Anda di halaman 1dari 15

SWAMED DERMATITIS

Budhy indriani (1061711024)


Adibatul Fitriyah (1061811001)
Aditya Nurul Chotimah (1061811002)
Anggita Purnama Hati (10561811007)
Anindita Mardaningyudanti (1061811009)
Dhika Prameswari (1061811031)
PENDAHULUAN

kontak atopik
KLASIFIKASI Kronik

Dermatitis
Kontak Alergi Akut

KONTAK
Kronik
DERMATITIS Dermatitis
adalah peradangan kulit (epidermis dan Kontak Iritan
dermis) sebagai respon terhadap pengaruh Akut
faktor eksogen dan endogen, menimbulkan
kelainan klinis berupa efloresensi
polimorfik dan keluhan gatal.
ATOPIK
Gatal Kemerahan & ruam Bengkak & ada eksudat Kulit melepuh
Penyebab Dermatitis

Luar Dalam
(eksogen) (endogen)
Misalnya: Misalnya :
• bahan kimia (detergen, oli, semen, • dermatitis atopik
asam, basa),
• fisik (sinar matahari, suhu),
• mikroorganisme (mikroorganisme,
jamur)
Penatalaksanaan Terapi
 Terapi farmakologi
a. Topikal
 Kortikosteroid
Kortikosteroid mempunyai peranan dalam sistem imun. Golongan
kortikosteroid misalnya betametason. Betametason dapat mempengaruhi
kecepatan sintesis protein dan karena efek vasokontriksinya. Efek katabolik
dari kortikosteroid bisa dilihat pada kulit sebagai gambaran dasar dan
sepanjang penyembuhan luka. (Katzung, 2001).
 Contoh : enkacort (hidrokortison salep), kenacort (triamcinolon), beprosone
(betametasone), clobetason.
b. Sistemik
 Antihistamin
Maksud pemberian antihistamin adalah memperoleh efek sedatifnya. Ada yang
berpendapat pada stadium permulaan tidak terdapat pelepasan histamin. Tapi ada
juga yang berpendapat dengan adanya reaksi antigen–antibodi terdapat
pembebasan histamin, serotonin, SRS–A, bradikinin dan asetilkolin (Hedi, 2008).
Contoh : Orphen (CTM), incidal OD (cetirizin), interhistin (mebhidrolin),
phenergan (prometazin)
 Kortikosteroid
Diberikan pada kasus yang sedang dan berat, secara peroral, intramuscular atau
intravena. Pilihan terbaik adalah prednisone dan prednisolon. Perlu perhatian
khusus pada penderita ulkus peptikum, diabetes dan hipertensi. Efek sampingnya
terutama pertambahan berat badan, gangguan gastrointestinal (Suharti, 2008).
Contoh : iftidex (dexametason), lameson (methil prednisolon), prednison
 Terapi non farmakologi
1. Jangan digaruk sebisa mungkin hindari garukan yang berlebihan apalagi
menggunakan kuku panjang. Garukan akan membuat kulit menjadi lecet
akibatnya memperparah kondisi kulit yang terlihat bahkan bisa menimbulkan
infeksi. Boleh menggaruk asal dengan lembut dan tidak menerus intinya jangan
sampai lecet.
2. Terapi cahaya
Fototerapi akan menyinari kulit anda dengan sinar ultraviolet yang panjang
gelombang tertentu. Biasanya dibutuhkan beberapa sesi penyinaran sampai gatal
terkendali.
3. Gunakan kompres dingin dan basah. Menutupi area dengan perban dan balutan
dapat membantu melindungi kulit dan menghindari garukan.
Studi Kasus
 Ny.KM berusia 26 tahun datang ke Apotek dengan keluhan gatal diseluruh telapak
tangan yang sudah dirasakan sekitar 1 minggu yang lalu. Pasien sehari hari bekerja
di lab sebuah perusahaan dan pasien mencuci pakaian menggunakan sabun colek
yang kerap menimbulkan rasa gatal setelahnya. Pasien diberikan terapi berupa
betametasone krim, dexametason tablet, cetirizine tablet.
•Subjektif

Nama : Ny.KM
Usia : 26 th
Keluhan : gatal pada telapak tangan setelah mencuci baju dengan menggunakan
detergen
Riwayat obat : -
Riwayat alergi obat : -
 Objektif :-
 Assesment : -
 Plan :
1. Terapi Farmakologi :
 Pasien disarankan untuk menggunakan betametasone cream, dioleskan pada
telapak tangan yang timbul bintik merah
 Pasien disarankan minum dexametason 0,5mg 3xsehari 1 tablet
 Pasien disarankan minum cetirizine 10mg 1xsehari 1 tablet

2. Terapi Non Farmakologi :


 Menghindari alergen
 Menggunakan kompres air dingin untuk mengurangi bercak merah (lesi),
direndam selama 20-30 menit. Bisa juga menggunakan Calamin Lotio (dipilih
sediaan lotio karna lebih dingin dikulit) atau Larutan Borowi. (Dipiro)
Obat Dermatitis
Betametasone Cream
Indikasi : Supresi inflamasi & gangguan alergi; hyperplasia adrenal congenital. Supresi inflamasi pada kulit bdan mata (sediaan topikal)
Kontra indikasi : Lesi kulit akibat bakteri,jamur atau virus yang tidak diobati. Kortikosteroid kuat dikontra indikasikan untuk
Efek samping : Kulit kering, pruritus, iritasi, rasa nyeri atau terbakar sementara yang ringan sampai sedang.
Cara penggunaan : Topikal
Cetirizine
Indikasi : rinitis menahun, rinitisalergi seasonal, konjungtivitis, pruritus, urtikariaidiopati kronis
Kontraindikasi : hipersensitif, laktasi.
Efek samping : Sakit kepala, pusing, mengantuk, mulut kering.
Dosis : Dewasa 1x10mg/hari ; Anak-anak lebih dari 2tahun 0,25mg/kgBB diberikan tiap 12-24 jam.
Dexamethasone
Indikasi : Inflamasi dan alergi, syok, diagnosis sindroma chusing, hiperplasia adrenal kongenital, edema serebral.
Kontraindikasi : Diabetes militus tukak peptik atau udodenum,infeksi berat,hipertensi,atau gangguan sistem kardiovaskuler lainnya.
Efek samping : Peningkatan tekanan darah, tukak lambung, osteopororis.
Dosis : dewasa Oral 0,5 – 10 mg perhari, injeksi 0,5-24 mg perhari. Anak antiinflamasi oral im, iv 0,08-0,3 mg per kg BB per hari dalam dosis
terbagi setiap 6-12 jam.
KIE

1. Menghindari alergen
2. Mengganti sabun detergen dengan sabun deterjen yang mengandung pH yang
lebih rendah.
DAFTAR PUSTAKA
 Ardhie, Ari Muhandari. 2004. Dermatitis Dan Peran Steroid Dalam Penanganannya. DEXA MEDIA, 17(4), 157-
163.
 Bourke,J., Coulson ,I., and English, J. 2009. Guidelines for the management of contact dermatitis: an update.
British Journal of Dermatology , 160. 946–954.
 Brasch, J., and Becker, D. 2014. S1-Guidelines of the German Contact Allergy Group (DKG) of the German
Dermatology Society (DDG), the Information Network of Dermatological Clinics (IVDK), the German Society
for Allergology and Clinical Immunology (DGAKI), the Working Group for Occupational and Environmental
Dermatology (ABD) of the DDG, the Medical Association of German Allergologists (AeDA), the Professional
Association of German Dermatologists (BVDD) and the DDG. Allergo Journal Internasional, 23. 126-138
 Nofiyanti,A. L., Anggraini,D. I., dan Miftah, A. 2017. Dermatitis Kontak Iritan Kronis pada Pegawai Laundry.
Journal Medula Unila, 7(3), 1-5.
 Smedley, Julia . 2011. Concise guidance: diagnosis, management and prevention of occupational contact
dermatitis. Royal College of Physicians.
 Usatine, Richard P., dan Riojas, Marcela. 2010. Diagnosis and Management of Contact Dermatitis. American Family
Physician, 82(3), 250-255.