Anda di halaman 1dari 47

KEBIJAKAN

DAN
PETA STRATEGI KESWAMAS

Direktorat Bina Kesehatan Jiwa


Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan
Kementerian Kesehatan
2015
Kesehatan Jiwa :
• Kesehatan Jiwa adalah kondisi
dimana seorang individu dapat
berkembang secara fisik,
mental, spiritual, dan sosial
sehingga individu tersebut
menyadari kemampuan sendiri,
dapat mengatasi tekanan,
dapat bekerjasecara produktif,
dan mampu memberikan
kontribusi untuk komunitasnya.
• ( UU 18/ 2014)
SEHAT JIWA ditandai dengan:

Perasaan sehat dan


bahagia
Mampu menghadapi
tantangan hidup
Dapat menerima orang
lain sebagaimana adanya
Mempunyai sikap positif
terhadap diri sendiri dan
orang lain
BESARAN MASALAH
KESEHATAN JIWA
di Indonesia

dewi - f 4
Mengapa Kesehatan Jiwa?
Prevalensi Gangguan Jiwa saat ini :
• Riskesdas tahun 2013 prevalensi gangguan jiwa
berat (psikosis/skizofrenia) adalah 1,7 permil dari
semua kelompok umur atau sejumlah 400.000 orang.
• Proporsi orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang
pernah mengalami pemasungan secara rata-rata
nasional adalah 14,3%, di daerah perkotaan 10,7%
dan di pedesaan 18,2%.

Diperkirakan jumlah ODGJ yang dipasung lebih kurang


50.000 orang.
Seberapa besar permasalahannya
• Satu diantara empat orang akan
mengalami efek gangguan jiwa
pada satu saat dalam
kehidupannya
• Empat dari lima orang dengan
gangguan jiwa di negara
berkembang tidak menerima
pengobatan
• Setiap 40 detik seseorang
melakukan bunuh diri
Beban Global Penyakit
PENYEBAB UTAMA BEBAN PENYAKIT BERDASARKAN
DALYs
1990
2020
Infeksi pernafasan bawah 1 1 Penyakit jantung iskemik
Penyakit diare 2 2 Depresi mayor unipolar
Keadaan yang timbul pd 3 Kecelakaan lalu lintas
periode perinatal 3 4 Penyakit serebrovaskular
Depresi mayor unipolar 4 5 Penyakit paru obstruktif
Penyakit jantung iskemik 5 kronik
Penyakit serebrovaskular 6 6 Infeksi pernafasan bawah

(Global Burden of Disease – WHO)


Years Lived with Disability
(Tahun Hidup dengan Disabilitas) di
Indonesia
• Gangguan jiwa no.2
terbesar penyebab
beban akibat penyakit,
berdasarkan Tahun
Hidup dengan Disabilitas
• Usia terbanyak: usia
produktif (15 – 45 tahun)
• Berdasarkan DALYs: saat
ini gangguan depresi
no.8 penyebab beban
dari seluruh penyakit di
Indonesia

The Global Burden of Disease


Study 2010
Apa yang akan terjadi jika tidak ditangani?

• Kematian/bunuh diri
• Disabilitas
• Menderita
• Pelanggaran hak asasi,
stigma dan diskriminasi
• Child and
Adolescent
Mental
Disorders
• Depression
• Developme
ntal
disorders
• Behavioural
disorders
Kondisi saat ini...
Kesenjangan pengobatan masih tinggi: >90%
Adanya keterlambatan dalam pengenalan masala
kesehatan jiwa
Keterlambatan dalam membawa orang dengan
masalah kejiwaan ke fasilitas kesehatan
 Adanya kasus-kasus pemasungan

Sementara itu….

Sumber daya layanan kesehatan jiwa terbatas


Strategi dalam Menurunkan
Treatment Gap
3 (tiga) strategi dalam menurunkan treatment gap bagi
gangguan jiwa berdasarkan survei yang dilakukan pada WPA
di 60 negara (2010):

1. meningkatkan jumlah psikiater dan profesional kesehatan jiwa


lainnya
2. meningkatkan keterlibatan penyedia layanan kesehatan jiwa
non-spesialis yang terlatih dengan baik
3. keterlibatan aktif orang yang terkena dampak gangguan jiwa
secara langsung (ODMK dan keluarga)

Patel V, et al. Reducing the treatment gap


for mental disorders: a WPA survey. World
Psychiatry, 2010
RUANG LINGKUP
KESEHATAN JIWA DAN NAPZA
BERDASARKAN
UU KESWA NO 18 TAHUN 2014
UPAYA KESEHATAN JIWA
(UU No 18 Tahun 2014 TTG Keswa)
TUJUAN
PROMOTIF PREVENTIF KURATIF REHABILITATIF
oMempertahan oMencegah oPenyembuhan oMencegah atau
kan dan terjadinya atau pemulihan mengendalikan
meningkatkan masalah kejiwaan oPengurangan disabilitas
derajat oMencegah penderitaan oMemulihkan
keswamas secara timbulnya atau oPengendalian fungsi sosial
optimal kambuhnya disabilitas o Memulihkan
oMenghilangkan gangguan jiwa oPengendalian fungsi
stigma, oMengurangi gejala penyakit okupasional
pelanggaran faktor risiko oMemberdayakan
HAM ODGJ oMencegah kemampuan
oMeningkatkan timbulnya ODGJ untuk
pemahaman dan dampak mandiri
penerimaan psikososial dimasyarakat
masyarakat
terhadap keswa
UPAYA KESEHATAN JIWA
(UU No 18 Tahun 2014 Ttg Keswa)

PROMOTIF PREVENTIF KURATIF REHABILITATIF


Orang Sehat (life Orang Sehat ODMK 10-20% ODGJ
cycle) Populasi berisiko & ODGJ BERAT 1-3% KORBAN
Populasi Khusus: PENYALAHGUNA PENYALAHGUNAAN
(Korban Bencana , NAPZA NAPZA
Tindak Kekerasan,
Korban Konflik,
Pekerja Migran)

Dilaksanakan : Dilaksanakan : Dilaksanakan : Dilaksanakan :


Keluarga, lembaga Keluarga, lembaga Fasyankes FKTP dan Fasyankes FKTP dan
(pendidikan, (pendidikan, FKTRL, Masyarakat FKTRL, Masyarakat
keagamaan, keagamaan, dan Fasilitas dan Fasilitas
pemasyarakatan, pemasyarakatan, pelayanan di luar pelayanan di luar
tempat kerja, tempat kerja, sektor kesehatan dan sektor kesehatan dan
masyarakat, masyarakat, fasilitas pelayanan fasilitas pelayanan
fasyankes, media fasyankes, media berbasis masyarakat berbasis masyarakat
massa) massa)
UPAYA KESEHATAN JIWA
(UU No 18 Tahun 2014 Ttg Keswa)

PROMOTIF PREVENTIF KURATIF REHABILITATIF


Orang Sehat Orang Sehat ODMK 10-20% ODGJ
(life cycle) Populasi berisiko & ODGJ BERAT 1-3% KORBAN
Populasi Khusus: PENYALAHGUNA PENYALAHGUNAAN
(Korban Bencana , NAPZA NAPZA
Tindak Kekerasan,
Korban Konflik,
Pekerja Migran)

Dilaksanakan : Dilaksanakan : Dilaksanakan : Dilaksanakan :


Keluarga, lembaga Keluarga, lembaga Fasyankes FKTP dan Fasyankes FKTP dan
(pendidikan, (pendidikan, FKTRL, Masyarakat FKTRL, Masyarakat
keagamaan, keagamaan, dan Fasilitas dan Fasilitas
pemasyarakatan, pemasyarakatan, pelayanan di luar pelayanan di luar
tempat kerja, tempat kerja, sektor kesehatan dan sektor kesehatan dan
masyarakat, masyarakat, fasilitas pelayanan fasilitas pelayanan
fasyankes, media fasyankes, media berbasis masyarakat berbasis masyarakat
massa) massa)
KEGIATAN
UPAYA KESEHATAN JIWA
(UU NO 18 TAHUN 2014 TENTANG KESWA)

PROMOTIF PREVENTIF KURATIF REHABILITATIF

Kegiatan : Kegiatan : Kegiatan : Kegiatan :


Pola Asuh, Deteksi Deteksi dini, ODGPN
Keterampilan Dini/Skrining, Rehabilitasi
Hidup, KIE Konseling, Psikososial, IPWL
Keswa dan Dukungan sosial
Napza dan Keswa, KIE
Keswa dan
Napza
RUANG LINGKUP NAPZA
(UU No 35 Tahun 2009 Ttg Rehabilitasi Pasal 54)
PROMOTIF PREVENTIF KURATIF REHABILITATIF
o Mempertahankan dan o Mencegah terjadinya o Penyembuhan atau o Mencegah atau
meningkatkan derajat masalah kesehatan fisik pemulihan dilaksanakan mengendalikan disabilitas
keswa secara optimal dan jiwa pada pengguna melalui IPWL o Memulihkan fungsi social
o Menghilangkan stigma, Napza o Pengurangan penderitaan o Memulihkan fungsi
pelanggaran HAM ODGPN o Mencegah timbulnya atau o Pengendalian disabilitas okupasional
o Meningkatan pemahaman kambuhnya g,jiwa dan o Pengendalian gejala o Memberdayakan
dan penerimaan penggunaan Napza penyakit kemampuan ODGPN
masyarakat terhadap o Mengurangi faktor risiko untuk mandiri
pengguna Napza o Mencegah timbulnya dimasyarakat
dampak psikososial o Rehabilitasi Medik Napza
: Rawat Jalan dan Inap
SASARAN: SASARAN: SASARAN: SASARAN:
Orang sehat (life cycle) Orang Sehat ODGPN ODGPN
Dilakasanakan : Populasi berisiko & Populasi Dilaksanakan : Dilaksanakan :
Keluarga, lembaga Khusus: Melalui IPWL (FKTP dan Melalui IPWL (FKTP dan
(pendidikan, keagamaan, , Tindak Kekerasan, Korban FKTRL) FKTRL)
pemasyarakatan, tempat Konflik, Pekerja Migran
kerja, masyarakat, fasyankes, Dilaksanakan :
media massa) Keluarga, lembaga
Kegiatan : (pendidikan, keagamaan,
Pola Asuh, Keterampilan pemasyarakatan, tempat
Hidup, KIE Napza kerja, masyarakat, fasyankes,
media massa)
Kegiatan :
Deteksi Dini, Konseling,
Dukungan sosial, KIE Napza
MENU DEKON 2016

KEGIATAN MENU DEKON

PEMBINAAN 1 PELATIHAN ASSESMEN DAN RENCANA TERAPI


UPAYA KESEHATAN GANGGUAN PENGGUNAAN NAPZA
JIWA
2 PERTEMUAN ADVOKASI DAN BIMTEK PELAYANAN
KESEHATAN JIWA TERINTEGRASI PROGRAM KIA

3 PENINGKATAN KETERAMPILAN KESEHATAN JIWA


BAGI TENAGA KESEHATAN DI PUSKESMAS (GADAR)

4 PERTEMUAN ADVOKASI PROGRAM


PENANGGULANGAN PEMASUNGAN TERHADAP
ORANG DENGAN GANGGUAN JIWA
KEBIJAKAN KESEHATAN JIWA
2015-2019
MISI pembangunan kesehatan jiwa untuk kurun waktu 2015 – 2019
1. Mendorong kemandirian dan kemitraan masyarakat untuk mewujudkan jiwa yang sehat.
2. Mengembangkan dan meningkatkan mutu, pemerataan pelayanan dan jangkauan upaya
keswa sehingga pelayanan kesehatan jiwa mudah diakses secara lokal.
Pelayanan kesehatan jiwa memiliki karakteristik utama:
a) terjangkau dan memenuhi kebutuhan penderita dan masyarakat di lingkungannnya,
b) terpadu dan menyeluruh mencakup pelayanan yang bersifat akut maupun jangka panjang,
c) pelayanan yang bersifat komprehensif, dilakukan secara berjenjang dan berkesinambungan,
d) mendayagunakan seluruh potensial pemerintah dan swasta.
3. Pelayanan kesehatan jiwa berdasarkan sikluskehidupan (life cycle) perlu memperhatikan
kelompok risiko tinggi, (masalah anak remaja, gangguan penggunaan Napza, usia dewasa dengan stress kerja,
masalah psiko-geriatri), kelompok khusus yang membutuhkan pelayanan kesehatan jiwa tertentu (anak
jalanan, narapidana, korban kekerasan kelompok minoritas, perdagangan orang dan orang dengan HIV- AIDS).
4. Mengutamakan pemberian pelayanan yang berupa pencegahan gangguan jiwa melalui kegiatan promosi

kepada masyarakat umum dan pelayanan rehabilitasi bagi pasien gangguan jiwa agar
dapat mencapai produktivitas dan atau kualitas hidup yang lebih baik.
5. Menyediakan dan mengembangkan pelayanan kesehatan jiwa bagi pasien yang membutuhkan
pelayanan di rumah.
6. Meningkatkan profesionalisme tenaga kesehatan jiwa melalui pengembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi, ketrampilan dan etika profesi.
Tujuan umum pembangunan kesehatan jiwa
2015-2019 adalah
Masyarakat Indonesia yang Sehat Jiwa.

Tujuan Khusus
1. Menjamin setiap orang dapat mencapai kualitas hidup yang baik, menikmati kehidupan
kejiwaan yang sehat, bebas dari ketakutan, tekanan, dan gangguan lain yang dapat
mengganggu Kesehatan Jiwa;
2. Menjamin setiap orang dapat mengembangkan berbagai potensi kecerdasan;
3. Memberikan pelindungan dan menjamin pelayanan Kesehatan Jiwa bagi ODMK, ODGJ
dan orang dengan gangguan penggunaan Napza berdasarkan hak asasi manusia;
4. Memberikan pelayanan kesehatan secara terintegrasi, komprehensif, dan
berkesinambungan melalui upaya
promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif bagi ODMK, ODGJ dan orang dengan
gangguan penggunaan Napza;
5. Menjamin ketersediaan dan keterjangkauan sumber daya dalam Upaya Kesehatan Jiwa;
6. Meningkatkan mutu Upaya Kesehatan Jiwa sesuai dengan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi;
7. Memberikan kesempatan kepada ODMK, ODGJ dan orang dengan gangguan penggunaan
Napza untuk dapat memperoleh haknya sebagai WNI.
NILAI-NILAI Upaya Keswa berasaskan:

a. keadilan;
b. perikemanusidan;
c. manfaat;
d. transparansi;
e. akuntabilitas;
f. komprehensif;
g. pelindungan; dan
h. nondiskriminasi.
33 RSJ Pemerintah, 15 RSJ swasta dan 1 RSKO terdapat di 27 Prov dari 34 Prov
di Indonesia
8 Provinsi tidak mempunyai RSJ (Kep Riau, Banten, Gorontalo, Kaltara, NTT, Sulawesi
barat, Maluku Utara dan Papua Barat)
3 Provinsi yang tidak memiliki psikiater; Kepri, Malut dan Papua
Fasilitas & Layanan Keswa
RSJ & RSKO (n=49 di 27 dari 34 provinsi)
• Emergensi psikiatri, one stop center termasuk layanan sub-
spesialisasi
RSU dengan layanan jiwa (n= 249 atau 55,95% dari
445)
• Emergensi psikiatri, poliklinik psikiatri, liaison psychiatry

Puskesmas dengan layanan jiwa (n=4182 atau 46,44 %


dari 9005)
• Emergensi psikiatri, penyuluhan keswa, konseling, layanan kesehatan
jiwa dasar yang terintegrasi di poli umum, kunjungan rumah,
outreach, rujukan
Tenaga Kesehatan Jiwa
• Tenaga kesehatan jiwa profesional: 1.07 per 100,000
populasi.
– Psikiater: 773 (0.32 per 100.000 populasi)
– Psikolog klinis: 451 (0.19 per 100.000 populasi)
– Perawat jiwa: 6500 (2 per 100.000 populasi)
 Distribusi tidak merata, hanya terdapat di
kota besar.

• % puskesmas dengan petugas yang pernah


mengikuti pelatihan kesehatan jiwa: baru
46.5% (Rifaskes 2011).
ISU-ISU STRATEGIS KESWA 2015
1. Memberikan perlindungan dan menjamin
upaya/pelayanan kesehatan jiwa berdasarkan HAM
– Secara terintegrasi dan berkesinambungan
– Sejak fase janin, kanak-kanak, remaja, dewasa hingga lansia
– melalui upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif
2. Menjamin ketersediaan dan keterjangkauan sumber daya
dalam upaya kesehatan jiwa
3. Integrasi layanan keswa di fasyankes primer serta
penguatan sistem rujukan
4. Penguatan upaya promotif dan preventif bagi masyarakat
umum dan population at risk
5. Penguatan keterlibatan masyarakat dan koordinasi lintas
sektor di bidang kesehatan jiwa
PROGRAM PRIORITAS 2015 – 2019 DIT BINA KESWA

NO PROGRAM

1 Wajib Lapor Pecandu Narkotika

Pelayanan Keswa yang terintegrasi di Fasilitas Pelayanan


Bidang Keswa : di FKTP , FKTRL dan di luar sektor
2 Kesehatan

Upaya pencegahan faktor risiko dan penanggulangan


masalah keswa dan nazpa di sepanjang siklus
3 kehidupan
Proses strategis

1. Optimalisasi puskesmas sebagai gatekeeper


2. Optimalisasi sistem rujukan
3. Revitalisasi upaya kesehatan masyarakat (UKM) di
puskesmas
4. Peningkatan efektivitas UKBM (upaya kesehatan
berbasis masyarakat)

Akmal Taher, Dirjen BUK, 2013


PRIORITAS
KEGIATAN KESWA 2015
1. Indonesia Bebas Pasung (14,3% ODGJ pernah dipasung
oleh keluarga ( Riskesdas , 2013)
– Advokasi
– Penguatan Sistem layanan keswadi fasyankes primer dan
rujukan ( 6% gangguan mental emosional, Riskesdas 2013)
– Pengembangan program kesehatan jiwa terintegrasi dengan
kegiatan LP dan LS
– Pengembangan program KESWAMAS
– Pengembangan Model Layanan Unggulan Keswa dan NAPZA di
RSJ
1. Institusi Penerima Wajib Lapor Pecandu Narkotika dan
Rehabilitasi Medik Pecandu NAPZA (amanat UU Narkotika
No 35 thn 2009)
DIREKTORAT BINA KESEHATAN JIWA

PROGRAM PEMBINAAN UPAYA KESEHATAN JIWA

OUTCOME : Meningkatnya Akses dan Mutu Pelayanan Keswa


INDIKATOR :
1. Jumlah fasilitas pelayanan kesehatan yang memberikan layanan wajib lapor bagi
pecandu narkotika (IPWL)

2. Jumlah kab/kota yang memiliki puskesmas yang menyelenggarakan upaya keswa

3. Persentase RS Rujukan Regional yang menyelenggarakan pelayanan medik


kedokteran jiwa/psikiatrik
INDIKATOR 1 :
Persentase fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes)
Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL) yang aktif

NO KETERANGAN
1. Definisi Operasional Fasyankes IPWL yang aktif adalah IPWL yang melaporkan kegiatan
terkait program wajib lapor pecandu atau penyalahguna Napza
lainnya (ada atau tidak adanya pasien). Laporan dikirimkan setiap
6 bulan. IPWL 2013 adalah sebanyak 274.
2. Formula (cara PWL yg mengirimkan laporan X 100%
penghitungan) Jumlah IPWL yang telah ditetapkan pd thn berjalan
Database IPWL aktif per 2013: 16.4% (45 IPWL/ 274)
Database IPWL aktif 2014 berdasarkan data Desember 2013:
16.4% (45/274 IPWL)
3 Target 2016 30% dari 274 IPWL
4 Penanggung jawab Subdit P2 Napza , Direktur Bina Kesehatan Jiwa
5 Sumber data Laporan klaim wajib lapor & rehab medis
Laporan SINAPZA
6 Frekuensi & saat Setiap enam bulan
pengukuran
7 Penanggungjawab Subdit Bina Keswa P2 Masalah Napza
INDIKATOR 2 :
Jumlah kabupaten/kota yang memiliki puskesmas
yang menyelenggarakan upaya kesehatan jiwa

NO KETERANGAN
1. Definisi Kabupaten/kota yang memiliki puskesmas di wilayahnya dengan kriteria:
Operasional (1)memiliki tenaga kesehatan (dokter dan perawat atau tenaga kesehatan
lainnya) terlatih kesehatan jiwa, minimal 30 jam pelatihan, dan
(2)melaksanakan upaya promotif dan preventif terkait kesehatan jiwa secara
berkala dan terintegrasi dengan program kesehatan puskesmas lainnya, dan
(3) melaksanakan deteksi dini, penegakan diagnosis, penatalaksanaan awal dan
pengelolaan rujukan balik kasus gangguan jiwa.
2. Formula (Cara Jumlah kabupaten/kota yang memiliki Puskesmas sesuai dengan kriteria
Penghitungan)
3. Target 2016 130 kab/Kota

4 Frekuensi dan 1 tahun 1 kali, pada awal bulan November.


Saat Pengukuran
5 Sumber Data Laporan Dinas Kesehatan Provinsi, monitoring dan evaluasi upaya keswa di
puskesmas, data keswa yang terintegrasi dalam sistem kesehatan nasional.
6 Penanggung Subdit Nonfas Dit. Bina Kesehatan Jiwa,
Jawab
INDIKATOR 3 :
% RS Rujukan Regional yang menyelenggarakan pelayanan medik
kedokteran jiwa / Psikiatri

NO KETERANGAN
1. Definisi Prosentase RS Rujukan Regional yang menyelenggarakan pelayanan
Operasional medik kedokteran jiwa rawat jalan dan rawat inap kedokteran jiwa /
psikiatri oleh tenaga kesehatan yang kompenten. baseline data tahun
2014 adalah 23 RSU atau 21% dari 110 RSU Regional
2. Formula (Cara Jumlah RS Rujukan Regional yang menyelenggarakan pelayanan medik
Penghitungan) kedokteran jiwa baik rawat jalan dan rawat inap kedokteran jiwa /
psikiatri oleh tenaga kesehatan yang kompenten di bagi Jumlah RS
Rujukan Regional yang telah ditetapkan X 100 %
3. Target 2016 30 %
4 Frekuensi dan Tahunan
Saat Pengukuran
5 Sumber Data SIMRS, Risfaskes

6 Penanggung Subdit Bina Keswa di Fasilitas Kesehatan


Jawab
PETA STRATEGI
KESEHATAN JIWA MASYARAKAT
2015 – 2019

DIREKTORAT BINA KESEHATAN JIWA DIREKTORAT


JENDERAL BINA UPAYA KESEHATAN
KEMENTERIAN KESEHATAN RI
TAHUN 2015
TUJUAN
•Tujuan Umum
Tersedianya panduan bagi Pemerintah Pusat maupun Daerah
dalam melaksanakan program keswamas tahun 2015-2019

•Tujuan Khusus
Agar Pemerintah Pusat dan Daerah dapat:
•Memahami analisis situasi kesehatan jiwa masyarakat
•Mengetahui strategi prioritas bagi keswamas
•Melakukan monev secara bertahap dalam proses implementasi
program keswamas berdasarkan indikator kinerja dan target yang
telah ditetapkan
No Sasaran Strategis indikator

1 Terwujudnya upaya 1) Jumlah provinsi yang menyelenggarakan


kesehatan jiwa yang lebih Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat
responsif, menyeluruh, (UKBM) terintegrasi keswa dan/atau napza.
terpadu, berkesinambungan 2) Jumlah Komunitas Peduli Keswa dan/atau
dan terukur Napza di Provinsi yang mendapatkan
pengetahuan terkait keswa dan/atau napza.
3) Tingkat pengetahuan masyarakat tentang
keswa dan/atau napza
2 Terwujudnya layanan 1) Jumlah Kabupaten/Kota yang memiliki
kesehatan jiwa yang lebih puskesmas yang menyelenggarakan upaya
terstruktur dan terstandar kesehatan jiwa sesuai kriteria.
2) Jumlah Provinsi yang memiliki fasilitas
pelayanan di luar sektor kesehatan yang
bekerja sama dengan puskesmas.
3 Terwujudnya program promosi 1) Jumlah program nasional promosi keswa
keswa dan prevensi dan/atau napza, dan prevensi gangguan jiwa
gangguan jiwa. dan/atau gangguan penggunaan napza.
2) Jumlah provinsi yang menyelenggarakan
kampanye publik keswa dan/atau napza
melalui media massa.
No Sasaran Strategis indikator

4 Terwujudnya sistem koordinasi 1) Jumlah integrasi program keswa dengan


dan kolaborasi dengan para lintas program kesehatan.
pemangku kepentingan keswa. 2) Jumlah kerjasama program keswa
dengan lintas sektor.
3) Jumlah Provinsi yang memiliki wadah
koordinasi keswa.

5 Terwujudnya sistem informasi dan 1) Tersedianya data keswa dan/atau napza


monitoring evaluasi keswa di Sistem Informasi Kesehatan Nasional
2) Tersedianya data puskesmas
penyelenggara pelayanan keswa dan/atau
napza di website “SIAP” Kemenkes

6 Terwujudnya SDM keswa dan/atau 1) Jumlah tenaga kesehatan puskesmas


napza yang kompeten Kabupaten/Kota yang terlatih (kompeten)
keswa dan/atau napza.
7 Terwujudnya sarana dan Jumlah Provinsi yang memiliki ketersediaan
prasarana keswa dan/atau napza psikofarmaka sesuai Formularium Nasional
sesuai standar
No Sasaran Strategis indikator

8 Terwujudnya dukungan regulasi 1) Tersedianya Peta Strategi Keswamas


dan kebijakan keswamas 2015-2019
2) Tersedianya regulasi tentang keswamas.
3) Jumlah Provinsi yang memiliki
regulasi/kebijakan yang mendukung
program keswa.
9 Terwujudnya data keswa dan/atau 1) Jumlah kerjasama data keswa dengan
napza yang terpadu data lintas sektor
2) Jumlah Provinsi yang memberikan data
tahunan keswa dan napza
3) Jumlah kajian terkait layanan keswa.

10 Terwujudnya penganggaran yang 1) Jumlah Provinsi yang memiliki anggaran


optimal dan berkelanjutan bidang bagi program keswa dan/atau napza.
keswa dan/atau napza
MEDIA KIE
KESWA & NAPZA
berbasis Web dan Android
APPLICATION
DEVELOPMENT OF
MENTAL HEALTH
INDONESIA
WITH SMART
PHONE WITH
ANDROID
OPERATING
SYSTEM

DIRECTORATE
OF
MENTAL HEALTH
2015
46
TIADA SEHAT TANPA SEHAT JIWA