Anda di halaman 1dari 39

ISOLASI

SOSIAL
KELOMPOK 3
KEPERAWATAN JIWA 2
Kelompok III
Fauzia Intan (NH0117037)
Febrianty (NH0117038)
1 Febriyensi Paembonan (NH0117039)
Hardiansyah (NH0117049)

Febryani Mahadjani (NH0117040)


Feiby Bidiastuti (NH0117041)
2 Fenska M. Siahaya (NH0117042)
Huriyah (NH0117050)

Fitri S. Ningsih (NH0117043)


Fransiska Reanita (NH0117044)
3 Gamar H. Kadir (NH0117045)
Iga Juwita Pratiwi (NH0117051)

Gretzia Heatubun (NH0117046)


4 Hajar Aswad (NH0116047)
Hania (NH0117048)
Indah Mayasari (NH0117052)
Konsep Keperawatan
Isolasi Sosial
PENGERTIAN
ISOLASI SOSIAL

Isolasi social adalah keadaan diman Isolasi social merupakan upaya men
a seorang individu yang mengalami ghindari komunikasi dengan orang la
01 penurunan atau bahkan sama sekali
tidak mampu berinteraksi dengan or
02 in karena merasa kehilangan hubun
gan akrab dan tidak mempunyai kes
ang lain di sekitarnya. Pasien mungk empatan untuk berbagi rasa, pikiran,
in merasa di tolak, tidak di terima, da dan kegagalan. Klien mengalami kes
n tidak mampu membina hubungan ulitan dalam berhubungan secara sp
yang berarti dengan orang lain (Keli ontan dengan orang lain yang diman
at, 2006). . (Azizah, L.A. Zainuri, I. A ifestasikan dengan mengisolasi diri, t
kbar, 2016) idak ada perhatian dan tidak sanggu
p berbagi pengalaman. (Yosep, I, H.
Sutini, 2016)
Isolasi social merupakan kondisi kes
03 endirian yang di alami oleh individu
dan diterima sebagai ketentuan oleh
orang lain dan sebagi suatu keadaa
n yang negative dan mengancam. (
Badar, 2016)
ETIOLOGI
Faktor Predisposisi
Faktor Perkembangan
Kemampuan membina hubungan yang sehat (Azizah, L.A. Zainuri, I. Akbar, 2016)
tergntung dari pengalaman selama proses tu
mbuh kembang memiliki tugas yang harus dil
alui individu dengan sukses, karena apabila t Faktor Sosial Budaya
ugas perkembangan ini tidak terpenuhi akan Faktor social budaya dapat menjadi
menghambat perkembangan selanjutnya,
A factor pendukung terjadinya gangg
uan dalam membina hubungan den
gan orang lain, misalnya anggota k
Faktor Biologi
Genetik adalah salah satu factor pend
B D eluarga yang tidak produktif, diasin
gkan dari orang lain.
ukung gangguan jiwa, factor genetic d
apat menunjang terhadap respon soci
al maladaptive ada bukti terdahulu te
C Faktor Komunikasi dalam Keluarga
Pola komunikasi dalam keluarga dapat meng
ntang terlibatnya neurotransmitter dal antarkan seseorang dalam gangguan berhub
am perkembangan gangguan ini nam ungan bila keluarga hanya mengkomunikasik
un tahap masih diperlukan penilitian l an hal- hal yang negative akan mendorong a
ebih lanjut. nak mengembangkan harga diri rendah.
ETIOLOGI
FAKTOR PRESPITASI

(Azizah, L.A. Zainuri, I. Akbar, 2016)

A B C D E

Nature (Alamiah) Origin Timing Number Apparaisal of Stressor


kondisi psikososial baik internal maup gangguan jiwa san Demikian juga den Faktor Kognitif:
tertentu yang mala un eksternal yang gat di tentukan ole gan stressor yang Faktor Afektif
dptive dari individu, berdampak pada p h kapan terjadinya berimplikasi pada k
sangat bergantung sikososial seseora stressor, berapa la ondisi gangguan ji
pada ketahan holist ng. Hal ini karena ma dan frekuensi s wa sangat di tentuk
ic individu tersebut. manusia bersifat u tressor. an oleh banyaknya
nik. stressor pda kurun
wktu tertentu
ETIOLOGI
Isolasi Sosial

Faktor Physiological
A
Isolasi Sosial

Faktor Behavioral B Isolasi Sosial

Isolasi Sosial

Faktor Sosial
C
(Azizah, L.A. Zainuri, I. Akbar, 2016)
TANDA DAN GEJALA
Isolasi Sosial
(Yosep, I, H. Sutini, 2016)

Gejala Subjektif Gejala Objektif


1. Klien menceritakan perasaan kese 1. Klien banyak diam dan tidak mau bic
pian atau di tolak oleh orang lain ara
2. Klien merasa tidak aman berada d 2. Tidak mengikuti kegiatan
engan orang lain 3. Banyak berdiam diri di kamar
3. Respon verbal kurang dan sangat 4. Klien menyindiri dan tidak mau berint
singkat erkasi dengan orang yang terdekat

1. Klien mengatakan hubungan ti 1. Klien tampak sedih, ekspresi datr dan


dak berarti dengan orang lain dangkal
2. Klien merasa bosan dan lamba 2. Kontak mata kurang
t menghabiskan waktu 3. Kurang spontan
3. Klien tidak mampu berkosentra 4. Apatis (acuh terhadap lingkungan)
si dan membuat keputusan 5. Ekspresi wajah kurang berseri

1. Klien merasa tidak berguna 1. Tidak merawat diri dan tidak memperhatik
2. Klien tidak yakin dapat melan an kebersihan diri
gsungkan hidup 2. Mengisolasi diri
3. Klien merasa ditolak 3. Masukan minuman dan makan terganggu
PROSES TERJADINYA MASALAH
Pattern of Parenting (Pola Asuh Kel Inefectieve coping (Koping indiv Lack of Develop ment Task ( Stressor internal and external (stre
uarga) idu tidak efektif) Gangguan Tugas Perkembang ss internal dan eksternal)
an)
Misal : Misal : Misal : Misal :
Pada anak yang kelahirannya tidak Saat individu menghadapi kegag Kegagalan menjalin hubungan Stress terjadi akibat ansietas yang
dikehendaki (unwanted child) akiba alan mengalahkan orang lain, ket intim dengan sesama jenis ata berkepanjangan dan terjadi bersa
t kegagalan KB, hamil diluar nikah, idakberdayaan menyangkal tidak u lawan jenis, tidak mampu m maan dengan keterbatasan kemam
jenis kelamin yang tidak diinginkan mampu menghadapi kenyataan d andiri dan menyelesaikan tuga puan individu untuk mengatasi. A
, bentuk fisik kurang menawan men an menarik diri dari lingkungan. s, bekerja, bergaul, sekolah, m nsietas terjadi akibat berpisah den
yebabkan keluarga mengeluarkan k Terlau tingginya self ideal dan ti enyebabkan ketergantungan p gan orang terdekat, hilang pekerja
omentar-komentar negative, meren dak mampu menerima realitas de ada orang tua, rendahnya keta an atau orang yang dicintai.
dahkan, menyalahkan anak ngan rasa syukur hanan terhadap berbagai kega
galan

Harga Diri Rendah Kronis

(Yosep, I, H. Sutini, 2016)


Isolasi Sosial
PATOFISIOLOGI
Penolakan dari orang lain

Ketidak percayaan diri

Kecemasan & Ketakutan

Putus asa terhadap hubungan dengan orang lain

Sulit dalam mengembangkan berhubungan dengan


orang lain

Menarik diri dari lingkungan (Regresi)

Tidak mampu berinteraksi dengan orang lain

(Azizah, L.A. Zainuri, I. Akbar, 20


16)
ISOLASI SOSIAL
RENTANG RESPON

Respon Adaptif Respon Maladaptif

Curiga
Solitude Aloneless
Manipulasi
Otonomi Dependensi Impulsif
Bekerjasama Menarik diri Narkisisme
Interdependen

(Azizah, L.A. Zainuri, I. Akbar, 2016)


MEKANISME KOPING
Isolasi Sosial

Mekanisme pertahanan diri yang digunakan pada masing-masing gangguan hubungan social dapat bervaria
si, seperti pada pasien curiga adalah regresi, proyeksi, dan represi. Pada klien ketergantungan (dependent)
adalah regresi. Pada manipulative adalah regresi, represi, isolasi, dan klien menarik diri adalah regresi, repr
esi, isolasi social. (Badar, 2016)
PERILAKU (Badar, 2016)

Gangguan Hubungan Sosial Perilaku

Menarik Diri 1. Kurang spontan


2. Apatis (acuh terhadap lingkungan)
3. Ekspresi wajah kurang berseri
4. Tidak merawat diri dan tidak memerhatikan kebersihan diri
5. Tidak ada atau kurang komunikasi verbal
6. Mengisolasi diri
7. Tidak peduli dengan keadaan lingkungan sekitarnya
8. Intake makanan dan minuman terganggu
9. Retensi urine da feses
10. Aktivitas menurun
11. Tidak betenaga
12. Berbaring dengan sikap atau posisi janin
Curiga 1. Tidak mampu memercayai orang lain
2. Bermusuhan (Hostilty)
3. Mengisolasi diri dalam lingkungan sosial
Manipulasi 1. Mengekspresikan perasaan tidak langsung pada tujuan
2. Kurang asertif
3. Sangat tergantung pada orang lain
PENATLAKSANAAN
Prinsip 6 Benar Pemberian Obat

Benar Pasien Benar Obat


Benar pasien” artinya bah Tenaga kesehatan harus me
wa tenaga kesehatan me Pasien Obat mastiakan bahwa obat terse
mberikan obat pada pasi but adalah terapi medis yang
en yang benar. 01 02 benar untuk pasien

Benar Dokumentasi
Benar Dosis
Setelah obat itu di berikan kit Document
Dosis Dosis obat yang diberikan
a harus mendokumentasikan asi harus berdasarkan pedom
dosis, rute, waktu dan oleh si
apa obat itu di berikan,
06 03 an yang direkomendasikan

Benar Jalur Pemberian Obat Benar Waktu


Tenaga kesehatan harus menentu Jalur Waktu Apakah sekarang adalah
kan jalur yang tepat ketika membe waktu yang benar untuk
rikan obat agar tubuh pasien dapa 05 04 memberikan obat pada p
t menyerapnya dengan baik. asien?

(Kamienski. Keogh, 2015)


PENATALAKSANAAN
Farmakoterapi Obat

Dosis

Klopromazin
Efek Samping
75-150 mg – 3x/ha
rii
Kontraindikasi
Efek samping yang seri
ng di timbulkan oleh ob
Indikasi at-obatan psikotik seper
Pasien hipersentivitas (
ti: mengantuk, tremor,
dapat terjadi sensivitas
mata melihat ke atas, k
silang pada gangguan k
Penanganan gangguan aku otot, otot bahu terta
elompok fenotiazin). Ja
psikotik, seperti skizofre rik sebelah, hipersaliva
ngan digunakan jika terj
nia, fase mania pada g si, pergeraka otot tak te
adi SSP; jika terdapat d
anggua bipolar (sampai rkendali.
iskrasia darah; pada pe
litium kerja lambat meni
nyakit Parkinson; atau
mbulkan efek), psikosis (Sutejo, 2017)
pada pasien insufiensi
reaktif singkat, dan gan (Yosep, I, H. Sutini, 2016)
ginjal, hati, atau jantung
gguan skizoafektif. (Mutschler, 2018)
.
PENATALAKSANAAN
Farmakoterapi Obat

Dosis

Trifluoperazin
Efek Samping
20-60 mg 3x/hari
Kontraindikasi
Efek samping yang seri
ng di timbulkan oleh ob
Indikasi at-obatan psikotik seper
Pasien hipersentivitas (
ti: mengantuk, tremor,
dapat terjadi sensivitas
mata melihat ke atas, k
silang pada gangguan k
Penganganan manifest aku otot, otot bahu terta
elompok fenotiazin). Ja
asi gangguan psikotik s rik sebelah, hipersaliva
ngan digunakan jika terj
erta penanganan ansiet si, pergeraka otot tak te
adi SSP; jika terdapat d
as sedang hingga berat rkendali.
iskrasia darah; pada pe
pada pasien nonpsikoti
nyakit Parkinson; atau
k. (Sutejo, 2017)
pada pasien insufiensi
(Yosep, I, H. Sutini, 2016)
ginjal, hati, atau jantung
(Mutschler, 2018)
.
PENATALAKSANAAN
Farmakoterapi Obat

Indikasi

Haloperidol
Efek Samping
Penatalaksanaan psikos
is kronik dan akut; peng
Kontraindikasi
endalian tik dan penguc
Efek samping yang seri
apan vocal pada gangg
ng di timbulkan oleh ob
Dosis uan Tourette; penangan
at-obatan psikotik seper
Pasien hipersentivitas ( an gejala demensia pad
ti: mengantuk, tremor,
dapat terjadi sensivitas a lanjut usia (lansia); pe
mata melihat ke atas, k
silang pada gangguan k ngendalian hiperaktivita
3-6 mg 3x/hari aku otot, otot bahu terta
elompok fenotiazin). Ja s dana masalah perilaku
rik sebelah, hipersaliva
ngan digunakan jika terj berat pada anak-anak.
si, pergeraka otot tak te
adi SSP; jika terdapat d Penggunaan penelitian;
rkendali.
iskrasia darah; pada pe antiemetic (dosis lebih s
nyakit Parkinson; atau edikit dari pengendalian
(Sutejo, 2017)
pada pasien insufiensi perilaku psikotik) serta p
(Yosep, I, H. Sutini, 2016)
ginjal, hati, atau jantung engendaliam situasi psi
(Mutschler, 2018)
. kiatrik akut.
PENATALAKSANAAN
Farmakoterapi Obat

Cara Kerja Obat Yang Di Pengaruhi Obat


Sampai saat ini masih belum di ketahui Obat psikotropik adalah obat ya
bagaimana cara kerja obat-obatan anti ng mempengaruhi fungsi psikis,
psikotik yang memperbaiki manifestasi
kelakuan atau pengalam. Ia beke
skizofrenia. Obat-obatan anti psikotik ti
pikal menghambat reseptor dopamine, rja menekan system saraf pusat
mencegah stimulus pascainap oleh do dan anti psikoikn di sampung itu j
pamine. Selain itu obat-obatan tersebut uga anti emetic, local anestetik, p
juga dapat menekan RAS, menghamb emblok. (Mutschler, 2018)
at stimulus yang masuk ke otak, dan m
emiliki efek antikolinergik, antihistamin,
dan penyekat B adrenergic, yang semu
anya berkaitan dengan penghambatan
sisi reseptor dopamine dan serotonin. (
Keliat, B. D. Pawirowiyono, 2017)
PENATALAKSANAAN
TERAPI SOMATIK

Terapi Individual
Dengan terapi individulal perawat
menjalin hubungan saling percaya
dengan klien agar tercipta rasa trus
t kepada perawat.

(Azizah, L.A. Zainuri, I. Akbar, 2016)

Terapi Kognitif Terapi Kelompok


Karena klien mempunyai persepsi Karena klien cenderung menarik dir
dan pemikiran yang negative/salah, i dan tidak bersosialisasi, diperluka
diperlukan terapi kognitif untuk mer n terapi kelompok agar klien dapat
ubah hal tersebut. berinteraksi dengan orang lain
Proses Keperawatan
Isolasi Sosial
PENGKAJIAN
Data Fokus

Orang yang berarti bagi


pasien….. A
Hubungan Sosial
Peran serta dalam kegia
tan berkelompok atau m
asyarakat
B Hubungan Sosial

Hubungan Sosial

Hambatan berhubungan
dengan orang lain C
(Keliat, A, B. Akemat, 2019)
PENGKAJIAN
Masalah Keperawatan Yang Kemungkinan Muncul

• Isolasi social (Yosep, I, H. Sutini, 2016)


• Harga diri rendah kronis A
• Perubahan persepsi senso B • Koping individu tidak efektif
ri : Halusinasi
• Koping keluarga tidak efek C • Intoleransi aktifitas
tif

D •

Defisit perawatan diri
Resiko tinggi mencederai
diri, orang lain, dan lingku
ngan
PENGKAJIAN
(Badar, 2016) Analisa Data
DATA PENGKAJIAN MASALAH KEPERAWATAN
Data Subjektif:
 Pasien mengatakan ia tidak mem Isolasi Sosial
iliki banyak teman dan malas unt
uk berkenalan
 Pasien mengatakan ia lebih suka
sendiri dari pada beramai-ramai
Data Objektif
 Pasien terlihat menyendiri
 Pasien terliha murung dan suka
melamun
PENGKAJIAN
Pohon Masalah
(Badar, 2016)

Resiko Gangguan Persepsi : Halusinasi Effect

Isolasi Sosial Core


Problem

Harga Diri Rendah Caused


DIAGNOSA KEPERAWATAN

Keliat mengatakan bahwa setelah dilakukan


pengkajian, maka dirumuskanlah masalah k
eperawatan yaitu isolasi social (sekaligus me
1 njadi diagnose keperawatan). (Keliat, A, B. A
kemat, 2019)

4
INTERVENSI
Isolasi Sosial
NO Pasien Keluarga
SPIP SPIK
1 Identifikasi penyebab isolasi social siapa yang serumah, siapa yang de Diskusikan masalah yang dirasakan dala
kat, yang tidak dekat, dan apa sebabnya. m merawat pasien

2 Keuntungan punya teman dan bercakap- cakap Jelaskan pengertian tanda dan gejala, da
n proses terjadinya isolasi social

3 Kerugian tidak punya teman dan tidak bercakap-cakap Jelaskan cara merawat isolasi social

4 Latih cara berkenalan dengan pasien dan perawat atau tamu Latih dua cara merawat berkenalan, ber
bicara saat melakukan kegiatan harian

5 Masukan pada judul kegiatan untuk latihan berkenalan Anjurkan membantu pasien sesuai jadua
(Azizah, L.A. Zainuri, I. Akbar, 2016) l dan memberikan pujian saat besuk
INTERVENSI
SPIIP SPIIK
1 Evaluasi kegiatan berkenalan (berapa Evaluasi kegiatan keluarga dalam merawa
orang). Beri pujian t/melatih pasien berkenalan dan berbicara
saat melakukan kegiatan harian Beri pujia
n
2 Latihan cara berbicara saat melakukan Jelaskan kegiatan rumah tangga yang dap
harian (latihan 2 kegiatan) at melibatkan pasien berbicara (makan, sh
olat bersama) di rumah
3 Masukkan pada jadual kegiatan untuk Latih cara membimbing pasien berbicara
latihan berkenalan 2-3 orang pasien pe dan memberi pujian
rawat dan tamu berbicara saat melaku
kan kegiatan harian
(Azizah, L.A. Zainuri, I. Akbar,
4 Anjurkan membantu pasien sesuai jadual
2016)
besuk
INTERVENSI
SPIIIP SPIIIK
1 Evaluasi kegiatan latihan berkenalan ( Evaluasi kegiatan keluarga dalam merawa
berapa orang) dan bicara saat melakuk t/melatih pasien berkenalan, berbicara saat
an dua kegiatan harian. Beri pujian melakukan kegiatan harian. Beri pujian
2 Latih cara berbicara saat melakukan k Jelaskan cara melatih pasien melakukan k
egiatan harian (2 kegiatan baru) egiatan social seperti berbelanja meminta
sesuatu dll
3 Masukkan pada jadwal kegiatan untuk Latih keluarga mengajak pasien belanja sa
latihan berkenalan 4-5 orang, berbicar at besuk
a saat melakukan 4 kegiatan harian
4 Anjurkan membantu pasien sesuai jadwal
dan berikan pujian saat besuk
(Azizah, L.A. Zainuri, I. Akbar, 2016)
INTERVENSI
SPIVP SPIVK
Evaluasi kegiatan latihan berkenalan Evaluasi kegiatan keluarga dalam meraw
bicara saat melakukan empat kegiatan at/melatih pasien berkenalan, berbicara sa
harian. Beri pujian at melakukan kegiatan harian/RT, berbela
nja. Beri pujian
Latih cara bicara social: meminta sesu Jelaskan follow up ke RSJ/PKM,tanda ka
atu, menjawab pertanyaan mbuh, rujukan
Masukkan pada jadual kegiatan untuk Anjurkan membantu pasien sesuai jadwal
latihan berkenalan >5 orang, orang b kegiatan dan memberikan pujian
aru, berbicara saat melakukan kegiata
n harian dan sosialisasi
(Azizah, L.A. Zainuri, I. Akbar, 2016)
INTERVENSI
SPVP SPVK
1 Evaluasi kegiatan latihan berkenala Evaluasi kegiatan keluarga dalam mera
n, berbicara saat melakukan kegiata wat/melatih pasien berkenalan, berbica
n harian dan sosialisasi. Beri pujian ra saat melakukan kegiatan harian/RT,
berbelanja dan kegiatan lain dan follow
up beri pujian
2 Latih kegiatan harian Nilai kemampuan keluarga merawat pa
sien
3 Nilai kemampuan yang telah mandi Nilai kemampuan keluarga melakukan
ri kontrol ke RSJ/PKM
4 Nilai apakah isolasi social teratasi
(Azizah, L.A. Zainuri, I. Akbar, 2016)
IMPLEMENTASI
Isolasi Sosial

Merupakan insiatif dan rencana tindakan untuk tujuan


yang spesifik. Tahap pelaksanaan dimulai setelah ren
cana tindakan di susun dan ditunjukan pada nursing
orders untuk membantu klen mencapai tujuan yang d
iharapkan. Oleh karena itu rencana tindakan yang sp
esifik dilaksanakan untuk memodifikasi factor-faktor y
ang memengaruhi masalah kesehatan klien. (Febrian
a, D, 2017)
IMPLEMENTASI
Isolasi Sosial

1. SP I Pasien : Membina hubungan saling percaya,


membantu pasien mengenal penyebab isolasi so
cial, membantu pasien mengenal keuntungan ber
hubungan dan kerugian tidak berhubungan deng
an orang lain, dan mengajarkan pasien berkenal
an
2. SP II Pasien: Mengevaluasi cara berkenalan pasi
en, latihan cara berbicara saat melakukan harian
(Azizah, L.A. Zainuri, I. Akbar, 2016)
IMPLEMENTASI
Isolasi Sosial

1. SP III Pasien:Mengajarkan pasien berinteraksi secara bertaha


p dengan orang pertama - perwata dan mengevaluasi kegiatan
latihan berkenalan (berapa orang) dan bicara saat melakukan
dua kegiatan harian. Dan memberi pujian
2. SP VI Pasien: Melatih cara bicara social: meminta sesuatu, me
njawab pertanyaan dan mengevaluasi kegiatan latihan berken
alan (berapa orang) dan bicara saat melakukan empat kegiata
n harian. Dan memberi pujian
3. SP V Pasien: Melatih pasien seperti sp sebelumnya, dan menil
ai kemampuan yang telah mandii
(Azizah, L.A. Zainuri, I. Akbar, 2016)
IMPLEMENTASI
Isolasi Sosial

1. SP I Keluarga: Memberikan penyuluhan kepada keluarga tenta


ng masalah isolasi social, penyebab, dan cara merawat pasien
dengan isolasi social
2. SP II Keluarga: Melatih keluarga mempraktekan cara merawat
pasien dengan masalah isolasi social langsung di hadapan pas
ien
3. SP III Keluarga: Menjelaskan cara melatih pasien melakukan k
egiatan social seperti berbelanja meminta sesuatu dll, melatih
keluarga mengajak pasien belanja saat besuk

(Azizah, L.A. Zainuri, I. Akbar, 2016)


IMPLEMENTASI
Isolasi Sosial

1. SP VI Keluarga: Menjelaskan follow up ke RSJ/PKM,tan


da kambuh, rujukan
2. SP V Keluarga: Mengevaluasi kegiatan keluarga dalam
merawat/melatih pasien berkenalan, berbicara saat mel
akukan kegiatan harian/RT, berbelanja dan kegiatan lai
n dan follow up, dan menilai kemampuan keluarga mera
wat pasien

(Azizah, L.A. Zainuri, I. Akbar, 2016)


EVALUASI
Isolasi Sosial

Perencanaan evaluasi memuat criteria keberhasilan proses dan keberhasilan intervensi.


Keberhasilan proses dapat dilihat dengan jalan membandingkan antara proses dengan p
edoman/rencana proses tersebut. Sedangkan keberhasilan tindakan dapat dilihat dengan
membandingkan antara tingkat kemandirian pasien dalam kehidupan sehari-hari dan ting
kat kemajuan kesehatan pasien dengan tujuan yang telah dirumuskan sebelumnya. Meto
de penulisan evaluasi keperawatan dalam progress notes/catatan perkembangan pasien
dapat dilakukan dengan pendekatan SOAP: (Febriana, D, 2017)

a. S (Subjective): adalah informasi berupa ungkapan yang didapat dari klien setelah tind
akan diberikan
b. O (Objective): adalah hasil yang di dapat berupa pengamatan, penilaian, pengukuran
yang dilakukan oleh perawat setelah tindakan dilakukan
c. A (Analysis): adalah membandingkan anatar informasi subjektif dan objektif dengan tu
juan dan criteria hasil, kemudian di ambil kesimpulan bahwa masalah teratasi, teratasi
sebagian, atau tidak teratasi.
d. P (Planing): adalah rencana keperawatan SP Pasien dan Keluarga lanjutan yang aka
n dilakukan berdasarkan hasil analisa. (Febriana, D, 2017)
YANG DI HARAPKAN UNTUK PASIEN & KELUARGA
Isolasi Sosial

01 Pasien 02
Keluarga
Pasien mampu bercakap-ca Keluarga dapat mer
kap dengan orang lan, pasie awat pasien degan
n mampu bekerja sama den
masalah isolasi soci
gan orang lain serta menya al langsung dihada
mpaikan dan membicarakan pan pasien. (Azizah
masalah pribadinya dengan , L.A. Zainuri, I. Akb
orang lain. (Keliat, A, B. Ake ar, 2016)
mat, 2019)
TERAPI KELOMPOK YANG SESUAI
Isolasi Sosial

Terapi aktifitas yang cocok untuk klien isolasi social yaitu terapi aktivitas kelompok sosiali
sasi (TAKS). Hal tersebut dikarenakan klien sering menyendiri ( menghindar dari orang lai
n), komunikasi berkurang (bicara apabila ditanya,jawaban singkat), berdiam diri di kamar
dalam posisi meringkuk, tidak melakukan kegiatan sehari-hari, wajah tampak sedih dan s
ering menunduk yang menunjukkan bahwa klien mengalami masalah dalam hubungan so
cial ( isolasi social). Oleh karena itu terapi aktivitas kelompok sosialisasi (TAKS) cocok un
tuk memfasilitasi kemampuan klien dengan masala hubungan social agar klien dapat ber
sosialisasi kembali dengan orang lain maupun lingkungannya serta dapat meningkatkan
hubungan interpersonal dan kelompok. (Azizah, L.A. Zainuri, I. Akbar, 2016)

1. Sesi 1: kemampuan memperkenalkan diri


2. Sesi 2: kemampuan berkenalan
3. Sesi 3: kemampuan bercakap-cakap
4. Sesi 4: kemampuan bercakap-cakap topik tertentu
5. Sesi 5: kemampuan bercakap-cakap masalah pribadi
6. Sesi 6: kemampuan bekerjasama
7. Sesi 7: evaluasi kemampuan sosialisasi
(Keliat, B. D. Pawirowiyono, 2017)
Thank you
Any Questions ?