Anda di halaman 1dari 68

KANKER TIROID

Oleh : Dwitri Ramadhana Dirizky

P r e s e p t o r : d r. I s m e l d i S y a r i e f , S p . B - ( K ) O N K
BAB 1
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG

• Tumor atau kanker tiroid merupakan neoplasma sistem


endokrin yang terbanyak dijumpai.
• Indonesia kanker tiroid merupakan kanker dengan insidensi
tertinggi urutan ke sembilan
• Pembesaran kelenjar (nodul) tiroid atau struma, sering dihadapi
dengan sikap yang biasa saja oleh penderita, oleh karena tidak
memberikan keluhan yang begitu berarti dan pada sebagian besar
golongan masyarakat di daerah tertentu, keadaan ini merupakan
suatu hal yang biasa di jumpai.
• Nodul tiroid bisa merupakan suatu neoplasma (5-10%), baik jinak
atau ganas dan keadaan ini bergantung pada usia dan ukuran tumor.
Prevalensi nodul tiroid meningkat secara linier dengan
bertambahnya usia
• Karsinoma tiroid umumnya tergolong keganasan yang pertumbuhan
dan perjalanan penyakitnya lambat, serta morbiditas dan mortalitas
yang rendah, walau sebagian kecil ada yang tumbuh cepat dan sangat
ganas dengan prognosis yang buruk.
TUJUAN PENULISAN

• Penulisan case report session ini bertujuan untuk memahami serta


menambah pengetahuan tentang kanker tiroid.
BATASAN MASALAH

• Batasan penulisan case report session ini membahas mengenai


anatomi, definisi, epidemiologi, etiologi dan patogenesis, manifestasi
klinis, diagnosis, penatalaksanaan, komplikasi, dan prognosis kanker
tiroid.
METODE PENULISAN

• Penulisan case report session ini menggunakan metode penulisan


tinjauan kepustakaan merujuk pada berbagai literatur.
BAB 2
TINJAUAN
PUSTAKA
ANATOMI
ALIRAN ARTERI DAN VENA

• Kelenjar tiroid mendapat asupan dari 4 buah arteri yang utama:


(1) arteri tiroidea superior kanan dan kiri, cabang dari arteri karotis
eksterna;
(2) arteri tiroidea inferior kanan dan kiri, cabang dari arteri subklavia.
• Sistem vena berasal dari pleksus perifolikuler yang menyatu di
permukaan dan membentuk:
(1) vena tiroidea superior yang berjalan bersama arteri;
(2) vena tiroidea media di sisi lateral;
(3) vena tiroidea inferior.
ALIRAN LIMFATIK
PERSARAFAN TIROID

• Kelenjar tiroid mendapat persarafan dari cabang nervus vagus,


yaitu nervus laringeus superior dan inferior (nervus laringeus
rekuren).
FISIOLOGI KELENJAR TIROID

• Kelenjar tiroid menghasilkan hormon tiroid yaitu triodhyronin (T3)


dan tetraiodo-thyronine (T4). Hormon ini berfungsi mengatur
sistem metabolisme tubuh. Produksi hormon tiroid diatur oleh otak
melalui Thyrotropin Releasing Hormone (TRH) dan Thyroid Stimulating
Hormone (TSH). Jika TSH meningkat maka kerja kelenjar tiroid
dalam memproduksi hormon T3 (triiodothyronin) dan T4
(thyroxine) meningkat. Hal sebaliknya terjadi bila TSH menurun.
• TSH dikeluarkan hipofisis anterior, maka sel epitel folikel tiroid akan
meminositosis koloid sehingga mengubah tiroglobulin menjadi
tiroksin (T4) dan triiodotironin (T3) dalam jumlah yang lebih sedikit.
Tiroksin dan triiodotironin disimpan dalam folikel tiroid sebagai
tiroglobulin yang dalam kondisi fisiologis tidak termasuk dalam
sirkulasi darah
• Kelenjar tiroid juga mengandung sel parafolikel yang menghasilkan
hormon kalsitonin. Kalsitonin adalah polipeptia yang mengatur
metabolism kalsium, dapat meningkatkan penyerapan kalsium di
tulang serta menghambat resorpsi tulang oleh osteoklas
KANKER TIROID
DEFINISI

• Kanker kelenjar tiroid adalah suatu neoplasma pada kelenjar tiroid


yang bersifat ganas.
EPIDEMIOLOGI

• Kanker tiroid keganasan endokrin yang tersering dijumpai dan


diperkirakan 1,1% dari seluruh keganasan manusia.
• Pada tahun 2004 American Cancer Society memperkirakan terdapat
lebih kurang 22.500 kasus baru kanker tiroid di Amerika Serikat.
• Perempuan dan laki-laki adalah 3 : 1,
• Di Indonesia dari registrasi Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi
Indonesia didapatkan kanker tiroid menempati urutan ke 9 dari 10
kanker terbanyak (4,43%).12
FAKTOR RISIKO

• Faktor radiasi
• Faktor genetik
• Usia
KLASIFIKASI
• Untuk menyederhanakan penatalaksanaan. Mc Kenzie membedakan
kanker tiroid atas 4 tipe yaitu:
1. karsinoma papilare,
2. karsinoma folikulare,
3. karsinoma medulare
4. karsinoma anaplastik
• Klasifikasi Klinik TNM Edisi 6 – 20021
• T-Tumor Primer
• Tx : Tumor primer tidak dapat dinilai
• T0 : Tidak didapat tumor primer
• T1 : Tumor dengan ukuran terbesar 2 cm atau kurang masih terbatas pada tiroid
• T2 : Tumor dengan ukuran terbesar lebih dari 2 cm tetapi tidak lebih dari 4 cm masih
terbatas pada tiroid
• T3 : Tumor dengan ukuran terbesar lebih dari 4 cm masih terbatas pada tiroid atau
tumor ukuran berapa saja dengan ekstensi ekstra tiroid yang minimal (misalnya ke otot
sternotiroid atau jaringan lunak peritiroid)
• T4a :Tumor telah berkestensi keluar kapsul tiroid dan menginvasi ke tempat berikut :
jaringan lunak subkutan, laring, trachea, esophagus, n. laringeus recurren
• T4b : Tumor menginvasi fasia prevertebrata, pembuluh mediastinal atau arteri karotis
•N : Kelenjar Getah Bening Regional
• Nx : Kelenjar getah bening tidak dapat dinilai
• N0 : Tidak didapat metastasis ke kelenjar getah bening
• N1 : Terdapat metastasis ke kelenjar getah bening
• N1a : Metastasis pada kelenjar getah bening cervical level VI
(pretrakheal dan paratrakheal, termasuk prelaringeal dan delphian)
• N1b : Metastasis pada kelenjar getah bening cervical unilateral, bilateral
atau kontralateral atau ke kelenjar getah bening mediastinal
atas/superior
•M : Metastasis jauh
• Mx : Metastasis jauh tidak dapat dinilai
• M0 : Tidak terdapat metastasis jauh
• M1 : Terdapat Metastasis jauh
DIAGNOSIS

Anamnesis
• Usia dan jenis kelamin
• Riwayat radiasi daerah leher dan kepala
• Kecepatan tumbuh tumor
• Riwayat gangguan mekanik pada leher
• Riwayat penyakit dalam keluarga
Pemeriksaan Fisis
• Kelenjar tiroid akan ikut bergerak ke atas saat penderita diminta
menelan.
• Nodul bisa soliter atau multipel dengan konsistensi keras dan tidak bisa
digerakkan dari dasarnya. Bila kelenjar besar sekali namun tidak tampak
gejala sesak napas, ada tidaknya penekanan pada trakea dapat dinilai
dengan cara menekan lobus lateral kelenjar sehingga timbul stridor.
• Ada tidaknya nyeri
• Ada tidaknya pembesaran KGB regional
• Ada tidaknya benjolan pada tulang belakang, klavikula, dan sternum, serta
tempat terjadinya metastasis (paru, ginjal, hepar, otak).
PEMERIKSAAN PENUNJANG

• Laboratorium : FT4 dan TSH


• Pemeriksaan Radiologis
• Pemeriksaan Ultrasonografi
• Pemeriksaan sidik tiroid
• FNAB
• Pemeriksaan Histopatologi
TATALAKSANA
• Non Pembedahan
1. Radioterapi
2. Kemoterapi
3. Terapi Hormonal
PROGNOSIS

• AMES (Age, Metastasis, Extent of primary cancer, tumor Size), yang


terdiri dari :
Ages: pria < 41 th, wanita < 51 th atau pria > 40 th, wanita > 50 th
Metastasis : metastasis jauh atau tanpa metastasis jauh.
Extent: papilare intratiroid atau folikulare dengan infasi kapsul
minimal atau dengan invasi mayor.
Size : 5 cm / > 5 cm
Risiko Rendah:
• Usia muda (≤50) tanpa metastasis
• Pasien tua (papiler intratiroid, invasi kapsul minor untuk lesi
folikular)
• Kanker primer <5 cm
• Tidak ada metastasis
Risiko Tinggi:
• Semua pasien dengan metastasi jauh
• Papiler ekstratiroid, invasi kapsul mayor folikular
• Kanker primer ≥5 cm pada pasien tua (laki-laki >40,
perempuan >50)
Angka harapan hidup (20 tahun) berdasarkan grup risiko AMES:
• Risiko rendah= 99%
• Risiko tinggi = 61%
BAB 3
L APORAN K ASUS
IDENTITAS PASIEN

Nama : Ny. J

Umur : 60 tahun 5 bulan

Jenis Kelamin : Perempuan


Agama : Islam

Status : Menikah

Alamat : Kampung Apar Padang Pariaman

Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga


ANAMNESIS

Keluhan Utama
• Benjolan di tengah leher yang tampak semakin
membesar sejak ±1 tahun sebelum masuk Rumah
Sakit.
Riwayat Penyakit Sekarang
• Benjolan di tengah leher yang semakin membesar sejak ±1
tahun sebelum masuk Rumah Sakit. Awalnya benjolan sudah
dirasakan sejak 10 tahun SMRS berukuran sebesar telur
puyuh tepat dipertengahan leher dan semakin membesar
hingga sekarang
• Benjolan tidak terasa nyeri, berwarna sama dengan kulit
disekitarnya, keluar darah dan atau nanah dari benjolan tidak
ada.
• Benjolan ikut bergerak saat menelan
• Benjolan tidak didahului trauma.
• Keluhan benjolan di tempat lain tidak ada
• Demam tidak ada
• Perubahan suara menjadi serak tidak ada
• Sulit menelan ada
• Penurunan nafsu makan tidak ada
• Penurunan berat badan tidak ada
• Sesak nafas dan rasa berdebar tidak ada
• Tangan gemetaran tidak ada
• Berkeringat banyak tanpa beraktivitas tidak ada
• Mudah lelah tidak ada
• BAB dan BAK tidak ada keluhan
Riwayat Penyakit Dahulu
• Riwayat hipertensi ada
• Riwayat terpapar radiasi tidak ada
• Riwayat menderita keganasan lokasi lain tidak ada.
Riwayat Pengobatan
• Pasien sudah pernah berobat ke dokter spesialis bedah di
rumah sakit Padang Panjang bulan November 2018 dan diberi
obat namun pasien lupa nama obat yang dikonsumsi
Riwayat Penyakit Keluarga
• Ibu kandung dan saudara pasien (adik dan kakak kandung)
memiliki keluhan yang sama yaitu adanya benjolan pada leher
Riwayat Riwayat Pekerjaan, Sosial Ekonomi dan Kebiasaan
• Pasien adalah seorang ibu rumah tangga
• Pasien tidak merokok, tidak menggunakan jarum suntik, tidak
konsumsi alkohol
• Konsumsi garam beryodium ada
• Pasien tidak tinggal di daerah pegunungan
PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis
• Keadaan Umum : Sakit sedang
• Kesadaran : Composmentis Kooperatif
• Nadi : 88x/ menit
• Nafas : 20x/menit
• Suhu :37,6oc
• Tekanan darah : 180/90mmHg
Status Internus
• Rambut : Hitam dan tidak mudah dicabut
• Kulit dan kuku : Turgor kulit baik, tidak ada sianosis
• Kepala : Normochepal
• Mata : Konjungtiva anemis, sklera tidak ikterik
• Telinga : Tidak ditemukan kelainan
• Hidung : Tidak ditemukan kelainan
• Gigi dan mulut : Tidak ditemukan kelainan
• Leher : Lihat status lokalis
• Dinding dada : Normochest
Paru :
• Inspeksi : Simetris, kiri = kanan
• Auskultasi :Vesikular +/+ , rhonki -/- wheezing -/-
• Palpasi : Fremitus kiri = kanan
• Perkusi : Sonor kiri = kanan
Jantung:
• Inspeksi : Iktus kordis tidak terlihat
• Auskultasi : Bunyi jantung 1 dan 2 normal, murmur (-), Gallop (-)
• Palpasi : Iktus kordis teraba 2 jari lateral línea mid clavicula sinistra
RIC VI
• Perkusi : Batas jantung kiri melebar hingga 2 jari lateral linea mid
clavicula sinistra RIC VI
Abdomen:
• Inspeksi : Distensi (-)
• Auskultasi : Bising usus (+) Normal
• Palpasi : supel, nyeri tekan (-), nyeri lepas (-), hepar dan lien tidak
teraba
• Perkusi : Timpani
Ekstremitas : Akral hangat, CRT < 2 detik, edema tidak ada
Status Lokalis
Regio colli :
• Inspeksi: Tampak benjolan di bagian
anterior sama dengan warna kulit sekitar,
venektasi tidak ada, darah tidak ada, pus
tidak ada
• Palpasi : teraba massa dengan ukuran
9cm x 8cm x 6 cm, bentuk bulat,
konsistensi padat, permukaan rata,
berbatas tegas, nyeri tekan tidak ada.
massa ikut bergerak saat menelan, tidak
ada pembesaran KGB regional
• Auskultasi : Bruit (-)
DIAGNOSIS KERJA

• Struma Difusa Non Toksik Susp Malignancy


• Hipertensi
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Kesan : Pembesaran
jantung compensated dan
pulmo tak tampak kelainan.
Suspek struma intratorakal
ANJURAN

• USG Regio Coli


• Pemeriksaan Histopatologi
RENCANA TERAPI
Tujuan/Target Instruksi
Pelaksanaan
Terapi Nyeri - -
Terapi - -
Medikamentosa
Terapi Primer Tiroidektomi Total
Konsultasi Persiapan Operasi -Penyakit dalam
-Jantung
-Anestesi
PROGNOSIS

• Quo ad vitam :dubia at malam


Quo ad functionam : dubia at malam
Quo ad sanationam : dubia at malam
BAB 4
DISKUSI
• Anamnesis pasien perempuan usia 60
tahun, dengan keluhan benjolan pada
pertengahan leher dirasakan sejak 10
tahun yang lalu namun semakin lama
semakin membesar dalam waktu 1
tahun belakangan

Kanker tiroid tergolong slow growing tumor


dengan perjalanan penyakit yang lambat, serta
morbiditas dan mortalitas yang rendah..
• Pada pasien didapatkan adanya kesulitan menelan, ini merupakan
tanda-tanda pendesakan organ yang merupakan tanda klinis
kecurigaan terhadap keganasan
• Berdasarkan anamnesis, faktor risiko yang ditemukan pada pasien
yaitu umur pasien yang sudah lebih dari >45 tahun dan keluarga
pasien yaitu ibu kandung juga memiliki keluhan yang sama. Kanker
ini sebagian (20%) diturunkan secara genetik.
• Pada pemeriksaan fisik benjolan ikut bergerak saat menelan
sehingga dapat dipastikan benjolan tersebut merupakan kelenjar
tiroid.
• Kecurigaan tinggi keganasan dapat dicurigai apa bila ditemukan
nodul yang padat atau keras, fiksasi nodul ke struktur yang
berdekatan, limfadenopati regional, metastasis jauh, kelumpuhan pita
suara pada laringoskopi tidak langsung serta kecurigaan moderat
untuk keganasan yaitu nodule > 4 cm atau sebagian cystic dan usia
< 20 atau > 70 tahun.
• Pemeriksaan hematologi rutin
pasien dalam batas normal.
Pasien juga melakukan
pemeriksaan kadar TSH, T3
dan FT4. Pada pemeriksaan
Selain itu, berdasarkan tersebut, didapatkan hasil
pemeriksaan penunjang dalam batas normal.
sederhana indeks Wayne, pasien
mendaptkan skor -6 yang artinya
termasuk ke dalam eutyroid. Dari
pemeriksaan penunjang tersebut
dapat disimpulkan tidak adanya
gejala tirotoksikosis.
• Rontgen thoraks ditemukan kesan adanya suspek struma
intratorakal. Pada rontgen thoraks tidak ditemukan adanya
gambaran metastasis pada paru.
• Rencana terapi yang dilakukan pada pasien yaitu total tiroidektomi,
karena pada pasien ini didiagnosis struma difusa, yang artinya
pembesaran kelenjar merata, bagian kanan dan kiri kelenjar sama-
sama membesar.
• Prognosis pada pasien ini berdasarkan AMES memiliki risiko tinggi
yang artinya harapan hidup (20 tahun) yaitu 61%. Alasan pasien
digolongkan ke dalam risiko tinggi yaitu terdapatnya kanker primer
>5cm dan pasien tua (laki-laki>40 tahun, perempuan>50 tahun).
TERIMAKASIH