Anda di halaman 1dari 10

Starting Question

Di era globalisasi, saat semua serba


modern dan segalanya dapat diperoleh
dengan mudah. Seberapa pentingkah
agama buat kamu?
 Agama lahir di dunia ini sebagai berkah
semesta. Ia mengajarkan hubungan
manusia dengan penciptanya,
hubungannya dengan semua mahluk
serta hubungannya dengan diri sendiri.
Agama mengajarkan kedamaian dan
cinta, baik ke dalam diri maupun kepada
semua mahluk. Ia membuat hidup
manusia menjadi seimbang (IQ, EQ, ESQ)
 Globalisasiitu sendiri adalah sebuah
proses mengglobal yang terus
berlangsung, yakni dunia yang semakin
lama semakin menjadi satu. Ada tiga ciri
dasar dari globalisasi. Yang
pertama adalah perkembangan pesat
teknologi informasi, komunikasi dan
transportasi.
 Globaliasi menyediakan dua kemungkinan bagi agama.
Yang pertamaadalah peluang untuk berkembang secara
global, terutama dengan memanfaatkan perkembangan
teknologi informasi, komunikasi dan transportasi yang ada.
Agama-agama bisa saling bekerja sama, guna mewujudkan
nilai-nilai luhur mereka di dalam dunia. Kerja sama ini bisa
membuka wawasan masing-masing agama, sehingga
semakin terbuka dan bijak.
 Yang kedua adalah krisis identitas. Globalisasi mengancam
nilai-nilai yang dulu begitu kuat mengikat begitu banyak
komunitas. Di hadapan arus informasi dari internet dan
industri komunikasi lainnya, nilai-nilai lama dipertanyakan,
dan nilai-nilai baru bermunculan. Bagi beberapa kelompok,
keadaan ini menciptakan ketakutan, dan akhirnya, dengan
dorongan beberapa hal lainnya, mendorong mereka untuk
menjadi ekstremis, maupun teroris.
- Fenomena Ustadz Media Sosial

- Akun-akun dakwah

- Simbolisme agama dalam media sosial

- Munculnya Islam yang lebih Moderat

- Akulturasi kebudayaan Islam


 Secara terminologi agnostik adalah orang yang
memiliki pandangan bahwa ada atau tidaknya Tuhan tidak dapat
diketahui. Agnostik lawan kata dari gnostik yang artinya
berpendapat bahwa Tuhan dapat diketahui sebagai ada atau
tidak. Ateis dan teis lebih berimplikasi pada sikap dan tindakan.
Anda seorang teis jika Anda percaya Tuhan ada dan segala
tindakan Anda dilakukan dengan berpedoman atas perintahnya,
ateis jika Anda tidak menganggap Tuhan ada dan tidak
mendasarkan tingkah laku atas perintahnya. Maka dari itu dapat
muncul empat jenis kombinasi: teis agnostik, mereka yang
menyembah Tuhan namun mengakui Tuhan tidak dapat
diketahui; teis gnostik, mereka yang menyembah Tuhan yang
percaya keberadaan Tuhan bisa diketahui; ateis agnostik, mereka
yang tidak percaya Tuhan dan berpendapat ada/tidaknya Tuhan
tidak diketahui; yang terakhir, ateis gnostik, yakni mereka yang
tidak menyembah Tuhan dan berpendapat bahwa Tuhan memang
jelas-jelas tidak ada.
 Beranjak dari definisi-definisi tersebut kita
bisa melihat bahwa di luar sana sebenarnya
banyak didominasi oleh teis agnostik, yakni
mereka yang tidak yakin bahwa Tuhan ada
atau tidak namun melakukan peribadatan
untuk sekedar jaga-jaga (ini bisa juga
merupakan residu ketakutan yang tertanam
sejak kecil akan neraka dan dosa akibat
tidak menyembah Tuhan yang benar) atau
alasan lainnya.
 َ‫ناك ِإالَّ َر ْح َمةً ِل ْلعالَ ِمين‬
َ ‫س ْل‬
َ ‫َوما أ َ ْر‬
 “Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad,
melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia”
(QS. Al Anbiya: 107)
 Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa
sallam diutus dengan membawa ajaran Islam,
maka Islam adalah rahmatan lil’alamin, Islam
adalah rahmat bagi seluruh manusia.

 Memilih agama yang diyakini adalah murni sebuah hasrat
yang terbentuk tanpa adanya paksaan dan pengaruh dari
siapa pun, karena keyakinan adalah persoalan hati yang
tidak dapat diukur dan diatur kemana pun ia berteduh.
Apalagi agama merupakan sebuah hubungan antara
manusia dengan Tuhan yang mempengaruhi hubungan
manusia dengan manusia.
 Agama secara bahasa berasal dari A yang berarti tidak dan
Gama yang berarti rusak, dan agama berarti tidak rusak.
Sebab pada dasarnya semua agama mengajarkan pada
kebaikan dan kedamaian. Tidak ada agama yang
mengajarkan pada kerusakan, kehancuran, dan keburukan.
Maka dari itu saling menghargai dan menghormati
merupakan salah satu wujud bahwa kita mencintai sesama
manusia yang juga memiliki hak untuk hidup dan
berpendapat.
 Dalam Islam, toleransi atas kebebasan beragama
terpampang dengan sangat jelas dalam QS: Al Baqarah: 62,
“Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi,
orang-orang Nasrani, dan orang-orang Shabiin, siapa saja di
antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah,
hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima
pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada
mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.
 Ayat tersebut merupakan bukti bahwa perbedaan yang ada
bukanlah sesuatu yang mesti dihindari, sebab hal itu
merupakan sebuah keniscayaan yang datangnya dari Allah.
Satu-satunya hal yang dapat dilakukan dengan perbedaan
itu ialah dengan menggunakannya sebagai sarana untuk
berlomba-lomba dalam kebaikan.