Anda di halaman 1dari 27

Kendala dalam pemodelan matematik (Dabiryan,

2017) untuk suatu produk tekstil adalah


membangun model struktur mikro untuk
mendekati realitanya, bahkan dengan asumsi
yang sangat ideal pun tidak mudah untuk
membangunnya, hal ini disebabkan oleh
heterogenitas alami dari tiga bentuk dasar
struktur tekstil (serat, benang, dan kain)
sehingga kondisi kompleksitas deformasinya pun
sangat besar, strukturnya dapat terbentuk dari
berjuta-juta serat atau beribu-ribu benang,
konsekuensinya, terdapat sangat banyak titik
singgung, dan per-satuan-nya mempunyai
derajat kebebasan yang tinggi
Selanjutnya, walaupun dikontrol didalam
prosesnya, susunan geometri serat-serat atau
benang-benangnya di dalam kondisi normal pun
sulit untuk dapat diketahui secara pasti.
Konfigurasi dalam keadaan normal dan
deformasi dari bahan tekstil akan dipengaruhi
oleh sebuah fungsi dari komponen-komponen
sifat-sifat mekanik dari serat maupun benangnya
dan sifat-sifat interaksinya pada titik singgung
atau bidang singgungnya. Fungsi tersebut adalah
pertama umumnya non-linier (misalnya,
viskoelastis, viskoplastis) dan bergantung pada
kondisi sekitarnya (misalnya, temperatur,
kelembaban). Kedua bergantung pada sifat
friksinya atau kesempatan untuk slip di dalam
strukturnya atau gerakan bidang didalam
persinggungannya.
Masalah deformasi yang lebih pelik adalah
berkenaan dengan displacement dan strain
yang besar walaupun beban atau gaya
diderita tidak begitu besar. Untuk ini perlu
adanya perhatian yang lebih serius sebelum
membangun atau menentukan suatu
geometri dari bahan yang mempunyai sifat
non-linier, dan perlunya aplikasi deformasi
yang mengakibatkan displacement dan strain
yang besar.
Dalam hal membangun struktur kain rajut telah
banyak dilakukan oleh para pakar, dalam struktur
fisik (undeformed state) telah dibangun dan
dimodelkan diantaranya oleh: Postle dan Munden
[4], Hepworth dan Leaf [7], dan Shanahan dan
Postle [5]. Sedang dalam struktur mekanik
(kondisi dibawah stress-strain) antara lain telah
dibangun dan dimodelkan oleh Popper [1],
Withney dan Epting [6].
Oleh karena struktur yang dibangun dan model
matematik yang telah dipresentasikan oleh para
pakar dalam struktur fisik, maka dalam penelitian
ini akan dikembangkan model matematik dengan
struktur mekanik yang dibangun oleh Popper
pada kondisi zero load/stress, dengan
pertimbangan kesederhanaan model strukturnya.
a.Kontruksi kain

Kain yang di teliti berjumlah Tiga (3) lembar


kain rajut polos dengan nomer benang sama
yaitu Tex 33
b. Prosedur Penelitian

◦ Tiga (3) lembar kain rajut polos dipotong dengan ukuran 10


cm x 7 cm untuk kain I ,10 cm x 10 cm untuk kain II dan
III.selanjutnya setiap kain dibuka jeratannya dengan cara
menggunting ujung jeratan lalu menarik benang sehingga
jeratan terlepas.
◦ Kemudian masing masing benang yang di tiras diambil
sebanyak 5 helai untuk dihitung jumlah wales dan
coursenya .
◦ Setelah diketahui jumlah wales dan coursesnya, benang
dari kain rajut setiap sampel tersebut diukur panjang
benangnya .
◦ Setelah mendapatkan panjang benang kemudian dihitung
panjang jeratannya dengan cara panjang benang dibagi
jumlah course nya
a.Hasil Pengukuran panjang jeratan

Hasil pengukuran panjang jeratan kain I, kain


II dan kain III adalah
Panjang Jeratan (Cm)
n
Kain I Kain II Kain III
1 2.5 3 7.1
2 2.5 3.3 7.6
3 2.5 4 6
4 2.6 3.6 6.6
5 2.6 3.8 7.4
Rata-rata 2.54 3.54 6.94
Std dev 0.054772256 0.397492138 0.646529195
 Dari data hasil pengukuran panjang jeratan
yang didapatkan, dilakukan analisis dengan
Analisis varian dan didapatkan hasil analisis
varian panjang jeratan pada kain I, kain II dan
kain III adalah
Groups Count Sum Average Variance
Kain I 5 12.7 2.54 0.003
Kain II 5 17.7 3.54 0.158
Kain III 5 34.7 6.94 0.418
ANOVA
Source of F F crit
Variation SS df MS (hitung) P-value (tabel)

Between Groups 53.2 2 26.6 137.8238 5.27E-09 3.885294


Within Groups 2.316 12 0.193

Total 55.516 14
 Dari analisis diatas yang perlu diperhatikan adalah
terdapat perbedaan yang signifikan pada table
anova di kolom F hitung dan F tabel .Dimana nilai F
hitung> F tabel yang menunjukkan bahwa adanya
perbedaan rata-rata panjang jeratan.

 Dalam pengukuran panjang jeratan ini dipakai


hanya satu (1) standar deviasi sehingga
menghasilkan panjang jeratan sebagai berikut

Kain I (cm) Kain II (cm) Kain III (cm)

Panjang Jeratan 2.54 ± 0.054 3.54 ± 0.397 6.94 ± 0.646

2.49 – 2.59 3.15 – 3.93 6.3 – 7.58


b. Penghitungan rata-rata panjang jeratan
Setelah mendapatkan panjang benang,jumlah course dan
wale dari setiap sampel kain dilakukan penghitungan untuk
mendapatkan rata rata panjang jeratan menggunakan rumus :

 Keterangan :
 Pj = panjang jeratan
 w = jumlah wale per cm
 c = jumlah course per cm
 ϑ = sudut jeratan
 Dia = diameter benang
 C = Nomer benang dalam tex
 Pw = setengah jarak antar wale
 Pc = setengah jarak antar course
Dengan menggunakan rumus di atas maka :
 Untuk melihat perbandingan panjang jeratan
antara percobaan dengan perhitungan dapat
dilihat pada Tabel berikut :

Kain I (cm) Kain II(cm) Kain III(cm)

Percobaaan 2.54 3.54 6.94

Perhitungan 3.44 4.14 7.65

Selisih 0.90 0.60 0.71


 Dan jika dijadikan dalam bentuk Grafik maka
akan terlihat jelas hasil perhitungan lebih
tinggi dibandingkan hasil percobaan.
16 7.65
14
Panjang jeratan (cm)

12
10
4.14
8 6.94
3.44
6
3.54
4 2.54
2
0
Kain I Kain II Kain III
Percobaaan Perhitungan
Model Struktur
Perbedaan selisih antara panjang jeratan kain rajut hasil
percobaan dan perhitungan menggunakan rumus popper ini
terjadi karena beberapa faktor yaitu :

 Adanya Perbedaan lengkungan pada rumus poper dengan


kenyaatan sebenarnya pada kain rajut, seperti pada Gambar
berikut :
Terlihat pada rumus yang dikemukakan poper sudut
lengkungan kain rajut lebih tajam dibandingkan dengan
sudut lengkungan kain rajut sebenarnya, yang dapat
berefek pada model matematik yang ada pada rumus
poper.

 Pada rumus poper diameter benang tidak mengalami


perubahan sama sekali , tetapi pada keadaan nyata
diameter benang pasti mengalami perubahan yang
disebabkan oleh tekanan antar jeratan, yang
mengakibatkan terjadinya perbedaan antara hasil
pengukuran panjang jeratan dengan hasil perhitungan
panjang jeratan menggunakan rumus popers.

 Pada rumus panjang jeratan poper tidak


diperhitungkannya perubahan sudut alfa yang terkompres
oleh jeratan antar benang, yang mana dapat berefek pada
model matematiknya , oleh karena itu menyebabkan hasil
pengukuran panjang jeratan berbeda dengan hasil
perhitungan panjang jeratan menggunakan rumus popper.
 Pada rumus poper [1] benang berbentuk lurus kecuali
pada jeratannya sedangkan pada kenyataannya
benang melengkung , sehingga saat dilakukan
pengukuran panjang jeratan , menyebabkan
pertambahan panjang karna adalnya lengkungan,
sedangkan pada rumus poopers tidak ada
lengkungan sehingga menyebabkan adanya
perbedaan hasil pengukuran panjang jeratan dengan
hasil perhitungan panjang jeratan dengan rumus
popers.

 Pada rumus poper[1]untuk menentukan panjang


jeratan diasumsikan jumlah wale dan cours kain rajut
sama,sedangkan pada pengukuran panjang jeratan
kain rajut didapatkan jumlah wale yang berbeda di
setiap benang , sehingga menyebabkan adanya
perbedaan hasil pengukuran panjang jeratan dengan
hasil perhitungan panjang jeratan dengan rumus
poper.
Berdasarkan hasil penelitian yang kami lakukan yaitu
mengukur dan memvalidasi model matematis dari
popper untuk estimasi panjang jeratan benang pada
ketiga sampel kain yang sama nomor benangnya
maka dapat diambil kesimpulan, yaitu :

 Panjang jeratan benang pada kain rajut polos yang


dibuat dari serat poliester adalah 2.54 cm untuk kain
I , 3.54 cm untuk kain II , dan 6.94 cm intuk kain III.

 Selisih antara model matematis yang diajukan oleh


Popper [1] dibandingkan dengan penelitian yang
kami lakukan, Tidak sama pada setiap kain yang
diteliti.
 Selisih hasil pengukuran panjang jeratan kain rajut dengan
perhitungan panjang jeratan kain rajut dengan menggunakan
rumus poper[1]adalah 0.90845 cm untuk Kain I, 0.608483 cm
untuk kain II, dan 0.717026 cm untuk kain III.
 Perlunya melakukan analisis regresi untuk
mendapatkan angka koreksi antar nilai
pengukuran panjang jeratan kain rajut
dengan rumus panjang jeratan kain rajut
poper[1]
 Melakukan penelitian pengukuran panjang
jeratan kain rajut dengan jumlah sampel
yang lebih banyak agar mendapatkan hasil
penelitian yang lebih tepat.
 Perlunya pengambilan sampel yang
equispaced
 Peter Popper (1966), The Theoretical Behaviour of Knitted Fabric Subjected to Biaxial Stresses, Textile Research
Journal, 36, p.148

 MacRory, B.M., et al (1975), The Biaxial Load-Extension of Plain Weft Knitted Fabrics – A Theoretical Analysis,
Textile Research Journal, 45, p.746

 Cook, D.I., and Grosberg, P. (1961), Load-Extension Properties of Warp knitted Fabrics, Textile Research Journal,
31, p.636

 Postle, R., and Munden, D.I. (1967), Analysis of Dry-Relaxed Knitted Loop Configuration, Journal of the Textile
Institute, 58, p.329

 Shanahan, W.J., and Postle, R. (1970), A Theoretical Analysis of the Plain Knitted Structure, Textile Research
Journal, 40, p.656

 Withney, J.M., and Epting, J.L. jr. (1966), Three-Dimensional Analysis of a Plain Knitted Fabric Subjected to
Biaxial Stresses, Textile Research Journal, 36, p.143

 Anonim (1997)

 Dalyono (2005), Dasar-DasarPerancangan Produk Tekstil, Graha Ilmu, Yogyakarta

 Lam, J. (2016), Introduction to Textile Fabrics Knitting, Subject Lecturer, The Hangkong Polytechnique
University.
http://admin.umt.edu.pk/Media/Site/STD/FileManager/OsamaArticle/Dec4/Knitting%20Classification.pdf

 Dabiryan H., et al, (2017), Analysis of Warp-Knitting Fabric Structure, Journal of the Textile Institute, 103:9,
997-1011, http://www.tandfonline.com/loi/tjti20