Anda di halaman 1dari 30

Obat-Obat Saraf

Otonom
By. Rusdiati Helmidanora
Susunan saraf pusat (otak
dan sumsum tulang
belakang)
Susunan saraf
motorik
(otot – otot lurik) Susunan
Susunan saraf perifer saraf
simpatis

Susunan saraf (adrenergik)


otonom
Susunsn saraf
(otot- -otot polos, parasimpatis
jantung dan
kelenjar) (kolinergik)
SARAF

Sistem persarafan dibagi dua, yaitu:


1. Sistem saraf pusat
2. Sistem saraf periferi atau tepi

Sistem saraf pusat terdiri atas:


1. Otak (Brain)
2. Sumsun tulang belakang
Sistem saraf periferi terdiri atas:

1. Saraf otak
2. Saraf tulang belakang atau spinal nerves
3. Saraf otonom

Saraf otonom terdiri atas:


1. Saraf simpatik
2. Saraf parasimpatik
Mekanisme kerja sistem saraf

1. Rangsangan (stimulus)
2. Sensori reseptor (panca indera)
3. Saraf sensori/saraf aferen
4. Sistem saraf pusat (otak)
5. Sumsun tulang belakang
6. Saraf penggerak/saraf motorik/efferent
7. Alat gerak/organ-organ/efektor lainnya
Struktur sel saraf

1. Badan sel (cell body)


2. Dendrit
3. Neurit atau akson
 Susunan saraf otonom terdiri atas saraf dan simpul saraf / ganglia
/ ganglion.

 Susunan saraf otonom (SSO) bekerja menurut aturannya sendiri


(otonom / tidak kita sadari)

 fungsi sso : mengatur secara otomatis keseimbangan fisiologis


organisme (misal : suhu badan, tekanan & peredaran darah,
pernafasan, dsb.)
Susunan saraf otonom tersebar luas di seluruh tubuh
(misalnya: lambung,pembuluh darah jantung, usus, kelenjar
keringat dsb.)
Saraf otonom dibagi menjadi 2 yaitu,
Saraf simpatis (adrenergik)
Saraf parasimpatis (kolinergik)

Pada umumnya kedua susunan saraf ini bekerja antagonis, bila


salah satu sistem menghambat fungsi tertentu yang lain justru
menstimulasi

contoh : perangsangan saraf simpatis pada pembuluh darah arteri


akan menyebabkan vasokontriksi, sedangkan perangsangan saraf
parasimpatis akan menyebabkan vasodilatasi arteri.
kedua susunan saraf ini bekerja antagonis, bila salah satu sistem
menghambat fungsi tertentu yang lain justru menstimulasi
Efek stimulasi
organ Reseptor
S.simpatis S. parasimpatis
(adrenergik) (kolinergik)
Mata (pupil) α diperbesar diperkecil
Paru – paru (bronchia) β vasodilatasi vasokontriksi
Jantung β daya kontraksi diperkuat, Diperlemah
denyutan dipercepat
Arteriola αβ vasokonstriksi -
Vena α Vasokontriksi Vasodilatasi, diperlambat
Lambung, usus (peristaltik αβ dikurangi relaksasi -
& sekresi)
Kandung kemih dan α Relaksasi Diperbesar,kontriksi,
empedu, rahim berubah-ubah
Rahim yg mengandung β Vasokonstriksi -
Kulit, otot-otot α Vasokonstriksi -
Penerusan impuls pada saraf otonom

Pada saraf otonom, impuls disalurkan ke organ tujuan (efektor,


organ ujung) secara tidak langsung.

saraf otonom dibeberapa tempat terkumpul di sel – sel gaglion


(kump.sel-sel saraf diluar SSP), dimana terdapat sinaps (celah
diantara 2 neuron).

ganglia Organ ujung/efektor


SSP
preganglioner postganglioner
Saraf Simpatik
Saraf adrenergik / simpatis :

• Bekerja dg melepas neurotransmitter adrenalin /


noradrenalin (NA) di ujung sarafnya.
• Meliputi : neuron postganglioner dari saraf simpatis.
• Adrenalin / NA juga diproduksi oleh medulla adrenalis /
cortex.
Metabolisme neurotransmiter

Untuk menghindari akumulasi neurotransmiter dalam tubuh &


terangsangnya saraf secara kontinyu, maka neurotransmiter
tersebut di-inaktivasi.

 Asetilkolin (Ach) diuraikan oleh enzim Asetilkolinesterase (AChE)


menjadi kolin & asetat (tidak berefek sbg neurotransmitter lagi).
Noradrenalin dan adrenalin mengalami
demetilasi (dalam darah) oleh enzim
metiltransferase (COMT) dan deaminasi (dalam
hati) oleh monoamin-oksidase (MAO)

MAO juga bertanggung jawab pada penguraian


(metabolisme) neurotransmiter yang lain yg aktif
dalam SSP, yaitu Catecholamin, misal : serotonin
dan dopamin.
Obat – obat otonom

 Obat – obat otonom adalah obat – obat yang dapat mempengarui


penerusan impuls dalam SSO dengan jalan mengganggu sintesa,
penimbunan, pembebasan, dan penguraian neurotransmiter atau
mempengaruhi kerja neurotransmitter terhadap reseptor khusus.

 Akibatnya adalah dipengaruhinya fungsi organ (otot polos,


jantung, dan kelenjar).
zat – zat yang bekerja terhadap saraf simpatis

• Simpatomimetika (adrenergika) bekerja merangsang


(meniru efek) organ yg dilayani saraf
simpatis,misalnya : noradrenalin, efedrin,isoprenalin,
amfetamin

• Simpatolitika (adrenolitika) bekerja menekan saraf


simpatis atau melawan efek adrenergika, contoh :
propranolol.
Adrenergika (simpatomimetika)

• Adrenergika dibagi dua kelompok menurut titik kerjanya, yaitu


reseptor alfa (α)dan reseptor beta(β). perbedaan kedua reseptor
didasarkan pada kepekaan terhadap adrenalin, noradrenalin (NA)
and isoprenalin / isoproterenol.
• Reseptor α lebih peka terhadap NA (adrenalin ≥ NA >
isoprenalin).
• Reseptor β lebih peka terhadap isoprenalin (isoprenalin > NA ≥
adrenalin)
Berdasarkan efek fisiologinya
reseptor α & β alfa-1 & alfa-2 ; beta-1 & beta-2.

Alfa-1 : menimbulkan vasokontriksi otot polos (kecuali


otot polos usus : vasodilatasi) dan menstimulasi sel-
sel kelenjar (meningkatkan sekresi liur dan
keringat).

Alfa-2 : menghambat pelepasan NA pada saraf – saraf


adrenergik dengan turunnya tekanan darah,
mungkin juga pelepasan Ach pada saraf kolinergis
pada usus terhambat sehingga turunnya periltastik
Beta-1 : memperkuat daya dan kontraksi otot
jantung (efek inotrop dan kronotrop)

Beta-2 : bronchodilatasi dan stimulasi metabolisme


glikogen dan lemak.
Tabel : efek stimulasi reseptor alfa & beta
Stimulasi pada : Efek alfa Efek beta-1 Efek beta-2
Sirkulasi jantung -------------- Inotrop/kronotrop Vasodilatasi –
(+) koroner
Sirkulasi perifer Vasokonstriksi, ----------- -----------
TD naik,
Sekresi kelenjar-
naik
SSP :
1. Nafas Vasokonstriksi ------------ Bronkhodilatasi
mukosa mata &
hidung.
2. Kewaspadaan
Aktv. Psikomotor ----------- ---------
naik, pupil
melebar, nafsu
makan turun.
metabolisme Glikogenolise naik ------------ Sekresi insulin &
Pelepasan as. renin naik.
Lemak naik
Pengolongan adrenergika

Adrenergika dapat dibagi menjadi dua kelompok yaitu :


Zat-zat yang bekerja langsung pada reseptor organ
tujuan (adrenalin, NA, isoprenalin), efedrin dan dopamin
bekerja langsung & tak langsung.

Zat-zat yang bekerja tidak langsung, yaitu dengan cara


merangsang pengeluaran NA dari tempat
penyimpanannya (di ujung saraf
adrenergik/simpatik),contoh : efedrin, amfetamin,
guanetidin,dan reserpin.
Penggolongan dapat juga menurut jenis reseptor yang
khusus distimulasi oleh obat tersebut :

Adrenergika Efek-alfa Efek beta-1 Efek beta-2

Adrenalin x x x
Noradrenalin x x o
Fenilefrin x o o
Efedrin x x x
Norefedrin x x x
Oksifedrin o x o
Dopamin x x x
Dobutamin o x o
Serotonin x x -
Isoprenalin dan turunannya o x x
Salbutamol dan turunannya o o x
Isoksuprin o x x
Ritodin o o x
Nafazolin dan turunannya x o o
Amfetamin dan turunannya x o o

X : efek utama; o : efek ringan; - : tidak berefek


Penggunaan adrenergika
• Pada shock guna memperkuat kerja jantung (beta-1) dan
melawan hipotensi (alfa-1), contoh : adrenalin dan
noradrenalin(NA)

• Pada asma untuk broncodilatasi (beta-2), contoh : salbutamol


dan turunannya, adrenalin dan efedrin

• Pada hipertensi , menurunkan ketahanan perifer & dinding


pembuluh dg memblok pelepasan NA (alfa-2) & alfa-1. contoh :
propranolol

• Sebagai vasodilator perifer (beta-2) di betis, contoh :


buflomedil pd penyakit claudicatio intermittens
•Pada pilek guna menciutkan mukosa yang bengkak
(alfa), contoh : turunan imidazol, efedrin dan
adrenalin
•Sebagai midriatikum guna melebarkan pupil (alfa),
contoh : fenilefrin dan nafazolin
•Pada obesitas yaiu untuk menekan nafsu makan,
contoh : fenfluramin dan mazindol
•Pada nyeri haid & menghambat kontraksi untuk
relaksasi otot rahim (beta-2), contoh : ritodrin
Efek samping adrenergika

• Pada dosis biasa, adrenergika menimbulkan efek samping


pada jantung dan SSP yaitu jantung berdebar,nyeri
kepala, gelisah dsb. Untuk itu perlu hati-hati jika diberikan
pada penderita yang mengindap infark jantung , hipertensi
dan hipertirosis.

• Tachyfylaxis, bila digunakan lama. Efek ini semacam


resistensi yang terjadi jika diberikan berulang pada waktu
yang singkat. Contoh : efedrin & adrenergik kerja tak
langsung karena habisnya cadangan NA.
Adrenolitika / simpatolitika
Dikelompokkan menjadi tiga :

1. Alfa blockers
zat yang memblokir reseptor alfa yang banyak terdapat pada otot polos
pembuluh (khususnya pembuluh kulit & mukosa).
Efek utamanya adalah vasodilatasi perifer.
ada tiga jenis alfa blockers :
• Alfa blockers tidak selektif
contoh : fentolamin untuk hipertensi & disfungsi
ereksi.

• Alfa-1 blockers selektif


contoh : derv. Quinazolin (prazosin, terazozin,
tamsulosin) serta urapidil untuk hipertensi dan
hiperplasia prostat.

• Alfa-2 blockers selektif


contoh : yohimbin (aprodisiaca).
2. Beta- blockers, banyak digunakan untuk
antihipertensi, dibagi 2 kelompok :

• Beta-1 blockers selektif


yaitu melawan efek stimulasi jantung oleh adrenalin & NA
(reseptor beta-1), contoh : atenolol dan metoprolol

• Beta blockers tidak selektif


juga berefek pada reseptor beta-2 (menghambat
bronchodilatasi), contoh : propranolol, alprenolol, dsb.

3. Penghambat neuron adrenergis


tidak menghambat reseptor adrenergis tapi
menghambat pelepasan catecholamin pada
postganglioner dari saraf adrenergis (s.simpatis),
contoh : guanetidin (untuk terapi glaukoma tertentu).
Thank You
Semoga Bermanfaat

Make Presentation much more fun