Anda di halaman 1dari 37

REFLEKSI KASUS

ABSES BARTOLINI

PEMBIMBING KLINIK
Dr. Daniel Saranga, Sp. OG

Ribka Elda Patandianan


PENDAHULUAN
• Kista Bartholin dan abses Bartholin merupakan masalah umum pada
wanita usia reproduksi. Kelenjar Bartholin terletak bilateral di
posterior introitus dan bermuara dalam vestibulum pada posisi arah
jam 4 dan 8. Kelenjar ini biasanya berukuran sebesar kacang dan
tidak teraba kecuali pada keadaan penyakit atau infeksi.
• Penyebab dari kelainan kelenjar Bartholin adalah tersumbatnya
bagian distal dari duktus kelenjar yang menyebabkan retensi dari
sekresi, sehingga terjadi pelebaran duktus dan pembentukan kista.
Kista tersebut dapat menjadi terinfeksi, dan selanjutnya
berkembang menjadi abses.
• Kista bartholin bila berukuran kecil sering tidak menimbulkan gejala.
Dan bila bertambah besar maka dapat menimbulkan dispareunia.
TINJAUAN PUSTAKA

DEFINISI PENATALAKSANAAN

ETIOLOGI KOMPLIKASI

TANDA DAN GEJALA PROGNOSIS

DIAGNOSIS KASUS
DEFINISI
Kista bartholini adalah kista yang terdapat pada kelenjar bartholini. Kista
kelenjar Bartholin terjadi ketika kelenjar ini menjadi tersumbat. Kelenjar
Bartolini bisa tersumbat karena berbagai alasan, seperti infeksi,
peradangan atau iritasi jangka panjang
ETIOLOGI
• Kista Bartolini berkembang ketika saluran keluar dari kelenjar
Bartolini tersumbat. Penyebab penyumbatan diduga akibat infeksi
atau adanya pertumbuhan kulit pada penutup saluran kelenjar
bartholini.

Infeksi
• Sejumlah bakteri dapat menyebabkan infeksi, termasuk
bakteri yang umum, seperti Escherichia coli (E. coli), serta
bakteri yang menyebabkan penyakit menular seksual seperti
chlamydia dan gonorrhoeae
Non infeksi
• Stenosis / atresia congenital
• Trauma mekanik
TANDA DAN GEJALA
• Pasien dengan kista dapat memberi gejala
berupa pembengkakan labia tanpa disertai nyeri.
• Hasil pemeriksaan fisik yang dapat diperoleh
dari pemeriksaan terhadap kista Bartholin adalah
sebagai berikut:
– Pasien mengeluhkan adanya massa yang tidak
disertai rasa sakit, unilateral, dan tidak disertai
dengan tanda – tanda selulitis di sekitarnya.
– Discharge dari kista yang pecah bersifat
nonpurulent
DIAGNOSIS

ANAMNESIS
• Pada anamnesis dinyatakan tentang gejala seperti panas, gatal,
Sudah berapa lama gejala berlangsung, kapan mulai muncul,
Apakah pernah berganti pasangan seks, keluhan saat
berhubungan, riwayat penyakit menulat seksual sebelumnya,
riwayat penyakit kelamin pada keluarga.

PEMERIKSAAN FISIK
• Pada pemeriksaan fisis dengan posisi litotomi, kista terdapat di
bagian unilateral, nyeri, fluktuasi dan terjadi pembengkakan yang
eritem pada posisi jam 4-5 atau 7-8 pada labia minus posterior.
PENATALAKSANAAN
• Pengobatan kista Bartholin bergantung pada gejala
pasien. Suatu kista tanpa gejala mungkin tidak
memerlukan pengobatan.
• Pengobatan non medikamentosa
– Pembedahan
• pembedahan berupa insisi + word catheter
• Marsupialisasi
• Ekstirpasi / Eksisi
Wod Catheter

• Indikasi : Kista bartholini


• Keuntungan :
– Minimal trauma, nyeri sedikit
– Coitus tidak terganggu
– Tindakan sederhana
MARSUPIALISASI

• Indikasi : Kista bartholin kronik dan berulang

• Keuntungan :
– Komplikasi < dari ekstirpasi
– Fungsi lubrikasi dipertahankan

• Kerugian: Rekurensi 10-15% karena


penutupan dan fibrosis orifisium
Eksisi/Ekstirpasi
• Indikasi :
– Abses/kista persisten
– Abses/kista rekuren
– Terdapat indurasi pada basal kista yang sulit
dicapai dengan marsupialisasi
– Kista pada usia > 40 tahun (dapat menjadi
ganas)
• Keuntungan : Kecil kemungkinan rekuren
MEDIKAMENTOSA
Ceftriaxone
• Dosis yang dianjurkan: 125 mg IM sebagai single dose .

Ciprofloxacin
• Dosis yang dianjurkan: 250 mg PO 1 kali sehari.

Doxycycline
• Dosis yang dianjurkan: 100 mg PO 2 kali sehari selama 7 hari

Azitromisin
• Digunakan untuk mengobati infeksi ringan sampai sedang yang
disebabkan oleh beberapa strain organisme.
KOMPLIKASI

Komplikasi yang paling umum dari


abses Bartholin adalah
kekambuhan.
PROGNOSIS

Jika abses dengan didrainase dengan


baik dan kekambuhan dicegah,
prognosisnya baik. Tingkat
kekambuhan umumnya dilaporkan
kurang dari 20%.
KASUS
• Tanggal Pemeriksaan : 16 Juni206
• Ruangan : Pav. Kasuari Atas RSU Anutapura Jam : 13.15 WITA

• IDENTITAS
• Nama : Nn. N.R
• Umur : 20 tahun
• Alamat : Ds. Kamarora B. Kec. Nokilalaki Sigi, Biromaru
• Pekerjaan :-
• Agama : Islam
• Pendidikan : SMK
• Status Perkawinan :Belum Menikah
• ANAMNESIS

• HPHT : ? - 05- 2016 Menarche : 14 tahun


• TP : - Lama Haid : 5 hari
Jumlah darah haid : 3 kali ganti
pembalut

• Keluhan Utama : Pasien datang ke IGD KB RSU Anutapura dengan


keluhkan adanya benjolan besar di daerah bibir kemaluan sebelah
kiri dialami sejak 3 hari sebelum masuk Rumah Sakit. Awalnya
benjolan berukuran kecil dan lama kelamaan semakin membesar.
Pasien merasakan nyeri pada benjolan saat pasien duduk dan
beraktivitas. Ada pengeluaran darah dari daerah yang bengkak.
Demam (-), pusing (-), sakit kepala (-), mual (-), muntah (-). BAK
dan BAB lancar. Riwayat coitus 2 bulan yang lalu.
• Riwayat Penyakit Dahulu : Pasien belum pernah
mengalami keluhan yang sama sebelumnya.
• PEMERIKSAAN FISIK
• KU : Sedang
• Kesadaran : Kompos mentis
• TD : 110/80 mmHg Nadi : 80 kali/menit
• Respi : 20 kali/menit Suhu : 36,7ºC
• TB : 150 cm BB : 50 kg

• Kepala – Leher :
• Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterus (-/-), edema
palpebra (-/-), pembesaran KGB (-), pembesaran
kelenjar tiroid (-).
• Thorax :
• I :Pergerakan thoraks simetris, sikatrik (-)
• P :Nyeri tekan (-), massa tumor (-)
• P :Sonor pada kedua lapang paru, pekak pada area
jantung, batas jantung DBN
• A :Bunyi pernapasan vesikular +/+, rhonki -/-,
wheezing -/-. Bunyi jantung I/II murni regular

• Genitalia :
Tampak benjolan pada daerah labia minora sinista
dengan ukuran 9 x 5 cm, massa kistik, hiperemis (-),
nyeri tekan (-), tidak ada discharge
• PEMERIKSAAN PENUNJANG
• Darah Lengkap tanggal 15-06-2016 (saat di IGD KB)

• Parameter Nilai Normal Hasil


• WBC 4.0-12 x 103/ µl 13.95
• RBC 4.0-6.2 x 106/ µL 3.07
• Hb 11-17 g/dL 10.1
• HCT 35-55% 26.7
• PLT 150-400 x 103/µL 259
• CT 4-10 menit 7 menit
• BT 1-5 menit 3menit
RESUME
• Wanita, 20 tahun Pasien datang ke IGD KB RSU
Anutapura dengan keluhkan adanya benjolan besar di
daerah labio minor sinistra dialami sejak 3 hari sebelum
masuk Rumah Sakit. Awalnya benjolan berukuran kecil
dan lama kelamaan semakin membesar. Pasien
merasakan nyeri pada benjolan saat pasien duduk dan
beraktivitas. Ada pengeluaran darah dari daerah yang
bengkak. BAK dan BAB lancar. Riwayat coitus 2 bulan
lalu. Ini kali pertama pasien menyalami keluhan.
RESUME
• Tekanan darah 110/80 mmHg, nadi 80 x/menit,
pernapasan 20 x/menit, suhu 36,7ºC. Konjungtiva
anemis (-/-). Pada pemeriksaan genitalia tampak
benjolan pada daerah labia minora sinista dengan
ukuran 9 x 5 cm, massa kistik, hiperemis (+), nyeri
tekan (+), tidak ada discharge. Pemeriksaan
laboratorium WBC 13.95 x 103/ µL meningkat.
• DIAGNOSIS

Kista Bartolini Sinistra

• PENATALAKSANAAN
• IVFD RL 28 tpm
• Inj. Ceftriaxinone 1gr/12jam/IV
• Inj. Ranitidin 1ampul/8jam/IV
• Inj. Ketorolac 1ampul/8jam/IV
• Siapkan darah 2 bag Whole blood
• Rencana Marsupialisasi
FOLLOW UP
Hari ke-1, Kamis 16 juni 2016 jam 08:00
• S. Nyeri pada bagian kemaluan, nyeri ulu hati (-), pusing (-),
mual (-), sesak (–), muntah (-), BAB (+), BAK (+)
• O. Keadaan umum : Baik
Konjungtiva anemis -/-
TD : 100/60 MmHg S : 36.7 ºC
P : 20x/ menit N : 82 x/menit
• A. Kista bartolini sinistra
• P. IVFD RL 28 tpm
Inj. Ceftriaxone 1gr/12jm/Iv
Inj. Ranitidine 1amp/8jm/Iv
Inj. Ketorolac 1amp/8jm/Iv
Foto Kasus
FOLLOW UP
Hari ke-2, Jumat, 17 juni 2016 jam 08:00
• S. Nyeri pada bagian kemaluan, nyeri ulu hati (-), pusing (-),
mual (-), sesak (–), muntah (-), BAB (+), BAK (+)
• O. Keadaan umum : Baik
Konjungtiva anemis -/-
TD : 90/60 MmHg S : 36.7 ºC
P : 20x/ menit N : 82 x/menit
• A. Kista bartolini sinistra
• P. IVFD RL 28 tpm
Inj. Ceftriaxone 1gr/12jm/Iv
Inj. Ranitidine 1amp/8jm/Iv
Inj. Ketorolac 1amp/8jm/Iv
Rencana Op besok (tgl: 18 juni 2016)
FOLLOW UP
Hari ke-3, Sabtu 18 juni 2016 jam 08:00
• S. Nyeri pada bagian kemaluan, nyeri ulu hati (-), pusing (-),
mual (-), sesak (–), muntah (-), BAB (+), BAK (+)
• O. Keadaan umum : Baik
Konjungtiva anemis -/-
TD : 100/60 MmHg S : 36.7 ºC
P : 20x/ menit N : 82 x/menit
• A. Kista bartolini sinistra
• P. IVFD RL 28 tpm
Rencana marsupialisasi hari ini.
Marsupialisasi dilakukan pukul 11.50
Marsupialisasi dilakukan pukul 11.50
Marsupialisasi dilakukan pukul 11.50
• Laporan operasi
– Baringkan pasien dalam posisi litotomi dibawah pengaruh anstesi spinal
– Bersihkan vulva dan vagina dengan betadine
– Pasang dock steril
– Mengidentifikasi labia minora sinistra tampak kista bartolini yang pecah
– Dilakukan insisi pada benjolan dengan panjang ± 5 cm
– Dikeluarkan sisah cairan kista ± 10 cc berwarna coklat
– Spooling kantung kista dengan NaCl 0.9% + Betadine
– Kontrol perdarahan
– Kemudian dinding kista didekatkan dengan kulit menggunakan benang 3.0 dan
dijahit dengan metode interrupted
– Menutup luka dengan kasa steril
– Operasi selesai

• Instruksi post kuretase


• IVFD RL 28 tpm
• Inj. Ceftriaxone 1gr/12 jam/IV
• Inj. Ketorolac 1 ampul/8 jam/ IV
• Inj. Ranitidin 1 ampul/8jam/IV
FOLLOW UP
Hari ke-5. Senin, 20 juni 2016 jam 08:00
• S. Nyeri bekas jahitan, nyeri ulu hati (-), pusing (-), mual (-),
sesak (–), muntah (-), BAB (+), BAK (+)
• O. Keadaan umum : Baik
Konjungtiva anemis -/-
TD : 100/70 MmHg S : 36.7 ºC
P : 18x/ menit N : 82 x/menit
• A. Post Op. Marsupialisasi H2 a/i kista bartolini sinistra
• P. Cefadroxil 2x1
Metronidazole 3x1
Nonflamine 2x1
Neurodex 2x1
PEMBAHASAN

Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik


yang didapatkan sesuai dengan teori
mengenai tanda dan gejala kista bartholini
yang telah terinfeksi. Tanda kista bartholini
yang terinfeksi berupa penonjolan yang
nyeri pada salah satu sisi vulva disertai
kemerahan atau pambengkakan pada daerah
vulva.
• Jika kista terinfeksi, gajala klinik berupa :
– Nyeri saat berjalan, duduk, beraktifitas fisik
atau berhubungan seksual.
– Umunnya tidak diserati demam kecuali jika
terifeksi dengan organisme yang ditularkan
melalui hubungan seksual.
– Biasanya ada sekret di vagina.
– Dapat terjadi ruptur spontan (nyeri yang
mendadak mereda, diikuti dengan timbulnya
discharge).
Pada kasus ini, dari gejala klinis yang di
dapatkan menunjukkan bahwa kista pada
pasien ini telah terinfeksi ditandai adanya nyeri
terutama saat duduk dan berjalan penangan
yang dilakukan pada pasien ini hanyalah
diberikan antibiotik serta antinyeri dan
dianjurkan untuk dilakukan marsupialisasi.
Banyak literatur menyebutkan tindakan
marsupialisasi hanya digunakan pada kista
bartholini. Namun sekarang digunakan juga
untuk abses kelenjar bartholin karena memberi
hasil yang sama efektifnya.
Terapi yang diberikan untuk mengobati
infeksi dan gejalanya sesuai dengan teori
antibiotik yang bisa digunakan adalah antibiotik
yang berspektrum luas dan diberikan antinyeri
untuk mengurangi keluhan nyeri.
pada pasien ini. Diberikan terapi sebelum
operasi antibiotik Inj. Ceftriaxone 1 gram/12
jam/IV. kemudian antinyeri Inj. Ketorolac 1
Ampul/8jam/IV dan Inj. Ranitidine 1
Ampul/8jam/IV. Setelah operasi obat antibiotik
yang diberikan Cefadroxil 2 x 1, metronidazole
3 x 1, serta obat antinyeri Nonflamin 2x1 dan
neurodex 2x1 untuk vitamin
Penyebab terjadinya kista bartholini pada
pasien ini adalah karena adanya sumbatan
pada kelenjar bartholini yang bisa
disebabkan oleh faktor personal hygine
pasien itu sendiri (kurang menjaga
kebersihan daerah kemaluan dan riwayat
coitus 2 bulan yang lalu), hal ini bisa
menjadi faktor risiko dari kista bartholini
yang dideritanya saat ini.
DAFTAR PUSTAKA
• Anonym. Bartholin's cyst. 2010. Available from:
http://en.wikipedia.org/wiki/Bartholin%27s_cyst
• Cunnningham, F.G., et al. Sexual Transmitted Diseas Dalam William
obstetrics edisi 22. 2005. USA: McGraw-Hill comp. inc
• Folashade omole, et al. American family physician. Management of
bartholin’s duct cyst and gland abscess. Am fam
physician. 2003 jul 1;68(1):135-140. Morehouse School Of Medicine,
Atlanta, Georgia
• Linda J. Vorvick, MD et al. 2010. Bartholin’s abscess. Available from:
http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/001489.html
• Mayo clinic Staff. 2010. Bartholin's cyst. Available from:
http://www.mayoclinic.com/health/bartholin-cyst/DS00667
• Wiknjosastro, Hanifa. 2008. Ilmu Kandungan Edisi Kedua Cetakan Keenam.
Jakarta. Penerbit : PT. Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.