Anda di halaman 1dari 19

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA NY.

S DENGAN
DIAGNOSA KEPERAWATAN PERUBAHAN SENSORI
PERSEPSI: HALUSINASI (PENGLIHATAN) DAN
DIAGNOSA MEDIS SKIZOFRENIA TAK TERINCI
DI WIJAYA KUSUMA RUMAH SAKIT JIWA
MENUR PROVINSI JAWA TIMUR
OLEH:
MAHASISWA STIKES KATOLIK ST. VINCENTIUS A PAULO SURABAYA
PENDAHULUAN
 Skizofrenia merupakan penyakit mental yang berat ditandai dengan gejala psikotik,
gejala negatif, gangguan dalam fungsi sosial, kognitif dan sering terjadi kekambuhan.
(Shioda, A., Takada., Okochi., 2016).
 Halusinasi adalah pengalaman sensorik tanpa rangsangan eksternal terjadi pada
keadaan kesadaran penuh yang menggambarkan hilangnya kemampuan menilai
realitas (Sunaryo, 2004).
 Prevalensi gangguan jiwa di Indonesia mencapai 245 jiwa per 1000 penduduk hal ini
merupakan kondisi yang sangat serius karena lebih tinggi 2,6 kali dari ketentuan
WHO. Menurut riskedas tahun 2015 sebanyak 0,46per mil masyarakat Indonesia
mengidap Skizofrenia dan mengalami gangguan psikotik berat.
TINJAUAN KASUS
IDENTITAS KLIEN
Nama : Ny. S
Umur : 31 thn
Informan : Ny.S dan rekam medik
Tanggal pengkajian : 29 April 2019
RM No : 017xxx
ALASAN MASUK
Klien masuk rumah sakit karena klien ingin bunuh diri, mendengar suara, nangis tanpa sebab dan
sering memukul kepalanya.
KELUHAN UTAMA
Klien mengungkapkan melihat perempuan membawa celurit dan melihat pohon dan daun yang
menangis
STATUS MENTAL
PENAMPILAN
Penampilan klien : Klien berpenampilan rapi, baju sesuai aturan RSJ
Masalah Keperawatan: Tidak ada masalah keperawatan
PEMBICARAAN
Klien berbicara cepat, tetapi kadang melantur, tidak nyambung dan tidak sesuai.
Masalah Keperawatan: Gangguan komunikasi verbal
AKTIVITAS MOTORIK
Klien tidak ingin melakukan aktivitas apapun, hanya duduk dan tidur dikamar. Klien terlihat lesu.
Masalah Keperawatan: Intoleransi Aktivitas
ALAM PERASAAN
Klien mengungkapkan melihat sosok perempuan yang membawa celurit, klien mengungkapkan
sedih dan ketakutan sehingga terkadang klien merasa gelisah dan tidak tenang.
Masalah Keperawatan : Ketakutan.
AFEK
Afek labil. Ekspresi klien dapat berubah-ubah dari sedih tiba-tiba tertawa.
Masalah Keperawatan : Hambatan komunikasi non-verbal.
INTERAKSI SELAMA WAWANCARA
Saat pengkajian klien kooperatif, kontak mata positif
Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan.
PERSEPSI
Klien mengalami halusinasi fase 3. Klien mengatakan sering melihat bayangan perempuan membawa
celurit dan melihat pohon dan daun menangis saat malam hari. Klien mengatakan sehari bisa melihat
bayangan itu sebanyak 4-5 kali. Klien menarik diri, tidak bisa membedakan halusinasi dan realita, klien
tampak menutup mata saat halusinasinya datang.
Masalah Keperawatan : Perubahan Sensori Persepsi : Halusinasi penglihatan.
PROSES PIKIR
Tidak ditemukan perubahan proses pikir
Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan
ISI PIKIR
Pada saat dikaji tidak ditemukan
Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan
TINGKAT KESADARAN
Kesadaran composmentis, klien tidak disorientasi waktu, orang dan tempat.
Masalah keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan
MEMORI
Klien mengatakan sering lupa kegiatan yang sudah dilakukan dan susah untuk mengingatnya
Masalah Keperawatan : Gangguan proses pikir
TINGKAT KONSENTRASI DAN BERHITUNG
Saat dikaji pasien mampu menjawab pertanyaan yang diberikan dan pasien mampu berhitung dengan
benar (3+3=6)
Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan
KEMAMPUAN PENILAIAN
Klien mengatakan bahwa sangat meyakini melihat perempuan membawa celurit dan pohon yang
sedang menangis
Masalah Keperawatan : Gangguan proses pikir
DAYA TILIK DIRI
Klien mengungkapkan tidak sakit secara fisik maupun mental.
Masalah Keperawatan : Gangguan proses pikir
ANALISA DATA
TANGGAL DATA MASALAH TT

29 APRIL DS: Perubahan sensori


2019 - Klien mengungkapkan takut melihat perempuan persepsi: Halusinasi
yang membawa celurit serta pohon dan daun yang penglihatan
menangis.
- Klien mengungkapkan terkadang merasa gelisah
dan tidak tenang

DO:
- Halusinasi fase 3
- Sering mengatakan melihat perempuan yang
membawa celurit serta pohon dan daun yang
menangis
- Klien tampak menyendiri
- Klien tidak berkomunikasi dengan orang lain
- Klien sering memejamkan mata
- Klien tampak ketakutan
IMPLEMENTASI & EVALUASI
TANGGAL DIAGNOSA IMPLEMENTASI EVALUASI TT
KEPERAWATAN
29 APRIL Gangguan persepsi 1. Membina hubungan saling S : Selamat pagi Mba Putri, saya
2019 sensori: Halusinasi percaya dengan klien: ibu S, biasanya di panggil ibu S,
penglihatan - Menyapa klien dengan saya dari Surabaya, saya sering
sopan. melihat bayangan perempuan
- Memperkenalkan diri
membawa celurit dan melihat
dengan sopan
- Menanyakan nama lengkap
pohon dan daun menangis saat
dan nama panggilan yang malam hari. Sehari bisa melihat
disukai dan asal pasien bayangan itu sebanyak 4-5 kali.
- Menjelaskan maksud dan
tujuan dari pertemuan
- Menunjukkan sikap empati
dan menerima
- Membuat kontrak waktu,
tempat, topik yang akan
dibahas dengan pasien
untuk pertemuan
selanjutnya
TANGGAL DIAGNOSA IMPLEMENTASI EVALUASI TT
KEPERAWATAN
2. Mengenal halusinasinya: O:
- Membantu pasien - Halusinasi fase 3
mengenal jenis halusinasi - Sering mengatakan melihat
- Membantu pasien perempuan yang membawa celurit
mengenal isi halusinasi serta pohon dan daun yang
- Membantu pasien menangis
mengenal waktu halusinasi - Klien menarik diri,
- Membantu pasien - tidak bisa membedakan halusinasi
mengenal frekuensi dan realita,
halusinasi - klien tampak menutup mata saat
- Membantu pasien halusinasinya datang.
mengenal situasi yang - Kontak mata negative
menyebabkan halusinasi - Pasien tidak mampu menjawab
- Membantu pasien sesuai pertanyaan
mengenal respon pasien - bicara ngelantur
terhadap halusinasi - Klien memberitahu nama dan
tempat asal
- Klien mampu untuk menjawab
salam
PEMBAHASAN
KELUHAN UTAMA
•FAKTA : Pada kasus, saat dikaji klien selalu mengungkapkan bahwa dirinya melihat perempuan
membawa celurit serta pohon dan daun yang menangis.
•TEORI : Menurut teori bahwa tanda dan gejala dari pasien dengan halusinasi diantaranya adalah
adanya mengatakan mendengarkan suara, melihat, mengecap, menghirup (mencium) dan
merasa suatu yang tidak nyata. Halusinasi sendiri Halusinasi merupakan gangguan persepsi
dimana klien mempersepsikan sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi, suatu pencerapan panca
indra tanpa ada rangsangan dari luar (Maramis, 2004).
•OPINI : Ada kesesuaian antara fakta dan teori dalam hal ini pasien merasa bahwa pasien Ny.S
secara sadar penuh mengatakan secara berulang-ulang akan sesuatu yang tidak nyata.
PEMBAHASAN
FAKTOR PREDISPOSISI
•FAKTA : Pada kasus nyata didapatkan bahwa Ny.S memiliki masa lalu yang kurang
menyenangkan, klien pernah bertengkar dengan budhenya kemudian diancam menggunakan
celurit
•TEORI : Menurut Solesvik (2016) dalam penelitiannya menemukan bahwa sebagian besar pasien
dengan halusinasi penglihatan memiliki pengalaman masa kecil yang tidak menyenangkan.
•OPINI : Ada kesesuaian antara fakta dan teori. Stress dan kecemasan akan meningkat bila terjadi
penurunan stabilitas keluarga, perpisahan dengan orang yang penting, atau diasingkan dari
kelompok dapat menimbulkan halusinasi
PEMBAHASAN
HUBUNGAN SOSIAL
•FAKTA : Pada kasus nyata klien mengungkapkan orang yang berarti dalam hidupnya adalah
adiknya, saat di rumah sakit klien kurang berinteraksi dengan orang lain, klien mengungkapkan
tidak bisa memulai pembicaraan.
•TEORI : Menurut teori yang diungkapkan oleh Muhith (2015), bahwa klien yang mengalami
gangguan interaksi sosial dalam fase awal dan fase comforting, menganggap bahwa hidup
bersosialisasi di alam nyata sangat membahayakan. Klien asyik dengan halusinasinya, seolah-
olah ini merupakan tempat untuk memenuhi kebutuhan interaksi sosial, kontrol diri, dan harga
diri yang tidak didapatkan di dunia nyata .
•OPINI : Terdapat kesesuaian antara teori dan fakta yaitu bahwa klien mulai menarik diri dari
interaksi sosial karena adanya harga diri rendah.
PEMBAHASAN
FUNGSI EMOSI
•FAKTA : ada kasus didapatkan klien berbicara cepat dan kadang melantur dan tidak dapat
memulai pembicaraan, ekspresi muka klien tampak labil. Ketika ditanya tentang pengalaman
yang kurang menyenangkan ekspresi muka klien tidak menampakan wajah sedih.
•TEORI : Menurut teori Aziz (2003), klien dengan halusinasi akan menunjukkan manifestasi afek
tumpul, sulit merespon emosi.
•OPINI : Terdapat kesesuaian antara fakta dan teori dimana klien tampak berbicara lambat dan
tidak dapat memulai pembicaraan, klien cenderung apatis. Klien tidak menunjukkan perubahan
ekspresi saat menceritakan kejadian yang dialaminya, kontak mata kurang cenderung defensive.
PEMBAHASAN
FUNGSI MOTORIK
•FAKTA : Klien tampak lesu, tidak mau beraktivitas, hanya tiduran dan duduk di atas tempat tidur
saja, tidak mau berkomunikasi dengan orang lain.
•TEORI : Menurut teori Muhith (2015), pada fase III klien berhenti menghentikan perlawanan
terhadap halusinasi dan menyerah pada halusinasi tersebut. Disni klien sukar berhubungan
orang lain, berkeringat, tremor, tidak mampu mematuhi perintah dari orang lain dan berada
dalam kondisi yang sangat menegangkan terutama jika akan berhubungan dengan orang lain.
•OPINI : erdapat kesesuaian antara fakta dan teori karena klien tidak mau berkomunikasi dengan
orang lain
PEMBAHASAN
PERSEPSI
•FAKTA : Klien mengalami halusinasi fase 3. Klien mengatakan sering melihat bayangan perempuan membawa
celurit dan melihat pohon dan daun menangis saat malam hari. Klien mengatakan sehari bisa melihat bayangan
itu sebanyak 4-5 kali. Klien menarik diri, tidak bisa membedakan halusinasi dan realita, klien tampak menutup
mata saat halusinasinya datang. .
•TEORI : Menurut teori Muhith (2015) tanda dan gejala dari halusinasi adalah 1) bicara, senyum, tertawa sendiri, 2)
mengatakan mendengarkan suara, melihat, mengecap, mencium, merasa suatu 38 yang tidak nyata, 3) merusak
diri sendiri, orang lain dan lingkungannya, 4) tidak bisa membedakan hal yang nyata dan tidak nyata, 5) tidak bisa
memusatkan perhatian atau konsentrasi. 6) curiga dan saling bermusuhan, 7) pembicaraan kacau kadang tak
masuk akal, 8) menarik diri menghindar dari orang lain, 9) sulit membuat keputusan 10) ketakutan, 11) tidak mau
melaksanakan asuhan mandii, 12) mudah tersinggng, jengkel, marah, 13) menyalahkan diri atau oranglain, 14)
muka marah kadang pucat, 15) ekspresi wajah tegang.

•OPINI : Terdapat kesesuaian anatara teori dan fakta dan teori dimana klien mengatakan melihat bayangan
perempuan membawa celurit dan melihat pohon dan daun menangis. Saat malam hari. Klien menarik diri, tidak
bisa membedakan halusinasi dan realita, klien tampak menutup mata saat halusinasinya datang.
PEMBAHASAN
MASALAH KEPERAWATAN
•FAKTA : Pada kasus masalah keperawatan yang ditemukan adalah : perilaku kekerasan, hambatan
interaksi sosial, gangguan komunikasi verbal, intoleransi aktivitas, ketakutan, hambatan komunikasi
non verbal, gangguan sensori persepsi penglihatan, gangguan proses pikir, gangguan pola tidur,
perilaku sehat, ketidakefektifan koping individu, isolasi sosial, defisit pengetahuan.

•TEORI : Sedangkan menurut Muhith (2015) masalah yang mungkin didapatkan adalah : 1) Resiko
perilaku kekerasan 2) Perubahan persepsi sensori halusinasi 3) Isolasi Sosial

•OPINI : Terdapat kesesuaian antara kasus nyata dan teori, yaitu sama sama terdapat masalah
keperawatan perubahan persepsi sensori halusinasi, resiko PK, harga diri rendah, hambatan interaksi
sosial. Selain masalah yang disebutkan diatas juga terdapat beberapa masalah lain yang timbul
sebagai akibat dari masalah utama klien.
PEMBAHASAN
INTERVENSI
•Dari hasil intervensi keperawatan yang sudah dilakukan perawat meliputi bina hubungan saling
percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi terapeutik, bantu klien mengenal halusinasi,
melatih pasien untuk mengontrol halusinasi dengan 4 cara. Semua intervensi yang telah
dilakukan untuk pasien halusinasi sudah dilakukan namun tujuan belum tercapai seluruhnya
dikarenakan klien mengalami gangguan psikotik yang berat
TERIMAKASIH