Anda di halaman 1dari 45

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIZAR, MATARAM

SEMESTER VI, TA. 2015/2016


MODUL TROPICAL MEDICINE
KULIAH : A. EPIDEMIOLOGI PENYAKIT TROPIS
B .EPIDEMIOLOGI DAN PEMBERANTASAN
MALARIA
DOSEN : dr. INDRADJID, MS
WAKTU : MEI 2016
DEFINISI

• Penyakit tropis merupakan penyakit yang


menjangkit pada area tropis
• Penyakit ini meliputi penyakit menular
maupun tidak menular
• Penyakit infeksi dan non infeksi
• Indonesia: tropis, multi ethnik, genetik,
sosial budaya
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

Lingkungan

Host Agen

Interaksi host, agen dan lingkungan


LINGKUNGAN
Lingkungan merupakan faktor penting yang
mempengaruhi keseimbangan antara host
dan agen

Lingkungan terdiri dari faktor fisik dan non fisik.


Lingkungan fisik meliputi:
• Keadaan geografis
• Kelembaban udara
• Temperatur
• Lingkungan tempat tinggal
Lingkungan non fisik, meliputi:
• Sosial (pendidikan, pekerjaan)
• Budaya (adat kebiasaan turun menurun)
• Ekonomi(kebijakan mikro dan kebijakan lokal)
• Politik (suksesi kepemimpinan yang
mempengaruhi kebijakan pencegahan dan
penanggulangan suatu penyakit)
AGEN
Faktor agen penyebab penyakit:
• bahan kimia, mekanik, stress (Psikologis),
dan biologis (infeksi bakteri, virus, parasit,
atau jamur)

Salah satu sifat agen penyakit adalah virulensi


Virulensi merupakan kemampuan atau
keganasan suatu agen penyebab penyakit
untuk menimbulkan kerusakan pada sasaran
HOST
Hal yang perlu diperhatikan tentang host
meliputi:
• Karakteristik (umur, jenis kelamin,
pekerjaan, keturunan, ras, gaya hidup)
• gizi atau daya tahan
• pertahanan tubuh
• kesehatan pribadi
• gejala dan tanda penyakit
• pengobatan
MEKANISME PENULARAN

1. Kontak Langsung (hubungan seks, kulit,


varisela)
2. Udara (percikan ludah, dahak atau
bersin)
3. Makanan dan Minuman
4. Vektor (nyamuk, pinjal, anjing, kucing,
kera)
PENCEGAHAN & PENANGGULANGAN

Tindakan terpenting: memutus rantai


penularan (menghentikan kontak agen
penyebab penyakit dengan host)
Menitikberatkan penanggulangan faktor
resiko penyakit (lingkungan dan perilaku)
JENIS PENYAKIT TROPIS

• Penyakit Infeksi oleh Bakteri


(TBC, difteria, pertusis, tetanus neonatorum,
demam tifoid, kusta, pes, antraks, leptospirosis)

• Penyakit Infeksi oleh Virus


(DBD, chikungunya, campak, hepatitis, rabies,
HIV-AIDS, varisela, flu burung, SARS, polio)

• Penyakit Infeksi oleh Parasit


(malaria, cacing, filariasis)
INFEKSI BAKTERI

A. TBC
(Tuberculosis)

Penyebab:
Mycobacterium
tuberculosis & M.
bovis
Ditularkan lewat udara
saat pasien batuk
atau percikan
ludah.
B.Difteri

adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan


oleh corynebacterium diphteriae yang
berasal dari membrane mukosa hidung dan
nasofaring, kulit dan lesi lain dari orang yang
terinfeksi

Pencegahan:
• Bayi = imunisasi DPT (difteria, pertusis dan
tetanus)
• Anak usia SD = vaksin DT (difteria, tetanus)
• Corynebacterium diphteriae
• Kontak dengan orang atau barang yang terkontaminasi.

• Masuk lewat saluran pencernaan atau saluran pernafasan.

• Aliran sistemik

• Masa inkubasi 2 – 5 hari.

• Mengeluarkan toksin (eksotoksin)

Nasal Tonsil/faringeal Laring

Peradangan mukosa Tenggorokan sakit demam Demam suara serak,


hidung (flu, secret anorexia, lemah. Membrane batuk obstruksi sal.
Hidung serosa). Berwarna putih atau abu-abu napas, sesak nafas,
Linfadenitis (bull’s neck) sianosis.
Toxemia, syok septic.

Doc. Arifin Dwi Atmaja, S. Kep. 13


C.Pertusis

merupakan penyakit infeksi saluran nafas


akut = batuk rejan (anak)
Penyebab: Bordetella pertussis (haemophilus
pertussis)
Penularan melalui droplet
Pencegahan : imunisasi
PENDAHULUAN (sebaran, klinis, pengobatan)
1)Penyakit malaria telah diketahui sejak zaman Yunani kuno
(mal-area = bad-air)
2)Gejala yang khas dan mudah dikenali, demam yang naik
turun secara siklis dan teratur, sehingga dikenal terminologi
febris tertiana dan febris kuartana.
3)Abad ke-19 (1880), Laveran melihat bentuk “pisang” dalam
preparat darah penderita malaria (gametosit matang P.
falsiparum).
4)Di Indonesia, 1,8 juta kasus malaria th.2006, meningkat 2,5
juta kasus malaria th.2007.
5)Resistensi obat anti malaria terutama terhadap P. falsiparum
yang menjadi penyebab malaria berat.
6)Masalah khasus bagi anak dan ibu hamil.
EPIDEMIOLOGI MALARIA
• Mempelajari faktor-faktor yang menentukan distribusi malaria pada
masyarakat serta upaya-upaya penanggulangannya.
A. FAKTOR PARASIT.
• Parasit malaria adalah protozoa darah, Phyllum Apicomplexa, kelas
Sporozoa, Sub kelas Coccidiidae, ordo Eucoccidides, famili Plasmodiidae,
genus Plasmodium.
• Genus Plasmodium dibagi menjadi 3 (tiga) sub genus :
(1) Plasmodium : P. Vivax, P. Ovale, P. Malariae
(2) Laverania : P. Falsiparum(spesies yang menginfeksi manusia)
(3) Vinekeia : spesies yang tidak menginfeksi manusia tetapi menginfeksi
kelelawar, binatang mengerat, dll.
• Ciri utama famili Plasmidiidae mempunyai 2 (dua) siklus hidup : asexual dan
seksual
• Siklus seksual (sporogoni) berlangsung pada nyamuk anopheles (betina)
• Siklus aseksual (schizogony) berlangsung pada manusia dengan 2 (dua)
fase :
(1) Fase eritrosit (Erythrocytic schizogony)
(2) Fase di parenkim sel hepar exoerythrocytic schizogony.
• Sifat-sifat spesifik parasit setiap spesies plasmodium berbeda-beda dalam
gambar klinis dan penularannya.
• P. Falsiparum mempunyai masa infeksi paling pendek, parasitemia paling
tinggi, masa inkubasi paling pendek, gejala klinik paling berat.
• P. Vivax dan P. Ovale menimbulkan parasitemia yang rendah, gejala lebih
ringan, inkubasi panjang, tetapi sering terjadi relaps.
• Setiap spesies malaria masih mempunyai berbagai “strain” yang akan
mempengaruhi lamanya masa inkubasi, pola relaps berbeda dan
resistensi terhadap obat antimalaria (strain geografik parasit).

B. FAKTOR MANUSIA
• Secara umum setiap orang dapat terinfeksi malaria, tetapi terdapat
perbedaan prevalensi menurut umur dan jenis kelamin yang berkaitan
dengan perbedaan derajat kekebala.
• Beberapa penelitian menyatakan bahwa perempuan mempunyai respons
imun lebih kuat dibanding pria, namun kehamilan menambah resiko
malaria, termasuk dampak terhadap bayi dalam kandungan.
• Faktor genetik ada yang bersifat protektif
(1)Golongan darah Duffy negatif → kulit hitam
(2)Hb-s penyebab sickle cell anemia
(3)Thalasemia (alfa dan beta) dan mungkin di IRIAN JAYA
(4)Hb F dan Hb E
(5)Defisiensi G-6 PD
(6) Ovalositosis (di Papua New Guinea)
• Status gizi tidak menambah kerentanan terhadap malaria, tetapi yang
bergizi baik dapat mengatasi lebih cepat.

C. FAKTOR NYAMUK ANOPHELES


• Terdapat kurang lebih 400 spesies anopheles di dunia, hanya sekitar 67
yang terbukti mengandung Sporozoit dan dapat menularkan malarai.
• Di Indonesia, ditemukan 24 spesies anopheles yang menjadi vektor
malaria a.l A. Sundaicus, A. barbirostris, A. sub pictus, A. maculatus.
• Terutama hidup didaerah tropis dan subtropis sebagian besar didataran
rendah.
• Efektifitas vektor untuk menularkan malaria ditentukan oleh :
• (1) Kepadatan vektor dekat pemukinan
• (2) Antropofilia : suka hisap darah manusia
• (3) Frekuensi menghisap darah
• (4) Lamanya masa sporogoni
• (5) Lamanya hidup nyamuk (nyamuk anopheles betina menggit/
menghisap darah antara waktu senja dan subuh dengan jumlah berbeda
menurut spesiesnya.
• Jarak terbang anopheles hanya 2-3 Km, tetapi dapat terbawa oleh angin
kencang sampai 30 Km atau terbawa pesawat terbang/ kapal laut
menyebarkan malaria ke daerah lainnya.
• Kebiasaan tinggal atau menggigit anopheles dapat dikelompokan :
• (1) Antropofilia : suka menggigit manusia
• (2) Zoofilia : suka menggigit binatang
• (3) Endofagi : menggigit dalam rumah
• (4) Eksofagi : menggigit diluar rumah
• (5) Endofili : suka tinggal dalam rumah
• (6) Eksofili : suka tinggal diluar rumah
D. FAKTOR LINGKUNGAN
(1)LINGKUNGAN FISIK
• Faktor geografi dan iklim di Indonesia menjadi faktor penting transmisi
malaria
(a)SUHU
= Mempengaruhi perkembangan parasit dalam tubuh nyamuk, optimal 20º-
30ºC.
= Peningkatan suhu memperpendek masa inkubasi ekstrinsik (sporogoni) dan
sebaliknya.
= Pada suhu 26,7ºC, masa inkubasi ekstrinsik:
• P. Falciparum : 10-12 hari
• P. Vivak : 8-11 hari
• P. Malaria : 14-15 hari
• P. Ovale : 14-15 hari
b) KELEMBABAN :
= Tingkat kelembaban 60% merupakan batas paling rendah untuk
memungkinkan hidupnya nyamuk, meskipun tidak berpengaruh pada
parasitnya (plasmodium)
= Kelembaban yang lebih tinggi, nyamuk lebih aktif dan lebih sering
menggigit meningkatkan penularan malaria.
= Kelembaban yang lebih rendah akan memperpendek umur nyamuk
(c) MUSIM HUJAN
= Pada musim hujan memudahkan perkembangan nyamuk epidemi
malaria
= Tergantung juga pada jenis vektor, derasnya hujan dan jenis tempat
perindukan.
= Hujan yang diselingi panas akan memperbesar berkembang-biaknya
nyamuk anopheles.
(d) KETINGGIAN.
= Makin tinggi malaria makin berkurang, berkaitan dengan menurunnya
suhu
= Ketinggian diatas 2000 m jarang terjadi transmisi malaria, tetapi adanya
pemanasan bumi, pengaruh EL-NINO akan mempengaruhi transmisi
malaria.
(e) ANGIN mempengaruhi jarak terbang nyamuk
(f) SINAR MATAHARI
= Pengaruh sinar matahari terhadap larva nyamuk berbeda pada tiap
spesies.
= A. barbirostris dapat hidup baik ditempat teduh maupun terang.
= A. sundaicus berkembang ditempat teduh
= A. hyrcamus dan A. punctulatus berkembang ditempat terbuka/ terang.
(g) KADAR GARAM
= A. sundaicus berkembang optimal pada air payau (kadar garam 12-18%)
dan tidak berkembang pada air dengan kadar garam lebih 40%.
(h) ARUS AIR
= Mengalir lambat : A. barbirostris
= Mengalir deras : A. minimus
= Air tergenang : A. letifer

(2) LINGKUNGAN BIOLOGIK – SOSIAL


= Tumbuhan bakau, lumut, ganggang menghalangi sinar matahari
pengaruh terhadap kehidupan larva
= Ikan pemakan larva : nila, gambusia, mujair, panchax spp (ikan kepala
timah)
= Ternak sapi, kerbau, dll mengurangi jumlah gigitan pada manusia
= Pariwisata, man-made-env/ malaria.
E. SIKLUS KEHIDUPAN BEBERAPA
JENIS NYAMUK

Phylum Arthropoda Kelas Hexapoda


Family Culicidae Ordo Diptera
Genera (Culex, Anopheles, Aedes)
Species : Dunia = 2500, Indonesia = 90.
a. Culex :
• C. mansonia - filariasis
• C. pipiens - encephalitis
• C. tarsalis - encephalitis
b. Aedes : A. Aegypti
• A. aegypti - DHF
• A. albopictus - DHF
• A. sollictans
• A. vecans
• A. dorsalis - encephalitis pada kuda
• A. triseriatus
• A. canadensis
c. Anopheles :

• A. aconitus
• A. punctulatus
• A. taranti malaria di Indonesia
• A. barbirotus
• A. balabacensis
• A. freeborni
• A. quadrimagulatus malaria di Afrika, Asia
dan
• A. albimanus Amerika Latin
Siklus Hidup Nyamuk :
• 4 Stadium metamorfosa : - telur, tempayak, pupa,
dewasa.
• Nyamuk betina sekaligus bertelur : 50-200, bentuk telur
ada bentuk rakit, solitaire, bersayap-mengapung.
• Stadium telur 2-3 hari, menetas jadi tempayak/larva
• Stadium Tempayak, 4-10 hari, jadi pupa/kepompong.
• Stadium Pupa, 2 hari, jadi nyamuk dewasa.
• Stadium Nyamuk dewasa ditandai dengan
berkembangnya sayap secara sempurna kemudian
terbang ke alam terbuka. Nyamuk Anopheles betina
sungutnya lebih panjang dan posisi tubuhnya
membentuk sudut miring dengan permukaan
(secara detil – entomologi)
F. SISTEM PENGAWASAN DAN PEMBERANTASAN
NYAMUK

• TUJUAN :
memutuskan rantai penularan suatu penyakit yang ditimbulkan
oleh vektor.
• Hal-hal yang perlu ditelusuri :
1. Siklus kehidupan nyamuk
2. Lingkungan hidup nyamuk
3. Tingkah laku nyamuk
4. Cara penyebaran nyamuk
5. Cara berpindahnya bibit penyakit.
Untuk Nyamuk :
1. Pengawasan secara fisik atau mekanis.
2. Pengawasan secara kimia dengan insektisida,
Penyemprotan insektisida pada dinding rumah atau tempat
hinggap atau tempat istirahat nyamuk jenis insektisida
yang dipakai.
a. Golongan Chlorinated (HC) DDT, Dielarin, BHC,
dll
b. Golongan Organofosfat : Malation, Temefos, dll
c. Golongan Karbamat : Karbaril, Protoxur, dll
d. Golongan Pyrethrum (Jenis bunga) atau yang dibuat
sintetis.
3. Pengawasan secara biologis
a. Musuh-musuh alami nyamuk dewasa.
b. Musuh-musuh alami larva nyamuk.
c. Cara Genetik yaitu : dengan melepaskan
nyamuk-nyamuk jantan yang sudah “disteril”
sehingga nyamuk betina yang kawin hanya
sekali selama hidupnya tidak akan mampu
menghasilkan telur sampai saat ini
belum terbukti efektif hasilnya, padahal
biaya sangat mahal.
G. PENILAIAN SITUASI MALARIA
• Melalui surveilans – epidemiologi :
• Pengamatan terus menerus atas distribusi dan kecenderungan suatu
penyakit, melalui pengumpulan data yang sistematik, pengolahan data dan
menentukan penanggulangan yang se-tepat-tepatnya.
• Cara pengamatan untuk malaria
• (1) PCD = passive case detection
• Di fasilitas kesehatan : Pustu, Pusk, RS
• (2) ACD = active case detection
• Oleh petugas khusus malaria secara terjadwal
• (3) Survai khusus :
(a) MS (malariomatric survey)
(b) MBS (mass blood survey)
(c) MFS (mass fever survey).
• Parameter pengamatan rutin Malaria
(1) ANNUAL PARASITE INCIDENCE (API)
Kasus malaria yang dikonfirmasi 1 tahun
API  X 1000
Jumlah penduduk daerah tersebut

• Kasus malaria pada ACD dan PCD serta dikonfirmasi dengan pemeriksaan
mikroskopis.
(2) ANNUAL BLOOD EXAMINATION RATE (ABER)
Jumlah sediaan daerah diperiksa
 x 100
Jumlah penduduk yang diamati
• Merupakan ukuran efisiensi operasional untuk menilai API penurunan
API berarti penurunan insidens bila nilai ABER tinggi
(3) SLIDE POSITIVITY RATE (SPR)
• Adalah persentase sediaan darah positif dari sediaan darah yang
diperiksa
• SPR baru bermakna bila nilai ABER tinggi
(4) PARASITE FORMULA (PF)
• Proporsi dari tiap spesies parasit disuatu daerah spesies dengan PF
tertinggi disebut spesies dominan.
• Interpretasi dari masing-masing dominasi :
(a) P. falciparum dominan
• -penularan baru saja terjadi/ belum lama
• -pengobatan kurang sempurna
(b) P. vivax dominan
-transmisi dini yang tinggi dengan vektor poten (gametosit P. vivax timbul
pada hari 2-3 parasitemia, sedangkan P. falciparum pada hari-8).
-pengobatan radikal kurang sempurna sehingga timbul rekurens.
(c) P. malariae dominan.
• -vektornya berumur panjang karena siklus sporogoni-nya paling panjang.
(5) Unit-unit kesehatan yang belum mempunyai fasilitas laboratorium dapat
juga melakukan pengamatan penderita klinis malaria dinyatakan
dalam proporsi penderita malaria di unit kesehatan tersebut. Proporsi
yang amat meningkat sebagai petunjuk adanya KLB.
(6) MALARIOMETRIK SURVEY (MS)
• Dilakukan didaerah yang belum punya program penanggulangan malaria
yang teratur terutama diluar daerah Jawa-Bali, dengan parameter :
(a) Parasite Rate (PR)
 Persentase penduduk yang darahnya mengandung parasit malaria pada
periode waktu tertentu
 Kelompok umur yang dicakup biasanya 0-1 tahun dan 2-9 tahun.
 PR kelompok umur 0-1 mempunyai arti khusus, disebut INFANT
PARASIT RATE (IPR), sebagai indeks transmisi karena menunjukan
adanya transmisi lokal.
(b) SPLEEN RATE (SR)
 Persentase penduduk yang limpa-nya membesar, biasanya pada
kelompok 2-9 tahun.
 Bila yang diperiksa kelompok dewasa, hal ini harus dinyatakan khusus.
 Klasifikasi HACKET, derajat pembesaran limpa :
• H0 : tidak teraba limpa pada inspirasi maksimal
• H1 : teraba pada inspirasi maksimal
• H2 : teraba sampai garis hirozontal yang melalui pertengahan arcus
costae dan umbilicus pada garis memilaris kiri
• H3 : teraba setinggi garis horizontal melalui Umbilicus
• H4 : teraba setinggi garis horizontal melalui pertengahan Umbilicus dan
Symphisis pubis
• H5 : teraba dibawah garis H4.
(c) AVERAGE ENLARGED SPLEEN (AES)
 Indeks rata-rata pembesaran limpa
 Dihitung dengan mengalikan jumlah limpa yang membesar pada tiap
ukuran limpa (Hacket) dengan pembesaran limpa pada suatu kelompok
umur.
 Untuk mengukur keberhasilan suatu program pemberantasan. AES
seharusnya menurun lebih cepat dibanding SR, bila endemisitas
menurun.
(7) UKURAN ENDEMISITAS
 Berdasarkan SR pada kelompok 2-9 tahun :
(a) HIPOENDEMIK : SR 10%
(b) MESOENDEMIK : SR 11-50%
(c) HIPERENDOMIK : SR 50%
(d) HOLOENDEMIK : SR 75% (dewasa : 25%)
 Didaerah holoendemik, SR pada orang dewasa rendah karena imunitas
meningkat yang disebabkan transmisi tinggi sepanjang tahun
 KLB malaria : -peningkatan jumlah penderita dan kematian karena
malaria yang secara statistik barmakna (ada pembanding).
 Malariogenic potential kemungkinan masuknya penderita malaria ke
daerah dimana sudah ada vektor malarianya, yang dipengaruhi 2(dua)
faktor :
(a) Receptivity :
- adanya vektor malaria dalam jumlah besar dan ditunjang oleh faktor
ekologis yang memudahkan penularan
(b) Vulnerability :
- menunjukan suatu daerah malaria atau kemungkinan masuknya orang
atau kelompok penderita malaria dan atau vektor yang telah terinfeksi.
(8) ASAL-USUL TRANSMISI MALARIA
(a) Indigenous : transmisi terjadi setempat/ lokal
(b) Imported : transmisi dari luar daerah
(c) Introduced : kasus kedua dari imported
(d) Induced : bila kasus berasal dari transfusi darah atau suntikan baik
sengaja maupun tidak sengaja.
(e) Relaps : kasus rekrudensi (kambuh dalam 8 minggu) atau rekurensi
(kambuh setelah lebih dari 24 minggu)
(f) Unclassified : asal usul sulit dilacak
(g) Stable : bila transmisi tetap tinggi tanpa fluktuasi selama bertahun-tahun
(h) Unstable : frekuensi transmisi cukup tinggi dari tahun ketahun lebih
mudah ditanggulangi dibanding yang stable.

PEMBERANTASAN MALARIA
A. SEJARAH DI INDONESIA
• Laporan pertama malaria oleh dokter-dokter militer Belanda awal abad
ke-19 (th 1852-1854), pengobatan dengan kina.
• Awal abad ke-20 :
- Malaria pada pekerja perkebunan Sumatra Utara
- Th. 1919-1927 pemberantasan malaria dengan perbaikan sanitasi
lingkungan dan pengobatan dengan kina.
- Th. 1951-1958, dimulai pemberantasan dengan insektisida DDP pada
rumah-rumah penduduk.
• Kebijakan WHO (1958) upaya pemberantasan ditingkatkan ke
pembasmian malaria, khususnya di Jawa-Bali dan Lampung (th 1959-
1968) dengan organisasi KOPEM, dibiayai USAID-WHO. Pembasmian
ini dihentikan th 1965 (karena situasi politik anti USAID) dengan hasil
SPR = 0,15% penduduk terlindungi dari malaria
• Setelah 1965 KOPEM direorganisasi dengan mengintegrasikan
kedalam kegiatan struktural unit pelayanan kesehatan pemerintah
pusat dan daerah serta strategi pemberantasanpasif
• WHO th.1992 melarang penggunaan DDT
B. PEMBASMIAN MALARIA 4 FASE
(1)Fase persiapan :
• Pengenalan wilayah, penyediaan tenaga, bahan, alat, sarana
transport.
(2) Fase penyerangan.
• Penyemprotan rumah dengan insektisida yang mempunyai efek
residual disertai PCD dan ACD (ACD mutlak dilakukan)
(3) Fase konsolidasi.
• Dimulai bila API < 1%
• Kegiatan utama PCD dan ACD
• Bila selama 3 tahun berturut-turut tidak ditemukan kasus malaria
“indigenous” fase ini dihentikan
(4) Fase maintenance/ pemeliharaan
• Mempertahankan hasil yang telah dicapai sebelumnya, sampai
dinyatakan bebas malaria oleh WHO kemudian kegiatan
diintegrasikan kedalam sistem pelayanan kesehatan primer.
C. PEMBERANTASAN MALARIA
(1) Tujuan : untuk menurunkan penularan penyakit dan kematian akibat
malaria, sehingga tidak menjadi masalah kesehatan masyarakat.
(2) Strategi global (Amsterdam, 1992)
(a) Menyediakan diagnosis dini dan pengobatan yang tepat
(b) Upaya preventif yang selektif dari berkesinambungan, termasuk
pengendalian vektor
(c) Menemukan secara dini, menanggulangi atau mencegah wabah malaria
kegiatan utama PCD dan ACD (tetapi tidak mutlak)
(d) Meningkatkan kemampuan lokal dibidang penelitian dasar dan terapa agar
dimungkinkan penilaian keadaan malaria secara tepat, khususnya faktor
sosial-ekonomi penyakit malaria.
(e) Kesempatan untuk mengurangi kematian malaria sampai setengahnya
dalam tahun 2010 dan setengahnya lagi dalam tahun 2015.
(3) Berbagai kegiatan yang dilaksanakan.
• (a) Menghindari kontak/gigitan nyamuk anopheles (kelambu, obat nyamuk,
repelen, dsb)
• (b) Membunuh nyamuk dewasa dengan insektisida
• (c) Kegiatan antilarva baik secara kimia (larvasida), maupun biologik (ikan
tumbuhan, dll)
• (d) Mengurangi tempat perindukan nyamuk (source reduction)
• (e) Mengobati penderita malaria
• (f) Pengobatan pencegahan bagi wisatawan
• (g) Penelitian untuk vaksinasi malaria (riset dan clinical trial)
(4) RESISTENSI TERHADAP OBAT ANTI MALARIA
(a) Th.1974 : ditemukan P. falciparum yang resisten terhadap klorokuin di
Kaltim
(b) Hingga th. 1996 ditemukan resistensi P. falciparum terhadap klorokuin
dengan derajat yang berbeda disemua propinsi.
(c) P. falciparum juga telah resistensi terhadap sulfadoksin-pirimetamin
(fansidar) di beberapa propinsi (sumatra, jawa, kelimantan, sulawesi
dan irian jaya)
(d) P.vivax yang resisten terhadap klorokuin ditemukan di irian jaya, pulau
nias, pulau flores, kepulauan maluku.
(e) P. falciparum yang resisten terhadap kina belum pernah ditemukan
secara in-vivo.
(5) IMUNITAS TERHADAP MALARIA
• Hasil penalitian sampai saat ini belum jelas
• Secara umum disimpulkan bahwa imunitas terhadap malaria sangat
kompleks, melibatkan berbagai komponen sistem imun humoral,
seluler, spesifik dan non spesifik.
• Imunitas spesifik timbulnya lambat, bersifat jangka pendek dan tidak
ada imunitas yang permanen.
• Keempat jenis Plasmodium dapat memberikan berbagai derajat
kekebalan heterolog atau kekebalan silang, tetapi bersifat parsial.
• Penelitian pengembangan vaksin lebih banyak diarahkan ke P.
falciparum karena lebih sering menyebabkan kematian.
REFERENSI :

Harijanto, PN, etal (2000) : MALARIA, Epidemiologi, Patogenesis, Klinis,


Penanganan. Penerbit EGC, Jakarta

Mansjoer, A etal (2001) : Kapita Selekta Kedokteran, Edisi III. Penerbit Media
Aesculapius FKUI, Jakarta

Manson, B etal (1996) : Manson’s Tropical Disease, 20th Ed. ELBS-LONDON

Widoyo (2005) : Penyakit Tropis, Epidemiologi dan Pemberantasan. Penerbit


Erlangga, Surabaya

Wajdi, MF (2010) : Penatalaksanaan Malaria dalam Seminar Infectious Disease


Update. P2KB RSUP NTB dan IDI Wil. NTB di Mataram (15 Mei 2010)