Anda di halaman 1dari 21

MODEL SPATIAL DYNAMICS

UNTUK PREDIKSI KE DEPAN

Supriatna
Konsep:
existing

O ra ng
Tahu Jumlah Wilayah 350,000
n Penduduk Terbangun
2008 69,725 357.79
data tabel Grafik model 300,000

PENDUDUK
2009 71,125 392.95
250,000
2010 72,553 431.11

2011

2012
74,010

75,496
472.44

517.09
(minimal 3 th) (4 model) 200,000

150,000

2013 77,012 565.21 100,000

2014 78,558 616.91 2,010 2,040 2,070 2,100

2015 80,136 672.29

2016 81,745 731.42

Software system dynamics


(non spatial)
asumsi

Software GIS
Perangkat lunak system dynamics
 DYNAMO (DYNAmic MOdels)
 STELLA (System Thinking Educational
Learning Laboratory with Animation)
 Ithink
 Powersim
 Studio
 Expert
 Executive
 Enterprise
 Solver
 Vensim (Ventana Simulation)
Proses pembuatan system dynamics

Tahap 1 Tahap 2 Tahap 3 Tahap 4 Tahap 5 Tahap 6


Ubah gambaran ke Disain Kebijakan Implementasikan
Gambar persamaan level Simulasikan Didik dan Perubahan dalam
Modelnya dan Struktur
Sistemnya dan rate Debatlah Kebijakan dan
Alternatif
Struktur

Story
Contoh:
• System dynamics berbasis SIG merupakan metoda yang tepat
untuk mendeskripsikan keterkaitan dan ketergantungan antara
jumlah penduduk, wilayah terbangun dan daya dukung lahan
dimasa depan.
• Variabel yang dipakai pada system dynamics, ada 18 variabel,
antara lain jumlah penduduk, luas lahan terbangun, kebutuhan
lahan, ketersediaan lahan, dsb. Pengolahan data dan analisis
menggunakan software Powersim 8.
• Analisis spatial dengan SIG-nya dengan menggunakan
software ArcGIS 9.1, adalah variabel wilayah kesesuaian
permukiman yang terdiri dari variabel bentuk medan
(ketinggiaan dan lereng), garis sepadan pantai (100 meter),
garis sepadan sungai (25 meter), garis koridor jalan (25 meter),
jenis tanah dan jenis batuan.
• Analisis perkembangan permukiman ke depan dengan
menggunakan variabel: jarak dari pusat kota, jarak dari kantor
kecamatan/kel/desa, jarak dari jalan, jarak dari pusat
kesehatan, dan jarak dari sekolah.
Story: Temuan
+

Emigrasi

+
Faktor Penurunan
Penekan Penduduk
Emigrasi
-
Angka + B2
Kematian - Faktor
+ Laju
penekan
Angka + wilayah B4 pertumbuhan
+ - terbangun + wilayah
Kelahiran PENDUDUK terbangun
R1 +
Angka
+ Pertumbuhan + Emigrasi Luas wilayah WILAYAH
+ TERBANGUN +
Estuari
+ Fraksi
R3 +
penggunaan
Kebutuhan lahan
+
Fraksi lahan lahan
per penduduk Ketersediaan
Tekanan lahan
Penduduk +
-

Daya
dukung +
lahan +
-

Gambar: Causal Loop Diagram (CLD) Carrying capacity lahan


Temuan
Emigrasi 1

Angka Kematian

Angka Kelahiran

2... O rang/tahun

Penurunan
Penduduk

Pertumbuhan PENDUDUK 37.59 O rang/tahun 0.85


Penduduk

Faktor Penekan Fraksi


Angka Emigrasi Wilayah penggunaan
Terbangun lahan
Faktor Penekan
Emigrasi
3,152.01 ha
kebutuhan_lahan

Laju
WILAYAH TERBANGUN
Pertumbuhan
3,721.88 ha
Wilayah
Terbangun
Tekanan
Penduduk fraksi kebutuhan
lahan per
penduduk Luas_wilayah
Estuari

0.06

Daya dukung
lahan Ketersediaan
Lahan

Gambar: Stock and Flow Diagram (SFD)


Model Carrying capacity lahan
Analisis Konsistensi Dimensi
1. const Angka Emigrasi = 0.009<<%/tahun>>.
2. aux Faktor Penekan Emigrasi = GRAPH('Tekanan Penduduk',0,1,{0, 0,0.045,0.09,0.116,0.17,
0.245,0.32,0.45,0.626,1//Min:0;Max:1//}).
3. aux Ketersediaan Lahan = 'Luas_wilayah Estuari'-'WILAYAH TERBANGUN'.
4. aux Faktor Penekan Wilayah Terbangun = 'WILAYAH TERBANGUN'/'Luas_wilayah Estuari'.
5. const Luas_wilayah Estuari = 3721.88<<ha>>.
6. const Fraksi penggunaan lahan = 7<<%/tahun>>.
7. flow Laju Pertumbuhan Wilayah Terbangun = ('WILAYAH TERBANGUN'*'Fraksi penggunaan
lahan')*(1-'Faktor Penekan Wilayah Terbangun').
8. stock WILAYAH TERBANGUN = 634.45<<ha>>.
9. aux Emigrasi 1 = GRAPH('Faktor Penekan Emigrasi',0,1,{0.23,0.42, 0.6,0.94,1.23,1.7,2.16,
2.65,3.42,4.06,5//Min:0;Max:5//}).
10. aux Tekanan Penduduk = 1/'Daya dukung lahan'.
11. aux fraksi kebutuhan lahan per penduduk =0.0625<<ha/Orang>>.
12. aux Daya dukung lahan = 'Ketersediaan Lahan'/kebutuhan_lahan.
13. aux kebutuhan_lahan = PENDUDUK*'fraksi kebutuhan lahan per penduduk'.
14. const Angka Kematian = 0.02<<%/tahun>>.
15. flow Penurunan Penduduk = (PENDUDUK*'Angka Kematian')+
('Angka Emigrasi'*'Emigrasi 1'*PENDUDUK).
16. flow Pertumbuhan Penduduk = (PENDUDUK*'Angka Kelahiran').
17. stock PENDUDUK = 74023<<Orang>>.
18. const Angka Kelahiran = 1.65<<%/tahun>>.
Hasil Simulasi

O ra ng ha
350,000

300,000
3,000

TERBANGUN
PENDUDUK

WILAYAH
250,000

200,000 2,000

150,000

1,000
100,000

2,010 2,040 2,070 2,100 2,010 2,040 2,070 2,100

(a) (b)
Gambar. Grafik hasil simulasi dari variabel jumlah penduduk (a) dan
wilayah terbangun (b).
Validasi Model

120,000
1,200.00
100,000

Luas lahan terbangun (ha)


1,000.00
Penduduk (orang)

80,000 800.00

60,000 600.00
Aktual Aktual
40,000 400.00
Simulasi Simulasi
20,000 200.00

- -

2012
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010
2011
Tahun Tahun

AME sebesar 13,87 dan AME sebesar 4,70 dan


model dinyatakan valid model dinyatakan valid

*AME = Average Mean Error


Diskusi
ha

3,000

2,000 W ILAYAH TER BANGUN


Ke te rse dia a n La ha n
Lua s_wila ya h Estua ri

1,000

0
2,010 2,020 2,030 2,040 2,050 2,060 2,070 2,080 2,090 2,100

Gambar. Hubungan jumlah penduduk dan wilayah terbangun dengan simulasi


sampai tahun 2100.
Gambar di atas tidak sesuai dengan harapan karena lahan pada kawasan
estuari akan habis, berdampak pada daya dukung lahan habis yang
akhirnya akan merusak semua aspek lingkungan hidup di daerah tersebut.

Perilaku yang sesuai dengan harapan harus dilakukan intervensi


Jumlah Wilayah Ketersediaan
Tahun
Penduduk Terbangun Lahan
Tabel Hasil Simulasi 2008 69,725 357.79 5,234.22
2009 71,125 394.63 5,197.38
2010 72,553 434.97 5,157.04
2011 74,010 479.10 5,112.91
2012 75,496 527.29 5,064.72
2013 77,012 579.82 5,012.19
2014 78,558 636.98 4,955.03
2015 80,136 699.07 4,892.94
2016 81,745 766.36 4,825.65
Tabel Hasil simulasi 2017 83,386 839.10 4,752.91
jumlah penduduk, wilayah 2018 85,060 917.55 4,674.46
2019 86,768 1,001.92 4,590.09
terbangun, dan ketersediaan 2020 88,511 1,092.39 4,499.62
lahan 2021 90,288 1,189.08 4,402.93
2022 92,101 1,292.06 4,299.95
2023 93,950 1,401.35 4,190.66
2024 95,836 1,516.87 4,075.14
2025 97,761 1,638.47 3,953.54
2026 99,724 1,765.89 3,826.12
2027 101,726 1,898.80 3,693.21
2028 103,769 2,036.74 3,555.27
2029 105,852 2,179.18 3,412.83
2030 107,977 2,325.48 3,266.53
2031 110,145 2,474.90 3,117.11
2032 112,357 2,626.65 2,965.36
2033 114,613 2,779.87 2,812.14
2034 116,914 2,933.65 2,658.36
2035 119,262 3,087.05 2,504.96
2036 121,656 3,239.17 2,352.84
2037 124,099 3,389.08 2,202.93
2038 126,590 3,535.95 2,056.06
2039 129,132 3,678.96 1,913.05
2040 131,724 3,817.40 1,774.61
2041 134,369 3,950.66 1,641.35
2042 137,067 4,078.21 1,513.80
Simulasi Skenario ke depan
Membuat skenario dimana perbandingan lahan terbangun dengan tidak
terbangun harus dipertahankan 60:40 dan kapasitas penduduk yang
hidup layak untuk sebuah wilayah yang berwawasan lingkungan.

Simulasi skenario ke depan pertama dengan melakukan intervensi


struktural yaitu dengan menambahkan variabel konstanta kebijakan rasio
ruang terbuka. Tahap kedua dengan melakukan intervensi fungsional
yaitu memberikan rasio 60% (60% wilayah terbangun dan 40% ruang
terbuka).
Emigrasi 1

Angka Kematian
ha
Angka Kelahiran

60.00 %
Penurunan
5... O ra ng/ta hun Penduduk

Kebijakan Rasio
Ruang Terbuka
3,000 Pertumbuhan 1.00
PENDUDUK 84.25 O ra ng/ta hun
Penduduk

Fraksi
Faktor Penekan
penggunaan
Wilayah
Angka Emigrasi lahan
Terbangun
WILAYAH TERBANGUN
Faktor Penekan
Ketersediaan Lahan
Emigrasi
2,000 Luas_wilayah Estuari
Laju
kebutuhan_lahan Pertumbuhan
Wilayah
Terbangun
WILAYAH TERBANGUN

fraksi kebutuhan
1,000 Tekanan lahan per
Penduduk penduduk Luas_wilayah
Estuari

0.07
2,010 2,020 2,030 2,040 2,050 2,060 2,070 2,080 2,090 2,100

Daya dukung
lahan Ketersediaan
Lahan
Jumlah
Tabel Hasil Simulasi Tahun Wilayah Terbangun Ketersediaan Lahan
Penduduk
2008 69,725 357.79 5,234.22
intervensi 2009 71,125 392.95 5,199.06
2010 72,553 431.11 5,160.90
2011 74,010 472.44 5,119.57
2012 75,496 517.09 5,074.92
2013 77,012 565.21 5,026.80
2014 78,558 616.91 4,975.10
2015 80,136 672.29 4,919.72
2016 81,745 731.42 4,860.59
2017 83,386 794.34 4,797.67
Tabel Hasil simulasi 2018 85,060 861.03 4,730.98
2019 86,768 931.44 4,660.57
intervensi 2020 88,511 1,005.45 4,586.56
jumlah penduduk, 2021 90,288 1,082.91 4,509.10
wilayah terbangun ,dan 2022 92,101 1,163.58 4,428.43
2023 93,950 1,247.19 4,344.82
ketersediaan lahan 2024 95,837 1,333.38 4,258.63
2025 97,761 1,421.77 4,170.24
2026 99,724 1,511.89 4,080.12
2027 101,726 1,603.26 3,988.75
2028 103,769 1,695.34 3,896.67
2029 105,852 1,787.60 3,804.41
2030 107,978 1,879.47 3,712.54
2031 110,146 1,970.40 3,621.61
2032 112,357 2,059.86 3,532.15
2033 114,613 2,147.34 3,444.67
2034 116,914 2,232.37 3,359.64
2035 119,262 2,314.55 3,277.46
2036 121,656 2,393.52 3,198.49
2037 124,099 2,468.98 3,123.03
2038 126,591 2,540.72 3,051.29
2039 129,132 2,608.56 2,983.45
2040 131,725 2,672.42 2,919.59
2041 134,370 2,732.24 2,859.77
2042 137,068 2,788.04 2,803.97
Skenario ke depan secara spatial

Spatial dynamics
Carrying capacity lahan

Kesesuaian System dynamics Model simulasi


permukiman

Model simulasi
Dynamics/pergerakan intervensi
Metode MCA/MCE Metode grid system
dengan buffer (pusat
kota, jalan, dll.) Tabel hasil simulasi

Spatial dynamics
Peta Kesesuaian
pada kesesuaian Asumsi
Permukiman
permukiman
Simulasi Skenario ke depan
Hasil intervesi diimplementasikan ke dalam ruang yang bersifat
spatial, yaitu mencari wilayah yang sesuai untuk dibangun
Simulasi Skenario ke depan
Simulasi Skenario ke depan
Kesimpulan

 Variabel wilayah terbangun mempunyai perilaku sigmoid,


artinya akan habis terbangun lahan yang ada pada kawasan
estuari. Variabel ketersediaan lahan mempunyai perilaku
decay, artinya lahan yang tersedia akan habis dipakai oleh
penduduk untuk membangun. Hubungan kedua variabel ini
saling bertolak belakang.
 Hasil intervensi dengan pembatasan lahan rasio 60% wilayah
terbangun akan memperlambat perkembangan wilayah
terbangun yang pada akhirnya akan stabil.
 Wilayah terbangun akan habis pada tahun 2100, maka
diperlukan intervensi kebijakan ke arah vertikal atau dengan
memperluas wilayah nya.
REFERENSI
Albin, S., 1997. Building a System Dynamics Model Part 1: Conceptualization. Massachusetts Institute of Technology.
BPS Kab. Sukabumi, 2012. Kabupaten Sukabumi dalam Angka 2011. Biro Pusat Statistik, Kabupaten Sukabumi.
BPS, 2013. Sukabumi Dalam Angka 2012. Biro Pusat Statistik, Kabupaten Sukabumi.
Checkland, 1999. Systems Thinking, Systems Practice. John Wiley & Sons. Toronto, Canada.
Dir. Penataan Ruang Wil. Tengah, Dep. Kimpraswil, 2004. Tata Ruang Kota Kecamatan Pelabuhanratu.
Dyer, K.R., 1997. Estuaries : A Physical Introduction. Second Edition. Chichester, John Wiley & Sons
J.P. Schmidt, Rebecca Moore, Merryl Alber. (2014). “Integrating ecosystem services and local government finances into
land use planning: A case study from coastal Georgia”. Journal Landscape and Urban Planning 122 (2014) 56– 67.
Green for Life, 2004...
Jeanne L. N., Belinda R., Dirk J. R., Richard M.C., (2009). “ Expanding protected areas beyond their terrestrial comfort
zone: Identifying spatial options for river conservation”. Biological Conservation 142 (2009), p.1605–1616
L. Van Niekerk, J.B. Adams, G.C. Bate, A.T. Forbes, N.T. Forbes, P. Huizinga, S.J. Lamberth, C.F. MacKay, C. Petersen,
S. Taljaard, S.P. Weerts, A.K. Whitfield, T.H. Wooldridge. (2013). “Country-wide assessment of estuary health: An
approach for integrating pressures and ecosystem response in a data limited environment”. Estuarine, Coastal and Shelf
Science 130 (2013), p.239-251
Muhammadi, Aminullah, E., Soesilo, B., 2001. Analisis Sistem Dinamis: Lingkungan Hidup, Sosial, Ekonomi,
Manajemen. UMJ Press, Jakarta.
Patrick R. H., Fraser S., James H.T., Steven E.G., (2012). “Municipal and regional habitat connectivity planning”.
Landscape and Urban Planning 105 (2012), p.15– 26
Purnomo H., 2012. Pemodelan dan simulasi untuk Pengelolaan Adaptif Sumberdaya Alam dan Lingkungan. PT. Penerbit
IPB Press. Bogor.
Richmond, B., 1993. Systems thinking: critical thinking skills for the 1990s and beyond. System Dynamics Review Vol. 9,
no. 2 (Summer 1993):113-133.
Rina dan Rika, 2012. Tekanan Penduduk Terhadap Lahan Pertanian di Kawasan Pertanian (Kasus Kecamatan Minggir
dan Moyudan). Jurnal: Bumi Indonesia, Vol. 1, No. 3 Tahun 2012. UGM-Yogyakarta.
Ruppert V., Pascal P., Céline S., Pierre-Olivier M., Bernard E., John D.T., (2012). “Exploring spatial patterns of
vulnerability for diverse biodiversity descriptors in regional conservation planning”. Journal of Environmental
Management 95 (2012), p.9-16.
Soemarwoto, 2011. Ekologi, Lingkungan dan Pembangunan. Jambatan, Jakarta.
Teresa M. C., Teresa Fidélis, (2013). “The relevance of governance models for estuary management plans”. Land Use
Policy 34 (2013), p.134– 145.
Yahya Basraouia, Abdelhafid Chafia, Yassine Zarhloulea and Salima Demnatib, (2011). “An integrated coastal zone
management initiative for sensitive coastal wetland on either sides of The Moulouya Estuary in Morocco”. Procedia
Social and Behavioral Sciences 19 (2011), p.520–525. The 2nd International Geography Symposium GEOMED 2010.