Anda di halaman 1dari 23

PENERAPAN TEKNOLOGI BIOFLOK PADA BUDIDAYA IKAN

NILA MERAH (OREOCHROMIS SP.) PADAT TEBAR BERBEDA

Dosen Pengampu:
Prof. Dr. Ir. Sri Andayani, MS

Disusun oleh:

Ledi Diana Sari


Widya Rahayu
Latar Belakang

1. Ikan nila merupakan ikan yangmemiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi
sehingga banyak dibudidayakan.

Pada tahun 2009 = 323.389 Ton


Tahun 2013 = 909.016 ton
Tahun 2016 =1,14 juta ton
Tahun 2017 = 1,15 juta ton
Namun dengan semakin meningkatkan hasil produktivitas ikan nila yang dihasilkan, belum
dapat memenuhi permintaan kosumen dalam negeri (Data Statistik BJPB, 2018).

untuk meningkatkan produksi nila merah, perlu dilakukan upaya yang dapat meningkatkan hasil
produktivitas ikan nila yaitu dengan cara meningkatkan padat penebaran (sistem intensif) dan
pemberian pakan yang sesuai dengan kebutuhan ikan

Suatu teknologi ramah lingkungan untuk mengolah limbah agar mampu dimanfaatkan sebagai
pakan tambahan bagi biota budidaya. Salah satu aplikasi teknologi yang dapat diterapkan yaitu
sistem BIOFLOK
Tujuan

 Mengetahui pengaruh sistem bioflok dalam memperbaiki kualitas air


budidaya ikan nila merah
 Mengetahui padat tebar yang cocok untuk budidaya ikan nila merah
Klasifikasi dan Morfologi Ikan Nila Merah

 Menurut Sucipto, dan Prihartono, (2007), Klasifikasi ikan nila


merah sebagai berikut :
 Filum : Chordata
 Kelas : Pisces
 Sub kelas : Teleostei
 Ordo : Percomorphi
 Subordo : Percoidea,
 Famili : Cichlidae
 Genus : Oreochromis
 Species : Oreochromis Sp.

Ikan nila (Oreochromis Sp.) memiliki bentuk tubuh pipih dan berwarna kehitaman,
mempunyai garis vertikal berwarna hijau kebiruan. Pada sirip ekor terdapat garis melintang
yang ujungnya berwarna kemerah-merahan (Ghufran, 2011). Warna tubuh yang dimiliki ikan
nila adalah hitam keabu-abuan pada bagian punggungnya dan semakin terang pada bagian
perut ke bawah (Cholik, 2005).
Habitat dan Kebiasaan Makan

 Menurut Ghufran, (2011) menyatakan bahwa habitat ikan nila adalah air
tawar, seperti sungai, waduk dan rawa-rawa. Namun, ikan nilai memiliki
toleransi ikan nila yang cukup luas terhadap salinitas (euryhaline) sehingga
dapat pula hidup para perairan payau
Pengertian Bioflok

 Menurut Avnimelech, (2009) bioflok merupakan sistem budidaya dengan


memanfaatkan bakteri pembentuk flok dalam pengolahan limbah budidaya secara
langsung di dalam wadah budidaya dengan mempertahankan kecukupan oksigen,
mikroorganisme dan rasio C/N dalam tingkatan tertentu.
 Bioflok adalah kumpulan yang terdiri dari berbagai macam bakteri, fungi, mikroalga,
dan organisme lainnya, yang tersuspensi dengan detritus dalam media budidaya.
 Aplikasi bioflok memanfaatkan bakteri hetetrof berupa komuditas mikroba, yang dapat
mengasimilasi nitrogen anorganik menjadi biomassa bakteri. Sehingga mampu
menurunkan kadar amonia dan nitrit dalam air serta berhasil meningkatkan efisiensi
pemanfaatan nutrien (Crab et al. 2017).
Jenis bakteri pembentuk bioflok

 Bioflok terdiri dari beberapa partikel organik yang kaya akan selulosa,
senyawa anorganik yang berupa kristal garam kalsium karbonat hidrat,
bipolimer (PHA), protozoa, detritus, ragi, jamur, alga dan zooplankton.
 Bakteri yang mampu membentuk bioflok diantaranya adalah zooglea
ramigerra, escherichia intermedia, paracolobacterium aerogenoids,
bacillus subtilis, bacillus cereus, flavobacterium, pseudomonas alcaligenes,
sphaerotillus natans, tetrad dan tricoda (Aiyushirota, 2009).
Syarat bakteri pembentuk bioflok

 Bakteri yang dipilih dalam proses bioflok merupakan


1. baktei non pathogen
2. memiliki kemampuan dalam mensintesis PHA,
3. memproduksi ezim ekstraseluler yang mampu mendegradasi nutrien atau
senyawa organik yang ada pada lingkungan budidaya,
4. memperoduksi bakteriosin yang dapat mencegah bakteri
Pembentukan bioflok

 Prinsip dasar pembentukan bioflok yaitu dengan cara mengubah senyawa


berupa karbon, hydrogen, oksigen dan nitrogen menjadi massa “Activated
Sludge” (Lumpur Aktif) yang diadopsi dari proses pengolahan biologis air
limbah (biological wastewater treatment) yang nantikan akan berupa flok.
 Flok bakteri tersusun atas campuran berbagai jenis mikro-organisme
(bakteri pembentuk flok, bakteri filamen, fungi), partikel-partikel tersuspensi,
berbagai koloid dan polimer organik, berbagai kation dan sel-sel mati
(Jorand et al., 1995, Verstraete, et al., 2007; de Schryver et al., 2008).
 Menurut Setiawan dan Reki, (2010), menyatakan bahwa struktur biofloc
mampu menyumbangkan nilai protein sebesar 50-53%, yang mana
nantinya dapat digunakan sebagai sumber nutrisi bagi pertumbuhan ikan
nila merah.
 1. kolam yang akan menggunakan sistem bioflok dikondisikan dengan menambahakan
desinfektan dan pemasangan aerator ditempatyang tepat
 2. pemberian probiotik dan molase dan penambahan kampur dan garam
 Setalah 7 hari, kolam akan berubah warna hijau/coklat . Benih ikan mulai dimasukkan
 Ikan diberikan pakan seperti biasa, selanjutnya pemberian tepung untuk menambah sumber
carbon.
 Bioflok akan membentuk gumpalan yang berfungsi sebagai pakan tambahan ikan. Flok
dihasilkan berasal dari hasil proses pengolahan biologis air limbah (biological wastewater
treatment) yang nantikan akan berupa flok.
Siklus dalam proses bioflok
Kondisi pendukung pembentukan bioflok

 Teknologi bioflok, menggunakan bakteri heterotof sehingga sangat


diperlukan oksigen yang berfungsi sebagai pengoksidasian bahan organik.
Penggunaan aerasi konstan dapat membantu dalam terjadinya proses
dekomposisi secara aerobik dan menjaga flok bakteri berada dalam
suspensi (Azim et al., 2007).
 kondisi oksigen yang optimal berkisar 4 – 5 ppm.
Rasio C/N

 Pembentukan biflok memiliki perbandingan Carbon dan Nitrogen yang


sesuai dengan kehidupan bakteri. Nilai C/N yang ideal yaitu berkiar 1:12,
1:15, 1:20 (Maulina, 2009).
 Pada kondisi C dan N yang seimbang dalam air, bakteri heterotrof akan
memanfaatkan N, baik dalam bentuk organik maupun anorganik, yang
terdapat dalam air untuk pembentukan biomasa sehingga konsentrasi N
dalam air menjadi berkurang (de Schryver et al., 2008). c
Indikator Keberhasilan Pembentukan Bioflok

 Menurut Aisyushirota, (2009) indikator keberhasilan bioflok ditandai dengan


warna pada media budidaya, yang berubah menjadi coklat muda dan
terdapat gumpalan yang bergerak bersama dengan arus air.
 Selain itu, terjadi penaikan dan penurunan yang dinamis terhadap ion NH4+, io n
NO2- dan NO3-, sebagai indikasi terjadinya proses nitrifikasi dan denitrifikasi oleh
bakteri.
 Menurut Azim et al., (2007) penggunaan aerasi yang konstan sangat perlu
diperhatikan hal ini untuk memungkinkan terjadinya proses dekomposisi secara
aerobik dan menjaga flok bakteri berada dalam suspensi, sehingga dalam hal
ini proses degradasi akan berlangsung secara sempurna yang tanpa
menimbulkan bau pada media pemeliharaan.
 Selain itu, menurut Maulina, (2009) bakteri yang ada pada sistem bioflok
memerlukan oksigen dalam proses dekomposis dan nitrifikasi. Jika oksigen
kurang maka tidak hanya mempengaruhi pertumbuhan bakteri tetapi dapat
berbahaya bagi kehidupan udang/ikan dalam tambak.
Hasil dan warna flok
HASIL DAN PEMBAHASAN
 Pengaruh Sistem Bioflok Pada Budidaya Ikan Nila Dengan Padat Tebar Berbeda
 Menurut penelitian Winarni et al, (2012) Perbandingan C/N 1:15 dengan
penambahan molase sebagai sumber karbohidrat pada padat tebar yang
berbeda dalam sistem bioflok, mendapatkan hasil pengukuran paramater
yang cukup optimal dibandingkan dengan sistem tanpa bioflok.

Treatment pH DO TAN NO2- NO3- (mg/l)


(mg/l) (mg/l) (mg/l)
BFT 25 6,8 – 7,5 4,19 – 6,89 0,01 -1,13 2,09 2.92
Control 25 5,0 – 6,3 4,37 – 6,23 0,23 - 3,78 6,07 2.87
BFT 50 6,3 – 7,3 3,60 – 5,96 0,14 – 0,75 3,32 2.93
Control 50 5,5 – 6,0 3,96 – 6,53 0,21 – 1,80 4,96 2.57
BFT 100 6,3 – 7,5 3,26 – 5,54 0,11 – 1,04 5.85 2.57
Control 100 5,3 -5,8 2,43 – 5,75 0,33 – 3,97 9.29 3.04
Hasil Produktivitas budidaya nila pada
sistem bioflok
Treatment
25 ekor/m3 50 ekor/m3 100 ekor/m3
BFT Control BFT Control BFT Control

Stocking
Jumlah (ekor) 75 75 150 150 300 300
Rata-rata berat 75,98 78,20 78,56 78,20 77,80 74,03
(g/ekor)
Total berat (kg) 5,70 5,87 11,78 12,22 23,21 22,21
Harvest
Rata-rata berat 190,86 215,63 161,04 216,46 129,03 165,40
(g/ekor)
Total berat (kg) 14,00 15,75 22,60 28,75 36,00 43,50
Total pakan (kg) 11,96 16,92 19,05 23,21 26,64 46,22
SR (%) 97,78 97,33 93,56 88,00 93,00 87,67

 Menurut Braun et al. (2010) bahwa padat tebar memiliki pengaruh


terhadap media pemeliharaan, yaitu semakin tinggi padat tebar maka
potensi mendapatkan efek negatif semakin tinggi dan akan berpengaruh
pada spesies ikan.
 Menurut Scott et al. (2016) budidaya Oreochromis niloticus dengan sistem
bioflok dapat menunjukkan tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi dengan
rata-rata pertumbuhan perhari 0,693 gr.

Parameter Oreochromis

Total feed over 10 weeks (g) 2721


Start stocking density (kg/m3) 9.82

End stocking density (kg/m3) 21.88

Start mass (g) 2209,34


End mass (g) 4923,63

Mean mass (g/day) 0,693

Mass gain (g) 2714,28


FCR 1.01

Sistem bioflok pada budidaya ikan nila, dapat menekan nilai rasio konversi pakan
FCR sebesar 1,01.
Pengaruh Sistem Bioflok Pada Budidaya Ikan Nila Pada Salinitas Berbeda

Menurut penelitian Rafael et al. (2019) bahwa ikan nila yang dipelihara selama 90 hari memiliki
tingkat kelangsungan yang tinggi berkisar 97,2 – 100 %, dengan kadar salinitas yang berbeda.
Dapat dilihat pada Tabel 5. Bahwa ikan nila memiliki kemampuan hidup pada kadar salinitas 12
– 16%, yang mana pada kadar ini merupakan perairan payau.
Selain itu, didapatkan hasil pengukuran kadar glukosa, hemoglobin dan hemotokrit
pada pertumbuhan ikan nila.

pada kadar salinitas 16 g/l ikan nila mengalami kenaikan cukup tinggi pada tingkat
glucosa. Jika glucosa pada ikan tinggi maka akan terjadi pelepasan enzim kortisol yang
menyebabkan ikan mengalami stress. Selain itu, perlakuan kadar salinitas 16 g/l
menyebabkan rendahnya nilai hematokrit pada ikan sebesar 29,1% dibandingkan
percobaan yang lainnya. Hal ini menandakan ikan dalam keadaan tidak sehat, walaupun
tingkat SR mencapai 100%.
Keuntungan menggunakan bioflok
 Dapat menguraikan limbah buangan budidaya berupa feses, amonia dan bahan organik
lainnya dapat di ubah oleh bakteri yang ada pada sistem bioflok menjadi pakan
tambahan berupa protein yang tinggi untuk ikan.
 Mencegah pembususkan dasar tambak
 Non residu atau tidak menimbulkan polusi
 Dapat sebagai biosecurity dengan cara memperoduksi bakteriosin yang dapat
mencegah bakteri
 Menekan FCR pada pakan ikan
 Terjadinya proses nitrifikasi sehingga kadar nitrit dalam perairan menjadi rendah
 Kadar DO dalam air relativ stabil
 Sedikit pergantian air, karena flok harus terjaga agar tetap menjadi gumpalan.
 Pada tebar bisa lebih tinggi (mencapai 3000 ekor/m3)
 Produktivitas tinggi
Kerugian menggunakan bioflok

 Perlu dilakukan pengontrolan kadar flok dalam air


 Penggunaan jumlah aerasi yang tinggi
Kesimpulan

Hasil dari beberapa penelitian dapat disimpulkan bahwa :


 Sistem bioflok dapat menurunkan kadar amonia, nitrit yang berbahaya untuk
kelangsung hidup ikan nilai, dengan cara dilakukan proses perombakan pada
bahan organik oleh bakteri menjadi flok-flok yang berprotein tinggi, sehingga
dapat dikonsumsi sebagai pakan untuk ikan nila.
 Padat tebar yang optimal pada sistem bioflok yaitu dengan kepadatan 25
ekor/m3, yang mana hasil SR yang dihasilkan sebesar 97%.
 Sistem bioflok yang diterapkan pada budidaya ikan nila dapat memberikan
laju pertumbuhan perhari sebesar 0,693 g.
 Budidaya ikan nilai dengan sistem bioflok dengan kadar salinitas 8-12 ppt dapat
menghasilkan nilai SR sebesar 97-98%, sehingga ikan nila dapat dibudidayakan
diperairan payau.