Anda di halaman 1dari 18

Tekanan darah tinggi atau hipertensi adalah kondisi medis

di mana terjadi peningkatan tekanan darah secara kronis


(dalam jangka waktu lama). Penderita yang mempunyai
sekurang-kurangnya tiga bacaan tekanan darah yang melebihi
140/90 mmHg saat istirahat diperkirakan mempunyai keadaan
darah tinggi. Tekanan darah yang selalu tinggi adalah salah
satu faktor resiko untuk stroke, serangan jantung, gagal
jantung dan aneurisma arterial, dan merupakan penyebab
utama gagal jantung kronis.
Hipertensi dapat dikelompokkan dalam dua
kategori besar yaitu :
 Hipertensi primer artinya hipertensi yang belum
diketahui penyebabnya dengan jelas.
 Hipertensi sekunder yang penyebabnya boleh
dikatakan telah pasti, misalnya ginjal yang tidak
berfungsi, pemakaian kontrasepsi oral, dan
terganggunya keseimbangan hormon yang
merupakan faktor pengatur tekanan darah.
Secara umum seseorang dikatakan menderita
hipertensi jika tekanan darah sistolik/diastoliknya
melebihi 140/90 mmHg (normalnya 120/80
mmHg). Sistolik adalah tekanan darah pada saat
jantung memompa darah ke dalam pembuluh
nadi (saat jantung mengkerut). Diastolik adalah
tekanan darah pada saat jantung mengembang
dan menyedot darah kembali (pembuluh nadi
mengempis kosong).
Mekanisme terjadinya hipertensi adalah melalui
terbentuknya angiotensin II dari angiotensin I oleh
angiotensin I-converting enzyme (ACE). ACE memegang
peran fisiologis penting dalam mengatur tekanan darah.
Darah mengandung angiotensinogen yang diproduksi di
hati.
Selanjutnya oleh hormon, renin (diproduksi oleh ginjal)
akan diubah menjadi angiotensin I. Oleh ACE yang
terdapat di paru-paru, angiotensin I diubah menjadi
angiotensin II. Angiotensin II inilah yang memiliki peranan
kunci dalam menaikkan tekanan darah melalui dua aksi
utama.
Aksi pertama adalah meningkatkan sekresi hormon
antidiuretik (ADH) dan rasa haus. ADH diproduksi di
hipotalamus (kelenjar pituitari) dan bekerja pada ginjal untuk
mengatur osmolalitas dan volume urin. Dengan meningkatnya
ADH, sangat sedikit urin yang diekskresikan ke luar tubuh
(antidiuresis), sehingga menjadi pekat dan tinggi
osmolalitasnya.
Untuk mengencerkannya, volume cairan ekstraseluler
akan ditingkatkan dengan cara menarik cairan dari bagian
intraseluler. Akibatnya, volume darah meningkat, yang pada
akhirnya akan meningkatkan tekanan darah. Aksi kedua
adalah menstimulasi sekresi aldosteron dari korteks adrenal.
Aldosteron merupakan hormon steroid yang memiliki
peranan penting pada ginjal. Untuk mengatur volume cairan
ekstraseluler, aldosteron akan mengurangi ekskresi NaCl
(garam) dengan cara mereabsorpsinya dari tubulus ginjal.
Naiknya konsentrasi NaCl akan diencerkan kembali dengan
cara meningkatkan volume cairan ekstraseluler yang pada
gilirannya akan meningkatkan volume dan tekanan darah.
Terapi hipertensi dapat dibedakan menjadi dua cara yaitu :
 Terapi non farmakologi yaitu pengobatan tanpa menggunakan obat.
 Terapi farmakologi yaitu penanganan penyakit menggunakan obat.
Obat-obat yang biasa digunakan dalam terapi hipertensi adalah :
a. Diuretik (Misal : Spironolakton)
b. β-blocker (Misal : propanolol, bisoprolol)

c. α-blocker (Misal : Doxazosin, Prazosin)


d. Penghambat Renin Angiotensin System1). Angiotensin
Converting Enzyme Inhibitor/ACEI (Misal: Captopril, Enalapril)
e. Calcium channel blocker (Misal: Nifedipin, Amlodipin)
Kategori Tekanan darah sistolik Tekanan darah diastolik

Normal < 120 mmHg (dan) < 80 mmHg

Pre-hipertensi 120-139 mmHg (atau) 80-89 mmHg

Satdium I 140-159 mmHg (atau) 90-99 mmHg

Stadium II >= 160 mmHg (atau)>= 100 mmHg


1. Sakit kepala
2. Rasa pegal dan tidak nyaman pada tengkuk
3. Perasaan berputar seperti tujuh keliling serasa
ingin jatuh
4. Berdebar atau detak jantung terasa cepat
5. Telinga berdenging
1. Kerusakan pada otak
2. Kerusakan pada jantung
3. Kerusakan pada ginjal
4. Kerusakan pada mata
 Tujuan pengobatan hipertensi dengan tanaman obat adalah mengobati

hipertensi dengan memperbaiki penyebabnya sesuai filosofi tanaman

obat sebagai obat konstruktif.

 Pokok-pokok pengobatan hipertensi dengan tanaman obat :

 Memilih tanaman obat yang bersifat diuretik

 Memilih tanaman obat yang memiliki efek famakologi Anti-

adrenergik

 Memilih tanaman obat yang memiliki efek farmakologi vasodilator

 Memilih jenis tanaman obat yang memiliki efek farmakologi

hipotensif
 Tanaman mengkudu (Morinda citrifolia L), salah satu
tanaman obat yang sudah dimanfaatkan sejak zaman
purba hampir diseluruh belahan dunia. Pada 100 tahun
SM, penduduk Asia Tenggara telah memanfaatkan
tanaman mengkudu sebagai obat (Waha, 2001).
Selanjutnya dikemukakan bahwa di negeri Cina laporan
laporan mengenai khasiat tanaman mengkudu terdapat
pada tulisan-tulisan kuno yang dibuat pada masa dinasti
Han, sekitar 2000 tahun lalu.
 Kepopuleran mengkudu kini semakin mendunia.
Banyaknya manfaat yang dimiliki buah mengkudu, sangat
pantas kalau para ilmuwan menjuluki sebagai Magic Fruit
alias si buah ajaib.
 Dalam bagian tanaman mengkudu terutama buahnya
mengandung berbagai zat yang berkhasiat seperti alkaloid
(xeronin), polisakarida (asam glukaronat, glikosida, dll),
dan scolopetin.

Khasiat mengkudu

Dalam pengobatan tradisional, mengkudu digunakan


untuk obat batuk, radang amandel, sariawan, tekanan
darah tinggi, beri-beri, melancarkan kencing, radang
ginjal, radang empedu, radang usus, disentri, sembelit
limpa, lever, kencing manis, cacingan, cacar air,
kegemukan, sakit pinggang, sakit perut dan masuk angin.
 Menurut Neil Solomon,MD.PhD, peneliti masalah kesehatan
dari Amerika melaporkan bahwa buah mengkudu
mengandung sejenis fitonutrien, yaitu scolopetin yang
berfungsi untuk memperlebar saluran pembuluh darah yang
mengalami penyempitan. Hal ini menyebabkan jantung tidak
perlu bekerja terlalu keras untuk memompa darah, sehingga
tekanan darah menjadi normal.
 Hasil uji coba pada hewan menunjukkan bahwa scolopetin
menurunkan tekanan darah tinggi menjadi rendah
(hipotensi). Namun demikian, scolopetin yang terdapat
dalam buah mengkudu dapat berinteraksi sinergis dengan
nutraceuticals lain untuk mengatur tekanan darah tinggi
menjadi normal, tetapi tidak menurunkan tekanan darah
yang sudah normal.
Scolopetin dapat mengikat serotonin, dapat
meningkatkan kegiatan kelenjar peneal yang
terdapat didalam otak. Kelenjar ini merupakan
tempat serotonin diproduksi dan kemudian
digunakan untuk menghasilkan hormon melatonin.
Di dalam otak serotonin berfungsi sebagai
neurotransmiter dan prekursor hormon melatonin.
 Cara pengolahan buah mengkudu untuk obat atau minuman
sehat dapat dilakukan dengan cara yang sederhana. Salah
satu yang populer adalah jus buah mengkudu. Cara
membuatnya bisa dilakukan dengan cara 2 buah mengkudu
yang cukup besar dan sudah mengkal, dengan ciri-ciri kulit
buah berwarna putih transparan, daging buah masih keras,
dicuci bersih lalu diparut, bisa ditumbuk halus atau diiris-iris
dan tambahkan ¾ gelas air putih matang, lalu diblender.
Airnya disaring atau diperas dengan kain yang bersih dan
ditampung diwadah yang bersih.
 Dosis mengkonsumsi jus sari buah mengkudu secara
umum adalah diminum dua kali sehari sampai penyakitnya
sembuh, atau tiga kali 1/3 gelas. Secara teratur.
 Captopril merupakan obat antihipertensi dan efktif
dalam penanganan gagal jantung dengan cara
supresi sistem renin angiotensin aldosteron.

 Dalam kerjanya, captopril akan menghambat kerja


ACE, akibatnya pembentukan angiotensin II
terhambat, timbul vasodilatasi, penurunan sekresi
aldosteron sehingga ginjal mensekresi natrium dan
cairan serta mensekresi kalium. Keadaan ini akan
menyebabkan penurunan tekanan darah dan
mengurangi beban jantung, baik afterload maupun
preload.
YANG DAPAT ANDA LAKUKAN
• Jangan merokok/minum alkohol
• Diet rendah garam rendah lemak
• Olah raga secara teratur
• Istirahat bila tegang/lelah, lakukan pelemasan otot
• Minum obat secara teratur sesuai petunjuk dokter
• Periksa ke dokter secara teratur.

PENCEGAHAN
• Setelah umur 30thn,periksa tekanan darah setiap tahun
• Jangan merokok/minum alkohol
• Kurangi berat badan bila berlebihan
• Lakukan latihan aerobik
• Pelajari cara-cara mengendalikan stres.