Anda di halaman 1dari 18

Presentasi Mata Kuliah Irigasi 2

FAKULTAS TEKNIK

Kolam Olak UNIVERSITAS


LAMBUNG MANGKURAT

USBR Tipe III


dan IV Ambar Sundarini
Annisa Mutia Rahmah
(1610811320002)
(1610811320004)
Andria Refian Noor (1610811210008)
Farah Khalisa (1610811320010)
Khairunnisa (1610811120018)
Munisa (1610811320026)
Narizka Diani (1610811320028)
PRESENTED BY: Saberuddin (1610811310033)
Susiani Suprihatin (1610811320036)
KELOMPOK 4 Trie Nadha Aprilia (1610811320037)
Pengertian Kolam Olak

Kolam olak adalah suatu bangunan yang berfungsi untuk meredam energi yang timbul di dalam tipe air superkritis yang
melewati pelimpah. Dalam sebuah konstruksi bendung dibangun pada aliran sungai baik pada palung maupun pada
sodetan, maka pada sebelah hilir bendung akan terjadi loncatan air. Kecepatan pada daerah itu masih tinggi, hal ini akan
menimbulkan gerusan setempat (local scauring). Untuk meredam kecepatan yang tinggi itu, dibuat suatu konstruksi
peredam energi. Bentuk hidrolisnya adalah merupakan suatu bentuk pertemuan antara penampang miring, penampang
lengkung, dan penampang lurus.
Tipe Kolam Olak
Tipe kolam olak yang akan direncanakan bergantung pada energy air
yang masuk yang dinyatakan dalam bilangan Froude. Berikut
pengelompokkan berdasarkan bilangan Froude dalam perencanaan
kolam :
Untuk Fru ≤ 1,7 tidak diperlukan kolam olak. Pada saluran tanah,
1 bagian hilir harus dilindungi dari bahaya erosi. Saluran
pasangan batu atau beton tidak memerlukan lindungan khusus.
Bila 1,7 < Fru ≤ 2,5 maka kolam olak diperlukan untuk meredam
energi secara efektif. Pada umumnya kolam olak dengan
2 ambang ujung mampu bekerja dengan baik. Untuk penurunan
muka air ΔZ < 1,5 m dapat dipakai bangunan terjun tegak
Jika 2,5 < Fru ≤ 4,5 Loncatan air tidak terbentuk dengan baik
dan menimbulkan gelombang sampai jarak yang jauh di saluran.

3 Cara mengatasinya adalah mengusahakan agar kolam olak


untuk bilangan Froude ini mampu menimbulkan olakan
(turbulensi) yang tinggi dengan blok halangnya atau menambah
intensitas pusaran dengan pemasangan blok depan kolam. Blok
ini harus berukuran besar (USBR tipe IV).
Kalau Fru ≥ 4,5 ini akan merupakan kolam yang paling

4 ekonomis. karena kolam ini pendek. Tipe ini, termasuk kolam


olak USBR tipe III yang dilengkapi dengan blok depan dan blok
halang. Kolam loncat air yang sarna dengan tangga di bagian
ujungnya akan jauh lebih panjang dan mungkin harus digunakan
dengan pasangan batu.
Prinsip Perencanaan Kolam Olak

Prinsip Peredaman Energi Pada Bendung

Aliran di Kaki Bendung

Hal Penting Mengenai Air Loncat

Lengkung Debit Air Dihilir Bendung


Prinsip Peredaman Energi Pada Bendung
Prinsip Air Loncat
Peredaman energi menurut prinsip ini adalah merubah aliran superkritis menjadi
aliran subkritis yang dilakukan pada kolam olakan. Aliran super kritis akan terjadi
pada aliran dari mercu yang cukup tinggi. Sedangkan aliran subkritis yang diharapkan
terjadi adalah aliran dihilir bendung. Dengan adanya perubahan tersebut, terdapat
peralihan yang terbentuk air loncat.

Prinsip Memperbesar Energi


Gesekan antara aliran air dengan dasar saluran, dapat dilakukan dengan memasang
gigi-gigi atau blok-blok beton pada dasar saluran atau kolam olakan. Dengan adanya
gigi-gigi atau blok-blok tersebut terjadi peredaman energy. Kolam olakan yang
menggunakan prinsip ini adalah kolam olakan USBR.

Prinsip Membentuk Pusaran Air


Dengan membentuk pusaran air, maka akan terjadi benturan antara molekul-molekul
air. Benturan-benturan molekul air itulah yang akan meredam energi yang dihasilkan
oleh aliran dari atas mercu. Kolam olakan yang menggunakan prinsip ini adalah
kolam olakan dengan bak tenggelam, baik bak bercelah maupun tidak bercelah.
Pembahasan mengenai peredam energy dengan prinsip ini juga akan dibahas
kemudian.

Prinsip Membenturkan Aliran ke Badan yang Kuat Atau ke Air


Peredam energi dengan prinsip ini, dilakukan dengan melontarkan atau menjatuhkan
atau mengalirkan air dari mercu bendung ke badan masif yang kuat atau ke bantalan
air yang cukup dalam. Kolam olakan yang menggunakan prinsip ini adalah Sky Jump
Spillway dimana air diloncatkan jauh kehilir menjauhi tubuh bendung sehingga tidak
membahayakan konstruksi bendung
Aliran di Kaki
Bendung
Rumus Kecepatan teoritis aliran di kaki bendung
V1 = 2g (Z + Ha − Y1)
Dimana :
Z = tinggi jatuh diukur dari muka air hulu ke lantai
kaki bendung
Ha = tinggi energi
y1 = kedalaman aliran di kaki bendung

Rumus kecepatan aliran di kaki bendung menurut Direktorat


Irigasi dalam bukunya Standar Perencanaan Irigasi KP- 02
V1 = 2g (1Τ2 + H1 − z)
Dimana :
z = tinggi jatuh (m), diukur dari mercu ke dasar lantai
kolam olakan
H1 = tinggi energy diukur dari mercu
Selain kecepatan dan kedalaman air dikaki
bendung, perlu juga dihitung besarnya bilangan
Froude, Besarnya bilangan Froude ini dapat
dihitung menurus rumus :

V1
Fr = g .y1
Dimana :
y1 = kedalaman aliran dikaki bendung
Fr = bilangan Froude

Fr < 1 aliran subkritis


Fr = 1 aliran kritis
Fr > 1 aliran superkritis

Aliran dikaki bendung umumnya aliran superkritis,


kalau aliran bersifat subkritis, tidak diperluka
kolam olakan. Sedangkan untuk aliran superkritis,
nilai Fr ini akan menjadi pedoman pemilihan
bentuk kolam olakan
Hal Penting
Mengenai Air
Hubungan antara kedalaman air dihulu dan
Loncat dihilir air loncat adalah sebagai berikut :
y2 1
= ( 1 + 8. Fr 2 – 1)
y1 2
Dimana :
y2 = kedalaman air dihilir air loncat
y1 = kedalaman air dihulu air loncat
Fr = Bilangan Freude
Dari kedalaman tersebut, besarnya bilangan Freude tergantung dari kecepatan dan
kedalaman air dihulu air loncat (V1 dan y1). Untuk nilai V1 tertentu setiap nilai y1 hanya
akan mempunyai satu nilai y2. Karenanya nilai y1 dan nilai y2 itu berpasangan. Sering
disebut y2 itu kedalaman berpasangan dari y1.
Secara teoritis, panjang air loncat dalam perbandingan
terhadap kedalaman hilir air loncat (y2) dan sesuai dengan
besarnya bilangan Freude (Fr), adalah seperti pada gambar
disamping :

http://www.free-powerpoint-templates-design.com
Lengkung Debit Air Dihilir Bendung
𝟏 𝟏
V = C . 𝑹 ൗ𝟐 . 𝑰 ൗ𝟐
Dimana : Q=V.A
C = Koeffisien Chezy Dimana :
R = Jari-jari hidrolis (m) Rumus Debit Air Q = Besarnya debit (m3/detik)
A = Luas penampang basah (m2 ) V = Kecepatan aliran (m/detik)
P = Keliling basah (meter) A = Luas penampang basah (m2 )
I = Kemiringan memanjang sungai

Besarnya koeffisien Chezy menurut


Ganguillet – Kutter yang dalam
satuan Inggris adalah sebagai Rumus Chezy
berikut ini (Theory & Design of
Irrigation Structures oleh R. R.
Varshney dkk)

Kolam Olak USBR
United States Department of Interior, Bu
reau of Reclamation ( USBR ), mengem
bangkan kolam olakan yang menganut
prinsip air loncat, namun untuk memper
pendek panjang kolam olakan, kolam ol
akan dilengkapi dengan blok-blok serta
gigi untuk memperbesar gesekan.
Kolam Olak USBR Tipe III
Kolam olak tipe ini digunakan untuk bilangan
Froude diatas 4,5, tapi untuk kecepatan dikaki
bendung jurang dari 50 feet per detik atau 15
meter per detik. Tipe ini juga dilengkapi dengan
blok luncur (chute block), namun ambang hilir
dibuat massif tidak bergerigi. Selain itu kolam
olakan tipe ini, dilengkapi pula dengan blok
haling (baffle block) ditengah kolam sejajar
dengan ambang hilir. Seperti yang nampak
pada gambar berikut ini.
Tinggi dan jarak blok muka atau blok luncur
pada tipe ini sama ukurannya dengan blok
luncur pada tipe II. Namun tinggi ambang
hilir (h4), tingginya tergantung dari besarnya
kedalaman berpasangan. Demikian pula
ukuran-ukuran blok haling (baffle block),
juga tergantung pada tingginya kedalaman
berpasangan.


Dengan adanya balok halang tersebut, maka
peredaman energy tidak hanya mengharapkan
oleh terbentuknya air loncat tapi juga oleh
gesekan yang terjadi gesekan akibat adanya
blok haling. Karena gesekan pada kolam olakan
tipe ini mengharapkan benturan aliran pada
balok haling (baffle block), maka kolam olakan
tipe ini tidak dapat digunakan oleh kecepatan
aliran dikaki bendung yang tinggi.
Kolam Olak USBR
Tipe IV
Kolam olakan tipe ini digunakan untuk bilangan Froude
antara 2,5 sampai 4,5. Seperti yang telah dibahas terdahulu,
air loncat yang terbentuk pada bilangan Froude ini
merupakan air loncat yang berosilasi, maka pembentukan air


loncat disini belum sempurna.
Kolam olakan ini mirip dengan kolam olakan tipe II, bedanya
ambang hilir pada tipe ini tidak bergigi tapi masih seperti
pada tipe III. Dibandingkan dengan tipe II maupun tipe III,
jarak balok muka atau balok luncur lebih jarang, namun lebih
Kolam Olak tinggi. Karena dikhawatirkan terjadi penyapuan (sweep-out)
pada bagian hilir, muka air hilir pada kolam olakan ini harus
USBR lebih tinggi 10% disbanding dengan muka kedalaman
berpasang, atau 𝑇𝑊Τ𝑑2 = 1,1. Untuk jelasnya dapat dilihat
pada gambar berikut ini. Sedangkan panjang kolam olakan
dapat diambil dari grafik berikutnya.
Gambar dan Grafik
Kolam Olak USBR
Tipe IV
Contoh Soal
Thank You
Insert the Sub Title of Your Presentation