Anda di halaman 1dari 15

BAGIAN ILMU FORENSIK DA MEDIKOLEGAL

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

Refarat

Kaku Mayat
Oleh :
Ekarisma Faradita Wardihan
11120172027

Pembimbing :
Dr. Denny Mathius, Sp.F, M, Kes

2019
Definisi
 Kaku mayat atau rigor mortis atau postmortem regidity adalah
kekakuan yang terjadi pada otot setelah periode pelemasan atau
relaksasi primer.

 Kaku mayat mulai terdapat sekitar 2 jam post mortal dan


mencapai puncaknya setelah 10 – 12 jam post mortal, keadaan
ini akan menetap selama 24 jam, dan setelah 24 jam kaku mayat
mulai menghilang sesuai dengan urutan terjadinya.
Kaku mayat terjadi secara bertahap dan sifat yang tidak
konstan, simetris maupun regular.
Perubahan yang terjadi setelah
kematian :
Periode Relaksasi Primer (Flaksiditas Primer)
• Otot-otot lemas
• Berlangsung 2-3 jam
Rigor Mortis
• Kaku mayat belm lengkap (3 jam)
• Urutan : M. Orbicularis oculi, kemudian otot-otot rahang bawah, otot
leher, ekskremitas atas, thorax, andomen dan eksremitas bawah.
• Kaku mayat lengkap (12 jam)
• Kaku mayat mulai menghilang ( 16 jam)
Periode Relaksasi sekunder
Patomekanisme
Faktor-faktor yang • Suhu / temperatur

memepengaruhi •
Kondisi otot sebelum mati
Kondisi fisiologis sebelum mati
kaku mayat • Kondisi sistem saraf pusat
Waktu terjadinya :
• Kurang dari 3 – 4 jam post mortem : belum terjadi rigor mortis
• Lebih dari 3 – 4 jam post mortem : mulai terjadi rigor mortis
• Rigor mortis maksimal terjadi 12 jam setelah kematian
• Rigor mortis dipertahankan selama 12 jam
• Rigor mortis menghilang 24 – 36 jam post mortem
Aspek Medikolegal Pada Rigor
Mortis
• Kegunaan pemeriksaan kaku mayat :
• Tanda pasti kematian.
• Dapat memperkirakan waktu atau saat kematian.
• Dapat memperkirakan atau melihat adanya tanda –
tanda manipulasi.
• Dapat memperkirakan penyebab (walaupun sulit).
• Dapat memperkirakan posisi
Diagnosis bandng kaky mayat
• Heat Stiffening
• Cold stiffening
• Cadaver spasme
Head stiffening
• Keadaan ini terjadi jika mayat terpapar oleh suhu yang lebih tinggi
>75oC atau mayat terkena arus listrik yang bertegangan tinggi,
• Keadaab di atas akan menyebabkan koagulasi dari protein otot
sehingga menyebabkan kaku.

• Pada kasus terbakar, keadaan mayat akan menunjukkan postur


tertentu yakni sikap puglistrik atau defensif, yaitu suatu posisi
dimana semua sendi dalam keadaan fleksi dan tangan terkepal.
Cold stiffening
• Kekakuan tubuh akibat lingkungan dingin (dibawah 3,5oC atau 40oF),
sehingga terjadi pembekuan cairan tubuh, termasuk cairan sendi,
pemadatan jaringan lemak subkutan dan otot, bila cairan sendi yang
membeku menyebabkan sendi tidak dapat digerakan.

• Bila sendi di bengkokkan secara paksa maka akan terdengar suara es


pecah. Dan mayat yang kaku ini akan menjadi lemas kembali bila
diletakkan ditempat yang hangat, kemudian rigor mortis akan terjadi
dalam waktu yang sangat singkat
Cadaveric Spasm
• Bentuk kekakuan otot yang terjadi pada saat kematian dan menetap.
Cadaveric spasme sesungguhnya merupakan kaku mayat yang timbul
dengan intensitas sangat kuat tanpa didahului oleh relaksasi primer.
Penyebabnya adalah akibat habisnya cadangan glikogen dan ATP yang
bersifat setempat pada saat mati klinis karena kelelahan atau emosi yang
hebat sesaat sebelum meninggal
Thank you.