Anda di halaman 1dari 28

PONV

(Post Operative Nausea Vomitting)

Siska Teurupun
Esty Tupamahu

Pembimbing :
dr Ony Angkejaya, Sp An
dr Fahmi Maruapey, Sp An
Definisi

Post Operative Nausea and


Vomiting (PONV) adalah perasaan
mual muntah yang dirasakan dalam
24 jam setelah prosedur anestesi
dan pembedahan.

Mual didefinisikan sebagai sensasi


subjektif tidak nyaman untuk
muntah. Muntah adalah suatu
refleks paksa untuk mengeluarkan
isi lambung melalui esophagus dan
keluar dari mulut.
Fisiologi Muntah

Fase pre ejeksi


(fase prodromal)

Secara umum mekanisme


muntah dapat dibagi menjadi 3
fase Fase ejeksi (fase
ekspulsi)

Fase post ejeksi


PATOFISIOLOGI
Koordinator utama adalah pusat
muntah, kumpulan saraf – saraf yang
berlokasi di medulla oblongata.
Saraf – saraf ini menerima input dari :

Sistem Sistem
vestibular (yang spinoreticular
Nervus vagus Nukleus traktus
Chemoreceptor berhubungan (yang
(yang membawa solitarius (yang
Trigger Zone dengan mabuk mencetuskan
sinyal dari melengkapi
(CTZ) di area darat dan mual mual yang
traktus refleks dari gag
postrema karena berhubungan
gastrointestinal) refleks)
penyakit telinga dengan cedera
tengah) fisik)
Sensor utama stimulus somatik berlokasi di
usus dan CTZ. Stimulus emetik dari usus
berasal dari dua tipe serat saraf aferen vagus.

Mekanoreseptor : berlokasi pada


dinding usus dan diaktifkan oleh
kontraksi dan distensi usus, kerusakan
fisik dan manipulasi selama operasi.

Kemoreseptor : berlokasi pada mukosa usus


bagian atas dan sensitif terhadap stimulus
kimia.
Anatomi dan paofisiologi mual muntah
FAKTOR RESIKO

Faktor Faktor Faktor


pasien pembedahan anastesi
• Usia muda
• Wanita
• Obesitas
• Adanya riwayat mual
muntah paska operasi
• Riwayat tidak merokok
Faktor •

Kecemasan
Penyakit saluran
Pasien •
pencernaan
Terapi kombinasi (seperti
kemoterapi, radioterapi)
• Kelainan metabolik
(seperti diabetes mellitus,
uremia dll)
• Kehamilan
Faktor Pembedahan

Lamanya waktu operasi dapat meningkatkan lamanya


pemaparan obat-obat anestesi

Tipe operasi yang merupakan resiko tinggi untuk


terjadinya mual muntah seperti operasi mata, tht, gigi,
payudara, ortopedi soulder, laparoskopi, ginekologi, dan
pada pasien-pasien anak seperti operasi strabismus,
adenotonsilektomi, orchidopexyb.
Faktor Anastesi

Obat Obat Obat


Regional Nyeri paska
Premedikasi anastesi anastesi pelumpuh
anastesi operasi
inhalasi intravena otot
Penatalaksanaan PONV

Reseptor - reseptor yang telah teridentifikasi pada beberapa


region otak yang mempengaruhi reflek muntah meliputi reseptor
asetilkolin (muskarinik), dopamin (D2), histamin (H1), dan
serotonin (5-HT3).

Obat antiemetik memiliki mekanisme kerja pada reseptor -


reseptor tersebut.
1. Antiemetik Terapi

Antagonis reseptor muskarinik efektif


mencegah emesis yang berhubungan dengan
stimulasi vestibular.

Scopolamin merupakan antiemetik yang efektif,


tetapi penggunaannya terbatas oleh karena
efeknya yang pendek, efek samping sedasi,
agitasi dan delirium.

Sediaan berbentuk transdermal patch


memberikan serum level obat yang konsisten
sampai 3 hari.

Kontraindikasi pada pasien dengan glaucoma


dan urinary obstruction.
2. Antihistamin

Obat golongan antihistamin ini mempengaruhi jaras saraf di


labirin vestibular, sehingga dapat menghambat efek emetic
yang disebabkan oleh perubahan posisi.

Sebagai contoh adalah : piperazine hydroxyzine, meclizine,


diphenhydramine, dimenhydrinate, promethazine.

Efek sedasi dari obat - obat golongan ini dapat


menyebabkan prolonged emergence. Pada geriatri dapat
meningkatkan resiko terjadinya dizziness dan hipotensi,
sehingga obat ini bukan merupakan pilihan untuk PONV.
3. Antidopaminergik

Obat golongan ini bekerja terutama pada reseptor


D2 dengan mendepresi CTZ dan sekunder dengan
menghambat impuls aferen otonom yang berjalan
sepanjang nervus vagus ke pusat muntah.
Droperidol

Dosis 5μg/kg
efektif pada
dewasa dan
Efek samping anak>11 tahun.
termasuk hipotensi,
drowsiness, delayed
recovery, disforia,
dan extra pyramidal
syndrome.
Merupakan
golongan
butyrophenon,
efektif memblok
reseptor D2 tetapi
relatif sedikit
afinitas terhadap
reseptor H1 dan
muskarinik.
Metocloperamide
Metocloperamide merupakan
antagonis dopaminergik yang memiliki
efek antiemetik sentral, pada dosis
tinggi juga memblok reseptor 5-HT3.

Metokloperamide juga meningkatkan


pengosongan lambung dan tonus LES
(Lower Esophageal Sphincter).

Metokloperamide mempunyai efek


samping sedasi dan extra pyramidal.

Dosis pada dewasa 10-20 mg IV cukup


efektif untuk menurunkan angka
kejadian PONV.
4. 5-HT3 receptor
antagonis

Reseptor serotonin 5-HT3 terletak perifer di nervus vagus dan sentral di CTZ
pada area postrema. Obat-obat sitotoksik dan radiasi akan menyebabkan
pelepasan serotonin dari sel enterocromaffin mukosa saluran cerna yang
akan merangsang reseptor 5-HT3, dimana hal ini akan membangkitkan
aferen vagal dan menginduksi muntah.
Ondansetron
Adalah suatu derivate carbazolone yang secara struktural mirip dengan serotonin
dan memiliki sifat antagonis spesifik terhadap reseptor 5-HT3, tanpa mempengaruhi
reseptor dopamine, histamine, adrenergic atau cholinergic.

Efek samping dari ondansetron yang pernah dilaporkan adalah headache, diare dan
peningkatan sementara kadar enzim transaminase liver, serta aritmia jantung

Ondansetron 4-8 mg enzim transaminase liver, serta aritmia jantung, yang diberikan
2-5 menit segera sebelum induksi anestesi, efektif untuk menurunkan insiden PONV
pada operasi laparoskopi ginekologi rawat jalan.
Granisetron
Adalah antagonis reseptor 5-HT3 yang sangat selektif, tidak berikatan dengan
reseptor serotonin yang lain.

Pemberian dosis rendah granisetron 0.04 mg/kg IV mencegah mual muntah yang
disebabkan oleh kemoterapi, dosis yang sama juga dinyatakan efektif dalam
mencegah PONV.

Waktu paruh granisetron adalah 9 jam sehingga jarang memerlukan dosis ulangan.
Dosis tunggal granisetron efektif selama 24 jam
• Adalah antagonis resptor 5-HT3 yang
selektif dan sangat poten untuk mencegah
mual muntah pada kemoterapi.
Dolasetron • Dosis tunggal dolasetron 1,8 mg IV
ekuivalen dengan ondansetron 32 mg IV
dan granisetron 3 mg IV.
• Segera setelah pemberian, dolasetron
dimetabolisme menjadi hydrodolasetron,
yang bekerja sebagai antiemetik.
• Hydrodolasetron memiliki waktu paruh
±8 jam.
5. Kortikosteroid

Dalam hal ini yang dianjurkan adalah pemberian


Dexamethasone dengan dosis 0,2 mg/kg BB IV.

Diduga berhubungan dengan hambatan terhadap


sintesis prostaglandin sehingga menurunkan level
5-HT3 di Sistem Saraf Pusat, atau dengan efek
anti inflamasi pada tempat operasi.

Beberapa efek samping yang diakibatkan adalah


perut kembung, miopati proksimal, tukak
lambung, gejala endokrin..
6. Kombinasi Terapi

Seperti telah diketahui PONV adalah masalah yang komplek


dan multifaktorial.

Tidak satupun obat antiemetik yang benar-banar efektif


untuk semua pasien.

Beberapa penelitian menyatakan kombinasi kortikosteroid


deksametasone dengan obat antiemetik merupakan suatu
alternatif.

Mekanisme kortikosteroid sebagai antiemetik belum jelas,


tetapi kemungkinan berhubungan dengan hambatan
terhadap sintesis prostaglandin, menurunkan level 5-HT3 di
SSP, atau dengan efek anti inflamasi pada tempat operasi.
KESIMPULAN

PONV merupakan pengalaman post


operasi yang tidak menyenangkan bagi
pasien, meningkatkan angka kesakitan
/ morbiditas post operasi,
memperpanjang waktu recovery dan
menunda pasien keluar dari rumah
Mual muntah pasca operasi (PONV) sakit dengan akibat meningkatnya
merupakan komplikasi yang sering biaya perawatan. Mual muntah yang
terjadi setelah suatu tindakan anestesi hebat akan mengakibatkan dehisensi
dan pembedahan dengan insiden luka, aspirasi isi lambung, dehidrasi
berkisar 12%-67% dengan angka rata - serta gangguan keseimbangan
rata sebesar 30%. elektrolit.
Next…

Reseptor - reseptor yang telah


teridentifikasi pada beberapa regio
otak yang mempengaruhi reflek
muntah meliputi reseptor terhadap
asetilkolin (muskarinik), dopamin (D2),
Faktor - faktor yang mempengaruhi
histamin (H1), dan serotonin (5-HT3).
PONV sangat banyak mulai dari
Obat - obat antiemetik mempunyai
persiapan pre operatif, puasa yang
mekanisme kerja pada reseptor -
tidak adekuat, kondisi pasien dan
reseptor tersebut.
penyakit penyerta, teknik anestesi dan
obat yang digunakan, teknik operasi,
penggunaan opioid, nyeri, perubahan
posisi yang mendadak dan faktor
individual pasien.
DAFTAR PUSTAKA

Latief SA, Suryadi KA, 2007. Petunjuk Praktis Anestesiologi. FK UI. Jakarta
Loewan P. management of Postoperative Nausea and Vomiting. March 2003

Rajeeva V, Batra YK, et al. 1999. Comparison of Ondansetron with Dexamethasone in


Prevention of PONV in Diagnostic Laparoscopy. Can J anesth, 46 :40-44

Wallenborn J, Gelbrich G, et al. 2006. Prevention of PONV by Metoclopramide Combine with


Dexamethasone : randomized double blind multicentre trial. BMJ 2006;333:324 (12
August),doi10.1136/bmj.

Yuswana, 2001. Farmakologi Obat-obat Anestesi dan Obat-obat Bantuan dalam Anestesi.
Jakarta. Indonesia
5/20/2019

Terima Kasih