur darat milik Islam,
berpindah melalui jalur laut melalui Tanjung Harapan sehingga negara-
negara Barat dapat menggantikan kedudukan Islam sebagai penguasa
perdagangan jalur Barat.
I. Sunnatullah
Sungguh, keadaan umat Islam yang jauh tertinggal oleh bangsa-bangsa
lain memang sangat memilukan. Namun barangkali tida perlu disesali
sedemikian rupa sehingga kita kehilangan kemampuan melihat ke depan
dengan penuh harapan. Kemunduran dunia Islam dapat dilihat sebagai
wujud operasi Sunnatullah. Salah satu unsur penting hukum itu ialah
adanya prinsip perputaran (mudawalah). Yaitu, prinsip bahwa nasib umat
manusia, tinggi dan rendah, terjadi secara berputar dan bergilir antara
mereka, sehingga suatu bangsa atau umat adakalanya berada di atas
(menang, unggul, maju, dll.) dan juga adakalanya di bawah (kalah,
merosot, terbelakang, dll.), sebagaimana yang dikemukakan Allah Swt,
dalam al-Qur’an Surah, al-Imran, [3]: 140-141 sebagai berikut
C.PERLUNYA PEMURNIAN DAN
PEMBAHARUAN
• Pembaharuan dalam islam dikenal juga dengan modernisasi islam, yang mempunyai tujuan
untuk menyesuaikan ajaran yang terdapat dalam agama dengan ilmu pengetahuan dan Falsafah
modern, tetapi perlu diingat bahwa dalam islam ada ajaran yang tidak bersifat mutlak, yaitu
penafsiran atau interpretasi dari ajaran-ajaran yang bersifat abadi dari masa ke masa. Dengan
kata lain pembaharuan mengenai ajaran-ajaran yang bersifat mutlak tak dapat diadakan karena
sudah tidak bisa lagi diganggu gugat seperti pada hukum- hukum yang tercantum dalam Al-
Qur’an. Pembaharuan dapat dilakukan dengan meninjau kembali beberapa aspek yang memang
memerlukan untuk diperbaharui seiring dengan perkembangan zaman yang semakin modern
sehingga mampu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari seperti sekarang ini.
• Pembaharuan dalam Islam sangat Identik dengan modernisasi. Pembaharuan-pembaharuan
yang dilakukan oleh kaum intelektual muslim bertujuan untuk mengembangkan pandangan
islam yang sesuai dengan pemikiran dan institusi-institusi modern, namun tetap berpijak pada
tradisi dan dasar-dasar islam, demi pemurnian islam dan ketaatan pada Syari’ah (hukum).
D. BENIH BENIH PEMURNIAN
DAN PEMBAHARUAN
• Muhammad bin Abdul wahab (115 H/1703-1972M) menggemakan suara
pembaharuannya di daerah Najad, sebuah negri yang masih murni dalam
menjalankan syariat agama Islam. Melihat kondisi umat Islam yang ada pada waktu
itu mendesak dirinya untuk berusaha mengeluarkan mereka dari nuansa yang serba
gelap tanpa petunjuk
• Penerapan hukum secara konsekwen dan murni diberlakukan sehingga walaupun
pemerintahan ini keras namun keadilan dan kebijaksanaan dapat diterapkan di negri
ini. Ketentraman, kedamaian, dan keamanan pada akhirnya dapat dicapai dengan
baik. Kejahatan tindak pidana hampir tak terdapat dalam negri ini. Di sini pula seluruh
kekuatan yang ada di sekitar Hajaz yang masih mempercayai Tahayul, Bidah,
Khurafat mulai diruntuhkan. Dan bagi mereka yang mencampuradukan antara yang
hak dan yang batil akan diperangi. Demikianlah Abdul Wahab menyebarkan benih-
benih pembaharuan yang ada dalam ajaran islam.
E. ASPEK-ASPEK PEMBAHARUAN
• Ada beberapa aspek khusus yang perlu diperhatikan oleh setiap mujadid dalam usaha seruan pembaharuannya
Al-Maududi menerangkan aspek-aspek tersebut sebagai berikut:
• • Setiap Mujadid harus selalu melakukan pengamatan-pengamatan atas kekeliruan yang ada dan memperbaiki
dengan cepat setiap macam penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan kaum Muslimin.
• • Seorang Mujadid harus mampu merencanakan dan merumuskan program yang tepat untuk kebangkitan
peradaban Islam• Mujadid mampu melakukan penafsiran yang teliti atas segala fenomena yang terjadi dalam
masyarakat.
• • Berusaha membangkitkan revolusi intelektual Muslim. Sebab corak kemajuan dunia diilhami dengan buah
fikiran kaum cendikiawanMemberikan bentuk ide praktis pembaharuan yang dapat dipahami oleh masyarakat
luas.
• • Selalu melakukan ijtihad yang menyeluruh yang berlandaskan ajaran-ajaran agama, pada bidang hukum,
kebudayaan, dan perubahan sosial yang terjadi.
• • Mampu membela dan mempertahankan Islam dari permasalahan kebudayan dan ancaman berbagai pihak
yang ingin menghancurkan eksistensi agama Islam. • Menyuburkan kembali pola-pola hidup Islami pada
seluruh aspek kehidupan. Sebab sistem yang dipakai Islam terbukti telah mampu menjawab semua tantangan
dari masa ke masa.• Mujadid mampu menciptakan perubahan secara mendunia. Seorang pembaharu tidak
boleh lekas puas dengan keberhasilan hanya terbatas pada daerahnya saja, sebab keberhasilan pembaharuan
belumlah selesai sebelum seluruh pelosok negeri merasakan pembaharuan tersebut. Sebab pembaharauan
F. TOKOH2-TOKOH PEMBAHARUAN DALAM DUNIA
ISLAM

- Hasan Al-Banna (perintis negara islam modern)


- Jamaluddin Al-Afghani (jiwa rainesans umat)
- Muhammad Abduh (sang modernis yang tradisional)
- Muhammad Iqbal (filosof agung fari timur)
-Sayyid Amir Ali (pemikir sejarawan muslim modern)