Anda di halaman 1dari 15

BAB XIV

KONSELING PSIKOLOGI dan TERAPI


PSIKOLOGI

Priskilla Narendra W. (17010664045)


Dhea Karina P. (17010664076)
Ananda Rezky D. (17010664191)
Pasal-pasal dalam Buku Kode Etik Psikologi
Pasal 71
• Batasan Umum

Pasal 72
• Kualifikasi Konselor dan Psikoterapis

Pasal 73
• Informed Consent dalam Konseling dan Terapi

Pasal 74
• Konseling Psikologi/Psikoterapi yang mleibatkan Pasangan atau Keluarga

Pasal 75
• Konseling Kelompok dan Terapi Kelompok
Pasal 76
• Pemberian Konseling Psikologi/Psikoterapi bagi yang Menjalani Konseling Psikologi/Psikoterapi sebelumnya

Pasal 77
• Pemberian Konseling Psikologi/Psikoterapi kepada Mereka yang Pernah Terlibat Keintiman/Keakraban Seksual

Pasal 78
• Penjelsan Singkat/Debriefing Setelah Konseling Psikologi/Psikoterapi

Pasal 79
• Penghentian Sementara Konseling Psikologi/Psikoterapi

Pasal 80
• Penghentian Konseling Psikologi/Psikoterapi
Perbandingan Kode Etik
dengan APA
American Psychology Associtation (APA) Kode Etik Psikologi Indonesia
Di dalam APA Code of Conduct tidak dijelaskan mengenai
Kode Etik HIMPSI pasal 71 mengenai batasan umum terkait
batasan umum terkait konseling psikologi dan terapi
konseling psikologi dan terapi psikologi. Pada pasal ini
psikologi. Namun pada 2.01 dijelaskan mengenai batasan
dijelaskan mengenai definisi dari konseling psikologi pada
dalam kompetensi psikologi secara umum, dan tidak
ayat pertama dan terapi psikologi pada ayat kedua.
terperinci seperti yang terdapat pada Kode Etik HIMPSI.
Kode Etik HIMPSI pasal 72 mengenai kualifikasi konselor
Di dalam APA Code of Conduct tidak dijelaskan mengenai dan psikoterapis. Pada ayat satu dijelaskan mengenai
kualifikasi konselor dan psikoterapis. kualifikasi konselor/psikoterapis, dan pada ayat kedua
dijelaskan mengenai sikap profesional.
Kode Etik HIMPSI pasal 73 mengenai informed consent
dalam konseling dan terapi. Pada ayat (1) dijelaskan
Di dalam APA Code of Conduct pada 10.01 dijelaskan
mengenai perlunya informed consent. Pada ayat (2)
mengenai informed consent terhadap terapi. Pada poin (a)
dijelaskan mengenai persyaratan yang harus dipenuhi. Pada
dijelaskan, informed consent yang sesuai dengan
ayat (3) dijelaskan mengenai hal-hal yang perlu
ketentuan. Pada poin (b) dijelaskan, jika terapi memerlukan
diinformasikan kepada klien sebelum menandatangani
suatu teknik atau prosedur yang belum digunakan secara
informed consent. Pada ayat (4) dijelaskan mengenai hal-
umum, maka psikolog harus mencantumkannya ke dalam
hal yang berkaitan dengan sifat konseling psikologi. Dan
informed consent. Penjelasan pada poin (c) serupa dengan
ayat (5) menjelaskan tentang apabila konselor/terapis
Kode Etik HIMPSI pasal 73 ayat 5.
masih dalam pelatihan, maka hal tersebut perlu
dicantumkan dalam informed consent.
American Psychology Associtation (APA) Kode Etik Psikologi Indonesia
Di dalam APA Code of Conduct pada 10.02 dijelaskan mengenai
Kode Etik HIMPSI pasal 74 mengenai konseling
terapi yang melibatkan pasangan ataupun keluarga. Tidak ada
psikologi/psikoterapi yang melibatkan pasangan atau keluarga.
perbedaan antara APA Code of Conduct dengan Kode Etik
Pada pasal ini dijelaskan mengenai prinsip dan klarifikasi yang
HIMPSI. Penjelasan yang terdapat pada poin (a) dan (b) serupa
perlu diperhatikan mengenai hal tersebut.
dengan Kode Etik HIMPSI pasal 74.
Pada 10.03 Tidak menjelaskan mengenai pertimbangan akan
kondisi klien dalam kaitannya dengan konseling psikologi/ Pasal 75
psikoterapi. Hanya menjelaskan peran dan tanggungjawab Menjelaskan perihal mempertimbangkan kondisi klien dalam
semua pihak serta batas kerahasiaan kaitannya dengan Konseling psikologi/psikoterapi.

Pasal 76
Serupa dengan kode etik mengenai pertimbangkan masalah
- Menyebutkan tentang pertimbangkan akan keberpihakan
perawatan dankesejahteraan klien / pasien potensial yang
untuk kesejahteraan klien pada pasal 76 (a)
dalam hal ini Psikolog harus berdiskusi mengenai masalah ini
- perihal bagaimana menghindari resiko dan kebingungan
dengan klien / pasien atau lainnya yang secara hukum orang
dan potensi konflik tercantum Pada pasal 76 (b)
yang berwenang atas nama klien / pasien secara berurutan
- Perihal berkonsultasi dengan psikoog sebelumnya saat akan
untuk meminimalkan risiko kebingungan dan konflik, serta
memberikan konseling psikologi/ psikoterapi pada pasien
berkonsultasilah dengan penyedia layanan lain bila perlu, dan
yang pernah mendapat konseling psikologi/ psikoterapi
melanjutkn dengan hati-hati dan kepekaan terhadap masalah
sebelumnya dijelaskan pada pasal 77 (c)
terapeutik dijelaskan pada pasal 10.04
American Psychology Associtation (APA) Kode Etik Psikologi Indonesia

Pasal 77
- Pada kode etik psikolog dilarang keras untuk menjalin intimasi dengan klien yang sedang menjalani
konseling psikologi diatur pada pasal 77 (1)
- pada 10.05 , pada APA hanya dijelaskan psikolog dilarang menjalin intimatisi dengan klien yang
- Psikolog dilarang menjalin keintiman seksual dengan orang yang berhubungan saudara ,
sedang menjalani terapi diatur dalam pasal 10.05
keluarga, significant others atau mengakhiri terapi untuk alasan agar dapat terlibat keintiman
- Psikolog dilarang menjalin keintiman seksual dengan orang yang berhubungan saudara ,
disebutkan pada pasal 77 (2)
keluarga, significant others atau mengakhiri terapi untuk alasan agar dapat terlibat keintiman
- Pada kode etik mengatur pelaranganpemberian konseling psikologi/ psikoterapi dengan orang
disebutkan pada pasal 10.06
yang pernah terlibat keintiman seksual disebutkan pada pasal 77 (3)
- Pada APA hanya dijelaskan bahwa menegnai terapi, yaitu Psikolog tidak menerima klien/ pasien
- Psikolog dilarang terlibat keintiman/keakraban seksual dengan orang yang sedang menjalani
terapi dari mantan pasangan seksual dijelaskan pada pasal 10.07
pelayanan konseling psikologi/ psikoterapi diatur pada pasal 77 (4)
- Pada APA dijelaskan Psikolog tidak terlibat dalam hubungan intim seksual dengan mantan klien /
- Psikolog tidak terlibat dalam keintiman seksual dengan orang yang diketahui memiliki
pasien selama setidaknya dua tahun setelah penghentianatau penghentian terapi
hubungan saudara, keluarga, atau significant others dari dari orang yang akan diberi konseling
- Disebutkan pada 10.08 (a)Psikolog tidak terlibat dalam hubungan intim seksual dengan mantan
psikologi/ psikoterapi dan psikolog juga tidak diperkenankan mengakhiri konseling/psikoterapi
klien / pasien dengan ketentuan tertentu
untuk alasan tersebut pasal 77 (4)
- Psikolog tidak menerima dan/atau memberikan konseling psikologi/psikoterapi bagi orang yang
pernah terlibat keintiman/keakraban seksual dengannya dengan ketentuan tertentu memiliki
kriteria yang sama dengan yang ada ddalam APPA diatur dalam . Pasal 77 (4)
American Psychology Associtation (APA) Kode Etik Psikologi Indonesia
Dalam pasal 78 , diatur apa saja yang perlu dilakukan psikolog
segera setelah pemberian konseling/terapi selesai dalam
bahasa yang mudah dipahami. Selain itu, pada ayat 4
Tidak diatur dalam APA. disampaikan bahwa psikolog dapat mengambil langkah untuk
mengurangi dampak negatif terhadap klien. Pasal ini tidak
memiliki perbandingan dalam APA.

Dalam 10.09, diatur bahwa psikolog harus membuat Dalam pasal 79, diatur bahwa psikolog berusaha menyiapkan
upaya-upaya yang masuk akal terkait dengan langkah-langkah untuk kesejahteraan pasien yang menjalani
pertanggungjawabannya setelah terjadi hubungan terapi. Hal ini juga dapat merujuk pada penghentian terapi atau
kontraktual. Penghentian terapi mungkin saja dilakukan perujukan pasien terhadap sejawat psikolog lain. Hal ini juga
dengan pertimbangan kesejahteraan pasien. Hal ini diatur dalam APA, 10.09, psikolog dapat menghentikan terapi
serupa dengan Kode Etik Psikologi Indonesia pasal 79. dengan tujuan kesejahteraan pasien.
Dalam APA 10.10, terkait mengakhir terapi, diatur
Dalam pasal 80, diatur ketentuan apa saja yang dapat membuat
beberapa ketentuan psikolog dapat mengakhiri terapi
psikolog menghentikan konseling, seperti pasien sudah tidak
antara lain adalah ketika pasien sudah tidak
memerlukannya atau mengancam orang yang menjalani
membutuhkan terapi atau saat terapi terancam karena
konseling tersebut. Adapun sebelum mengakhiri, psikolog
klien atau orang lain yang memiliki hubungan dengan
dapat memberi konseling penduluan atau saran pemberian
klien. Apabila pasien maupun pihak ketiga menolak, maka
alternatif lain kecuali kondisi tersebut tidak memungkinkan. Hal
psikolog dapat memberikan konseling preterminasi dan
yang diatur dalam pasal 80 ayat 1-3 ini serupa dengan APA
menyarankan ke layanan alternatif yang sesuai. Hal ini
10.10.
serupa dengan Kode Etik Indonesia pasal 80 ayat 1-3.
Paparan & Analisis Kasus
Paparan Kasus
Psikolog Lokal Digugat karena Melakukan Hubungan Seksual dengan Mantan
Pasien
Michael Mantell, psikolog asal San Diego telah digugat karena
berhubungan seksual dengan mantan pasiennya, dan melanggar kode etik,
berdasarkan gugatan yang diajukan oleh kantor kejaksaan agung. Pada 30
Oktober 2010, ia meminta pasiennya untuk menyangkal dan menutupi perihal
hubungan mereka. Mantell menjabat sebagai kepala psikolog di Rumah Sakit
Anak Rady dan Departemen Kepolisian San Diego dan telah bekerja sebagai
seorang anggota fakultas di University of California, San Diego Jurusan Psikiatri.
Ia menghadapi beberapa pelanggaran termasuk hubungan seksual dengan
mantan pasien; tidak jujur, curang, atau tindakan korupsi; komunikasi tidak sah
berdasarkan informasi yang diterima dalam kepercayaan diri profesional;
kelalaian dan melanggar standar etika.
Mantell digugat karena memiliki hubungan seksual dengan seorang
wanita yang pada awalnya melakukan konseling pada Januari 2010 dengan
tunangannya pada saat itu. Mantell mengobati pasangan tersebut baik sebagai
seorang individu maupun sebagai pasangan untuk membangun kepercayaan
dan masalah perselingkuhan. Lima bulan kemudian, pasangan tersebut putus.
Namun pasien wanita itu tetap melanjutkan terapinya sampai ia
menyelesaikan terapinya pada 12 Juli. Dua minggu kemudian, klaim tersebut
menuduh bahwa psikolog yang telah menikah itu dan mantan pasiennya
memulai hubungan seksual yang berlangsung selama 4 bulan. Komplain
tersebut menuduh bahwa keduanya melakukan hubungan seksual di kantor
Mantell dan juga di rumah mantan pasien tersebut. Mereka juga saling
menelepon dan membalas pesan singkat hampir setiap hari.
Pada pesan singkat sekitar tanggal 1 November, Mantell
diduga mengatakan pada wanita tersebut bahwa ia
mempertaruhkan izin praktik dan waktunya di penjara karena ia
melanggar “aturan dua tahun”. Mantell yang telah memegang izin
praktik di California sejak 1977, dapat kehilangan izin tersebut
apabila Board of Psychology Department of Consumer Affairs
mengetahui bahwa ia melanggar pasal Bisnis dan Profesi dengan
melakukan hubungan seksual dengan mantan pasiennya dalam
jangka waktu kurang dari 2 tahun penghentian terapi
Analisis Kasus
Kasus Michael Mantell merupakan salah satu kasus pelanggaran kode etik
psikologi yang terjadi di luar negeri, tepatnya San Diego. Dimana, dalam menganalisis
kasus tersebut lebih cocok apabila menggunakan standar yang diatur dalam American
Psychological Association (APA). Michael Mantell telah melakukan keakraban seksual
dengan mantan pasiennya dua minggu setelah terapi berakhir. Hubungan mereka terus
berlanjut hingga 4 bulan kemudian. Dalam hal ini, Michael Mantell telah melanggar
kode etik psikologi yang tertuang dalam American Psychological Association (APA) 10.08
bagian a. Disana disebutkan bahwa psikolog dapat memiliki hubungan keakraban
seksual dengan mantan pasiennya yang telah berusia sama dengan atau lebih dari dua
tahun. Namun, hubungan Mantell dengan pasiennya muncul setelah 2 minggu dari
terapi dihentikan.
Meski kasus ini terjadi di San Diego, Amerika Serikat, hal ini
dapat dianalisis menggunakan kode etik yang tertuang dalam Kode
Etik Psikologi Indonesia pasal 77 ayat 4. Dalam pasal tersebut
disebutkan “...setidaknya 2 (dua) tahun dari penghentian dan atau
pengakhiran konseling psikologi/psikoterapi...”, hal ini serupa
dengan American Psychological Association (APA) 10.08 bagian a
yang telah disebutkan sebelumnya.
Terimakasih.

Ada pertanyaan?