Anda di halaman 1dari 36

Pendahuluan

• Kata tumor berasal dari bahasa Latin tumere yang artinya


membengkak.
• Tumor diartikan sebagai :
1) Pembengkakan, satu dari tanda cardinal peradangan
2) Pertumbuhan suatu jaringan dengan multiplikasi sel-sel
yang tidak terkontrol dan progresif, disebut juga
neoplasma.
• Penyebab pasti tumor kelenjar saliva belum diketahui
secara pasti, dicurigai adanya keterlibatan faktor
lingkungan dan faktor genetik.
Kelenjar
saliva
Mayor
Minor
Tersebar dalam
Parotid rongga mulut, sinus
paranasal,
Submandibular submukosa, trakea,
dll.
Sublingual
Gejala klinik
Timbulnya massa :
1) Pada daerah wajah (parotis),
2) pada angulus mandibula (parotis dan
submandibula),
3) leher (submandibula) atau pembengkakan pada
dasar mulut (sublingual).
• Pembesaran ukuran massa yang cepat mengarah
pada kelainan seperti infeksi, degenerasi kistik,
hemoragik atau malignansi.
• Tumor jinak kelenjar saliva biasanya bersifat mobile
dan untuk massa atau tumor jinak yang berasal dari
parotis tidak ada gangguan fungsi nervus facialis.
• Massa dalam kelenjar saliva dapat menjadi ganas seiring
bertambahnya usia.
• Kebanyakan tumor pada kelenjar saliva minor (sekitar
setengah sampai dua pertiga) adalah tumor ganas.
• Pada kelenjar saliva mayor Adenoma Pleomorfik paling
sering di jumpai pada kelenjar parotid, sedangkan pada
kelenjar saliva minor Adenoma Pleomorfik lebih sering
dijumpai pada palatum dan bibir atas.
Patofisiologi
• Terjadinya tumor kelenjar saliva :
1) Teori multiseluler : teori ini menyatakan bahwa tumor
kelenjar saliva berasal dari differensiasi sel-sel matur dari
unit-unit kelenjar saliva. Seperti squamous dan
mukoepidermoid karsinoma berasal dari sel-sel duktus
ekskretori.
2) Teori biseluler : teori ini menerangkan bahwa sel basal dari
glandula ekskretorius dan duktus interkalated bertindak
sebagai stem sel. Stem sel dapat menimbulkan terjadinya
warthin’s tumor. Sedangkan stem sel dari duktus
ekskretorius menimbulkan terbentuknya skuamous dan
mukoepidermoid karsinoma.
Adenoma Pleomorfik

Definisi

• Adenoma pleomorfik adalah tumor kelenjar saliva dan


paling umum di jumpai pada kelenjar parotid.
• Tumor ini merupakan tumor campuran (benign mixed
tumor), yang terdiri dari komponen epitel, mioepitel, dan
mesenkim dan tersusun dalam beberapa variasi
komponennya.
Insiden
• Dapat terjadi pada semua umur, baik anak-anak maupun
dewasa.
• Pada sebagian besar kasus menunjukan 45% sampai 75%
dari semua neoplasma kelenjar saliva, timbulnya penyakit 2
sampai 35 kasus per 100.000 orang.
• Lebih sering terjadi pada wanita dibanding laki-laki 2: 1
• Sering terjadi dengan persentase usia rata-rata 43-46 tahun
• Di Amerika dijumpai sebanyak 80% dari seluruh tumor
jinak kelenjar saliva.
Etiologi

• Belum diketahui secara pasti, diduga karena keterlibatan


lingkungan dan faktor genetik.
• Satu studi mengatakan, bahwa simian virus (SV 40)
memainkan peranan penting dalam perkembangan
Adenoma Pleommorfik.
Gambaran Klinis
• Massa tumor tunggal, keras, bulat,
• Bergerak (mobile),
• Pertumbuhan lambat,
• Tanpa rasa sakit,
• Nodul tunggal.
• Gejala Dan tanda tumor tergantung lokasinya.
• Adenoma pleomorfik tidak mempunyai kapsul, tetapi
diselubungi oleh pseudocapsul yang berserat dari
bermacam-macam ketebalannya.
Etiologi

virus

Faktor
radiasi
genetik

Populasi
hormonal
industri
Gambaran Adenoma Pleomorfik pada
kelenjar parotid
Adenoma Pleomorfik pada
kelenjar saliva minor di palatum

Adenoma Pleomorfik pada


kelenjar submandibularis
Diagnosa

• Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan anamnesa,


pemeriksaan fisik, Dan pemeriksaan penunjang.
• CT dan MRI dapat memberikan informasi tentang lokasi,
ukuran dan perluasan tumor pada struktur superficial atau
pada struktur yang lebih dalam.
• Pemeriksaan histopatologis yang dilakukan adalah biopsi
aspirasi jarum halus dan biopsi insisi.
• Diagnosa histopatologi
Adenoma Pleomorfik dapat
juga dilakukan dengan
prosedur-prosedur sampling
termasuk fine needle
aspiration biopsy (FNAB)
dan coore nedlee biopsy
(bigger needle comparing to
byopsi).
• Kedua prosedur ini bisa
dilakukan pada pasien rawat
jalan.
• FNAB ini sangat akurat dan
merupakan satu cara yang
dilakukan untuk mendiagnosa
tumor dari inflamasi sebelum
reseksi bedah dilakukan.
Terapi
• Penanganan adenoma pleomorfik adalah dengan
cara pembedahan eksisi luas (wide excision),
termasuk periosteum dan tulang yang terlibat, serta
pengambilan kelenjar ludah.
• Pembedahan luas dilakukan dengan batas 1 cm dari
jaringan bebas tumor menggunakan pisau bedah dan
gunting diseksi serta hemostatik elektrokauterisasi.
Prognosis

Prognosis adenoma pleomorfik


BAIK, tetapi sering terjadi
kekambuhan bila operasi tidak
adekuat.
Tumor Warthin
(Limfomatosum Adenokistoma Papiler)
• Tumor jinak kelenjar saliva yang relatif sering terjadi
• Paling sering pada usia 50-60 tahun, dengan adanya
hubungan dengan faktor resiko merokok.
• Tumor ini juga merupakan tumor yang paling sering terjadi
bilateral.
• Tumor ini dikenali berdasarkan histologinya dengan adanya
struktur papil yang tersusun dari lapisan ganda sel granular
eosinofil atau onkosit, perubahan kistik, dan infiltrasi
limfostik yang matang.
Pemeriksaan
• CT-Scan : menunjukan suatu massa dengan batas jelas
pada bagian postero-inferior dari lobus superficial parotis.
• Radiosialografi : peningkatan aktivitas yang berhubungan
dengan adanya onkosit dan peningkatan isi dari
mitokondrianya.
• Diagnosis ditegakkan berdasarkan pemeiksaan histologi.
Terapi
• Reseksi bedah dengan melindungi saraf facialis.
• Pengobatan dari Tumor Warthin’s adalah pembedahan
dengan seluruh jaringan tumor dengan mengupayakan
kapsul terangkat utuh tanpa meninggalkan sel tumor tersisa
di dalam jaringan kelenjar saliva parotis.
• Pengangkatan sempurna dapat mencegah kekambuhan
Prognosis

Prognosis setelah
pengobatan adalah
BAIK.
Karsinoma Mukoepidermoid

• Karsinoma mukoepidermoid merupakan neoplasma


ganas yang paling sering ditemukan pada kelenjar
liur mayor dan minor.
• Tumor ganas terbanyak yang paling sering terjadi di
kelenjar parotis.
• Sebagian kecil dapat timbul dari kelenjar saliva
minor, dan yang paling sering melibatkan kelenjar
saliva minor di palatum.
• Berdasarkan temuan miroskopis dibagi menjadi 3
klasifikasi, yaitu low grade, intermediate, dsan high
grade.
• Penentuan klasifikasi sangat penting untuk
menentukan tatalaksana dan prognosis.
Insiden
• Tumor ini sering terjadi pada orang dewasa.
• Insidens kejadian paling tinggi pada usia antara
dekade 30-40 tahun.
• Berdasarkan jenis kelamin penderita wanita
mempunyai resiko lebih tinggi daripada laki-laki.
• Tumor ini berpotensi bermetastasis. 5-10%
melibatkan kelenjar saliva mayor Dan paling sering
adalah kelenjar saliva parotis.
Hampir 75% pasien mempunyai gejala
pembengkakan yang asimtomatis,, 13% dengan rasa
sakit, Dan sebagian kecil lainnya dengan paralisis
nervus facialis.
• Tumor yang low grade, biasanya berbatas tegas, mirip
dengan adenoma pleomorfik, ciri khas tumor ini yaitu
tumbuh lambat tanpa disertai rasa sakit.
• Tumor high grade memiliki proporsi sel epidermoid yang
terbanyak.
• Lesi high grade adalah tumor yang agresif dengan
kecenderungan tinggi untuk metastasis.
• Lesi intermediate grade bersifat seperti tumor high grade.
Karsinoma mucoepidermoid
Terapi

• Pengobatan karsinoma mukoepidermoid adalah


eksisi seluruh jaringan tumor.
• Karsinoma mukoepidermoid low grade mungkin
cukup dilakukan eksisi bedah primer dengan hasil
yang baik.
• Jika lesi primer terbatas pada parotis dengan saraf
facilais yang utuh, bisa dilakukan eksisi dengan
preservasi saraf facialis.
• Karsinoma mukoepidermoid tipe high grade jarang
dilakukan haya eksisi bedah saja.
• Terapi radiasi saat ini menjadi satu-satunya terapi
adjuvan pilihan untuk karsinoma mukoepidermoid
high grade.
Prognosis

Karsinoma mukoepidermoid high grade adalah


tumor agresif dengan prognosis yang buruk
dibandingkan varian low grade.
Polymorphous Low Grade
Adenocarcinoma
• Keganasan yang umum terjadi pada kelenjar ludah.
• Lokasi yang paling sering terjadi adalah di daerah
palatum yakni persimpangan antara palatum keras
dan palatum lunak.
• Insidens 11% dari semua tumor kelenjar ludah.
• laki-laki dibanding perempuan 3:2 dengan usia rata-
rata 56 tahun.
• Pertumbuhan kanker ini umumnya bersifat lambat,
massa tanpa gejala, Dan mungkin timbul ulserasi.
• Histologi dari PLGA menunjukan bentuk sel
banyak dan pola (polymorphous).
• Ada infiltrat proliferasi sel epitel duktus.
• Lesi menunjukan kecenderungan untuk menginvasi
saraf sekitarnya.
• Keadaan khas yang muncul adalah massa yang
berbentuk padat, nyeri, haemorage,telangiectasia,
ataupun ulserasi.
• Pengobatan PLGA : eksisi bedah luas
• Ada tingkat kekambuhan yang relatif tinggi sekitar
14%