Anda di halaman 1dari 8

Pengakit Jantung

Bawaan (PJB)

Oleh :
PSIK UB
PSIK UMM
D3 POLTEKES
D4 POLTEKES
D3 SUPRAON
D3 GENGGONG
D3 BANYUWANGI
D3 NTB
Penyakit Jantung Bawaan (PJB) adalah penyakit
jantung yang dibawa sejak lahir, karena sudah terjadi ketika
bayi masih dalam kandungan. Pada akhir kehamilan 7
minggu, pembentukan jantung sudah lengkap, jadi
kelainan pembentukan jantung terjadi pada awal
kehamilan.
Kelainan jantung kongenital atau bawaan adalah kelainan jantung
atau malformasi yang muncul saat kelahiran, selain itu kelainan jantung
kongenital merupakan kelainan anatomi jantung yang dibawa sejak dalam
kandungan sampai dengan lahir Kebanyakan kelainan jantung kongenital
meliputi malformasi struktur di dalam jantung maupun pembuluh darah
besar, baik yang meninggalkan maupun yang bermuara pada jantung
(Nelson, 2000). Kelainan ini merupakan kelainan bawaan tersering pada
anak, sekitar 8-10 dari 1.000 kelahiran hidup.
Sebab-sebab kelainan jantung bawaan dapat bersifat
eksogen, atau endogen.
• a. Eksogen : infeksi rubella atau penyakit virus lain,
obat-obat yang diminum ibu (misalnya thalidomide),
radiasi dan sebagainya yang dialami ibu pada kehamilan
muda dapat merupakan faktor terjadinya kelainan
jantung kongenital. Diferensiasi lengkap susunan jantung
terjadi pada kehamilan bulan kedua. Faktor eksogen
mempunyai pengaruh terbesar terhadap terjadinya
kelainan jantung dalam masa tersebut.
• b. Endogen : Faktor genetik/kromosom
memegang peranan kecil dalam terjadinya
kelainan jantung congenital (Prawirohardjo, 1999).
Gejala dari gagal jantung berupa menurut Sudarti dan Endang
(2010) adalah sebagai berikut:
1. Napas cepat
2. Sulit makan dan menyusu
3. Berat badan rendah
4. Infeksi pernapasan berulang
5. Toleransi gerak badan yang rendah
Ada empat hal gejala yang paling sering
ditemukan pada neonatus dengan PJB, yaitu:

• Sianosis: adalah manifestasi jelas PJB pada neonatus. Sekali dinyatakan


sianosis sentral bukan akibat kelainankelainan paru-paru, serebral atau
metabolik atau kejadiankejadian perinatal, maka perlu segera diperiksa
untuk mencari PJB derajat berat walaupun tanpa bising jantung.
• Takipnea: Takipnea adalah tanda yang biasa ditemukan pada bayi dengan
shunt kiri-kanan (misal Ventricular Septal Defect atau PatentDuctus
Arteriosus), obstruksi vena Pulmonalis (anomali total aliran vena
pulmonalis) dan kelainan lainnya dengan akibat gagal jantung misalnya
pada dugaan secara diagnosa klinik,adanya Aorta koarktasi dimana pulsasi
nadi femoralis melemah/tidak teraba.
• Frekuensi jantung abnormal: takikardia atau bradikardia
• Bising jantung (Irwanto, 2008).
1. Tata laksana Konservatif
Restriksi cairan dan pemberian obat-obatan; Furosemid (lasix) diberikan bersama
restriksi cairan untuk meningkatkan diuresis dan mengurangi efek kelebihan beban
kardiovaskuler, pemberian Indomethacin (Inhibitor prostaglandin) untuk
mempermudah penutupan duktus, pemberian antibiotik profilatik untuk mencegah
endokarditis bakterial.
2. Tata laksana pembedahan
Pemotongan atau pengikatan duktus
3. Tatalaksana Non-pembedahan
Penutupan dengan alat penutup dilakukan pada
waktu kateterisasi jantung.