Anda di halaman 1dari 19

FIQH DARAH

NURDIANI, M.Si
POKOK BAHASAN
Syekh Abu Syuja’ menyebutkan dalam
matan Taqrib, bahwa darah kewanitaan
ada tiga:

‫ويخرج من الفرج ثالثة دماء دم الحيض والنفاس‬


...‫واالستحاضة‬

Artinya, “Darah yang keluar dari kelamin


wanita ada tiga: darah haid, darah nifas,
dan darah istihadlah.”
DALIL HAIDH
Allah Ta’ala berfirman:

ََ‫طه ْرن‬ ْ َ‫ى ي‬


َ َ‫ط ُه ْرنََ فَإ َذا ت‬ َ ‫ساء في ْال َمحَيضَ َو‬
ََ ‫الَ ت َ ْق َربُو ُهنَ َحت‬ َ ِّ‫ل ُه ََو أَذًى فَا ْعتَزلُوَاْ الن‬ َ ‫عنَ ْال َمح‬
َْ ُ‫يض ق‬ ََ ‫َويَ ْسأَلُون‬
َ ‫َك‬
َِّ ‫ْث أ َ َم َر ُك َُم‬
ُ‫للا‬ َُ ‫ن َحي‬َْ ‫فَأْتُو ُهنَ م‬
“Mereka bertanya kepadamu tentang (darah) haid. Katakanlah, “Dia itu
adalah suatu kotoran (najis)”. Oleh sebab itu hendaklah kalian menjauhkan
diri dari wanita di tempat haidnya (kemaluan). Dan janganlah kalian
mendekati mereka, sebelum mereka suci (dari haid). Apabila mereka telah
bersuci (mandi bersih), maka campurilah mereka itu di tempat yang
diperintahkan Allah kepada kalian.” (QS. Al-Baqarah: 222)
DEFINISI HAIDH & WAKTU
Definisi Haidh

Haidh secara bahasa artinya mengalir, sedangkan secara syara’ artinya darah yang biasa (terjadi
pada wanita) yang keluar dari bagian dalam rahim pada waktu-waktu tertentu ketika wanita
dalam keadaan sehat bukan karena sebab melahirkan. Keluarnya darah ini dikarenakan
meluruhnya dinding rahim yang dipicu oleh kerja hormon dalam tubuh, terutama hormon
estrogen dan progesteron, berkaitan dengan produksi sel telur.

Awal Waktu Haidh dan Akhirnya


Tidak ada haidh sebelum wanita sempurna berusia sembilan tahun, karena tidak ada wanita
yang haidh sebelum berusia sembilan tahun. Telah diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha,
bahwa ia berkata, “Jika seorang anak gadis telah berusia sembilan tahun, maka dia adalah
wanita (dewasa).”(Disebutkan oleh Tirmidzi dan Baihaqi dengan tanpa isnad). Oleh karena itu,
apabila seorang wanita melihat darah sebelum usia tersebut, maka berarti darah itu adalah
darah penyakit.
Demikian pula tidak ada haidh setelah wanita berusia lima puluh tahun menurut pendapat yang
shahih. Telah diriwayatkan pula dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Jika seorang wanita
telah mencapai lima puluh tahun, maka ia telah keluar dari batasan haidh.” (al-Mughni, 1:406)
LAMA & SIFAT HAIDH
 Lama haidh pada umumnya enam atau tujuh hari sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam kepada Hamnah binti Jahsy, “Maka jadikanlah yang menjadi ukuran
haidhmu selama enam atau tujuh hari berdasarkan ilmu Allah, kemudian mandilah.”

 Ada yang mengatakan bahwa batas minimal jumlah hari haidh adalah sehari semalam (24
jam), kurang dari itu adalah darah istihadhah. Yang lain berpendapat, bahwa batas minimal
darah haidh adalah tiga hari. Sedangkan batas maksimalnya adalah lima belas hari,
selebihnya adalah darah istihadhah

 Polimenorea (siklus haidh yang pendek)


 Oligomenorea (siklus haidh yang panjang > 35 hari)
 Amenorea (tidak ada haidh)

 Sifat darah ini berwarna merah kehitaman yang kental, keluar dalam jangka waktu tertentu,
bersifat panas, dan memiliki bau yang khas atau tidak sedap.
Larangan bagi Wanita Haidh
Ada beberapa hal yang dilarang bagi wanita haidh dan nifas, yaitu:
1. Menjima’inya (lihat surat Al Baqarah: 222). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
‫ح‬ َ َ‫صنَعُواَ ُكل‬
ََ ‫ش ْيءٍ َإالَالنِّ َكا‬ ْ ‫ا‬
“Perbuatlah segala sesuatu selain nikah (jima’).” (HR. Muslim)
2. Mentalaknya, sampai ia suci dan sebelum digauli (dijima’i). (lihat surat Ath Thalaq: 1). Rasulullah SAW juga
bersabda kepada Umar ketika anaknya yaitu Abdullah mentalak istrinya ketika haidh, “Perintahkanlah
kepadanya untuk merujuk.” (HR. Bukhari dan Muslim)
3. Melakukan shalat. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW kepada Fathimah binti Abi Hubaisy, ia
berkata:
‫صلِّي‬ َ ‫َو‬ ْ ‫ََوإ َذاَأ َ ْد َب َر‬
َ ‫تَفَا ْغسليَ َع ْنكَالد َم‬ َ ‫ضةَُفَ َدعيَالص َالة‬ ْ ‫ت‬
َ ‫َال َح ْي‬ ْ َ‫فَإ َذاَأ َ ْق َبل‬
“Apabila haid datang, hendaklah kamu meninggalkan shalat. Apabila darah haid berhenti, hendaklah kamu
mandi dan mendirikan shalat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
4. Berpuasa. Rasulullah SAW bersabda, “Bukankah jika salah seorang di antara kamu haidh tidak berpuasa
dan tidak shalat?” Kami menjawab, “Ya.” (HR. Bukhari)
5. Thawaf. Rasulullah SAW pernah bersabda kepada Aisyah ketika ia haidh, “Lakukanlah apa yang dilakukan
orang yang berhaji kecuali thawaf di Ka’bah sehingga kamu suci.” (HR. Bukhari dan Muslim)
KONSEKWENSI HAIDH

01 Mengharuskan mandi setelah


selesai Haidh

02 Menjadi Baligh

03 Telah kosong rahimnya


TATA CARA MANDI BESAR
 Bacalah niat mandi wajib atau mandi junub terlebih dahulu.
 Bersihkan telapak tangan sebanyak 3 kali, kemudian lanjutkan dengan
membersihkan dubur dan alat kemaluan.
 Bersihkan kemaluan berikut kotoran yang menempel di sekitarnya dengan
tangan kiri.
 Setelah membersihkan kemaluan, cuci tangan dengan menggosok-
gosoknya dengan tanah atau sabun.
 Lakukan gerakan wudhu yang sempurna seperti ketika kita akan sholat,
dimulai dari membasuh tangan sampai membasuh kaki.
 Masukkan tangan ke dalam air, kemudian sela pangkal rambut dengan
jari-jari tangan sampai menyentuh kulit kepala. Jika sudah, guyur kepala
dengan air sebanyak 3 kali. Pastikan pangkal rambut juga terkena air.
 Bilas seluruh tubuh dengan mengguyurkan air. Dimulai dari sisi yang
kanan, lalu lanjutkan dengan sisi tubuh kiri dan bilas kaki
SEPUTAR HAIDH
 Jika datang haidh ketika sudah masuk waktu shalat –minimal mendapatkan seukuran satu rak’at–
sedangkan ia belum melakukan shalat maka ia mengqadha’ shalat yang baru tiba waktunya itu
setelah haidhnya selesai.
 Mayoritas ulama berpendapat bahwa bila wanita telah berhenti haidh maka belum halal dijima’i
sampai ia mandi atau tayammum jika memenuhi syarat tayammum.
 Jika seorang wanita memiliki kebiasaan lama haidhnya, lalu ternyata suci sebelum lengkap bilangan
hari itu, maka ia telah suci; apabila darah telah berhenti keluar dan dilihatnya sudah suci walaupun
hari kebiasaan haidhnya belum habis. Wanita yang melihat hari ini darah, besoknya bersih, jika di
masa-masa haidh maka terhitung masih haidh sampai 15 hari, selebihnya darah istihadhah.
 Warna kuning atau keruh (coklat) jika keluarnya bergandengan dengan haid sebelum sucinya
maka dianggap haidh, namun jika keluar setelah suci maka bukan haidh, kecuali di akhir masa suci
dan sudah didahului oleh tanda-tanda haidh seperti rasa sakit dan sebagainya maka itu adalah
haidh.
 Untuk mengetahui akhir masa haidh dengan dua cara:
a) Dengan keluarnya cairan lengket/lendir putih seperti benang.
b) Dengan keringnya darah dan bersihnya farjinya dari darah haidh, misalnya denganmemasukkan
kapas ke dalam farji, lalu mengeluarkannya, jika ternyata kering dan bersih maka sudah selesai.
SEPUTAR HAIDH
 Jika wanita yang nifas itu telah berhenti darah nifasnya sebelum empat puluh hari dan ia mandi,
shalat dan berpuasa, kemudian darah keluar lagi sebelum lewat empat puluh hari, maka darah
ini dianggap darah nifas. Oleh karena itu, ia harus berdiam; tidak shalat dan puasa. Dan puasa
yang dilakukannya di masa berhenti darah itu (antara berhenti dan keluar lagi darah itu) maka
sah, tidak perlu diqadha’.
 Apabila umur janin yang keguguran 80 hari atau kurang, maka darah yang keluar adalah darah
istihadhah, apabila setelah 90 hari, maka darah itu adalah darah nifas. Tetapi apabila masanya
antara 80 dan 90 hari, maka hukumnya tergantung kepada bentuk fisik janin, jika lebih
menyerupai bayi manusia, maka darah itu darah nifas, namun apabila belum berbentuk
manusia, maka darah itu istihadhah (Dari Tafsir Al ’Usyril Akhir wa ahkaam tahumul muslim).
Yang wajib bagi wanita yang kena darah istihadhah adalah wudhu’ untuk masing-masing shalat
dan mandi itu lebih utama.
 Cairan yang keluar dari farji wanita pada masa suci. Jika cairan itu bening atau putih berbentuk
lendir (keputihan), maka cairan itu suci, namun membatalkan wudhu’. Tetapi, jika terus menerus
keluar, maka tidak membatalkan wudhu’. Ia harus berwudhu’ untuk setiap shalat setelah tiba
waktunya seperti halnya orang yang beser, ia kerjakan shalat fardhu itu dan shalat sunat dalam
waktunya itu.
BERHENTINYA HAIDH

Indikator selesainya masa haid adalah dengan adanya gumpalan atau


lendir putih (seperti keputihan) yang keluar dari jalan rahim. Namun, bila
tidak menjumpai adanya lendir putih ini, maka bisa dengan mengeceknya
menggunakan kapas putih yang dimasukkan ke dalam vagina. Jika kapas
itu tidak terdapat bercak sedikit pun, dan benar-benar bersih, maka wajib
mandi dan shalat.
Sebagaimana disebutkan bahwa dahulu para wanita mendatangi Aisyah
radhiyallahu ‘anha dengan menunjukkan kapas yang terdapat cairan
kuning, dan kemudian Aisyah mengatakan :
َ ‫الَ تَ ْع َج ْلنََ َحتى تَ َريْنََ القَص َةَ البَ ْي‬
‫ضا ََء‬ َ
“Janganlah kalian terburu-buru sampai kalian melihat gumpalan putih.”
(Atsar ini terdapat dalam Shahih Bukhari).
DEFINISI
Nifas adalah darah yang keluar dari rahim wanita

NIFAS
setelah seorang wanita melahirkan. Darah ini tentu saja
paling mudah untuk dikenali, karena penyebabnya
sudah pasti, yaitu karena adanya proses persalinan.
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan
bahwa darah nifas itu adalah darah yang keluar
karena persalinan, baik itu bersamaan dengan proses
persalinan ataupun sebelum dan sesudah persalinan
LARANGAN tersebut yang umumnya disertai rasa sakit. Pendapat
Wanita yang nifas juga tidak boleh ini senada dengan pendapat Imam Ibnu Taimiyah yang
melakukan hal-hal yang dilakukan oleh mengemukakan bahwa darah yang keluar dengan
rasa sakit dan disertai oleh proses persalinan
wanita haid, yaitu tidak boleh shalat, puasa,
thawaf, menyentuh mushaf, dan
BATASAN
berhubungan intim dengan suaminya pada
Tidak ada batas minimal masa nifas, jika kurang dari
kemaluannya. Namun ia juga diperbolehkan
40 hari darah tersebut berhenti maka seorang wanita
membaca Al-Qur’an dengan tanpa wajib mandi dan bersuci, kemudian shalat dan
menyentuh mushaf langsung (boleh dengan dihalalkan atasnya apa-apa yang dihalalkan bagi
pembatas atau dengan menggunakan media wanita yang suci. Adapun batasan maksimalnya, para
elektronik seperti komputer, ponsel, ipad, dll), ulama berbeda pendapat tentangnya.
berdzikir, dan boleh melayani atau Ulama Syafi’iyyah mayoritas berpendapat bahwa
bermesraan dengan suaminya kecuali pada umumnya masa nifas adalah 40 hari sesuai dengan
kemaluannya. kebiasaan wanita pada umumnya, namun batas
maksimalnya adalah 60 hari.
WILADAH
Wiladah ialah darah yang keluar dari rahim perempuan sebelum
melahirkan anak, manakala darah nifas ialah darah yang keluar
dari rahim perempuan selepas melahirkan anak, wiladah ialah
darah yang keluar mengiringi bayi dari kandungan ibunya.
Istihadhah adalah darah yang keluar di luar kebiasaan, yaitu tidak pada masa haid dan
bukan pula karena melahirkan, dan umumnya darah ini keluar ketika sakit, sehingga sering
disebut sebagai darah penyakit. Imam Nawawi rahimahullah dalam Syarah Muslim
mengatakan bahwa istihadhah adalah darah yang mengalir dari kemaluan wanita yang
bukan pada waktunya dan keluarnya dari urat.

Sifat darah istihadhah ini umumnya berwarna merah segar seperti darah pada umumnya,
encer, dan tidak berbau. Darah ini tidak diketahui batasannya, dan ia hanya akan berhenti
setelah keadaan normal atau darahnya mengering.

Wanita yang mengalami istihadhah ini dihukumi sama seperti wanita suci, sehingga ia tetap
harus shalat, puasa, dan boleh berhubungan intim dengan suami.

ISTIHADHAH
DALIL ISTIHADHAH
Imam Bukhari dan Imam Muslim telah
meriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha :
َُ ‫س ْو‬
‫ل‬ َْ َ‫سل ََم َوقَل‬
ُ ‫ت يا َ َر‬ َ ‫علَيْهَ َو‬َ ُ‫للا‬
َ ‫صلى‬ ََ َ‫ْش الَى النبي‬ َ ٍ ‫ت فاَط َم َةُ ب ْنتَُ اَبى ُحبَي‬ ََ ‫َجا َء‬
َ ‫صلَى‬
ُ‫للا‬ َ َ‫ل للا‬ ُ ‫ل يا َ َر‬
َُ ‫س ْو‬ ََ ‫ع الصالَةَ؟ فَقَا‬ ْ َ‫الَ ا‬
َُ ‫ اَفَا َ َد‬،‫ط ُه ُر‬ َُ ‫للاَ انِّى ا ْم َراَةَ ا ُ ْستَ َح‬
َ َ‫اض ف‬
‫ض َةُ فَاتْ ُركى‬ َ ‫ضةَ فَا َذااَ ْقبَلَتَ ْال َح ْي‬َ ‫ْس ب َْال َح ْي‬ََ ‫ك ع ْرقَ َولَي‬ ََ ‫ ان َما َذل‬،َ‫ ال‬:‫سل ََم‬ َ ‫علَيْهَ َو‬
َ
‫صلِّى‬َ ‫ع ْنكَ الد ََم َو‬ َ ‫َب قَ ْد ُرهَا فا َ ْغسلى‬ ََ ‫ فَا َذا َذه‬،َ‫الصالَة‬
Fatimah binti Abi Hubaisy telah datang kepada Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata: “Ya
Rasulullah, sesungguhnya aku adalah seorang wania
yang mengalami istihadhah, sehingga aku tidak bisa
suci. Haruskah aku meninggalkan shalat?” Maka jawab
Rasulullah SAW: “Tidak, sesungguhnya itu (berasal dari)
sebuah otot, dan bukan haid. Jadi, apabila haid itu
datang, maka tinggalkanlah shalat. Lalu apabila
ukuran waktunya telah habis, maka cucilah
darah dari tubuhmu lalu shalatlah.”
ISTIHADHAH
Istihadhah maksudnya mengalirnya darah secara deras pada bukan waktunya dari urat yang
disebut ‘Adzil, wanitanya disebut mustahadhah

Darah istihadhah berbeda dengan darah haidh dalam hukum dan sifatnya. Wanita yang
terkena darah istihadhah ini wajib shalat, puasa dan boleh dijima’i, karena ia tergolong wanita
suci. Dalilnya adalah hadits Fathimah binti Abi Hubaisy ia berkata, “Wahai Rasulullah,
sesungguhnya saya terkena darah istihadhah sehingga aku tidak suci, maka apakah aku boleh
meninggalkan shalat? Beliau menjawab, “Tidak boleh, itu adalah darah urat dan bukan
haidh…dst.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Untuk istihadhah cukup dengan mencuci farjinya dan menaruh kapas atau semisalnya (seperti
pembalut) di farjinya agar darah tidak mengalir, lalu ia berwudhu’ ketika masuk waktu shalat.

Darah Istihadhah terbagi 4 yaitu :


 Darah yang keluar kurang dari haid masa minimum haid yaitu sehari semalam.
 Darah yang keluar melebihi haid masa maksimum haid yaitu 15 hari.
 Keluar darah sebelum umur minimum haid yaitu sebelum berumur 9 tahun (darah fasad).
 Darah yang keluar lebih dari waktu maksimum nifas yaitu 60 hari.
PERBEDAAN HAIDH & ISTIHADHAH

 Warna : Darah haid itu hitam, sedangkan darah istihadhah merah.

 Kekentalan : Darah haid kental sedangkan darah istihadhah encer.

 Bau : Darah haid berbau busuk, sedangkan darah istihadhah


tidak berbau busuk, sebab dia darah biasa.

 Beku : Darah haid tidak membeku jika keluar, sedangkan


istihadhah membeku karena dia darah biasa.
THANK YOU
Any question?on