Anda di halaman 1dari 29

GOLONGAN OBAT

ANTIPIRETIK
Nurliyasman, MPH, Apt
Golongan Obat Antipiretik

1. golongan antipiretik
2. efek samping antipiretik
3. dampak penggunaan antipiretik pada
kehamilan
4. studi kasus penggunaan antipiretik
pada anak dan ibu hamil
Definisi

Antipiretik
adalah obat yang berkhasiat menurunkan suhu
tubuh, dari suhu yang tinggi mejadi kembali
normal.

Obat-obat antipiretik juga menekan gejala-gejala


yang biasanya menyertai demam seperti :
- mialgia
- kedinginan
- nyeri kepala dan lain-lain
1. Golongan antipiretik
Obat-obat yang memiliki efek antipiretik adalah :

 AINS (antiinflamasi non steroid) seperti ibuprofen, naproxen


sodium, dan ketoprofen.
 Aspirin dan golongan salisilat lainnya.
 Parasetamol (Asetaminofen).
 Metamizole.
 Nabumetone.
 Nimesulide.
 Phenazone.
 Quinine.
Mekanisme kerja
Antipiretik menyebabkan hipotalamus untuk
mengesampingkan peningkatan interleukin yang kerjanya
menginduksi suhu tubuh.
Tubuh kemudian akan bekerja untuk menurunkan suhu tubuh
dan hasilnya adalah pengurangan demam.
Obat-obat antipiretik tidak menghambat pembentukan panas.
Hilangnya panas terjadi dengan meningkatnya aliran darah
ke perifer dan pembentukan keringat. Efeknya ini
bersifat sentral, tetapi tidak langsung
pada neuron hipotalamus.
Cara menurunkan demam tinggi diduga dengan menghambat
pembentukan prostaglandin E1
Mekanisme Kerja
Suhu badan diatur oleh keseimbangan antara produksi dan hilangnya
panas.

Alat pengatur suhu tubuh berada di hipotalamus ada bukti bahwa


peningkatan suhu tubuh pada keadaan patologik diawali penglepasan
suatu zat pirogen, endogen atau sitokin yang memacu penglepasan
PG yang berlebihan di daerah preoptik hipotalamus.

Demam yang timbul akibat pemberian PG tidak dipengaruhi demikian


pula peningkatan suhu oleh sebab lain misalnya latihan fisik.

Pada keadaan demam keseimbangan terganggu tetapi dapat di


kembalikan ke normal oleh obat mirip aspirin atau obat antipiretik.
1.Paracetamol
a. Pada dosis tinggi dapat memperkuat efek
antikoagulansia (darahnya encer), dan pada
dosis biasa tidak interaktif.
b. Paracetamol dapat menyebabkan masa
paruh kloramfenikol menjadi sangat panjang.
c. Kombinasi dengan obat AIDS zidovudin
meningkatkan akan resiko
neutropenia (kesemutan).
2.Asetosal
a. Asetosal memperkuat daya kerja antikoagulan,
antideabetik oral, dan metotreksat.
b. Asetosal menyebabkan efek obat encok
probenesid dan sulfinpirazon berkurang,
begitupula diuretik furosemid dan spironolakton.
c. Sedangkan kerja analgetik asetosal diperkuat
oleh kodein dan d-propoksifen.
d. Alkohol menyebabkan peningkatan resiko
perdarahan lambung-usus, karena efek
Indikasi
 Obat antipiretik diindikasikan untuk segala
penyakit yang menghasilkan gejala demam.
 Sejumlah pedoman menyatakan bahwa obat
antipiretik sebaiknya diberikan jika demam
lebih dari 38,5 oC.
 Demam yang kurang dari 38,50C sebaiknya
jangan cepat-cepat diberi obat.
 Selain untuk menurunkan demam, sebagian
besar obat-obat antipiretik tersebut juga
memiliki khasiat untuk mengurangi nyeri.
Kontra Indikasi
 Paracetamol sebagai obat antipiretik utama di Indonesia tidak
boleh diberikan pada pasien yang pernah alergi terhadap
paracetamol, pasien dengan gangguan fungsi hati berat, dan
pasien dengan gangguan fungsi ginjal yang berat.

 Ibuprofen dan obat antiradang nonsteroid lainnya bisa


menyebabkan perdarahan saluran pencernaan dan dapat
memperparah penyakit maag pada pasien.

 Aspirin tidak boleh diberikan pada penderita gangguan fungsi


hati dan juga dapat menyebabkan perdarahan saluran cerna.
Kontra Indikasi
1. Ulkus lambung yang aktif/perdarahanlambung.
Pada penderita sebaiknya diminum setelah makan.
2. Insufisiensi hati berat
3. Insufisiensi ginjal berat
4. Anak-anak<15 tahun
Penggunaan dosis yang berlebihan dapat menyebabkan alergi
pada anak dan gangguan saluran cerna
5. Kehamilan/menyusui
Menyebabkan penutupan duktus arteriosus janin in utero,
hipertensi polmuner persisten pada bayi.
6. Hipersensitifterhadapobattersebut
hipersensitivitas, terutama pada penderita dengan riwayat asma,
atau reaksi alergi lain terhadap golongan anti-inflamasi
nonsteroid (AINS).
2. Efek Samping
Efek samping yang muncul tergantung jenis obat
antipiretiknya.
Beberapa efek samping yang pernah ditemui antara lain:
 Alergi kulit;
 Gatal-gatal
 Pusing;
 Mual, muntah;
 Nyeri ulu hati;
 Buang air besar berdarah;
 Gangguan fungsi hati;
 Gangguan penyembuhan luka.
Efek Samping
1. Gangguan Saluran Cerna
Selain menimbulkan demam dan nyeri, ternyata prostaglandin
berperan melindungi saluran cerna. Senyawa ini dapat menghambat
pengeluaran asam lambung dan mengeluarkan cairan (mukus) sehingga
mengakibatkan dinding saluran cerna rentan terluka, karena sifat asam
lambung yang bisa merusak.
2. Gangguan Hati (hepar)
Obat yang dapat menimbulkan gangguan hepar adalah parasetamol.
Untuk penderita gangguan hati disarankan mengganti dengan obat lain
3. Gangguan Ginjal
Hambatan pembentukan prostaglandin juga bisa berdampak pada ginjal.
Karena prostaglandin berperan homestasis di ginjal. Jika pembentukan
terganggu, terjadi gangguan homeostasis.
4. Reaksi Alergi
Penggunaan obat aspirin dapat menimbulkan raksi alergi. Reaksi dapat
berupa rinitis vasomotor, asma bronkial hingga mengakibatkan syok.
DOSIS
Dosis obat antipiretik tergantung pada jenis obat yang
digunakan.

Paracetamol, dosisnya sebesar 325-650 mg, 3-4 kali sehari.


Untuk anak-anak dosisnya ialah 10-15 mg/kg berat badan, 3-4
kali sehari.

Ibuprofen dosisnya ialah 300-800 mg, 4 kali sehari. Untuk anak-


anak dosisnya ialah 5-10 mg/kg berat badan, 3-4 kali sehari.

Aspirin, dosisnya sebesar 325-650 mg, 3-4 kali sehari


BENTUK SEDIAAN

a. Natrium Salisilat : tablet 300 dan 600 mg


b. Asam Asetilsalisilat : tablet 0,3 gr dan 0,5
gr. Untuk anak-anak, tablet 80 mg dan 100
mg
c. Metil Salisilat (Minyak Wentergreen) :
obat gosok
d. Asam Salisilat : bubuk
Bentuk Sediaan

e. Parasetamol
- Oral (tablet 500 mg) dewasa 4x 0,5-1gr setelah
makan, maksimum 4g sehari, anak-anak sampai
1th 10mg/kgBB 3-4x sehari, 1-12th 4-6x, diatas
12th 4x 320-500mg, maksimum 2g per hari
- Rectal dewasa 4x 0,5-1gr, anak-anak sampai 2th
2x 20mg/kgBB, diatas 2th 3x 20mg/kgBB.
f. Ibuprofen (tablet) 200 mg dan 400 mg
sirup 200 mg / 5 ml sirup, dan rectal 125
mg,250mg.
FARMAKOKINETIK
 Salisilat oral dapat diabsorbsi dengan cepat dalam bentuk
utuh di lambung.
 Absorbsi pada pemberian secara rektal, lebih lambat dan
tidak sempurna jadi cara ini tidak dianjurkan.
 Asam salisilat diabsorbsi cepat dari kulit sehat, terutama
bila dipakai sebagai obat gosok atau salep.
 Biotransformasi salisilat terjadi di banyak jaringan, tetapi
terutama di mikrosom dan mitokondria hati.
 Setelah diabsorpsi, salisilat segera menyebar ke seluruh
jaringan tubuh dan cairan transelular sehingga ditemukan
dalam cairan sinovial, cairan spinal, cairan peritoneal, liur
dan air susu.
 Obat ini mudah menembus sawar darah otak dan sawar
uri. Kira-kira 80% sampai 90% salisilat plasma terikat
pada albumin.
 Aspirin diserap dalam bentuk utuh, dihidrolisis menjadi
asam salisilat terutama dalam hati, sehingga hanya kira-
kira 30 menit terdapat dalam plasma.
 Biotransformasi salisilat terjadi di banyak jaringan,
tetapi terutama di mikrosom dan mitokondria hati.
 Salisilat diekskresi dalam bentuk metaboliknya
terutama melalui ginjal, sebagian kecil melalui keringat
dan empedu.
FARMAKODINAMIK
Asam asetil salisilat atau aspirin adalah analgesik antipiretik yang
luas digunakan dan di golongkan dalam obat bebas.

Obat yang banyak digunakan antipiretik dosis toksik obat ini justru
memperlihatkan efek piretik sehingga pada keracunan berat
terjadi demam dan hyperhidrosis.

Walaupun kebanyakan obat ini memperlihatkan efek antipiretik in


vitro, tidak semuanya berguna sebagai antipiretik karena bersifat
toksik bila digunakan secara rutin atau terlalu lama. Ini berkaitan
dengan hipotesis bahwa COX yang ada di sentral otak terutama
COX-3 dimana hanya parasetamol dan beberapa obat AINS lainnya
dapat menghambat.
3. dampak penggunaan antipiretik pada
kehamilan

 Wanita hamil tidak dianjurkan menggunakan asetosal dalam


dosis tinggi, terutama pada triwulan terakhir dan sebelum
persalinan, karena lama kehamilan dan persalinan dapat
diperpanjang,jugakecenderungan perdarahan meningkat.

 Ibu hamil yang mengkonsumsi obat secara sembarangan


dapat menyebabkan cacat pada janin. Sebagian obat yang
diminum oleh ibu hamil dapat menembus plasenta sampai
masuk ke dalam sirkulasi janin, sehingga kadarnya dalam
sirkulasi bayi hampir sama dengan kadar dalam darah ibu yang
dalam beberapa situasi akan membahayakan bayi.
 Pengaruh buruk obat terhadap janin, secara umum
dapat bersifat toksik, teratogenik, maupun letal
tergantung pada sifat obat dan umur kehamilan pada
saat minum obat

 Pengaruh teratogenik ini biasanya terjadi pada dosis


subletal.

 Sedangkan pengaruh obat yang bersifat letal adalah


yang mengakibatkan kematian janin dalam kandungan.
Secara umum pengaruh obat pada janin dapat beragam sesuai dengan fase-fase berikut :

1. Fase Implantasi yaitu pada umur kehamilan kurang dari 3 minggu. Pada fase ini obat
dapat memberi pengaruh buruk atau mungkin tidak sama sekali. Jika terjadi pengaruh
buruk biasanya menyebabkan kematian embrio atau berakhirnya kehamilan (abortus).

2. Fase Embrional atau Organogenesis, yaitu pada umur kehamilan antara 4-8 minggu.
Pada fase ini terjadi diferensiasi pertumbuhan untuk pembentukan organ-organ tubuh,
sehingga merupakan fase yang paling peka untuk terjadinya malformasi anatomik
(pengaruh teratogenik).

Selama embriogenesis kerusakan bergantung pada saat kerusakan terjadi, karena


selama waktu itu organ-organ dibentuk dan blastula mengalami deferensiasi pada
waktu yang berbeda-beda. Jika blastula yang dipengaruhi masih belum berdeferensiasi
dan kerusakan tidak letal maka terdapat kemungkinan untuk restitutio integrum.
Sebaliknya jika bahan yang merugikan mencapai blastula yang sedang dalam fase
deferensiasi maka terjadi cacat (pembentukan salah).
Berbagai pengaruh buruk yang terjadi pada fase ini antara lain :
a. Gangguan fungsional atau metabolic yang permanen yang biasanya baru
muncul kemudian jadi tidak timbul secara langsung pada saat kehamilan.
b. Pengaruh letal berupa kematian janin atau terjadinya abortus.
c. Pengaruh sub-letal, tidak terjadi kematian janin tetapi terjadi malformasi
anatomik (struktur) pertumbuhan organ atau pengaruh teratogenik. Kata
teratogenik sendiri berasal dari bahasa yunani yang berarti monster.

3. Fase Fetal yaitu pada trimester kedua dan ketiga kehamilan. Dalam fase
ini terjadi maturasi dan pertumbuhan lebih lanjut dari janin. Pengaruh
buruk senyawa asing bagi janin dalam fase ini dapat berupa gangguan
pertumbuhan baik terhadap fungsi-fungsi fisiologik atau biokimiawi organ-
organ.
4. studi kasus penggunaan antipiretik pada anak dan ibu hamil

A. Penggunaan Antipiretik pada ibu hamil

Seorang ibu Ny. R, umur 27 tahun , Umur Kehamilan 38 minggu. Ibu


mennderita flu dan batuk serta panas tubhuhnya sudah 39 C.

Pembahasan :

Pemakaian NSAID (Non Steroid Anti Infamantory Drug) sebaiknya dihindari


pada TM III. Obat-obat tersebut menghambat sintesis prostaglandin dan
ketika diberikan pada wanita hamil dapat menyebabkan penutupan ductus
arteriousus, gangguan pembentukan ginjal janin, menghambat agregasi
trombosit dan tertundanya persalinan dan kelahiran.

Untuk penurun panas dapat diberikan Parasetamol, sekaligus akan


mengurangi gejala-gejala yang timbul akibat influenza, pemberian anti
alergi sebaiknay dihindari terlebih dahulu. Antibiotik yang aman spt
Amoksisilin atau Ampisillin.
B. Penggunaan Antipiretik pada anak

Seorang Anak A berusia 8 tahun, datang dengan keluhan demam.

a. Pembahasan :
 Demam pada anak merupakan keluhan tersering yang membuat orangtua
khawatir dan membawa anaknya ke dokter atau petugas kesehatan.
Banyak orang tua yang memberikan obat antipiretik (penurun panas)
meskipun anak hanya menderita sedikit demam atau bahkan tidak sama
sekali, karena orangtua merasa khawatir dan selalu menganggap bahwa
anak harus tetap dalam suhu normal. Demam, bagaimanapun bukanlah
suatu penyakit primer tetapi merupakan sebuahmekanisme fisiologis
yang berguna untuk menangani suatu infeksi. Sampai saat ini tidak ada
bukti bahwa demam dapat memperburuk perjalanan suatu penyakit atau
menyebabkan komplikasi neurologis jangka panjang.
 Sehingga tujuan utama penanganan demam pada anak
adalah untuk meningkatkan kenyamanan anak secara
keseluruhan daripada terfokus pada menormalkan suhu tubuh
anak.

 Yang paling penting diterangkan kepada orangtua adalahuntuk


memperhatikan kondisi umum anak secara keseluruhan,
pengawasan tanda bahaya seperti anak demam tinggi (>39C),
anak gelisah atau rewel, malas minum, kaki teraba dingin,
penurunan kesadaran dan kejang. Orangtua juga harus
menyadari pentingnya peningkatan pemberian cairan pada
anak serta penggunaan obat antipiretik secara rasional.
b. Pemberian antipiretik :
Bukti penelitian saat ini menunjukkan bahwa tidak
ada perbedaan substansial dalam keamanan dan efektivitas
antara acetaminophen dan ibuprofen. Dokter tetap harus
menjelaskan kapan perlunya penggunaan antipiretik pada anak.

1) Parasetamol
Pemberian parasetamol dibatasi pada anak umur LEBIH dari 2
bulan yang menderita demam tinggi >39C dan gelisah atau rewel
karena demam tinggi tersebut. Dosis parasetamol 10 mg/kgBB
per 6 jam
2) Obat lainnya :
 Aspirin tidak direkomendasikan sebagai antipiretik pilihan
pertama karena dikaitkan dengan sindrom Reye, suatu kondisi
yang jarang terjadi namun serius yang menyerang hati dan
otak. Hindari memberi aspirin pada anak yang menderita cacar
air, demam dengue, dan kelainan hemoragik lainnya. Obat
lainnya tidak direkomendasikan karena sifat toksiknya dan
tidak efektif (dipiron,fenilbitazon)
c. Perawatan penunjang :
 Anak dengan demam sebaiknya berpakaian tipis, dijaga tetap
hangat namun ditempatkan pada ruangan dengan ventilasi baik
dan dibujuk untuk banyak minum. Kompres air hangat hanya
menurunkan suhu badan selama pemberian kompres.
TERIMA KASIH