Anda di halaman 1dari 34

ASKEP PARKINSON

Oleh : Widia Lestari, S.Kep


PENGERTIAN
• Penyakit yang disebabkan adanya
gangguan pada otak, yaitu pada sistem
saraf pusat otak manusia mengalami
kemunduran.
• Pertama kali ditemukan oleh seorang
dokter inggris yang bernama James
Parkinson pada tahun 1887.
• Suatu kondisi ketika seseorang
mengalami ganguan pergerakan.
ETIOLOGI
Kurangnya dopamine/ MAO B meningkat
YANG PERLU DIPAHAMI
• Penghasil dopamine
• Peran dopamine dan efeknya jika
kadarnya berubah
• MAO B (Mono Amin Oxidase)
PENGHASIL DOPAMINE

Ganglia basalis
• Striatum
• Substansia
Nigra

Parkinson:
kehilangan
pigmen (tidak
hitam)  sekresi
kurang
Back
PERAN DOPAMINE
• Neurotransmiter
• Penting dalam pergerakan dan koordinasi
(relaksasi otot) >< acetylcholine (kontraksi otot)
• Memprakarsai gerakan otot secara tepat dan
halus tanpa gerakan2 yang tidak diinginkan

Efek (-)/ (+): mengganggu sistem hantaran dan


keseimbangan neurotransmiter yang lain
(acetylcholine)
MAO  memecah dopamin, jika MAO , dopamin
TANDA DAN GEJALA
“TRAP”
• TREMOR : Gemetar. Max saat istirahat
• RIGIDITY : kekakuan, peningkatan tonus otot
• AKINESIA : lamban, gerakan menghilang secara
spontan
• POSTURE : tidak stabil, bungkuk
TANDA DAN GEJALA LAIN
Gangguan posture
• Berjalan terseok-seok
• Penurunan ayunan tangan
• Kalau berbelok, memerlukan langkah
tertentu “en bloc”
• Bungkuk
• Gerakan kaku
Gangguan bicara dan menelan
• Bicara monoton, serak, kualitas bicara
lemah
• Lidah terasa berat/ bicara tidak jelas
• Keluar air liur
• Disfagia, sulit menelan
Tanda yang lain
• Fatigue
• Wajah topeng
• Sulit melakukan perpindahan gerak (posisi
tidur-duduk)
• Akathisia (tidak bisa duduk diam  ada
gerakan involunter)
• Depresi, demensia
• Gangguan saraf otonom (sulit tidur,
berkeringat)
PENATALAKSANAAN
• Terapi obat  mengontrol dan
mengurangi tanda dan gejala penyakit
• Fisioterapi
• Terapi bicara
• Terapi “Deep brain stimulator”
• Penggunaan walker
A. PENGKAJIAN
• Kaji saraf kranial, fungsi serebral
(koordinasi) dan fungsi motorik.
• Observasi gaya berjalan dan saat
melakukan aktivitas.
• Kaji riwayat gejala dan efeknya terhadap
fungsi tubuh.
• Kaji kejelasan dan kecepatan bicara.
• Kaji tanda depresi.
PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
• Tes kemampuan sensorik motorik
(menggambar lingkaran)
• Pemeriksaan lab urin dan darah  ada/
tdknya pengaruh obat
• MRI atau elektromiogram
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Gangguan mobilitas fisik yang
berhubungan dengan akinesia, regiditas
otot dan tremor ditandai dengan

DS: klien mengatakan sulit melakukan


kegiatan.
DO: tremor saat beraktivitas.
2. Gangguan pemenuhan nutrisi: kurang
dari kebutuhan tubuh yang berhubungan
dengan kesulitan: menggerakkan
makanan, mengunyah, dan menelan,
ditandai dengan :

DS: klien mengatakan sulit makan, berat


badan berkurang
DO: Kurus, berat badan kurang dari 20%
berat badan ideal, konjungtiva pucat, dan
membran mukosa pucat.
3. Gangguan komunikasi verbal yang
berhubungan dengan penurunan
kemampuan bicara dan kekakuan otot
wajah ditandai dengan :

DS: klien/keluarga mengatakan adanya


kesulitan dalam berbicara
DO: kata-kata sulit dipahami, pelo, wajah
kaku.
4. Kerusakan mobilitas fisik
5. Resiko jatuh
6. Konstipasi
7. Inefektif koping
C. INTERVENSI
DIAGNOSA 1.
Tujuan : meningkatkan mobilitas.
• Bantu klien melakukan olah raga setiap
hari seperti berjalan, bersepeda,
berenang, atau berkebun.
• Anjurkan klien untuk merentangkan dan
olah raga postural sesuai petunjuk terapis.
• Mandikan klien dengan air hangat dan
lakukan pengurutan untuk membantu
relaksasi otot.
• Instruksikan klien untuk istirahat secara
teratur agar menghindari kelemahan dan
frustasi.
• Ajarkan untuk melakukan olah raga
postural dan teknik berjalan untuk
mengurangi kekakuan saat berjalan dan
kemungkinan belajar terus.
• Instruksikan klien berjalan dengan posisi
kaki terbuka.
• Buat klien mengangkat tangan dengan
kesadaran, mengangkat kaki saat
berjalan, menggunakan sepatu untuk
berjalan, dan berjalan dengan langkah
memanjang.
• Beritahu klien berjalan mengikuti irama
musik untuk membantu memperbaiki
sensorik.
Evaluasi : klien mengikuti sesi terapi fisik,
melakukan latihan wajah 10 menit 2 kali
sehari.
DIAGNOSA 2
Tujuan : mengoptimalkan status nutrisi.
• Ajarkan klien untuk berpikir saat menelan-
menutup bibir dan gigi bersama-sama,
mengangkat lidah dengan makanan di
atasnya, kemudian menggerakkan lidah
ke belakang dan menelan sambil
mengangkat kepala ke belakang.
• Instruksikan klien untuk mengunyah dan
menelan, menggunakan kedua dinding
mulut.
• Beritahu klien untuk mengontrol akumulasi
saliva secara sadar dengan memegang kepala
dan menelan secara periodik.
• Berikan rasa aman pada klien, makan dengan
stabil dan menggunakan peralatan.
• Anjurkan makan dalam porsi kecil dan
tambahkan makanan selingan (snack).
• Monitor berat badan.

Evaluasi : klien dapat makan 3 kali dalam porsi


kecil dan dua kali snack, tidak ada penurunan
berat badan.
DIAGNOSA 3
Tujuan: memaksimalkan kemampuan
berkomunikasi.

• Jaga komplikasi pengobatan.


• Rujuk ke terapi wicara.
• Ajarkan klien latihan wajah dan
menggunakan metoda bernafas untuk
memperbaiki kata-kata, volume, dan
intonasi.
• Nafas dalam sebelum berbicara untuk
meningkatkan volume suara dan jumlah
kata dalam kalimat setiap bernafas.
• Latih berbicara dalam kalimat pendek,
membaca keras di depan kaca atau ke
dalam perekam suara (tape recorder)
untuk memonitor kemajuan.

Evaluasi : tidak adanya kesulitan dalam


berbicara, kata-kata dapat dipahami.