Anda di halaman 1dari 25

By :

Baiq Leny Nopitasari, M.Farm., Apt.


DEFINISI
• Hipertensi adalah peningkatan
tekanan darah arterial secara
persisten (Dipiro et al, 2009)
• Hipertensi adalah peningkatan
tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg
dan tekanan darah diastolik ≥ 90
mmHg (ESC Guidelines, 2013)
(JNC VII, 2003)
• Peningkatan tekanan darah
Hypertensive
emergency
disertai kerusakan organ
akut dan progressiv

• Peningkatan tekanan darah


Hhypertensive tanpa disertai kerusakan
urgency
organ akut dan progressiv.

(Dipiro et al, 2009)


• Hipertensi primer/essensial :
Hipertensi yang TIDAK DIKETAHUI
penyebabnya (idiopatik)
Contoh : lifestyle,keturunan
• Hipertensi sekunder : hipertensi yang
DIKETAHUI penyebabnya
Contoh : CKD, renovascular disease,
kehamilan, efek samping NSAID
(Dipiro et al, 2009)
• Laki-laki • Gula darah puasa 102-125
• Usia (laki-laki ≥ 55 tahun, mg/dL
wanita ≥ 65 tahun) • Obesitas BMI ≥ 30 kg/m2
• Dislipidemia • Abdominal obesitas (lingkar
Total Kolesterol > 190 perut laki-laki ≥ 102 cm
mg/dL perempuan ≥ 88 cm)
LDL > 115 mg/dL • Riwayat keluarga dengan CVD
HDL < 40 mg/dL (laki-laki), ( laki-laki < 55 tahun wanita < 65
< 46 mg/dL (wanita) tahun
Trigliserida > 150 mg/dL
(ESC Guidelines, 2013)
Mekanisme Humoral
• RENIN ANGIOTENSIN ALDOSTERON
SYSTEM (RAAS)

(Dipiro et al, 2009)


Mekanisme Humoral
Sistem Renin Angiotensin Aldosteron (RAAS)
Merupakan sistem endogen kompleks yang
sangat berperan dalam pengaturan tekanan
darah.
Tekanan darah  BP = CO x SVR
CO = SV x P
Jadi  BP = SV x P x SVR

(Dipiro et al, 2009)


Mekanisme Humoral
RAAS (lanjutan)
• Sekresi Renin

(Dipiro et al, 2009)


Mekanisme Humoral
RAAS (lanjutan)
• Perubahan Angiotensinogen dan Angiotensin I

(Dipiro et al, 2009)


Mekanisme Humoral
RAAS (lanjutan)
• Angiotensin II Menyebabkan Efek yang
berbeda di masing-masing organ

(Dipiro et al, 2009)


Hubungan obat dengan RAAS

(Dipiro et al, 2009)


MANAGEMENT THERAPY HIPERTENSI

Tujuan Pengobatan
MANAGEMENT THERAPY HIPERTENSI

NON
PHARMACOLOGIC LIFESTYLE MODIFICATION
THERAPY

 Thiazide diuretic
 ACE inhibitor
PHARMACOLOGIC  ARB
THERAPY  CCB  dihydropyridines dan non-
dihydropyridines
 β Blocker
NON PHARMACOLOGY THERAPY

(Dipiro, 2011)
PHARMACOLOGY THERAPY (JNC VIII, 2014)
Obat antihipertensi yang direkomendasikan dalam JNC VIII
PHARMACOLOGIC THERAPY Koda-Kimble and Young’s applied therapeutics
Dipiro, Pharmacotherapy: a pathophysiologic approach

Thiazide diuretic ARB


Memblok secara langsung aksi
Meningkatkan ekskresi Natrium oleh ginjal angiotensin II  mencegah efek
dan memiliki efek vasodilator. vasokontriksi dan pelepasan
ES  hypokalemia, hyperglycemia dan aldosteron
hyperuricemia

β Blocker
ACE inhibitor  Mengurangi CO melalui
chronotropic negatif dan efek
 Memblok sistem renin angiotensin  inotropik pada jantung dan
ES  bradycardia,
kontraktilitas
mencegah konversi angiotensin I ke AV conduction
 Mengurangi pelepasan renin
angiotensin II
dariabnormalities
ginjal dan
 Memblok degradasi bradikinin  Menurunkan
HF akut HR
 Stimulasi sintesis substansi vasodilator   Mengurangi pelepasan substansi
Prostaglandin E2 & prostacyclin adrenergic
ES  batuk kering (20%), angioedema (1%)  Menghambat pelepasan
norephinephrine
PHARMACOLOGIC THERAPY Koda-Kimble and Young’s applied therapeutics
Dipiro, Pharmacotherapy: a pathophysiologic approach

Calcium Channel Blocker


Dihydropyridines
Relaksasi jantung dan otot polos dengan
(amlodipine dan nifedipine)
memblok voltage-sensitive channel kalsium 
mengurangi masuknya kalsium ekstraseluler ke
dalam sel.
ES  peripheral edema Nondihydropyridines
(verapamil dan diltiazem)

Dihydropyridines
Reflek mediasi baroreceptor  Nondihydropyridines:
Diltiazem <<<
peningkatan heart rate karena efek Verapamil  Menurunkan heart
poten vasodilatasi periferal rate, memperlambat konduksi AV
Aman dikombinasi dengan β- nodul, menurunkan kontraksi jantung
Blocker
Combination Therapy

Ada batasan KOMBINASI


pada kombinasi yang DIPILIH

Tidak
Mungkin, tapi
direkomendasikan
kurang teruji
kombinasi
Kesimpulan
Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah secara
persisten bila tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg dan
tekanan darah diastolik ≥ 90 mmHg
Crisis
hypertension

Emergency Urgency
Kesimpulan (lanjutan)
Primer
Hipertensi
Sekunder

Faktor resiko
Dislipidemi Abdominal
Laki-laki obesity
a

Gula darah Usia

Riwayat penyakit
Obesitas
keluarga
Kesimpulan (Lanjutan)

Tujuan pengobatan hipertensi  mengontrol BP untuk


menurunkan resiko cardiovaskular dan mortality.
Management therapy hipertensi  Nonfarmakologi
(lifestyle modification) dan Farmakologi terapi.
First-line therapy hipertensi adalah thiazide diuretics, CCB,
ACE inhibitors dan ARB.
Kombinasi terapi lebih efektif dibandingkan
monotherapy pada pengobatan hipertensi.
TERIMA
KASIH