Anda di halaman 1dari 67

Overview

Perencanaan Sistem Kelistrikan


Jangka Panjang

1
Overview
Perencanaan Sistem Kelistrikan Jangka Panjang

1. Pengantar
2. Garis Besar Perencanaan Sistem Kelistrikan
3. Prakiraan Kebutuhan Tenaga Listrik
4. Perencanaan Pembangkit
5. Perencanaan Transmisi
6. Diskusi : Program 35.000 MW dan RUPTL 2017-2026

2
Bagian 1

Pengantar

3
Sifat investasi di usaha penyediaan tenaga listrik
1. Lead time sangat panjang
Sebagaimana industri energi pada umumnya, proyek pembangkit
tenaga listrik mempunyai lead time yang sangat panjang
Proses yang diperlukan:
 System planning untuk mengidentifikasi kebutuhan kapasitas,
 Pre FS (survey, site investigation, identifikasi sumber bahan bakar,
basic tech spec, basic eng design, basic project cost estimate,
prelim implementation schedule, prelim econ & financial),
 Full FS (detailed site investigation/techn spec/eng design/ cost
estmate/ implementation schedule, econ/financial viability),
 Ijin Lingkungan dan perijinan lainnya,
 Financing,
 Procurement, kontrak, konstruksi, testing/commissioning.

4
Sifat investasi di usaha penyediaan tenaga listrik
2. Economic life sangat panjang
Investasi pembangkit Tenaga Listrik mempunyai economic life sangat
panjang, i.e. hingga 30 tahun.

3. Sangat capital intensive


• Sekitar USD 36 juta utuk PLTU 2x10 MW
• Mencapai USD 360 juta untuk PLTU 2x100 MW
• Mencapai USD 3000 juta untuk PLTU USC 2x1000 MW

5
Contoh lead time PLTU Indramayu 2x1000 MW

Activity Date
Feasibility Study September, 2010
EIA (Environment Impact Assessment) Study October, 2010
LARAP (Land Acquisition Resettlement Action Plan) Study October, 2010
JICA Appraisal November, 2010
Loan Agreement March, 2011
Consultant Selection October, 2011
Basic Design and Preparation of Tender Document June, 2012
Pre-Qualification of EPC Contractor April, 2012
Selection of EPC Contractor Januari, 2013
Commercial Operation Date June, 2017
Defect Liability Period June, 2018
Sumber: Konsultan TEPSCO, 2011

6
Key message #1

• Keputusan investasi di usaha penyediaan tenaga listrik


tidak dapat dilakukan dengan perspektif jangka pendek.
• Perlu dilakukan perencanaan dalam horizon waktu yang
panjang.

7
Bagian 2

Garis Besar Perencanan Sistem


Kelistrikan

8
Sistem Tenaga Listrik

9
Garis Besar Proses Perencanaan Sistem di PLN
Potensi Energi Primer Proyeksi: GDP,
Pop (RE), Tarif,
Hydro Gas Coal Geothermal Daftar Tunggu I

Kandidat Kandidat Proyek Electricity


Proyek Hydro Thermal + Geo Demand
Forecasting
Sistem Pembangkitan dan
Transmisi Yang Ada Optimasi Perluasan Penalti
Kriteria
PEMBANGKIT Cadangan Ekonomi
dan TRANSMISI untuk ENS

Rencana Investasi
Kebijakan, Batasan Analisa Keuangan &
Finansial Kebutuhan Dana

Studi Tarif

RENCANA INVESTASI

Pendanaan &
Implementasi Proyek 10
Horizon Perencanaan Sistem Kelistrikan
a) Jangka Pendek -Menengah (1 - 5 tahun)
• Proyek KIT yang telah on-going dan committed, sedikit proyek baru
• Proyek TRS/GI on-going dan committed, banyak yang baru
• Review rencana KIT, TRS/GI, program operasi mendesak dan sekuriti
sistem
b) Jangka Panjang (5 - 10 tahun)
• Proyek KIT on-going & committed, banyak proyek baru
• Proyek TRS dan GI baru
c) Jangka Sangat Panjang (>10 tahun)
• Master plan sebagai guidance untuk perencanaan s/d 10 tahun
• Merefleksikan visi planner bagaimana sebuah sistem kelistrikan akan
berkembang (optimalisasi resources, perancangan subsistem,
regional balance, interkoneksi antar subsistem, ultimate topology).

11
Optimal planning?

• Proses rensis rumit. Secara matematis, proses perencanaan


pembangkitan dan transmisi mempunyai dimensi sangat banyak, non-
linear dan bersifat stokastik.
• Ilustrasi 1: Jenis pembangkit yang harus dipertimbangkan dalam
perencanaan pembangkit selama 10 tahun adalah sangat banyak,
sehingga pengambilan keputusan menjadi sulit.
• Ilustrasi 2: nilai PV dari investasi + O&M pembangkit bukan fungsi
linear terhadap variabel keputusan.
• Ilustrasi 3: data untuk perencanaan pembangkit (demand forecast,
harga energi primer, harga EPC, dst) mengandung ketidakpastian,
karena itu perencanaan pembangkit juga mengandung ketidakpastian.
• Solusi ‘optimal’ dalam rensis mungkin tidak optimal sebagaimana kata
‘optimal’ biasanya dipahami .

12
Key message #2

• Proses perencanaan sistem kelistrikan berusaha


memperhitungkan banyak variabel, namun produk
perencanaan tetap saja mengandung ketidakpastian.
• Bahkan sebuah plan bisa menjadi obsolete segera setelah
disahkan, akibat tingginya ketidakpastian.
• Plan is nothing, planning is everything

13
Bagian 3
Electricity Demand Forecast
Pentingnya Demand Forecasting dalam Perencanaan Sistem

 Demand forecasting merupakan awal dan dasar dari semua proses


perencanaan pembangkit, transmisi, GI dan distribusi
 Over-forcasting menyebabkan over investment di pembangkit dan
jaringan: pembangkit beroperasi dengan CF rendah, pembangkit
tidak beroperasi pada titik yang efisien, hutang berlebih
 Under-forecasting menyebabkan load curtailment dan kerugian
ekonomi pada society

15
‘Driver‘ pertumbuhan kebutuhan tenaga listrik
 Driver pertumbuhan kebutuhan tenaga listrik dapat berupa:
– Kegiatan ekonomi (diukur dgn GDP/PDB/PDRB)
– Demografi (pertumbuhan jumlah penduduk, target rasio elektrifikasi)
– Harga jual (dan response demand terhadapnya)
– Energy intensity (teknologi end use).
 Sebagai contoh , persamaan demand forecast dapat berbentuk sbb:
demand (t) = a + b GDP(t) + c POP(t) + d Demand(t-1)
Dengan melihat data historis, koefisien a, b, c, d, dapat dihitung dgn
mudah menggunakan metoda regresi.
 Model forecast seperti diatas gampang dibuat, namun pemilihan
variabel (driver) tergantung pada ketersediaan data historis dan
forecast nilai variabel ke depan.
Misalnya, kalau data proyeksi energy intensity ke depan tidak
tersedia, maka kita tidak dapat menggunakan variabel energy
intensity di dalam model.
16
Metoda demand forecasting
Dikenal ada beberapa model demand forecasting, namun secara garis besar
dapat dikelompokkan dalam 5 kategori:
– Subjective: dilakukan dengan intuisi, atau ‘feeling’
– Univariate: semata-mata berdasarkan data masa lalu (time series).
Cara ini dikenal juga sebagai ‘naive projection’, misalnya ekstrapolasi
trending.
– Multivariate: memperhatikan hubungan casual atau hubungan
explanatory, karena itu tergantung pada metoda untuk mengetahui
apakah suatu variable mempunyai korelasi dengan variabel lain.
Contoh: penjualan listrik mungkin tergantung pada income. Model
regresi (dan ekonometric) masuk dalam kategori ini, dan sering
disebut juga model prediksi atau causal.
– End-use: dibuat dengan menghitung langsung konsumsi listrik
peralatan end-use seperti aircon, penerangan, lemari pendingin, dll.

17
Contoh : Model Regresi
• Sederhana : Y = a + bX + ε
• Berganda : Y = a + b1X1 + b2X2.....+ε
kWh jual

Predictor 2

Predictor 1

Contoh :
GWh = 0,075 * PDB – 26751
b
a Pertumbuhan ekonomi

Model matematika yang menyatakan hubungan antara variabel tidak


bebas (kWh jual) dengan variabel bebas (pertumbuhan ekonomi) 18
Klasifikasi metoda forecasting

Metoda Forecasting

Subyektif
Obyektif (judgmental)

Metoda Time Series Metoda Causal


Yt= f (Yt-1, Yt-2, … , Yt-k) Yt= f (X1t, X2t, … , Xkt)

Contoh: Contoh:
kWh(t) = f {kWh(t-1), kWh(t-2), …} kWh (t) = f { GDP (t), Pop (t), TDL (t) ……..}

Kombinasi Time Series dan Metoda Causal


Contoh:
kWh(t) = f {kWh(t-1), GDP(t), Pop(t), TDL(t), ….....}

19
Multivariate

• Metoda ini berusaha mencari hubungan antara konsumsi listrik dan


variabel yang menjadi driver konsumsi listrik.
• Bentuk ‘canggih’ dari metoda ini adalah ekonometrik, sebuah metoda
yang berdasar pada fundamental economic analysis.
Metoda ini sudah jauh berkembang sejalan dengan makin majunya
ilmu ekonomi, tersedianya data ekonomi yg makin lengkap,
berkembangnya ilmu statistik, dan pemakaian komputer.
• Forcasting dimulai dengan proses menentukan variabel-variabel yg
dianggap penting dalam mendorong konsumsi listrik, seperti GDP,
jumlah penduduk, dst.

20
Model demand forecasting di PLN (1/2)
• Ketersediaan data historis yang reliable, dan data forecastnya,
menentukan driver apa yang akan kita pakai dalam model demand
forecast.
• PLN menggunakan model econometric (regresi). Secara singkat, dapat
dijelaskan sbb:
‒ PLN membuat assessment mengenai korelasi antara demand
historis dan driver (GDP, populasi, tarif).
‒ Dari korelasi tersebut, terbentuk model persamaan matematis
‒ Model persamaan matematis tersebut selanjutnya digunakan
untuk mem-forecast demand di masa y.a.d dengan menggunakan
data forecast dari GDP dan populasi.
• Tujuan kita adalah memilih model yang fit dengan data historis.
• PLN menggunakan Aplikasi Simple-E untuk menghitung demand
forecast.
21
Model demand forecasting di PLN (2/2)

 Model econometric menggunakan dua atau lebih variabel, yang


tersedia data historis dan proyeksinya, yaitu PDB (dari RPJMN, RUKN)
dan populasi (dari BPS + Bappenas).
 Data historis dan proyeksi PDB nasional ‘diterjemahkan’ ke PDRB
provinsi secara proporsional dengan data PDRB provinsi yang
mutakhir dari BPS.
 Model memperhitungkan target rasio elektrifikasi
 Jika perlu, kepada hasil proyeksi dapat ditambahkan extra demand
yang bersifat luar biasa, seperti demand industri smelter yang tiba-
tiba marak karena berlakunya undang-undang di industri mineral.
 Waiting list calon pelanggan besar, jika ada, dapat ditambahkan
 Forecasting dilakukan per kelompok pelanggan: Rumah Tangga,
Komersial, Publik, Industri.

22
PDB Sesuai Kelompok Pelanggan

1. PDB untuk kelompok Rumah Tangga, terdiri dari lapangan usaha :


 Total GDP without Oil & Gas & its product
2. PDB untuk Kelompok Komersial, terdiri dari :
 Construction
 Trade, Restaurant & Hotel
 Transportation & Communication
 Finance, Rent of Build & Business Service
3. PDB untuk Kelompok Publik, terdiri dari lapangan usaha :
 Services
4. PDB untuk Industri, terdiri dari lapangan usaha :
 Mining & Quarriying
 Manufacturing Industries
 Electric, Gas & Water Supply
Tahapan persiapan dan proses perhitungan

Data Realisasi Proyeksi / target Output


Realisasi 10 tahun: Proyeksi10 tahun: Prakiraan
1. Internal 1. Internal (Simple-E):
 kWh jual  Losses 1. kWh jual
 Daya kontrak  PS 2. Daya kontrak
 Σ Pelanggan  Load factor 3. Σ Pelanggan
 Losses
 PS 2. Eksternal Prakiraan:
 Load factor  PDRB (Microsoft excel)
 Σ penduduk 1. Losses
2. Eksternal  Target RE 2. PS
 PDRB 3. Load factor
 Jumlah penduduk 3. Lain-lain 4. Beban puncak
 Rasio Elektrifikasi  Kesiapan Kit
 Target RKAP Target/proyeksi:
3. Lain-lain  COD proyek 1. RE
 Progress proyek 2. Σ Rumah Tangga
Key message #3

 Untuk menghasilkan produk perencanaan yang credible, demand


forecast sebaiknya tidak dibuat dengan ‘naive projection’, apalagi ‘gut
feeling’. Demand yang akan datang harus di-forecast dengan model
prediksi yang dapat diterima oleh regulator (Pemerintah cq DJK),
perbankan/ lender/ market.
 Perencanaan kelistrikan nasional merupakan bagian dari perencanaan
ekonomi nasional. PLN memerlukan proyeksi GDP yang reliable dan
jangka panjang dari Pemerintah untuk dapat membuat demand
forecasting yang credible.

25
Bagian 4

Perencanaan Sistem Pembangkitan

26
Isu-isu Kritis Perencanaan Pengembangan Pembangkitan

 Demand listrik selalu berubah sepanjang waktu


 Lead Time proyek pembangkit sangat panjang
 Memenuhi keandalan
 Berbagai macam jenis pembangkit dan ukuran kapasitas

Tujuan

Minimum present worth dari seluruh biaya-biaya investasi dan


operasi selama periode studi

27
Proses Perencanaan Pembangkit di PLN
EXISTING PLANT :
VARIABEL/CANDIDATE PLANT
Thermal : OM Cost, Lifetime, Efficiency, Thermal : Construction Cost, OM Cost, Life
Availability, Unit size. time, Eff., Availability, Unit size, Fuel Type ENERGY RESOURCES
Hydro : OM Cost, Lifetime, Energy Hydro : Construction Cost, OM Cost, Life Gas, hydro, Geothermal, Peat.
Production, Capacity Time, Energy, Capacity

ECONOMIC PARAMETERS : LOAD DATA


Discount Rate, Load Forecast and Load
Fuel Price, PERSIAPAN DATA
Duration Curve
Energy not served cost

Reliability Configuration
Generation
Criteria, (LOLP)

Production Costing

Objective function =
Dynamic
PV (Capital + O&M + EnS – Programming
Salvage Value)
Yes No
Optimum Optimal
Multiyear ?
Expansion Plan 28
Contoh : Grafik Neraca Daya Sistem Sulawesi Bagian Selatan

29
Neraca Daya Sistem Sulawesi Bagian Selatan (Sulbagsel)
30
Neraca Daya Sistem Sulawesi Bagian Selatan (Sulbagsel)
31
Kebijakan Pengembangan Pembangkit Pada RUPTL

• Penambahan kapasitas pembangkit pada sistem besar menggunakan


optimasi least cost dengan aplikasi WASP (Wien Automatic System Planning)
IV dan untuk sistem kecil dilakukan dengan deterministik
• Pengembangan pembangkit diutamakan memanfaatkan sumber energi
terbarukan setempat dengan prinsip biaya penyediaan listrik terendah (least
cost)
• Pembangkit sewa dan excess power tidak diperhitungkan dalam membuat
rencana pengembangan kapasitas jangka panjang, namun dalam jangka
pendek diperhitungkan untuk menggambarkan upaya PLN dalam mengatasi
kondisi krisis kelistrikan.
• Penyelesaian kekurangan pasokan listrik jangka pendek dilakukan melalui
pengembangan mobile power plant (MPP)
• Pemilihan lokasi pembangkit diupayakan untuk memenuhi prinsip regional
balance

32
Kriteria Pengembangan Pembangkit Pada RUPTL

• Kriteria keandalan yang dipergunakan adalah Loss of Load Probability (LOLP)


lebih kecil dari 0.274%. Hal ini berarti kemungkinan/probabilitas terjadinya
beban puncak melampaui kapasitas pembangkit yang tersedia adalah lebih
kecil dari 0.274%. LOLP 0,274% adalah ekivalen dengan probabilitas 1 hari
dalam setahun beban puncak tidak dapat dipenuhi oleh kapasitas sistem
pembangkit yang ada.
• Pada sistem Jawa Bali, kriteria LOLP < 0.274% adalah setara dengan reserve
margin >25-30% dengan basis daya mampu netto, apabila dinyatakan
dengan kapasitas terpasang maka reserve margin yang dibutuhkan adalah
sekitar 35%. Untuk sistem-sistem di Wilayah Sumatera dan Indonesia Timur,
reserve margin ditetapkan sekitar 40%.
• Pada sistem kecil / Isolated, perencanaan dibuat dengan kriteria N-2, yaitu
cadangan minimum harus lebih besar dari 1 unit terbesar pertama dan 1
unit terbesar kedua.

33
Prinsip Dasar Perencanaan Pembangkit
C1 • Tahun ke1: beban P1 dan kapasitas C1,
C2 C3 sehingga risiko R1
R2A
• Pada tahun ke 2 beban naik ke P2,
sehingga risiko naik ke R2A, melampaui
acceptable risk.
R3A
Acceptable risk
• Jadi perlu tambah kapasitas menjadi C2
(kriteria agar risiko turun ke R2.
risiko

R1 keandalan)
• Pada th ke 3 beban naik ke P3, risiko
naik ke R3A  kapasitas perlu naik
menjadi C3 agar risiko turun ke R3, dst
R2
• Opsi-opsi ekspansi kapasitas dapat
dikaji dengan memajukan/
R3
memundurkan proyek, atau mengubah
tambahan kapasitas.
• Selanjutnya present worth dari system
cost dibandingkan.
P1 P2 P3 P4 Peak load
34
Struktur Biaya Pembangkitan

Variable • Variable Fuel Cost C


cost • Variable O&M cost :
consumables, D
Generation
cost
• Fixed O&M Cost
Fixed • Taxes & insurance B
Biaya cost • Fixed investment
Pembangkitan
charges :
depreciation, ROI
Capital cost Overnight EPC + A
development, IDC

• Setiap jenis teknologi mempunyai karakteristik biaya yang berbeda, dan


peran suatu unit pembangkit dalam generation mix akan ditentukan oleh
karakteristiknya.
• Production costing berkaitan erat dengan perencanaan sistem pembangkit,
karena planner diminta untuk merencanakan sebuah generation mix yang
mempunyai total system cost terendah (least cost).
35
Estimate biaya EPC Pembangkit

36
Bagian 5

Perencanaan Transmisi

37
Proses perencanaan transmisi di PLN

- Existing
DATA JARINGAN - On-going

Kriteria Keandalan & Mutu :


- N-1
PERENCANAAN - Tegangan : 0,95-1.05
PEMBANGKITAN

STUDI - Loadflow Analysis


PENGEMBANGAN - Short-circuit Analysis
JARINGAN - Stability Analisis
PRAKIRAAN BEBAN
GI Baru

NERACA DAYA PROGRAM INVESTASI


GARDU INDUK
GI Baru
MAX LOADING : 70% Extension GI

PROPOSAL PROYEK
PENDANAAN

38
Peran Perencanaan Transmisi
 Bertujuan menentukan konfigurasi jaringan transmisi yang optimal
sejalan dengan pertumbuhan demand dan rencana pembangkit.
 Perencanaan transmisi berdasar pada perencanaan pembangkit,
tetapi kadang-kadang perencanaan transmisi mempengaruhi juga
perencanaan pembangkit (terutama mengenai lokasi).
 Perencanaan pembangkit tidak memperhitungkan lokasi geografis
dan biaya transmisi, jadi perencanaan transmisi dapat mengkoreksi
perencanaan awal pembangkit.
 Karena itu perencanaan pembangkit dan perencanaan transmisi
harus dikoordinasikan untuk mengoptimalkan perencanaan sistem
secara keseluruhan.

39
Pendekatan Dalam Perencanaan Transmisi

 Perencanaan transmisi bertugas meminimumkan biaya konstruksi


transmisi dan biaya operasi untuk menyalurkan listrik dengan aman
dan andal.
 Pengembangan transmisi backbone suatu sistem interkoneksi yang
dapat dipandang sebagai infrastruktur jangka panjang, dapat
dilakukan tanpa semata-mata berdasar pertimbangan least cost
jangka pendek.
 Keandalan transmisi mencakup:
– Kebutuhan operasi normal: standar-standar operasi harus
dipenuhi. Contoh: voltage, line loading
– Persyaratan contingency. Jika terjadi gangguan/ kerusakan
peralatan, keandalan pasokan tetap terjaga
– Kapasitas saluran transmisi hendaknya direncanakan cukup untuk
jangka panjang tanpa memerlukan uprating (> 10 tahun).

40
Perencanaan Transmisi Dengan Metoda ‘Heuristic’
 Perencanaan transmisi heuristic mengandalkan intuisi planner, jadi
merupakan cerminan pikiran, pengalaman dan analisis planner.
 Metoda heuristic terdiri dari overload checking, analisis sensitivitas, dan
pembentukan konfigurasi.
 Overload checking: Apakah kapasitas transmisi mencukupi? Apakah ada sirkit
yang overloaded? Kriteria N-1 biasa digunakan dalam overload checking.
 Analisis sensitivitas: Jika sebuah transmisi mengalami overload, dilakukan
analisa sensitivitas untuk mendapatkan opsi pengembangan transmisi yang
paling efektif untuk menghilangkan overload. Opsi yang dipilih adalah
pengembangan transmisi yang paling efektif.
 Pembentukan konfigurasi: konfigurasi jaringan terbentuk secara bertahap
sejalan dengan ‘evolusi’ penambahan sepotong atau lebih ruas transmisi.
 Ciri-ciri metoda heuristic adalah pengembangan jaringan tumbuh step-by-
step, tanpa mempertimbangkan interaksi antara setiap keputusan untuk
menambah seksi transmisi.
41
Kebijakan Pengembangan Transmisi & GI Pada RUPTL

 Penggunaan teknologi kabel 500 kV di ibu kota provinsi di Jawa-Bali


 Setiap Ibu kota kabupaten yang belum terlayani jaringan tegangan tinggi
direncanakan GI-GI baru. Perencanaan GI-GI baru tersebut tetap
mempertimbangkan kelayakan teknis dan ekonomis.
 Peningkatan unit size trafo daya (150/20 kV) menjadi maximum 100 MVA
untuk GI Baru di wilayah yang padat dan sulit mendapatkan lokasi GI.
 Jumlah unit trafo yang dapat dipasang pada suatu GI dibatasi oleh
ketersediaan lahan, kapasitas transmisi dan jumlah penyulang (feeder)
keluar yang dapat ditampung oleh GI tersebut. Dengan kriteria tersebut
suatu GI dapat mempunyai 3 atau lebih unit trafo. Sebuah GI baru
diperlukan jika GI-GI terdekat yang ada tidak dapat menampung
pertumbuhan beban lagi karena keterbatasan tersebut..
 Pengembangan GI baru juga dimaksudkan untuk mendapatkan tegangan
yang baik di ujung jaringan tegangan menengah.

42
Kebijakan Pengembangan Transmisi & GI Pada RUPTL

 Trafo daya (TT/TM) pada dasarnya direncanakan mempunyai kapasitas


sampai dengan 60 MVA.
 Trafo IBT GITET (500/150 kV dan 275/150 kV) dapat dipasang hingga 4 unit
per GITET.
 Spare trafo IBT 1 fasa disediakan per lokasi untuk GITET jenis GIS, dan 1 fasa
per tipe per provinsi untuk GITET jenis konvensional.
 Pembangunan gardu induk dengan desain minimalis dapat
dilaksanakanuntuk melistriki komunitas dengan kebutuhan listrik yang
dalam jangka panjang diperkirakan akan tumbuh lambat.

Kebajakan Konstruksi Transmisi 150 kV (yang belum kontrak):


 Konstruksi tower : 2 cct 2xHAWK
 Konstruksi tower : 2 cct 2xZEBRA

43
Kriteria Pengembangan Transmisi & GI Pada RUPTL

 Perencanaan transmisi dibuat dengan menggunakan kriteria keandalan


N-1, baik statis maupun dinamis
 Kebutuhan penambahan kapasitas trafo/IBT di suatu GI ditentukan pada
saat pembebanan trafo mencapai 70%-80%. Namun untuk sistem di kota-
kota besar menggunakan kriteria yang lebih ketat sebesar 60% untuk
menjamin keandalan dan kualitas penyediaan tenaga listrik.

44
Perlunya Master Plan
 Perencanaan transmisi (dan lokasi pembangkit) yang mengubah topologi
jaringan secara bertahap sejalan dengan ‘evolusi’ perkembangan sistem
dapat berakhir pada tolopogi jaringan yang tidak favorable.
 Sebuah Master Plan pengembangan sistem kelistrikan jangka panjang
(20-30 tahun y.a.d) dapat berisi antara lain:
– Mengoptimalkan pemanfaatan resources,
– Merancang peran setiap level tegangan, transmisi backbone
– Merancang sub-sistem - sub-sistem dalam suatu sistem interkoneksi,
– Merancang kecukupan pembangkit pada suatu sub-sistem,
– Merancang transfer daya antar sub-sistem dalam konteks regional
balance,
– Merancang tingkatan dan hirarki control center, dll

 Master Plan akan menjadi reference yang berharga bagi transmission


planner untuk tidak terjebak pada evolusi yang tanpa arah.

45
Bagian 6

Diskusi :

Program 35.000 MW dan Draft RUPTL 2017-2026

46
Prakiraan Kebutuhan Listrik 2017-
2026 4
4 8
5 2664 5 0
2 TWh
6 TWh 7 T
3T T W
3 32 11,7% T W 23 h
W
1 6 SULAW W10
h 10 21 h 4
83 9 8 TW ESI h ,6 ,8
INDONESIA7 TW
32TW 35 h 10,1% % TIMUR
%
TWh TWh
2 T KALIM
TW h
h T h
W ANTAN
W 16h 1 12,1%

vs
11,0%
h
11,2% 2 7 MALUK
10,5%
U
TW 4 PAPUA
SUMATERA h
T
W
h 9,
2 2 2 2
9
NUSA TENGGARA 08,0 0 0
% 8,
162 1 2
3
7, 7,2 6%5INDONESI
7% 6
%- BALI
8JAWA A
%

100,0 100,0 100,0


0 0 0
47
Proyeksi Penjualan Tenaga Listrik PLN
Tahun 2017-2026
per Kelompok
Penyusunan Pelanggan
Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik(TWh)
2017-2026

48
RENCANA
PENGEMBANGAN
SISTEM KELISTRIKAN
Penyusunan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga
Listrik 2017-2026
PENAMBAHAN PEMBANGKIT dan
TRANSMISI-GI
Penyusunan Rencana 2017-2026
Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2017-2026

REGIONAL
KALIMANTAN REGIONAL SULAWESI
& NUSA TENGGARA
REGIONAL MALUKU
Pembangk 5.7 GW & PAPUA
it Pembangk 8.8 GW
it
Pembangk 2.0 GW
Transmisi 11.476 it
kms Transmisi 13.141
kms
Transmisi 2.405
Gardu 8.190 kms
Induk MVA Gardu 11.322
Induk MVA
Gardu 1.990
Induk MVA

REGIONAL
SUMATERA
Pembangk 20.3 GW
it
Transmisi 22.773
kms
Gardu 45.250 TOTAL INDONESIA
Induk MVA SISTEM JAWA-BALI
Pembangkit 75.9
Pembangk 39.1 GW GW
it
Transmisi 18.390 Transmisi 67.797
kms kms
Gardu 97.309 Gardu 163.791
Induk MVA Induk MVA 50
Kondisi Sistem Kelistrikan Tahun 2016

KONDISI JUMLAH
SISTEM
NORMAL 8 Sistem
SIAGA 10 Sitem
DEVISIT -
Rencana Kondisi Sistem Kelistrikan
Tahun 2019

KONDISI JUMLAH
SISTEM
NORMAL 16 Sistem
SIAGA -
DEVISIT -

Seluruh Sistem Kondisinya Normal dengan RM >30%


Rencana Penambahan Pembangkit
Penambahan
Draft RUPTL 2017-2026 Pembangkit:
2016-2019: 31,6 GW
2017-2026: 75,9 GW

Catatan:
- Program 7 GW yang
sudah beroperasi
hingga tahun 2015
sebesar 1,5 GW
Rencana Penambahan Transmisi (kms)
Draft RUPTL 2017-
2026
• 500 kVAC : 7.6
ribu kms
• 500 kVDC : 1.1
ribu kms
• 275 kV : 8.2
ribu kms
• 150 kV : 48.5
ribu kms
• 70 kV : 2.3 ribu kms
Total : 67.8 ribu
kms
Rencana Penambahan Gardu Induk (MVA)
Draft RUPTL 2017-2026
• 500/275 kV: 3.2 ribu
MVA
• 500/150 kV: 35.6 ribu
MVA
• 500 kV DC : 6.0
ribu MVA
• 275/150 kV : 20.7 ribu
MVA
• 150/70 kV : 1.3 ribu
MVA
• 150/20 kV : 93.7 ribu
MVA
• 70/20 kV : 1.8 ribu
MVA
Total :163.8 ribu MVA
Perubahan Penambahan Pembangkit
2015-2019
RUPTL Draft RUPTL
Regional Pemilik 2016-2025 (COD 2016-2017)
Jawa-Bali PLN 6,329.0 4,094.0
IPP 17,894.5 13,772.0
24,223.5 17,866.0
Sumatera PLN 2,900.5 2,118.5
IPP 8,255.9 4,238.1
11,156.4 6,356.6
Kalimantan PLN 1,611.0 2,256.0
IPP 1,041.0 846.0
2,652.0 3,102.0
Sulawesi & Nusa Tenggara PLN 2,972.0 2,372.6
IPP 1,044.0 910.8
4,016.0 3,283.4
Maluku & Papua PLN 1,037.0 938.6
IPP 50.0 -
1,087.0 938.6
TOTAL Indonesia PLN 13,872.8 11,779.7
IPP 27,711.9 19,766.8
TOTAL COD 2016-2019 41,584.7 31,646.5

Pembakit COD 2015 PLN 976.70 976.70


IPP 573.50 573.50
Pembakit COD 2015 1,550.20 1,550.20
TOTAL COD 2015-2019 43,134.87 33,096.67
Terima Kasih

57
Posisi RUPTL
 Kebijakan umum pengembangan
RUKN  Prakiraan pertumbuhan ekonomi dan demand
(20 Tahun) listrik
 Indikasi kebutuhan kapasitas pembangkit, T&D,
tanpa rincian proyek
 Potensi energi primer
 Kebutuhan investasi
 Target rasio elektrifikasi

 Prakiraan pertumbuhan demand listrik


 Rencana pengembangan pembangkit,
RUPTL Trannsmisi/GI
(10 Tahun)  Daftar proyek pembangkit & transmisi/GI
 Proyeksi fuel mix dan kebutuhan energi primer
 Kebutuhan investasi
RJPP
(5 Tahun) Menggunakan proyeksi penjualan, investasi
dan fuel mix pada RUPTL dalam membuat
proyeksi keuangan
RKAP Program investasi pengembangan sistem
(1 Tahun) merujuk hanya ke RUPTL 58
Posisi Perencanaan Sistem Kelistrikan Dalam Perencanaan
Pembangunan Nasional dan Perencanaan Energi
Perencanaan Nasional Pertanyaan yang harus dijawab
dan Kebijakan Energi (DEN) oleh planner:

Perencanaan Energi 1. Bagaimana kebutuhan


(RUKN) tenaga listrik akan
bertumbuh ?

RUPTL 2. Kapan harus investasi


pembangkit / transmisi baru?
Electricity Demand Forecast
3. Berapa kapasitas pembangkit
/ transmisi yang akan
dibangun?
Perencanaan Pembangkit
4. Apa jenis pembangkit /
transmisi yang dibangun?

Perencanaan Transmisi 5. Dimana harus membangun


pembangkit / transmisi baru?
59
60
Posisi Perencanaan Sistem Kelistrikan Dalam Perencanaan
Pembangunan dan Perencanaan Energi Nasional

61
Contoh Hasil Demand Forecast Gabungan Sistem Jawa Bali

62
Contoh Capacity Balance Gardu Induk 2016-2025

63
Contoh Resume Kebutuhan Trafo GI Mengacu Capacity Balance Gardu Induk

64
Parameter Tekno-Ekonomi Jenis-jenis Pembangkit
Technology Unit Size Construction Time Total Capital Investment Variable O&M Fixed O&M Heat Rate (2000)
Value Unit Value Unit Value Unit Value Unit Value Unit

Coal New with FGD 400 MW 4 years 3.33mills98/kWh 23.03$1998/kW 9585 btu/kWh
Conventional Pulverized Coal 2000 400 MW 4 years 1092 $1999/kW 3.30mills99/kWh $1999/kW-year
22.85 9419 btu/kWh
Conventional Pulverized Coal 2010 400 MW 4 years 1092 $1999/kW 3.30mills99/kWh $1999/kW-year
22.85 9087 btu/kWh
Integrated Gasification Combined Cycle 2000 428 MW 4 years 1306 $1999/kW 0.78mills99/kWh $1999/kW-year
31.89 7969 btu/kWh
Integrated Gasification Combined Cycle 2010 428 MW 4 years 1306 $1999/kW 0.78mills99/kWh $1999/kW-year
31.89 6968 btu/kWh
Gas/Oil Steam Turbine 300 MW 2 years 1012 $1998/kW 0.51mills98/kWh $1998/kW-year
30.70 9500 btu/kWh
Conventional Gas/Oil Combined Cycle 2000 250 MW 3 years 445 $1999/kW 0.51mills99/kWh $1999/kW-year
15.24 7687 btu/kWh
Conventional Gas/Oil Combined Cycle 2010 250 MW 3 years 445 $1999/kW 0.51mills99/kWh $1999/kW-year
15.24 7000 btu/kWh
Advanced Gas/Oil Combined Cycle 2000 400 MW 3 years 576 $1999/kW 0.51mills99/kWh $1999/kW-year
14.12 6927 btu/kWh
Advanced Gas/Oil Combined Cycle 2010 400 MW 3 years 576 $1999/kW 0.51mills99/kWh $1999/kW-year
14.12 6350 btu/kWh
Conventional Combustion Turbine 2000 160 MW 2 years 331 $1999/kW 0.10mills99/kWh $1999/kW-year
6.30 11467 btu/kWh
Conventional Combustion Turbine 2010 160 MW 2 years 331 $1999/kW 0.10mills99/kWh $1999/kW-year
6.30 10600 btu/kWh
Advanced Combustion Turbine 2000 120 MW 2 years 462 $1999/kW 0.10mills99/kWh $1999/kW-year
8.94 9133 btu/kWh
Advanced Combustion Turbine 2010 120 MW 2 years 462 $1999/kW 0.10mills99/kWh $1999/kW-year
8.94 8000 btu/kWh
Fuels Cells 2000 10 MW 3 years 2041 $1999/kW 2.03mills99/kWh $1999/kW-year
14.63 5787 btu/kWh
Fuels Cells 2010 10 MW 3 years 2041 $1999/kW 2.03mills99/kWh $1999/kW-year
14.63 5361 btu/kWh
Advanced Nuclear 2000 600 MW 4 years 2188 $1999/kW 0.41mills99/kWh $1999/kW-year
55.86 10400 btu/kWh
Generic Distributed Generation - Base 2000 2 MW 3 years 608 $1999/kW 14.75mills99/kWh $1999/kW-year
3.92 10991 btu/kWh
Generic Distributed Generation - Base 2010 2 MW 3 years 608 $1999/kW 14.75mills99/kWh $1999/kW-year
3.92 9210 btu/kWh
Generic Distributed Generation - Peak 2000 1 MW 2 years 546 $1999/kW 22.55mills99/kWh $1999/kW-year
12.26 10620 btu/kWh
Generic Distributed Generation - Peak 2010 1 MW 2 years 546 $1999/kW 22.55mills99/kWh $1999/kW-year
12.26 10500 btu/kWh
Biomass Unit 2000 100 MW 4 years 1723 $1999/kW 2.83mills99/kWh $1999/kW-year
43.88 8911 btu/kWh
Municipal Solid Waste (MSW) Combustor 2000 30 MW 3 years 1395 $1999/kW 0.01mills99/kWh $1999/kW-year
94.01 13648 btu/kWh
Geothermal 2000 50 MW 4 years 1708 $1999/kW 0.00mills99/kWh $1999/kW-year
70.69 31241 btu/kWh
Geothermal 2010 50 MW 4 years 1708 $1999/kW 0.00mills99/kWh $1999/kW-year
70.69 30862 btu/kWh
Wind 2000 50 MW 3 years 983 $1999/kW 0.00mills99/kWh $1999/kW-year
26.00 btu/kWh
Solar Thermal 2000 100 MW 3 years 2946 $1999/kW 0.00mills99/kWh $1999/kW-year
46.72 btu/kWh
Photovoltaic 2000 5 MW 2 years 4252 $1999/kW 0.00mills99/kWh $1999/kW-year
9.85 btu/kWh
Pebble-Bed Nuclear Reactor 110 MW 2 years 1000 $/kW

65
Contoh
Pengembangan Transmisi Sulawesi

66
Contoh Pengembangan Gardu Induk Sulawesi

67