Anda di halaman 1dari 74

PSPA FF ISTN

Peraturan Perundang-
undangan & Etika
Kefarmasian
Fauzi Kasim
Profesi, Pedoman Disiplin,
Kode Etik dan Peningkatan
Profesionalitas
TUJUAN UMUM
PERKULIAHAN
Mahasiswa mampu dan siap
memanfaatkan /menjalankan profesi
/ pekerjaan / praktik kefarmasian dan
pengembagan diri berdasarkan dan
mengindahkan
disiplin dan etika profesi
TUJUAN KHUSUS
PERKULIAHAN
1. Mahasiswa dapat menjelaskan
Pengertian dan ciri Profesi
2. Mahasiswa dapat menjelaskan dan siap
memanfaatkan Pedoman Disiplin Dan
Kode Etik Apoteker
3. Mahasiswa dapat menggunakan dan
menjalankan Upaya Peningkatan
Profesionalitas secara berkelanjutan
MATERI BAHASAN
1. PROFESI & PEKERJAAN /
PRAKTIK KEFARMASIAN
2. PEDOMAN DISIPLIN DAN KODE
ETIK APOTEKER
3. PENINGKATAN
PROFESIONALITAS
PONDASI PROFESI APOTEKER

PROFESIONALISME
PROFESIONAL
PROFESI

PER-UU-AN & ETIKA FARMASI / Fauzi Kasim / 2017


YANFAR - MSH - MJM 6
UU 36/’09,UU 36/14; PP 51/’09; PMK 889/’11&31/’16
PMK : 72,73,74/’16, GMP, GDP, GLP
• Setiap Tenaga Kesehatan dalam melakukan tugasnya
berkewajiban untuk memenuhi Standar Profesi
Tenaga kesehatan
• Akreditasi, Sertifikasi, Registrasi & Lisensi tenaga
kesehatan dilaksanakan sesuai Per-UU-an
• STRA & SIP memerlukan Sertifikat Kompetensi
Apoteker

• Standar terkait Profesi Apoteker


– Standar Kompetensi
– (Kode Etik)
– Standar Pelayanan/ Produksi
– Standar Pendidikan
– Standar / Pedoman Praktik Apoteker
NORMA HUKUM – DISIPLIN - ETIKA

HUKUM

DISIPLIN

ETIKA
Komponen Standar Profesi

Etika Disiplin Hukum

Kesehatan Kompetensi Komunikasi

Norma etika Batas usia SYSTEM-BASED Sikap akuntabel STR/SIP/SIK


profesi luhur maksimal PRACTICE & hormati HAM individual,
(altruism, pasien : melekat ,
l’esprit de Informed kemampuan
corpse) consent, empati, rata2
dll
Norma sopan Kriteria laik Performance Wawasan Peer review
santun / Fisik-mental Professional kultural, rujukan saksi ahli,
kesejawatan, Kepribadian, PRIVILEGES dll Asosiasi
kepemimp., Hak & Kewajiban
kebangsaan Bebas NAPZA
WN
Relevansi Standar Profesi

MEDAI & MDTK PN

Etika Kesehatan Kompetensi Komunikasi

Fatwa etis – Sertifikat, Peer review : IAI Risk >>> : Perdata :


integritas umur APTFI Informed Pasien / klien
Pedoman consent  membuktikan
/Kode Etik Reasonable
person standard
 info adekuat Pidana :
Polisi
Etika sosial : Uji laik Evaluasi Implied consent
membuktikan
iptek Farmasi, kesehatan Continuing Public health
Professional consent
Development
PERAN APOTEKER
CARE GIVER TEACHER

DECISION LIFE LONG


MAKER LEARNER
SEVEN STAR
PHARMACIST
PLUS
RESEARCHER
MANAGER

COMMUNI
CATOR LEADER
10 AREA STANDAR KOMPETENSI APOTEKER
INDONESIA
(PERSYARATAN PRAKTIK/ ENTRY LEVEL)
1. Praktik kefarmasian secara professional dan etik
2. Optimalisasi penggunaan sediaan farmasi
3. Dispensing sediaan farmasi dan alat kesehatan
4. Pemberian informasi sediaan farmasi dan alat
kesehatan
5. Formulasi dan produksi sediaan farmasi
6. Upaya preventif dan promotif kesehatan masyarakat
7. Pengelolaan sediaan farmasi dan alat kesehatan
8. Komunikasi efektif
9. Ketrampilan organisasi dan hubungan interpersonal
10. Peningkatan kompetensi diri

10 AREA, 42 UNIT, 317 ELEMEN


PEDOMAN DISIPLIN &
KODE ETIK APOTEKER

13
Mengapa perlu …….
• Per-UU-an mengamanatkan, namun belum
semua diatur
• Dituntut fair, adil, jujur, berbudi luhur,
• Apoteker itu profesi : individu dan kelompok.
– Profesi : autoregulasi, kompetensi & perubahan
– Individu dan kelompok memerlukan arah / standar
/ pedoman / map, dll
– Kontak dgn nakes & masyarakat : ada tanggung
jawab, prtanggung jawaban dan mutu
pelayanan/pekerjaan
– Banyak kemungkinan pengambilan keputusan,
apakah itu salah /benar atau konflik
Tujuan
• Menjunjung tinggi martabat Profesi.
• Menjaga dan memelihara kesejahteraan
anggota.
• Meningkatkan pengabdian anggota.
• Meningkatkan mutu Profesi.
• Meningkatkan layanan kepada
pengguna jasa.
• Untuk menentukan standard sendiri.
Fungsi (1)
1. Kewibawaan profesi  makin mantap
substansi etis yang diatur & prosedurnya,
makin kredibel
2. Parameter normatif  tolok ukur
perlindungan etis klien/pasien  makin
altruis/deontologis makin luhur
3. Self regulating  self disciplining utk
akuntabilitas profesi  berani memanggil,
menyidangkan & menjatuhkan sanksi
Fungsi (2)
4. Merupakan “map” dalam berpraktik
profesi (terutama bagi yang baru lulus)
5. Sebagai pedoman setiap anggota dalam
menjalankan profesinya.
6. Sebagai sarana kontrol bagi masyarakat
atas pelaksanaan profesi tersebut.
7. Mencegah campur tangan pihak luar
organisasi tentang hubungan etika /
disiplin dan keanggotaan organisasi.
Prinsip yg dipakai(1)
1. Bersikap objektif pada saat adanya
kebebasan memilih atau memutuskan,
karena Apoteker tahu pilihan yang
terbaik.
2. Selalu memenuhi hak klien untuk
memperoleh pemahaman yang baik
terhadap keterangan tentang manfaat
dan risiko yang mungkin timbul dalam
pelayanan yang dilakukan sesuai
kompetensi Apoteker,
Prinsip yg dipakai(2)
3. Selalu melakukan penilaian yang adil
dan etis untuk menjaga rahasia
kefarmasian terkait praktik maupun klien
4. Apoteker selalu berusaha untuk berbuat
yang terbaik dan sekaligus berusaha
menghindari adanya peluang kesalahan
5. Setiap saat loyal, tidak membedakan,
adil dan bersahabat terhadap klien.
6. Selalu memenuhi hak klien untuk
dihargai atau dipenuhi kebutuhannya.
PRAKTIK APOTEKER
BERTANGGUNG JAWAB
 SESUAI :
– MORAL/ETIKA, DISIPLIN & LEGAL
– TUGAS / BEBAN TERUKUR YANG
DIPIKUL

 MELAKSANAKAN :
– KEPERCAYAAN YANG DIBERIKAN
– KEWAJIBAN YANG DIBEBANKAN
– PERATURAN, STANDAR & PROSEDUR
YANG DITETAPKAN
PRAKTIK APOTEKER
BERTANGGUNG JAWAB

 Memelihara Kompetensi : Sertifikasi & CPD


 Mengikuti Perkembangan Per-UU-an & IPTEK
 Membuat Standar Prosedur Operasional / Instruksi
Kerja
 Menyediakan dan Membina Kompetensi TTK
 Melaksanakan Praktik Sesuai SPO/IK
 Mendelegasikan Tugas Kepada TTK Yang Kompeten
 Memelihara Catatan & Membuat / Menyampaikan
Laporan
PEDOMAN DISIPLIN
APOTEKER INDONESIA
Disiplin : kepatuhan terhadap aturan-aturan
dan/atau ketentuan penerapan keilmuan
sebagai Apoteker, melalui :
1. Pelaksanaan praktik Apoteker sesuai
dengan Standar kompetensi dan
Pedoman Praktik Apoteker.
2. Pelaksanaan tugas dan tanggung jawab
profesional dengan baik
3. Berperilaku untuk menjaga martabat
dan kehormatan Apoteker.
PEDOMAN DISIPLIN APOTEKER
..\MEDAI\BUKU\Buku KEAI dan PDAI 2015.docx

KESEHATAN KOMPETENSI KOMUNIKASI


SEHAT FISIK PENGETAHUAN, “CONCENT”;
& JIWA KETRAMPILAN & EFEKTIF
SIKAP RUJUK, FAIR,
DLL
11 1,2,3,4,6,7,8,9 5, 14, 15, 16,
,10,12, 13, 17, 18, 20, 21,
19 22
KODE ETIK APOTEKER INDONESIA

KEWAJIBAN ( & LARANGAN) PERILAKU TERHADAP :

1.DIRI SENDIRI
2.TEMAN SEJAWAT
3.PENERIMA JASA
4.PROVIDER / NAKES LAIN
PENINGKATAN
PROFESIONALISME
Continuous Professional Development
&
Practice Improvement
25
Continuous Professional Development
• TANGGUNG JAWAB APOTEKER
• UNTUK MENJAMIN
KOMPETENSINYA
• MELALUI PEMELIHARAAN &
PENGEMBANGAN PENGETAHUAN,
KETRAMPILAN DAN PERILAKU
• SECARA SISTEMATIS
• SELAMA BERKARIR ATAU
BERPRAKTEK
Kredensial & Proses Kredensial
• Kredensial adalah bukti tertulis dari sertifikasi,
pendidikan, pelatihan, pengalaman atau kualifikasi
lainnya (Joint Comission Accreditation, 2017)
• Proses Kredensial adalah proses evaluasi
suatu rumah sakit terhadap seorang Profesinal
Pemberi Asuhan (PPA) untuk menentukan
apakah yang bersangkutan layak diberi
penugasan klinis dan kewenangan klinis untuk
menjalankan asuhan/tindakan medis tertentu
dalam lingkungan rumah sakit tersebut untuk
periode tertentu (Herkutanto, 2009)
MENGAPA CPD PERLU ?
• AREA KE 10 STANDAR KOMPETENSI APOTEKER :
PENINGKATAN KOMPETENSI DIRI
• SALAH SATU DARI SEVEN STAR’S PLUS : LIFE
LONG LEARNER
• PERATURAN PERUNDANG-
UNDANGAN, PEDOMAN DISIPLIN
DAN KODE ETIK APOTEKER
MEWAJIBKAN APOTEKER
MENGEMBANGKAN DIRI DAN
PRAKTIK BERTANGGUNGJAWAB
MENGAPA CPD PERLU ?
IPTEK &
PRAKTIK
BERKEMBA
NG

YANKES & SUMBER


YANFAR DATA / INFO
BERUBAH BERAGAM

BANYAK
APOTEKER
BELUM
PAHAM /
TRAMPIL
Profesinalisme harus dibuktikan
• APOTEKER YANG BERETIKA
• PUNYA PARADIGMA POSITIF DALAM
YANKES
• PENTINGNYA AKUNTABILITAS
• PENGAMBILAN KEPUTUSAN BERBASIS DATA
(Evidence based)
• APOTEKER YANG PUNYA KOMPETENSI
TERAUDIT
• MANAJEMEN BERBASIS SISTEM INFORMASI
• PENINGKATAN PROFESIONALISME
BERKELANJUTAN (CPD – PI)
KEBUTUHAN THDP APOTEKER OLEH :

1. PEMERINTAH : AGAR APOTEKER DAPAT


BUKTIKAN ! MEMBANTU PEMERINTAH DALAM
MENGAWASI DAN MENGENDALIKAN
PENDISTRIBUSIAN/ PENGGUNAAN OBAT DI
MASYARAKAT
PEMERINTAH DOKTER KONSUMEN
(REGULATOR/ (PRESCREPTOR) (CUSTOMER)
CONTROLER)
2. DOKTER : AGAR APOTEKER DAPAT
MENGHORMATI HAK PROFESI DAN SALING
MEMBERI INFORMASI

3. PASIEN : DAPAT MEMPEROLEH PELAYANAN


KEFARMASIAN YANG OPTIMAL
APOTEKER 4. INVESTOR : DAPAT MELAKSANAKAN FUNGSI
KOMERSIAL DAN FUNGSI SOSIAL YANG
BERKELANJUTAN

5. PAYER : PELAYANAN TERSTANDAR, EFEKTIF,


INVESTOR/
SHARE PAYER LSM/SOCIAL & EFISIEN
HOLDER (FINANCING) ADVOCATOR
6. LSM : AGAR APOTEKER DAPAT MEMBERIKAN
PELAYANAN SESUAI DENGAN HAK-HAK
KONSUMEN
REPROFESIONALISASI
UNTUK MASA DEPAN ( 1 )

• PENINGKATAN HUBUNGAN
APOTEKER – PROFESIONAL LAIN –
MASYARAKAT

• PENINGKATAN FUNGSI KOGNITIF


– MESO, TDM, DLL
• PENINGKATAN FUNGSI
INFORMATIF
– KIE & KONSELING, DLL
REPROFESIONALISASI
UNTUK MASA DEPAN (2)
• MENGIKUTI PENDIDIKAN BERKELANJUTAN
& MENG “UP DATE” SUMBER INFORMASI
• MENYUSUN STANDARD OPERATING
PROCEDURE DI BERBAGAI BIDANG /
SARANA PEKERJAAN KEFARMASIAN

• MENGGUNAKAN TEKNOLOGI DAN


INFORMASI & MEMBANGUN SISTEM
INFORMASI MANAJEMEN & SISTEM
INFORMASI PELAYANAN/PRODUK
REPROFESIONALISASI
UNTUK MASA DEPAN (3)
• MENGIDENTIFIKASI KEBUTUHAN
MASYARAKAT / PELANGGAN UNTUK
MENYESUAIKAN DENGAN PRODUK &
JASA YANG AKAN DISEDIAKAN
• MEMPERTEGAS & MEMBEDAKAN
KEGIATAN FUNGSI DISTRIBUSI DAN
FUNGSI PELAYANAN KEFARMASIAN
DI SARANA PELAYANAN
KEFARMASIAN
MEMELIHARA KOMPETENSI

SKA, STRA, SIP


BAGAIMANA MENGISI
5 TAHUN
5 TAHUN ?

Continuous Professional Development


&
Practice Improvement
PROSES SERTIFIKASI BERKELANJUTAN

1. AKREDITASI DIRI & SERTIFIKASI AWAL


2. MENYUSUN RENCANA PENGEMBANGAN
PROFESIONALITAS
( Continuous Professional Development )
3. MENGEMBANGKAN PRAKTIK KEFARMASIAN
( Practice Improvement )
4. MELAKSANAKAN & MENDOKUMENTASIKAN
PRAKTIK KEFARMASIAN
( Practice & Documentation )
4. AKREDITASI & SERTIFIKASI LANJUTAN
TAHAPAN CPD - PI
RUMUSKAN
RUANG
LINGKUP,
RINCIAN LAKSANA
KEWENANGAN KAN CPD,
& KEBUTUHAN
PRAKTIK
CATAT &
EVALUASI
LAKUKAN “SWOT
RENCA
ANALYSIS”/“SELF NAKAN
ASSESSMENT”
CPD TINGKAT
KAN
PELAJARI
PRAKTIK
KOMPETENSI
YANG
& CATAT
DIPERLUKAN
Akreditasi Diri Apoteker
AKREDITASI DIRI ADALAH SEBUAH PROSES YANG SISTEMATIS DALAM
MENGUMPULKAN BUKTI-BUKTI, KEMUDIAN MEMBANDINGKAN BUKTI-
BUKTI TERSEBUT DENGAN STANDAR KOMPETENSI DAN MEMBUAT
KEPUTUSAN APAKAH TELAH MENCAPAI KOMPETENSI.

Bukti – bukti
Kompetensi Standar
Kompetensi

Apoteker
KOMPETENSI & KEWENANGAN
V
KOMPETENSI A
KEWENANGAN
PENGETAHUAN L IJAZAH
U SERTIFIKAT
SIKAP STRA
E
KETRAMPILAN S I K / SIPA

EVIDENCE & PERFORMANCE


KOMPONEN SERTIFIKASI
Komponen :
• PORTOFOLIO / SKP
Atau
• UJI KOMPETENSI atau
• OBJECTIVE STRUCTORED
CLINICAL EEXAMINATION
(OSCE)
JUMLAH DAN PROPORSI SKP
JUMLAH SKP JUMLAH SKP
PROPORSI
NO DOMAIN KEGIATAN DALAM 1 DALAM 5
PENCAPAIAN
TAHUN TAHUN
Kegiatan Praktik
1 40 - 50 12 -15 60 – 75
Profesi
Kegiatan
2 40 - 50 12 -15 60 – 75
Pembelajaran
Kegiatan Pengabdian
3 5 - 15 1,5 - 4,5 7,5 – 22,5
Masyarakat
Kegiatan Publikasi
4 Ilmiah atau popular di 0 - 25 0 - 7,5 0 - 37,5
bidang kefarmasian
Kegiatan
5 Pengembangan Ilmu 0 - 25 0 - 7,5 0 - 37,5
dan Pendidikan
Rencana C P D – P I
DAFTAR PENILAIAN
KOMPETENSI PRIBADI

DAFTAR
KEGIATAN

KEGIATAN KEGIATAN KEGIATAN


KEGIATAN
SEGERA BERIKUT YAD KEGIATAN
YAD
YAD
SBERAPA BANYAK
MENGENAL PENYAKIT ?
• DEFINISI, JENIS/KATEGORI
• GEJALA/TANDA-TANDA
• ETIOLOGI
• PATOFISIOLOGI
• EPIDEMIOLOGI
• DIAGNOSIS
• FARMAKOTERAPI & TERAPI LAIN

CONTOH !
SEBERAPA BANYAK MENGENAL OBAT ?
• KELAS TERAPI / SUBKELAS TERAPI
• MEKANISME KERJA
• INDIKASI, KONTRAINDIKASI
• MULA KERJA – LAMA KERJA - KINETIKA
• EFEK SAMPING – REAKSI ADVERSUS -
PERINGATAN
• INTERAKSI OBAT & MAKANAN
• DOSIS
• PERHATIAN KHUSUS
• PENGUNAAN PASIEN KHUSUS
• PRESENTASI / KETERSEDIAAN PRODUK

CONTOH !
SEBERAPA BANYAK MENGENAL
BENTUK SEDIAAN ?
• BERBAGAI BENTUK SEDIAAN
• TEKNIK MERANCANG
• FORMULA & TEKNIK FORMULASI
• PENGAWASAN MUTU PENJAMINAN MUTU
• STABILITAS & UJI STABILITAS
• INFORMASI OBAT
• LABEL, PENANDAAN
• WADAH & KEMASAN
• TEKNIK CARA PEMBUATAN YANG BAIK
• CARA PENYIMPANAN YANG BAIK
• CARA PEMUSNAHAN
• DLL

CONTOH !
Rencana C P D – P I
DAFTAR PENILAIAN
KOMPETENSI PRIBADI

• ……………. • …………….
• ……………. • …………….
• …………….. • ……………..
• …………….. • ……………..
• …………….. • ……………..
• .. • ..
• dst… • dst…
RENCANA PROGRAM JANGKA
PENDEK SEBAGAI APOTEKER
SUMBER
NO TUJUAN KEGIATAN WAKTU DAYA
RENCANA PROGRAM JANGKA PENDEK

S IMPLE
M EASURABLE
A CHIEVABLE
R EASONABLE
T IMELY
LAMPIRAN -1

TUGAS
TUGAS HARI INI (1)

• Rangkuman Kuliah hari ini


• Isi Kertas Kerja
• Baca & Pelajari Kasus dalam
Studi Kasus
KERTAS KERJA (1)
PENDALAMAN TENTANG
PEDOMAN DISIPLIN APOTEKER
BUTIR PEDOMAN DISIPLIN :
____________________________________________________
____________________________________________________
CONTOH PENERAPAN DILAPANGAN :
1.__________________________________________________
____________________________________________________
2.__________________________________________________
____________________________________________________
CONTOH KEMUNGKINAN TERJADINYA PELANGGARAN &
SANKSI:
1.__________________________________________________
____________________________________________________
2.__________________________________________________
____________________________________________________
KERTAS KERJA (2)
PENDALAMAN TENTANG
KODE ETIK APOTEKER
BUTIR KODE ETIK APOTEKER:
_________________________________________________________
_________________________________________________________
CONTOH PENERAPAN DILAPANGAN :
1. _________________________________________________________
2. _________________________________________________________

CONTOH KEMUNGKINAN TERJADINYA PELANGGARAN & SANKSI:


1. _________________________________________________________
2. _________________________________________________________

UPAYA UNTUK PENINGKATAN KEPATUHAN :


1. _________________________________________________________
2. _________________________________________________________
KERTAS KERJA (3)
PENDALAMAN TENTANG CPD & PI

1. KOMPETENSI YANG HARUS DIKUASAI SEBAGAI


APOTEKER :
____________________________________________________
____________________________________________________
____________________________________________________
____________________________________________________
2. KOMPETENSI YANG SUDAH DIKUASAI SBG
SARJANA FARMASI :
____________________________________________________
____________________________________________________
____________________________________________________
____________________________________________________
____________________________________________________
KERTAS KERJA(3)
PENDALAMAN TENTANG CPD & PI

3. KOMPETENSI YANG HARUS DITINGKATKAN :


____________________________________________________
____________________________________________________
____________________________________________________
____________________________________________________

4. KEGIATAN PEMBELAJARAN YANG AKAN


DILAKSANAKAN :
____________________________________________________
____________________________________________________
____________________________________________________
____________________________________________________
____________________________________________________
KERTAS KERJA(4)
1. 2. JIKA ANDA BARU LULUS DAN MEMILIKI SURAT IZIN
PRAKTIK SEBAGAI APOTEKERINI, LANGKAH APA
(SECARA TERTIB) YANG HARUS ANDA LAKUKAN SESUAI
PER-UU-AN DAN KETENTUAN ORGANISASI PROFESI
SAMPAI 5 TAHUN YANG AKAN DATANG, SAMPAI ANDA
AKAN MEMPERPANJANG SERTIFIKAT KOMPETENSI ?
SEBUTKAN “INPUT” YANG DIPERLUKAN DAN “OUTPUT”
YANG DIHASILKAN TIAP LANGKAH !

MASUKAN LANGKAH LUARAN


LAMPIRAN -2
PROFESIONALISME & PROFESIONAL
• PROFESIONALISME adalah standar ideal (aspirational)
dan bukan sekedar standar minimum yang dituntut dari
para anggotanya termasuk kompetensi dalam:
– Kompetensi profesi
– Integritas pribadi, tanggung jwab dan akuntabilitas
– Keterkaitan (obligasi) terhadap masynya

• Profesional dalah pekerja yang menjalankan tugas-


tugasnya berdasarkan ketrampilan spesifik yang
komprehensif, yang memiliki kualifikasi resmi dari
institusi profesinya, tiada henti menajamkan &
membarui ketrampilannya, dan yang bekerja sesuai
dengan etika profesinya.
PROFESI
 INDIVIDU ATAU KELOMPOK yang MELAYANI KEBUTUHAN
MASYARAKAT BERDASARKAN PENGETAHUAN,
PENGALAMAN, KETERAMPILAN DALAM UPAYA
MENSEJAHTERAKAN MASYARAKAT DIDORONG ATAS NILAI
ALTRUISTIK
• UPAYA INDIVIDU ATAU KELOMPOK PROFESI INI MEMPEROLEH
PENGHARGAAN MASYARAKAT SEHINGGA MASYARAKAT
MEMBALASNYA DENGAN MEMBERIKAN HONORARIUM

• DALAM RANGKA MELINDUNGI NAMA BAIK DAN


PENGHARGAAN MASYARAKAT KELOMPOK PROFESIONAL
MELINDUNGI DIRINYA DENGAN MEMBUAT STANDAR PROFESI

• PROFESI MEMILIKI OTONOMI, JENJANG SENIORITAS


DIDALAM PEMBINAAN ANGGAUTANYA DAN MEKANISME
PEMBINAAN YANG DIATUR OLEH PROFESI ITU SENDIRI.
58
PROFESI
– diberikan kewenangan untuk
melaksanakan pelayanan kepada klien
maupun tenaga kesehatan lain
– Mempunyai pendidikan dan atau
pelatihan khusus untuk memperoleh
pengetahuan, sikap dan ketrampilan,
– melaksanakan pelayanan melalui kode
etik dan standar pelayanan yang diakui
masyarakat.
59
PEDOMAN DISIPLIN
APOTEKER INDONESIA
BENTUK PELANGGARAN
DISIPLIN APOTEKER
1. Melakukan praktik kefarmasian dengan tidak kompeten.
2. Membiarkan berlangsungnya praktek kefarmasian yang
menjadi tanggung jawabnya, tanpa kehadirannya, ataupun
tanpa Apoteker penggantidan/ atau Apoteker pendamping
yang sah.
3. Mendelegasikan pekerjaan kepada tenaga kesehatan tertentu
dan/ atau tenaga-tenaga lainnya yang tidak memiliki
kompetensi untuk melaksanakan pekerjaan tersebut.
4. Membuat keputusan profesional yang tidak berpihak kepada
kepentingan pasien/masyarakat.
5. Tidak memberikan informasi yang sesuai,relevan dan “up to
date” dengan cara yang mudah dimengerti oleh
pasien/masyarakat,sehingga berpotensi menimbulkan
kerusakan dan/ atau kerugian pasien.
BENTUK PELANGGARAN
DISIPLIN APOTEKER
6. Tidak membuat dan/ atau tidak melaksanakan Standar
Prosedur Operasional sebagai Pedoman Kerja bagi seluruh
personil di sarana pekerjaan/pelayanan kefarmasian,sesuai
dengan kewenangannya.
7. Memberikan sediaan farmasi yang tidak terjamin
‘mutu’,’keamanan’,dan ’khasiat/manfaat’ kepada pasien.
8. Melakukan pengadaan Obat dan/ atau Bahan baku Obat,
tanpa prosedur yang berlaku,sehingga berpotensi
menimbulkan tidak terjaminnya mutu,khasiat Obat.
9. Tidak menghitung dengan benar dosisobat, sehingga dapat
menimbulkan kerusakan atau kerugiankepada pasien.
10. Melakukan penataan,penyimpanan obat tidak sesuai
standar, sehingga berpotensi menimbulkan penurunan
kualitas obat.
BENTUK PELANGGARAN
DISIPLIN APOTEKER
11. Menjalankan praktik kefarmasian dalam kondisi tingkat
kesehatan fisik ataupun mental yang sedang
terganggusehingga merugikan kualitas pelayanan profesi.
12. Dalam penatalaksanaan praktik kefarmasian, melakukan
yang seharusnya tidak dilakukan atau tidak melakukan
yang seharusnya dilakukan, sesuai dengan tanggung
jawab profesionalnya, tanpa alasan pembenar yang sah,
sehingga dapat membahayakan pasien.
13. Melakukan pemeriksaan atau pengobatan dalam
pelaksanaan praktik pengobatan sendiri ( self medication)
yang tidak sesuai dengan kaidah pelayanan kefarmasian.
14. Memberikan penjelasan yang tidak jujur, dan/ atau tidak
etis, dan/ atau tidak objektifkepadayangmembutuhkan.
15. Menolak atau menghentikan pelayanan kefarmasian
terhadap pasien tanpa alasan yang layak dan sah.
BENTUK PELANGGARAN
DISIPLIN APOTEKER
16. Membuka rahasia kefarmasian kepada yang tidak berhak.
17. Menyalah gunakan kompetensi Apotekernya.
18. Membuat catatan dan/ atau pelaporan sediaan farmasi yang
tidak baik dan tidak benar.
19. Berpraktik dengan menggunakan Surat Tanda Registrasi
Apoteker (STRA) atau Surat Izin Praktik Apoteker
(SIPA/SIK)
20. Mengiklankan kemampuan/pelayanan atau kelebihan
kemampuan/pelayanan yang dimiliki, baik lisan ataupun
tulisan, yang tidak benar atau menyesatkan.
21. Tidak memberikan informasi, dokumen dan alat bukti
lainnya yang diperlukan MEDAI untuk pemeriksaan atas
pengaduan dugaan pelanggaran disiplin
22. Membuat keterangan farmasi yang tidak didasarkan kepada
hasil pekerjaan yang diketahuinya secara benar dan patut.
dan/atau sertifikatkompetensi yang tidak sah.
PENANGANAN PELANGGARAN
DISIPLIN & ETIK APOTEKER
PELANGGARAN PEDOMAN DISIPLIN APOTEKER

PENGADUAN KE MEDAI DAERAH

PENELAHAAN / KONFIRMASI

DUGAAN ADANYA PELANGGARAN

BANDING PERSIDANGAN TERIMA

PELAKSANAAN SANKSI
REHABILITASI
SANKSI PELANGGARAN
DISIPLIN
1. Pemberian peringatan tertulis;
2. Rekomendasi pembekuan dan/atau
pencabutan Surat Tanda Registrasi
Apoteker, atau Surat Izin Praktik
Apoteker, atau Surat Izin Kerja
Apoteker; dan/atau
3. Kewajiban mengikuti pendidikan atau
pelatihan di institusi pendidikan
apoteker.
KODE ETIK APOTEKER
INDONESIA
KEWAJIBAN TERHADAP
DIRI SENDIRI
1. Sumpah Apoteker
2. Kode Etik Apoteker Indonesia
3. Standar Kompetensi Apoteker
Indonesia
4. Prinsip kemanusiaan
5. Mengikuti perkembangan
6. Menjauhkan diri dari usaha mencari
keuntungan diri
7. Berbudi luhur & contoh yang baik
8. Mengikuti perkembangan peraturan
perundang-undangan
MENGAPA HARUS SUMPAH …?
1. PER-UU-AN :
– PROFESI & ANGKAT SUMPAH !
– DIBERI WEWENANG OLEH UNDANG-
UNDANG

2. BERHUBUNGAN LANGSUNG DENGAN


PASIEN / KLIEN ( UMUMNYA AWAM)

3. PENANGGUNG JAWAB
4. SERING BEKERJA SENDIRI
5. WAJIB MENJAGA RAHASIA KEFARMASIAN
6. DLL
SUMPAH APOTEKER
PP 20 TAHUN 1962
1. MEMBAKTIKAN HIDUP : KEMANUSIAAN
2. MERAHASIAKAN
3. MELAKSANAKAN TUGAS SEBAIK-BAIKNYA :
MARTABAT & TRADISI LUHUR
4. MENUNAIKAN KEWAJIBAN :
a. BERIKHTIAR SUNGGUH-SUNGGUH
b. TIDAK TERPENGARUH SARA
5. IKRAR – SUNGGUH-SUNGGUH & PENUH
KEINSYAFAN
Kewajiban terhadap masyarakat,
teman sejawat & nakes lain
1. Mengutamakan kepentingan masyarakat
2. Menghormati hak asasi masyarakat
3. Melindungi makhluk hidup insani
4. Memperlakukan teman sejawat sebagaimana ia sendiri ingin
diperlakukan
5. Saling mengingatkan dan saling menasehati dgn teman sejawat
6. Meningkatkan kerjasama yang baik dgn teman sejawat
7. Mempertebal rasa saling mempercayai dgn teman sejawat
8. Saling mempercayai, menghargai dan menghormati sejawat petugas
kesehatan
9. Menjauhkan diri dari tindakan atau perbuatan yang dapat
mengakibatkan berkurangnya/hilangnya kepercayaan masyarakat
kepada sejawat petugas kesehatan
PENANGANAN PELANGGARAN
DISIPLIN & ETIK APOTEKER
PELANGGARAN PEDOMAN DISIPLIN APOTEKER

PENGADUAN KE MEDAI DAERAH

PENELAHAAN / KONFIRMASI

DUGAAN ADANYA PELANGGARAN

BANDING PERSIDANGAN TERIMA

PELAKSANAAN SANKSI
REHABILITASI
KRITERIA PELANGGARAN
ETIK
 Tidak tahu (Ignorant)
 Kelalaian ( Culpa )
 Kurang Perhatian
 Kurang terampil /
pengetahuan
 Sengaja
SANKSI PELANGGARAN
ETIK
• Usulan oleh MEDAI untuk :
– Pembinaan khusus untuk penyadaran
– Penundaan sementara ijin kerja /
praktik Apoteker
– Pencabutan rekokemendasi untuk ijin
kerja/praktik Apoteker