Anda di halaman 1dari 126

PT PLN (Persero)

PENGENALAN K2/K3

Oleh :
Bintang Dwi Putro
Divisi Keselamatan, Kesehatan Kerja, Keamanan dan Lingkungan
PT. PLN (Persero) Kantor Pusat
1. Apa tujuan/sasaran Awareness ini ?

2. Apa Definisi K2/K3

3. Apa dasar peraturan perundangan K2/K3


dan Sistem Manajemen K3 ?

4. Bagaimana mencegah terjadinya kecelakaan ?

5. Apa kriteria penilaian kinerja K2/K3 di PT


PLN (Persero) ?
Sasaran Pengenalan K2/K3
1. Mengerti dan memahami pengertian
K2/K3

2. Mengerti dan memahami peraturan


perundangan tentang K2/K3

3. Mengerti dan memahami dasar Sistem


Manajamen K3 dan Kecelakaan

4. Mengerti dan Memahami cara pencegahan


kecelakaan kerja

5. Mengerti dan Memahami penilaian kinerja


K2/K3 di PT PLN (Persero)
“7” Global Issues in Safety
Environmental
Safety Public safety

Food safety Transportation


Safety

Consumer & Disaster &


product safety business
interruption

Workplace safety
Occupational health & safety

14
The Safe Cities Index
SAFE CITIES RANKING
1 Tokyo
2 Singapore
3 Osaka
4 Stockholm
5 Amsterdam
40 Sao Paulo
41 Istanbul
42 Delhi
1. PERSONAL SAFETY Moscow
43
2. INFRASTRUCTURE SAFETY Mumbai
44
3. HEALTH SECURITY
45 Mexico City
4. DIGITAL SECURITY
46 Riyadh
The Economist seperti yang dikutip dari Huffingtonpost 47 Johannesburg
pada Jumat (30/1/2015) melakukan riset terhadap Ho Chi Minh City
48
keamanan 50 kota di dunia. Saat ini, riset tersebut telah Tehran
49
menghasilkan indeks kota teraman di dunia bernama The
50 Jakarta
Economist's Safe Cities Index. 15
ONCE ACCIDENT OCCURRED,
IT CAN NOT BE CANCELLED / UNDO.
Anda Memerlukan Waktu:
a. 1 menit untuk menulis aturan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
b. 1 jam untuk melakukan rapat K3
c. 1 minggu untuk merencanakan program K3
d. 1 bulan untuk memastikan K3 beroperasi
e. 1 tahun untuk memenangkan penghargaan K3
f. Seumur hidup untuk mengupayakan seorang pekerja agar bekerja
dengan selamat

Tapi Kecelakaan Hanya Memerlukan Waktu:


“1 detik untuk untuk menghancurkan semua diatas”
1. Definisi K2/K3
Keselamatan Ketenagalistrikan
Segala upaya atau langkah-langkah PENGAMANAN
INSTALASI TENAGA LISTRIK dan PENGAMANAN
PEMANFAAT TENAGA LISTRIK untuk mewujudkan kondisi
andal bagi instalasi dan kondisi aman dari bahaya bagi
manusia, serta kondisi akrab lingkungan (ramah
lingkungan ), dalam arti tidak merusak lingkungan hidup
disekitar instalasi tenaga listrik.
EMPAT PILAR
KESELAMATAN KETENAGALISTRIKAN

MELIPUTI

KESELAMATAN KESELAMATAN KESELAMATAN KESELAMATAN


KERJA UMUM LINGKUNGAN INSTALASI

PERLINDUNGAN PERLINDUNGAN PERLINDUNGAN


PERLINDUNGAN
TERHADAP : PEGAWAI, TERHADAP : TERHADAP :
TERHADAP :
BUKAN PEGAWAI MASYARAKAT UMUM INSTALASI
LINGKUNGAN
SEKITAR INSTALASI, PENYEDIAAN TENAGA
INSTALASI
PELANGGAN, TAMU LISTRIK

PENCEGAHAN PENCEGAHAN PENCEGAHAN PENCEGAHAN


TERHADAP TERHADAP TERHADAP TERHADAP
KECELAKAAN DAN KECELAKAAN PENCEMARAN, KERUSAKAN
PENYAKIT AKIBAT MASYARAKAT UMUM KERUSAKAN INSTALASI,
KERJA LINGKUNGAN KEBAKARAN DLL

11
Meningkatkan kompetensi menawarkan solusi Anton Suranto
Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Philosophy :
Upaya untuk MENJAMIN Keselamatan dan Kesehatan tenaga kerja
dan manusia pada umumnya, hasil karya dan budayanya menuju
masyarakat yang sejahtera

Keilmuan :
Suatu ilmu pengetahuan dan penerapan Upaya PENCEGAHAN
kecelakaan, kebakaran, penyakit akibat kerja dll.
Tahapan Era K3
• Era Inspection 1911
• Era Unsafe Act 1930
• Era Industrial Hygiene 1949
• Era Safety Management 1950
• Era Regulation 1970
• Era Accountability 1980
• Era Human Factors 1990
• Era Safety Management System 1980-now
• Era Behaviour Safety 2000-now

24
Unsur manusia
• Upaya preventif menekan terjadinya kecelakaan.
• Mencegah/mengurangi timbulnya cidera, cacat dan kematian.
• Meningkatkan etos kerja, produktifitas dan efisiensi kerja.

Unsur Pekerjaan
• Mengamankan tempat kerja, peralatan dan material, konstruksi, instalasi
dan sumber daya lainya.
• Meningkatkan produktivitas pekerjaan dan menjamin kelangsungannya.
• Terwujudnya tempat kerja yang aman, nyaman dan terjamin
kelangsungannya.
Fenomena
Implementasi K2-K3
Frank E. Bird (dalam Reamer, 1980)

1. Safety vs Saving Time


(keselamatan vs penghematan waktu)
• Apabila cara-cara yang aman memakan lebih banyak
waktu daripada cara-cara tidak aman, beberapa
orang akan lebih memilih cara-cara tidak aman

2. Safety vs Saving Effort


(keselamatan vs penghematan tenaga)
• Apabila cara-cara aman memerlukan usaha lebih
banyak daripada cara-cara tidak aman, beberapa
orang akan memilih cara -cara tidak aman
Fenomena
Implementasi K2-K3
Frank E. Bird (dalam Reamer, 1980)

3. Safety vs Comfort
(keselamatan vs kenyamanan)
• Apabila cara aman lebih terasa tidak nyaman daripada cara
tidak aman, beberapa orang akan memilih cara tidak aman
untuk menghindari ketidaknyamanan tersebut

4. Safety vs Independence
(keselamatan vs kebebasan)
• Apabila cara tidak aman memberikan perasaan akan
kebebasan/otoritas lebih bebas dari pada cara-cara aman,
beberapa orang akan lebih memilih cara tidak aman,
sekedar untuk menunjukkan kebebasan mereka
Problematika
Implementasi K2-K3

Pengusaha / Pekerja / pelaksana :


Manajemen : - Tidak paham manfaat K3
- K3 dianggap sbg biaya - Tidak berkompeten
- K3 tidak dianggap penting
2. Peraturan Perundangan K3
UNDANG UNDANG DASAR TAHUN 1945

PASAL 28 D AYAT 1 PASAL 28 H AYAT 1

Setiap orang berhak atas Setiap orang berhak hidup


pengakuan, jaminan, perlindungan sejahtera lahir dan batin,
dan kepastian hukum yang adil bertempat tinggal, dan
serta pengakuan yang sama di mendapatkan lingkungan hidup
hadapan hukum yang baik dan sehat serta berhak
memperoleh pelayanan kesehatan.
UU No. 1 Tahun 1970 UU No. 13 Tahun 2003 UU No. 30 Tahun 2009
Tentang Tentang Tentang
Keselamatan Kerja Ketenagakerjaan Ketenagalistrikan
Bab V , Pasal 9, ayat 3 : Pasal 35 ayat 3 : Pasal 44
Pengurus wajib menyelenggarakan Pemberi kerja dalam mempekerjakan 1. Setiap kegiatan usaha ketenagalistrikan
pembinaan bagi semua tenaga kerja tenaga kerja wajib memberikan wajib memenuhi ketentuan
yang berada dibawah pimpinannya dalam perlindungan yang mencakup kesejah- keselamatan ketenagalistrikan
pencegahan kecelakaan, teraan, keselamatan, dan kesehatan 2. Setiap instalasi tenaga listrik yang ber-
pemberantasan kebakaran, baik mental maupun fisik tenaga kerja. operasi wajib memiliki sertifikat laik
peningkatan K3 dan pembe-rian P3K operasi
3. Setiap tenaga teknik dalam usaha kete-
Sanksi : Sanksi : nagalistrikan wajib memiliki sertifikat
kompetensi
Pidana hukuman kurungan selama- Pidana penjara paling singkat 1 (satu)
lamanya 3 (tiga) bulan atau denda bulan dan paling lama 4 (empat) tahun
setinggi-tingginya Rp. 100.000,- (seratus dan/atau denda paling sedikit Rp
Sanksi :
ribu rupiah 10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah) dan 1. Pidana penjara paling lama 10
paling banyak Rp 400.000.000,00 (empat (sepuluh) tahun dan denda paling
ratus juta rupiah) banyak Rp1.000.000.000,00 (satu
miliar rupiah).
2. Wajib memberi ganti rugi kepada
korban.
Sanksi Pidana Penjara
UU No. 30 Tahun 2009 Pasal 50

35.000 MW
UNTUK INDONESIA
Pasal 44, UU No. 30 Tahun 2009 - Sertifikasi
Pasal 44:

(1) Setiap kegiatan usaha ketenagalistrikan wajib memenuhi ketentuan keselamatan


ketenagalistrikan.

(4) Setiap instalasi tenaga listrik yang beroperasi wajib memiliki sertifikat laik operasi.

(5) Setiap peralatan dan pemanfaat tenaga listrik wajib memenuhi ketentuan standar nasional
Indonesia

(6) Setiap tenaga teknik dalam usaha ketenagalistrikan wajib memiliki sertifikat kompetensi.

(7) Ketentuan mengenai keselamatan ketenagalistrikan, sertifikat laik operasi, standar nasional
Indonesia, dan sertifikat kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat poin (1) sampai dengan
ayat (6) diatur dengan Peraturan Pemerintah
PP No. 14 Tahun 2012
tentang ketenagalistrikan – stop sementara

Pasal 21 ayat 2:

Dalam hal tertentu pemegang izin usaha penyediaan tenaga listrik


dapat menghentikan sementara penyediaan tenaga listrik, apabila:

• Diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan pemeliharaan, perluasan


atau rehabilitasi instalasi ketenagalistrikan;
• Terjadi gangguan pada instalasi ketenagalistrikan yang bukan
karena kelalaian pemegang izin usaha penyediaan tenaga listrik;
• Terjadi keadaan yang secara teknis berpotensi membahayakan
keselamatan umum; dan/atau
• Untuk kepentingan penyidikan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundangan
SISTEM MANAJEMEN K3 (SMK3)

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA


NOMOR 50 TAHUN 2012
Dasar Hukum Pelaksanaan SMK3
1. Undang-Undang Dasar 1945 pasal 27 ayat 2
“Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi bagi
kemanusiaan”

2. UU No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja

3. UU No. 13 Tahun 2003 Pasal 35 Ayat (2) dan (3) Pasal 86, 87 & 186
tentang Ketenagakerjaan
Pasal 86 ayat 1:
“Setiap pekerja/buruh mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan atas :
a. keselamatan dan kesehatan kerja;
b. moral dan kesusilaan; dan
c. perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai
agama.”
Pasal 87 :
“Setiap perusahaan wajib menerapkan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan
kerja yang terintegrasi dengan sistem manajemen perusahaan “

4. Peraturan Pemerintah No. 50 Tahun 2012 tentang Pedoman Penerapan


Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Pengertian SMK3
• Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang
selanjutnya disingkat SMK3 adalah bagian dari sistem
manajemen perusahaan secara keseluruhan dalam rangka
pengendalian risiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja
guna terciptanya tempat kerja yang aman, efisien dan
produktif.
TUJUAN DAN SASARAN SMK3
Penerapan SMK3 bertujuan untuk:
• Meningkatkan efektifitas perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja
yang terencana, terukur, terstruktur, dan terintegrasi;
• Mencegah dan mengurangi kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja
dengan melibatkan unsur manajemen, pekerja/buruh, dan/atau serikat
pekerja/serikat buruh; serta
• Menciptakan tempat kerja yang aman, nyaman, dan efisien untuk
mendorong produktivitas
Kewajiban Penerapan SMK3
UU No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, pasal 87 :
Setiap perusahaan wajib menerapkan sistem manajemen keselamatan & Kesehatan
kerja yang terintegrasi dengan sistem manajemen perusahaan

Peraturan Pemerintah No. 50 thn 2012


Setiap tempat kerja :
• Mempekerjakan pekerja/buruh pang
sedikit 100 (seratus) orang ; atau
• Mempunyai tingkat potensial bahaya
tinggi. (sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan)
Penerapan
Per. 05 Tahun 1996 PP 50 Tahun 2012 Pasal 5

Setiap perusahaan yang 1. Setiap perusahaan wajib


memperkerjakan 100 orang atau menerapkan SMK3
lebih dan atau mengandung potensi 2. Kewajiban berlaku bagi :
bahaya Perusahaan yang
memperkerjakan pekerja/buruh
paling sedikit 100 orang atau
mempunyai potensi bahaya tinggi
3. Ketentuan tingkat bahaya tinggi
sesuai peraturan perundangan
4. Berpedoman PP 50 /2012 dan
peraturan perundangan undangan
serta dapat memperhatikan
konvensi atau standar
international.
Penilaian SMK3
Per. 05 Tahun 1996 PP 50 Tahun 2012 Pasal 5

Pembuktian penerapan SMK3 • Dilakukan oleh lembaga audit


dapat dilakukan oleh badan audit idenpenden yang ditunjuk oleh
yang ditunjuk menteri menteri atas permohonan
perusahaan
• Perusahaan yang memiliki
potensi bahaya tinggi wajib
melakukan penilaian SMK3
• Hasil audit dilaporkan kepada
Menteri tembusan Menteri
pembina sektor usaha, gubernur,
dan bupati/walikota

42
Pengawasan
Per. 05 Tahun 1996 PP 50 Tahun 2012

Pembinaan dan pengawasan • Pasal 18 (1) Pengawasan dilakukan


terhadap penerapan SMK3 dilakukan oleh pengawas ketenagakerjaan
oleh menteri atau pejabat yang pusat, provinsi dan/atau
ditunjuk kabupaten/kota sesuai dengan
kewenangannya.
• Pasal 19 (1) Instansi pembina
sektor usaha dapat melakukan
pengawasan SMK3 tehadap
pelaksanaan penerapan SMK3 yang
dikembangkan sesuai ketentuan
peraturan perundangan
• Pelaksanaan pengawasan
terkoordinasi dengan pengawas
ketenagakerjaan.
43
Lima Prinsip Penerapan SMK3

Peningkatan
Berkelanjutan

Peninjauan dan
Peningkatan Kinerja Penetapan
SMK3 Kebijakan K3

Pemantau dan Perencanaan K3


Evaluasi Kinerja K3

Pelaksanaan
Rencana K3
AUDIT SMK3

Audit SMK3 adalah pemeriksaan secara


sistematis dan independen terhadap
pemenuhan kriteria yang telah ditetapkan
untuk mengukur suatu hasil kegiatan yang
telah direncanakan dan dilaksanakan dalam
penerapan SMK3 di perusahaan.

45
MEKANISME PELAKSANAAN AUDIT
Audit SMK3 meliputi :

1. Pembangunan dan terjaminnya pelaksanaan komitmen;


2. Pembuatan dan pendokumentasian rencana K3;
3. Pengendalian perancangan dan peninjauan kontrak;
4. Pengendalian Dokumen;
5. Pembelian dan pengendalian produk;
6. Keamanan bekerja berdasarkan SMK3;
7. Standar pemantauan;
8. Pelaporan dan perbaikan kekurangan;
9. Pengelolaan material dan perpindahannya;
10.Pengumpulan dan penggunaan data;
11.Pemeriksaan SMK3; dan
12.Pengembangan keterampilan dan kemampuan.

46
KETENTUAN HASIL PENILAIAN AUDIT
A. Penilaian hasil Audit SMK3 terdiri dari 3 kategori yaitu:

1. Kategori Tingkat awal


Perusahaan yang memenuhi 64 (enam puluh empat) kriteria.
2. Kategori Tingkat Transisi
Perusahaan yang memenuhi 122 (seratus dua puluh dua) kriteria.
3. Kategori Tingkat Lanjutan
Perusahaan yang memenuhi 166 (seratus enam puluh enam) kriteria

B. Tingkat penilaian penerapan SMK3 ditetapkan sebagai


berikut:
1. Untuk tingkat pencapaian penerapan 0-59% termasuk tingkat penilaian
penerapan kurang.
2. Untuk tingkat pencapaian penerapan 60-84% termasuk tingkat penilaian
penerapan baik.
3. Untuk tingkat pencapaian penerapan 85-100% termasuk tingkat penilaian
penerapan memuaskan.
47
3. Pencegahan Kecelakaan
Kejadian yang tidak dikehendaki dan tidak diduga /tiba-tiba yang
dapat menimbulkan korban manusia dan atau harta benda.
 TERHADAP KARYAWAN :
– LUKA RINGAN, LUKA BERAT, CACAT ATAU BAHKAN TEWAS
– PENDERITAAN DAN KESEDIHAN
– BEBAN MASA DEPAN

 TERHADAP PERUSAHAAN :
– KEHILANGAN JAM KERJA
– TIMBULNYA BIAYA PENGOBATAN
– KERUSAKAN INSTALASI
– MERUSAK NAMA BAIK PERUSAHAAN
– KETERLAMBATAN PROSES PRODUKSI

 TERHADAP MASYARAKAT :
– KERUSAKAN LINGKUNGAN
– KERUSAKAN HARTA BENDA
– KEHILANGAN JIWA
Kerugian
Kecelakaan Ketenagalistrikan
1. UNSAFE ACT
2. UNSAFE CONDITION
PRESENTASE PERBANDINGAN KECELAKAAN YANG DIAKIBATKAN OLEH
MANUSIA DAN KONDISI ALAT / LINGKUNGAN :

35.000 MW
UNTUK INDONESIA
Unsafe Act Or Unsafe Condition...?
Unsafe Act Or Unsafe Condition...?
Unsafe Act Or Unsafe Condition...?
Unsafe Act Or Unsafe Condition...?
Unsafe Act Or Unsafe Condition...?
Unsafe Act Or Unsafe Condition...?
PERILAKU CEROBOH PELAKSANA PEKERJAAN
(UNSAFE ACT)
a) Kompetensi : Melaksanakan pekerjaan tidak sesuai kompetensi yang dimilikinya.

b) SOP : Melaksanakan pekerjaan tidak mengikuti persyaratan dan prosedur kerja atau
tidak mengikuti standard operation procedure (SOP).

c) APD : Tidak menggunakan peralatan keselamatan kerja dan atau alat pelindung diri
(APD) dalam melaksanakan pekerjaan berpotensi bahaya.

d) Tanda Peringatan : Tidak memperhatikan tanda peringatan dan poster larangan


pada waktu berada dan atau melaksanakan pekerjaan di tempat-tempat kerja yang
berpotensi bahaya.

e) Ceroboh : Tidak berdisiplin (Ialai, ogah-ogahan, bersenda-gurau / saling mengejek


dengan teman sekerja) pada waktu melaksanakan pekerjaan berpotensi bahaya.

f) Arahan : Tidak mengikuti petunjuk dan atau arahan keselamatan yang diberikan
oleh Pengawas pekerjaan.

g) Nekat : Dengan sengaja melakukan perbuatan yang membahayakan bagi diri sendiri
dan atau bagi teman sekerja, yang memungkinkan tcrjadinya kecelakaan kerja.

h) Over Confidence : Merasa sudah ahli dan memiliki jam terbang yang tinggi

35.000 MW
UNTUK INDONESIA
PERILAKU CEROBOH PEMIMPIN SETEMPAT
(UNSAFE CONDITION)
a) Training : Tidak memberikan penyuluhan keselamatan ketenagalistrikan serta pendidikan
dan pelatihan kepada Pelaksana pekerjaan.

b) Kompetensi : Memperkerjakan Pelaksana pekerjaan yang tidak memiliki kompetensi pada


bidang pekerjaanya.

c) Identifikasi Bahaya : Tidak melaksanakan identifikasi bahaya, penilaian resiko, &


pengendalian resiko bahaya di tempat kerja.

d) SOP : Tidak melengkapi persyaratan dan prosedur kerja serta menyusun SOP untuk
pekerjaan yang berpotensi bahaya.

e) APD : Tidak melengkapi APD

f) Pengujian : Tidak melakukan pengujian / melengkapi sertifikasi bagi peralatan / instalasi


yang berpotensi bahaya

g) Sidak : Tidak melaksanakan inspeksi secara berkala

h) Pengawas : Tidak menunjuk / menetapkan Pengawas pekerjaan yang memiliki kompetensi


di bidang keselamatan.

i) Arahan : Pengawas pekerjaan tidak memberikan petunjuk dan arahan keselamatan


Pelaksana pekerjaan sebelum melaksanakan pekerjaan yang berpotensi bahaya.
35.000 MW
UNTUK INDONESIA
2014 8 kali 2014 2 kali 2014 93 kali
2015 8 kali 2015 9 kali 2015 110 kali
2016 - 2016 - 2016-TW3 23 kali
Analisa Penyebab
Terjadinya kecelakaan Ketenagalistrikan
Kecelakaan Kerja Kecelakaan Masy. Umum
SOP INSPEKSI
ditindaklanju
ada/tidak update/tidak dipakai/tidak ada/tidak akurat/tidak
ti/tidak

ALAT KERJA SOSIALISASI


ada/tidak layak/tidak dipakai/tidak ada/tidak tepat sasaran/tidak

APD RAMBU-RAMBU
ada/tidak layak/tidak dipakai/tidak ada/tidak cukup/tidak layak/tidak

PENGAWAS SLO
ada/tidak kompeten/tidak ada/tidak
1. Training for Up Skilling
2. Identifikasi Bahaya, Penilaian Resiko dan Pengendalian Resiko di
setiap aktivitas pekerjaan
3. Pastikan bahwa pekerjaan dilakukan oleh pegawai yang
berkompeten di bidang pekerjaan
4. Melaksanakan Pekerjaan sesuai dengan Standard Operating
Procedure dan Instruksi Kerja
5. Menyusun Job Safety Analysis dan Working Permit (Ijin Kerja)
untuk langkah – langkah pekerjaan guna mengetahui faktor
bahaya dan resiko
6. Pastikan Pengawas Pekerjaan sudah berkompeten di bidangnya
dan melaksanakan tugas serta tanggung jawab sebagai
pengawas
7. Gunakan peralatan kerja dan peralatan pendukung yang layak
serta sesuai dengan standar yang berlaku
8. Gunakan Alat Pelindung Diri (APD) sesuai dengan standar dan
kegunaan dalam pekerjaan
SOP ? UNIT INDUK &
UNIT PELAKSANA
ada/tidak update/tidak dipakai/tidak

MANAJER BIDANG &


MANAJER AREA
ALAT KERJA ? Memastikan adanya
- SOP yang update;
ada/tidak layak/tidak dipakai/tidak - ALAT KERJA & Fire Protection
yang layak & andal
- APD yang layak;
- PENGAWAS kompeten

APD ?
DEPUTY MANAJER &
ASMAN
ada/tidak layak/tidak dipakai/tidak Menverifikasi draft SOP yang
dibuat , usulan ALAT KERJA, APD
& PENGAWAS

PENGAWAS ? SUPERVISOR
Membuat draft SOP, usulan ALAT
ada/tidak kompeten/tidak KERJA, APD & PENGAWAS
Bahaya & Risiko
Bahaya adalah segala sesuatu yang dapat menyebabkan
kecelakaan.

OHSAS 18001: 2007


Bahaya adalah Semua sumber, situasi maupun aktivitas yang
dapat mengakibatkan kecelakaan kerja (cidera) dan atau
penyakit akibat kerja".
Risiko adalah kemungkinan terjadinya kecelakaan.
Risiko timbul jika ada pekerja atau orang yang terpapar bahaya

35.000 MW
UNTUK INDONESIA
Contoh Bahaya & Risiko

Kabel listrik bertegangan kondisinya terbuka (tanpa pembungkus) terletak di


belakang rumah anda  Bahaya

Jika ada anggota keluarga yang bermain atau berada di sekitar kabel listrik yang
terbuka tersebut  Risiko

Batu menggantung di tebing jalan  Bahaya


Akan menjadi Risiko  jika ada pengguna jalan yang melewati area tersebut

Kondisi mesin yang berputar tidak diberi pengaman (guarding)  Bahaya


Jika ada pekerja mekanik yang sedang bekerja memperbaiki unit tersebut atau dekat
dengan area tersebut  akan berubah menjadi Risiko.

Ada ikan hiu di laut  Bahaya


Akan berubah menjadi Risikojika ada turis atau peselancar yang bermain di pantai
atau laut tersebut.

35.000 MW
UNTUK INDONESIA
Tipe Bahaya
Bahaya pada area kerja dikelompokkan menjadi beberapa tipe bahaya, diantaranya:
Bahaya Fisik : Pencahayaan, Getaran, Kebisingan
Bahaya Kimia : Gas, Asap, Uap, Bahan Kimia
Micro Biologi (Virus, bakteri, jamur,dll); Macro
Bahaya Biologi :
Biologi (Hewan, serangga, tumbuhan)
Stress Fisik (gerakan berulang, ruang sempit,
Bahaya Ergonomi : memforsir tenaga); Stress Mental
(Jenuh/bosan,overload)
Bahaya Mekanis : Titik jepit, putaran pulley atau roller
Trauma, Intimidasi, pola promosi jabatan nyang
Bahaya Psikososial :
salah, dan lain-lain
Tidak patuh terhadap peraturan, overconfident, sok
Bahaya Tingkah laku :
tahu, tidak peduli
Bahaya Lingkungan Kemiringan permukaan, cuaca yang tidak ramah,
:
Sekitar permukaan jalan licin

35.000 MW
UNTUK INDONESIA
Bahaya : Risiko : Pengendalian :
Kabel terkelupas; Kemungkinan tersetrum; Eliminasi;
Salah manuver; Kemungkinan jatuh; Subtitusi;
Trafo licin; Rekayasa engineering;
Tumpuan kaki lepas; Rekayasa administrasi;
Anak tangga patah/licin; APD;
HIRARC
Hazard Identification, Risk Assessment And Risk Control

Serangkaian proses MENGIDENTIFIKASI bahaya yang dapat terjadi dalam aktifitas


rutin ataupun non rutin diperusahaan, kemudian melakukan PENILAIAN RISIKO dari
bahaya tersebut lalu membuat program PENGENDALIAN RESIKO tersebut agar
dapat diminimalisir tingkat risikonya ke yang lebih rendah dengan tujuan mencegah
terjadi kecelakaan.

- HIRARC merupakan tools yang digunakan untuk manajemen risiko.

35.000 MW
UNTUK INDONESIA
HIRARC
Hazard Identification, Risk Assessment And Risk Control

Yang perlu dilakukan adalah


1. Mengidentifikasi semua aktivitas yang ada pada suatu bisnis proses dan sub
bisnis proses;
2. Mengidentifikasi bahaya-bahaya yang mungkin muncul;
3. Melakukan penilaian terhadap risiko tersebut;
4. Nilai risiko yang muncul diklasifikasikan sesuai dengan matriks risiko yang
ada di perusahaan, hal ini bertujuan untuk menentukan tingkat prioritas
dalam melakukan perbaikan.

Unsur yang ada dalam penilaian risiko adalah


tingkat kekerapan (Frequency), tingkat keparahan (Severity), dan
kemungkinan (Probability)

35.000 MW
UNTUK INDONESIA
Hirarki pengendalian risiko dalam
Keselamatan Kerja

35.000 MW
UNTUK INDONESIA
Hirarki pengendalian risiko dalam
Keselamatan Kerja
Primary Control (Engineering Controls)
Menghilangkan bahaya (eliminasi);
Mengganti dengan yang lebih aman (substitusi);
Rekayasa engineering (engineering)

Contoh :

Pengendalian dengan cara eliminasi  Terdapat lubang besar di jalan yang dapat
berpotensi pekerja atau kendaraan masuk ke dalamnya, dengan menutup lubang sampai
permukaannya sama dengan disekitarnya

Pengendalian dengan cara substitusi  Proses pengecatan dengan menggunakan spray


lebih berbahaya bagi kesehatan, maka mengganti spray dengan kuas

Pengendalian dengan cara secara rekayasa engineering  Bagian pulley mesin yang
berputar tidak terdapat pengaman, dapat dilakukan pengendalian dengan membuatkan
pengaman (guarding).

35.000 MW
UNTUK INDONESIA
Hirarki pengendalian risiko dalam
Keselamatan Kerja

Secondary Control (Pengendalian Administrasi)

Jika primary control tidak mampu menghilangkan risiko secara keseluruhan


dan masih menyisakan risiko sisa, maka perlu pengendalian yang lain.
Hirarki selanjutnya adalah pengendalian secara administrasi.

Contoh

Pengaturan pola kerja (shift), hal ini bertujuan untuk mengurangi lamanya
paparan terhadap pekerja.

Pemasangan rambu-rambu yang memberikan informasi baik larangan,


kewajiban, ataupun informasi lainnya.

35.000 MW
UNTUK INDONESIA
Hirarki pengendalian risiko dalam
Keselamatan Kerja

Tertiary Control (Prosedur)

Langkah pengendalian selanjutnya adalah dengan membuatkan acuan kerja, sehingga


pekerja dapat melakukan pekerjaan secara benar. Acuan kerja dapat berupa SOP ataupun
JSA.

APD (Alat Pelindung Diri)

APD merupakan pengendalian yang terakhir.


APD hanya berfungsi untuk mengurangi tingkat keparahan saja dan tidak pernah
menghilangkan bahaya.

APD adalah pengendalian yang paling tidak efektif dan cara terakhir jika pengendalian-
pengendalian sebelumnya masih menyisakan risiko (residual risk)

35.000 MW
UNTUK INDONESIA
35.000 MW
UNTUK INDONESIA
MANAJEMEN RESIKO
Australia/New Zealand Standart AS/NZ 4360:1999 Risk Management
FORM HIRARC
CONTOH HIRARC Tindakan Penilaian Risiko
Kegiatan Identifikasi Bahaya Pengendalian Tingkat Rekomendasi Tindakan
No Akibat Peluang
yg ada Risiko Pengendalian Risiko
Terpapar sumber Pemberian 1. Penyediaan ear plug.
1.1 2 E L
kebisingan. ear plug. 2. Sosialisasi pemakaian APD.
1. Penyediaan helm standar
Terbentur Pemberian
1.2 2 E L 2. Sosialisasi K3 ( pentingnya
Pencatatan Log peralatan helmet.
1 penggunaan APD ).
Sheet
1. Penyediaan safety shoes &
Pemakaian helm standart.
1.3 Tersandung 2 E L
APD. 2. Sosialisasi K3 ( pentingnya
penggunaan APD ).
1. Penyediaan ear plug.
Terpapar sumber Pemberian
2.1 2 E L 2. Sosialisasi K3 ( pentingnya
kebisingan. ear plug.
pengguaan APD ).
1. Penyediaan safety shoes &
2 Start-up Mesin Penggunaan helm standart.
2.2 Terpeleset. 3 D M
safety shoes. 2. Sosialisasi K3 ( pentingnya
pengguaan APD ).
Penyediaan Pengecekan rutin kesiapan APAR
2.3 Kebakaran. 2 E L
APAR. & Hydrant.
Ada pagar
Jatuh dari Sosialisasi K3 ( pentingnya
3.1 pengaman & 2 E L
ketinggian penggunaan APD).
APD.
Pengaman
Pengecekan / Terjepit / 1. Pembuatan cover roda gila.
bagisn yang
patrol check 3.2 terbentur bagian 2 E L 2. Sosialisasi K3 ( pentingnya
3 berputar &
operasi mesin yang bergerak. pengguaan APD ).
rambu.
dan alat bantu
1. Penyediaan safety shoes &
Terpeleset / Pemakaian helm standart.
3.3 2 E L
tersandung. safety shoes. 2. Sosialisasi K3 ( pentingnya
pengguaan APD ).
AKTIVITAS IDENTIFIKASI BAHAYA
PT PLN (Persero)
PENYEBAB KECELAKAAN 2014 2015 2016
DISTRIBUSI SR 12 4 2

DISTRIBUSI JTR 13 11 7
DISTRIBUSI JTM 61 86 10
DISTRIBUSI TRAFO / GARDU 7 9 2

TRANSMISI 2 9

PEMBANGKIT 8 8

KONSTRUKSI 3 2

TENGGELAM 2 0

OLAHRAGA 1 0

KEBAKARAN 2 3

BELUM DIIDENTIFIKASI 6 1
Data Kecelakaan Kerja 2014 - 2016 Semester-1 Data Kecelakaan Umum 2014 - 2016 Semester-1

2016 14 8 6 0 2016 1610 6


Tahun

Tahun
2015 23 8 10 9 2015 90 62 70 3

2014 32 21 24 2 2014 72 41 42 18

0 20 40 60 80 100 0 50 100 150 200 250

Kali kejadian Meninggal Luka Berat Luka Ringan Kali kejadian Meninggal Luka Berat Luka Ringan

2014 : 2015 : pengawas 75,0% 81,3%


Uraian
Rerata per bulan Rerata per bulan
apd 84,4% 78,1% 84,4%
Kali Kecelakaan 9,7 11,1
alat kerja 87,5% 81,3% 40,6%
Meninggal 5,1 6,4
sop 93,8% 81,3% 50,0%
Luka Berat 6,2 6,9
Penyebab Kecelakaan
PENYEBAB
2014 2015 2016
KECELAKAAN
2015 110 9 8 2
Distribusi SR 12 4 2

Distribusi JTR 13 11 7
2014 93 2 8 3
Distribusi JTM 61 86 10
Distribusi Trafo /
7 9 2
Gardu 50% 60% 70% 80% 90% 100%
Transmisi 2 9 Distribusi Transmisi Pembangkit Konstruksi

Pembangkit 8 8

Konstruksi 3 2
Bidang Distribusi Sebagai.....

PENYUMBANG JANDA
TERBESAR DI PLN WAKAKAKAKAKA....!!!
PT PLN (Persero)
Senin, 11 Juli 2011

Seorang pekerja rekanan PLN tewas


tergantung di tiang listrik jaringan udara
tegangan menengah (JTUM) di Desa
Kadur, Kecamatan Kadur, Pamekasan.
Rabu, 6 Juni 2012
Seorang petugas PLN meninggal
dunia tersengat listrik saat sedang
melakukan pemasangan kabel PLN
Listrik bertegangan tinggi di atas
tiang PLN di Jalan Banda Aceh-
Medan, Menunasah Manyang
Kandang, Muara Dua,
Lhokseumawe, Provinsi Aceh.
Palangkaraya, Juli 2012
Pemeliharaan Jaringan
- Penyebab :
• Penggunaan APD yang tidak sesuai dengan SOP
- Dampak :
4 Tulang Kanan Patah, 5 Tulang Rusuk Kiri Patah (salah satunya menembus Jantung)
Pontianak, Kalimantan Timur, Mei 2013
Supervisi Pekerjaan Jaringan
- Penyebab :
• Tidak Menggunakan APD
• Tidak Melaksanakan SOP Komunikasi
• Tidak Menerapkan Working Permit (Ijin Kerja)
- Dampak :
Tewas di Tempat
Pontianak, April 2014
Siswa OJT
- Penyebab :
• Pengawas pekerjaan tidak melaksanakan SOP Komunikasi PLN Area-PLN Pengatur Beban
• Tidak menggunakan Alat kerja (Tester Tegangan & Stick Grounding) serta Alat Pelindung Diri
yang lengkap dan layak
- Dampak :
Kecelakaan kerja mengakibatkan kerusakan organ tubuh (cacat tetap)
Jenis Kecelakaan : Kecelakaan Kerja
Penyebab : Tersengat listrik ketika memperbaiki LBS yang dikira padam.
Lokasi Kecelakaan : Rayon Sigli Kota
Tanggal Kecelakaan: 20 Januari 2016
Jenis Kecelakaan : Kecelakaan Kerja
Penyebab : Tersengat SR yang terkelupas , tanpa pengawas, tanpa APD
Lokasi Kecelakaan : Distribusi Lampung - Rayon Pringsewu
Tanggal Kecelakaan : 01 Februari 2016
Jenis Kecelakaan : Kecelakaan Kerja
Penyebab : Tersengat listrik ketika memperbaiki Jaringan 20Kv yang dikira padam.
Lokasi Kecelakaan : Rayon Cilacap
Tanggal Kecelakaan: 11 November 2016
Jenis Kecelakaan : Kecelakaan Kerja
Penyebab : Konsleting Panel dan tidak bekerjanya fire protection.
Lokasi Kecelakaan : PLTD Trisakti
Tanggal Kecelakaan: 04 Oktober 2015
Jenis Kecelakaan : Kecelakaan Kerja
Penyebab : Self Combustion Batubara yang terbawa oleh conveyor.
Lokasi Kecelakaan : PLTU Indramayu
Tanggal Kecelakaan: 04 Oktober 2015
Jenis Kecelakaan : Kecelakaan Umum ( Anak SD Memanjat Tiang Trafo)
Penyebab : Memanjat ke tiang trafo PLN (gak ada pagar)
Lokasi Kecelakaan : Ciracas
Tanggal Kecelakaan: 26 September 2014
Jenis Kecelakaan : Kecelakaan Umum
Dugaan Penyebab : Petugas PJU bekerja tanpa APD & tanpa koordinasi dengan PLN
Lokasi Kecelakaan : Area Pondok Gede
Tanggal Kecelakaan : 03 Februari 2016
Surat Edaran:
PLN PUSAT
No. 005/PST/1982
Bagi Pegawai yang tidak
menggunakan Pengaman Kerja /
Alat Pelindung Diri (APD) yang telah
disediakan, apabila mengalami
kecelakaan, dianggap bukan
Kecelakaan Dinas dan resiko
sepenuhnya ditanggung yang
bersangkutan.
Spectrum
Safety Culture
SAFETY CULTURE RENTAN PENGIKUT MAPAN CERAH RESILIENT
"TYPE" ATURAN
Menolak Sesuai dengan aturan Mengembangkan model Kepemimpinan yang aktif Mengupayakan ketahanan
manajemen risiko Sistem

Penolakan pada pemberi Tidak ada target yang jelas Meningkatkan Sistem Safety Manajemen Plan Selalu melakukan
pemahaman Manajemen sudah dipahami Pembaharuan
Whistleblowers Reaktif Memperbaiki Tenaga berkompeten & Responsibility share
diberhentikan Pengukuran Performa berpengalaman
didiskreditkan
Karakteristis
Mengikuti arus yang kuat Tidak ada perubahan Mengembangkan Action Akuntabilitas yang jelas Secara aktif mencari ide
plan
Informasi tidak Informasi diabaikan Monitoring progress Pengukuran performa Pemulihan yang cepat dari
disebarluaskan yang baik suatu kegagalan
Kegagalan dalam Sektoral, individual Klarifikasi Objective Tinjauan Manajemen Proses operasi yang flexibel
memberikan hukuman secara berkala
Ide baru yang selalu Ide baru adalah sebuah Emergency respon created Maindset "waspada" yang
dijatuhkan masalah konsisten
Deskripsi Diarray Organized Kredibel Thrusting Disciplined
Strategi Sanksi Langsung Mendorong Partner Champion
Prevention Culture
Budaya Pencegahan
PENGUTAMAAN DALAM PENCEGAHAN, KESEHATAN, KESELAMATAN DAN KESEJAHTERAAN
DI TEMPAT KERJA DI DALAM PRAKTEK BISNIS (PROSES BISNIS) DAN KEBIJAKAN LUAS
(PERUSAHAAN).

ATTIDUTE

KNOWLEDGE AWARENESS
4. Penilaian Kinerja K2
Tahapan Pembangunan
Budaya Safety

Budaya
Safety
Reward
& Punishment
Membangun
System
Membangun
Awareness
DIPAKSA TERPAKSA BISA TERBIASA BUDAYA
(KARAKTER)
Kesimpulan
Bahaya – Risiko – Kecelakaan
Memahami adanya potensi bahaya - cara
mengendalikan risiko – upaya pencegahan kecelakaan

Peduli
Peduli terhadap adanya bahaya & Risiko yang ada

Penilaian Kinerja
Maturity Level K2 dan Keamanan bukanlah hanya
sekedar mengejar penilaian korporat tetapi lebih
kepada perbaikan nilai – nilai K3 dan konsistensi
penerapannya
Terima kasih
1. APA KEPANJANGAN DARI K2 :
a. Keselamatan Kerja
b. Keselamatan Kekeluargaan
c. Keselamatan Ketenagalistrikan
d. Keselamatan Ketenagakerjaan
2. APA KEPANJANGAN DARI K3 :
a. Kesejahteraan dan Keamanan Kerja
b. Ketenagalistrikan dan Ketenagakerjaan Kinerja
c. Keselamatan dan Kesehatan Kerja
d. Keselamatan Keamanan dan Kesehatan
3. UU yang mengatur Ketenagalistrikan :
a. UU 30 Tahun 2009
b. UU 13 Tahun 2013
c. UU 1 Tahun 1970
d. Undang Undang Mantan ke pernikahan
4. Faktor penyebab terjadinya kecelakaan :
a. Unsafe Assessment dan Unsafe Creation
b. Unsafe Movement dan Unsafe Control
c. Unsafe Act dan Unsafe Condition
d. Unsafe Regulation dan Unsafe Administration
5. Dasar hukum yang mengatur SMK3 :
a. PP No 50 Tahun 2012
b. Permenaker No 4 Tahun 1987
c. UU No 32 Tahun 2009
d. PP No 61 Tahun 2014
6. Berapa Jumlah Elemen dan Kriteria dalam
SMK3 :
a. 15 Elemen dan 100 Kriteria
b. 10 Elemen dan 80 Kriteria
c. 12 Elemen dan 166 Kriteria
d. 20 Elemen dan 212 Kriteria
7. Sebutkan 3 Kategori tingkat penilaian hasil audit
SMK3 :
a. Tingkat Basic, Tingkat Advance, Tingkat Expert
b. Tingkat Ringan, Tingkat Menengah, Tingkat Berat
c. Tingkat Awal, Tingkat Transisi, Tingkat Lanjutan
d. Tingkat Mula, Tingkat Tengah, Tingkat Tinggi
8. Sebutkan 3 tingkat Penilaian Penerapan SMK3 :
a. Kurang, Baik, Memuaskan
b. Buruk, Bagus, Sempurna
c. Rendah, Menengah, Tinggi
d. Kurus, Sedang, Gemuk
9. Sebutkan 4 Pilar Ketenagalistrikan :
a. Keselamatan Kerja, Instalasi, Umum dan
Lingkungan
b. Keselamatan Korporat, Masyarakat, Kerja dan
Personel
c. Keselamatan Ketenagakerjaan, Umum, Aset dan
Lingkungan
d. Keselamatan Personil, Aset, Properti dan Umum
10.Sebutkan 4 Pilar Ketenagalistrikan :
a. Keselamatan Kerja, Instalasi, Umum dan
Lingkungan
b. Keselamatan Korporat, Masyarakat, Kerja dan
Personel
c. Keselamatan Ketenagakerjaan, Umum, Aset dan
Lingkungan
d. Keselamatan Personil, Aset, Properti dan Umum
11.Berapa Kriteria Kinerja Maturity Level K2 dan
Keamanan :
a. 25
b. 20
c. 18
d. 15
11.Unsur yang ada dalam penilaian Resiko :
a. Tingkat Kecelakaan, Kerusakan, Keparahan
b. Tingkat Keselamatan, Kejadian, Konsistensi
c. Tingkat Kekerapan, Keparahan, Kemungkinan
d. Tingkat Kesalahan, Keamanan, Kekerapan
12.Jelaskan contoh bahaya dan Resiko :
13.Sebutkan tingkat resiko pada penilaian resiko :
14.Sebutkan Hirarki Pengendalian Resiko :
15.Jelaskan alur proses Bisnis PLN :

Anda mungkin juga menyukai