Anda di halaman 1dari 29

ILMU KESEHATAN

MASYARAKAT
Husnul Warnida, M.Si, Apt
Akademi Farmasi Samarinda
2016
Tujuan Pembelajaran

 Mahasiswa mampu menjelaskan


arti ilmu kesehatan masyarakat
 Mahasiswa mampu menjelaskan
ruang lingkup ilmu kesehatan
masyarakat.
 Mahasiswa mampu menjelaskan
pentingnya ilmu kesehatan
masyarakat dalam bidang
farmasi.
Perkembangan Kesehatan di Dunia
1. Empirical Era
2. Basic Science Era
3. Clinical Science Era
4. Public Health Science Era
5. Community oriented medicine
era
6. Family Medicine
Periode Sebelum Ilmu Pengetahuan
 Di Peradaban Babylonia, Mesir, Yunani dan
Roma ditemukan dokumen tertulis yang
mengatur tentang pembuangan air limbah,
air minum dan sebagainya.
 Tetapi upaya-upaya tersebut ditujukan
bukan untuk tujuan kesehatan namun
lebih kepada estetika.
 Pada abad ke-7 upaya kesehatan
masyarakat muncul karena
berkembangnya berbagai jenis penyakit
menular
 Menyebarnya wabah kolera dari Asia
hingga ke Afrika. India merupakan pusat
endemik kolera. Munculnya wabah lepra
mulai dari Mesir ke Turki dan ke Eropa
• Sebelum terjadinya wabah,
pengobatan terhadap penyakit
hanya menggunakan obat-
obatan tradisional oleh tabib
• Mulanya ilmu pengobatan hanya
ilmu turun temurun dari keluarga
• Namun seiring dengan
munculnya berbagai macam
wabah, pengobatan tradisional
tidak mampu menyelesaikan
masalah
Periode ilmu pengetahuan
 Pada awal abad ke -19 periode bangkitnya ilmu
pengetahuan.
 Sebelum abad ini, masalah kesehatan hanya
dimaknai sebagai fenomena biologi (makna yang
sempit),
 Pendekatan masalah kesehatan dilakukan secara
komprehensif dan multisektoral.
 Penyelidikan masalah-masalah kesehatan sdh
dikembangkan secara ilmiah
 Pada abad ini mulai ditemukan berbagai macam
penyebab penyakit dan vaksin sebagai pencegah
penyakit.
Output perkembangan
ilmu kesehatan masyarakat dalam Bidang
Farmasi
1. Vaccin cacar (1796)
2. Kina-malaria (1820)
3. Phenol- desinfekton –awal 1867
4. Difteri anti toxin-1890
5. Tetanus anti toxin – 1892
6. Sulfanilamid-1922
7. Penicilin (1922) digunakan sebagai AB 1938
8. Sulfadiazin-1947
9. Chloromycetin-1947
10. Stretoptimycin; euromicyn; Bacitracin-1948
11. Neomicyn-1951
12. Isoniacid-1952
13. Salk Vaccin 1953
14. Vaccin Morbili 1963
 Pada abad ke-20 mulai dikembangkan pendidikan
untuk tenaga kesehatan yang profesional.
 Pada tahun 1821 >> sekolah tinggi ilmu farmasi di
philadelphia
 Pada tahun 1893 John Hopkins mempelopori
berdirinya universitas dan di dalamnya terdapat
sekolah/ fakultas kedokteran
 Pengembangan kurikulum sekolah kedokteran
sudah didasarkan pada asumsi bahwa penyakit dan
kesehatan merupakan hasil interaksi yang dinamis ;
gen, lingkunan fisik, sosial, perilaku dan yankes.
 Pada Tahun 1855, pemerintah AS membentuk
Departemen kesehatan yang pertama
 Pada tahun 1972 telah diadakan pertemuan praktisi
kesehatan pemerhati kesehatan masyarakat 
menghasilkan Asosiasi Kesehatan Masyarakat
Perkembangan Kesmas di Indonesia
 Dimulai pada pemerintahan Belanda abad ke-16, sebagai
upaya pemberantasan penyakit cacar dan kolera
 Tahun 1807, Gubernur Jendral Deandels, dilakukan
pelatihan dukun bayi untuk menekan AKI.
 Tahun 1851, sekolah dokter jawa didirikan yang disebut
STOVIA. 1947 berubah menjadi FK UI.
 Tahun 1913 didirikan sekolah dokter di Surabaya
 Tahun 1946 didirikan perguruan tinggi farmasi di Klaten
dan tahun 1947 di UGM
 Tahun 1965 didirikan FKM UI
 Tahun 1988 didirikan laboratorium kesehatan di bandung.
1938 pusat laboratorium berubah menjadi Lembaga
Eykman. Disusul dengan berdirinya laboratorium lain di
medan, semarang, makassar, surabaya dan yogyakarta.
 Tahun 1922 pes masuk ke indonesia dan terjadi epidemi
di beberapa tempat. Tahun 1935 dilakukan pemberatasan
terhadap penyakit pes dengan melakukan penyemprotan
DTT ke rumah-rumah penduduk.
• Tahun 1956 dimulai
kegiatan pengembangan
masyarakat sebagai upaya
pengembangan kesehatan
masyarakat.
• Diawali di Bekasi sebagai
proyek percontohan yankes
(keterpaduan
pengembangan kesehatan
masyarakat di
Pengertian IKM
 Penemuan bakteri di akhir abad ke-
18 mendorong perbaikan sanitasi
lingkungan dan pencegahan
penyakit melalui imunisasi
 Public health (IKM) sudah
berkembang baik di abad ke-19
 Didefinisikan sebagai keterpaduan
ilmu kedokteran, sanitasi, dan ilmu
sosial untuk mencegah penyakit di
masyarakat
Pengertian IKM
 Menurut Winslow (1920), IKM adalah
ilmu dan seni mencegah penyakit,
memperpanjang hidup, dan
meningkatkan kesehatan melalui
upaya-upaya pengorganisasian
masyarakat
Pengertian IKM
Menurut Winslow, upaya-upaya
pengorganisasian masyarakat meliputi:
 Perbaikan sanitasi lingkungan
 Pemberantasan penyakit menular
 Pendidikan untuk kebersihan
perorangan
 Manajemen pelayanan kesehatan
 Pengembangan rekayasa sosial untuk
menjamin setiap orang terpenuhi
kebutuhan hidup yang layak dalam
memelihara kesehatannya
Disiplin Ilmu IKM
IKM adalah ilmu multidisiplin >>> krn
masalah kesehatan adalah multikausal
Awal mulanya mencakup 2 bidang ilmu
 Ilmu biomedis
 Ilmu sosial
Seiring perkembangan jaman, meliputi
 Ilmu biologi, Ilmu kedokteran, Ilmu
kimia, Ilmu lingkungan. dll
 Sosiologi, antropologi, psikologi, ilmu
pendidikan, dll
Pilar Utama IKM
• Epidemiologi
• Biostatistik
• Kesehatan lingkungan
• Pendidikan kesehatan/ ilmu
perilaku
• Administrasi dan kebijakan
kesehatan
• Gizi kesehatan masyarakat
• Kesehatan kerja
• Kesehatan reproduksi/
kependudukan
Contoh upaya-upaya kesehatan
masyarakat
 Pemberantasan penyakit, baik menular maupun
tidak menular.
 Perbaikan sanitasi lingkungan,
 Perbaikan lingkungan pemukiman
 Pemberantasan vektor
 Pendidikan (penyuluhan) kesehatan
masyarakat.
 Pelayanan kesehatan ibu dan anak
 Pembinaan gizi masyarakat
 Pengawasan sanitasi di tempat-tempat umum
 Pengawasan obat dan minuman
 Pembinaan peran serta masyarakat
 dan sebagainya.
PERAN FARMASIS DALAM
PELAYANAN KESEHATAN
MASYARAKAT
• Perspektif pelaku kesehatan
masyarakat (kesmas) terdiri dari 2
level, makro dan mikro.
• Community pharmacist -level
mikro.
• Perencana kebijakan pencegahan
penyakit menular, penyuluhan
promosi kesehatan -level makro.

• Fokus: individual vs
komunitas/populasi.
• Membangun dan meningkatkan
kesehatan masyarakat berarti
pengembangan praktek
kefarmasian.

• Farmasis dapat melakukan promosi


kesehatan dengan 4 cara:
* Patient monitoring and education
* Patient assessment and risk factor
analysis
* Preventive health care
* Health promotion and disease
 Aktivitas farmasis kesmas membentang
dari formulasi kebijakan hingga konseling
pasien dari makro ke mikro.
 Makro : formulasi kebijakan, misal
kebijakan obat nasional, sistem pelayanan
kesehatan, pelayanan kefarmasian,
penanggulangan penyakit menular,
epidemi, lingkungan, dan penyuluhan pola
hidup sehat.
 Mikro : konseling penggunaan obat,
analisis peresepan salah, peningkatan
peresepan rasional, TDM, maupun DTM.
 Aktivitas managing drug related problems
dapat dikatagorikan level makro/mikro.
 Medication maintenance : pasien
dng penyakit kronik, generatif
(tergantug obat), monitoring
kepatuhan, khasiat, dan efek
samping.
 Konseling : penggunaan obat yg
benar dng bahasa sederhana,
mendapatkan kepatuhan optimal,
menumbuhkan tanggung-jawab
pasien.
 Patient monitoring : DTM 
pemantauan out-comes (efektivitas
therapy)
 Family counseling : lewat
• Keterkaitan farmasis dalam fungsi kesmas
terutama dalam menyusun kebijakan
(menyangkut) kesehatan, baik organisasi,
lokal, regional, nasional, maupun
internasional
• Parameter umum yg baku tentang hubungan
farmasis dengan kesmas adalah
penggunaan obat (rasional) yang terkait
kebijakan publik.
• Jika farmasis tidak terlibat dalam penentuan
kebijakan tersebut  pelayanan kesehatan
masyarakat tidak terlayani secara optimum.
Problem yg muncul di
antaranya: prevalensi dan
insidensi penyakit, jumlah dan
penderitaan ADRs, tingkat
kepatuhan minum obat, biaya,
karakteristik peresepan,
kesalahan dispensing, promosi
medrep, dan pengobatan
sendiri.

>
Aktivitas farmasis dalam pelayanan kesmas
:
• Imunisasi : dalam pemberian tidak
berperan, namun suplai logistik
merupakan hal yg esensial.
 Penyalah-gunaan dan penggunaan-salah:
obat, alkohol, merokok, zat adiktif yg lain,
dosis
 Penyuluhan penularan penyakit seksual :
AIDS  pendidikan perilaku sehat.
 Keluarga berencana
 Penyuluhan dan penyebaran informasi
kesehatan : informasi diit, latihan fisik,
P Tetap diadopsi
P
e Diterima
e K
r (adopsi)
n e
t Ditolak
g p
i
e u
m
t t Penguatan
b
a u
a
h s
n
u a Tetap ditolak
g
a n Ditolak
a Adopsi
n
n

Skema proses adopsi inovasi


Severity
(Lung cancer and coronary heart
diseases are serious diseases)

Vulnerability
(If I continue to smoke, I will run the
risk of getting these diseases) Threat appraisal
Intrinsic rewards
(I enjoy smoking)

Extrinsic rewards
(Smoking is good for my image) Protection motivation
Response efficacy (I intend to stop)
(Stopping smoking considerably
reduces the risk of getting cancer or
heart disease)

Self-efficacy Coping appraisal


(If I wanted to, I could stop smoking)
Response costs
(For the first few months I would
suffer terribly)

Protection motivation theory applied to the reduction of smoking


Perceived susceptibility
(Because I often engage in
unprotected sex, I could get
infected with HIV
Belief in a personal
Perceived severity health threat
(Practically all people who
are HIV-infected die
eventually)
Health behaviour
(I will use condoms)
Perceived benefits
(if I always use condoms
when having sex, there will
be no risk of HIV infection) Belief in the
effectiveness of a
Perceived barriers health behaviour
(The use of condoms
reduces sexual enjoyment)

The health belief model applied to the reduction of sexual risk


terimakasih
selamat belajar